PLEASE SAVE ME
Cast :
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
Disclaimer :
I don't own the character but the story is mine.
Macchiato Chwang proudly present
...
Eight Chap - Beginning
...
Baekhyun berakhir duduk disebuah ruangan seperti ruangan introgasi ya Baekhyun berakhir di kantor polisi. Tenang saja bukan sebagai tersangka suatu kasus melainkan pamannya yang entah terlalu licik atau terlalu bodoh melaporkan menghilangnya Baekhyun setelah insiden di Viva Polo ke polisi. Tentu saja dengan sedikit keterangan palsu.
Ajaib sekali setelah itu kediaman Park Chanyeol langsung menerima telepon dari kepolisian dan disinilah Baekhyun berakhir memberi sedikit keterangan didampingi pengacara Chanyeol, Kim Yesung. Jika seseorang bertanya mengapa bukan pria Park yang mendampingi Baekhyun maka jawabannya pria itu pergi begitu saja setelah menerima telepon dari kepolisian entahlah mungkin urusan bisnis atau apapun itu.
Pemuda itu menatap jengah pada pamannya yang tengah berakting menyedihkan seolah dia kehilangan dirinya yang diculik orang tak dikenal. Begitulah laporan pamannya. Sudah berapa kali pemuda itu mengatakan muak atas sikap pamannya.
"Baekhyun-ah apakah kau baik - baik saja? Paman panik sekali malam itu saat kau menghilang." Paman Byun menggenggam tangan si mungil erat dengan ekspresi menyedihkan.
"pembual." Lirih si mungil yang hanya dapat didengar oleh dirinya.
Baekhyun mengalihkan pandangannya kesudut lain dimana Kim Yesung sedang sibuk menjawab pertanyaan dari petugas dengan wajah datar namun tangannya mengepal erat. Baekhyun tahu itu berarti pertanda buruk.
Firasatnya benar saat seorang petugas menghampiri dirinya dan mengatakan bahwa ia bisa pulang dengan pamannya.
Byun Baekhyun menatap penuh harap kearah Kim Yesung namun pengacara Chanyeol itu justru memalingkan wajahnya enggan menatap si mungil.
"Sialan dimana sebenarnya Park Chanyeol saat ini?"
...
Suara deringan telepon membangunkan Baekhyun dari tidurnya. Pemuda itu mengumpat dalam hatinya. Ia dan Chanyeol baru tidur beberapa jam setelah melalui kejadian tak menyenangkan. Setelah perdebatan panjang sebelumnya dan pembicaraannya yang tak pernah berujung mereka memutuskan menyudahi dan memilih beristirahat.
Baekhyun melirik jam dinding besar di kamar Chanyeol. Ya mereka tidur bersama hanya tidur tanpa tambahan kegiatan apapun. Semalam setelah semuanya Chanyeol memeluknya dengan erat hingga dia tertidur bahkan sampai pagi ini tangan pria itu masih melingkar erat dipinggangnya. Chanyeol tampak tidak peduli dengan deringan ponselnya namun Baekhyun jelas merasa terganggu.
"Chan, bangunlah ponsel mu terus berbunyi. Kau harus mengangkat panggilan itu." Baekhyun mengguncang tubuh Chanyeol setelah sebelumnya mencoba melepaskan pelukan Chanyeol namun tak berhasil.
"Biarkan saja Baek aku tidak peduli." Chanyeol berucap acuh dengan mata yang masih terpejam.
"Tapi aku yang terganggu Chan. Jawab panggilan itu terlebih dahulu." Baekhyun masih berusaha membujuk pria Park.
"Sial!! Pengganggu.." Chanyeol meraih ponselnya.
Baekhyun memperhatikan perubahan ekspresi Chanyeol. Baekhyun tahu hal buruk pasti akan terjadi. Dia hanya berharap dirinya tidak ada hubungannya. Namun Baekhyun kembali menelan kekecewaan untuk kesekian kalinya karena dirinya object utama hal buruk itu.
"Baek cepat mandi dan ganti pakaianmu lalu pergi ke kantor polisi. Yesung akan mengantarmu dia akan sampai dalam satu jam." Chanyeol berucap dingin tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya seperti hendak melakukan panggilan lagi. Sementara Baekhyun hanya memandangnya takut sekaligus penuh tanya.
"Ada apa Chan? Apa aku melakukan kesalahan?" Baekhyun berujar pelan kepalanya tertunduk dengan jemari tangan yang saling meremas.
"Iya dan paman mu semakin menambah masalah." Tangan Chanyeol mengepal erat tampak menahan emosinya.
"Lalu kau? kenapa bukan kau yang pergi bersama ku? Mengapa Yesung Hyung?" Baekhyun menyuarakan protesnya dengan berani.
"Aku sibuk Baek, pekerjaan ku bukan hanya mengurusmu." Chanyeol tidak bisa menahan emosinya lagi.
Perkataan Chanyeol benar - benar menusuk. Inilah kalimat yang paling menyakitkan yang pernah Baekhyun dengar dari Chanyeol. Mengapa pemuda itu harus mengatakan kalimat itu? Tidak apa - apa jika Chanyeol mengatakan dirinya sibuk namun mengatakan bahwa pekerjaannya bukan hanya mengurusi si mungil membuat dirinya sadar ia hanya beban dan perasaan terbuang kembali hadir.
Baekhyun menghapus air matanya. Benar Chanyeol memiliki banyak hal lain yang harus dilakukan. Kenapa Baekhyun harus merasa penting dan menjadi prioritas hanya karena Chanyeol selalu mengulurkan tangan padanya? Baekhyun menghela napas dalam sebelum dirinya sempat menjawab Chanyeol kembali menambahi, "Kau tahu pembicaraan ini tak akan pernah ada akhirnya Baek?"
Benar sekali lagi semua ucapan Chanyeol adalah kebenaran yang menyakiti Baekhyun. Perdebatan ini takkan ada akhirnya bahkan setelah beberapa babak. Awalnya Baekhyun kira semuanya akan berakhir saat Chanyeol memberi bantuan namun ia sepenuhnya salah. Karena itu Baekhyun hanya menjawab, "Kau benar maaf karena selalu merepotkanmu Park Chanyeol - ssi."
Baekhyun bergegas ke kamar mandi setelah menghapus air matanya lagi. Dirinya akan tetap menjadi lelaki cengeng jika dihadapkan dengan Park Chanyeol.
Karena Park Chanyeol tidak akan memberi jawaban yang jelas.
Karena dirinya yang terus berharap pada pria tinggi itu.
Dan semua itu tidak akan berakhir.
...
Suara tamparan terdengar dengan keras dari dalam mobil. Baekhyun menyentuh kedua pipinya sambil meringis pelan.
Sakit dan perih itulah yang pemuda mungil itu rasakan. Pamannya menampar Baekhyun sebanyak dua kali saat mereka baru masuk mobil. Namun rasa sakit dipipinya tidaklah sebanding dengan hati dan psikisnya.
"Dasar anak tidak tahu diuntung. Kami susah payah menjagamu dan yang kau lakukan hanya membuat kekacauan dan mempermalukan keluarga. Apa kau tidak tahu apa itu balas Budi hah?" Mata paman Byun melotot tajam.
"Balas Budi? Paman yang tidak tahu balas Budi disini. Mengelola perusahaan keluarga ku dan membuatnya dalam masalah. Mencoba melemparkan keponakanmu sendiri kepada tua bangka dengan imbalan uang. Apakah kau masih layak disebut manusia?" Paman Byun mencoba menampar Baekhyun lagi namun kali ini Baekhyun berhasil menangkisnya. Sebenarnya si mungil bukan pemuda lemah dan tertindas dia hanya menjadi lemah dihadapan Park Chanyeol.
"Perusahaan keluargamu? Omong kosong macam apa yang kau katakan Baek? Yejin yang nantinya menjadi pemilik semuanya? Kau bukan apa - apa Baek. Apa kau masih tidak sadar juga dengan posisimu dikeluarga Byun? Berhentilah berkhayal anak muda. Kau tidak lebih dari parasit." Paman Byun memandang Baekhyun dengan tatapan meremehkan.
"Eoh tapi parasit ini yang menyelamatkan perusahaan sebelumnya memangnya anda pikir suntikan dana datang dari langit atau dari Yejin yang diberkati?" Baekhyun tidak tahan lagi, kali ini dia akan mengungkapkan semuanya.
"Hahahaha sepertinya kau terlalu banyak berkhayal Baekhyun, usaha apa yang telah kau lakukan sampai menyebut dirimu yang menyelamatkan perusahaan?" Paman Byun sampai kapanpun tidak akan pernah mempercayai ucapan keponakannya.
"Orang yang memberi bantuan adalah kenalanku kami bersahabat." Baekhyun enggan menyebutkan nama Chanyeol jadi dia menyebut sahabat jika memang hubungan mereka bisa disebut sahabat.
"Siapa kenalanmu hah? Oh apa seorang pengusaha tua kaya? Jika itu aku bisa percaya, tapi kenapa kau kabur kemarin dan membuatku malu bukankah rekan bisnis ku kemarin juga kaya Baek?" Baekhyun terkejut dengan ucapan pamannya bukankah itu menyiratkan dirinya seolah jalang. Pamannya benar - benar kejam tapi apa yang dilakukannya kemarin jauh lebih kejam.
"Tunggu sampai orang tua ku tahu semua yang anda lakukan." Baekhyun bersumpah dia akan memberitahu semua yang terjadi pada orang tuanya.
"Orang tuamu tidak akan mempercayai ucapan anak pengacau sepertimu. Mulai sekarang kau tidak diizinkan keluar hingga aku merancang pertemuan ulang dengan tuan Hwang, jadilah anak baik turuti semua perintah tuan Hwang dan buat dirimu berguna. Jika kau membuat kekacauan aku pastikan kau akan berakhir di neraka Baekhyun!" Baekhyun tidak menjawabnya, buat apa semakin ia mendengar suara pamannya hatinya semakin sakit yang harus dia pikirkan sekarang hanya bagaimana caranya menghubungi orang tuanya.
...
Paman Byun menyeret Baekhyun kedalam rumahnya. Baekhyun hanya membiarkan saja. Pemuda itu sudah terlalu putus asa hanya untuk memberontak. Sementara bibi Byun dan Yejin tampak tidak ingin membantunya.
"Tunggu sebentar biarkan aku bicara dengan Yejin." Baekhyun tidak tahu darimana dia mendapatkan ketenangan dalam suaranya disaat situasi begitu sulit.
"Baik karena aku masih berbaik hati kuberikan waktu sepuluh menit sang jangan mencoba untuk kabur." Paman Byun bukannya tidak tahu Baekhyun pasti akan membujuk Yejin untuk menghubungi orang tua mereka hanya saja dia yakin Yejin tidak akan menuruti Baekhyun.
...
"Hubungi ayah dan ibu noona. Katakan apa yang paman lakukan aku tidak ingin berakhir seperti sampah noona. Kali ini tolong bantu aku. Setidaknya noona bisa melakukan sesuatu." Untuk pertama kalinya semenjak Baekhyun ingat dirinya memanggil Yejin dengan sebutan noona.
Byun Yejin mengalihkan tatapannya dari adik kembarnya. Baekhyun merasa dejavu sikap kakaknya sama dengan sikap Yesung saat di kantor polisi sama juga dengan sikap Chanyeol tadi pagi yang lebih buruk orang tuanya juga melakukan hal yang sama saat meninggalkan mereka pada keluarga pamannya. Baekhyun harap dirinya salah mengartikan sikap Yejin. Sepertinya si mungil terlalu banyak berharap hari ini.
"Aku tidak bisa membantumu Baek, banyak hal yang masih harus aku kejar, jika aku menghubungi orang tua kita atau membantumu pergi dari sini paman tidak akan membiarkanku Baek. Kau mungkin tidak tahu seberapa buruk situasi ayah dan ibu mungkin mereka bahkan tidak mampu membeli tiket untuk pulang ke Korea." Byun Yejin menjawab semuanya, mematahkan harapan adik kembarnya.
"Apa kau setega itu noona. Aku masih adikmu meskipun kita mempunyai hubungan yang buruk dan lagi seberapa buruk orang tua kita hingga tidak bisa membantu anaknya hah? Apa maksudmu ayah dan ibu tidak menyayangi ku?" Yejin hanya menghela napasnya.
"Yaa! aku memang setega itu. Kau pikir orang tua kita menangani perusahaan yang mengalami krisis? Perusahaan kita disana sudah jatuh Baek. Tidak ada yang bisa kita lakukan Baek." Yejin membalikkan tubuhnya meninggalkan adiknya dalam kesendirian. Baekhyun hanya tidak menyadari tepat setelah itu aliran bening mengalir dipipi kakaknya.
"Orang tua kita sangat menyayangimu Baek. Jika aku memiliki kesempatan yang lain aku pasti akan membantumu Baek tapi aku bahkan tidak bisa membantu diriku sendiri Baek. Apa yang harus ku lakukan. Baekhyun-ah aku harap persaudaraan kita tidak berakhir disini tapi jika ini adalah akhirnya aku harap kau akan baik - baik saja hingga aku bisa mengucapkan maaf padamu. Maaf untuk meninggalkanmu disaat yang buruk ini. Maaf untuk semua kenangan dan ingatan buruk yang kita lalui."
...
Baekhyun tidak ingat berapa lama ia menyesali semuanya. Menyesali dirinya yang bodoh, menyesali takdir buruk yang menimpanya. Sebentar lagi ia akan berakhir menjadi jalang. Dia ingin mengakhiri semuanya tapi terlalu takut. Dia masih ingin menikmati dunia ini. Menikmati masa mudanya dengan kebebasan sama seperti remaja lainnya tanpa harus memikirkan banyak hal. Tapi semuanya hanya angan si mungil. Semuanya terlalu jauh untuk digapai oleh si mungil Byun Baekhyun.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Baekhyun. Ia masih mengingat dengan jelas pemilik suara ini, Kim Yesung pengacara Park Chanyeol. Dia ada disini, di rumah pamannya.
"Apa aku akan selamat tuan Kim?" kalimat pertama yang ia ucapkan ketika pintu kamarnya terbuka memperlihatkan wajah datar Kim Yesung.
"Tentu saja. Kau sudah mengemasi semua pakaianmu?"
"Eoh? Aku tidak tahu tuan Kim akan kembali membantu ku." Baekhyun tampak kebingungan.
"Sepertinya kau melupakan perkataan Chanyeol. Lupakan tentang pakaian kau tidak membutuhkannya. Ayo pergi dari sini." Yesung menarik tangan Baekhyun.
"Berhenti disana! Siapa kau berani membawa keponakan ku. Aku adalah wali hukum dari Baekhyun." Paman Byun tidak terima dengan tindakan Yesung.
"Bukankah itu sudah berlalu beberapa jam yang lalu tuan Byun? Aku rasa anda tidak buta untuk membaca surat kuasa yang ditanda tangani oleh orang tua Byun Baekhyun." Baekhyun kembali menunjukkan map yang dipegangnya.
"Itu semua palsu aku akan menuntutmu."
"Silahkan, sebaliknya saya juga akan mengungkapkan semua kejahatan anda selama ini tuan Byun, sampai jumpa di pengadilan."
"Ayo Baek!" sekali lagi Kim Uesung menarik tangan Baekhyun.
"Selamat tinggal neraka." Baekhyun masih sempat mengucapkan kalimat itu sesaat setelah pandangannya bertemu dengan Yejin. Baekhyun hanya tidak tahu apakah dia benar - benar keluar dari neraka yang dibuat pamannya atau kembali masuk ke neraka yang lain tapi sekarang baginya tidak ada tempat yang lebih buruk dibandingkan tempat yang baru saja ditinggalkannya. Baekhyun hanya melewatkan satu hal kecil dimana gerakan bibir kakaknya yang seolah meminta tolong padanya. Keadaan menjadi berbalik.
...
Hai Macchi is back with new chapter. Is been awhile right? Sekali lagi macchi mengucapkan terimakasih untuk semua yang meluangkan waktu membaca fic ini. Maaf masih ada typo dsb.
See you in next chapter. Hug and kiss readersnim.
