PLEASE SAVE ME
Character :
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
Disclaimer :
I don't own the character but the story is mine
Macchiato Chwang proudly present
...
Seventh Chap - Hands for Me
...
Baekhyun tidak tahu bagaimana dirinya berakhir seperti ini. Duduk manis diatas ranjang Park Chanyeol dan mengenakan piyama milik pria itu.
Seingat Baekhyun dirinya masih berada dimobil Chanyeol saat bertanya mengenai tawaran pria itu.
"Ah benar tawaran itu, Chanyeol belum menjawabnya.. Mungkin saja bantuan itu tidak berlaku lagi.."
Byun Baekhyun dengan segala pemikiran buruknya. Oh anggap saja pria mungil itu tidak bisa berpikir dengan benar saat ini. Otaknya yang memang tumpul ditambah dengan kejadian buruk yang baru dialaminya tidak membantu apapun.
"Baek, kau baik?" Baekhyun menatap Chanyeol terkejut. Pria mungil itu bahkan tidak menyadari kehadiran Chanyeol, Baekhyun begitu sibuk dengan lamunannya.
"Baek.. Apa ada yang sakit?" Chanyeol menyentuh pipinya lembut. Tatapan mereka saling terpaut seolah mencari jawaban untuk pertanyaan yang bahkan tidak diketahui.
"Aku tidak tahu Chan." Balas si mungil bingung, Baekhyun masih terkejut dengan semuanya.
Pikirannya kembali melayang berandai-andai. Seandainya ia menerima tawaran Park Chanyeol dari awal dia tidak akan terjebak oleh pamannya. Dirinya tidak akan dilempar seperti jalang ketangan pria tua itu. Niat Baekhyun hanya ingin menyelamatkan sedikit harga dirinya yang tersisa namun justru berakhir di kubangan lumpur.
'SIALAN!!!' makinya dalam hati.
"Baek, hei sudah Baek tidak akan terjadi apapun. Semuanya sudah berlalu. Kau akan baik - baik saja disini -bersamaku- " Baekhyun kembali berputar dengan pikiran egoisnya.
Tentu saja mudah bagi seorang Park Chanyeol mengatakan hal itu. Bukan ia yang mengalaminya, Oh memangnya siapa yang akan berani memperdaya Seorang Park bahkan hanya dengan tatapan tajamnya mampu membuat lawannya ketakutan. Namun Baekhyun kembali menepis pemikiran tersebut tidak ingin mengulang kesalahan untuk kedua kalinya hanya karena keegoisannya.
Mungkin bagi Byun Baekhyun, Chanyeol terlihat tenang saat ini namun sebenarnya Chanyeol lebih marah dari siapapun. Pemuda tinggi itu bahkan sudah bersumpah pada dirinya, ia akan menyelesaikan semuanya bahkan hingga setitik debu pun tak akan tersisa.
Pemuda bermarga Byun itu meremas ujung piyamanya dengan perasaan ragu, sementara tangan besar pria Park masih membelai wajahnya.
"Chan, apa yang kau katakan sebelumnya apa aku masih bisa mendapatkannya?" Keraguan jelas tersirat dari pertanyaan si mungil yang cenderung berbelit. Baekhyun hanya bingung bagaimana harus menyampaikannya.
"Kita akan membahasnya besok Baek saat kau sudah lebih tenang dan bisa berpikir dengan kepala dingin." Bohong, Park Chanyeol berbohong dibandingkan dengan Baekhyun mungkin kepalanya lah yang tidak bisa berpikir dingin, yah mungin saja ada kepulan asap tak terlihat diatas kepalanya.
Melihat raut ketakutan diwajah si mungil setelah mendengar jawabannya membuat Chanyeol menghela napas, Baekhyun menyadarinya namun sepertinya ia salah paham. Baekhyun mmengira Chanyeol terganggu karena terus-terusan menanyakan hal yang sama.
"Maaf Chan, aku tidak akan bertanya lagi." Kepala si mungil semakin tertunduk. Jadi seperti ini, hanya sampai disini uluran tangan seorang Park Chanyeol padanya. Baekhyun tidak memiliki hak untuk terus menuntut sedangkan Chanyeol tidak harus bertanggung jawab untuk dirinya. Baekhyun sadar hal itu lebih dari siapapun, tapi bagaimana ini Park Chanyeol adalah pusat rotasinya sekarang.
Chanyeol sepertinya paham akan pemikiran negatif Baekhyun. Pria tinggi itu menarik Baekhyun kedalam pelukannya. Mendekap si mungil dengan erat. Menyandarkan kepala si mungil didada bidangnya sementara tangannya menepuk punggung Baekhyun dengan dengan pelan menenangkan.
Tubuh Baekhyun gemetar dalam pelukan Park Chanyeol namun dia bahkan tidak dapat mengartikan perasaan itu, tidak paham dengan respon tubuhnya sendiri sementara ia hanya tau perasaan nyaman sekaligus takut. Dalam pelukan Park Chanyeol adalah hal ternyaman yang dirasakannya meskipun jantungnya seolah berpacu, berdetak dengan keras namun menyakitkan. Baekhyun tidak membohongi dirinya dengan dua hal berlawanan yang ia rasakan. Nyaman sekaligus takut, hangat namun menyakitkan karena sekali lagi kenyataan menamparnya, dirinya tidak memiliki apapun yang pantas untuk jatuh kepada seorang Park Chanyeol.
Aliran bening itu semakin deras, seiring dengan isakan Baekhyun yang semakin keras. Berulang kali bibir si mungil menggumamkan kata maaf entah untuk apa. Sementara Chanyeol hanya terdiam tidak berniat mengucapkan kata penenang seperti sebelumnya hanya pelukannya yang tidak melonggar menjadi bukti bahwa pikiran Chanyeol masih tertuju pada Byun Baekhyun.
Sepuluh menit yang berangsur menjadi tiga puluh menit saat akhirnya Byun Baekhyun jatuh tertidur dalam pelukan Park Chanyeol. Pria tinggi itu membaringkan tubuh Baekhyun dengan perlahan tidak ingin mengganggu tidurnya, lalu mencuri satu ciuman dari si mungil.
Park Chanyeol menutup pintu kamarnya dengan pelan, lalu mengambil ponsel disaku jasnya menekan speed dial nomor satu, hanya beberapa detik setelah panggilan diangkat seringai mematikan tersaji disudut bibir Park Chanyeol.
"Bereskan semuanya!"
...
Park Chanyeol hanya mengemudi dengan sebelah tangannya, sementara satu tangannya tetap mengelus kepala si mungil. Lain lagi dengan tangan Byun Baekhyun yang memegang erat ujung jas Chanyeol seakan takut Chanyeol akan meninggalkannya sendiri. Isakan Baekhyun sudah berhenti sejak tadi namun Chanyeol dapat merasakan tangan pemuda itu masih bergetar.
Chanyeol menekan emosinya hingga batas terendah. Untuk pertama kalinya ia dapat menahan keinginannya, keinginan untuk berbalik ke VivaPolo dan menghajar tua bangka yang sudah melecehkan baekhyun. Jika Baekhyun kalap maka dirinyalah yang harus tenang.
"Baek, Hei Baekhyun-ah kita sudah sampai. Jangan melamun lagi." Park Chanyeol membawa kembali kesadaran Byun Baekhyun.
Chanyeol memilih membawa Baekhyun pulang ke mansion pribadinya. Dia tidak akan membawa Baekhyun ke rumah pamannya yang hampir sama seperti neraka bagi si mungil. Masih tidak ada respon dari si mungil, Chanyeol berusaha melepas genggaman tangan Baekhyun yang hanya dibalas gelengan kepala.
"Tidak apa - apa Baek, kita tidak pulang ke rumahmu tapi ke rumahku. Kau tidak perlu merasa takut." Chanyeol membuka pintu mobilnya untuk si mungil, meraih tangan Baekhyun lalu menuntunnya masuk.
Baekhyun hanya mengikuti apapun yang Chanyeol katakan. Pemuda itu membawa Baekhyun ke ruangan pribadinya.
"Baek, lebih baik bersihkan dirimu, kau bisa menggunakan pakaian ku sebagai pengganti." Chanyeol seolah berbicara dengan anak kecil.
Tahu dirinya tidak akan mendapatkan jawaban, pemuda itu memilih keluar, memberi Baekhyun ruang untuk dirinya sendiri. Hampir tiga puluh menit saat Chanyeol memutuskan kembali ke ruangannya untuk melihat keadaan Baekhyun. Semua diluar perkiraannya saat si mungil masih dalam posisi yang sama, duduk ditepi ranjang Park Chanyeol dengan kepala yang menunduk hingga menyentuh lututnya.
Entah berapa puluh kalimat makian yang ingin Chanyeol katakan namun harus ditahannya. Chanyeol tahu Baekhyun kecewa, bukan hanya karena ia merasa dilecehkan lebih kepada kenyataan bahwa pamannya adalah dalang dari semuanya. Seseorang yang dipercayai oleh orang tuanya. Chanyeol hanya tahu sebatas itu. Hal yang paling menyedihkan bagi si mungil sebenarnya kenyataan dimana Byun Yejin mungkin mengetahui hal ini mengingat pandangan kasihan kakak kembarnya sebelum ini.
Sialan!! Wanita itu tidak pantas disebut sebagai kakak.
Chanyeol menyerah dengan keterdiaman Baekhyun. Pemuda tinggi itu memilih menarik tangan si mungil, menuntunnya menuju bathroom. Melepas satu persatu pakaiannya si mungil dengan kesabaran yang berada diambang batas. Chanyeol tahu sekarang bukan waktunya mengagumi tubuh pemuda manis itu tapi tetap saja pemandangan seindah itu terlalu sayang untuk dilewatkan.
"hahahahaha.." Byun Baekhyun justru tertawa. Bukan jenis tawa yang menyenangkan lebih seperti tawa miris.
"Jadi kau juga tertarik dengan tubuhku Chan? Apa aku harus mebuka paha untukmu Chan? Seharusnya kau mengatakan sejak awal jadi kau tidak perlu melakukan banyak hal. Bagaimanapun aku tetap akan berakhir seperti ini bukan? Tidur dengan pria tampan mungkin lebih baik dibandingkan tua bangka itu."
Secepat kedipan mata, Baekhyun menarik kerah kemeja Park Chanyeol agar pria tinggi itu menunduk. Menekan bibir tebal Chanyeol, memberi lumayan amatir selama beberapa detik sebelum Chanyeol melepaskan tautan bibir mereka. Memberi sedikit jarak lalu menatap Baekhyun tajam. Baekhyun tidak tahu darimana dia bisa bertingkah layaknya jalang professional.
Dibandingkan marah dengan sikap Baekhyun yang diluar batas, dibandingkan dengan menuruti nafsunya untuk mengikuti permainan si mungil Chanyeol lebih memilih membantu Baekhyun membersihkan tubuhnya. Benar - benar hanya mandi meskipun Chanyeol harus menahan napasnya lebih sering.
"Maafkan aku Chan. Aku keterlaluan." bisik Baekhyun saat Chanyeol menggosok punggungnya.
"Jangan bertingkah seperti itu lagi. Itu bukan Baekhyun ku. Baekhyun adalah pemuda keras kepala yang selalu menjaga harga dirinya." Sebut saja Chanyeol munafik karena sejatinya Chanyeol adalah lelaki brengsek yang tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang menguntungkannya. Tapi Byun Baekhyun juga membuat Chanyeol merasakan hal yang berbanding terbalik. Disatu sisi Park Chanyeol ingin menjaganya tapi disisi lain Chanyeol tidak memungkiri bahwa dirinya ingin merusak pemuda manis itu bahkan saat pertama kali tatapan mereka bertemu.
TBC
Hallo Macchi is back. Masih adakah yang ingat random fic ini? Pertama macchi ngin minta maaf karena ingkar janji. terakhir kali macchi bilang update setelah puasa tapi macchi kehilangan feel jadi tidak bisa menulis kelanjutannya dan ponsel macchi juga rusak setelahnya.
Kedua macchi juga bilang ingin membuat scene yang agak menjurus tapi ternyata macchi belum bisa. sekali lagi macchi minta maaf. Macchi harap masih ada yang mau membaca fic ini. Jujur macchi merasa chap ini tidak begitu memuaskan.
Macchi bener" ngucapin terima Kasih untuk readernim yg sudah meninggalkan jejaknya.. See you next chap muachh..
With Love,
Macchiato Chwang
