Belanja.

Ice yang tengah berjalan bersama Pipi dan Gempa meringis ketika ia mendengar teriakan Taufan. Walaupun sudah berada cukup jauh, tetap saja suara cempreng nan kampret Taufan terdengar menggelegar di gendang telinganya.

"Kenapa tuh Bang Taufan?" tanya Pipi yang juga mendengar suara teriakan Taufan.

"Sepertinya Taufan kesal?" komentar Gempa setengah bertanya seraya melirik ke arah adiknya yang bernetra biru terang. "Dia sendiri 'kan yang menawarkan untuk mencuci piring."

Ice terkekeh gugup seraya menggaruki pipi gempalnya yang sebetulnya tidak terasa gatal. "Mungkin Kak Ufan kesal karena aku titip cucikan beberapa panci juga di dalam bak cucian piring."

Gempa langsung memutar bola matanya setelah mendengar pengakuan Ice. "Pantas saja ... Sebaiknya kamu belikan Taufan sesuatu nanti biar tenang, Ice," saran Gempa kepada adiknya.

"Ah nanti kubelikan Kak Taufan pewarna rambut deh. Dari kemarin dia mau mewarnai rambut putihnya jadi biru."

"Ah? Abang Taufan mau ganti warna rambut jadi biru?" tanya Pipi selagi ia menyimak pembicaraan antara Gempa dan Ice.

"Pipi ngga tahu ya?" Ice mendadak tersenyum-senyum sendiri. "Abang Taufan itu suka ganti-ganti warna rambut."

Pipi menjawab dengan gelengan kepalanya. "Warna apa saja yang Abang Taufan pakai?" Sang tuan putri kebenaran lanjut bertanya.

"Pernah dibalik," celetuk Gempa. "Rambut putihnya dicat hitam lalu rambut hitamnya dicat putih."

Terbayang dalam benak Pipi seperti apa Taufan yang berambut mayoritas putih dengan sejumput surai hitam di kepalanya. "Atok Taufan dong? Kakek-kakek 'kan rambutnya putih."

Tertawalah Gempa dan Ice mendengar komentar Pipi yang begitu polosnya. "Namanya juga Abang Taufan, memang dia 'kan suka mencoba-coba sesuatu yang baru dan berbeda."

Tanpa terasa, Gempa, Ice dan Pipi tiba di sebuah halte bus. Untuk pergi ke pasar swalayan yang dituju, mereka memilih untuk menggunakan sarana transportasi umum. Sebetulnya bisa saja ketiganya berjalan kaki sampai ke pasar swalayan, namun gempa memutuskan untuk naik transportasi umum supaya hemat waktu dan tenaga.

"Waah. Kita mau naik bus ya?" tanya Pipi dengan ekspresi wajah yang ceria dan antusias.

"Iya, biar cepat sampai," jawab Gempa sembari tersenyum dan menatap lembut kepada si tuan putri yang tengah dijaganya. "Pipi pernah naik bus 'kan?"

"Belum!" sahut Pipi dengan riangnya. "Pipi ngga pernah naik bus. Kemana-mana selalu diantar papa naik motor."

Gempa dan Ice saling berpandangan heran setelah mendengar jawaban Pipi. "Dengan mama pun ngga pernah Pipi naik bus?" Ice lanjut bertanya.

"Ngga pernah," jawab Pipi. "Selalu naik motor, dengan papa."

Gempa tersenyum lembut kepada Pipi. "Nah sekarang pertama kalinya Pipi naik bus ya? Gampang koq, tinggal bayar ongkosnya saja lalu nanti kita turun di halte yang dekat pasar swalayan."

Pipi mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kata papa naik bus berbahaya, kaki bisa terinjak-injak."

Gempa meletakkan tangannya yang besar dan berurat di atas pundak Pipi. "Tenang, Pipi, ada aku dan Ice yang menjaga kamu."

"Ya," sambung Ice dengan nada yang sangat yakin. "Pipi ngga usah takut. Naik bus umum itu aman kok selama kita hati-hati."

Tidak lama kemudian sebuah bus umum yang terlihat mendekat dari kejauhan.

"Nah itu busnya," ujar Gempa seraya menunjuk ke arah bus yang bergerak mendekati halte dimana ia, Ice dan Pipi berada. Bus itu memang masih berada agak jauh, namun Gempa bisa melihat keadaan penumpang kendaraan transportasi umum itu. "Ngga terlalu penuh, kosong malah."

Bus umum itu berhenti persis di depan halte. Setelah pintu depannya terbuka barulah Gempa, Pipi, dan Ice masuk ke dalam bus itu. Dengan segera Gempa membayar tarif bus itu untuk tiga orang termasuk dirinya sendiri.

"Ayo Pipi, duduk disana saja." Ice menunjuk pada barisan bangku kosong yang dekat dengan pintu bus.

Pipi mengangukkan kepalanya dan dengan hati-hati berjalan melintasi lorong bus yang dinaikinya. Namun langkahnya langsung terhenti ketika merasakan bus yang ditumpanginya bergerak maju sebelum ia sampai pada tempat duduk yang dituju. "Abaaang Aaiiiss! Busnya jalan!" sahut Pipi yang merasa limbung dan kehilangan keseimbangan berdiri

Dengan sigap Ice menangkap lengan Pipi sebelum bocah itu jatuh terjengkang. "Tenang Pipi. Ada aku dan Kak Gempa, 'kan," ucap Ice dengan nada yang meyakinkan.

Kata-kata Ice yang lembut dan genggaman tangannya yang cukup kokoh membuat Pipi merasa lebih tenang. Bocah itu tersenyum dan kembali berjalan mendekati barisan bangku di dekat pintu bus.

Naik bus umum seperti itu mungkin adalah hal yang biasa saja bagi Gempa dan Ice namun tidak bagi Pipi. Si tuan putri kebenaran terlihat riang dan bahagia. Senyumnya tak terhapuskan dari wajahnya ketika ia duduk berlutut di atas bangku dan melihat keluar dari jendela bus yang tertutup.

"Ice," ucap Gempa selagi ia mengamati Pipi yang begitu riang karena naik bus untuk pertama kalinya. "Sayang kita ngga ada saudara perempuan ya?" keluh Gempa seraya menghela napas panjang.

"Yah, kita saja sudah tujuh kakak-beradik, Kak Gem. Kasihan mama kalau nambah adik lagi," jawab Ice. "Lagipula kasihan juga kalau kita punya adik perempuan sementara kakak-kakaknya cowok semua. Anak perawan di sarang penyamun itu namanya."

"Uhuk!" Komentar Ice kontan membuat Gempa terbatuk. Memang benar apa yang dikatakan adiknya yang bernetra biru aquamarin itu. Akan sulit bagi seorang adik perempuan untuk tumbuh dan berkembang dengan tujuh orang kakak laki-laki. "Ya, mungkin kamu benar Ice. Sudah cukup kita bertujuh."

Tidak berapa lama bus itu berjalan sebelum berhenti lagi di sebuah halte untuk menaikkan beberapa penumpang. Diantara penumpang yang baru naik ke dalam bus itu terlihatlah sepasang manula yang menarik perhatian Gempa.

Dengan sigap Gempa langsung berdiri dari bangku yang didudukinya. Begitu pula dengan Ice yang langsung berdiri mengikuti kakaknya.

"Abang Gempa mau turun?" tanya Pipi yang heran melihat kedua pengawalnya itu mendadak berdiri.

Gempa tidak langsung menjawab. Perhatiannya kini tertuju pada sepasang manula yang berjalan melintasi lorong bus yang mereka tumpangi itu. "Silahkan duduk pak, bu," ucap Gempa kepada pasangan manula itu sembari tersenyum ramah.

Pasangan manula itu terlihat sangat senang dengan sikap Gempa yang memberikan mereka tempat duduk. "Terima kasih Nak," ucap seorang dari pasangan manula itu dengan rasa penuh terima kasih kepada Gempa yang baru saja memberikan mereka tempat duduk.

Pipi yang baru pertama kali melihat hal seperti itu terheran-heran. "Kenapa bang?" tanya Pipi seraya menatap kepada Ice dan Gempa bergantian.

"Nah Pipi." Mulailah Gempa menjelaskan. "Kita harus hormat dan menghargai orang yang lebih tua daripada kita. Kalau di dalam bus seperti ini, caranya dengan memberikan mereka tempat duduk. Kasihan 'kan kalau mereka harus berdiri?"

"Tapi ada bangku lain yang kosong 'kan, Bang?"

"Betul, tapi ngga ada salahnya kita berbuat baik. Hitung-hitung dapat pahala 'kan?"

Penjelasan sederhana Gempa membuat Pipi menganggukkan kepalanya. "Iya Bang Gempa." ucap Pipi dengan antusias karena telah mendapat sebuah pelajaran yang mudah dimengertinya dari Gempa.

Kembali Pipi melihat keluar dari bus yang ditumpanginya bersama Gempa dan Ice. Si tuan putri terlihat masih saja asyik menikmati pengalaman pertamanya naik transportasi umum itu.

Perjalanan menuju pasar swalayan itu tidak terlalu panjang. Setelah melewati tiga buah halte, Gempa mengajak Pipi untuk turun dari bus. Kekecewaan nampak pada raut wajah Pipi yang sedikit cemberut, namun prospek belanja bersama kedua abang pengawalnya membuat kekecewaan Pipi terobati.

Setelah mengambil troli belanja yang kosong, Gempa membawa Pipi dan Ice masuk ke dalam pasar swalayan itu untuk memulai acara belanja mingguannya.

Yang pertama diambil oleh Gempa adalah barang-barang yang ia anggap penting dan menyangkut kelangsungan hidup saudara-saudaranya. Apalagi kalau bukan bahan makanan yang menurut Gempa adalah prioritas utama.

"Minggu ini aku mau masak tema daging sapi ... Minggu lalu sudah ayam," gumam Gempa setibanya ia, Ice dan Pipi di gerai yang menjual aneka daging segar.

Mulai dari daging sapi lokal sampai impor tersedia di pasar swalayan yang berskala cukup besar itu. Berbagai pilihan tipe potongan daging pun tersedia di konter daging itu dengan harga yang cukup terjangkau.

"Daging sapi kak?" tanya Ice ketika Gempa tengah memilih potongan daging yang hendak dibeli. "Bagian apa?"

Pertanyaan Ice itu membuat Gempa terdiam sejenak. Ia memang belum menentukan tipe daging apa yang hendak dibelinya. "Iga, lidah, buntut, rendang?" Tanya Gempa seraya menengok ke arah adiknya.

"Kenapa ngga yang lain? Daging domba atau kambing saja," usul Ice kepada kakaknya.

Gempa menghela napas panjang. "Aku mau, tapi mahal. Mana dagingnya sedikit juga," keluh Gempa seraya menatap tumpukan daging domba yang begitu menggoda untuk dimasak. "Lagipula, ada yang sebaiknya jangan makan daging begituan, 'kan?"

"Ya sih, tapi 'kan waktu itu dia pingsan gara-gara makan durian setelah makan sup kambing Kak Gempa."

"Minum es durian pula," keluh Gempa. "Halilintar, sup kambing dan durian bukan kombinasi yang baik."

"Ayolah Kak Gem." Mulailah Ice menarik-narik pinggiran baju yang dikenakan Gempa. "Bikin sup kambing lagi. Selama ngga ada durian 'kan aman. Ya? Ya?" pinta Ice. Kali ini Ice mencoba sesuatu yang ia pelajari dari salah satu kakaknya. Kedua kelopak matanya dibuka lebar-lebar sampai netra biru aquamarinenya membulat.

"Astaga ... jangan," gumam Gempa ketika dilihatnya Ice yang memasang tampang memelas dengan mata yang membulat dan bibir yang berkedut gemetaran. Gempa sendiri paling tidak tega melihat ada saudaranya yang memelas seperti itu. Mati-matian ia mencoba memikirkan hal lain kecuali Ice yang berwajah memelas di hadapannya.

"Ayolah Kak Gem, bikin sup kambing lagi atau lamb chopatau sate kambing atau sup kaki kambing juga boleh," pinta Ice yang masih saja menarik-narik baju yang melekat di tubuh Gempa.

"Pipi juga mau 'kan?" Mencari dukungan, kini Ice beralih kepada Pipi. "Pipi suka kari kambing?"

"Suka! Pipi suka! Abang Gempa bisa masak kari kambing ya?" Mulailah Pipi ikutan menarik-narik baju Gempa, persis seperti apa yang diperbuat Ice.

"Astaga kalian ini." Gempa menepuk dahi. "Iya, iya, aku buatkan kari kambing. Lepas bajuku, nanti melar." Didesak dua orang sekaligus, Gempa pun akhirnya menyerah. Diambilnya daging-daging kambing yang sudah dipotong-potong dan dipak per ons itu. Total sebanyak dua kilogram daging kambing diambil oleh Gempa untuk perbekalan selama satu atau dua minggu ke depan.

Setelah Gempa mengambil daging, Ice ikutan mengambil sayur-sayuran untuk dimasak dan bumbu masak sebagai pelengkap. Mulai dari kentang, tomat, bawang bombai, sampai ke merica, bubuk kari, garam, bubuk kunyit dan lain sebagainya.

"Cuma ini sayurnya?" Gempa mengerenyitkan dahi ketika melihat sayur-sayuran yang diambil oleh adiknya itu.

"Yap. Seharusnya cukup. Memang apalagi kak?" tanya Ice

"Mana sayuran hijaunya?"

"Tinggal ambil 'kan di kebunnya Thorn," jawab Ice sembari mengedikkan bahu.

"Ngga akan cukup. Yang ada kamu nanti ditanam di tanah oleh Thorn karena tanamannya kamu gunduli," ujar Gempa yang langsung mengambil beberapa jenis sayuran lain seperti kangkung, bayam, wortel, seledri, dan selada.

Namun sebuah sayuran yang hendak diambil Gempa membuat netra aquamarine Ice membelalak lebar. "Ja-jangan itu!" Ketus Ice yang kini menatap horror pada sebuah sayuran yang diambil Gempa.

"Oh harus!" Gempa menyahut balik. "Brokoli ini bagus buat kesehatan!" tambahnya lagi yang kini memegang sebuah brokoli di tangannya.

"Betul kata Solar," geram Ice yang memandang Brokoli di tangan Gempa dengan raut wajah jijik. "Para ilmuwan harus menemukan kegunaan brokoli, supaya kita ngga perlu makan itu."

"Oke, Ice." Gempa langsung menepuk-nepuk pundak adiknya itu. Sebuah senyuman manis ekstra lebar pun mengulas di wajah Gempa. "Seminggu ini kamu makan brokoli. Akan kumasak spesial buatmu."

"Hah?!" Wajah Ice kontan pucat pasi. Apalagi setelah ia mendengar bahwa Gempa berniat memasak sayuran terkutuk itu untuknya. "Ta-tapi-"

"Tenang, Ice. Akan kupastikan kalau masakanku enak. Spesial buatmu, kari brokoli campur wortel." Gempa terkekeh puas melihat reaksi adiknya yang kini menjadi sangat gelisah.

"Iya Abang Ice," celetuk Pipi sembari tersenyum lebar. "Brokoli, wortel, kembang kol, kan bagus buat kesehatan. Kata mama begitu."

"Nah betul itu, Pipi. Anak baik ngga boleh pilih-pilih makanan. Semuanya harus habis," ucap Gempa lagi yang bagaikan menggarami luka bagi Ice. "Ya 'kan Pipi?" Gempa lanjut bertanya sembari menengok ke arah Pipi.

"Iya betul. Abang Ice harus makan sayur." Raut wajah Pipi yang ceria bertukar menjadi datar, persis seperti ibundanya, Mama Zila jika sedang memberi perintah.

"Mati aku," ketus Ice seraya menggaruki kepalanya. "Jangan gitulah Kak Gem ... Kakak 'kan tahu kalau aku ngga suka sayur," rengek Ice lagi sembari memasang tampang memelas.

"Apa? Abang Ice ngga suka makan sayur?" sahut Pipi mendahului Gempa. Dengan kedua bola mata yang membulat ia memelototi Ice.

Ice yang dipelototi oleh Pipi jadi semakin salah tingkah. "Kak Gem. Tolong dong!"

"Oke kutolong kamu makan sayur, Ice. Nanti malam biar aku suapi," jawab Gempa yang hanya memperburuk situasi Ice.

"AHHHH!" Ingin sekali Ice berlari dan menjauh dari Gempa dan Pipi yang mendesaknya makan sayur. Namun ia juga tahu bahwa melarikan diri tidak akan ada gunanya karena mau tidak mau toh Ice juga harus pulang ke rumah.

"Mimpi apa aku semalam ...," keluh Ice yang tidak punya pilihan lain kecuali menuruti saran dari Gempa.

.

.

.

Bersambung.

Terima kasih kepada para pembaca yang sudah bersedia singgah. Bila berkenan bolehlah saya meminta saran, kritik atau tanggapan pembaca pada bagian review untuk peningkatan kualitas fanfic atau chapter yang akan datang. Sebisa mungkin akan saya jawab satu-persatu secara pribadi.