.

Bab 9

.

.

'Gereja Tua Sektor Lima Hangus Dilalap Api'.

Fokus Sephiroth disedot artikel tiga kolom Midgar Post keesokan harinya.

"Tiang gereja menimpa salah seorang personil tim pemadam kebakaran," bacanya.

Pria itu mendecih. Pemadam kebakaran. Istilah yang membuat pagi itu semakin suram.

Ya, berita itu memang buruk, namun mood gelap Sephiroth pagi itu mencegahnya bersimpati. Ia justru mengaransemen sebuah skenario di dalam kepalanya. Dan kita semua tahu siapa pemeran sang pemadam yang malang.

Sebelum memutuskan kelanjutan nasib mengenaskan Cloud Strife, pikiran durjana itu diguncang tepukan di punggung. Tepukan yang cukup keras.

Sephiroth tidak perlu menoleh. Ia tahu itu Biggs. Tingkat kehebringan atlet hoki itu proporsional dengan jumlah energi yang dia sia-siakan. Dia pasti cukup tidur tadi malam. Atau makan enak sebelum tidur. Atau berhasil mengajak Marlene kencan.

"Yo Seph! Hari ini kosong?" serang cowok itu.

"Tergantung," timpal si Perak.

Biggs mempererat ikat kepalanya dan berkata, "Mau nonton pertandingaku nggak sore ini?"

Ah. Yang jelas bukan karena Marlene.

"Lagi-lagi ditolak?" tanya Sephiroth simpatik. Mengungkapkan simpati sangat sulit dilakukan, apalagi otaknya sudah mulai menghayalkan kelanjutan tragedi Strife muda.

"Yah, begitulah."

Bahu bocah itu merosot lima centi.

Sephiroth terpaksa menyimpan naskah karangannya untuk nanti. Lagipula, Biggs memang kasihan. Sudah berbulan-bulan Marlene menangkis undangan sang penantang cinta. Padahal, di antara Biggs, Vincent dan Sephiroth, Biggs yang paling giat berusaha.

"Bagaimana dengan Yuffie?" usul Sephiroth.

Di antara mereka berenam, jelas Yuffie-lah cheerleader sejati. Sephiroth pernah menyaksikan tingkah laku ninja itu menonton Chocobo Racing. Ia yakin suara empat oktafnya telah membelah benua, mencapai Gold Saucer. Chocobo yang dia dukung akhirnya menang.

"Dia menghilang sejak kemarin," timpal Biggs lagi.

Ke mana pula dia. Apa sudah bosan di Terrace House, terus mulai merecoki tetangga?

"Vincent?"

"Katanya sedang cari kerja. Tumpukan buku di sekitar kasurnya semakin banyak. Aku nggak berani mengganggu."

Bisik Biggs sebagai tambahan, "Aku juga agak takut dia sedang belajar ilmu hitam… tau, kan? Gimana kalau nanti aku disantet."

Lagi-lagi sifat percaya takhayul Biggs melahirkan komentar yang tidak-tidak. Meski harus diakui, Vincent memang mengeluarkan aura itu jika sudah berkutat dengan kalkulus.

Akhirnya, Sephiroth pun mengusulkan Tifa.

Mendengar nama itu disebut, air muka Biggs berubah total.

"Sephy, kamu nggak papa?" tanyanya dengan kekhawatiran yang kental.

"Sejak acara kemarin kamu… agak canggung. Kamu, kan, nggak pernah mengusulkan Tifa menonton pertandinganku. Aku kira, itu karena kamu protektif, karena suka Tifa?"

Alis kelabu berkedut.

"Huf. Padahal, Tifa dan kau begitu serasi! Kalian pasti telah ditakdirkan bertemu di sini."

Sephiroth Crescent setuju.

Ya, aku tahu itu, batin sang milyarder. Dia tidak berhak menolakku.

Biggs, menyadari kilatan dingin pada mata Sephiroth, mundur selangkah.

"Eh… Aku nggak bermaksud mencampuri urusan pribadimu. Maaf, yah!"

Sambil meminta maaf sekali lagi, Biggs pun menghilang dari pandangan.

Midgar Post lecek teremat.

.

.

.

Sephiroth duduk di bangku penonton. Lima menit lagi, pertandingan semifinal Midgar dan Junon akan berlangsung.

Dilihatnya Biggs melakukan pemanasan terakhir. Pemain hoki itu riang seperti biasa. Dia menepuk bahu anggota tim satu demi satu, menularkan semangat membara.

Sephiroth tidak pernah tahu, apakah dalam lingkaran es itu, pikiran Biggs seratus persen tertuju pada pertandingan. Apakah cengiran sumringahnya adalah bukti kelapangan dada. Apa jangan-jangan, senyuman itu hanyalah sebuah kedok kepiluan menyakitkan? Jangan-jangan, masih tersisa kekecewaan dalam dadanya atas bangku yang telah disimpannya untuk Marlene selama empat bulan?

Apa mungkin, bangku kosong itu juga menghasilkan lubang? Lubang yang gelap dan menghisap? Sama seperti yang Sephiroth Crescent rasakan?

Tiap kali mengingat peristiwa kemarin, Sephiroth bingung. Sephiroth marah. Sephiroth mencoba melupakan. Namun lubang itu menganga lagi. Membuatnya bertanya-tanya. Bersungut-sungut. Membuatnya termangu dan ingin menghilang.

Hingga pertandingan itu purna, tak sekalipun Sephiroth bersorak atas gol Midgar. Terlalu sibuk mencari pembenaran diri.

Dia tidak berhak menolakku. Memang dia siapa?

Suhu tubuhya meningkat seiring perkembangan amarah.

Pada akhirnya, sirine pun menghakhiri pertandingan semifinal tersebut.

Hari itu, Biggs berhasil membawakan Midgar kemenangan gemilang. Menjadi MVP, lelaki sawo matang itu dibopong dan dilempar-lempar.

Setelah kurang lebih setengah jam, Biggs pun keluar dari ruang ganti, membawa sebotol champagne sebagai token penghargaan. Bisa jadi setelah ini dia mampu mendapatkan sponsor ternama, dan secara resmi menjadi pemain hoki professional yang diakui.

Ayolah, Seph. Sebentar saja, sebentar saja, bergabunglah dalam kegembiraan Biggs!

"Kau lihat tadi, Seph? Itu pertandingan terbaikku!" sorak sang kapten gembira.

"Kalau Marlene melihatnya, mungkin dia spontan klepek-klepek," lanjut pemuda itu.

Usaha kerasnya bercanda malah mengundang rasa iba.

"Ya, kau hebat tadi," timpal Sephiroth. Sedikit menyesal tidak memerhatikan dengan lebih baik.

"Dan dengar, Biggs," lanjutnya, "jika Marlene tidak bisa menghargaimu tanpa pretasi ini, tinggalkan dia."

Hidung sang atlet berkerut. Sebelum ia berkomentar, mereka telah mencapai mobil kodok antik berwarna teal. Dari dua mobil Terrace House, mobil itu kesukaan para gadis, terutama Marlene.

Lagi-lagi, bahu merosot Biggs mengindikasikan kekecewaan tak diundang.

Kini, Sephiroth ganti menepuknya cukup keras, menunjukkan dukungan serta kekaguman yang tidak sepenuhnya disembunyikan. Biar bagaimanapun, Sephiroth mengakui kekuatan fisik dan mental sang teman serumah. Bisa berjuang sejauh itu tanpa pernah mengeluh sekalipun merupakan hal yang mengagumkan.

"Bagaimana kalau kita rayakan hari ini? Aku yang traktir," tawar Seph sembari menyalakan mesin.

"Junk food. Woohoo!"

Sephiroth berdecak.

"Hati-hati, nanti calon sponsormu kabur."

"Ah, ayolah! Absku udah ada delapan, nih!" timpal si jenaka mengangkat kaosnya.

"Iya, sekarang absku yang menghilang."

Dan dua pria berperut menawan itu pun tergelak bersama. Awal yang baik untuk sebuah perjalanan tanpa tujuan jelas.

Namun setelah itu, keheningan mulai merasuk. Mungkin Biggs sudah lelah, matanya setengah terkatup.

Kehilangan distraksi, Sephiroth kembali memusingkan siapa yang berhak dan siapa yang tidak dalam hubungan percintaannya yang hampir kandas itu.

Kantuk Biggs lenyap ketika mobil diparkir di depan restoran.

"Cure Salad Works'... Hah?! Oh, yang bener aja, Seph! Salad?!"

Mengabaikan omelan Biggs, si supir maju terus dan memesan dua menu custom.

Secepat kilat, pesanan pun diantar. Bagian itunya identik dengan fast food.

Yang tidak diduga, dua mangkuk salad di hadapan Biggs berhasil memacu banjir air liur. Jumlah taburan ayam crispy dan beacon di atas selada dan kubis organik tidak tanggung-tanggung! Jadi, inilah jawaban sang penraktir atas permintaan Biggs. Gabungan makanan sehat dan junk food.

Kriuk.

Gigitan pertama saja sudah melayangkan Biggs ke surga.

"Bombastis!"

"Jelas," tegas Seph congkak.

Kemudian dia sendiri makan. Senyum bahagia ala dirinya pun terkembang. Senyuman puas seorang ilmuwan setelah berhasil menciptakan obat anti kerut. Ah. Memang dia anak Hojo Crescent.

Mereka menikmati hidangan penuh kompromi itu dengan senang hati.

"Aku menyukuri papila-papila lidah sehat yang berfungsi normal!"

Komentar Biggs menyenggol humor tipisnya. Tuan Crescent pun hampir tertawa lepas.

Awalnya, Biggs kebingungan. Kemudian, pemuda berambut gelap itu sendiri bergabung dengannya, menarik perhatian setengah pengunjung restoran favorit baru mereka.

Sembari menikmati hidangan, Biggs kembali membuka percakapan dengan sebuah kejutan.

"Aku dengar hari ini Tifa mampir ke fire station Sektor Satu. Apa kayak Vincent, dia juga lagi berusaha berubah profesi?"

Frekuensi mengunyah Seph melambat.

"Terus, dengar-dengar dia akan cukup sibuk minggu ini. Jadi sepertinya hanya akan ada kita berlima. Kalau Vincent nggak keluar kamar, jadi berempat."

Sephiroth meletakkan alat makan dan melipat tangan, berpikir serius. Sementara itu, acara makan Biggs sama sekali tak terganggu.

Pada gilirannya, si pemain hoki kembali membelokkan topik percakapan.

"Eh, tadi kita bahas Marlene, kan?"

Sang milyarder mengangguk, mengangkat garpu dan mengaduk-aduk saladnya. Pemuda bersurai terang itu menyingkirkan potongan bombai. Biggs berbasa-basi sebelum meraup sebagiannya tanpa sungkan, sambil lalu mengomentari sifat pilih-pilih Sephiroth.

"Ada apa memangnya dengan Marlene? Aku sudah tahu semua tentangnya. Ha! Aku tahu dia dibesarkan single-dad. Dia anak tunggal. Wah, beda banget denganku. Aku empat bersaudara hahaha! Terus, kayaknya…"

Sephiroth mendengarkan dengan sabar.

Makan malam pun diakhiri dengan monolog Biggs.

"Marlene mengaku suka orang lain. Aku rasa itu tidak benar." Sephiroth merebut kesempatan.

Biggs mengerutkan alis. Lalu akhirnya ia memahami maksudnya.

Ekspresi orang itu sedikit kosong. Seph juga melihat rasa sakit dalam pantulan matanya.

"Oh."

Pria jangkung itu mengatupkan tangan, menunggu reaksi selanjutnya. Ia sedikit merasa bersalah. Hari itu seharusnya menjadi hari yang menyenangkan untuk kawannya.

"Jelas, lah, ya. Mana mau cewek secantik itu sama cowok berpenghasilan tak menentu. Cowok yang cuma tahu cara main hoki, nggak up to date, kumel kaya begini. Hah..."

"Itu nggak benar," sela lawan bicara.

Tatapan Sephiroth sedikit berbeda. Tatapan itu cukup intens.

Meskipun ia berusaha menekan emosi, Sephiroth tahu, sikap 'mengasihani diri sendiri' barusan menimbulkan pertentangan dalam hatinya. Dan ia tidak tahu mengapa malam itu ia begitu peduli untuk mengungkapkannya.

"Kau nggak semenyedihkan itu."

Melihat ekspresi remuk Biggs, Sephiroth sedikit menyesal, sehingga ia buru-buru menambahkan,

"Kau itu mengagumkan, Biggs. Serius."

Masih dengan alis berkerut, Biggs memandangi Sephiroth seperti anak kucing takut diusir. Apakah kata-kata itu merupakan pujian, atau sebuah sarkasme tajam, ia hanya dapat menebak.

Biggs tahu, selama ini, keberadaan pemuda menawan itu kadang menakutkan. Sephiroth dengan kharisma memukau, tutur kata yang sangat tepat, dan tindak-tanduk yang begitu elegan, ditambah wajah titisan dewa itu terkadang membuatnya merasa seperti alien. Betapa tak keruan dirinya dibandingkan dengan manusia sempurna itu.

Pemain hoki itu mulai mual. Apa-apaan rengekan barusan. Ia telah bertingkah menyedihkan. Apa dia ingin dikasihani? Oleh Sephiroth? Yang jarak dengan dirinya bagaikan langit dan bumi?

Namun, ketika Sephiroth bertutur tenang, Biggs menyadari, ternyata jarak mereka tak sejauh itu.

"Kau tahu apa yang kau mau. Dan pantang menyerah mengejarnya. Itu terdengar seperti pemeran utama film, bukan? Asal kau tahu," si Perak berdehem, "Film-film favoritku semua pemeran utamanya seperti itu."

Hm? Apa aku salah dengar? batin Biggs. Sephy yang itu, Sephy raja dunia, memujiku?! Bahkan nggak cuma memuji... Mengagumiku?! WAAAAAA!

Memergoki butir air mata di pelupuk mata kawannya, sang 'raja dunia' buru-buru meminta bon.

Sementara Biggs menahan guncangan tubuh yang disebabkan oleh guncangan jiwa, sang pengagum mengeluarkan kartu kredit dan bergerak menuju kasir.

Biggs menghapus air matanya. Dan ketika Sephiroth kembali, ia telah mantap.

"Seph! Akan kubuktikan... bahwa rasa sukaku lebih kuat dari apapun! Ya! Rasa cintaku padanya tidak akan berubah hanya karena... Ha-hanya karena dia belum bisa menerimaku. Aku nggak bakal menyerah! Atas nama harga diri pemeran utama... aku janji, Seph!"

Sephy yang kebingungan hanya dapat mengedip beberapa kali. Apa dia harus ikut senang, atau prihatin terhadap hidup Marlene dua bulan ke depan?

Tanpa peringatan, Biggs malah menggenggam tangannya.

"SEPH! AKU YAKIN KAU JUGA BISA MELAKUKANNYA!"

Genggaman semakin erat. Orang sekitar ikut memerhatikan.

Akal sehat kembali dan Tuan Crescent yang terhormat berusaha menyelamatkan diri. Tapi, ya Gaia, genggaman itu sekuat gigitan buaya.

"Aku tahu kamu menghadapi tantangan. Aku nggak tahu bagaimana hubunganmu dengan Tifa akhir-akhir ini. Tapi! Kau harus berhasil, Seph! Kita berdua harus berhasil!"

"Bi, Biggs..."

"SEMANGAT SEPHY!"

Hah.

Semangat, ya? Semangat… Kata yang jarang diucapkan kepada Sephiroth. Selama ini, ia lebih suka kata 'cerdik' atau 'efektif'. Sephiroth tidak tahu bagaimana cara 'bersemangat'.

Yang ia tahu, kondisi percintaannya sebenarnya jauh lebih prospektif daripada Biggs. Dibanding Biggs yang hanya ditolak melulu, kemungkinan dia jadian dengan Tifa belum mendekati nol. Ya, Tifa tidak secara terang-terangan menolaknya. Gadis itu memang memilih orang lain, untuk sekarang. Ya, itu bukan berarti Nona Lockhart ingin Sephiroth berhenti mencoba, apalagi melupakannya.

Bagaimana Biggs masih bisa mendukung orang lain, Sephiroth tidak tahu. Tanpa disadari, semangat Biggs menular.

Dulu, Sephiroth pasti mengira orang ini gila. Dulu, dia sudah pasti menjauhinya. Namun kali ini, ia mendenguskan tawa.

Wajah Biggs memerah. Mengira Seph sedang mengoloknya. Perlahan, ia tarik kembali tangannya.

"Biggs,"

Biggs mengangkat wajah tepat ketika sesuatu dilempar ke arahnya. Sephiroth sudah tak ada di bangku. Ia sudah di dekat pintu dan berpesan:

"Itu kunci mobil. Kau harus pulang sendiri malam ini. Aku ada urusan mendadak di Sektor Satu."

Begitu menyadari arti pesan itu, seringai cemerlang sang MVP kembali bersinar.

"SEMANGAT!"

.

.

.

Taksi kuning mendekati rumah sakit megah di pusat Sektor Satu. Payung pun terbuka membentengi rambut panjang dari rintik hujan.

Sang penumpang turun, lantas bergegas menuju lobi di mana dua wanita tengah berjaga. Payungnya ditutup dan diletakkan di dekat meja.

"Apa Cloud Strife dirawat di sini?" tanya pemuda berambut perak itu tanpa basa-basi.

Keduanya kebingungan, tapi, menduga Sephiroth merupakan orang penting, segera mencari nama tersebut.

Salah satu penjaga menjelaskan ketiadaan nama tersebut pada sistem.

"Tolong tanyakan ke sektor lima, sektor empat dan sektor enam."

Lagi, keduanya menurut. Sambil menelepon, Sephiroth menjelaskan siapa dirinya: dirinya adalah wakil direktur sakit megah itu, sekaligus anak direktur Midgar General Hospital: Profesor Doktor Hojo Crescent.

Tangan salah satu resepsionis mulai bergetar dan kerjanya melambat. Biasanya, si sibuk Sephiroth akan sedikit kesal. Ditambah, dia juga sedang buru-buru. Namun kemudian, dia membayangkan salah satu anggota Terrace House bekerja sebagai resepsionis. Itu sangat-sangat membantunya bersabar sedikit lagi.

"Maaf, Tuan Crescent. Nama tersebut tidak ditemukan di sektor lima, empat dan enam. Apa saya perlu tanyakan ke sektor lainnya?"

Hah. Ternyata skenario buatannya pagi itu tidak terjadi. Pemuda itu termenung sebentar.

Kedua wanita yang menanti perintahnya mulai was-was. Kelegaan mereka saat Sephiroth mengucapkan terima kasih dan meninggalkan rumah sakit sulit dijelaskan.. Untunglah wadir mereka tidak banyak tuntutan. Namun, tetap saja. Ketika mengetahui siapa dirinya, tiba-tiba aura Sephiroth menjadi terlalu kuat untuk orang biasa. Jadi seperti itu rupanya penampilan salah satu pemimpin rumah sakit elit Midgar.

Sephiroth masuk lagi ke taksi tanpa mengucapkan sepatah kata. Awalnya, supir taksi menikmati argo yang semakin mahal, tapi keheningan itu menjadi semakin memuakkan sehingga ia pun memebah keheningan.

"Mau ke mana, Tuan?"

Seakan lamunannya pecah, Sephiroth pun menjawab,

"Bar Seventh Heaven, sektor tujuh."

.

.

Dan di situlah dia. Di bawah tangga menuju kamar teman wanita favoritnya.

Bertindak setengah-setengah sangat bukan dirinya. Jika memang berniat memastikan identitas sang pemadam korban kebakaran, mengapa hanya menyelidiki beberapa sektor, bukannya semua rumah sakit seantero Midgar? Dan jika ingin bertemu dengan Tifa, mengapa ia tidak berani mengetuk?

Bertindak gegabah bukanlah dirinya. Sampai detik itu, ia masih tidak yakin. Mengapa ia pergi ke apartemen itu. Bahkan, mengapa ia menanyakan tentang Cloud Strife di rumah sakit di sekitar sektor lima. Mengapa ia menginginkan hal buruk menimpa orang yang bahkan tak pernah bertatap muka dengannya.

Ya. Kenapa ia melakukan semua itu? Andaipun dia menemukan Cloud Strife, apa yang akan dia lakukan? Sesuatu yang tidak menyenangkan, yang tak terpuji, atau bahkan tercela?

Apa dia akan berusaha menyingkirkan Cloud Strife untuk selamanya?

Jujur, pemikiran itu tidak menakutkan. Benar, dia tidak takut. Dengan semua kekayaan itu, Sephiroth mampu mengakali hukum planet sekalipun. Sungguh, itu telah menjadi hasrat terpendam sang jutawan. Menyingkirkan Cloud dan mendapatkan Tifa.

Hanya saja…

Motif Sephiroth sama sekali tidak kuat. Dibilang lemah pun tak cukup.

Tifa dan dirinya adalah orang asing empat bulan lalu. Mereka bahkan tidak mengenal orang yang sama selain sesama anggota Terrace House. Ia tidak tahu siapa Cloud. Cloud dan dia tak punya sejarah buruk. Ditambah lagi, ia tidak tahu perasaan Cloud terhadap Tifa, dan apakah hubungan mereka akan berhasil.

Pemicu iri dengki itu hanya satu. Kebebasan mutlak semua makhluk hidup. Semua itu bermula dari pilihan Tifa.

Itu dia penyederhanaannya. Ya, segala kerumitan itu bermula dari konsep yang jelas tidak di luar jangkauan pemahaman. Namun tangannya tetap tidak bisa mengetuk.

Seakan berhasrat mengintervensi, angin kuat serta merta membalikkan payung hitam Sephiroth. Selamat tinggal.

Jika tak mau basah kuyup, Seph harus memutuskan. Masuk, atau pulang.

Tangan terangkat. Tangan turun lagi. Berbalik. Berbalik lagi. Hal yang sama terulang sekali.

Krek.

Uh oh. Sepertinya pintu apartemen itu barusan terbuka.

Tidak berani berbalik, Sephiroth pun membiarkan hujan menampar-nampar dahinya.

"Sephiroth?"

Napas pria itu berhenti tajam. Kini, rasanya angin kencang ikut merasuki pikiran dan mengobrak-abrik akal sehatnya.

Ketika aksi tak kunjung terlaksana, laki-laki itu merasakan sentuhan pada lengannya.

"Ayo masuk. Nanti masuk angin."

.

.

Sephiroth harus menolak berkali-kali waktu Tifa menawarkan kamar mandi dan pakaian ganti. Tifa pun menyodorkan secangkir teh hangat, meski awalnya berniat memasakkan semangkuk sup kentang untuk pemuda itu.

Sephiroth sibuk mengeringkan mahkota panjangnya. Handuk pinjaman itu menguarkan wangi lili, seperti aroma Tifa. Ia membisu sementara pipinya mulai panas. Apakah kehangatan ini efek teh lemon gingseng barusan?

Kesenyapan dihempas penawaran hospitality Tifa lagi. Ditambah informasi mengenai betapa lapar sang tuan rumah pada saat itu.

"Kalau begitu, supaya tak mengganggu, biar aku pulang sekarang."

"Apa kata orang kalau aku memulangkan tamu basah kuyup seperti ini?" protes gadis itu.

Tifa membawakan lebih banyak handuk. Dia bahkan berniat membantu mengeringkan kebasahan itu.

Refleks, Sephiroth beringsut. Apa lagi ini? Menatap wajah Tifa pun tidak sanggup.

Pada akhirnya Tifa menang. Tuan Crescent mandi sementara dia mulai memasak sambil terkikik.

Pakaian ganti Sephiroth merupakan kaos oblong dan celana drawstring yang kata Tifa terlalu longgar untuknya. Entah mengapa masih saja sesak. Kaos itu menempel ketat, sementara celana bermotif bunga mempertontonkan setengah paha.

"Wah," kata Tifa, memuji. "Sempurna!" serunya usil.

Dengan sangat sadar diri, Sephiroth meminta selimut untuk membungkus semua itu. Padahal, di depan Genesis dan yang lain, nyaris telanjang pun dia tidak malu.

Syukurlah Tifa tidak menggodanya lebih lanjut. Kemudian, dia mengumumkan makan malam.

"Sup apa ini?" Sephy bertanya. Ia tertarik setelah menghirup aroma lezat hidangan.

"Di dalam sup ini ada bawang putih, bawang bombai, wortel, kacang polong dan kentang. Terus juga sedikit miso," jelas Tifa. "Maaf, ya. Hanya ala kadarnya."

Permintaan maaf ditolak.

"Ini lebih dari cukup. Terima kasih, Teef."

Senyuman manis gadis itu cantik. Tapi tidak boleh dilihat lama-lama. Nanti makin heboh.

"Jadi?"

Hm. Kalau cewek sudah bertanya 'jadi', yang ingin diketahuinya bisa apa saja.

Maka dari itu, Sephiroth berkata,

"Sedap."

Si penanya menahan tawa.

"Bukan itu, Seph. Jadi, ada perlu apa sampai hujan-hujan datang ke mari?"

Glek.

Benar juga. Ada perlu apa?

Mana Sephiroth tahu? Hari itu penuh dengan misteri. Tubuhnya bergerak sendiri, seakan otaknya sedang pergi liburan.

"Kamu tidak keberatan jika aku berpikir sebelum menjawab?"

Lagi-lagi perempuan itu terkikik.

Menerima izin, Sephiroth kembali merunut untaian pemikirannya di tengah hujan.

Aksi gilanya hari itu: pergi ke rumah sakit, mencari pasien bernama Cloud Strife. Bingung di tengah jalan, kemudian pergi ke apartemen Tifa. Pada akhirnya menyimpulkan bahwa kegiatannya hari itu bermula dari sebuah pilihan. Pilihan Tifa.

Sephiroth lantas sadar. Jika ia ingin mengubahnya, maka yang harus ia lakukan sudah jelas: mendorong Tifa untuk memilihya. Ya. Lagipula, palu belum diketok. Hasil sidang masih bisa berubah.

Masalahnya, dia tidak tahu bagaimana mengubah pemikiran Tifa. Aha. Mungkin dengan bersikap romantis? Masalahnya lagi, dia juga tidak tahu bagaimana bersikap romantis.

Dalam sedetik, Sephiroth berharap penasihat asmaranya, Zack Fair, bisa muncul dari lampu saat itu juga. Jangankan Zack, para jomblo, Genesis atau Angeal pun akan didengarkannya dengan senang hati.

"Kamu tentu tidak keberatan kalau aku jawab besok?"

Tifa pun setengah bergurau.

"Oh, Seph. Apa sesulit itu? Ini cuma aku, loh. Kamu seakan lagi ngobrol sama orang lain."

"Aku sendiri tidak yakin bagaimana cara menjelaskannya," tandas pria bermata hijau itu, memainkan sendok.

"Ada apa, Seph? Kita ini teman, kan? Kamu boleh jujur, kok, padaku."

Senyuman dari mata Tifa memakukan dirinya. Pemuda itu tahu, tidak ada ruang untuk bersembunyi.

"Eh…"

Kini netra gelap itu berpindah fokus. Ia sadar, Tifa memerhatikan bibirnya, menantikan kata teruntai dari sana.

Entah ini halusinasi, atau dia sedang demam. Seolah waktu bergulir lambat. Seolah seluruh inderanya menajam. Ia melihat Tifa berkedip, bahkan mendengar tarikan napas sang jelita.

Wah. Betapa elok pemandangan di hadapannya. Betapa memukau sorotan ingin tahu itu. Sungguh menggoda senyum serta perkataan manisnya. Dan betapa luar biasa perhatian yang tercurah pada semangkuk sup hangat, serta pakaian yang membalut tubuh Sephiroth saat itu.

Ia tidak tahu. Mengapa ia ingin berada di sana selamanya. Mengapa ia ingin melihat senyumnya lebih lama. Mengapa ia merasa rela menukar semua hartanya demi menjaga wanita itu. Mengapa pertanyaan di bawah taburan kembang api terngiang murni dalam sanubari, dan mengapa ia ingin menanyakannya sekali lagi.

Apakah ini tak lebih dari luapan emosi sesaat? Sesuatu layaknya pasang surut lautan? Mengapa kali ini sakit rasanya? Pahit rasanya?

Andaikan Sephiroth mampu meluapkan semua itu. Mampu mempersembahkan kejujuran untuk perempuan elok itu… Mungkin pada akhirnya, semua ilusi ini akan terhapus. Mungkin cerita mereka akan berubah.

Tapi, Sephiroth justru mengucapkan sesuatu. Sesuatu yang segera ia sesali.

"Aku ingin membantumu."

Alis Tifa terangkat. Ia tidak menyangkanya.

"Membantu? Membantu apa, Seph?"

Diam! Diam kau!

"Kata Biggs kamu sibuk minggu ini. Dan katanya kamu pergi ke fire station tadi? Mungkin ada sesuatu yang bisa kubantu?"

Oh. Bagus! Bagus sekali!

Batin Sephiroth meraung. Dirinya seperti terbelah dua. Sephiroth sejati: dirinya yang diam saja; dan Sephiroth lugu. Dan kali ini, Sephiroth yang ke dua berhasil mengambil alih mulut Sephiroth yang asli.

Ya, terkadang seseorang tahu. Tahu pasti mana yang benar. Namun dia sendiri tak sengaja melakukan sebaliknya. Mengacaukan segalanya. Seakan alam semesta telah mendiktenya, sehingga suratan takdir terjadi juga, tak peduli betapa orang itu membencinya.

Konflik internal itu mengalihkan perhatian Sephiroth dari lengkungan bibir mungil Tifa, dari perasaan terkesan dan kekaguman pada lengkungannya.

"Ah, Seph. Terima kasih," mulainya. "Tapi kali ini aku tidak bisa merepotkanmu."

Tuan Crescent merasa lega. Dan kali itu ia menyaksikan hal yang lebih baik ia lewatkan. Ia menyaksikan senyuman menawan berubah perlahan. Berubah menjadi keterpaksaan, kemudian menjadi lambang frustrasi tak terungkapkan.

Itu. Itu dia. Itu yang ingin dia ubah. Ia ingin senyuman itu terkembang selamanya. Terkembang tanpa pernah terhapus. Dan jika seseorang bernama Strife tidak mampu mewujudkannya, maka dia akan bertindak. Meskipun ia harus merebut senyuman itu untuk dirinya. Hanya untuknya. Untuk Sephiroth Crescent seorang.

Dan kalian tahu, apa yang dilakukan Sephiroth? Hal yang cukup mengejutkan, dan juga sembrono.

Sephiroth menangkap tangan Tifa. Mengajaknya berdiri. Mempererat genggaman. Berjalan keluar. Ke tengah-tengah tetesan air.

Waktu itu ada taksi lain lewat. Sephiroth pun membawa serta kencannya. Dua insan melesat, melesat ke atas piringan baja, ke tengah kota yang terlelap. Menjadi satu-satunya saksi atas kelap-kelip kejora.

Tidak semua hujan harus berakhir dengan pelangi. Namun mungkin, mungkin saja, seperti bintang-bintang itu, kali ini sesuatu yang berkilau akan muncul mengusir kekeruhan di antara mereka berdua.

.

.

.

.

To be continued.


Beberapa pertanyaan yang patut dipertanyakan karena benar2 mengundang pertanyaan:

1. Slum Midgar kan di bawah piringan, jadi kok bisa hujan? - Jawabannya ada di salah satu diskusi berfaedah fan ffvii di GameFAQs (saia nggak yakin yang mana yang bener jadi kalo penasaran silakan pilih sendiri wkkwwk).

2. Itu Sephiroth naik taksi masih pake pakaian mini-mini gitu apa ga malu? - Gatau deh wkkwwkk. Anggep aja malam di slum gelap seperti blackhole.

3. Dua orang malem2 ujan2 gitu kira2 mau ngapain? Maling? - Yang ini saia masih nggak tau wkwkwkwk.

4. Ini fanfic katanya singkat, kenapa bab 9 masih belum tamat2? - ini 2-3 chapter lagi tamat. Tungguin yak! Hahhaha

Makasih banget bagi yang setia menantikan apdetan THFB. Selamat hari libur semuanya! Stay safe, jangan keluar rumah kalo ga perlu yak!