Chapter II
Yang diharapkan. Tetaplah hanya sebuah harapan. Matahari dengan santainya memunculkan diri di ufuk timur. Pukul 6 pagi. Hinako Yamaguchi––Ibu Tadashi––bangun dari tempat tidurnya, seperti biasa. Ya. Seperti biasa jika saja bau manis tidak menyapa indera penciumannya. Heran. Hinako menarik nafas kembali. Pikirannya berputar, tidak ada orang lain yang memasak dirumah ini selain dirinya. Selain itu, bau yang sedang dihirupnya saat ini bukan juga bau parfum yang biasa tercium dirumah ini.
"Ahh!." Hinako terperanjak, dengan segera membangunkan suaminya yang masih pulas tidur disampingnya. "Anata!"
Suaminya, Ashino Yamaguchi––Ayah Tadasi––mengerang. Tidak biasanya isitrinya itu membangunkannya dengan tidak sabaran. "Anata...!." Lagi, kali ini dengan nada rengekan yang memaksa. Ashino terpaksa membuka matanya yang masih sedikit mengantuk. "Apa?." Gusarnya. Hinako mendengus.
"Coba kau tarik nafas." Perintahnya. Ashino menaikkan alisnya, tubuhnya masih lengket dengan tempat tidur tapi matanya menatap Hinako dengan tatapan, 'kau gila?'
Lagi, Hinako mendengus. "Coba saja!." Kali ini dengan nada kesal. Melihat gerak gerik istrinya yang akan turun dari tempat tidur Ashino pun bangun, mengikuti perintah istrinya.
Bau manis menyapa indera penciumannya. "Oh." Ujarnya dengan tersenyum. "Kau buat masakan baru?." Tanyanya dengan semangat, lagi––Ashino menarik nafas. "Tapi bukankah baunya sedikit terlalu wangi?." Tanyanya heran.
Hinako menatapnya datar. Well––raut mukanya memang datar tapi matanya menatap seolah-olah ingin mencincang laki-laki dihadapannya itu. "Anata...!" Geramnya, "Bukankah ini mirip bau omega yang mengalami Heat ?."
Ashino lagi-lagi mengerutkan dahi––berpikir mengingat, bukankah dirumahnya tidak ada omega. "Tap..." Teringat sesuatu, Ashino langsung lompat dari tempat tidur––mulutnya mengeluarkan kata 'Tadashi!'.
-Wisteria-
Detum tangga kayu yang digunakan suami istri itu untuk menuju kamar anaknya membuat Tadashi yang setengah bangun membuka matanya. Suara bisik-bisik ayah dan ibunya yang ada didepan pintu membuat Tadashi tersenyum kecil. Keributan kecil saling suruh untuk mengetuk pintu menjadi bahasan yang seolah-olah sangat berat tanggung jawabnya.
Belum sempat diskusi itu selesai, Tadashi mengeluarkan suara. Percobaan pertama gagal––suara serak yang menahan suaranya keluar membuat dia berdehem dengan mulut tertutup––berusaha menormalkan dengan bunyi sekecil mungkin.
"Ma." Tadashi menghembuskan nafas lega, kali ini suaranya kedengaran normal. Keributan didepan pintu berhenti sesaat.
"Bisa panggilkan aku dokter?." Ucap Tadashi pelan. Detik selanjutnya gemuruh suara langkah kaki yang menuruni tangga didengar indera pendengarannya. Tadashi terkekeh. Membayangkan ayahnya yang turun dengan cepat seolah dikejar zombie. Bayangannya pudar ketika ibunya bertanya, "Tadashi, ayahmu akan segera membawakan dokter." Jeda. "Mau disiapkan sup hangat?." Gumaman kecil tanda mengiyakan dikeluarkan Tadashi. Hinako yang mendengarnya segera turun, bersiap membuat sup dan beberapa makanan pendamping lainnya.
Saat turun Hinako tak langsung menuju kedapur. Kakinya melangkah ke ruang tamu dimana telefon rumah berada, Memencet beberapa nomor, Hinako kemudian menempelkan gagang telefon ketelinganya.
Bunyi telefon yang menyambungkan dengan nomor yang dituju terdengar, terbukti tersambung ketika sebuah suara mengantuk terdengar di ujung sana menyapa "Halo?."
Hinako membalas, mengeratkan pegangan digagang telefonnya kembali. "Ano Sakura-sensei. Ini Hinako Yamaguchi, ibu dari Tadashi Yamaguchi." Deheman terdengar disambung dengan kata "Ah Yamaguchi-san, ada yang bisa saya bantu?." Dalam otaknya Hinako bisa membayangkan guru wali Tadashi––Sakura Mato––yang menengok jam dinding untuk mengira-ngira hal urgent apa yang membuat ibu Tadashi menelfonnya pagi-pagi sekali.
"Um." Angguk Hinako. "Saya ingin meminta izin untuk Tadashi karena dia umm." Hinako menggigit bibirnya. "Tengah mengalami heat...?." membuat kata-katanya berakhir dengan nada yang aneh.
Diam. Sakura diujung sana diam, memproses kata-kata yang baru saja masuk indera pendengarannya. Sebelum akhirnya. "Ah! Baik. Saya mengerti." Ucapnya.
Hinako menghembuskan nafas. "Terimakasih sensei, untuk surat izin orang tua dan surat dokter akan saya titipkan melalui Kei Tsukishima." Ucap Hinako, mendengarkan balasan diujung sana lalu mengatakan terimakasih sekali lagi sebelum akhirnya menutup telefon. Hinako menghembuskan nafas keras.
Tak pernah terpikirkan oleh Hinako bahwa anak bungsunya akan mendapat gender sebagai omega. Apalagi sewaktu Hamiya Yamaguchi––kakak perempuan Tadashi–– mendapat label beta setelah tes hormonal membuat mereka yakin jika anak bungsunya juga akan berakhir sama. Bagaimanapun mereka berdua lahir dari keluarga beta. Sehingga secara genetik beta adalah jawaban yang tepat bukan?
Hinako mendengus, mengingat-ingat kembali kata-kata anaknya yang beberapa kali bertanya apakah dia bau?. Bodohnya dia dan suaminya yang justru malah bersikap masa bodoh dengan kekhawatiran anaknya itu.
-Wisteria-
Satu jam kemudian, Tadashi duduk didalam kamarnya, sendiri. Ah tidak. Karena sekarang seorang wanita tengah berdiri dihadapannya. Tersenyum, wanita tersebut mengenalkan diri sebagai Diana Kouki––seorang omega––dengan senyum pula ia mengatakan bahwa dirinya adalah dokter yang akan memeriksanya untuk beberapa hari kedepan selama heat.
Tadashi tersenyum. Tak beranjak dari kasur Ia membungkukkan tubuhnya. Membalas salam dari wanita itu dengan sopan. Diana tak mempermasalahkan, tahu betul bagaimana lelahnya ketika tubuh mengalami heat.
"Ku dengar kau belum pernah melakukan tes hormonal?." Buka Diana. Tadashi menggigit bagian dalam bibir bawahnya, memaksakan menarik otot-otot wajah yang akhirnya membentuk senyum tipis lurus dibibirnya. Menjawab 'iya' dengan pelan.
Diana mengangguk mendengar jawaban anak laki-laki dihadapannya. Tangannya mengeluarkan jarum suntik dari dalam tas hitam hardcase miliknya.
"Kalau begitu aku akan mengambil sampel darahmu terlebih dahulu." Tadashi mengangguk. Mengernyit kala jarum suntik mulai menembus epidemis kulit hingga pembuluh vena miliknya. Menghembuskan nafas––yang Tadashi saja tidak sadar sejak kapan Ia tahan––ketika jarum suntik itu diangkat menunjukkan liquid merah di tubuh suntikan tersebut.
Ia masih mengamati hingga suntikan itu dimasukkan dalam kotak khusus yang mengepulkan putih. 'Itu pendingin?.' Otaknya bertanya.
"Untuk resep obat sementara aku hanya akan memberi suppressant dengan dosis rendah. Suppresant untuk menghilangkan matescent dan suppressant untuk mengurangi heat symptont dari keinginan melakukan mating. Terkait hal lain seperti suppressant untuk menunda heat baru bisa kuputuskan setelah hasil lab hormonmu keluar."
Diana diam. Sengaja memberi jeda. Andai-andai omega didepannya itu ingin menanyakan sesuatu. Melihatnya diam saja, Diana melanjutkan.
"Ada pertanyaan?." Tanyanya.
Mendapati pertanyaan itu, Tadashi gusar. Jelas dia memiliki pertanyaan. Banyak malah. Saking banyaknya, Ia sampai bingung ingin bertanya yang mana lebih dahulu.
"Um." Tadashi menutup mulutnya kembali.
"Apa ada suppressant untuk menghentikan heat." Lanjutnya.
Diana mengernyit. Bukan pertanyaan yang jarang diutarakan oleh pasiennya namun tetap saja dia masih kurang mengerti dengan logic 'yang telah terjadi dapat dihentikan begitu saja'.
Diana menghembuskan nafas pelan. "Well––." Diana menatap Tadashi. "Kalau itu yang ingin kau ketahui, maka sayang sekali aku haru memberi kabar buruk."
Dari jawaban itu Tadashi mengerti. Kata 'o' bahkan sudah terluncur dari mulutnya.
"Obat seperti itu, tentu tidak akan pernah diproduksi." Jeda
"Terlalu berbahaya untuk kesehatan hormon dan tubuh dari omega itu sendiri." Tadashi menunduk. "Ah begitu." Ucapnya.
"Namun, jika kau suatu saat terdapat event atau suatu kegiatan yang tidak bisa ditunda maka kita bisa memberi suppressant untuk menunda heat. Kau bisa menghubungiku atau rumah sakit lain untuk diperiksa terlebih dahulu agar bisa mendapatkan resep dokter untuk membeli suppressant itu." lagi-lagi Tadashi hanya membalas dengan jawab 'ah begitu' dan mengakhirinya dengan senyum tipis.
"Well." Diana beranjak dari tempat duduknya. "sepertinya untuk hari ini hanya seperti saja." Diana membuka tasnya kembali.
"Ini suppressant untuk menghilangkan matescent tapi jika kau hanya akan berada dirumah saja aku sarankan tidak perlu digunakan, kecuali jika keluargamu terdapat alpha didalamnya maka kau bisa menggunakannya. Tapi obat ini tidak akan terlalu cukup berefek jika omega itu tengah mengalami heat." Diana menatap sekilas pada Tadashi.
"Gunakan setiap hari, terutama jika kau mendekati tanggal heat." Tadashi mengangguk.
"Lalu, ini suppresant untuk mengurangi heat symptont."
"Hanya digunakan saat kau mengalami heat. Obat ini termasuk obat keras, jadi aku hanya akan memberikan jumlah tablet sesuai dengan hari heat saja."
"Kau bisa menelfon layanan rumah sakit, jika ternyata heat terjadi jauh lebih lama dari perkiraan. Jadi kau tak perlu datang secara langsung ke rumah sakit" Tadashi mengangguk. Menerima obat yang kini berada digenggamannya.
Diana tak beranjak dari tempatnya berdiri. Masih menatap remaja laki-laki itu. "A––" suaranya kecil. Pelan malah. Diana tentu akan langsung pergi jika saja ia tak melihat gerak-gerik Tadashi yang gusar.
"Ada yang ingin kau ketahui lagi?." Diana mengalah, membuat Tadashi mengalihkan pandangannya menatap Diana.
"Emm..." Tadashi mengalihkan pandangan. Bertatapan dengan Diana justru membuat dia semakin gusar untuk menanyakan sesuatu.
"A-A." Melihat lawan bicaranya yang mendadak gagap Diana mengambil duduk.
"Ada hal yang ingin aku rahasiakan?." Tadashi terperanjak. Cukup menjadi bukti bagi Diana.
"Oke. Aku tidak akan mengatakannya pada orang tuamu." Diana menjawab.
Mendapat jawaban itu, Tadashi semakin bingung. Tiba-tiba merasa bahwa membicarakan masalah ini kepada orang lain adalah suatu kesalahan. "Tidak apa. Kau bisa membicarakannya padaku."
"Um... sebenarnya." Lagi. Tadashi mengalihkan matanya ke arah lain.
"Apa ada alpha yang menyerangmu saat heat terjadi?."
Sunyi. Hanya tik-tak jam dinding yang menyelimuti percakapan itu.
"Ah aku mengerti." Diana membuka tasnya kembali. Mengeluarkan beberapa pil obat. "Kau bisa menggunakan ini."
"Sebenarnya kefektifan obat ini jika digunakan setelah mating akan sedikit berkurang. Tapi jika dalam case seperti ini bisa dicoba." Tadashi menerima dengan ragu.
Sekali lagi diam menyelimuti dua insan didalam kamar itu. Diana sebenarnya ingin diam saja, menunggu anak tersebut memecah kesunyian terlebih dahulu. Tapi, melihat kegelisahan yang menyelimuti anak itu membuat lagi-lagi dirinya memaksa kesenyian terlebih dahulu.
"Aku bisa memeriksamu lebih lanjut." Tadashi menatap Diana.
"Tapi untuk mendapatkan hasil lebih valid jelas kita membutuhkan beberapa peralatan di rumah sakit atau tempat praktek pribadi."
"Namun secara biologis, seorang omega laki-laki baru mengembangkan rahimnya saat heat pertama terjadi. Jadi, bisa dikatakan prosentase kehamilan untuk omega laki-laki pada heat pertama bisa dikatakan akan gagal."
"Berbeda dengan omega perempuan, omega laki-laki lebih sulit untuk dibuahi kecuali dia dominant."
"Ada beberapa gejala awal untuk seorang omega yang mengalami kehamilan. Salah satunya adalah keinginan untuk melakukan nest. Jika nest terjadi ada kemungkinan kau mengalami kehamilan." Tadashi menegang saat mendengar kata terakhir.
"Tapi nest juga bisa terjadi karena rasa nyaman yang tercipta diantara hubungan alpha dan omega." Diana menepuk pundak Tadashi.
"Kau bisa berkonsultasi padaku nanti. Jadi jangan menjadikannya beban. Oke." Tadashi mengangguk, bukan perkataan menggebu-gebu yang menggugah jiwa. Namun, mendengar seseorang ada disampingnya untuk membantu dirinya Tadashi merasa dirinya bisa meletinya. Oleh karena itulah, dia kemudian sekali lagi memberi ucapan terimakasih.
Begitu eksistensi Diana pergi dari kamarnya, Tadashi menatap obat-obatan yang ada ditangannya. Seumur hidup dia akan ditemani oleh pil-pil tersebut. "Hah..." Menghembuskan nafas tadashi menjatuhkan dirinya ke atas kasur, berniat menidurkan tubuhnya kembali jika saja Ia tak mendengar suara ibunya yang mengetuk pintu. "Lelah?." Tadashi menggeleng. Symptont dalam tubuhnya tak seburuk yang orang lain katakan.
"Makanlah ini." Hinako meletakkan nampan berisi bubur diatas laci––samping tempat tidur Tadashi. "Selesai makan jangan lupa minum obat yang diberikan sensei." Hinako menangkup wajah Tadashi. Dilihatnya wajah putra bungsunya yang jauh berbeda dengan hari sebelumnya. Pucat menjadi gambaran yang tepat untuknya saat ini. Tadashi membalas dengan senyuman kecil, berharap mengurangi kekhawatiran ibunya.
"Untuk surat izin juga sudah ibu titipkan ke Kei." Menegang. Mendadak seluruh sendi tubuh Tadashi menjadi kaku. "Ah... um." Sahut Tadashi.
Ibunya mengernyit sebelum akhirnya mengeluarkan kekehan kecil. "Tak apa, ibu sudah jelaskan tadi." Tadashi mengangguk.
"Tidurlah lagi sehabis makan."
"Istirahat yang banyak." Tutup Hinako setelah mengusak rambut putranya dan meninggalkan ruangan. Tadashi menjatuhkan tubuhnya sekali lagi.
'Tadashi bakka.' Ucapnya pelan.
