PLEASE SAVE ME

Cast :

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

Disclaimer :

I don't own the character but the story is mine

Macchiato Chwang proudly present

...

Fifth Chap - Something Called Pride

...

"Tidak!" Ucap Byun Baekhyun dengan nada tegas. Jawaban yang keluar dari bibirnya saat menanggapi kalimat sinting pria Park itu.

Pertama kalinya setelah mengenal Baekhyun, Chanyeol melihat tatapan mata tak terbantahkan itu. Suara tegas yang mengalun dari bibir si mungil seketika meruntuhkan emosi abu - abu yang sempat tersesat dihatinya. Itu melukai harga diri seorang Park Chanyeol yang tidak pernah ditolak namun yang dia tidak tahu bahwa harga diri Byun Baekhyun lebih terluka.

"Aku tidak semenyedihkan itu hingga memerlukan tempat untuk melarikan diri." Ya Byun Baekhyun tidak ingin seperti pengemis walaupun kenyataannya dirinya telah mengemis uang pada pria Park.

Pria tinggi itu segera melepas genggaman tangannya dari si mungil. Tatapan lembut yang tersaji sebelumnya berubah menjadi datar dan dingin menampilkan sosok Chanyeol yang biasanya begitu angkuh dihadapan orang lain. Sedikit - banyak - Baekhyun merasa menyesal dengan jawabannya. Jika dia tidak bisa memiliki apapun yang diinginkannnya setidaknya ia masih menjaga harga dirinya setinggi Mount Everest.

"Baiklah semua keputusan ada ditanganmu Baekhyun. Aku tidak akan memaksa apapun. Makanlah, setelah itu aku akan mengantarmu pulang." Mereka berdua berakhir menyantap hidangan dalam keheningan yang menyedihkan setidaknya bagi Baekhyun.

...

Suasana di dalam mobil begitu hening. Byun Baekhyun lebih memilih mengalihkan pandangannya keluar jendela. Park Chanyeol begitu fokus untuk menyetir. Mungkin lelaki itu bahkan tidak menganggap keberadaan si mungil.

"Kita sudah sampai." Ucapnya singkat. Lelaki tinggi itu tidak ingin repot hanya untuk sekedar menatap Baekhyun.

Baekhyun melepas seatbeltnya, memberanikan diri meraih tangan Chanyeol yang masih memegang stir kemudi dengan erat. "Terimakasih Chan dan selamat tinggal." Park Chanyeol tidak menatapnya bahkan hingga Baekhyun menghilang dibalik gerbang rumahnya.

Mungkin ini pertemuan terakhirnya dengan si pria tinggi. Dalam hati si mungil perasaan bersalah itu tetap ada, ia tidak seharusnya menolak tawaran Chanyeol dengan begitu angkuh seolah ia tidak memerlukan bantuan dari orang lain walaupun kenyataannya berbanding terbalik. Baekhyun sadar seharusnya ia menolak dengan lebih halus dan memberi sedikit penjelasan. Byun Baekhyun seperti membohongi dirinya sendiri, alasan sebenarnya bukan karena ia tidak ingin terlihat menyedihkan ia hanya terlalu takut bergantung pada Park Chanyeol. Paling tidak si mungil berhasil menyelamatkan harga dirinya seperti itu kan? Seharusnya seperti itu.

...

Suasana sarapan pagi keluarga Byun terasa lebih menyenangkan dibandingkan sebelumnya. Baekhyun bisa menebak penyebabnya, apalagi jika bukan tentang perusahaan. Mungkin Chanyeol sudah memenuhi ucapannya untuk memberikan suntikan dana pada perusahaan pamannya.

"Yejin-ah bagaimana sekolahmu?" Bibi byun menatap Byun Yejin dengan pandangan berbinar.

"Tentu saja baik bi, aku mendapat hasil tes terbaik dikelas untuk ujian tengah semester." Yejin menunjukkan senyum manisnya begitu mengingat pencapaiannya dalam ujian kali ini.

"Paman bangga padamu Yejin-ah. Baekhyun-ah, kau harus mencontoh Yejin. Perbaiki nilai ujianmu diakhir semester nanti." Paman Byun mengalihkan pandangannya pada si mungil yang terlihat sibuk dengan dunianya sendiri. Byun Baekhyun terlihat tidak ingin terlibat dengan pembicaraan apapun. Dia sudah sangat hapal dengan topik yang pasti dibahas. Siapa lagi jika bukan Byun Yejin dan semua prestasinya. Baekhyun bukannya iri dengan keberhasilan kakaknya. Ya Baekhyun hanya bosan. Benar ia tahu dirinya bosan bukan iri.

"Dan, kabar baik lainnya, perusahaan sudah mendapat suntikan dana. Kita semua bisa tetap tinggal di rumah ini." Paman Byun melanjutkan ucapannya tanpa berniat memendengar tanggapan Baekhyun.

"Benarkah? Bagaimana mungkin hal tersebut bisa terjadi? bibi pikir kita semua akan berakhir." Byun Baekhyun merasa lebih muak lagi dengan sandiwara ini. Ia yakin pamannya sudah memberitahu kabar ini kemarin. Seolah mereka hanya menunjukkannya didepan dirinya.

"Ini pasti karena Yejin begitu diberkati." Mereka semua tertawa mendengar jawaban paman Byun, yaa semua kecuali Byun Baekhyun.

Sialan, bahkan dia merendahkan harga dirinya untuk mengemis dihadapan Park Chanyeol. Bahkan jika itu belum cukup Baekhyun bahkan berencana menekuk lututnya didepan pria Park kemarin. Tapi pagi berikutnya pamannya justru berbicara omong kosong tentang Yejin yang diberkati. Bukan Yejin tapi Byun Baekhyun yang nyaris kehilangan harga dirinya, jika memang diberkati harusnya Byun Baekhyun bukan Byun Yejin.

Baekhyun ingin mengatakan semuanya. Berteriak dihadapan paman dan bibinya juga Yejin tentang bagaimana ia nyaris beku dan tak sadarkan diri demi suntikan dana sialan itu. Tapi Baekhyun membiarkan semuanya berlalu begitu saja. Memilih menyelesaikan sarapannya lebih awal dan mengucapkan salam tanpa minat yang tentu saja menghasilkan teguran keras dari bibinya namun diabaikannya. Baekhyun terlalu malas mendengar lebih banyak omong kosong.

...

Si mungil memasuki gerbang sekolahnya dengan perasaan tercekik. Ia tidak begitu menyukai sekolahnya namun ia tidak bisa mengatakan hal itu begitu saja. Terlalu kekanakan, Baekhyun menyadarinya.

Hanya beberapa langkah dari gerbang sekolahnya, si mungil memilih berbalik mengabaikan tatapan heran dari teman - temannya.

'Park Chanyeol sialan, berhentilah membuatku merasa bersalah...'

'Berhenti memberi tatapan dingin itu..'

Byun Baekhyun mempercepat langkahnya hingga nyaris berlari. Ia berakhir lagi di tempat yang sama seperti kemarin. Di depan gedung pencakar langit EMPIRE. Si mungil tidak tahu mengapa ia kembali ke tempat itu, seolah hatinya memiliki keputusan tersendiri tanpa melibatkan pikirannya dan kakinya melangkah begitu saja.

'Byun Baekhyun bodoh... Untuk apa kau kemari eoh???'

'Berharap saja kau bisa menemuinya lagi...'

'Tidak tahu malu setelah menolak bantuannya dengan angkuh, sekarang apa lagi yang kau harapkan byun???'

Sekelebat pemikiran buruk itu silih berganti singgah. Untuk pertama kalinya Baekhyun merasa begitu menyesal atas tindakannya. Bahkan jika sekarang ia merasa harga dirinya terselamatkan, untuk apa semua itu jika dalam hatinya masih dipenuhi pergulatan.

"Bodoh!" umpat Baekhyun pada dirinya sendiri.

Tapi Byun Baekhyun tetap Byun Baekhyun, keras kepala mungkin akan menjadi nama tengahnya. Si mungil memutuskan kembali memasuki EMPIRE Building, kembali mengabaikan tatapan mencemoh orang-orang. Dia menghampiri meja reseption dengan pandangan percaya diri meskipun dalam hatinya masih diselimuti keraguan. Baekhyun hanya tahu bahwa dirinya perlu bertemu Park Chanyeol, Byun Baekhyun butuh bicara dengan pria tinggi itu.

"Selamat pagi nona, saya ingin bertemu dengan Park Chanyeol." Baekhyun mengucapkannya tanpa basa - basi. Wanita dibalik meja itu menoleh, Baekhyun masih mengingatnya. Reseptionis yang sama seperti kemarin bedanya jika kemarin wanita itu memberi tatapan merendahkan padanya kali ini senyum profesional yang tersaji disudut bibirnya.

"Maaf tuan Byun, Tuan Park sedang tidak berada ditempat." Wah Baekhyun merasa kagum, reseptionis itu bahkan tahu namanya dan menjawab pertanyaannya dengan bahasa formal. Namun jawaban itu seketika membuat dirinya kecewa.

"Kemana?" Tanya si mungil. Tatapan kecewa tampak begitu jelas.

"Maaf kami tidak bisa memberitahu keberadaan tuan Park kepada sembarangan orang." Sekali lagi Baekhyun merasa dihempaskan lebih dalam. Benar memangnya siapa dirinya hingga ia berhak mengetahui keberadaan seorang Park Chanyeol? Byun Baekhyun hanya random people yang kebetulan mengenal Chanyeol yang dengan keberuntungannya jika dibantu oleh Chanyeol. Jika inncident pencurian first kiss tidak dihitung.

Byun Baekhyun hanya tidak tahu, kebenarannya hampir semua orang di dalam gedung tersebut tidak mengetahui keberadaan Park Chanyeol. Tidak berada ditempat hanyalah alasan yang diberikan kepada orang luar.

"Terima Kasih nona Hyun J. Lee." Baekhyun mengucapkannya dengan setengah hati lalu pergi tanpa menunggu balasan.

...

'Sialan dimana sebenarnya kau Chan??'

Baru kemarin mereka melewati hari bersama. Baekhyun masih mengingat dengan jelas bagaimana Chanyeol melepas ikatan tali sepatunya, saat Chanyeol menggenggam tangannya, juga tatapan lembut yang kemudian menghilang dalam sekejap karena jawaban angkuh yang keluar dari bibirnya, lalu pagi berikutnya Park Chanyeol menghilang begitu saja.

"Jadi kemarin benar - benar ucapan selamat tinggal?" Baekhyun bergumam pelan, denyutan nyeri begitu terasa disudut hatinya.

'Selamat tinggal Chanyeol.. Terima kasih.. Annyeong..'

...

Entah sudah berapa waktu terlewati semenjak pertemuan terakhir mereka. Baekhyun tidak ingin mengingatnya. Baekhyun hanya merasa tidak perlu untuk berkubang dalam penyesalan terlalu lama. Mungkin pertemuan mereka hanya kebetulan, mereka hanya dua orang yang tersesat dalam roda perputaran, Baekhyun dengan segala rasa muaknya dan Chanyeol dengan segala pikiran dan sikap tak terbaca.

"Baek, boleh aku masuk?" Suara ketukan pintu diikuti suara kakaknya terdengar mengalun merdu ditelinga si mungil.

"Tentu, masuk saja Yejin-ah." Baekhyun memang tidak pernah memanggil kakak kembar non identiknya dengan panggilan nuna.

"Ada apa Yejin-ah?"

"Aku tidak tahu bagaimana harus mengatakan ini, sebenarnya aku hanya ingin bercerita. Paman dan bibi terlalu tua untuk mendengar ini jadi..." Oh ayolah ini terlalu berbelit - belit bagi Baekhyun. Mereka juga tidak sedekat itu untuk berbagi cerita tapi Baekhyun lebih memilih diam menunggu apa yang akan diucapkan kakaknya.

"Aku bertemu seseorang di sekolah, dia tinggi, tampan dan telinganya sedikit lebar. Aku bertemu dengannya di ruang Kepala Sekolah." Byun Yejin menjeda kalimatnya seolah menunggu tanggapan Baekhyun.

"Kau kagum atau menyukainya?" ucap Baekhyun langsung keinti pembicaraan.

"Yeoksi uri Baekhyun. Ya aku pikir seperti itu, dia memiliki tatapan mata tajam. Kami berbincang beberapa saat, dia banyak bertanya tentang kegiatan siswa di XO High School. Kau tahu Baek kami bahkan sempat berkenalan walaupun aku tidak sempat bertanya untuk apa dia ingin mengetahui tentang XO High School." Yejin tersenyum lebar mengingat pertemuannya dengan orang itu.

"Siapa dia?" Baekhyun sebenarnya merasa orang yang dimaksud Yejin sama dengan seseorang yang ada dalam pikirannya namun hatinya menolak dengan tegas. Banyak. orang yang memiliki ciri - ciri umum seperti itu.

"Chanyeol. Ia bilang namanya Park Chanyeol." Sekali lagi dunia Byun Baekhyun runtuh meninggalkan goresan menyakitkan.

'Ah seperti ini akhirnya.. Park Chanyeol dan Byun Yejin..'

Pertama kalinya Baekhyun ingin mengakui dirinya iri dengan Yejin. Meskipun kenyataannya Park Chanyeol dan Byun Yejin tidak lebih dari bertukar nama. Untuk Byun Baekhyun setiap orang yang mengenal kakaknya pasti merasa tertarik pada gadis itu. Mungkin Park Chanyeol juga begitu tidak ada pengecualian.

'Memang kau siapa Byun Baekhyun sampai berhak merasa sakit.. Kau hanya random people..'

...

Holla Macchi is back. Masih adakah yang menunggu random pict ini??

Oh yaa untuk readernim yang minta diperpanjang, maav karena belum bisa macchi penuhi permintaannya. macchi ngetik dari ponsel harap permaklumannya yaa.

Oh ya Maav juga karena tisak mention readernim satu persatu tapi macchi baca semua review dan itu buat macchi semangat. special buat deppsoohh Thanks so much buat kata" penyemangatnya. Untuk semua readernim thank you very much #hug

Last one, Apa reader ingin fic ini tetap update selama bulan puasa atau tidak? mungkin chapter selanjutnya belum ada mature content well kalau hug and kiss tidak masuk hitungan.

Selamat menjalankan puasa bagi readernim yang merayakan.

With Love,

Macchiato Chwang