PLEASE SAVE ME
Cast :
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
Disclaimer :
I don't own the character but the story is mine
Macchiato Chwang proudly pesent
...
Fourth chap - Angel or Devil
...
Byun Baekhyun mengerjapkan matanya, masih setengah tersadar. Tubuhnya masih enggan bergerak namun pikirannya seolah menuntutnya untuk tersadar.
"Kau tidak bisa membantu bocah itu Park!" Entah suara siapa Baekhyun mendengarnya dengan jelas.
"Hyung bercanda? Hyung hanya perlu melakukan semua yang sudah ku atur dan aku tidak minta pendapatmu hyung." Baekhyun tahu suara berat itu milik Park Chanyeol tapi apa yang mereka perdebatkan? Ah tentu saja bantuan untuknya.
"Usaha keluarga Byun tidak tertolong. Jika kau keras kepala untuk membantunya berapa banyak dana yang harus keluar? Perusahaanmu bisa rugi Park!" Suara menghardik itu membuat Baekhyun tersentak. Namun ia menahan rasa penasarannya membiarkan tubuhnya tetap terbaring nyaman disofa ruang kerja Park Chanyeol.
Tentu saja Chanyeol tahu benar akan hal itu jika dirinya kemungkinan besar akan mengalami kerugian jika membantu si pria mungil. Namun Chanyeol hanya tertawa, tawa mengejek lebih tepatnya. Entah itu ditujukan pada dirinya sendiri atau pria dengan surai winter dihadapannya.
"Karena itu Yesung hyung aku menyuruhmu menggunakan uang pribadiku untuk suntikan dana bukan uang perusahaan. Hyung bisa mengatur hal seperti tanpa perlu dijelaskan lagi." Baekhyun masih setia mencuri dengar pembicaraan kedua lelaki tersebut.
"Pikirkan lagi tentang kerugianmu Park. Kau bisa jatuh miskin!" Pria bernama Yesung, seorang yang sudah Chanyeol anggap seperti kakak sekaligus seseorang yang menjadi pengacara pribadi Park Chanyeol tetap berusaha mengubah keputusan Chanyeol untuk membantu Baekhyun.
"Jangan melewati batas hyung sebaiknya kau tahu tempatmu. " Chanyeol berucap datar namun penuh dengan penekanan. Siapapun akan sadar untuk tidak membantah seorang Park Chanyeol.
...
Byun Baekhyun diam - diam meremas seragam sekolahnya. Pria mungil itu kembali ragu akan keputusannya. Bagaimana jika Chanyeol benar - benar jatuh miskin setelah membantunya? Ia tidak ingin menyeret pria Park kedalam kubungan lumpur juga. Tapi tidak seorangpun yang bersedia membantunya. Baekhyun ingin membatalkan semua permintaannya, mengatakan pada Chanyeol untuk tidak membantunya. Mengatakan pada pria tinggi itu bahwa keluarganya akan baik - baik saja meski kenyataannya tidak seperti itu. Namun Baekhyun menyerah pada sisi iblisnya. Dia mengabaikan sisi malaikatnya. Ya dia memilih untuk egois menutup mata dan telinganya. Memutuskan mengabaikan perdebatan yang mulai hening, mengabaikan sisi malaikat dikepalanya yang terus mengutuk tentang betapa egoisnya dia hingga menyeret orang lain dalam kesusahan. Yaa Byun Baekhyun tidak peduli jika Park Chanyeol akan jatuh miskin dikemudian hari karena membantunya. Namun pipi si mungil yang basah tentu tidak berbohong. Bagaimana hatinya begitu sakit dengan keputusan egoisnya.
'Maaf Chan...'
Kali ini Byun Baekhyun memutuskan menutup matanya. Yaah tertidur lagi mengabaikan jeritan dikepalanya juga dihatinya.
Bukan hanya Baekhyun yang mencuri dengar, kebenarannya pria dengan senyum kotak yang aneh dibalik pintu ruangan Park Chanyeol juga melakukannya. Pria itu tertawa tanpa suara, senyum sinis dan mengejek semua omong kosong yang didengarnya. Seorang Park Chanyeol yang dingin dan datar bersedia membantu orang lain sepertinya dunia akan terbalik. Adakah yang lebih menggelikan dari hal ini, ahh tentu saja Park Chanyeol yang akan jatuh miskin hanya karena kehilangan beberapa receh dari kantong pribadinya.
Si pria kotak ingin tertawa keras tentu saja hanya dalam hatinya. Kerajaan bisnis Park Chanyeol diberi nama Empire bukan hanya bualan kosong, tapi Kim Yesung justru menyebutkan kata miskin, dia jadi ragu tentang gelar dan pendidikan tinggi pria itu. Park Chanyeol tidak akan runtuh dengan mudah bahkan jika dunia runtuh sebaliknya pria Park akan membuat orang - orang terjatuh bersamanya.
...
Baekhyun membuka matanya perlahan saat merasakan usapan lembut dipipinya.
'ahh tangan Park Chanyeol...'
"Bangun Baek, ini sudah menjelang malam." Tangan pria tinggi itu masih setia mengusap pipi si mungil.
"eungghh..." Baekhyun hanya membalas dengan gumaman pelan, masih berusaha mengumpulkan kesadarannya.
Tak disangka Park Chanyeol membalasnya dengan ciuman disudut bibir si mungil, kecupan lebih tepatnya. Byun Baekhyun sontak terkejut, ia bergegas mengambil posisi duduk. Gerak refleksnya membuat Chanyeol tertawa pelan.
'Apa itu tadi???? Ciuman kedua kami???'
Sekali lagi Park Chanyeol hanya tertawa namun kali ini lebih keras. "Sudah Baek jangan dipikirkan lagi. Kau bahkan sampai tidak sadar perutmu berbunyi."
Sialan Baekhyun mengucapkan sumpah serapah dalam hatinya. Oh ayolah setelah meminta bantuan dengan tidak tahu malu sekarang perut sialannya juga minta diisi.
"Baek... Hei, tidak masalah. Lapar itu manusiawi." Tentu saja lapar manusiawi siapapun tahu hal sekecil itu namun si mungil sepertinya terlanjur malu. Ia tetap menundukkan kepalanya menghindari tatapan mata Chanyeol.
Park Chanyeol mengangkat dagu Baekhyun memaksa si mungil untuk menatapnya. "Nah begini lebih baik. Kau ingin makan sesuatu Baek??"
"Pasta..." Oh terkutuklah bibir tanpa saringan Byun Baekhyun. Ucapannya tidak sinkron dengan rasa malunya. Rasanya ia ingin menghilang saja, pergi dari hadapan Park Chanyeol secepatnya.
"Aku akan pulang sekarang." cicit Baekhyun pelan. Park Chanyeol hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Tangannya mengusak surai si mungil yang kembali menghasilkan gumaman protes tak jelas.
"Kita makan dulu, kau ingin pasta bukan?? Setelah itu aku akan mengantarmu pulang bagaimana??"
"Uhh tidak jadi Chan, aku akan langsung pulang.." Baekhyun boleh saja berkata tidak namun perutnya yang kembali berbunyi lebih jujur.
"Hei sudah Baek. Kita pergi sekarang, jangan membuat dirimu lebih malu lagi nanti." Nada suara Chanyeol terdengar bercanda.
Baekhyun tidak mengajukan bantahan lagi, untuk apa jika perutnya terus berbunyi. Ia memilih mengikuti langkah kaki Chanyeol. Park Chanyeol menarik tangannya hingga mereka sejajar, membawa si mungil dalam rangkulannya setelah memakaikan jas hitamnya.
"Lain kali berpakaian dengan hangat jika ingin keluar, ini hampir musim dingin Baek." Chanyeol menasehatinya dengan lembut. Sorot mata khawatir tampak saat ia mengucapkan kalimatnya.
"Aku mengerti Chan." Baekhyun mengucapkannya dengan gugup namun hatinya menghangat. Pria tinggi itu mengeratkan rangkulannya sebelum melanjutkan langkahnya. Park Chanyeol seperti malaikat dalam hidup Byun Baekhyun yang memuakkan.
...
Baekhyun kembali melemparkan tatapan kagum, sorot mata yang sama ketika dirinya memasuki ruangan Park Chanyeol siang tadi. Yah restaurant yang baru saja mereka datangi begitu mewah tentu saja sesuai dengan selera seorang Park Chanyeol fine dinning restaurant. Viva Polo nama restaurant yang mereka kunjungi restaurant italia dengan design yang mengaggumkan. Baekhyun tidak dapat menghentikan decak kagumnya begitu mereka dipersilakan duduk disalah satu meja.
Jelas sekali tamu yang lain menatap mereka terkejut namun Baekhyun tidak mendengar satupun cibiran. Tentu saja seorang tidak bisa memasuki fine dinning restaurant hanya dengan seragam sekolah dan jas hitam yang terlampir sembarangan. Baekhyun tahu aturan dasar seperti itu namun seorang receptionis cantik mempersilakan mereka masuk begitu saja. Park Chanyeol jelas alasannya mungkin mereka mengenal Park Chanyeol.
"Kau ingin memesan apa Baek??" Suara berat itu membuyarkan lamunannya.
"Samakan saja denganmu." Baekhyun berujar singkat, sungguh dirinya begitu enggan membaca daftar menu yang berbahasa inggris. Ia tahu mengenai makanan italia namun penjelasan dalam bahasa inggris membuatnya pusing. Ia tidak menyukai bahasa Ratu Elizabeth itu.
Baekhyun kembali memandangi sekelilingnya mengabaikan Chanyeol yang entah memesan hidangan apa untuknya, hingga suara berat pria tinggi itu kembali mengambil atensinya. "Ceritakan tentangmu Baek." Park Chanyeol berbohong, ia tahu dengan jelas tentang keluarga Byun dari laporan Yesung pengacaranya. Namun mendengar dari bibir mungil Baekhyun terdengar lebih memuaskan.
"Apa yang ingin kau tahu Chan??" Baekhyun menopang dagu dengan satu tangannya.
"Apa saja, aku bersedia mendengarnya." Pria Park melihat dengan jelas tatapan si mungil yang menerawang, pikirannya seolah tidak pada tempatnya.
"Aku memiliki seorang kakak kembar non identik, ia gadis yang cantik." Ada begitu macam perasaan yang terpantul dalam binaran onxy itu, kagum, iri, sedih mungkin juga kecewa. Pria Park terdiam menunggu Baekhyun meneruskan kalimatnya.
"Byun Yejin, gadis yang pintar dan pandai bergaul. Keluarga kami begitu menyayanginya. Ahh Yejin bersekolah di XO Senior High School, kau tahu sekolah itu?? Sekolah impian semua murid di negeri ini." Tatapan kecewa itu semakin nampak jelas, benar Baekhyun kecewa bukan pada Yejin atau keluarganya tapi pada dirinya sendiri.
"Baek, sudah..." Baekhyun mengabaikan ucapan Chanyeol sebelum meneruskan kalimatnya.
"Orang tua kami tinggal di luar negeri, London lebih tepatnya. Ada beberapa masalah ah bukan Chan ada banyak masalah disana sehingga mereka tidak bisa membawa kami atau pulang ke Korea, Kami tinggal dengan paman dan bibi, Mereka bertindak penuh sebagai wali kami." Byun Baekhyun menghela napas dalam tanpa sadar bahwa cairan bening menetes dipipi pucatnya. Dia menjadi begitu menyedihkan dihadapan Park Chanyeol dan itu melukai harga dirinya.
"Paman dan bibi begitu bangga pada Yejin, kakakku juga banyak memiliki teman keren." Si mungil tidak ingin terlihat iri dengan semua yang dimiliki kakaknya namun kalimat - kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirnya seolah membenarkan rasa iri yang terpatri disudut hatinya.
Park Chanyeol masih terdiam, enggan menunjukkan reaksi namun tatapannya menunjukkan sesuatu yang berbeda. Mereka bahkan mengabaikan pramusaji yang menghidangkan makanan hingga kalimat berikutnya membuat pertahanan diri Chanyeol berada diambang batas.
"Dan itu membuatku muak dengan hidup ku Chan." Kalimat itu benar - benar lirih bahkan nyaris tak terdengar jika sedikit saja perhatian Chanyeol pada hal lain.
Emosi abu - abu menguasai dirinya begitu saja. Ia bahkan tidak tahu mengapa untaian cerita si mungil mengoyak pertahanannya dengan mudah. Park Chanyeol meraih tangan Baekhyun, menggenggamnya dengan erat sebelum kalimat sinting mengalir lancar dari bibirnya, "Kau ingin tinggal denganku Baek?? Aku bisa bertindak sebagai walimu."
Park Chanyeol mungkin benar malaikat dalam hidup memuakkan Byun Baekhyun namun sama seperti malaikat yang tak tersentuh, Park Chanyeol juga seperti itu. Dalam hatinya ia enggan memiliki hubungan apapun dengannya namun jika berhadapan langsung dengan pria Park, ia menjadi pihak yang kalah telak. Byun Baekhyun hanya terlalu takut jika suatu saat nanti Chanyeol menjadi pusat rotasi kehidupannya. Byun Baekhyun tahu hal itu sangat mungkin terjadi dalam waktu yang singkat jika mereka tetap bertemu entah dengan alasan apapun. Ia tidak ingin bergantung pada Pria tinggi itu, terlalu takut jika hari esok Chanyeol akan menghilang. Terlalu takut untuk menggenggam tangan seorang Park Chanyeol dalam kehidupan memuakkan Byun Baekhyun.
...
Hai... I'm back with new chapter, masih adakah yang menunggu random fic ini??? seriously thank you very much untuk semua yang readers yang berbaik hati memberikan review, follow dan favorite.
With Love,
Macchiato Chwang
