PLEASE SAVE ME
Cast :
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
Disclaimer :
I don't own the character but the story is mine
Macchiato Chwang proudly present
...
Sixth chap : Just Two Of Us
...
Byun Baekhyun memutuskannya setelah beberapa hari pembicaraan atau lebih tepatnya curhatan hati Byun Yejin. Dia tidak akan mengalah kali ini. Tidak setelah semua yang ia lalui dan setelah semua yang dimiliki Yejin. Park Chanyeol bukan miliknya juga bukan milik Byun Yejin hanya dengan sekali pertukaran nama. Tapi bisakah kali ini ia egois? Tidak Baekhyun sepenuhnya sadar ia tidak menyukai pria tinggi itu, rasa posesif dan tidak rela muncul murni karena rasa iri dengan kakak kembarnya. Sebab Baekhyun dengan jelas tahu bahwa setiap orang akan memilih Yejin dibandingkan dengannya. Tapi bisakah Park Chanyeol adalah sebuah pengecualian? Walaupun hatinya berbisik sebaliknya.
Dengan tekad yang penuh Baekhyun mengetuk pintu kamar kakaknya. Sekali ini ia ia tidak mengalah walau sebenarnya Byun Baekhyun memang tidak mengalah, Yejin mengalahkannya. Ia akan membuat semuanya jelas. "Nuna boleh aku masuk? Ada yang ingin aku bicarakan." Ucap si mungil lugas sesaat setelah mengetuk pintu kamar kakaknya.
"Masuklah Baek." Terdengar seruan dari dalam, Byun Baekhyun masuk dengan langkah yang mantap. Sesaat pandangannya menyapu setiap sudut kamar kakaknya. Nuansa putih dengan degradasi merah muda begitu mendominasi. Miniatur icon terkenal dunia juga tampak berjejer disamping meja belajar kakaknya, Menara Eiffel, Menara miring Pisa, Colosseum, entah apalagi ia hanya melihatnya sekilas. Dideretan meja belajar beberapa novel terjemahan juga kamus besar oxford yang entah tebalnya berapa senti. Byun Baekhyun sungguh tidak tertarik. Ia sudah bilang sebelumnya bukan, dirinya tidak menyukai bahasa negeri ratu Elizabeth itu.
"Ada apa Baek? Tidak biasanya kau kemari." Mereka berdua jarang berkunjung. Tidak ada alasan untuk saling mengunjungi walaupun mereka berada ditingkat yang sama. Belajar bersama seharusnya menjadi alasan yang bagus namun Yejin tidak akan pernah membantu Baekhyun belajar dan Baekhyun tidak sudi meminta bantuan kakaknya.
"Mengenai pembicaraan kita beberapa waktu lalu." Byun Baekhyun memulai pembicaraan.
"Park Chanyeol maksudmu?" Yejin mengernyitkan dahinya.
"Benar. Aku mengenalnya, orang yang kau bilang tampan dan kau kagumi itu aku mengenalnya." Byun Baekhyun menatap tepat iris kakaknya dengan sorot meyakinkan.
Diluar dugaan si mungil, Yejin justru tertawa terbahak seolah dirinya melemparkan lelucon yang begitu menggelikan. "Astaga Baek aku tidak tahu ternyata kau memiliki selera humor yang baik. Kita seharusnya lebih sering bercanda."
"Aku tidak sedang bercanda nuna. Aku memang mengenalnya." Si mungil mengepalkan tangannya menahan emosi yang tiba-tiba menguasainya entah darimana. Memangnya ada yang salah jika ia mengenal pria dengan marga Park yang dibicarakan kakaknya tempo lalu.
"Tidak, orang yang kau kenal pasti berbeda dengan yang aku maksud. Lagipula nama Chanyeol begitu pasaran di negeri ini. Kau tidak mungkin mengenalnya Baek. Chanyeol yang ku maksud adalah pria dengan tinggi lebih dari seratus delapan puluh senti mungkin, rahang tegas, telinga lebar dan tentu saja wajah yang serupa dengan pahatan dewa Yunani." Yejin mengatakannya seolah Baekhyun tidak pantas mengenal orang yang begitu rupawan. Hanya sekilas tapi Baekhyun tahu sudut bibir Yejin sempat melengkung naik dan nada bicara yang digunakannya, sebutlah Baekhyun sensitif karena ditelinganya suara Yejin terdengar mencemoh.
"Benar Chanyeol yang kau bicarakan dan Chanyeol yang ku kenal adalah orang yang sama. Lalu ada yang salah jika aku memang mengenalnya? Bukan hanya nuna yang berhak mengenal seseorang yang serupa dengan pahatan dewa Yunani." Baekhyun meninggikan nada bicaranya sekaligus mengikuti perumpamaan kakaknya.
"Kenapa kau meninggikan suaramu? Aku tidak mengatakan kau tidak berhak tapi tidak mungkin untukmu mengenalnya. Kau memiliki bukti? Lalu apa poin dari pembicaraan ini?" Yejin mulai kehilangan kesabarannya. Sesungguhnya gadis itu memang tidak pernah bersahabat dengan kata sabar.
"Aku juga mengaguminya bahkan aku mengenalnya lebih awal daripada nuna. Kami melewati banyak hal. Selamat malam Byun Yejin." Baekhyun pergi tanpa menunggu balasan kakaknya. Benar - benar tipikal si mungil. Setidaknya ia sudah menjelaskan secara tersirat keinginannya tentang pria Park dan Yejin dengan otak pintarnya pasti mudah memahami perkataan Baekhyun.
"Baek kau pasti salah karena Park Chanyeol yang aku tahu bahkan terlalu tinggi untuk mengenal rakyat jelata sepertimu. Tidak ada situasi atau takdir apapun yang mungkin mempertemukan kalian. Berhentilah berkhayal Baek, mungkin Chanyeol yang kau kenal adalah sopir taxi yang kebetulan kau tumpangi atau salah satu kakak kelas berandal yang ada di sekolahmu. Sedangkan Park Chanyeol yang ku kenal adalah seseorang yang berada dipuncak hirarki. Kau bahkan tidak sanggup untuk menatapnya.."
...
Byun merasakan jantungnya berdebar setelah kebohongan yang lancar terucap dari bibirnya. Ia tidak sepenuhnya berbohong bukan? Ia memang mengenal Park Chanyeol lebih awal dari Byun Yejin meskipun belum terlalu lama. Semua yang mereka lewati bukankah layak disebut dengan kata banyak. Park Chanyeol bahkan membantunya, keluarganya dengan taruhan jatuh miskin setidaknya itu yang ia dengar.
Tapi sekarang ia tidak mengetahui keberadaan pria tinggi itu. Ditambah Yejin ingatkan juga dengan hubungan mereka yang berakhir setelah penolakan si mungil dan selamat jika seseorang mengingatkan Baekhyun dengan semua itu, orang tersebut sukses mendorong si mungil dititik akhir.
...
"Tuan muda ada yang ingin saya sampaikan." seseorang mengintrupsi pembicaraan Park Chanyeol yang sedang melakukan komunikasi international. Chanyeol melemparkan tatapan tajam namun hanya dibalas dengan senyuman kotak. Dia memutuskan sambungan setelah mengucapkan beberapa kalimat dalam bahasa planet yang tidak dimengerti.
"Apalagi sekarang Chen? Jika ini bukan hal yang penting akan kupenggal kepalamu." Ucap Chanyeol dengan nada datar meskipun kalimatnya penuh dengan ancaman. Pria yang dipanggil Chen hanya memberikan dengusan kesal. Chen boleh saja memberi sapaan hormat dan bahasa formal namun hubungan keduanya lebih seperti saudara.
"Ini tentang Byun Baekhyun. Seseorang melaporkan Baekhyun mendatangi EMPIRE dan mencari anda tuan muda." Chen memulai laporannya.
"Pertama hentikan kata tuan muda itu sangat mengganggu dan biarkan saja aku tidak memiliki urusan lagi dengannya." Ucap Park Chanyeol dengan nada malas, raut wajahnya sama sekali tidak berubah. Mungkin inilah hasil dari persahabatan Park Chanyeol dengan orang - orang yang berwajah datar lainnya. Lupakan hal tidak penting itu. Chen lebih tertarik dengan kata biarkan yang mungkin memiliki lebih dari satu makna dalam kamus seorang Park Chanyeol.
"Baiklah hyung?" nada ragu terdengar dengan jelas.
"Kau boleh memanggilku seperti itu selama kita tidak berada di perusahaan atau dalam pertemuan formal." Benar mereka saat ini berada di mansion pribadi Park Chanyeol. Kediaman mewah nan megah, ohh apa bahasa yang lebih keren daripada itu elite? luxury?
"Chen ada seseorang yang menarik perhatian, Byun Yejin kakak kembar non identik Baekhyun. Ia gadis yang menarik. Byun Baekhyun sudah pernah bercerita secara singkat tentang Yejin padaku dan aku ingin kau mendongeng tentang Yejin, empat jam dari sekarang!" Chanyeol melirik arloji yang melingkar ditangan kirinya sebelum menatap Chen yang tampak bergegas keluar dari mansion tanpa pamit.
Chanyeol terkekeh mengabaikan sikap tidak sopan Chen yang pergi begitu saja. Dirinya yakin pria itu bahkan mengumpatinya dengan kata sialan atau makian sampah lainnya atas perintah seenaknya yang baru ia berikan. Tapi siapa yang berani berkata tidak jika Park Chanyeol berkata ia. Siapa yang tidak setuju jika pria tinggi itu mengatakan setuju. Park Chanyeol dengan kekuasaannya yang mengerikan namun tak tampak dipermukaan.
...
Bagi seorang Kim Jongdae atau yang lebih akrab disapa Chen menjadi asisten seorang Park Chanyeol terasa semakin berat setiap harinya. Menerima perintah yang kadang random terutama jika Park Chanyeol sedang tertarik terhadap sesuatu.
Mendongeng adalah kata lain dari memberi laporan hingga detail remehnya. Park Chanyeol benci keterlambatan bahkan jika itu hanya beberapa detik. Ia kadang bertindak dengan begitu arogan namun Chen sadar semua itu memiliki alasan yang kuat dan Chen hanya berharap sekarang Park Chanyeol juga memiliki alasan yang sama kuat atau penting selain kata tertarik yang juga memiliki banyak makna. Sial kenapa satu kata bisa berarti begitu banyak dalam kamus seorang Park Chanyeol.
...
Byun Baekhyun baru saja sampai diujung tangga terakhir untuk makan malam bersama ketika suara pamannya menghentikan langkah si mungil. "Ganti pakaianmu Baek, kita akan makan malam diluar."
"Oh kenapa mendadak? Tapi bibi tetap menyiapkan makan malam." Baekhyun bertanya dengan raut wajah bingung sebab dimeja makan beberapa hidangan sudah tertata rapi.
"Bibimu dan Yejin tidak ikut Baek. Hanya paman dan kau saja lagipula ini makan malam dengan salah satu investor." Kemajuan macam apa ini? Kenapa dirinya terlibat dengan urusan perusahaan sekarang? Apa ia patut bersyukur untuk semua ini?
"Kenapa kau melamun? Cepat ganti pakaianmu Baek." Suara pamannya membuyarkan lamunan Baekhyun. Sementara bibinya dan Yejin nampak tidak tertarik dengan pembicaraan mereka walaupun Baekhyun sempat menangkap tatapan simpati yang dilemparkan bibinya. Tapi untuk apa? Memangnya dia terkena musibah.
"Baiklah tunggu beberapa menit. Aku akan berganti." Baekhyun tidak memiliki pilihan bukan, entah ini awal yang baik ataupun sesuatu yang buruk ia tetap harus melakukannya.
Sekitar sepuluh menit Baekhyun turun dengan penampilan yang lebih rapi. Pakaian semi formal bagaimanapun ia tidak ingin terlihat begitu kaku namun juga tidak ingin dinilai lancang. Baekhyun juga menata rambutnya, ini makan malam dengan orang penting tentu saja harus rapi begitulah pemikiran sederhana si mungil.
"Paman tidak tahu jika kau semenarik ini Baek, seharusnya kau berpenampilan rapi sejak dulu itu akan mempermudah semuanya tapi tidak masalah belum terlambat." Baekhyun hanya memberikan dengusan tidak percaya sebagai jawaban. Mimpi apa ia semalam hingga pamannya memuji atau mungkin ada apa dengan hari ini?
...
Waktu yang mereka tempuh sekitar satu jam dan pamannya banyak memberikan wenjangan kepadanya tentang tidak boleh menyela pembicaraan seseorang dan dia harus menggangguk saja jika sang investor mengatakan sesuatu dan jangan memalukan keluarga. Baekhyun mengingat dengan jelas walaupun ia mendengarkan dengan setengah hati.
Viva Polo entah ini hanya kebetulan atau memang takdir yang terjalin rumit. Baekhyun terdampar di restaurant yang sama dengan tujuan yang berbeda juga dengan orang yang berbeda. Kali ini dirinya tidak duduk ditempat makan biasa melainkan keruangan khusus sepertinya ruangan VIP. Seorang pria tinggi menyambut mereka dengan senyuman ramah.
"Tuan Hwang maaf atas keterlambatan ini dan membiarkan anda menunggu lama." Mereka saling berjabat tangan dengan basa - basi khas seorang pengusaha.
"Bukan masalah sama sekali tuan Byun dan inikah keponakan anda? Byun Baekhyun? Ia sangat menarik." Tuan Hwang mengalihkan pandangannya kearah Baekhyun. Kilatan yang aneh dimata pria itu sempat membuat Baekhyun tidak nyaman sebelum berganti dengan pandangan ramah.
"Benar saya Byun Baekhyun." Baekhyun mencoba memperkenalkan dirinya dengan ramah.
"Sudah jangan terlalu kaku, kita berbincang dengan santai saja." Tuan Hwang justru menarik tangan Baekhyun untuk duduk dikursi disampingnya sementara si mungil mencoba melepaskan tangannya yang dihadiahi tatapan tajam dari sang paman. Setelah beberapa detik akhirnya genggaman tangannya dilepas. Baekhyun menggosokkan tangannya pada ujung segitiga table cloth jatuh menjuntai disamping meja. Jujur saja ia merasa jijik dengan sikap tidak sopan tuan Hwang.
"Ah maaf tuan Hwang sepertinya saya harus pergi ada beberapa hal yang harus saya urus. Tidak apa - apa bukan jika Baekhyun saja yang menemani anda makan malam." Sepertinya paman Byun berniat mengirim si mungil ke neraka.
Belum sempat Baekhyun menyampaikan penolakan tegasnya lantaran rasa terkejut pamannya sudah menghilang dibalik pintu. Baekhyun mengalihkan tatapan matanya kepada tuan Hwang, pandangan ramah tergantikan oleh kilatan mata mengerikan. Kilatan sebelumnya kembali dan Baekhyun begitu terlambat mengenalinya sebagai tatapan nafsu.
Byun Baekhyun baru saja akan berdiri untuk bergegas pergi sebelum tuan Hwang menggenggam tangannya dengan begitu erat dan menahan pundaknya.
"Kau mau kemana manis? Kita bahkan belum menikmati hidangan yang tersaji atau kau ingin langsung ke menu utama?" Ucapan khas pria bajingan mengalir lancar.
"Saya tidak memiliki waktu untuk hal tidak penting seperti ini." Baekhyun berusaha menahan tangan kirinya untuk tidak menampar pria tua dihadapannya.
Tuan Hwang tertawa mengerikan mendengar ucapan naif yang keluar dari bibir Baekhyun. "Tapi pamanmu memberikan waktumu untukku bukan hanya waktu tapi yang lainnya juga, kau mengerti maksudku bukan? Jika tidak, kita lebih baik mempratikkannya saja. Orang dewasa lebih menyukai praktik daripada penjelasan."
Tindakan tuan Hwang semakin kurang ajar saat ia justru menempelkan tangan kanan Byun Baekhyun kepipi berminyaknya sebelum mengecupnya dengan menjijikkan. Byun Baekhyun dengan gerak refleksnya meraih hidangan berkuah didepannya lalu melemparkannya dengan tangan kirinya kewajah tuan Hwang. Pria tua itu melepas genggaman tangannya dan Byun Baekhyun mendorong kursi hingga tuan Hwang jatuh.
"Pergilah ke Neraka!!" maki si mungil sebelum keluar dari ruangan itu. Beruntung baginya karena pintu tidak dikunci.
...
Wajah penuh kemarahan berganti dengan kesedihan yang begitu mendalam. Kekecewaan dan rasa jijik yang menyergapnya. Aliran dipipinya sengaja tidak ia hapus bukan untuk mencari perhatian walaupun pengujung lainnya sudah menatap kearahnya tapi ia merasa jijik dengan tangannya. Bayangan tentang apa yang baru saja ia alami masih terlintas segar dalam ingatannya.
Matanya yang berembun menjadikan pandangan tidak fokus dan berakhir dengan menabrak seseorang tepat dipintu keluar restaurant.
"Maaf aku, aku tidak sengaja." Ucap si mungil dengan suara serak dan kalimat yang kacau. Ia masih belum mendongakkan kepalanya sementara isakan demi isakan lolos dari bibirnya.
"Baek..." Suara dalam yang ia kenali. Seperti suara malaikat dalam hidupnya. Baekhyun mendongak dengan cepat. Dihadapannya pria yang ia cari beberapa waktu lalu pria yang menghilang begitu saja. Baekhyun tidak tahu apakah dirinya harus merasa lega atau mengutuk takdir yang mempertemukan mereka disaat yang tidak tepat.
Belum sempat ia mengatakan apapun seruan keras yang memanggil namanya membuat ia menoleh. Pria tua itu dan beberapa bodyguard berwajah sangar berjalan kearahnya.
Baekhyun dengan cepat menarik jas Park Chanyeol dengan tangan kirinya meraih atensi pria itu. "Tolong sembunyikan aku, tolong bawa aku pergi. Aku takut. Aku... Chan tolong.."
Chanyeol yang tidak memahami situasi hanya mengikuti ucapan si mungil. pria tinggi itu meraih tangan kanan Baekhyun, sebelum si mungil dengan cepat menjauhkannya sebagai gantinya ia menggengam tangan Chanyeol dengan tangan kirinya.
Chanyeol menyadari semua itu juga tangan kiri Baekhyun yang memerah dan terasa panas dalam genggamannya tapi tidak menanyakannya. Mereka tidak memiliki waktu untuk itu, Chanyeol memberi kode pengawalnya yang ternyata sudah menyebar dengan matanya sebelum menuntun Baekhyun ke parkir bawah tempat mobilnya.
"Chan, bisakah kita berlari." Suara parau dan isakan tangis si mungil masih setia mengiringi langkah mereka.
"Tenang saja mereka tidak akan mengejar kita Baek." Park Chanyeol melepas genggaman tangannya lalu berganti meraih bahu Baekhyun, merangkulnya. Saat itulah Chanyeol sadar bahwa tubuh Baekhyun bergetar. Sial apa saja yang pemuda itu lewati dalam waktu singkat hingga membuatnya berada dalam keadaan semenyedihkan ini.
Mereka sampai setelah berjalan kurang dari dua menit, yang justru Baekhyun rasakan selama berjam - jam. Chen yang duduk dikursi kemudi terkejut menyadari kehadiran tuan mudanya. Ia baru saja akan menyusul tapi sekarang atasannya berada didepannya dengan Byun Baekhyun yang menangis hingga wajahnya memerah. Chen bergegas membuka pintu dikursi penumpang. Baekhyun masuk lebih dulu sementara Chanyeol mengitari mobil dan masuk lewat pintu yang satunya. Chen masih berdiri diluar, ia sadar mereka berdua membutuhkan privasi.
"Baek apa yang terjadi?" Mereka duduk berhadapan. Tangisan si mungil belum mereda.
Chanyeol berusaha meraih tangan Baekhyun tapi si mungil kembali menjauhkannya. Chanyeol memberikan sedikit intimidasi dan pandangan penuh tanya untuk membuat Baekhyun berbicara.
"Aku takut kau jijik dengan tangan ku karena aku sendiri juga merasa jijik." Tubuh Baekhyun bergetar karena rasa takut.
Sial. Park Chanyeol tahu Baekhyun melewati sesuatu yang mengerikan dan ini pasti berkaitan dengan pria tua yang menyerukan nama pemuda mungil itu. Park Chanyeol bergegas menyelipkan tangannya kebawah lengan Baekhyun, mengangkat tubuh si mungil hingga duduk dipangkuannya. Isakan Baekhyun menjadi lebih keras dan memilukan ditelinga Park Chanyeol. Byun Baekhyun kemudian memeluk Chanyeol dengan erat seolah tidak ada hari esok, menyampaikan perasaan kalut yang menyanderanya.
"Katakan padaku Baek, apa yang ia lakukan padamu?" Park Chanyeol masih bisa berucap dengan lembut sementara emosinya sudah terbakar habis. Ia bersumpah akan melakukan sesuatu pada pria tua itu.
"Itu menjijikkan Chan, ia menggenggam tanganku lalu, lalu mengusapkan kepipi.. Ia juga mencium tanganku.. Chan aku jijik..." Baekhyun bercerita dengan kacau namun Chanyeol tetap mengerti. Park Chanyeol ingin mengumpat dan bertindak kasar tapi masih cukup sadar untuk tidak membuat si mungil merasa takut berlebih.
Satu hal yang tidak disangka pria tinggi itu ketika Baekhyun melepas pelukan eratnya lalu menatap tepat iris Park Chanyeol. "Apa aku semurahan itu Chan? Apa Karena itu paman melemparkan ku pada pria tua itu? Apa kau juga menganggap ku murah saat aku mengemis padamu Chan?"
Tatapan mata kosong, Baekhyun berada dipangkuannya namun jiwanya seolah menghilang ditelan ketakutan, kesedihan dan rasa rendah diri. Park Chanyeol tahu saat ini pembantahan seperti apapun atau pujian setinggi apapun tidak akan menyembuhkan harga diri dan perasaan Baekhyun yang terluka. Jiwa Baekhyun terguncang.
Apa yang harus ia lakukan? Park Chanyeol tidak pernah berhadapan dengan situasi semacam ini. Pria Park hanya mengikuti nalurinya ketika ia memutuskan menghapus aliran dipipi si mungil lalu meraih tangan kanannya yang menghasilkan pemberontakan yang justru diabaikan pria tinggi itu. Park Chanyeol mengenggam tangan si mungil semakin erat, mengusapkan kepipinya dan berakhir dengan mengecupnya lembut.
Pria Park melakukan hal yang sama persis dengan pria tua itu lakukan kepadanya hanya ada satu yang berbeda bukan kilatan nafsu tapi tatapan lembut namun tegas seolah memberi Baekhyun kekuatan untuk keluar dari kegelapan yang mengurung jiwanya. Menarik seluruh atensinya. Ketakukan, rasa rendah diri lenyap saat kalimat berikutnya meluncur dari bibir Park Chanyeol, "Jika kau semurah itu aku sudah menarik mu ke tempat tidur ku saat itu juga, tapi tidak aku lebih memilih mendengarkanmu, menanti setiap cerita yang mengalir dari bibirmu sembari berpikir apa yang bisa aku lakukan untukmu setelahnya. Karena kau istimewa. Kau dengan semua yang ada pada dirimu sebegitu berharga dimata ku Baek. Jadi berhenti menganggap dirimu rendah."
Tolong siapapun ucapkan selamat kepada seorang Park Chanyeol karena ia meraih jiwa Byun Baekhyun. Lebih dari semua itu Park Chanyeol sukses menjadikan dirinya pusat rotasi dari kehidupan Byun Baekhyun mulai detik ini.
Untaian kalimat Byun Baekhyun menjadi bukti yang menguatkan, "Apa tawaranmu masih berlaku Chan? Kau bilang kau bisa bertindak penuh sebagai waliku? Apa aku bisa mendapatkan tawaran itu kembali??"
...
Halo semuanya, pertama macchi ingin menyampaikan klarifikasi agar readernim tidak salah paham, macchi tidak berpuasa tapi macchi setulus hati memberi semangat untuk readernim yang berpuasa.
Kedua, akhirnya bisa menulis lebih panjang jadi permintaan readernim sudah terpenuhi yaa.
Sebenarnya macchi tidak ingin bersambung disini tapi scene berikutnya agak menjurus walaupun bukan "naena" jadi macchi cut itu untuk chapter berikutnya, mungkin macchi publish selepselepas puasa bagaimana?? Oh yaa terima kasih untuk support kalian semua. Macchi terharu. hug readernim..
Sincerely,
Macchiato Chwang
