a/n: 1. bulu mata Sephiroth Crisis Core panjangnya kayak kereta wuakakkaka. 2. Maap banget apdetannya lama, baru aja pulang ke Indo hehe.


.

Bab 10

.

.

Jalanan basah. Sepatu kulit menapak, mencipratkan air berlumpur.

Sephiroth keluar dari taksi. Sisa hujan mengguyur surai perak. Ketampanannya meningkat sepuluh kali lipat.

"Aku segera kembali," ujar Sehiroth Crescent.

Tidak lama, laki-laki semampai itu kembali membawa selembar payung hitam yang terbuka lebar. Tubuhnya telah dibalut mantel hitam yang panjang. Ia melepas sarung tangan dan mengulurkan tangan.

"Kita mau ke mana?" tanya Tifa sebelum menyambut uluran itu.

Sang dara menyadari keberadaan gadis lain di belakang Sephiroth.

Aneh, batinnya curiga.

Tuan Crescent tidak enak hati. Ia pun berdehem.

"Hm. Aku ingin mengajakmu melihat Midgar dari atas. Hanya itu saja."

Tersenyum, kemudian buru-buru menambahkan, "Kamu aman, Teef."

Tidak ada yang dapay membantah pernyataan itu. Tifa pun menyambut tangannya.

Gadis berkuncir ekor kuda yang membuntuti Sephiroth tiba-tiba memakaikan mantel kepada Tifa.

"Eh, te-terima kasih," ujar gadis jangkung itu bingung.

Mereka berjalan menuju sebuah gedung. Hanya ada satu lantai dengan lampu menyala. Lampu-lampu di lantai lain hampir semuanya mati.

Aneh, batin Tifa heran.

Di depan pintu, seorang pria berpakaian formal telah menunggu. Sephiroth menyerahkan payungnya secara kasual, kemudian orang tersebut, bersama-sama dengan gadis ekor kuda tadi, mengikuti mereka dari belakang.

Kekagetan Tifa memuncak saat keduanya berhenti dan membungkuk hormat di depan pintu lift.

Apa tempat itu adalah hotel…? Dan… menapa lampu-lampu itu mati?

Misteri itu menciptakan firasat yang begitu buruk. Sebenarnya, di mana mereka? Apa yang mau ditunjukkan Sephiroth?

"Seph?"

"Ya?" balas sang pengusaha.

Kegugupan Tifa bertambah parah saat telunjuk pria itu menekan tombol penthouse. Mungkin juga itu karena Tifa takut ketinggian.

Tidak, tidak boleh berburuk sangka dulu.

"Siapa dua orang tadi?" telusur Tifa. Ia mencoba mengingat pelajaran karate yang pernah ia pelajari saat SMA.

"Heidegger dan Jessie? Heidegger kepala pelayan, sementara Jessie pâtissier magang."

Alis Tifa melengkung. Jadi hotel ini milik Sephiroth?

"Kenapa?" sang pemilik menoleh. "Kamu nggak nyaman dengan keberadaan mereka?"

Tifa merasa keganjilan. Jika memang niat Seph tidak baik, mengapa dia sepertinya khawatir?

"Eh, nggak, kok. Aku… aku hanya kaget waktu si pâtissier memakaikan mantel ini."

Sephiroth menelengkan kepalanya.

"Aku yang menyuruhnya. Memang nggak dingin?"

Meminta pâtissier memakaikan mantel kepada tamu. Sungguh aneh. Biasanya yang disuruh-suruh begitu adalah resepsionis.

Lift berhenti.

Tuan Crescent mengambil payung baru yang telah disiapkan di sudut lift kemudian mendahului Tifa keluar.

Angin menyambut langkah pertama Tifa. Gadis itu sedikit menggigil.

"Bagaimana? Dingin, kan?" pungkas Seph, meletakkan lagi payung tadi menyadari gerimis telah berhenti.

Tifa mengeratkan mantel beludru hijaunya. Ia mengendus aroma wangi dari sana. Aroma yang elegan.

Perasaan gugupnya sedikit berkurang melihat tidak ada keanehan pada penthouse tersebut. Kosong.

"Kamu pelanggan setia hotel ini?" pancing Tifa.

"Hotel?"

Si Perak bukan pria dungu. Ia langsung menyadari apa yang ada dalam pikiran Tifa selama ini.

"Oh, bukan. Gedung ini apartemenku," jelasnya, merasa tidak enak hati.

"Seluruh gedung ini?" tanya Tifa dengan keterkejutan baru.

"Haha. Ini milik ayahku. Aku hanya tinggal di sini, merawatnya," papar sang pengusaha kaya. Dia berbohong.

Tifa menghembuskan napas lega.

Dengan demikian, tuan rumah mengawal tamunya mendekati pagar di sekitar atap gedung tersebut.

Pemandangan dari atas sana begitu memukau. Midgar sehabis hujan kembali dipenuhi kendaraan dan orang-orang berpayung. Lampu-lampu jalanan menyala terang, pun billboard neon di pusat hiburan dan apartemen-apartemen lain wilayah elit tersebut.

"Jadi ini pemandanganmu tiap malam, Seph?" tanya Tifa. Dia sudah tidak khawatir.

Sang milyalder terkekeh. Dengan santai ia menjawab, "Lama-lama bosan juga, kok. Langit Midgar sangat tercemar. Jarang kelihatan bintang. Malam ini spesial."

Spesial karena ada Tifa, kan, Seph?

Mereka melongok langit berbintang itu.

"Kalau mau lihat bintang, ke Nibelheim saja," usul Tifa.

Oh, undangan?

"Kalau aku mampir, kamu mau jadi tour guide?"

"Serahkan padaku!"

Tuan Crescent dan Nona Lockhart kembali memperhatikan angkasa.

"Cantik…" desah Tifa setengah sadar kepada ribuan lampu di bawah.

Sephiroth meliriknya. Pria stoic itu merasakan kehangatan merambati pipinya.

"Ya—"

Telepon berdering.

Pemuda itu menarik napas dalam-dalam. Kesal. Seakan Gaia berusaha melarangnya memiliki momen dengan Tifa.

"Sebentar, ya, Teef."

Ia mengangkatnya, mengatakan 'ya', kemudian, menutupnya. Wajah orang itu sedikit lebih sumringah.

"Tifa," panggil Sephiroth.

Ia mengulurkan tangan lagi.

Secara refleks, jemari lentik Tifa menyambutnya.

"Lho?" seru Tifa.

"Hm?"

"Nggak, nggak ada apa-apa."

Syukurlah situasi aneh itu dilerai kemunculan helikopter putih yang mendarat tepat di belakang sang tuan rumah.

"He?"

Pemuda tampan itu hanya tersenyum miring. Ia pun menuntun kencannya ke pintu kendaraan itu.

Tifa mengenali sang pilot sebagai Heidegger, kepala pelayan sang milyarder.

"Heidegger ini mantan tentara, angkatan udara," jelas Seph.

"Ah. Pantas sangat terlatih."

Sephiroth memasuki helikopter tanpa masalah. Selain karena kakinya panjang, dia sudah biasa.

Berbeda dengan Tifa. Menaiki mesin itu adalah sebuah perjuangan yang tidak dapat dimenangkan.

"Sini, Tifa."

Dengan sigap, Seph pun membantu kencannya. Tangan satunya menarik pergelangan Tifa, yang lainnnya memegangi pinggang gadis itu begitu orangnya naik.

Angin keras bertiup, menggoyangkan tubuh helikopter itu.

Tifa terhuyung. Tentu saja sang gentleman menadah badannya. Alhasil, secara alamiah mereka nyaris berpelukan.

"Aduh, maaf," seru Tifa, berusaha menegakkan badan.

Sephiroth membantunya dan menjawab, "Tenang. Kamu nggak papa?"

Tifa pun membenarkan postur.

"Nggak papa. Makasih, ya!"

Mereka mengenakan helm dan duduk di kursi masing-masing, sementara Sephiroth Crescent berpikir pada dirinya sendiri: Tifa wangi. Apa, ya, merk shamponya?

Baling-baling berputar, dan mesin itu melambung.

Dalam menit-menit pertama, Tifa merasakan sensasi tidak menyenangkan. Perutnya mulai mual. Namun, setelah Sephiroth meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja, gadis itu benar-benar merasa mendingan.

Mereka mulai menyaksikan kemunculan tembok Midgar, lalu gurun yang mengitarinya, lalu kota kecil di kejauhan.

"Kita ke Nibelheim malam ini," terang Sephiroth. "Atau kamu mau mengunjungi tempat lain?"

Tifa berusaha menyembunyikan keterkejutannya. Padahal, undangannya barusan setengahnya adalah candaan.

"Kamu boleh tidur. Nanti kubangunkan kalau sudah sampai. Maaf harus mendadak seperti ini."

Tifa menyentuh lengannya.

"Jangan minta maaf, Seph. Aku belum pernah menerima hadiah seperti ini," kata Tifa. "Terima kasih."

Aku bisa memberikan hadiah yang jauh lebih baik untukmu, Tifa. Aku sangat-sangat bisa…

"Baguslah kalau begitu," ungkap Seph dengan segaris senyum kaku.

"Seph," panggil Tifa kemudian, "apa yang mendorongmu mendaftar Terrace House?"

Pembuka percakapan yang bagus, tapi sulit dijawab.

"Hm. Kehidupanku sebelumnya sangat monoton. Aku sedang mencari stimulasi, sesuatu yang dapat membebaskanku dari kebosanan."

"Dengan apartemen mewah dan helikopter macam ini, menurutmu hidupmu membosankan?" lanjut Tifa, tergelak. "Kamu itu sangat beruntung."

Sephiroth mendenguskan tawa.

"Rumput tetangga selalu lebih hijau," simpulnya. "Hidupku pun jauh dari sempurna."

"Benarkah itu?"

Mata Tifa membulat menantikan respon Tuan Crescent yang selanjutnya.

Entah mengapa, Sephiroth merasakan munculnya sebuah tembok yang membentengi hatinya, mencegahnya untuk jujur.

"Tentu saja. Hidup siapa, sih, yang sempurna?" begitu elaknya. "Bagaimana denganmu? Kenapa kamu mendaftar Terrace House?"

Tifa merapatkan bibir, namun masih tersenyum.

"Ra-ha-si-a."

Helikopter mengalami turbulensi, memutus pembicaraan mereka sesaat.

Setelahnya, Tifa bertanya lagi.

"Kamu besar di mana, Seph?"

"Midgar. Aku orang kota yang membosankan."

Tifa pun terkikik.

"Papa dan mama dari situ juga?"

Pria itu berpikir sebentar sebelum menjawab. Tapi, jawabannya terdengar sambil lalu.

"Ya, begitulah."

"Kertemu di mana?"

"Dari pekerjaan."

"Ah, cinta lokasi, ya. Apa mereka masih di Midgar?"

Sephiroth merasakan ketidaknyamanan dikejar pertanyaan bertubi-tubi. Tapi dia tidak mampu menolak senyuman lembut wanita itu.

"Ayahku iya."

"Mama?"

"Aku tidak tahu."

Setitik kesedihan pada paras Seph membuat Tifa bungkam.

"Orangtuaku bercerai waktu aku masih kecil. Sejak saat itu, aku jarang bertemu dengan ibu. Bisa dihitung jari."

Gadis di sampingnya itu menunjukkan simpati mendalam. Makanya, Sephiroth tidak mengerti, mengapa dia justru merasakan… penyesalan? Perasaan bersalah?

"Ibuku… meninggalkan keluargaku," lantun sang jutawan lamat. "Aku tidak mengerti. Di mana salahku sehingga dia terpaksa melakukannya…"

Kalimat itu diucapkan tanpa emosi, namun diam-diam, Sephiroth menahan supaya tangannya tidak terkepal seperti bocah kecil yang mau menangis.

Kekosongan itu diisi oleh turbulensi lainnya, lalu ungkapan simpatik Tifa.

"Aku turut sedih, Seph. Aku yakin, itu pasti bukan salahmu. Mungkin mamamu memiliki alasan yang tidak dapat dijelaskan."

Pemuda bermata hijau itu menyunggingkan senyuman lemah.

"Itu sudah lama sekali."

Tifa tidak membiarkan keheningan tercipta kembali.

"Tapi, dulu kamu pernah bilang, kamu memanjangkan rambut karena ingin mengenang ibumu? Jadi, kamu tidak marah padanya, kan? Eh, siapa namanya kalau boleh tahu?"

"Lucrecia, Lucrecia Crescent. Soal rambut, itu hanya bercanda."

"Jadi, kalau gitu, kenapa memanjangkan rambut?" lanjut Tifa.

Laki-laki bersurai perak itu menatap pijakan tanpa bergeming.

"Entahlah. Mungkin karena ayahku benci laki-laki berambut panjang," paparnya.

Lagi-lagi, kekosongan ekspresi pada paras tampan Sephiroth menyebabkan Tifa bingung. Tapi, sepertinya permasalahan keluarga orang ini lebih berat dari kelihatannya. Nona Lockhart pun mulai memahami pernyataan Sephiroth tadi, bahwa hidupnya jauh dari sempurna.

"Apa dia ayah yang keras?" lanjut Tifa.

"Dia bukan orangtua yang bertanggung jawab," timpal Seph mengangkat bahu. "Yang paling membuatku sebal, dia melarangku bertemu Ibu."

Tifa menyadari ketegangan muncul dan merambat. Tangan sang Tuan Muda mencengkeram paha erat-erat.

"Kamu kelihatannya sayang banget, ya, sama mama."

Pemuda itu meliriknya kemudian melengos.

"Dia mengajariku hal-hal… yang baik. Di dalam memoriku, wanita itu sangat menyayangiku…"

Mata Sephiroth memandangi langit-langit, seakan mengenang masa lalu.

"Dulu, aku sering mimpi buruk. Biasanya, aku pergi ke kamar Ibu. Ibu selalu bangun dan membacakan cerita, kadang menyanyikan lagu."

Pemuda itu melipat tangan.

"Setelah wanita itu pergi… Hanya tinggal aku dan ayahku. Ayahku tidak punya waktu untuk mengurusi kekonyolan bocah kecil."

Tifa menunggu, namun Sephiroth tidak melanjutkan.

"Tenang, Seph, aku yakin ayahmu punya alasan pribadi juga."

Sephiroth mendengus.

"Aku tahu perasaanmu, Seph. Mamaku meninggal waktu aku masih kecil juga," celetuk Tifa. "Sampai hari ini, aku masih merindukannya."

Pemuda itu pun berkata, "Turut berduka."

Perempuan bermata bulat itu menggeleng dan tersenyum.

"Itu sudah lama."

Keduanya pun tenggelam dalam pikiran masing-masing.

"Jadi," sambung Tuan Crescent, "kamu lebih mirip ayah atau ibu?"

Senyuman ceria gadis itu merekah.

"Papa! Aku persis Papa. Kata Mama, Gaia menjiplak Papa karena malas mendesain manusia baru. Hahaha!"

Pemuda itu tertawa.

"Kalau kamu?" lempar Tifa.

"Ibu. Syukurlah," aku Seph.

Gadis dua puluh lima tahun itu terkikik.

"Ibumu pasti sangat cantik, ya. Nggak heran anaknya seganteng ini."

Besar, kepala Sephiroth sepertinya bertambah besar. Besar dan merah bagaikan balon mau pecah.

"Aku yakin papamu juga cantik. Maksudku, tampan. Ehm."

Untunglah Tuan Kepala Besar tidak menyebut kata bohay.

Setelah menyelesaikan senam perut dengan terbahak, Tifa pun menyimpulkan,

"Aku senang dengan percakapan ini."

Pria itu tertegun, lalu berbalik memandanginya.

"Aku jarang bisa seterbuka ini selain di hadapan teman-teman terdekat."

"Hehe. Aku anggap itu pujian."

Seph mengangguk.

Jutawan itu memperbaiki posisi duduknya. Separuh dirinya malu dengan kejujuran barusan. Seperempatnya lega. Seperempat sisanya senang. Senang menemukan orang yang dapat memahami tanpa menghakiminya.

"Oh iya, siapa teman-teman terdekatmu? Apa mereka juga teman masa kecilmu?"

Sephiroth tidak perlu berpikir jika ditanya tentang orang-orang spesial itu. Dia hanya punya tiga.

"Ya, ada dua yang sudah kukenal sejak aku sangat muda. Mereka anak kenalan bisnis orangtuaku. Karena dididik dengan cara yang mirip, kami bertiga cepat dekat. Bahkan setelah orangtuaku bercerai, kami tidak bisa dipisahkan."

"Wah, kalau gitu kalian bertiga sobat karib?"

"Berempat, ada satu lagi, hasil pungutan Angeal."

"Berempat? Siapa Angeal? Pungutan? Haha."

Sephiroth mengulum senyum. Ketertarikan Tifa terhadap kehidupannya merupakan suatu indikasi afeksi gadis itu terhadapnya.

"Angeal Hewley, wakil direktur perusahan minyak di area Gold Saucer. Bagiku, dia semacam sosok kakak, atau mentor. Meskipun pembawaannya serius, dia selalu mendahulukan kesenangan… kebahagiaan teman-temannya di atas prinsip-prinsip idealnya. Dia sulit diyakinkan waktu aku berencana mendaftar Terrace House. Tapi, sekarang nggak pernah melewatkan satu episode pun."

Tifa melipat tangan, mencondongkan badannya mendekat untuk mendengarkan lebih jelas.

"Sepertinya dia orang baik. Terus, terus?"

"Yang dipungut Angeal itu namanya Zack Fair. Mereka ketemu waktu Angeal mengases situs lepas pantai dekat dengan bantuan perusahaan kapal keluarganya Zack. Sepertinya dia terobsesi dengan kharisma Angeal, atau ingin dapat berorasi tentang nilai-nilai kebangsaan dan patriotisme. Jadi sejak saat itu, dia mengikuti Angeal seperti anak anijng nggak bisa diam."

Tifa menutupi mulutnya, tertawa.

"Yang terakhir namanya Genesis, Genesis Rhapsodos. Keluarganya memonopoli kebun apel di Banora, tapi dianya agak nyentrik, jadi buka karaoke di mana-mana. Orangnya gampang bosan, jadi dia mempelajari macam-macam. Meski begitu, Genesis lumayan ambisius, dan sejauh ini berhasil memiliki setengah saham taman bermain Gold Saucer yang kemarin kita kunjungi. Dia pernah bersumpah, suatu saat nanti akan mengalahkan kekayaan keluarga Crescent. Tapi, sekarang dia malah bekerja di salah satu perusahaan Crescent."

Sephiroth menyelesaikan ceramah itu, dan melihat Tifa berkedip-kedip dengan seiris senyum kagum, dia pun bertanya,

"Kenapa?"

Perempuan itu menggeleng.

"Baru kali ini kamu ngomong panjang lebar begini. Aku senang mendengarnya."

Bibir pria itu melengkung. Hati berdebar kencang menerima pujian itu.

"Benarkah?"

"Ya. Aku benar-benar merasa selangkah lebih dekat dengan Sephiroth yang sebenarnya."

Mata hijau laki-laki itu menelusur dan menyimpulkan bahwa perempuan di hadapannya tidak berbohong.

Sephiroth merasakan kelegaan. Seakan beban yang berat telah diangkat dari bahunya.

"Tifa," panggilnya, "maaf aku telah membohongimu. Membohongi kalian semua. Tentang… siapa diriku yang sesungguhnya."

"Ah."

Meskipun bibir bungkam, body language lawannya berkata ia boleh melanjutkan.

"Aku nggak bermaksud mempermainkan kalian. Aku benar-benar senang bisa mengenal Marlene, Vincent, Biggs dan Yuffie. Terutama kamu. Aku bersyukur Terrace House telah mempertemukanku dengan seorang…"

Menunduk,

"Malaikat."

Tifa mengikuti gestur pemuda itu. Ikut menuduk.

"Gaia masih berbelas kasihan kepadaku saat kamu dikirim untuk… menyelamatkanku…"

Degup jantung gadis itu mengeras, bagaikan genderang perang. Dia berusaha menenangkan diri, mengingatkan diri sendiri bahwa dia bukan orang yang gampang grogi. Tapi reaksi tubuhnya semakin tak terkendali.

"Kamulah yang mendorongku untuk menolong Vincent. Waktu itu… aku tidak paham mengapa kamu dapat memikirkan keadaan orang yang waktu itu sama sekali asing. Tapi, setelah menolongnya, setelah melakukan suatu tindakan yang tadinya aku kira memalukan, aku menyadari, inilah kodrat manusia. Menolong dan ditolong. Manusia hidup di atas dukungan orang lain, karena kita semua adalah makhluk sosial."

Sephiroth membenarkan posisi duduknya lagi.

"Mungkin kamu tidak menyadari dampak dari percakapan singkat di mobil pada waktu itu. Semua bermula dari situ. Dan sejak hari itu, kamu terus menunjukkan padaku… Bagaimana cara memperlakukan manusia lain. Cara menurunkan ego, dan menghargai pribadi lain sebagai manusia yang setara. Dan aku sendiri pun juga merasa… diterima, di… disayangi… dan dimaafkan…"

Pria itu memberanikan dirinya menatap lurus.

Tifa masih menunduk.

"Apa kamu nggak nyaman dengan percakapan ini?"

Perempuan itu menatapnya dan memaksakan senyuman. Bukan dipaksa karena tidak nyaman, tapi karena gugup dan sedikit malu.

Geleng.

"Boleh kulanjutkan?"

Angguk.

Sebelum itu terjadi, Heidegger membuka sekat penutup ruangan pilot, melaporkan ketibaan mereka sesaat lagi.

Percakapan itu pun tertunda sampai keduanya tiba di tanah kelahiran Tifa.

"Kamu mau mengunjungi keluargamu?"

Tifa menggeleng.

"Aku sudah tidak punya keluarga. Ayahku meninggal sebelum aku pindah ke Midgar."

Sephiroth kesal pada diri sendiri gara-gara melupakan pernyataan serupa Tifa beberapa waktu silam.

Pria berambut panjang itu menundukkan kepala prihatin. Bagaimana mungkin ia menyangka insan sehangat itu ternyata telah sebatang kara di dunia ini.

"Bagaimana kalau kita ke sumur? Dari sana kita bisa duduk sambil melihat bintang."

Keduanya pun menuju tempat terbuka. Di sana terdapat sumur tua yang telah kering.

Begitu melihatnya, langkah Tifa pun terhenti.

Sephiroth hanya dapat menyangka, tempat itu memiliki tempat khusus di dalam hati Tifa, namun tidak mampu menebak bahwa di situlah Tifa Lockhart berpisah dengan pujaan hatinya, Cloud Strife.

Perempuan itu berjalan mendekat, duduk di undakan kayu yang mengitari sumur. Ia menghadap ke sumur dan mengusap dindingnya.

Sephiroth bertanya-tanya, kapan terakhir gadis itu mengunjungi tempat ini.

Mereka pun duduk, sedikit terlalu jauh dari satu sama lain. Mungkin percakapan tadi sedikit terlalu prematur untuk mereka berdua.

Keduanya pun membahas Nibelheim, orang-orangnya, makanannya, kemudian bintangnya.

"Rasi bintang yang nampak di musim ini adalah rasi Cassiopeia. Lihat, lima bintang merah yang membentuk huruf W, itu dia."

"Yang itu?" ujar Sephiroth menunjukkan jarinya.

"Ya."

"Oh. Baru kali ini aku melihatnya."

Angin malam Nibelheim yang hangat bertiup.

Tifa menatapnya. Wajahnya menunjukkan antusiasme baru.

"Tertarik mempelajari nama rasi?"

Sephiroth mendenguskan tawa.

"Jelas."

Tifa mulai menunjuk-nunjuk angkasa, menyebutkan nama gugusan bintang yang telah dia hapal di luar kepalanya.

Tifa Lockhart, berceramah dengan begitu bersemangat, adalah pemandangan yang menyenangkan.

Sephiroth Crescent mendengarkan dengan sabar penjelasan makna gugusan-gugusan benda langit, termasuk sisipan cerita pengalaman Tifa yang tidak sepenuhnya berhubungan.

Dia mirip… Ibu.

"Dengan melihat rasi bintang, aku bisa memandu turis keluar dari hutan rimba sekalipun," Nona Lockhart berdeklarasi.

Pendengarnya bertepuk tangan.

"Luar biasa."

"Hehe, ini karena aku sering kelayapan ke tengah hutan."

Tifa menyeringai.

"Ayahmu membolehkannya?"

Seringai itu semakin lebar.

"Aku sering kena masalah gara-gara itu. Tapi, berkatnya, ada banyak hal menakutkan yang tidak menggentarkanku lagi."

"Pantas, waktu rumah kemasukan serangga kamu tidak kabur sepertiku," puji sang pengusaha. "Jadi, rasi bintang mana yang paling kamu sukai?"

Tifa berdiri. Disapunya langit malam yang cerah.

"Aquarius."

Mereka terdiam.

"Aquarius, ya. Aku yakin itu rasi yang indah."

Sosok ramping Tifa pun membatu. Ia tidak mengucapkan apa-apa lagi beberapa saat kemudian.

"Sekali setahun, aku pergi ke sini."

Sephiroth pun menelengkan kepala. Tadi Tifa bilang dia sudah tidak punya sanak saudara?

"Untuk melihat bintang?"

Anggukan diterimanya.

Sephiroth tidak menerima kelanjutan berita tersebut. Hanya kelip bintang yang menyapanya.

"Sephiroth,"

"Ya, Teef?"

"Jadi, bagimu, aku ini apa?"

Pertanyaan mengagetkan yang sama sekali di luar dugaan.

"Kenapa kamu baik sekali padaku?"

Degup jantung Sephiroth mengencang. Kata-kata yang sudah pernah disiapkannya buyar berantakan.

Pria intelek itu merasa kehabisan kata-kata. Ia tahu apa maksud Tifa Lockhart menanyakannya. Dia bukan gadis dungu yang tidak dapat membaca suasana. Apalagi, hari itu, di bawah kuncup kembang api, dia menanyakan suatu pertanyaan yang begitu gamblang.

Sephiroth pun menyatukan tangan.

"Aku tidak tahu… Tifa."

Tifa menautkan alis, tapi Sephiroth belum selesai.

"Mungkin ini yang disebut takdir… mungkin inilah yang namanya cinta pada pandangan pertama."

Penyesalan instan.

Ya Gaia, kenapa cara bicaraku mirip tokoh utama novel kesukaan Genesis?

"Bukan maksudku menggombalimu. Sepertinya aku lelah."

Apa? Apa yang barusan kukatakan?

"Maksudku… Aku tidak bermaksud menarik perkataanku barusan. Aku pun awalnya tidak percaya, tapi ini benar."

Hentikan, Sephiroth Crescent! Ini memalukan!

"Kalau… Kalau kamu memberiku waktu, aku yakin… aku yakin dapat mengatakannya dengan lebih… elegan."

Sephiroth tidak bisa menangani kepanikan itu. Ia pun berdiri.

"Sebaiknya aku pergi."

"Seph!"

Tifa menangkap lengannya.

"Kalau kau pulang, aku terdampar di sini."

Nyaris pria itu menepuk jidat.

"Tepat sekali," jawabnya.

Ia duduk di posisi semula.

Menyaksikan perilaku itu, Tifa tidak dapat menahan gelak tawa. Entah untuk yang ke berapa kali.

Kalau diingat-ingat, itulah yang Tifa lakukan beberapa jam terakhir. Tertawa. Tertawa di samping seseorang yang sama sekali tidak cocok dibilang pelawak.

Apa karena orang berambut panjang ini jenaka? Tidak. Itu karena Tifa… merasa aman berada di dekatnya. Ia merasa aman berbahagia di samping Sephiroth.

"Kamu ini kayak kebakaran jenggot," pungkas Tifa.

Pemuda itu malu mendengar komentarnya.

"Ternyata seorang Sephiroth Crescent punya sisi imut juga, ya."

"Aku akan sangat berterima kasih jika kamu tidak membocorkannya. Terutama pada Biggs."

Perempuan itu terkikik lagi.

"Tenang. Rahasiamu aman bersama Tifa."

"… Aku percaya."

Gadis berambut hitam itu mendudukkan diri tepat di samping laki-laki itu.

"Bagaimana, rasanya lega, nggak?" selidiknya.

Sephiroth diam saja. Jantungnya masih berdebar liar.

Tifa pun menutup mata.

Andaikan aku berani melakukannya juga… waktu itu, di tempat ini… batinnya setengah sadar.

"Terima kasih sudah jujur, Seph," kata Tifa kemudian. "Aku… nggak pernah sesenang ini…"

Sephiroth buru-buru menengok Tifa. Napas pemuda itu memburu heboh, seperti dikejar banteng.

"Aku harus berpikir. Boleh, kan?" tanya Tifa dengan senyuman khas yang tidak pernah berhasil ditolak Tuan Muda.

"Tentu saja," balas pemuda tampan itu.

Sebenarnya, dia sedikit kecewa. Namun, ia lega. Setidaknya jawaban Tifa nanti adalah hasil pemikiran matang, bukan sekadar akibat luapan emosi sesaat; sesuatu yang dapat merugikan Tifa atau dirinya di masa depan.

"Aku akan menunggu."

.

.

.

To be continued