Spoilers alert: "Bukan berarti cerita berakhiran sedih tidak pantas dibaca. Jika cerita itu berhasil terkenang dalam hati pembaca, cerita itu masih berlanjut, dan sekarang giliran si pembaca yang menulis akhir yang bahagia untuk dirinya sendiri."


.

Bab 11

.

.

Setelah pertemuan tengah malam itu, keduanya mencapai Terrace House lagi sekitar jam tujuh pagi.

Tentu saja orang-orang yang sudah bangun: Biggs dan Marlene menyerbu mereka untuk mendapatkan sumber gosip terbaru. Namun, keributan segera berlalu, karena Sephiroth dan Tifa tak pernah memberikan jawaban memuaskan. Mulut mereka seakan terkunci untuk hal-hal yang seru. Padahal, sebenarnya, ada banyak sekali yang terjadi pada dimensi emosional keduanya.

Hanya satu yang Sephiroth harapkan dengan sungguh, bahwa beberapa jam singkat yang mereka habiskan barusan dipahami sebagai tanda kesungguhan sang pengusaha terhadapnya.

Hari demi hari berlalu, sementara Sephiroth panas dingin menanti sebuah jawaban. Ia telah memasukkan semua tokennya. Pertanyaannya, apa benar dia bisa memenangkan jackpot dalam permainan ini?

Ketika satu minggu bergulir tanpa kepastian apa-apa, Tuan Muda Crescent berpikir ulang. Sebaliknya, mungkin dirinya pun telah menorehkan dampak yang begitu berharga dalam kehidupan sang model, sehingga membutuhkan waktu lebih lama bagi gadis itu benar-benar menimbang keputusannya masak-masak.

Dua minggu lewat. Lalu tiga. Satu bulan.

Tanpa terasa, empat minggu terakhir telah menyambut keenam anggota Terrace House season tiga, memberikan mereka desakan tak kasat mata yang memunculkan banyak pengakuan.

Tiga gadis saling blak-blakan tentang apa yang membuat mereka sebal selama hidup sekamar. Dibandingkan sesi jujur para cowok, cuhatan antarcewek itu katanya banyak drama. Rasa kesal terpendam benar-benar diluapkan. Air mata berhujanan. Sempat ada adu mulut yang cukup panas juga.

Bagaimana, ya. Enam bulan tinggal bersama, suka duka dilalui bersama. Tentu saja enam orang yang tadinya asing itu kini sudah lebih dari sekadar kenal. Gesekan merupakan tanda kedekatan. Meski tak nyaman, mereka belajar banyak dari konflik. Dari sana, mungkin akan terlahir kejujuran, dan kejujuran inilah yang akan semakin merekatkan orang.

Oh iya, rumah itu sempat retak waktu Vincent dan Yuffie memutuskan rehat. Dugaan Seph, Vincent tidak bisa meladeni 'bola energi' itu terus-terusan. Kebenarannya, justru Yuffie yang tak tahan dengan sifat negatif dan murung Vincent kadang.

Beberapa pihak ingin merekatkan hubungan keduanya kembali, dan beberapa mendukung keputusan pasangan itu.

Biggs, dengan gagah berani, akhirnya terang-terangan menyatakan perasaannya kepada Marlene. Reaksi cewek itu sedikit mendingan dari sebelumnya. Sekarang, sepertinya Marlene kasihan. Pernyataan cinta itu memang tak ditolak mentah, tapi malah dipadamkan perlahan dengan perubahan sikap Marlene terhadap Vincent yang kini jomblo. Waktu Vincent menolak perhatian itu, ganti Marlene yang mendekam di kamar berhari-hari, bahkan akan kadang menolak makan jika tidak disogok pancake diabetes Sephiroth.

Ada-ada saja. Tapi biarlah, toh hanya sedikit lagi mereka takkan tinggal serumah lagi.

Beberapa malam yang menegangkan itu dilewati tanpa kabar dari Tifa. Ya, di siang hari, tak ada yang aneh dalam hubungan mereka. Namun, ketika mentari telah terlelap, rasa lelah mengganduli hati Sephiroth Crescent. Apa mereka akan terus-terusan begini, bahkan berpisah tanpa suatu kejelasan? Apakah ini siasat Tifa untuk menepis tanpa menyakitinya?

Tidak. Sephiroth tidak bisa dipermainkan. Ia ingin Tifa mengatakan jawabannya dengan lantang. Keras dan jelas, tanpa ditahan.

"Teef." Pemuda berambut panjang itu suatu saat memberanikan diri. "Bisakah kita bertemu jam dua malam ini di tempat biasa?"

Tifa mengiyakannya, dengan secuil awan kegelisahan pada bola mata gelapnya.

Bertemu malam ini di tempat biasa? Macam Romeo dan Juliet saja.

Pemuda dua puluh delapan tahun itu sedikit menyesali tuntutan sok mistis itu. Ini semua salah Vincent, karena mantan model yang sekarang jadi guru matematika itu suka nonton telenovela di siang bolong.

Tapi, pada akhirnya, waktu yang ditentukan tiba juga.

Sephiroth merasakan perbedaan pada caranya berjalan. Langkah itu seakan tahu tujuan, namun tidak mau mencapainya. Tetapi pria sejati takkan mundur, apalagi ingkar janji!

Pemuda itu pun menutup ritsleting blouson hitamnya, kemudian duduk di bangku bambu pada dermaga kecil nan sunyi itu.

Ia termenung beberapa saat, bahkan tak tahu sudah berapa menit berlalu. Ketika kembali ke kenyataan, Sephiroth menjadi semakin gusar, diliriknya jam tangan. Sudah lebih lima belas menit. Di mana Tifa?

Diperhatikannya kuncup-kuncup sakura di kejauhan. Ditenangkannya hati.

Ia menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma musim semi. Kemudian menghembuskannya.

Ketika semua tak berhasil, Sephiroth berpikir: secangkir teh akan memperbaiki semuanya.

Dia pergi ke dapur, menyeduh teh lemon jahe. Rasanya tidak seenak yang disuguhkan Tifa, tapi ini cukup menenangkan saraf-saraf tegang. Omong-omong, punggungnya pegal sekali duduk di kursi keras itu. Atau itu juga pengaruh perasaan gamangnya.

Pemuda itu mondar-mandir di ruang tengah, membenarkan letak beberapa potong puzzle yang dimulai Yuffie dan Biggs setelah makan malam. Apakah puzzle itu menggambarkan hidupnya? Hidupnya akhir-akhir ini memang berantakan dan tidak terpecahkan.

Lama sekali Tifa, batinnya menangkap jarum panjang yang kini menunjuk angka enam.

Muncul ide untuk naik ke atas, di mana kamar kaum makhluk-makhluk Venus berada.

Ketika lima menit kemudian tetap tak ada kemajuan, gentleman itu pun melaksanakan niatnya.

Barangkali ketiduran? begitu bisiknya pada diri sendiri. Habis, kenapa juga Sephy mengundang di jam munculnya hantu begitu?

Ia masih mendengar suara orang saat telapaknya menginjak anak tangga terakhir.

Sephiroth berjengit mendekati kamar Tifa dan yang lain.

Benar. Mereka masih bangun.

Suara lantang Yuffie melengking cukup tinggi, seakan semua penduduk Wutai ikut mendukung opininya. Kemudian, suara Marlene menyusul, tak kalah sewot.

Ah, jadi legenda drama dua wanita itu benar adanya. Ia sedikit kasihan pada Tifa.

"Sephiroth itu..." Suara Marlene.

Sephiroth? Apa mereka memperebutkanku? suara hati setan narsis kembali berdengung setelah sekian lama.

Pria akhir dua puluhan itu pun bersandar pada daun pintu. Dia tidak malu menjadi tukang nguping mulai hari itu, karena ia tahu yang semua percakapan tentangnya merupakan percakapan penting.

"Kamu pasti bisa, Tifa! Kamu bisa mengungkapkannya! Katakan padanya untuk tidak mengganggumu lagi!" Yuffie sepertinya ngotot sekali.

"Ya! Kamu berhak melakukan apa yang kamu pikir benar!"

Tidak terdengar suara Tifa. Hanya sorakan Yuffie dan Marlene. Rasa ingin tahu Sephiroth menjadi semakin besar.

"Sebentar lagi kalian berpisah! Jangan sampai kamu terus dihantui perasaan itu!" teriak Yuffie.

"Ya!" sahut Marlene. "Dan ini adalah yang terbaik untuk kalian berdua."

Pemuda itu mematung. Kurang lebih, sudah memahami bahan perbincangan ketiganya: Tifa menceritakan tentang dirinya, dan jelas pihak ke tiga bernama Cloud Strife itu, dan sekarang Yuffie dan Marlene membantuya memilih. Meski begitu, masih tak jelas, siapa yang diharap 'tidak mengganggu lagi'.

Pemuda itu sabar menantikan kelanjutannya. Tapi, suasana malam itu mendadak senyap. Sepertinya ada adegan dramatis yangmenghentikan paksa duet maut itu.

Semakin penasaran, Sephiroth akhirnya menempelkan kuping.

Tep tep tep...

Sephiroth yang malang justru mendengar langkah mendekat!

Apa boleh buat? Mau bersembunyi juga tak bisa.

Pria berwajah tirus itu hanya mampu bersandar di samping pintu sambil menerima nasibnya.

Pintu terbuka, mengekspos sosok lembut seorang wanita yang sudah selama satu jam dinantinya.

Tifa, kedua tangan menangkup wajah, berlari meninggalkan dua makhluk Venus lain kebingungan.

Ia menabrak sesuatu. Si jelita terpaku menyadari figur seorang pria telah berdiri menghalang tangga.

Sang ahli waris perusahan besar itu, tidak tahu harus berbuat apa, termangu tanpa kata.

Mata mereka bertemu.

Alis hitam gadis itu mengerut. Sekonyong-konyong, Tifa menghambur ke lantai bawah, sebelum air matanya tumpah, membasahi memori-memori terakhir mereka.

Tinggallah sang Tuan Muda sendirian, menjulang sebatang kara di depan pintu yang terbuka, disiram tatapan kaget dua sosok yang tak mampu memperjelas apa-apa.

Barulah disadarinya kali itu. Tiap Tifa menangis sendu, ia selalu ada di situ.

Ternyata, dialah penyebab semua isakan menderu. Ini ulahnya, perbuatannya. Ia telah memaruh perempuan itu, dan mendesaknya memilih. Dan memilih, itulah yang terpaksa Tifa lakukan.

.

Memilih yang lain.

.

Itu adalah jawaban terakhir Tifa. Memaksanya berpikir ulang hanya menyiksa perempuan itu lebih lama.

Bagai pohon habis tersambar petir, yang hangus nan terpecah batangnya. Kurang lebih seperti itu kondisi hatinya. Rusak, kering, mati perlahan. Meski ia tidak lalu tersungkur menyerah. Ia terus berdiri tegak, menyambut kenyataan. Semua bukanlah mipi, dan dunia nyata tak mengabulkan utopia.

Ia tercambuk, tercabik, tercampakkan.

Ini bukan akhir segalanya. Sephiroth sadar. Selalu ada awal baru selepas suatu akhir. Sephiroth paham. Namun hanya untuk saat itu, untuk momen itu saja, ia membiarkan dirinya terjatuh. Takdir seorang malaikat bersayap satu yang angkuh, ternyata tak dapat dikecoh.

Dari awal, ia tahu, dirinya sekalipun tak memiliki kesempatan. Seekor rajawali pun, sesekali akan jatuh juga. Dan ini adalah gilirannya.

Sang milyarder meninggalkan lokasi dengan kepala tertunduk. Kekalahan itu telah dia akui.

.

.

.

.

.

Tiga minggu menuju perpisahan, trio cowok membuat acara nonton pacuan kuda. Itu idenya Sephiroth. Sekali saja, ia ingin melakukan hal yang biasa ia lakukan dengan para sahabat.

Mereka membeli topi kembaran, dan duduk di arena dikelilingi para antusias yang meneriakkan nomor joki andalan.

Aura bersemangat tempat terbuka itu menyulut gairah Biggs. Bahkan Vincent yang tak biasa berteriak pun kini liar menyerukan angka delapan. Di dalam suasana semarak itu, mata Sephiroth tak bercahaya. Aneh, biasanya tidak begini. Apa ini karena dirinya pergi dengan dua cowok ini?

Biggs duduk lagi setelah puas loncat-loncat mengata-ngatai kuda lawan yang berhasil menyelesaikan putaran pertama. Sephiroth hanya membatin, mungkin itu adalah pengganti ketidakmampuannya memaki Marlene. Syukurlah setelah insiden Vincent, pemain hoki berbakat itu akhirnya insyaf.

Benar juga. Jika Biggs yang tadinya seperti cinta mati itu pada gilirannya dapat melanjutkan hidupnya, begitu pula dengan Sephiroth. Sampai kapan dirinya mau menghindari Tifa? Ia juga perlu memikirkan perasaan gadis itu. Tentu hal ini juga berat baginya.

Sephiroth berjanji akan menuntaskan urusannya sepulang.

.

Benar saja, sepulang pacuan kuda, yang pertama dia lakukan adalah mencari Tifa.

Gadis itu duduk sendirian di beranda, membolak-balik majalah tak berselera.

Ketika Sephiroth turun dari mobil dan berjalan mendekati pintu rumah, sikap duduknya berubah.

"Tifa, mau ngeteh?"

Rasa lega yang luar biasa seakan mengisi ruang dada perempuan manis itu. Ajakan itu segera diiyakan.

Dan keduanya kembali bersama di tempat yang biasa.

Kali ini, tidak banyak kata terucap di antara mereka. Bahkan tidak ada topik selain pohon yang mulai berbunga.

"Pohon itu sudah hampir mekar penuh," tunjuk Nona Lockhart pada pohon cherry blossom di ujung timur danau.

"Benar juga."

Kemudian angin bertiup, dan kelopak-kelopak merah muda itu berhamburan.

"Indah sekali dunia ini."

Baginya yang sudah lama tinggal di bawah langit baja, itu adalah momen langka.

"Apa tidak ada pohon seperti ini di kampung halamanmu?" susul Seph.

"Nggak ada," jawabnya.

Sephiroth pun menyeruput teh jahenya.

"Aku yakin kamu sudah mantap," mulai pria bersurai terang.

Tifa meliriknya, sedikit sungkan. Si jelita tahu apa yang diperbincangkan. Ia hanya takut menyelam terlalu dalam. Bagaimana kalau dirinya menangis lagi?

"Bagiku, itu bukan pilihan yang mudah, Seph."

Benarkah, batin Seph. Apa aku harus senang?

"Apa yang kukatakan waktu itu benar," tambahnya lagi, matanya yang bulat menunjukkan kesungguhan. "Aku menyukaimu. Dengan sangat mudah. Dengan begitu saja."

Lawan bicaranya berusaha menahan komentar. Wajar saja jika ada banyak yang ingin ditanyakannya. Tifa tidak pernah menjelaskan mengapa. Mengapa ia tidak memilih Sephiroth.

"Dalam mimpiku, kita sudah... bersama."

Sephiroth Crescent merapatkan bibir, menyadari adanya getaran dalam suara halus itu.

"Tapi, kalau begitu, tidak adil untukmu."

Dengan sekuat tenaga, perempuan berhati lembut itu menahan air matanya.

"Itu sama seperti menerima perasaanmu, tapi mendua dalam hati tanpa sepengetahuanmu. Jika begitu, aku sama saja dengan pembunuh. Kamu takkan bahagia bersamaku, Seph."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sebulan setelahnya, di sebuah apartemen mewah di Sektor 1 Midgar, empat orang berpesta. Pesta itu diadakan untuk memperingati kepulangan seorang perwaris tunggal, sesama anggota band, rival, dan sahabat. Sephiroth Crescent akhirnya kembali ke habitat asli: ke singgasananya di Sektor Satu Midgar.

Ketika jam menunjukkan pukul sepuluh tepat, ketiga sahabatnya duduk rapi di depan televisi. Angeal meregangkan otot-otot tangan. Remote di yang satu, popcorn di tangan satunya. Ditekannya tombol empuk dan layar pun menyala. Dan apa yang mereka nanti-nantikan pun muncul.

"Wah! Theme song-nya Enak banget. Ini 'Fireworks' bukan?"

Itu adalah episode pertama Terrace House: Full Bloom, yang diperankan oleh sang Tuan Muda Crescent. Ketiga temannya begitu antusias melihat salah satu potongan kemunculan kawan mereka di opening song acara tersebut.

"Err… Kayaknya sekarang… gendutan, deh," komentar Zack, bolak-balik memperhatikan TV dan Sephiroth Crescent yang asli.

"Nggak nyangka baju turtle neck itu ternyata sangat pas buatmu," puji teman satunya. "Padahal lagi banting harga dan murah gila," seperti biasanya si Merah Genesis berkomentar nyentrik.

Mereka menonton episode pertama, yaitu kedatangan keenam member di rumah elok itu.

Mengingat kembali hari pertama Terrace House membangkitkan kenangan tersendiri bagi Seph. Cerocos gengnya saat episode itu selesai tidak akan pernah cukup akurat untuk mendeskripsikan suasana tempat tinggalnya itu. Rumah terpencil yang indah. Danau yang cantik. Orang-orang yang telah menumpahkan sedikit warna di hidupnya. Semua itu tak dapat digambarkan hanya dengan beberapa adegan di layar kaca.

Ia masih tak dapat mengalihkan pandangannya saat kemunculan Tifa diperlihatkan lagi. Nona Lockhart masih secantik memorinya. Bergaun biru dan berkardigan putih. Ia masih ingat aroma rambut gadis itu, wangi kamelia, semerbak manis di sampingnya sewaktu ia membukakan pintu mobil. Sampai sekarang, Sephiroth menggunakan aroma itu dalam samponya. Aroma itu mengingatkannya pada masa-masa yang damai.

Sekarang, Sephiroth sudah tahu pasti, bahwa apa yang dia rasakan terhadap Tifa waktu itu adalah rasa yang tepat.

Lamunannya berakhir saat adegan pemandian air panas tayang. Mata-mata melotot saat 'bagian belakang' Seph diperlihatkan tanpa sensor.

"Jangan berlagak seolah kalian baru pertama melihatnya," dengus si pemeran. Teman-temannya pun menimpali dengan 'jangankan bagian belakang, bagian depan saja sampai bosan'.

"Bohong!" sanggah Seph, tentunya bercanda. Bagaimana lagi? Bagi pria, bukan teman dekat namanya kalau belum pernah ke onsen bareng. Dan keempatnya selalu rutin mengunjungi onsen setelah menonton pacuan kuda.

.

Gengnya sepakat untuk berkumpul tiap acara itu tayang jam sepuluh malam selama tiga bulan ke depannya. Mulut sang pewaris MRIH terkunci rapat agar keingintahuan pemirsa tak dirusak spoiler. Yang terutama ingin ia rahasiakan adalah reaksi Yuffie, Marlene, Vincent dan Biggs ketika ia akhirnya membocorkan siapa dirinya di hari terakhir. Raut-raut yang mereka tampilkan benar-benar menghibur. Tapi, ia lebih bahagia melihat tak ada perbedaan sikap yang mereka tunjukkan padanya setelah mengetahui secuil informasi tentang seorang Sephiroth Crescent.

Sephiroth rasa, kini ia benar-benar tahu siapa dirinya yang sesungguhnya. Dia adalah dirinya, dan titel-titel berkilau itu tidak akan pernah membuat derajatnya sebagai manusia lebih tinggi atau lebih rendah dari siapapun.

Satu per satu episode yang ditonton geng SOLDIER tidak hanya menghibur, tapi juga mencelikkan mata mereka tentang isu-isu kehidupan sekitar.

Ada terlalu banyak persoalan yang terungkap di sana. Terlalu berat jika disebutkan satu-satu. Intinya, setiap orang di dalam acara tersebut memiliki problema masing-masing, yang satu tak kalah pelik dari yang lain. Masalah anggota keluarga yang sakit parah, trauma masa kecil, pengalaman pahit dengan pujaan hati, dan sebagainya. Problema yang dihadapi Sephiroth antara dirinya dan Tifa hanyalah sepotong bagian yang membentuk keseluruhan cerita.

Di tengah-tengah, Angeal sempat curiga, apakah persoalan-persoalan itu nyata. Harus diingat, Terrace House adalah reality show dengan tujuan memperoleh keuntungan dari para penyimak. Sephiroth membenarkan bahwa beberapa adegan memiliki dialog, tetapi, tentang curhatan-curhatan mendalam keenam member, ia menyanggahnya. Terutama ketiga pria akhir dua puluhan itu bungkam mendengarkan permasalahan Vincent.

Tidak ada yang ideal di dunia ini. Tidak ada orang yang memiliki hidup yang sempurna. Termasuk keempat pemuda kaya raya itu. Bukan hanya Sephiroth, sepertinya Angeal, Zack dan Genesis sedikit belajar cara 'menapak tanah' melalui dokumentasi penjelajahan sohib mereka itu.

Dan! Perjalanan keempatnya pun sampai di bagian itu. Kencan romantis Seph dengan Tifa di Gold Saucer.

"Kalian seperti pemain film Dollyowood."

"Sst!"

"Kalian benar-benar masuk ke tunnel of love? Terowongan itu membawa nasib buruk."

"SST!"

Komentator kita, Genesis, selalu dibungkam diam setiap ia tidak mendukung. Romansa, menurutnya harus seperti yang di dalam buku-buku puisi. Getir dan gelap. Merah. Berdarah.

Bagian kembang api itu tidak semendebarkan aslinya. Hanya saja, satu adegan membuat jantung Seph tercekat kembali.

Dalam adegan itu, dirinya mencondongkan badan, membisikkan sebuah pertanyaan. Tentu saja tidak terekam. Namun setiap katanya masih tersemat di dalam hati dan sanubari pria itu.

"Tifa, do you not love me? Or will you not?"

Ia memejamkan mata. Sekarang, ia sudah tahu jawabannya. Gadis itu tak cukup mencintainya. Dari awal, Sephiroth tidak punya kesempatan. Ia tak bisa menang.

Ya, sekarang, Sephiroth tahu pasti, bahwa apa yang dia rasakan terhadap Tifa adalah rasa yang tepat. Hanya waktunya yang salah.

"Apa yang kamu bisikkan padanya, Seph?"

Keingintahuan Zack Fair menariknya ke dunia nyata. Ia memberi senyuman misterius, sembari menjawab,

"Sesuatu yang tidak pada waktunya."

Keempat temannya hanya dapat menebak.

.

.

Sephiroth menelepon Tifa malam itu. Pembicaraan mereka menyenangkan. Bagaikan teman lama. Seakan tak pernah ada kecanggungan di antara keduanya.

Ya, semua itu ada di masa lalu sekarang. Tidak ada salahnya terus membangun hubungan, meski hanya sebatas teman.

"Terima kasih sudah mengenalkanku pada Tuan Reeve Tuesti, Seph. Dia baik sekali!" terdengar suara sarat semangat dari seberang.

"Benarkah? Ikut senang," ucap Seph tulus. "Aku yakin, di agensinya, karirmu bisa berkembang pesat. Kamu adalah orang yang selama ini dicari-carinya."

"Terima kasih banyak, Seph."

Mereka berhenti bicara. Sebuah senyuman di sini, dan sebuah senyuman di sana. Seph sungguh lega hubungan baik mereka bisa tetap berlanjut. Dia juga senang bisa punya kesempatan untuk membantu Tifa sedikit, mengenalkannya pada seorang produsen film, teman dekat ibunya yang dulu adalah aktris tenar.

"Aku nggak melakukan apapun, kok. Jaga dirimu baik-baik. Jika ada masalah, langsung telepon."

Setelah berucap salam, Sephiroth menutup sambungannya.

Hari itu, ia mengenang lagi hari terakhirnya di Terrace House, ketika kelopak-kelopak plum berguguran. Ia kembali menyatakan perasaannya. Bukan supaya diterima, tapi supaya dirinya sendiri sembuh. Perasaannya di masa lalu menjelma menjadi kata, lantang tiada terbata. Dan demikianlah terhapus segala beban dari sanubarinya.

Sesungguhnya, dari awal Sephiroth selalu tahu. Kisah mereka takkan berlanjut.

Setidaknya, yang perlu digaris bawahi adalah, sekarang ia tahu bahwa dirinya adalah manusia biasa. Manusia yang ingin diterima dan dicintai dengan segala kekurangan-kekurangannya. Sebagai kekasih, atau sebagai teman.

.

.

.

"Sephy! Cepat! Kamu mau melewatkan episode terakhir THFB? Buruan!"

THFB adalah singkatan dari Terrace House: Full Bloom. Saking seringnya mereka berempat membicarakan reality show itu.

Berawal dari janji untuk nonton bareng tiap malam, sekarang keempat anak band itu melanjutkan acara mereka dengan massage, latihan musik, main board game, sampai malas-malasan bareng.

Hari itu, untuk merayakan berakhirnya season 3 Terrace House, mereka memesan champagne dan pizza. Keempatnya setuju untuk tidak menjaga pola makan khusus malam itu. Padahal, sejak kembali ke Sektor 1, Sephiroth berhasil mengembalikan berat badan ke angka semula. Terpaksa malam itu ia membuat sebuah kompromi besar demi menyenangkan teman-temannya. Yah, hanya untuk malam ini, biarlah dirinya ikut menikmatinya.

"Tam tam tam tam tam tam~"

Waktu lagu pembuka THFB berputar, si Jabrik Zack dan si Klimis Genesis langsung memulai duet maut mereka. Tak lama kemudian, lantunan lirik dengan nada tidak terlalu benar—atau sebaliknya—dinyanyikan keduanya.

Seph sudah terlalu biasa dengan pemandangan itu, tapi ia tetap senang semua sahabatnya bisa menikmati acara, mulai dari benar-benar awal, pertengahan, hingga purna. Mereka harus mengagendakan rekaman lagu pembuka itu. 'Fireworks'.

Ia masih merasakan getar ketika adegan dirinya dan Tifa di bawah bunga-bunga api keluar. Cinta pertama memang tak mudah dilupakan.

Episode kali itu menceritakan perpisahan.

Keenam orang tampak sedang packing barang-barang masing-masing. Koper yang mereka bawa ke tempat itu beranak pinak. Sephiroth sendiri harus membawa pulang dua koper besar dan satu backpack berkapasitas lima puluh lima liter. Entah apa saja isi tasnya, selain buku-buku resep pancake berbagai variasi.

Saat packing, para pria saling jujur tentang perasaan mereka satu sama lain.

"Aku benar-benar beruntung bisa ada di tempat ini bersama kalian. Kita harus ketemuan sering-sering!" Biggs mengerling. "Meskipun akhirnya diri ini gagal mendapatkan pujaan hati, aku tetap senang bisa berjuang sampai lolos seleksi saat aku di sini. Terima kasih banyak untuk dukungannya, Sephy, Vinny."

Mereka saling lempar senyum. Seph yang dulu mana mau. Boro-boro lempar senyum, mungkin dia melemparkan lirikan maut, atau jangan-jangan malah sepatu.

Vincent menyambung, "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Jika kalian mendengar kabar kembalinya aku dengan Yuffie, jangan kaget, ya. Mungkin juga kalian akan menerima undangan pernikahan kami."

"Kau ini," timpal Sephy, "dari dulu yang dibahas hanya itu-itu saja. Kamu laki-laki, kan? Jangan gampang menyerah!"

Vincent berterima kasih dan Biggs pun lagi-lagi memujinya.

Seph telah berubah. Ia dapat tersenyum pada orang lain. Tapi, yang paling penting, sekarang, ia dapat tersenyum pada dirinya sendiri. Namun, dua detik terakhir dadanya sedikit sesak.

Zack mengelus punggungnya. "Kamu teringat Tifa waktu itu, ya?"

Yang ditanya menjawab dengan santai, "Aku masih punya kejutan hari itu."

.

Tiga cowok saling bertukar alamat dan nomor telepon. Kedua pemuda sedikit terkejut melihat di mana ia tinggal. Di sektor termewah Midgar.

Waktu, itu Seph hanya bilang, ayahnya kaya. Ia pun buru-buru keluar kamar setelah menjabat tangan Vincent dan dipeluk erat oleh Biggs yang mentransfer juga air garam dan ingus.

Di ruang makan, seorang gadis berambut sepinggang duduk termangu.

Mereka berbincang sejenak, tentang betapa cepatnya waktu berlalu, juga tentang indahnya sakura yang mekar di luar. Ya, hari itu, berbeda dengan para plum, pohon-pohon sakura di sekitar danau baru saja mencapai tingkat kemekaran maksimal.

Keduanya berjalan ke luar, dan berdiri di geladak, menghadap danau. Kelopak-kelopak sakura mengapung di permukaan air tenang.

"Segelas teh bakal sangat menyegarkan."

Seph mendenguskan tawa mendengar pernyataan itu. Tifa mirip dengannya untuk urusan leisure.

"Jika aku bisa mengabulkan sebuah keinginan, apa yang akan kamu minta?" tanya pria itu.

Gadis itu berpikir sejenak.

"Aku tidak tahu. Kalau kamulah yang bisa mengabulkannya, kenapa bukan kamu yang memilihkannya untukku?" tanyanya balik. Tawa kecil terselip dari bibir berpoleskan lipstik pink.

Satu kelopak sakura jatuh di atas kepala Tifa. Seph menahan diri untuk tak mengambilnya, supaya jarinya tak merasakan helai-helai rambutnya yang halus.

Ia bergumam tentang harapan, entah konteksnya apa. Tifa mendengarkannya dengan setengah perhatian, setengahnya habis di tarian helaian bunga sakura di udara. Sephiroth menjelaskan tentang perubahan pola pikir yang terjadi dalam diri seseorang dengan harapan kuat. Dengan perubahan itu, energi orang itu akan terarah ke sana. Dan, disebabkan oleh perubahan-perubahan selanjutnya, keinginannya lebih mungkin terkabul, dan seterusnya.

Seph menghentikan ceramah. Diam, menikmati sisi kiri wajah tanpa cela sang juita.

"Tifa," panggilnya. Ia berusaha terdengar tidak terlalu memaksa. Memaksanya untuk berpaling padanya.

"Ya, Seph?"

"Ini hadiah kecilku untukmu."

Gadis itu menatapnya, mencari-cari bungkusan atau apapun di tangan orang itu. Tidak ada apa-apa.

"Apa, Seph?" ujarnya lagi, terkikik.

Tangan itu meraihnya. Kedua tangannya memegang bahu si cantik. Sesaat, dikira Seph akan memeluknya. Tentu, Tifa tidak akan menolak. Mereka teman.

Ternyata, pria bersurai terang itu mengarahkan Tifa dengan lembut, menghadap ke suatu arah, di mana sepasang mata sebiru langit menangkap sang dara.

"Perkenalkan, Tifa. Ini Cloud. Cloud Strife, ini Tifa Lockhart, yang selama ini kau cari-cari."

.

Lembaran tisu ditarik boros oleh Zack Fair. Kelenjar air mata benar-benar diperah sampai habis. Bahkan Genesis yang antiklise pun tampak berkaca-kaca.

"Cinta sejati tak harus memiliki," bisik pemuda berambut merah lurus itu dengan penuh penghayatan.

Sephiroth, memandangi orang itu melalui bahunya, hanya bisa membatin, betapa benarnya perkataan sarat stereotipe itu.

.

Yah, itulah akhir dari THFB. Tidak semua orang mendapatkan apa yang mereka mau. Terutama Biggs Domino dan Marlene Wallace. Harapan keduanya kandas bersamaan di tengah. Tapi, Biggs berhasil masuk ke timnas olimpiade, sementara Marlene akhirnya akan memulai kegiatan modeling-nya di bawah arahan Tifa.

Pemuda murung Vincent Valentine dan si perempuan tomboy Yuffie Kisaragi bisa jadi adalah yang paling berhasil di antara peserta lain dalam musim itu. Katanya, mereka kembali rukun baru-baru ini. Keduanya melanjutkan hubungan jarak jauh sampai acara itu selesai ditayangkan di televisi. Semoga saja nasib baik selalu bersama mereka.

Seph? Dia menemukan apa yang perlu ditemukan. Petualangan. Penemuan. Penerimaan. Juga… Cinta pertama!

Ah. Klise.

Pada akhirnya, Sephiroth menyimpulkan, ide gilanya itu adalah ide paling briliannya. Dia tidak menyesali enam bulan teraneh dalam hidupnya itu.

Ketika mereka berdua bertemu lagi, jari manis Tifa dihias cincin aneh, mirip dengan yang pernah dibeli Zack Fair untuk tunangannya. Ternyata, pacar Tifa punya selera yang sama nyentrik dengan si jabrik. Ia mungkin harus mengajaknya ngobrol kapan-kapan. Siapa tahu, cowok itu sudi menjadi gitaris kedua di dalam band amatirannya.

Tapi, yang paling penting, Tifa selalu tersenyum semenjak bersanding dengan sang pemadam kebakaran, Cloud Strife. Dengan demikian, Sephiroth pun akhirnya dapat melepas gadis itu dengan tenang.

Dan mereka pun hidup bahagia. Sephiroth tetap lajang, tapi bahagia.

.

.

.

.

Real Ending.


Hai para pembaca semuanyaaa!

Terima kasih sudah mengikuti fiction yang progresnya lebih lambat dari siput ini! Setelah memakan waktu hampir dua tahun, akhirnya cerita sebelas chapter ini berhasil dihantarkan sampai ke real ending. Padahal, fiction ini sebagian besarnya saia tulis sekali duduk dan rencana awalnya mau dijadiin longshot. Haha 'cem kopi aja sih.

Terima kasih untuk kesabaran para pembaca sekalian, terutama para reviewer: Tokyo Tower, love30kitkat, Yue aoi , dan semua silent readersku. Semoga cerita ini sudah menghibur or menghilangkan kebosanan kalian di tengah pandemi.

Ini salah satu fiction yang benar2 saya nikmati proses penulisannya! Dan anehnya, dari yang awalnya cuma iseng, sekarang saia mau mulai serius ngeship pairing un-mainstream ini!

A villain is a broken hero. Itu adalah hal tersirat (dan terandom) yang saia pelajari selama penulisan fiction ini. Andaikan di canon Sephiroth diberi kesempatan ke dua, mungkinkah dia akan menjadi hero yang lebih baik dari si emo Cloud? We'll never know.

Sumpah, ya, kayaknya di genre non-angst/hurt-comfort, ini fic pertama saia di mana tokoh utamanya ngga berhasil mewujudkan impian. Gimana, gimana? Nyesek nggak wkwk.

Bagi kalian yang memuja Cloti, noh, makan tuh ending (wkwk!) Bagi kalian yang diam2 mendukung Bang Seph dan Neng Tifa, jangan hujat saia plis wkwk.

Ada beberapa hal yang pengen saia 'tempel' nanti-nanti fiction ini:

1. Pengembangan backstory nya side characters, terutama Marlene. Somehow di sini Marlene kegambar kayak anak manja gitu hiks sori. Awalnya, saia rencana pakai Elena dan bukannya Marlene (trus pake Kunsel bukan Vincent), tapi karena mereka karakter pinggiran, saia ngerasa bakal jadi kurang menarik, jadi diganti. Ngga tau sih.

2. Backstorynya geng Sephy, selama bertemen sudah melalui peristiwa apa saja.

3. Kelanjutan kisah Seph dan si Mama Lucretia.

4. Kelanjutan hubungan Cloud dan Tifa.

Gitu2 sih. Tapi kayaknya males, deh.

Saia malah mikir mau bikin fiction romance/family SephXTifa gitu untuk MEMUASKAN HASRAT SHIP YANG TAK TERKABUL DI CHAPTER INI. Aduh maaf jadi fangirling.

Eh betewe, kalau mau alternate ending yang sedikit lebih tidak suram, comment yak!

Eniweys, segitu dulu dari saya.

Terima kasih semuanya! Sampai jumpa di SephXTifa selanjutnya! /plak/