Chapter III
Wah dah lama banget sih ini :") but deep in my heart actually aku juga gak mau nelantarin cerita ini haha.
So! here the chapter 3
Dalam ruang seukuran 4x4 itu, suara detik jam terasa sangat nyaring. Tik-tak-tik-tak. Kei mengerjapkan matanya, menatap jendela yang sengaja tak ditutup gordennya. Menatap suasana temaram yang menyelimuti bumi sebelum surya menaiki tahtanya. Tak beranjak dari tempat tidur hingga beberapa menit kedepan sebelum lamunannya pecah karena alarm yang selalu dipasang dalam handphone-nya. Mematikan sembari beranjak, Kei menuju jendela kamarnya. Menatap rumah diseberang sana, rumah dengan desain sama namun sangat ia hafal suasana didalamnya. Matanya beralih pada salah satu jendela dirumah itu, satu hal yang sama, ruangan yang temaram. Kei mengalihkan mata pada jam dinding diruangannya. Pukul 5.30. Menghela nafas ia beralih ke tempat tidurnya.
'Sudah berapa hari ini?.' Pikirnya.
'Seminggu?.'
'Ah tidak.' Kei menggelengkan kepalanya. Meraih ponsel yang ada diatas lemari laci samping tempat tidurnya. "Sepuluh hari." Gumamnya pelan, sembari meletakkan ponselnya kembali.
Perasaan gelisah yang membungkus hatinya selama sepekan terakhir seolah tak ada habisnya mengerogoti. Apakah ia merasa bersalah? Kei tak tahu. Hal yang justru ia takuti saat ini adalah bagaimana jika Tadashi tak mau berkawan dengannya lagi.
Kei tak pernah sadar, ia pikir dirinya telah terbiasa dengan kesendirian yang telah ia pilih. Menjadi lone wolf adalah hal yang keren kan? Pikirnya waktu kecil. Pikiran yang akhirnya menjadikan dirinya sebagai anak yang penyendiri.
Hanya saja hal itu tak membuat ia menjadi korban bully atau hal-hal menyedihkan lainnya. Hal yang berkebalikan justru terjadi, ia masih menjadi idola para anak-anak perempuan, menjadi murid kesayangan guru dan bahkan menjadi ace dalam klub volly. Everything was great even with his nasty behavior. Katakan saja ia sombong. Kei tak peduli.
Sehingga ketika Kei sengaja mengambil jalan pintas setelah seorang anak perempuan dari kelas sebelah memberikannya surat cinta dibelakang sekolah, dan mendapati matanya menangkap aksi pembully-an Kei sendiri tak ingin ikut campur. Tapi ketika salah satu anak memandangnya dengan sinis dan mengatainya 'si mata empat', Kei membalas.
Dengan senyum mengjengkelkan yang dipasang dimukanya ia berkata, "Menyedihkan sekali." Ucapnya diakhiri dengan senyum miring ketika mendapati reaksi yang telah dia duga.
Salah satu anak dengan sumpah serapahnya langsung lari menerjang dengan tangan terkepal, kaki panjang menyelamatkan dirinya. Kei dengan mudah menggeser dirinya sebelum tangan itu menyentuh wajah mulusnya, menyebabkan anak tersebut jatuh tersungkur saat kakinya menyandung kaki milik Kei yang dijulurkan dengan sengaja.
Air mata terbentuk di ujung mata anak yang menyerang Kei. Namun, ia berdiri kembali. Hendak menyerang, rasa sakit menyandra kaki. Anak tersebut terjatuh, lututnya berdarah. Kaca mulai terbentuk dimatanya dan diakhiri dengan sebuah senggukan.
"Pecundang."
Kei mengalihkan perhatiannya ke dua anak lainnya. Dilihatnya salah satu anak masih menarik rambut sewarna hijau-abu. Kei berdecak. Pemilik rambut hanya menutup matanya, kesakitan dan memegang lengan anak yang menarik rambutnya.
Entah bagaimana namun ia merasa marah saat itu. Tak habis pikir ia bahkan melemparkan tas miliknya layaknya bola volly, dan–gotcha
Tas itu tepat mengenai anak yang memegang rambut bocah omega. Membuatnya langsung melepaskan objek yang dipegangnya. Kei maju mendekati dua bocah tersebut. Mengeluarkan aura intimidasi. Seolah itu adalah reaksi natural, dua bocah itu bergetar. Mereka tak tahu kenapa, tapi tubuh mereka bergetar. Rasa takut menyelimuti keduanya. Mendadak mulut mereka kaku. Sehingga yang mereka lakukan kemudian hanya lari. Lari tanpa perlawanan.
Kei mendecih ketika melihat keduanya menarik kawan mereka yang terduduk menangis dengan lutut terluka. Ketika ketiga sosok itu tak terlihat lagi oleh retina, ia mengalihkan pandangannya. Anak yang diselamatkannya masih duduk mendekap lutut, tangannya bergetar. Kepalanya menunduk bertumpu pada lutut yang ia dekap erat-erat sejajar dengan dada. Bisa dibilang ia bahkan tak melihat bagaimana dirinya menyelamatkan anak tersebut.
Kei mendesah. Tak berniat untuk membantu atau bahkan menyadarkan anak yang masih menekuk lutut tersebut. Matanya beralih pada tas yang tergeletak disamping anak itu. Ketika kakinya melangkah mendekat, tujuannya hanya satu. Tasnya. Ya hanya tasnya.
Sayangnya ketika tubuhnya menunduk untuk mengambil obyek kepunyaannya, bau manis menarik perhatiannya. Manis yang berbeda, bukan manis parfum yang biasa ia temukan di meja rias ibunya. Manis yang aneh. Sedikit asam namun tak akan membuatnya malas duduk disamping anak itu walau berjam-jam lamanya. Maka dengan kebaikan hati yang kembali muncul didalam dirinya, ia mengeluarkan suaranya kembali. "Oi!."
Dan ya… sejak saat itu pertemanan aneh antara dirinya dengan Tadashi pun dimulai.
Kei tersenyum kecil ketika mengingat pertemuan tersebut. Tadashi yang duduk dengan tangan merangkul lututnya bertindak seperti kura-kura yang berlindung dalam tempurung.
"Kei! Cepatlah mandi." Kei terkesiap. Memandang jam yang telah berada di angka 7.
'Ah sial' rutuk Kei.
- Wisteria -
Suara cakap-cakap antara suara alto dan bass dari meja makan menguar. Kei kenal suara bass siapa itu. Terlalu kenal malah. Karena saat Kei sampai diujung tangga netranya menangkap tubuh orang yang sudah ada bersama dari dirinya lahir.
"Hei."
Kei tak menyahut namun gerakannya yang terhenti saat melihat siluet itu kembali bekerja. Ia berjalan mendekati meja makan.
"Kei!." Kei menatap ibunya. "Ibu nanti akan pergi beberapa hari ke Tokyo."
"Kakakmu memilih keluar dari dorm kampus." Kei menatap doppelganger disampingnya. Akiteru tersenyum. "Jadi ibu akan membantu dia untuk mengatur ruangan."
"Oh."
"Oke." Kei menjawab singkat. Menyuapkan makanan yang dibuat ibunya kedalam mulut. Sarapan pagi itu hanya diisi dengan suara Akiteru dan Ibunya yang bercakap-cakap sesekali Akiteru melirik adiknya, hendak bertanya atau sekedar meminta pendapat, namun diurungkan. Bagaimanapun dua bersaudara itu masih dalam fase perang dingin.
Silent treatment dari Kei berakhir saat Akiteru memutuskan keluar terlebih dahulu, ingin bertemu Saeko katanya. Sehingga Ibunya kini membanjiri dirinya dengan pertanyaan mengenai ujian, kegiatan sekolah atau… Tadashi. Topik akan Volly tak pernah diangkat.
"Aku berangkat dulu ma." Ucap Kei setelah memberikan gratittude untuk makanan hari itu.
"Um, jangan lupa bawa kunci cadangan." Ucap Ibu Kei. "Mungkin Ibu akan di Tokyo untuk satu minggu, sekalian bertemu ayahmu."
"Mesra seperti biasa?." Kei tersenyum miring.
"Ingin punya adik?." Sambung ibunya. Kei mendecih, "No."
"Aku pergi dulu." Ucap Kei disusul dengan gumaman dari Ibunya yang mulai membersihkan meja makan. "Hati-hati!." Sambung Ibunya.
Kei menyahut 'iya' dengan singkat. Saat kakinya sampai di genkan, Kei mengerut. Ada sesuatu yang familiar, dan sesuatu yang familiar itulah yang membuatnya tergesa memakai sepatu, dan benar saat pintu kayu itu terbuka, sebuah siluet yang sudah seminggu lebih tak dilihatnya kini berdiri dengan senyum dipagar rumah—tengah bercakap dengan seseorang—Akiteru.
Akiteru melirik pintu, "Kalau begitu, pergi dulu Tadashi." Ucap Akiteru sembari mengusak kepala Tadashi.
"Hati-hati Aki-nii." Tadashi melambaikan tangannya pada Akiteru sebelum akhirnya mengalihkan pandangan.
Kei masih mematung didepan pintu. "Tsuki!." Ah… suara ini, suara addoration yang sudah lama tidak dia dengar. Kei melangkahkan kakinya.
"Lama tak bertemu." Senyum terpatri disana.
Kei berdehem. Jantungnya berdetak kencang. Membenarkan gagang kacamata yang dirasa turun ditulang hidung dan membalas dengan anggukan. Kakinya melangkah melewati Tadashi, berjalan didepannya. Susah payah ia menahan senyum yang bisa kapan saja terbentuk.
"Tsuki!." Tadashi muncul disampingnya. "Senang bertemu kembali." Kali ini ucapan itu pelan. Namun cukup membuat Kei memfokuskan matanya pada sosok bocah disampingnya. Pipinya menghangat, "Um." Aku juga, Kei tak melanjutkan kalimat yang terlintas diotaknya tersebut.
Rasanya seperti nostalgia. Kei tak pernah sadar bahwa Tadashi telah menjadi salah satu bagian dari hidupnya yang bisa membuatnya seperti ini. Hanya dengan melihat wajahnya kembali Kei bisa merasakan jantungnya memompa dengan semangat.
Tak seperti hari sebelumnya, hari ini Kei berangkat dengan langkah ringan. Tak ada pikiran yang mengganggu atau rasa malas yang muncul. Tadashi juga bertindak seperti biasa. Mengeluarkan suaranya untuk membahas film-film yang akhir-akhir ini ia tonton atau membahas mengenai berita akan penemuan fosil dinosaurus terbaru.
Suaranya riang. Ya. Riang. Seolah-olah Hari-hari sebelumnya tak pernah terjadi. Tak ada suara burung yang lebih vokal dari suaranya pagi itu. Hingga saat kaki mereka melangkah mendekati gerbang sekolah, lullaby pagi itu berbunyi semakin pelan. Kei menyadari, Mendapati rekan sebelahnya yang kini berjalan dengan kepala menunduk dan tangan yang memegang erat pada tali tasnya.
"Yamaguchi." Kei menghetikan langkahnya, membuat Tadashi melakukan hal yang sama. "Kau baik-baik saja?."
Tadashi menatapnya. Senyum tetap terpaku. Ia mengangguk.
Kei terpaku. Ia tahu. Ia sadar. Sesuatu jelas mengusik Tadashi. Mungkin salah satunya juga adalah dirinya.
Menghela nafas ia melangkahkan kakinya kembali mengikuti Tadashi yang meninggalkannya. Tangan kiri Kei terjulur, membuat si lawan pihak mengeluarkan suara terkejut.
Tak sempat bertanya Tadashi sudah ditarik terlebih dahulu. Kei juga tak mengatakan apapun. Oleh karena itulah, Tadashi pun membungkam mulutnya, mengeratkan jemari yang tengah tertaut dengan kawan baiknya itu.
Bagaimanapun, dukungan moral ini sangat dibutuhkan Tadashi. Apalagi, ketika kaki mereka melewati gerbang sekolah satu persatu siswa mulai mengambil satu-dua detik menatap dirinya yang kini berjalan berdampingan dengan si-alpha. Sebuah tatapan penasaran atau iri. Tadashi semakin ciut karenanya.
- TBC -
Lagi-lagi endingnya mendadak banget haha. Tapi, tahan-tahan aja dulu ya. Actually chapter ini berubah banget dari plan sebelum-sebelumnya. Alasannya?
Alasannya...
Folder berkas kehapus! Yak literally itu kehapus semua anjir, dan akunya gk sadar. Aku aja lupa itu dihapus kapan hahaha Jadi semua draft cerita, trivia, trope bahkan sampe berkas-berkas kuliah hilang dan pas coba di recover gk bisa diselametin. So... ya udah.
Selain itu bulan lalu juga aku bikin playlist buat fic ini. 1 chapter 1 lagu (jadi, bisa di check aja udah ada berapa lagu disitu, maka segitulah chapter yang baru kupikirin/kecuali ada perubahan haha). Ini absurd banget si, tapi ya sudahlah, karena pikiran itu juga tiba-tiba muncul juga. Mengingat aku sendiri kalo lagi nulis suka sambil dengerin lagu.
So, just check it out if u want too :)
link :
playlist/29LAIUyloJp7L6Du3fJA2v?si=7ad6a61d42964f86 (Wisteria Playlist : Ready to Bloom)
