KookTae / KookV

Cast :

Jeon Jeongguk

Kim Taehyung

Author : Tian Yerin a.k.a Wulan Titin

Genre : Hurt/Comfort

Disclaimer :

Cast(s) belongs to god, their entertainment, and their parents but the story line belong to me

.

.

.

"Ternyata, Itu Aku"

HAPPY READING

.

.

.

... Ije nado tteonanda hamyeon

Geureon nal yongseohaejugenni

Naege sangcheoman juneun neoreul dugo

Neo eopsi mwol hal su isseulkka

Bamsae doenoeeodo

Neo eopsineun hagi sileo

Na jujeoange dwae...

" Eo, hyung! Kenapa kau suka sekali lagu itu? Apa kau sedang berada dalam status itu?"

Yang menyapa itu bernama Jeon Jeongguk. Lebih muda tapi bisa dengan mudah bergaul dengan orang yang lebih tua darinya 2 tahun. Lelaki ini tuan muda satu-satunya dalam keluarga Jeon. Bisa disebut juga pewaris tunggal perusahaan yang dipegang ayahnya suatu saat nanti.

"Tidak untuk bagian diduakan, dan iya untuk bagian tersakiti."

"Kau sedang menyukai seseorang? Siapa gadis beruntung itu, hyung?"

Siapa ya? Yang ditanya pun tampak sedang berpikir keras.

"Atau jangan-jangan kau malah menyukaiku?"

Dengan senyum tipisnya, lelaki yang sedang memasukkan gitarnya berhenti. Ia menoleh sebentar ke arah Jeongguk dan berkata, "Tidak mungkin aku menyukai orang yang kepekaannya bernilai 0 sepertimu, Tuan Muda Jeon."

.

.

.

Taehyung, lelaki bertubuh tinggi ramping dengan pasang mata yang sewarna dengan rambutnya - hazel- sedang berjalan melewati kerumunan mahasiswi yang tengah bergerumul di halaman kampusnya. Ia mendekat dan mendengar samar-samar suara orang yang dikenalnya. Lelaki itu bersimpuh sembari memberikan setangkai mawar merah ke hadapan gadis mungil yang diketahui adalah seniornya di sana. Taehyung termangu. Mata dan jemarinya bergerak gelisah. Ia tahu hari ini akan terjadi, hari di mana rencana Jeongguk untuk menembak seorang gadis bernama Lee Jieun.

" Jangan..."

Lirih sekali suaranya. Hatinya seperti teriris penuh luka. Ia sudah lama sekali menyukai, tidak, lebih tepatnya mencintai lelaki dengan nilai kepekaan 0 itu. Entah bagaimana bisa seorang penerus perusahaan besar kelak bisa tidak peka sama sekali. Bisa jadi apa nanti perusahaannya?

Baiklah. Kembali kepada Taehyung. Ia masih meremat sisi tas gitar yang sedari tadi dijinjingnya. Dengan perlahan ia mundur dan menjauh dari kerumunan. Hatinya terluka. Ia hanya butuh waktu sendiri saat ini.

"Dasar kau bodoh."

"Siapa yang bodoh? Aku?"

Taehyung terkesiap. Ia lantas menoleh.

" Ah, sunbae! Maaf, rutukan tadi bukan untukmu."

"Lalu untukmu?"

Taehyung mengusap lehernya sembari tersenyum paksa. Orang yang dipanggil senior pun memandangi air wajahnya lalu menoleh memperhatikan Jeongguk yang ada di tengah kerumunan.

"Temanmu sedang menyatakan cinta dan baru saja diterima. Kau bagaimana?"

Deg.

"Bagaimana apanya, sunbae?"

"Ya, maksudku, temanmu sudah punya kekasih di tahun pertamanya. Apa kau tak merasa kalah darinya?"

Taehyung menimang. Kenapa seniornya berbelit begini bicaranya? Biasanya ia hanya akan berbicara bila ada urusan penting saja dengannya. Agak aneh.

"Aku tidak nyaman berdiri begini, sunbae..."

Senior itu menyadari kalau Taehyung sedang membawa gitar dan beberapa buku di tasnya.

" Ah, pasti berat. Biar kubawa tasmu. Kemarikan."

Taehyung membuat gerakan yang berarti ' tidak usah'. Ia tak enak hati, sebenarnya ia hanya butuh duduk karena kakinya mendadak lemas setelah melihat Jeongguk kini sudah berpacaran dengan gadis itu.

Sesampainya di bangku taman sisi gedung A, mereka duduk berdampingan. Taehyung meletakkan tas dan gitarnya di sisi kiri tubuhnya.

"Jadi?"

" Ah, sebenarnya sunbae ada perlu apa mengajakku bicara? Apa ada job lagi untukku?"

"Wajahmu sudah ceria lagi saja, Tae. Sebetulnya, ya, aku ada job lagi untukmu. Apa kau bisa datang lusa sore?"

"Sendiri atau bagaimana? Dan lokasinya?"

"Tergantung. Kau mau jalan sendiri seperti biasa atau mau kujemput?"

Taehyung menimang. Iya sedang tak punya banyak uang tersisa, tapi kalau menumpang pun ia tak enak hati. Taehyung memang begini dari dulu.

"Sepertinya tidak kali ini sunbae. Tolong kirimkan lokasinya besok."

"Baiklah. Oh, pastikan kau dalam kondisi baik, Tae."

.

.

.

Acara kemarin berjalan mulus. Taehyung sekali lagi mampu membuat pengunjung cafe itu terpukau akan kemampuannya bermain gitar dan yang terpenting suaranya. Lantunan suara beratnya yang mendayu mampu menarik perhatian orang dan membuat mereka ikut menyelami lagu yang dinyanyikannya. Sungguh pembawaan diri yang baik sekali bak seorang profesional.

"Taetae hyung, kemana saja kau? Hei, apa kau melamun? Kebiasaan."

"Aku tidak. Kudengar kau sukses dengan rencanamu kemarin?"

Jeongguk duduk di hadapan Taehyung yang sedang memasukkan roti melon ke mulutnya.

"Ya, syukurlah sehari sebelumnya aku berkonsultasi padamu hyung. Kau memang jimatku."

"Berlebihan, haha. Syukurlah... Kalau begitu aku tak akan mendengarmu berceloteh tentang Jieun sunbae lagi. Jadi, telingaku akan aman untuk beberapa waktu ke depan."

"Dasar. Jahat sekali kau. Kalau begitu aku pergi ya, hyung. Nuna sudah menungguku di ujung sana. Annyeong!"

Ah, annyeong.. Taehyung jadi ingat bagaimana pertemuan mereka dulu. Semester 1 bangku kuliah, ia melihat seorang remaja sedang di bully di ujung gang. Anak adam ber- name- tag Jeon Jeongguk yang sering dielukan tuan muda oleh tiga pembuli di depannya.

Taehyung maju dan berusaha melerai. Bagaimanapun juga, meski mereka masih sma, tenaga mereka adalah tenaga laki-laki yang mana kuat. Alih-alih melerai dan mengakhiri acara bully itu dengan damai, salah satu pembully itu malah menendang tulang kering Taehyung. Rasanya tidak perlu ditanya. Sakit!

Taehyung menarik napas, ia menepuk celana bahannya yang kotor karena ditendang. Lantas setelahnya ia menatap nyalang ke aras tiga pembully itu bergantian dan mendekatinya. Dengan wajah penuh rasa kesal, ia menjewer telinga yang memukul kakinya tadi dengan amat keras sampai pembully itu meringis kedakitan dan meminta dilepas.

"Apa? Kalian berdua juga mau kujewer begini? Cepat minta maaf pada teman kalian yang di sana itu!"

Taehyung melihat mereka berdua meminta maaf pada remaja yang sedari awal hanya menundukkan kepalanya saja. Sedangkan masalahnya di sini, si pembully kurang ajar yang telah menendang tulang keringnya. Ia juga harus meminta maaf dengan tulus.

" Hah, selesai. Dasar anak jaman sekarang. Lihat yang lemah sedikit main bully- hei, kau, apa mereka melukaimu? Coba biar kulihat-"

Taehyung tergugu. Ia melihat wajah remaja yang ditolongnya itu kepalang tampan. Ah, apa ia akan dikira pedofil kalau memuji anak itu tampan? Apa anak itu akan mengira ia psikopat?

" Hyung tampan sekali... Terimakasih sudah menolongku, tapi sesungguhnya aku tak butuh bantuanmu. Karena ada alasan kenapa aku tak melawan. Ah, namaku Jeon Jeongguk, dan hyung?"

" Ah, aku Kim Taehyung."

"Baiklah. Boleh aku memanggilmu hyung?"

Taehyung mengangguk, sepintas ia melihat remaja itu tersenyum kecil dengan gigi kelinci khasnya.

Taehyung kembali. Ia tersenyum mengingat kejadian kala itu. Jeongguk yang masih polos dan selalu mengekorinya kemana-mana, Jeongguk yang tanpa sadar telah ia cintai sedemikian dalam, kini sudah memiliki kekasih, sudah semakin jauh dari genggamannya.

" Nah, setiap aku menemukanmu, kau selalu dalam mode galaumu."

Taehyung terkejut bukan main.

"Dan setiap itu juga, jantungku selalu berusaha untuk tidak berhenti berdetak."

Taehyung mengusap dadanya. Si senior malah hanya tertawa ringan.

"Kau itu lucu. Memang kau ini senang memikirkan apa sih sampai wajahmu kusut begitu?"

"Kau meledekku? Aku bukan orang yang tidak ada kerjaan sepertimu, Gyu sunbae. Langsung ke inti saja. Job untukku lagi? Di mana?"

" Hm, bukan. Aku murni hanya mampir karena kau tampak melamun lagi entah untuk yang ke berapa kali hari ini. Benar tebakanku?"

Taehyung mendesah. Ia memang tak pernah bisa lepas dari orang yang kepalang peka ini. Ya ampun. Jadi susah sendiri menyembunyikannya, kan?

.

.

.

Bila Beomgyu itu manusia super peka, beda hal dengan Jeongguk. Seperti yang sudah dijelaskan, Jeongguk ini manusia dengan nilai kepekaan 0. Kenapa? Sudah jelas bukan? Saat pertemuan pertamanya dengan Taehyung ia selalu mengekorinya kemana-mana bahkan sampai nekat masuk ke universitas dan fakultas yang sama. Demi apa? Hanya agar ia bisa bersama dengan hyung tampan yang selalu dielukannya dulu. Tapi, ia rupanya punya indra perasa yang tumpul. Ia tidak bisa menyadari perubahan sikap Taehyung sama sekali. Ia tak tahu bahwa pandangan itu telah berubah entah sejak kapan. Untuknya, Taehyung akan selalu berjuang agar terlihat beda dari apa yang selama ini Jeongguk lihat dan rasa.

Satu petik, dua petik, 3 petik ... Taehyung memetik senar gitarnya dan menciptakan alunan nada yang sungguh enak didengar. Belah bibirnya terbuka dan mulai melantunkan lagu. Itu lagu yang sama. Taehyung tak tahu kenapa ia selalu menyanyikan lagu itu disetiap ada kesempatan. Ia hanya merasa lagu itu punya kemiripan kisah dengannya meski tak semua liriknya mewakili perasaan rapuhnya.

Taehyung menyamankan pola duduknya dan mulai bernyanyi kembali. Matanya tertutup, jemarinya dengan lincah memetik senar. Kalau kalian bisa membayangkan, ia tampak bersinar sekali saat ini. Bagaimana bisa seorang mahasiswa tingkat 3 dengan jurusan yang sama sekali tak ada kaitannya dengan musik seakan pelakon profesional di bidang musik itu sendiri. Suaranya yang menghanyutkan, pembawaannya yang begitu apik, serta curahan hati di tiap nada dan kalimatnya. Belum lagi balutan penampilan yang memesona itu. Sudah, paket lengkap!

Taehyung merapatkan kedua bibirnya dan perlahan membuka matanya. Ia terlalu menghayati sampai tak sadar kalau sudah ada seniornya yang lain di hadapannya dan beberapa orang yang tak ia kenal sebagian.

" Skill-mu semakin baik, Taehyungie..."

Taehyung seperti biasa, mengusap lehernya sembaru tersenyum kecil, ia gugup.

"Terimakasih pujiannya, sunbae- dan yang lain juga, terimakasih..."

"Taehyung, kau ada acara sehabis ini?"

" Ah, aku tidak bisa sunbae, aku harus latihan untuk melatih skill-ku lagi."

Taehyung memandang ke beberapa arah, penonton dadakannya sudah mulai bubar dari sana.

"Ibu ingin sekali bertemu denganmu. Sudah lama sejak saat itu-"

"Hyeon sunbae, aku sudah memberi pengertian pada ibumu. Beliau pun menghargai keputusan itu."

Joohyeon membantu Taehyung memasukkan gitar ke dalam sarungnya.

"Aku tau, tapi kau tetap menjadi harapannya Tae, ibu suka sekali kalau kau menjadi menantunya. Jadi, ia terus saja menanyaimu. Datanglah kapan-kapan ke rumah, ya?"

" Ah, baiklah. Aku akan main dan mengunjungi ibumu saat aku ada waktu-"

Taehyung menoleh menatap Joohyeon yang menuntut kepastian dari tatapannya itu.

"-aku janji, Bae..."

.

Jeongguk berjalan ke sisi gedung A. Ia melihat Taehyung dengan mantan kekasihnya sedang berbincang. Entah apa yang diperbincangkan, Jeongguk tak bisa mendengar dengan jelas. Saat ia melihat senior Bae itu menjauh, ia datang menghampiri Taehyung. Berusaha untuk mengagetkan tapi gagal.

"Ada apa Jeon?"

"Kau tidak seru, hyung! Aku melihat Bae nuna tadi. Kalian membicarakan hal apa?"

"Tidak penting, kau tak perlu tahu."

"Cetusmu tak hilang-hilang dari dulu. Menakutkan, tahu?"

Taehyung menghela napas dan memberikan paksa gitar yang tadi akan dibawanya ke arah Jeongguk. Mau tak mau ia yang kini membawa gitar itu.

"Ada apa kau mencariku?"

"Hanya kebetulan lewat dan tak sengaja melihat dirimu."

"Tipikal dirimu sekali, Tuan Muda Jeon."

Alis yang lebih muda menukik tanda tak suka.

"Aku tak suka dipanggil begitu, kau tahu 'kan, hyung?"

"Tahu dan bahkan aku berjuta kali lebih paham tentangmu daripada dirimu sendiri."

"Benar. Tak salah aku mengekorimu dari dulu hyung."

"Kau tak salah, tapi aku yang salah karena sudah membuka pintu berjudul pertemanan denganmu, Jeon."

Jeongguk terdiam. Ia menepuk bahu Taehyung, berpikir bahwasanya itu hanyalah bualan belaka. Dengan tawa dan gigi kelinci khasnya, ia berkata, "Kalau yang kau maksud itu pintu cinta, baru betul hyung. Haha."

Bullshit!

Taehyung terperanjat. Beberapa kali juniornya ini memang sering menyerempetkan kata cinta disetiap kesempatan. Tak sadar atau bagaimana sih kalau Taehyung menjadi berkeringat dingin setelah mendengarnya? Hatinya bahkan berdebar lebih cepat dari biasanya. Takut ketahuan? Pasti. Tapi, bukannya itu jauh lebih baik?

" Hyung, kau mau jujur padaku untuk satu hal? Aku janji akan mendengarkan kegundahanmu kali ini."

"Maksudmu? Aku tak punya unek-unek khusus pada sesuatu."

Hati-hati sekali ucapannya itu. Taehyung memang pandai menyembunyikan perasaannya lewat kata-kata. Tapi jangan lupakan, body language itu lebih berperan penting di sini.

"Kau yakin? Baiklah. Tapi, karena aku baik, tawaranku akan selalu berlaku kapanpun untukmu, hyung- Nah, berhubung sudah sampai, boleh aku duduk di sampingmu?"

Taehyung mendesah dan mengambil alih gitarnya. "Terimakasih, tapi kau bukan mahasiswa di tahun ini, Jeon."

"Dosen tidak akan menghapal seluruh mahasiswanya, Kim. Jadi, tenanglah sedikit."

Sebenarnya bukan itu. Taehyung hanya tak mau Jeongguk mengganggu konsentrasinya. Karena apa? Wajah itu sedari tadi hanya sibuk memperhatikan Taehyung yang berusaha seribu kali untuk fokus namun gagal. Matanya melirik ke kiri, ke arah Jeongguk, dan tak sedikit juga peluh bercucuran karena gugup seolah atmosfer nya berubah menjadi panas.

"Ya ampun, hyung tampanku berkeringat di ruang sedingin ini. Bagaimana bisa?"

Punggung tangan Jeongguk menyeka keringat yang turun dari pelipis Taehyung. Bayangkan reaksi Taehyung saat ini. Tentu saja diam tak bergerak bagai patung porselain. Sedetik kemudian ia mengangkat tangannya dan berdiri.

" Sir, saya tak enak badan hari ini. Bisakah saya izin?"

Dosen itu pun mengangguk dan memberi izin agar Taehyung bisa meninggalkan kelas. Namun, saat ia melihat Jeongguk ikut keluar, dosen itu melarang dan dengan entengnya Jeongguk berkata, "Sejujurnya saya bukan mahasiswa di tingkat ini, jeosonghamnida."

.

.

.

Taehyung membuka matanya. " Ugh, berat sekali...," keluhnya lirih. Ia meraba kepalanya yang terasa pening bukan main. Sepertinya migrainnya kambuh. Duh, merepotkan.

Dering ponsel memecah keheningan kala itu. Taehyung mencoba meraih ponselnya yang ada di sisi kiri tubuhnya. Ia melirik sedikit untuk mengetahui siapa si penelepon itu.

Jeongguk.

" Moshi- moshi?"

" Hyung, kau tidak ada kelas hari ini?"

Dengan suara serak khas orang sakit, Taehyung menjawab, " Ah, aku akan izin hari ini karena sedang tak enak badan."

"Sudah kuduga kausakit, kau di rumah? Sudah sarapan?"

Taehyung mengernyit, ia mendengar ada suara penuh kekhawatiran di sana.

"Aku akan belikan bubur untukmu. Tunggu aku ya."

Baru saja Taehyung ingin menyela, teleponnya malah sudah mati begitu saja. Hah, si keras kepala itu pasti tak akan mau mendengarkannya. Percuma juga meneleponnya kembali.

Selang satu jam, Jeongguk sudah ada di depan pintu apartemen Taehyung. Tangannya menjinjing dua 3 kotak yang berisi makanan dan satu bingkisan lain berisi buah Anggur hijau kesukaan Taehyung.

Dengan langkah gontai, Taehyung menuju pintu dan membuka sedikit pintu apartemennya. Ia mempersilahkan Jeongguk masuk. Akan tetapi netranya menemukan sosok lain di sana. Itu Jieun, kekasih Jeongguk. Kenapa juga dia harus membawa kekasihnya kemari?

Pandangannya menyiratkan rasa tak suka. Ia melihat Jeongguk duduk di meja makan dan sibuk membukakan kotak berisi dimsum untuk Jieun. Sedangkan Taehyung yang sakit melakukan semuanya sendiri. Sebenarnya Jeongguk itu mau menengoknya atau hanya ingin menumpang pacaran?

Lima menit berlalu tapi telinga Taehyung sudah panas. Pasalnya Jeongguk ini sedikit-sedikit berkata " Oh, nuna, pelan-pelan makannya. Nanti bisa tersedak," atau "Ya ampun berantakan sekali," atau "Sini biar kusuapi saja," dengan tangan yang sibuk mengusap sudut bibir kekasihnya. Muak sekali rasanya.

Taehyung sudah tidak tahan. Di sini dialah yang sakit, seharusnya dia yang lebih diperhatikan. Memang dasar, Jeongguk hanya ingin memanfaatkan rumahnya untuk bermesraan.

"Maaf, sunbae, kalau sudah tidak ada urusan lagi di rumahku, kalian bisa keluar. Sejujurnya kalian mengganggu istirahatku."

Jieun mengangguk mengerti. Ia menjadi tak enak hati karena ulah Jeongguk yang memang diakuinya sangat kekanakan itu. Akhirnya ia pamit lebih dahulu sembari mendoakan Taehyung agar lekas sembuh dan berkata pada Jeongguk akan menunggu di parkiran bawah saja. Kini hanya tersisa Jeongguk dan Taehyung di sana.

"Kenapa kau masih di sini, Jeon? Keluar sana, aku ingin kembali tidur."

Kernyitan di dahi Jeongguk semakin dalam. "Kau keterlaluan hyung."

"Apa maksudmu keterlaluan?"

Jeongguk berdiri dan menatap Taehyung kesal.

"Kau mengusir nuna dengan ucapan kasarmu dan kau tidak menghargai aku yang mengkhawatirkanmu?"

"Terimakasih untuk itu, tapi tidakkah kau paham kondisinya? Sejak kapan kau jadi lebih kekanakan begini?"

"Kau yang kekanakan, hyung!"

Duh. Taehyung pusing, kepalanya berdenyut ngilu. Ia memijit pelipisnya perlahan. Jeongguk melihatnya namun tidak memperdulikan hal itu.

"Kau egois sekali Jeon, aku sedang sakit begini kau malah mengajak berdebat. Sudahlah, pergi saja sana. Aku benar-benar ingin istirahat sekarang."

"Kau yang egois. Padahal aku menaruh banyak harapan padamu hyung. Sudahlah, kau tak akan mengerti. Lebih baik aku menyusul nuna. Cepat sembuh."

Bruk. Pintu tertutup rapat. Entah kenapa hati Taehyung terasa lebih ngilu dari biasanya. Dasar kau Jeon Jeongguk. Beraninya menyakiti hati Kim Taehyung.

Belum ada 10 menit, ketukan lain datang. Taehyung menyeret kakinya lagi dan membuka pintunya sedikit.

" Ah, sunbae? Kenapa kau bisa di sini?"

"Aku dikabari Jeongguk kalau kau sakit, makanya aku ke sini untuk melihat keadaanmu."

Joohyeon melangkah masuk dan menutup pintu apartemen Taehyung. Ia meletakkan tasnya bersamaan beberapa obat yang mungkin Taehyung butuhkan saat ini.

"Tiduranlah, kau sudah makan 'kan? Kalau begitu kau harus minum obat lalu minum airnya sampai habis. Aku akan menungguimu sampai kau meminum obatmu, Tae."

"Tak perlu repot begitu, aku pasti akan meminumnya, sunbae-"

Joohyeon mendesah. Ia tak suka dipanggil sunbae terus menerus.

"Panggil namaku saja, Tae. Aku tak suka kau panggil sunbae. Boleh?"

Kali ini Taehyung yang mendesah. Ia tak suka gadis didepannya ini selalu mempermasalahkan hal yang sepele.

"Aku masih menghormatimu, maka dari itu aku masih memanggilmu sunbae, Joohyeon."

"Tapi Joohyeon saja jauh lebih baik. Aku menyukainya," ucap Joohyeon yang perlahan duduk di sisi kiri kasur milik Taehyung. Ia mengulurkan 2 obat untuk Taehyung, aergotamin dan dexamethasone.

"Terimakasih, tapi aku yang tidak suka, sunbae. Itu mengingatkanku akan kisah kita dulu sekali."

Taehyung memasukkan obat itu ke mulutnya dan meraih gelas yang digenggam Joohyeon, menelannya dengan sekali tegukan saja. Joohyeon senang Taehyung meminum obatnya. Ia berharap lelaki dihadapannya itu cepat sembuh.

"Ya, itu salahku. Mungkin kalau aku tak selingkuh darimu kita tak akan berakhir sejauh ini, Tae. Maafkan aku, aku menyakitimu."

Dengan seulas senyum, gurat penyesalan muncul di wajah cantiknya. Ia menggenggam dan membelai punggung tangan Taehyung dengan sayang. Ya, gadis itu masih amat mencintai Taehyung.

"Tidak apa, sunbae. Itu sudah berlalu. Aku sudah tidak marah ataupun kecewa padamu. Yang sudah terjadi biarlah berlalu. Kau juga jangan terlalu menyesalinya. Itu tak baik. Bahkan kau sampai sekurus itu. Padahal dulu saat bersamaku pipimu chubby sekali. Haha."

"Benar, ini karena terlalu memikirkanmu, Tae, pokoknya kau harus tanggung jawab!"

Pagi itu berakhir dengan tawa Taehyung dan juga Joohyeon. Ceria sekali rasanya. Taehyung bersyukur di sana ada mantannya yang sedia menghiburnya. Setidaknya, hatinya bisa sedikit melupakan Jeongguk meski sesaat.

.

.

.

Taehyung duduk termenung di halaman depan gedung A. Masih dengan tas gitar yang selalu dibawanya kemana-mana, ia berpikir. Ia sama sekali tak ada niatan untuk kembali ke pelukan Joohyeon, mantannya, tapi Jeongguk juga tidak bisa diharapkan lagi. Hubungan mereka sedikit merenggang perkara masalah minggu lalu.

Taehyung mendesah kasar, ia jadi gundah. " Ah, kepalaku jadi sakit lagi."

"Kenapa Tae?"

Taehyung menoleh ke kanan, oh, Gyu sunbae. "Tidak, kepalaku terasa sakit karena memikirkan sesuatu diluar kemampuanku, sunbae."

"Kalau begitu jangan dipikirkan."

" Hah, mudahnya sih begitu, tapi sayangnya tidak bisa. Menurut sunbae, lebih baik kembali ke masa lalu atau menggapai masa depan?"

Gyu mengernyit. Pertanyaan apa itu? " Eum, kalau aku tergantung. Aku akan memposisikan diriku di tempat aman yang nyaman dan pastinya harus membuatku merasakan bahagia."

"Begitu ya..."

"Jadi, Bae atau Jeon?"

Taehyung membola. Ia menoleh menatap tak percaya pada lelaki di sampingnya.

"Jangan memelototiku begitu. Kau bingung kenapa aku bisa tahu? Jelas saja, aku sudah mengenalmu hampir 3 tahun ini. Wajar saja 'kan? Kenapa kau kaget begitu?"

"Ke-kenapa kau bisa tahu, sunbae? Apa terlihat jelas?"

Gyu menghela napas dan megusak rambut Taehyung gemas. "Kau kira aku sebodoh itu tak bisa sadar? Hah, Jeon itu kuakui sangat bodoh, ia sama sekali tak bisa jujur dengan perasaannya, tapi kini ia sudah punya kekasih. Dan Bae itu terlalu naif juga munafik, ia menginginkanmu tapi tak mau melangkah maju untuk menggapaimu lagi. Kalian membuat pertunjukan yang apik di mataku."

" Yah, berhubung kau sudah tau, sekalian saja. Menurutmu bagaimana bila aku tak mendapat rasa aman, nyaman, dan bahagia dari salah satu pilihan itu? Bae pernah membawa luka, dan Jeon sedang membawa luka. Aku merasa aman dan nyaman bila bersama keduanya, tapi hatiku tak merasa bahagia saat ini bila berada di sisi Bae ataupun Jeon."

Hening sejenak. Gyu tampak memikirkan ucapan apa yang akan membuat Taehyung merasa puas.

"Kau tak mau mencoba dengan orang lain? Semacam mencari pelampiasan tapi beda hal. Kau harus melakukannya dengan tulus."

"Maksudnya denganmu? Jangan berbelit, sunbae."

"Aku tidak bilang begitu. Ya, siapapun yang bagimu oke."

"Tidak. Aku hanya akan merasa bersalah pada akhirnya. Biar kuselesaikan masalahku sendiri. Terimakasih sunbae atas sarannya."

.

.

.

Seminggu berlalu dengan cepat. Taehyung kini berhadapan dengan Jeongguk. Ia berdiri di kamar si pewaris tunggal itu, menanti jawaban.

Kali itu, kali pertama bagi Taehyung merasakan dadanya berdegup cepat. Bukan karena pernyataan cinta oleh orang yang disukai, melainkan beberapa bait kenyataan yang harus ia terima dan lupakan dalam waktu bersamaan.

"Jawab Jeon. Apa kau sangat mencintai Jieun sunbae?"

"Sudah jelas bukan jawabannya. Ada apa denganmu hyung?"

"Apa- apa tidak pernah sekali saja kau berpikir bahwa aku menyukaimu, Jeongguk?"

Jeon tertawa, "Tentu, kau pasti menyukaiku. Kita 'kan teman hyung."

"Bukan yang seperti itu, tapi lebih seperti pada Jieun sunbae."

Jeon termangu, "Maksudmu, cinta seperti ke lawan jenis? Kau yakin dengan perasaanmu itu?"

Taehyung mundur dua langkah. Matanya bergerak gelisah. "Lalu, apa menurutmu hubungan kita tak akan pernah menjadi seperti itu nantinya, Jeongguk?"

Taehyung melihat Jeongguk menggeleng. Itu sudah pasti. Kini ia tahu, dan hatinya seakan bungkam tanpa upaya memberontak.

"Aku pernah menyukaimu, hyung, saat kau sedang bersama Joohyeon nuna. Saat itu adalah saat di mana kita pertama kali bertemu. Aku yang menyukaimu dengan seenak hatiku mengekorimu kemana-mana. Aku tau kau memiliki kekasih, dan Bae Joohyeon nuna adalah orang yang sangat baik bahkan kepadaku."

Taehyung tertegun.

"Aku menunggumu hyung, aku ingin kau jujur dengan perasaanmu. Bahkan saat malam sebelum aku memutuskan untuk melangkah ke arah lain, aku meminta pendapatmu. Aku melihat raut wajahmu terluka, tapi kau sama sekali tak melarangku. Aku kecewa saat itu. Kau terlalu sok tangguh dan merasa aku akan bahagia dengan jalanku. Selalu begitu."

Setetes air mata luruh mengaliri pipinya. Ya, Taehyung menangis.

"Kau mungkin lupa kalau aku ada saat kau menangis, aku ada saat kau sakit, aku ada saat kau menyanyikan lagu sedih kesukaanmu itu di sisi gedung A. Tapi kau tak ada saat aku berusaha membunuh rasa ini untukmu. Hyung, aku sungguh mencintaimu dulu. Tapi kini aku sudah menyukai orang lain, orang yang berusaha ada di sisiku. Jieun nuna. Maaf hyung."

Taehyung tersenyum. Ia paham sekarang. Bukan Jeongguk yang tidak peka, tapi dirinyalah. Dengan kalimat perpisahan ia menutup pintu kamar Jeongguk dan berjalan menjauh dari kediaman itu. Ia tahu, pilihannya kini hanya satu. Sendiri. Mungkin ini akan terasa menyedihkan, tapi ia tak kehilangan apapun. Hatinya sudah lega. Joohyeon juga ada di sana menemaninya dengan tawa khasnya. Mungkin, suatu saat, hatinya akan terbuka lagi untuk Joohyeon, atau mungkin takdir akan mempertemukannya lagi dengan Jeongguk yang berbalik menyukainya lagi.

.

.

.

THE END

.

.

.

Aneh? Biar deh ah!

Terimakasih sudah baca cerita absurd ini~