Lari, lari, lari.
Kaki Taufan bergerak cepat menyusuri hutan. Napasnya terengah-engah. Ranting, batu, dan benda-benda di bawah kakinya yang telanjang menggores kulitnya, tapi dia abaikan.
Lari, lari, lari.
Hanya ada itu di pikirannya saat ini.
"Jangan sampai dia lolos!"
Sorot sinar dari senter-senter yang bergerak liar, disertai teriakan-teriakan di belakangnya membuat degup jantungnya semakin kencang.
Sempat terpikir baginya untuk meminta pertolongan di perkampungan. Tapi harapannya langsung pupus begitu mengingat perkampungan itu pasti kosong karena penduduknya telah diusir bahkan dibunuh oleh pasukan FDR yang saat ini tengah mengejarnya.
DOR!
Suara tembakan terdengar. Seketika dia merasakan sengatan di bagian pahanya, yang menyatakan bahwa sebuah peluru telah bersarang di sana.
Taufan kehilangan keseimbangan. Tubuhnya limbung ke depan. Belum sempat tangannya menahan tubuhnya–
BUK!
Kepala Taufan membentur batang pohon di depannya, yang sepertinya tak terlihat sebelumnya karena gelap.
Dunia perlahan memudar di pandangan Taufan.
.
.
.
ANGKA-ANGKA
Summary: Di Madiun mereka mendengarkan pembantaian. [Warning: rated M for dark history and blood.] for G30S/PKI
Disclaimer: BoBoiBoy © Monsta Studio. Puisi © Taufik Ismail. Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari pembuatan cerita ini.
Warning: dark-history, blood, Typo(s), OOC akut, dll.
SELAMAT MEMBACA!
.
.
.
Dua orang cucuku bertanya tentang angka-angka
Datuk-datuk, aku mau bertanya tentang angka-angka
Kata Aidan, cucuku laki-laki
Aku juga, aku juga, kata Raina cucuku yang perempuan
Aku juga mau bertanya tentang angka-angka
Rupanya mereka pernah membaca bukuku tentang angka-angka dan ini agak mengherankan
Karena mestinya mereka bertanya tentang puisi
Tetapi baiklah,
Rupanya mereka di sekolahnya di SMA ada tugas menulis makalah
Mengenai puisi, dia sudah banyak bertanya ini-itu, sering berdiskusi
Sekarang Aidan dan Raina datang dengan ide mereka
Menulis makalah dengan angka-angka
.
.
.
"Hebat... hebat..."
"Eh? Apa yang kau baca itu, Fang?" tanya Taufan pada Fang, sahabatnya.
Taufan sejak dulu tak heran kenapa Fang selalu menyendiri di perpustakaan. Tok Aba, kakek mereka sekaligus pendiri pesantren ini merawat Fang sejak keluarganya dibantai oleh pasukan Jepang.
Walau tinggal di lingkungan pesantren, Fang tetap mampu menjalani keyakinannya bahkan tetap bisa mengunjungi Klenteng. Tapi Taufan tahu, walau Fang senang tinggal di sini, dia pasti merasa agak terasing.
Kini Taufan menatap heran Fang yang sedang membaca buku yang menurutnya sangat tebal.
"Kau tidak tahu? Ini buku karya Karl Max yang pemikirannya sangat luar biasa!" seru Fang antusias.
"Karl Max?" gumam Taufan tak paham. "Memangnya dia sehebat apa sih?"
Fang tampak kesal melihat ekspresi Taufan yang tidak tertarik.
"Ya ampun... dia adalah seorang revolusioner cerdas! Pembela kaum buruh dan tani! Dia membuat sistem di mana tidak ada lagi piramida ekonomi! Tidak ada lagi kaum borjuis yang memeras rakyat jelata! Semuanya sama rata dan adil! Bukankah itu luar biasa?!"
"I-iya..." Taufan memutuskan mengiyakan, tidak ingin mengganggu antuasiasme Fang.
Taufan akhirnya berusaha menjadi pendengar yang baik. Dia mendengarkan penjelasan Fang yang tidak hanya menyebut Karl Max, tapi juga Vladmir Lenin dan Joseph Stalin.
Kenapa aku tidak menyadari buku yang dibaca Fang itu sebenarnya sangat mengerikan?
Taufan baru menyadarinya saat dia memergoki Fang yang hendak pergi meninggalkan kompleks pesantren.
"Fang! Kenapa kau?!" serunya sambil mencoba menyentuh tubuh Fang. Tapi Fang langsung menepisnya.
"Jangan sentuh aku," katanya dingin. "Aku tidak mau terus tinggal dengan orang-orang yang setiap harinya sibuk berdoa tanpa melakukan usaha sama sekali."
"Fang, apa maksudmu?!" seru Taufan.
"Kau tidak menyadarinya, Taufan? Huh, kukira kau cukup pintar," cibir Fang. "Kau tidak menyadari kalau kau diperbudak oleh kakekmu sendiri? Kalian semua harus mengurus sawahnya tiap hari, dan dia mengambil hasilnya. Lalu kalian diiming-imingi pahala dan surga belaka."
Taufan mengerutkan kening. Memang santri di pesantrenlah yang mengurus sawah milik Tok Aba, tapi itu bukan kewajiban. Selama ini para santri belajar dengan gratis di sana, bahkan mendapat uang saku. Lagipula dia sama sekali tidak merasa dipaksa mengurus sawah, apalagi diperbudak.
"Fang–!"
"Ah, sudahlah. Tidak ada gunanya berdebat dengan orang yang sudah didokrin agama sepertimu," potong Fang sambil berjalan pergi. Taufan sendiri hanya bisa terdiam menyaksikan kepergiannya.
Kenapa waktu itu aku tidak menyadari bahwa Fang telah tercemar oleh ideologi 'merah'?
.
.
.
Begini datuk,
Katanya ada partai di dunia itu membantai 120 juta orang, selama 74 tahun di 75 negara
Kemudian kata Aidan dan Raina, ya... ya... 120 juta orang yang dibantai
Setiap hari mereka membantai 4500 orang selama 74 tahun di 75 negara
.
.
.
"Cepat jalan!"
Taufan dengan tangan terikat di belakang berjalan bersama para santri lain. Mereka tak punya pilihan, karena orang itu menodong punggung mereka dengan senjata.
Semuanya terjadi begitu cepat. Rasanya baru kemarin Kakeknya, Tok Aba, dibawa pergi oleh Front Demokrasi Rakyat (FDR) yang rupanya adalah kelompok beraliran kiri. Di kemudian hari, Taufan tahu kalau ternyata kakeknya melakukan itu agar pesantren itu tidak dibumihanguskan. Tapi sepertinya pengorbanannya sia-sia.
Malam itu pesantrennya diserang oleh orang-orang itu. Gedung asrama dan masjid terbakar, peluru-peluru ditembakkan secara liar, membuat banyak tubuh manusia bergelimpangan bersimbah darah.
Banyak santri yang Taufan saksikan sendiri tewas dengan mengenaskan. Beberapa yang beruntung sepertinya berhasil melarikan diri ke rumah-rumah penduduk. Sayangnya, Taufan tergolong yang tidak beruntung karena kini tertangkap dalam keadaan hidup.
Apa yang akan mereka lakukan?
Setelah puas memukuli mereka, orang-orang bersenapan itu menggiring mereka semua ke sebuah rumah kosong yang sepertinya pemiliknya sudah diusir. Begitu banyak orang yang dimasukkan ke dalam rumah sekecil itu, membuat Taufan terhimpit ke tempok.
Belum sempat Taufan mencerna apa yang terjadi, dia mendadak mencium bau benda terbakar. Hawa rumah itu mendadak panas dan samar-samar terlihat cahaya kemerahan muncul dari bagian atap dan depan.
Mereka membakar rumah ini?!
Mengetahui fakta tersebut, orang-orang di dalam rumah itu berteriak ketakutan dan bergerak tak beraturan. Hal itu membuat kepanikan dan ketakutan mencengkeram Taufan. Dari luar sayup-sayup terdengar teriakan kegirangan.
"Inilah sikap PKI! Inilah tindakan PKI!"
.
.
.
Kemudian cucuku bertanya
Datuk-datuk, kok ada orang begitu ganas?
Kemudian dia bertanya lagi,
Kenapa itu datuk? Mengapa begitu banyak?
.
.
.
Entah keajaiban apa yang didapat Taufan sehingga bisa lolos.
Saat itu Taufan menggunakan api untuk membakar tali yang mengikat tangannya. Lalu di antara kepanikan itu, Taufan berhasil menemukan celah untuk keluar dari rumah itu, tepat sebelum atap rumah itu runtuh dan membunuh orang-orang di dalamnya.
Sayangnya keajaiban itu tidak berlangsung lama. Seorang anggota FDR melihat sosoknya yang berhasil berlari menjauh, yang dalam sekejab membuatnya menjadi buronan.
Lari, lari, lari.
Hanya itu yang bisa dia lakukan.
DOR!
Satu tembakan melukai kakinya. Sebuah benturan dari batang pohon di kepalanya membuat kesadarannya menghilang.
.
.
.
Mereka melakukan kerja paksa, merebut kekuasaan di suatu negara
Kerja paksa
Kemudian orang-orang di bangsanya sendiri berjatuhan mati
Kerja paksa
.
.
.
Saat mata Taufan terbuka, dia menyadarinya kalau dirinya kembali terikat. Di hadapannya berdiri para tentara FDR.
"Kau pikir kau bisa kabur hah?!"
BUK! BUK! BUK!
Entah sudah berapa banyak pukulan dan tendangan yang dilancarkan pada tubuhnya. Taufan tak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa meringis menahan sakit yang teramat sangat.
Sampai pada akhirnya para tentara itu memaksanya berlutut. Matanya yang buram samar-samar memperlihatkan sebuah lubang sumur di hadapannya. Meski samar, tapi Taufan bisa mendengar erangan kesakitan dari dalam sana.
Apa mereka membunuh orang-orang lalu memasukkan jasadnya ke dalam sana?
Di sampingnya, berdiri seorang tentara dengan senapan di tangannya. Tapi dia memegang gagangnya, seolah bersiap untuk memukulnya dengan itu.
Meski begitu, pikiran Taufan sudah terlanjur berkabut akibat siksaan yang terus-menerus. Dia tak dapat berpikir lagi.
Apa ini akhirnya...?
Taufan menutup matanya, bersiap menerima nasibnya.
DOR!
"SILIWANGI! SILIWANGI!"
Taufan tak merasakan apa-apa. Dia hanya mendengar suara langkah kaki disertai teriakan panik dan tembakan. Tapi dia tetap menutup mata, menunggu nasib yang akan dihadapinya selanjutnya.
"...Taufan! TAUFAN!"
Suara yang familier terdengar di telinga Taufan, disertai sentuhan di bahunya. Dia pun membuka mata, dan melihat seorang tentara yang Taufan kenali wajahnya.
"... Kak Halilintar...?"
Halilintar tidak mengatakan apa-apa, tapi dia langsung memeluknya erat.
Taufan dalam diam menitikkan air matanya. Dia tak menyangka, kakaknya yang akan menyelamatkannya. Sudah lama mereka tidak berjumpa, sejak Halilintar bergabung dengan Tentara Hizbullah buatan Jepang, yang akhirnya melebur menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat) yang menjadi kekuatan militer negeri ini.
.
.
.
Kemudian yang kedua
Sesudah kerja paksa,
Program ekonomi di seluruh negara komunis tidak ada satupun yang berhasil
Mati kelaparan, bergelimpangan di jalan-jalan
.
.
.
Taufan berlari cepat menuju lokasi sumur yang diduga menjadi tempat pembuangan mayat korban PKI dalam pembantaian tersebut.
Sial... kenapa tidak ada yang memberitahuku kalau pembongkarannya dilakukan hari ini?!
Sudah berbulan-bulan sejak kejadian yang hampir merenggut nyawanya itu. Walau selamat, tapi dia mengkhawatirkan adiknya Gempa. Mereka terpisah saat tragedi itu terjadi dan dia tak kunjung mendapat kabar tentangnya. Dia sudah berusaha mencari tahu dari para korban selamat bahkan anggota PKI yang tertangkap, tapi hasilnya nihil.
Meksi sudah pasrah bahwa mungkin Gempa sudah meninggal, tapi itu tidak menyurutkan niatnya mencarinya. Setidaknya mayatnya, itu yang ingin Taufan tahu.
Sebuah celetukan dari seorang anggota PKI yang mabuk mengenai pembantaian di sebuah sumur sempat menumbuhkan harapan bagi Taufan. Sayang penelusuran itu harus ditunda karena agresi militer Belanda.
Di sinilah Taufan sekarang, berdiri di hadapan kerumunan tentara dan warga yang sibuk mengurus jasad dari sumur yang sudah dibongkar.
"UMPH!"
Taufan membekap mulutnya, berusaha menahan mual dari bau busuk yang sangat menyengat.
Taufan memandang ke arah jasad yang sudah diangkat. Tubuh kaku yang sudah bercampur tanah. Kulit jasad itu sudah banyak yang lepas. Apa itu karena berbulan-bulan di dalam sumur?
Mata Taufan tiba-tiba menangkap sosok yang familiar walau mulut dan hidungnya tertutup kain. Itu Halilintar.
"Kak Hali–"
Halilintar tiba-tiba merentangkan satu tangannya, seolah melarangnya mendekat.
"Ngapain kamu ke sini?" katanya. "Cepat pulang."
"Kak Halilintar, kenapa–"
"Pulang."
"Hei–"
"PULANG KATAKU!"
Taufan lalu menyadari kalau Halilintar sedang menjauhkannya dari jasad tertutup kain yang habis dia urus. Hatinya mencelos saat melihat mata Halilintar berkaca-kaca.
Taufan mendorong Halilintar untuk mendekati jasad tersebut. Meski kembali ditahan, tapi itu membuat Taufan bisa melihat jasad itu lebih jelas.
Tangan jasad itu tidak tertutup kain. Jasad dengan kulit terkelupas itu rupanya tengah menggenggam sesuatu. Sebuah tasbih.
Taufan seketika jatuh berlutut. Dia sangat mengenali tasbih itu.
"Wah, selamat Gempa! Kau mendapat hadiah tasbih keren itu!"
"Kak Taufan, ini hanya karena aku berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz-ku..."
"Tapi tetap saja hebat! Tok Aba bilang dia membelinya langsung di Mekkah lho!"
"Ti-tidak mungkin..."
Walau sudah menduganya, tapi tetap saja air mata mengalir deras dari matanya.
"GEMPAAAAAAA!"
.
.
.
Kemudian yang ketiga,
Sebab jatuhnya puisi ini
Sebabnya adalah mereka membantai bangsanya sendiri,
Mereka membantai bangsanya sendiri
Di Indonesia
Pertama kali dibawa oleh Musso, dibawa Musso.
Di Madiun mereka mendengarkan pembantaian
.
.
.
TAMAT
Trivia:
-Pembantaian PKI di Madiun terjadi 18 September 1948 di kota Madiun. Pemberontakan ini dilakukan oleh Front Demokrasi Rakyat, yang terdiri atas kelompok PKI dan organisasi kiri lainnya. Korbannya sebagian besar adalah santri dan aparat pemerintah. Setelah dihabisi dengan keji, jasad para korban dibuang ke dalam sumur-sumur tua sehingga dikenal sebagai "lubang pembantaian"
-TKR (Tentara Keamanan Rakyat) adalah cikalbakal dari TNI sekarang
-Memang tidak seterkenal PETA atau Heiho, tapi Jepang pernah membentuk tentara yang terdiri dari para santri yang dinamakan Hizbullah (tentara Allah) demi menarik simpati santri dan ulama.
-Divisi Siliwangi adalah salah satu bagian dari TKR. Meski mengalami masalah akibat sentimen Jawa-Sunda, tapi merekalah yang berjasa dalam memberantas pemberontakan PKI di Madiun.
-Puisi yang menjadi pemisah antar scene diambil dari puisi buatan Taufik Ismail yang dibacakan di Simposium Nasional Tragedi 1965, 19 April 2016. Puisi ini tidak dibaca sampai selesai, karena beliau sudah dipaksa turun oleh panitia.
-Cerita di atas hanyalah fiktif. Saya hanya terinsipirasi dari berbagai kisah tersebut dan diubah seperlunya demi keperluan cerita.
(Referensi: Katastrofi mendunia: Marxisme, Leninisme, Stalinisme, Maoisme, Narkoba oleh Taufik Ismail dan berbagai sumber di internet)
A/N: ide ceritanya udah ada sejak 2018, baru ditulis sekarang. Hadeuhh...
Well, tapi saya lega akhirnya bisa menulis fic historical ini. Semoga ini jadi pengingat kita akan tragedi bangsa ini, agar peristiwa tragis ini tak terulang. Dan semoga para korban diterima di sisi-Nya. Amin...
Terima kasih sudah membaca fanfic ini!
REVIEW! REVIEW! REVIEW!
