PLEASE SAVE ME

Cast :

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

Disclaimer :

I don't own the character but the story is mine

...

Macciato Chwang proudly present

...

Second Chapter - Who Are You

--

Baekhyun masih terdiam, memilih menatap pemandangan diluar yang dirasanya lebih baik dibandingkan dengan pemuda Park. Ratusan pertanyaan berputar dikepalanya. Namun akhirnya hanya satu yang membuatnya merasa lemah.

'Mengapa aku diam saja dengan perlakuannya???'

Baekhyun tidak peduli entah kemana mobil super sport yang bahkan tidak ia ketahui merknya itu melaju kemana.

"Kau tidak ingin bertanya???" pemuda Park memutuskan memecah keheningan diantara mereka.

"Apa?? apa maksudmu melakukan semua ini?? aku... aku..." Dirinya memiliki banyak pertanyaan dipikirannya namun tidak tahu bagaimana harus mengungkapkan. Byun Baekhyun terlalu bodoh hanya untuk memilih kosa kata.

"Aku tidak punya maksud apapun, jika itu yang ingin kau tau." Jawaban yang sangat tidak memuaskan.

"Itu ciuman pertamaku." bisik Baekhyun lirih sembari menundukkan kepalanya antara marah, malu, dan menyesal.

"Maaf... Kau ingin menamparku??" Balasnya tak kalah lirih.

'ia aku benar - benar ingin menamparmu dan memberi beberapa pukulan. Kau lelaki sialan yang melecehkanku...'

Baekhyun ingin menyemburkan kemarahannya namun pada akhirnya dia hanya terdiam. Apa gunanya?? ciuman pertamanya tidak akan kembali. Faktanya pria disampingnya sudah melakukan pelecehan. Sungguh Baekhyun ingin mendaratkan kepalan tangannya namun entah mengapa disatu sisi dirinya merasa enggan.

Pemuda bermarga Park akhirnya memutuskan menepi ke pinggir. Ia menatap Baekhyun beberapa saat sebelum tertawa pelan. Bukan tawa sinis.

"Jika kau ingin memukul ku maaf saja aku tidak mengizinkan." sekali lagi ia tertawa, Baekhyun tidak merasa ada hal yang lucu.

"Bagaimana jika aku memiliki satu hutang padamu, kau boleh meminta apapun." Baekhyun menoleh sementara pemuda Park mengulurkan tangannya mengacak surai Baekhyun yang menghasilkan dengusan protes.

"Kau lucu sekali Baekhyun-ah." Panggilan yang tidak sopan menurut si pemuda mungil. Mereka baru saja bertemu dan susfix itu terlalu akrab untuk digunakan.

"Bagaimana kau tahu nama ku??" Hal itu baru saja terlintas dikepalanya. Mereka tidak saling mengenal tapi pemuda Park bahkan menyebutkan namanya saat di cafe tadi.

"Name tag dibaju seragammu. Ku tebak kau sedang membolos." Baekhyun menundukkan kepalanya merasa malu.

"Park Chanyeol, kau bisa memanggil ku Chanyeol, Chan atau Yeol juga tidak apa-apa." Pemuda Park yang baru saja mengenalkan dirinya meraih tangan kanan Baekhyun.

"Tapi kau lebih tua dan kita baru saja bertemu. Itu tidak sopan." Jawab Baekhyun.

"Aku tidak suka formalitas, tidak masalah untukku meskipun kita baru kenal." Bohong, Park Chanyeol pembohong besar. Semuanya terbalik dengan apa yang ia ucapkan. Dia tidak suka orang yang baru dikenalnya memanggilnya tanpa sapaan hormat tapi dia merasa Byun Baekhyun adalah pengecualian.

'Tapi itu masalah untukku Park Chanyeol.'

"Terserah kau saja aku tidak peduli." Baekhyun mengendikkan bahunya acuh.

"Baekhyun dengar, aku berhutang padamu kau bisa menagihnya kapanpun." Park Chanyeol meremas pundak Baekhyun pelan, nada suaranya berubah menjadi serius dan tatapan matanya menajam. Baekhyun mengangguk pelan ia tidak bisa membantah Park Chanyeol.

Chanyeol kembali meraih tangan Baekhyun menyisipkan kertas berisi sebuah alamat. sementara si pemuda mungil hanya memandangnya dengan tatapan bertanya.

"Datang ke alamat itu untuk menagihnya." Park Chanyeol menjawab tatapan penuh tanya si mungil.

"Ehm.. sudah selesai bukan, kita tidak punya urusan lagi." Sungguh Baekhyun tidak tahan bersama Chanyeol, aura lelaki itu membuatnya tidak dapat berpikir jernih. Dirinya hanya bisa mengangguk jika berhadapan dengan Park Chanyeol orang yang bahkan baru ia temui.

"Katakan dimana tempat tinggalmu. Aku akan mengantarmu." Baekhyun menyebutkan alamat rumahnya. Tidak ada gunanya mendebat Park Chanyeol dia tidak akan bisa.

Namun diam-diam Baekhyun meremas kertas dalam genggamannya. Ya kertas yang berisi alamat yang baru saja diberikan oleh Park Chanyeol.

'Seolah aku akan meminta bantuanmu saja. Aku tidak membutuhkannya Park Chanyeol...'

Byun Baekhyun boleh saja berpikir seperti itu namun siapa yang tahu masa depan begitu takdir memutuskan untuk turut campur. Yah jika saat itu terjadi ucapkan saja selamat tinggal pada pemikirannya saat ini.

...

Hari - hari Baekhyun berjalan seperti biasanya. Sama seperti sebelum ia bertemu dengan Park Chanyeol.

Sudah sebulan berlalu sejak kejadian di cafe EXODUS. Baekhyun memutuskan untuk melupakan semuanya. Dirinya tidak peduli dengan hutang yang pemuda Park katakan. Tentu saja Baekhyun tidak membutuhkannya. Sebagai gantinya ia tidak pernah membolos lagi meskipun itu saat mata pelajaran sejarah. Menghapal nama manusia purba ribuan kali lebih baik dibandingkan mengalami pelecehan seksual.

Semua berjalan dengan lancar menurut Baekhyun namun makan malam hari ini terasa lebih hening. Tidak ada celotehan bibinya yang menanyakan tentang sekolah kakaknya. Kakaknya juga lebih banyak diam biasanya Yejin akan membanggakan tentang sekolahnya. Byun Yejin bersekolah di XO senior high school salah satu sekolah favorite yang begitu populer tempat siswa kaya dan pintar berkumpul sedangkan Baekhyun hanya bersekolah di SMA biasa.

"Baekhyun-ah paman ingin bicara penting." Baekhyun menoleh sedikit terkejut tidak biasanya pamannya bicara hal penting padanya. Mereka akan berbicara dengan Yejin kakak kembarnya.

"Ada apa paman??" Tanya Baekhyun. Perasaannya sedikit tidak enak sekarang.

"Ini masalah perusahaan..." Paman Kim menjeda kalimatnya seolah ingin melihat reaksi Baekhyun, tentu saja Baekhyun lebih kaget lagi. Oh ayolah apalagi mengenai perusahaan.

"Perusahaan sedang dalam masa sulit. Salah satu manager membawa pergi uang perusahaan dalam jumlah besar dan entah bagaimana para investor dan pemegang saham mengetahui hal itu. Mereka mengancam akan menarik investasi mereka. Jika hal yang lebih buruk terjadi, rumah ini mungkin akan disita."

Baekhyun merasa sangat terkejut, ia bergantian menatap paman dan bibinya serta Yejin namun mereka hanya menundukkan kepalanya.

"Bagaimana dengan ayah dan ibu?? Apa mereka sudah tahu??" Tanya Baekhyun berusaha menjaga nada suaranya agar tidak bergetar.

"Ia mereka tahu tapi mereka tidak bisa membantu keadaan disana juga tidak lebih baik Baek. Kami sudah berusaha meyakinkan para investor juga mencoba meminjam uang tapi bank tidak memberi pinjaman mengingat keadaan perusahaan tidak mungkin dapat mengembalikannya." Baekhyun melihat Yejin mengepalkan tangannya, wajahnya sudah penuh dengan air mata.

"Aku masih ingin sekolah Baek, aku ingin mengejar impianku, dan aku masih ingin tinggal di rumah ini. Baekhyun kau anak laki - laki dikeluarga ini. Tolong carilah jalan keluar." Yejin menatap Baekhyun dengan pandangan menuntut sekaligus minta tolong.

"Bagaimana denganmu?? Kau sering membanggakan teman - teman kayamu mintalah bantuan pada mereka." Baekhyun tahu sekarang bukan saatnya untuk mengeluarkan sisi kekanakan tapi ia bisa apa, dirinya hanya anak SMA yang tidak mengerti apapun masalah perusahaan hanya karena ia lelaki toh selama ini semua hal diperuntukkan untuk Yejin.

"Baek jangan kekanakan seperti itu." Bibinya menegur Baekhyun.

"Aku tidak tahu, aku tidak bisa membantu apapun." Baekhyun beranjak menuju kamarnya lalu membanting pintu. ia perlu waktu untuk berpikir meski tahu tidak ada yang bisa dirinya lakukan. Baekhyun tidak punya teman dari keluarga kaya seperti kakaknya. Apa yang bisa diharapkan darinya.

...

"Bagaimana jika aku memiliki satu hutang padamu... Kau bisa meminta apapun.."

"Kau bisa menagihnya kapanpun..."

"Datang ke alamat itu untuk menagihnya."

...

Bekhyun terbangun dipagi berikutnya dengan keadaan yang lebih buruk dibandingkan kemarin. Kepalanya berdenyut pusing namun ia masih ingat mengenai mimpinya semalam. Dia bermimpi mengenai kejadian sebulan lalu saat dia bertemu Park Chanyeol.

Baekhyun bergegas bangun mengabaikan denyutan dikepalanya ia meraih seragam sekolahnya, lalu kemudian tas sekolahnya namun nihil. Pada akhirnya Baekhyun mencari kertas tersebut, kertas yang berisi alamat yang Chanyeol berikan. Kertas tak berharga yang ia remas saat itu. Oh mungkin takdir tengah menertawainya sekarang.

Harapan terakhirnya dilaci meja, Baekhyun yakin dia hanya meremas kertas itu tidak membuangnya. Yaa kertas lusuh itu ada disana. Baekhyun merasa lega sedikit mungkin ada jalan untuk keluarganya bertahan.

Baekhyun bergegas mandi dan berganti pakaian dengan cepat, mengabaikan sarapan yang tersaji dimeja makan. Dia bahkan lupa jika kepalanya masih berdenyut sakit.

Baekhyun boleh saja lupa semua itu namun Baekhyun seharusnya tidak lupa satu hal. Berdoa dalam hatinya. Berdoa semoga Park Chanyeol tidak melupakan ucapannya.

...

Byun Bekhyun menatap kertas ditangannya juga gedung pencakar langit berhalaman luas didepannya. Tulisan EMPIRE dengan lambang burung Phoenix berdiri dengan begitu angkuh di atap gedung.

Baekhyun yakin dirinya tidak salah membaca alamat yang tertulis. Lelaki mungil itu berpikir positif, bukankah bagus jika Chanyeol bekerja di perusahaan besar, jadi ia bisa meminjam uang pada lelaki tinggi itu.

"Aku ingin bertemu Park Chanyeol." Ucap Baekhyun tanpa basa basi begitu sampai di meja reseptionis. Sedangkan si wanita dibalik meja hanya menatapnya dengan sangsi. Tatapan itu jelas tatapan menghina namun Baekhyun memilih mengabaikannya.

Semua orang yang dia jumpai menatapnya dengan pandangan yang sama. Mungkin karena Baekhyun memilih menggunakan seragam sekolahnya. Mungkin juga karena rambutnya yang tidak tertata rapi.

"Apa kau sudah membuat janji terlebih dahulu??" tanya si wanita bername tag Hyun J. Lee tersebut.

"Tidak..." jawab Baekhyun pelan tersadar kemana percakapan mereka akan berujung.

"Kalau begitu kau tidak bisa menemuinya. Tolong keluar sebelum aku memanggil petugas keamanan." Ucapnya angkuh.

"Tunggu, Chanyeol bilang aku bisa menemuinya kapanpun atau kau bisa menghubunginya dulu." Baekhyun tidak akan menyerah dengan mudah.

"Keluar sekarang gelandangan!!" maki wanita lainnya bukan wanita dengan nama Hyun J. Lee wanita ini bahkan tampak lebih angkuh.

"PARK CHANYEOL!!!" Teriak Baekhyun pada akhirnya. Sontak semua orang di lobi menatapanya seperti orang gila sebelum petugas keamanan menyeretnya dengan kasar.

...

Mereka payah jika berpikir seorang Byun Baekhyun akan menyerah. Yah Baekhyun memilih berdiri di luar gedung meskipun sebentar lagi akan memasuki musim dingin. Mengabaikan kepalanya yang terus berdenyuk juga semilir angin yang menusuk.

Baekhyun tahu petugas keamanan menatapnya beberapa kali awalnya tatapan membunuh karena ia membuat keributan namun seiring berputarnya jarum jam tatapan itu berubah menjadi kasihan. Namun ia tidak memiliki hak apapun untuk membiarkan seseorang masuk apalagi untuk menemui seorang Park Chanyeol. Ingat dirinya hanya petugas keamanan biasa.

Ini hampir tiga jam Baekhyun merasa tubuhnya nyaris ambruk saat mobil mewah bercat hitam berhenti didepan petugas keamanan. Si petugas segera menggeser tempatnya. Baekhyun melihat dengan jelas dari dalam gedung seorang Park Chanyeol dan beberapa orang berjas hitam mengikutinya dibelakang.

Baekhyun berusaha berteriak dengan keras agar Chanyeol menoleh kearahnya namun bibirnya yang dingin menyulitkannya ditambah dengan sakit dikepalanya.

"Park Chanyeol!!!"

"Chanyeol!!!"

'Chanyeol-ah...'

'Chan...'

'Chan... Jebalyo...'

Awalnya panggilan itu dapat keluar, panggilan berikutnya lebih lirih. Yang berikutnya hanya dapat Baekhyun sampaikan dalam hatinya dan tatapan matanya begitu juga panggilan yang berikutnya.

Baekhyun berharap tatapan mereka akan bertemu sama seperti di cafe EXODUS sebulan lalu. Baekhyun harap Chanyeol mengerti hanya dengan tatapan sama seperti waktu itu tapi sekarang Park Chanyeol bahkan tidak menangkap tatapan matanya.

Harapan Baekhyun terasa sia-sia saat Chanyeol masuk kedalam mobil.

'Lupakan saja Byun dia tidak melihatmu.. Kau terlalu lemah hanya sekedar untuk memanggilnya.. Apa yang kau harapkan jika Chanyeol akan terus menangkap tatapanmu seperti waktu itu ...'

TBC

...

A/N : Ahai Macchi back bawa new chapter. Macchi benar-benar mengucapkan terima kasih untuk review, fav juga follownya. Serius gax nyangka klw random fic ini akan mendapat respon. Harap maklum jika ada typo, aku ngetik dari ponsel. Untuk chap ini lebih panjang dari chap sebelumnya kkkkkkk. Macchi baca semua reviewnya thanks bgt krn sudah berbaik hati ninggalin jejak yaa..

Sincerely,

Macchiato Chwang