Olala 2
.
.
Drabble Collection.
Warning: marriage!AU, (niatnya) fluff-humor dan agak menjurus ke rate m untuk chapter terakhir.
Naruto punya Masashi Kishimoto, aku cuma pinjam karakternya~
Enjoy!
.
.
Tidak seperti biasanya, Hinata masih tertidur saat matahari sudah hampir terbenam. Naruto baru saja menengok kamar tidur mereka dan melihat wajah polos istrinya yang tampak lelap. Dia segera menutup pintunya dengan perlahan, tidak berniat mengganggu.
Perutnya terasa bergemuruh. Dia sempat berpikir untuk memakan ramen saat teringat kalau dua hari yang lalu dia sudah menyantap hidangan favoritnya itu bersama Hinata. Pasangannya memastikan asupan makanan instannya dengan ketat sehingga Naruto tidak berani untuk melanggar. Apalagi dengan insiden celana berlumpur waktu itu.
Yang tersisa adalah memasak.
Naruto terdiam selama beberapa saat karena sepertinya melupakan sesuatu yang berkaitan dengan kata terakhir itu, tapi pada akhirnya dia menyerah dan mengangkat kedua tangannya ke atas dengan bersemangat.
"Yosh! Waktunya memasak!"
Dia mengecek bahan-bahan yang ada di kulkas dan lemari dapur, lalu mulai menyiapkan bahan yang dipilihnya serapi mungkin di atas meja. Langkah terakhir persiapannya adalah, memanaskan wajan.
Hinata membuka matanya ketika hidung mencium bau hangus yang pekat di dalam kamar, seperti kebakaran. Dia langsung bangun dari tempat tidur dan mengecek tempat kejadian, menatap pemandangan yang kacau dari suaminya yang berusaha memadamkan api dan dapur yang seperti kapal pecah.
"Naruto-kun!"
"Tidak apa-apa, Hinata! Jangan ke sini."
"Tapi-" ucapannya terputus saat alat pemadam kebakaran yang dipegang laki-laki itu bekerja dan mulai memadamkan api dengan cepat.
Wajan mereka sudah tidak terselamatkan, kompor mereka terlihat hampir meleleh sedangkan tembok juga kubikel lemari yang berada di dekat kompor itu sudah menghitam karena terkena api.
"Maaf, Hinata... aku lupa mematikan kompor."
Perempuan itu menghela napas, menatap Naruto yang tampak bersalah juga berantakan, dengan wajah yang tercoreng moreng asap dan alat pemadam di tangan. "Naruto-kun, duduk dulu."
Naruto segera menuruti ucapannya sementara dia menyiapkan handuk lembab. Hinata meraih alat pemadam kebakaran yang masih dipegangnya, lalu mulai mengusap wajah laki-laki itu dengan lembut, membersihkan bekas asap dengan handuk di tangannya.
"Kamu tidak apa-apa kan?"
Laki-laki itu mengangguk.
"Kalau mau masak makan malam, jangan lupa bangunin aku ya, Naruto-kun." Perempuan itu menangkup wajah Naruto sehingga laki-laki itu bisa membalas tatapannya. "Kamu tidak lupa dengan kebakaran dapur sebulan lalu 'kan?"
"Iya..."
Hinata mencium pipinya sekilas. "Terima kasih untuk makanannya, Naruto-kun."
Naruto tampak terpana sebelum mengangguk dan kembali tersenyum. "Sama-sama, sayaaang!"
Di sisi lain dapur yang tidak terbentuk, makan malam yang dibuat Naruto tersaji di atas meja makan, lengkap dengan peralatan makan yang disiapkan dan nasi di mangkuk. Tentu saja Hinata tidak bisa marah dengan usaha suaminya.
.
.
.
Chapter ini diadaptasi dari prompt yang didapet di sini ya c:
