PLEASE SAVE ME
Cast :
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
Disclaimer :
I don't own the character but the story is mine
Macchiato Chwang Proudly Present
...
Ninth Chapter : The Next Step
Baekhyun menundukkan kepalanya, kedua jemari tangannya saling meremas. Banyak hal berputar dikepala cantiknya dan begitu banyak yang ingin dirinya tanyakan namun merasa terlalu takut. Terlalu takut dianggap tidak sopan terlebih terlalu takut jika jawaban itu sendiri membuat hatinya sakit.
"Tanyakan yang kau inginkan namun bukan padaku tapi Chanyeol." Kim Yesung yang sejak tadi fokus menyetir tiba-tiba berbicara, memecah keheningan diantara keduanya.
"Apa begitu terlihat hyung?" tanya Baekhyun pelan, menolehkan kepalanya kearah pengacara Park Chanyeol tersebut namun yang dilihatnya hanya raut wajah datar membuatnya kembali menelan kalimat selanjutnya.
Kim Yesung tidak menjawab pertanyaan Baekhyun, dirinya terlalu enggan untuk berurusan dengan bocah SMA yang Chanyeol temukan entah darimana. Dia memiliki banyak ditangannya yang harus diurus dan Baekhyun hanya menambah masalahnya.
'Apa ini? Apa semua orang disekitar Chanyeol irit bicara?' Baekhyun bergumam dalam hatinya.
...
Termenung itulah Baekhyun saat ini, tidak ada hal khusus yang terjadi dia hanya diantar kembali ke mansion mewah Park Chanyeol namun peristiwa sebelumnya yang masih segar dalam ingatan yang menjadi penyebabnya.
Park Chanyeol berdiri disana disamping tangga dengan pakaian casual. Tidak ada senyuman diwajah tampannya atau ekspresi kegembiraan. Seluruh wajahnya hanya menampilkan raut kebosanan, langkah kakinya menggema seolah menjadi vonis untuk masa depan Baekhyun.
"Duduk! Apa kau ingin berdiri terus disana?" ucapnya singkat.
Baekhyun menelan ludahnya takut sebelum mengambil tempat duduk, menanti keputusan seorang Park Chanyeol seolah itu adalah hidup dan matinya. Sekali lagi ia menundukkan kepalanya tidak berani menatap Chanyeol langsung.
"Kau sudah membereskan semuanya hyung?" kali ini Chanyeol berbicara kepada Yesung.
"Sudah kau bisa memeriksa semua berkasnya tidak ada yang kurang satupun. Kau hanya tinggal membubuhkan tanda tanganmu." Yesung menyerahkan berkas perwalian Baekhyun kepada Chanyeol.
Chanyeol menerimanya namun tidak berniat membukanya sama sekali sebelum berdiri dan pergi. Pemuda itu tidak berbicara kepada Baekhyun seolah-olah si mungil tidak ada disana sejak awal atau kehadiran Baekhyun yang tidak begitu penting dimata Chanyeol? Tapi berkas itu, semua yang terjadi berkaitan dengan dirinya. Mengapa Chanyeol seperti itu? Semua bantuan sebelumnya, kata-kata penyemangat itu apakah semuanya murni dari ketulusan hati atau sekedar keterpaksaan karena sebuah janji yang diberikan sebelumnya? Ini semua pertanyaan tanpa akhir. Namun apapun itu, apapun selain menjadi jalang yang dijual oleh pamannya, Baekhyun masih akan berterimakasih.
"Mulai sekarang kau tinggal disini. Semua keperluanmu akan diurus oleh pelayan, Chanyeol akan menjadi walimu mulai saat ini. Semuanya sudah mendapat persetujuan dari orang tuamu dan kau bisa bersekolah dua hari lagi setelah semua berkas perpindahanmu diurus." Yesung mendesah dalam hati berharap Baekhyun tidak akan bertanya banyak hal bukan karena tidak bisa menjawabnya tapi karena dirinya tidak yakin batas jawaban yang bisa dirinya berikan pada pemuda itu. Bagaimanapun pemuda ini terkait dengan Park Chanyeol dan dirinya tidak bisa bertindak gegabah. Satu langkah salah dan ucapkan selamat tinggal pada karir cemerlangnya. Tidak pengacara dengan jari mungil itu tidak akan mengambil resiko apapun.
"Dimana aku akan bersekolah?" tanya Baekhyun setelah beberapa saat.
"XO Senior High School. Bukankah kau sudah lama ingin bersekolah disana? Selamat sekarang impianmu tercapai, kau seharusnya bahagia." Itu bukan ucapan tulus melainkan ucapan sarkasme. Baekhyun lebih dari tau bahwa Yesung menghinanya. Dia tidak akan membalasnya saat ini, bagaimanapun dia masih akan memerlukan bantuan pengacara itu dikemudian hari.
Yesung menekan tombol dibawah meja dalam waktu kurang dari dua menit dua orang pelayan muncul dari balik koridor. "Urus dia, dia adalah tamu." Hanya satu kalimat dan Kim Yesung melangkahkan kakinya menuju pintu keluar tanpa ucapan selamat tinggal pada Baekhyun.
"Silahkan ikuti kami tuan muda." kedua pelayan itu tampak membungkuk sopan.
"Jangan memanggilku tuan cukup panggil aku Baekhyun." Ia merasa segan dipanngil tuan muda terlebih dirinya bukan siapanpun di mansion ini.
"Kami tidak bisa melakukannya atau kami akan kehilangan pekerjaan kami." nada takut terdengar jelas ditelinga Baekhyun.
"Uhmm bisakah aku bertemu dengan Chanyeol?" Baekhyun masih mencoba peruntungannya. Langkah kaki pemuda itu masih mengikuti kedua pelayan wanita didepannya melewati koridor yang berkelok-kelok, entah kapan mereka akan sampai.
"Mohon tuan muda tidak menyakan tentang Master Park kepada kami." terlalu kaku itulah kesan yang Baekhyun dapat dari kedua pelayan itu.
Seberapa kaya Park Chanyeol hingga mansion tempat tinggalnya seluas ini? Seberapa berkuasa seorang Park Chanyeol hingga membuat membuat orang lain ketakutan hanya dengan menyebut namanya? Byun Baekhyun hanya belum tahu yang dijelajahinya jauh dari seperempat dari seluruh mansion Park Chanyeol. Byun Baekhyun hanya belum sadar bahwa siapapun mungkin akan menunduk kepada Chanyeol. Yah pria Park semengerikan itu.
"Kita sudah sampai tuan muda." suara pelayan membuyarkan lamunan Baekhyun tentang Chanyeol.
"Selamat beristirahat tuan muda." membungkuk sembilan puluh derajat sebelum pergi bahkan Baekhyun belum sempat mengucapkan terimakasih.
Luas dan mewah hanya dua kata itu yang ada dibenak Baekhyun saat menjelajah kamar barunya ini bahkan lebih luas dibandingkan dengan ruang tamu dan kamarnya dirumah pamannya jika digabungkan. Baekhyun tidak ingin menjelajahi kamarnya, sudah cukup ia menemukan tempat tidur. Tubuhnya lelah sejalan dengan pikirannya. Dirinya hanya berharap bahwa hari esok jauh lebih baik bahwa langkah berikutnya akan menjadi permulaan yang baru dalam hidupnya.
"Park Chanyeol terimakasih." gumamnya sebelum menutup mata.
Halo semuanya, masih adakah yang ingat dengan cerita ini? Macchi harap masih ada yang ingat atau menyempatkan waktu untuk baca ulang. Pertama Macchi mau meminta maaf pada Readers-nim ini sudah lama sejak terakhir Maachi update. Kedua Chapter kesembilan ini gak memuaskan, ia Macchi tau karena Macchi sendiri juga merasa begitu. Sebagian Macchi lupa jalan ceritanya maaf. Ketiga Macchi ngucapin terimakasih untuk Reader yang sempat DM Macchi, yang berkomentar, yang follow atau favorit juga reader yang menyempatkan waktu buat baca cerita ini dan untuk yang ingin protes karena gak ada ChanBaek moment di chapter ini silahkan yaa, Macchi terima. Terima kasih banyak. See you dichapter selanjutnya.
With Love,
Macchiato Chwang
