a/n: Jadi intinya beberapa bulan terakhir, saia berjuang nyelesaiin thesis. Dan sekarang saia udah lulus. Sori bagi yang udah nungguin! Dengan demikian saia umumkan kelulusan saia dari hiatus, serta keberlanjutan fiksyen ini. Selamat menikmati :D

.

Bab 8

.

.

Sepanjang perjalanan menuju apartemen Tifa, Zack membuka percakapan ringan. Pemuda menanyakan kehidupan sang model, dengan tujuan mencairkan suasana.

"Jadi, asalmu Nibelheim? Wah, aku dengar langit malam Nibelheim benar-benar memukau! Apa keluargamu masih tinggal di sana?" tanya Zack ramah.

"Aku sudah tidak punya keluarga," jawab Tifa lirih.

"Ah. Maaf," lantun Zack tak enak hati.

Suasana menjadi semakin berat, sehingga Zack pun akhirnya menutup mulut. Mereka bertiga bertahan dalam keheningan hingga akhirnya mobil berhenti di depan sebuah bar.

Kedua lelaki mengawal gadis itu naik ke apartemen sempit di atas bar, memastikan kali itu tidak ada yang mengganggunya.

Zack sudah mengucapkan salam perpisahan, namun ia merasa kaki kawannya lengket di depan pintu, seakan enggan masuk, namun pergi pun tak mau. Ia dapat melihat kegelisahan pada sorot mata Sephiroth.

"Katakan sesuatu, Seph," bisiknya.

Ia justru merasakan ketegangan kawannya itu meningkat.

"Kalau gitu kutunggu di bawah ya!"

Dengan demikian, Zack Fair pun berhembus pergi bersama angin malam, meninggalkan Sephiroth dengan lidahnya yang kelu.

Sementara itu, sebentar-sebentar Tifa melirik Sephiroth dengan tatapan tak mau percaya. Mana bisa ia tetap tenang mendengar orang itu merupakan salah satu pengusaha terkaya Midgar?

"Kenapa kamu menutup-nutupinya?" Tifa memulai dengan sedikit canggung, seakan sedang berbicara pada orang asing. Entah mengapa, mulai saat itu dalam benaknya ia yakin Seph juga menyembunyikan hal-hal lain.

Seph memperhitungkan tiap kata. Ia tak mau disalahartikan kali ini. Dia mengaku tidak mau kekayaannya mengubah cara orang memandang dirinya.

"Aku ingin diterima sebagai Sephiroth. Sebagai Seph. Seph saja," jelasnya, memancing sebuah memori di awal pertemuan mereka.

"Kenapa?" lanjut Tifa. "Kenapa harus Terrace House? Apa tidak ada orang di lingkunganmu yang menerimamu apa adanya?"

Berusaha ditutupinya rasa curiga. Namun Sephiroth keburu menyadarinya.

"Apa kamu benar-benar serius mengajakku kemarin Sabtu? Atau ini... Hanyalah permainan?"

"Hal-hal itu kulakukan karena aku ingin kamu senang," jelas Sephiroth datar. Hah. Ia mulai tidak tertarik pada topik pembicaraan itu.

"Hal-hal itu?" selidik Tifa.

Pemuda berambut perak itu menarik napas panjang.

"Ya. Free pass dan spot strategis kembang api. Dan beberapa hal lain."

Mata Tifa melebar.

"Semua sudah diatur?"

Ia tampak berusaha keras tidak menaikkan suara. Jelas, Tifa sedikit terpukul.

Pertemuan dengan Sephiroth seperti bab baru dalam bukunya. Ia mendapatkan keberanian melanjutkan hidup, dan kekuatan untuk melepaskan perasaannya terhadap sang teman masa kecil tersayang. Ternyata semua ini… Palsu?

Sephiroth mulai mengatur napasnya. Ia sedikit merasa dipojokkan.

"Waktu itu… Kamu serius?"

Melihat perempuan itu mengepalkan tangan, benteng Sephiroth semakin tebal.

"Pertanyaanmu malam itu…?"

DEG!

Ternyata Tifa mendengarnya! Mendengar pertanyaan tergesa-gesanya!

Apa yang harus ia katakan? Saat ini, di dalam dada Seph sudah tidak ada gelora itu. Apakah ia harus berbohong? Atau mengakuinya dan membiarkan dirinya kalah? Mengakui betapa busuk cara bermainnya selama ini? Mengakui bahwa Tifa tak lebih dari sekadar alat untuk memberikan validasi atas signifikansi keberadaannya?

Hampir saja ia mengucapkan hal bodoh. Hampir… Jika ia terlambat menyadari mata bulat itu berkaca-kaca penuh harap.

Goyah, hati Sephiroth terbelah.

Ia pun menggali. Menggali lubuk hati.

Setelah keheningan panjang, ia memberikan jawaban.

"Aku tidak punya pengalaman soal ini."

Jawaban yang mengecewakan. Tuan Muda Crescent menyadarinya. Ia mencuri pandang entah ke berapa kali, berjuang memutuskan saat itu juga. Namun, dalam tiap pandangan, Sephiroth semakin ragu. Dulu, di matanya Tifa begitu sempurna. Cantik, menyenangkan, giat, dan baik hati. Namun, setelah Tifa jelas meragukannya, ia mulai melihat gadis yang kesepian dan bermasa depan suram.

Apalagi sekarang, setelah Tifa mengetahui siapa dirinya, bisa saja gadis itu akan menerimanya demi mendapatkan apa yang dia punya. Pemuda bersurai panjang itu terdiam lama.

Sampai Seph pamit, Tifa masih tenggelam dalam lamunan panjang.

"Ketika kita bertemu lagi di rumah itu, kuharap kamu masih memandangku seperti sebelumnya. Sebagai Seph."

Pemuda itu mengucapkan selamat malam.

Zack kebetulan baru saja kembali dari minimarket dengan tiga botol susu cokelat hangat di tangan. Sephiroth melewatinya tanpa menjelaskan apapun. Wajahnya datar, seperti biasa. Ia diam seribu bahasa sepanjang perjalanan pulang.

Mungkin yang harus Sephiroth pelajari ialah cara menerima kenyataan. Kenyataan yang penuh cela. Apa yang dia miliki akan selalu memburamkan pandangan orang terhadap dirinya yang sesungguhnya. Teman-temannya benar. Ide mengikuti reality show itu tak lebih dari gagasan gila sejak awal.

.

.

.

Dua hari kemudian, keduanya bertemu kembali. Di sekitar Terrace House hari itu, bunga-bunga plum mekar dengan indahnya di sela-sela pohon-pohon sakura yang masih meranggas.

Meskipun hawa masih dingin, Marlene mengusulkan mereka semua menikmati bunga bersama. Tidak ada protes, lantaran waktu bersama mereka tinggal sepuluh minggu. Setiap kesempatan yang ada harus benar-benar dimaksimalkan.

"Wah, ini onigiri paling nikmat yang pernah kumakan! Jos bangetos!" puji Biggs kepada Marlene dengan bersemangat. Kasihan dirinya, dia hanya bisa menikmati makanan buatan Marlene, bukan support-nya. Ya, selama hampir empat bulan bersama, belum pernah sekalipun Marlene datang ke pertandingan resminya.

Sementara itu, Yuffie sudah asik-asikan menyuapkan onigiri buatannya sendiri ke mulut Vincent. Seph rasa, setelah model itu berhasil dibujuk mengiklankan brand-nya, omset penjualan Yuffie meningkat. Yah, mungkin itulah yang menjaga hubungan mereka tetap berlanjut: simbiosis mutualisme, di mana Yuffie membutuhkan tubuh Vincent (untuk berpose), dan Vincent membutuhkan… pasokan semangat dari Yuffie. Pasokan makanan juga.

Entahlah. Pandangannya terhadap hal-hal romantis mendadak jadi negatif sejak dua hari lalu.

Ya, hari itu ada satu lagi yang berbeda. Seph dan Tifa duduk berjauhan, tak saling bicara. Padahal, biasanya mereka akrab.

Menyadari ada yang tak beres, kempat member yang lain mulai mengirimkan kode samaran satu sama lain. Dengan alasan-alasan kuno, satu per satu pun menjauh, memberikan Seph dan Tifa privasi.

Menyadari apa yang terjadi, si jangkung mulai menyusun pidato singkat di dalam hati. Meski kini pikirannya dipenuhi keraguan, memperbaiki hubungan sesama manusia biasanya berefek positif, jadi tidak ada salahnya dicoba.

Tapi, tak ada yang terjadi. Gadis bermata gelap itu tidak kunjung memberi lampu hijau untuk memulai percakapan. Ia sibuk memandangi kelopak-kelopak mungil putih yang bertengger di kayu abu-abu, mengamati plum asam di dalam onigiri-nya, atau memerhatikan barisan burung di langit siang itu.

Hati sang milyarder mulai berkecamuk. Apakah dia sudah menyakiti Tifa? Apa dia pernah salah bicara? Mungkin Tifa merasa ditipu?

Tidak, itu tidak benar. Alasannya melakukan apa yang dia lakukan sangatlah solid. Dan jika dia kurang jelas menjelaskannya, seharusnya gadis itu membahasnya, mengklarifikasi, bukannya mengabaikannya.

Pandang aku sekarang!

Percobaan telepati gagal. Perhatian sang gadis tak teralihkan.

Hati Seph bergemuruh. Sedikit lagi, ia akan meletus.

Dengan muak, netra hijau Seph pun nanar mengikuti arah pandang si gadis. Di hadapannya, sebuah danau dikelilingi beberapa batang pohon berbunga putih-merah muda mengeluarkan riak-riak kecil. Di permukaan airnya yang biru, kelopak bunga yang berguguran berdansa kian ke mari mengikuti gelombang.

Ah. Jadi pemandangan ini sebabnya. Sephiroth heran mengapa ia tidak menyadari, betapa indah suasana siang hari itu.

Damai kembali ke hatinya. Air yang bergerak lembut mulai menenangkan kecamuk jiwanya.

Teduh, riuh angin meniup pergi keraguan hatinya sedikit demi sedikit.

Dan, secara tak sengaja, ekor matanya melihat telapak tangan kanan Tifa yang tersengat panci panas. Bekas luka bakarnya sudah memudar, karena saat kencan kemarin, Seph memberikan salep paling manjur dari dermatologist langganan. Semoga saja, luka itu tak meninggalkan jejak. Jika tidak, penyesalan yang ia rasakan akan meninggalkan bekas.

Sungguh, ia menyesal. Mungkin ternyata dia memang sudah melukai gadis itu.

Ia pun hendak membuka suara.

"Maafkan aku, Seph," ujar Tifa, sedikit mengagetkannya.

Seph mendengar keraguan, juga rasa bersalah dalam suara tipis Tifa. Lelaki bersurai panjang itu pun mulai mengerti. Bisa jadi, Tifa tidak melepaskan matanya dari danau, adalah ia berusaha keras menenangkan badai dalam hatinya.

Kali itu, Tifa menatapnya lurus dengan tulus.

"Kemarin aku begitu kacau. Maafkan aku," bisiknya dalam penyesalan.

Untunglah Tifa tidak marah padanya.

"Tidak ada yang perlu dimaafkan," ringkas pria itu beberapa saat kemudian.

Mereka terhanyut dalam keheningan sesaat.

"Kamu belum berkomentar tentang kencan kita. Apa kamu… senang?"

Tifa mengangguk. "Ya, aku sangat senang. Terima kasih untuk pengalaman yang menyenangkan itu. Aku akan mengingatnya."

Suara halus Tifa mengambang. Seakan di belakangnya, masih ada kalimat-kalimat lain.

Mereka membiarkan situasi membuyar dengan sendirinya, mengizinkan kicau burung mengintervensi percakapan serius tersebut.

"Seph, setelah kupikir masak-masak, soal pertanyaanmu sore itu…" mulai Tifa lagi, "Rasanya mudah sekali berkata 'ya'. Aku dengan mudah suka padamu."

Sephiroth tak dapat menjelaskan betapa keras jantungnya berdegup atas kata 'suka'. Sepertinya, Sephiroth perlu memeriksakan kesehatan jantungnya. Atau jangan-jangan, ketertarikannya dengan perempuan itu memang sudah bukan misteri lagi. Lagipula, pengakuan Tifa barusan, bahwa kencannya telah meninggalkan memori manis, bukanlah sesuatu yang dapat ia sepelekan. Hatinya sendiri terasa hangat mendengarkannya.

Ia pun menunggu kelanjutan pernyataan sang juita. Namun, ia mendapatkan firasat buruk begitu membaca penyesalan berkesinambungan pada rupa house mate favoritnya itu.

"Tapi, aku ingin kamu tahu sesuatu. Kurasa, itu bukan hal yang dapat dibenarkan."

Pada detik itu juga, Sephiroth ingin sekali berdiri. Berdiri dan menuntut penjelasan saat itu juga.

Itu tidak perlu. Karena saat Tifa berbalik, dengan berlinangan air mata ia mengungkapkan kerinduan sejatinya:

"Karena… Karena aku… Aku masih mencintai seseorang."

Hah. Tidak. Dan kali ini tidak ada jantung yang bertingkah konyol.

"Ah," tanggapnya.

Perlahan, bibirnya membentuk senyuman masam seorang pengusaha kurang beruntung. Ya, ahirnya kali itu Sephiroth dipaksa. Dipaksa mengakui kekalahan yang sebenarnya.

Senyum kecewa itu pun bertahan selama beberapa detik. Kemudian detik menjadi menit.

Si Perak menarik napas panjang sepelan mungkin. Sehingga lawan tak mengetahui apa yang sedang ia rasakan.

... Ia tidak merasakan apa-apa.

"Orang itu pasti sudah meninggalkan kesan mendalam di dalam hatimu," komentarnya tenang.

Tifa mengangguk susah payah di tengah isakan yang mulai menyela.

"Kalau begitu, dia pasti orang baik," sambung sang ahli waris MRIH.

Isak tangis itu semakin di luar kendali. Menunjukkan betapa besar hasrat bertemu pujaan hati.

Tifa pun mulai sibuk mengusir air mata yang berjatuhan menetesi onigirinya. Tak lama ia pun tersedu. Seduan berubah jadi sesenggukan.

Sephiroth tahu sesuatu mulai cuil dari hatinya. Namun, dia masih tidak dapat merasakan apapun. Ia pernah mengalami penolakan sebelumnya. Namun, baru kali itu yang ditolak bukan proposal proyek, melainkan dirinya.

Dan sementara itu, banjir air mata berlanjut.

Urusannya sudah selesai. Sephiroth bisa saja pergi. Anehnya, tangan Sephiroth bergerak sendiri, menjangkau dan menyeka bersih air asin dari pipi merah wanita cantik itu. Perlahan, tangan yang sama mengusap kepala sang gadis. Ia tak tahu mengapa ia melakukannya. Ah, benar juga. Dulu, ibunya pernah melakukan hal yang sama. Hal itu tak pernah terulang lagi, sehingga ia berhenti menangis.

Perbuatannya itu meredakan tangis Tifa.

Syukurlah, batin sang pengusaha kaya.

Gadis itu menatapnya penuh tanya.

"Aku menghargai keputusanmu," ujar Sephiroth dengan kendali penuh. Tak sebersit pun kekecewaan mencoreng wajah eloknya. Mata hijau kebiruan itu menunjukkan kelapangan dada yang luas, dan juga rasa hormat.

"Terima kasih, Seph," balas Tifa. Sesuatu yang tak dapat ia jelaskan mengganjal di dadanya.

Sephiroth hanya memberikan senyuman sebagai jawaban.

Setelah situasi kembali netral, empat tukang nguping muncul kembali, berniat melanjutkan acara makan bersama. Mereka berenam sempat menikmati pertunjukan kecil dari gitar Biggs dan lagu rap ciptaan Yuffie (berakhir dengan tidak damai). Setelah pertunjukan itu, Sephiroth mengundurkan diri dengan alasan rapat.

Pria itu sendirian memasuki rumah yang gelap. Namun kilau merah di dalam matanya tidak akan terpadamkan oleh kegelapan sekalipun.

"Cloud Strife," ulangnya tidak suka.

"Kau sudah tamat," desis Sephiroth.

.

.

.

.

To be continued.


Konsep chapter ini kayaknya terinspirasi dari yin & yang. Di mana ada kebaikan, ada kejahatan juga. Sephiroth di cerita ini lebih jinak, tapi yang jelas dia tetap Sephiroth. Semoga ga terlalu OOC.

Oke segitu dulu! Sampai jumpa di chapter selanjutnya! Stay save dan jangan lupa vaksin!