joah by Vinsmoke
Disclaimer: Seperti biasa, baby.
Pagi ini, bukan suara alarm yang membangunkan Baekhyun.
Pertama, dia lupa memasangnya. Kedua –yang amat sangat menjengkelkan, adalah fakta bahwa suara dengkuranlah yang memaksanya menyambut matahari. Sial. Bahkan suara alarm-nya yang nyaring kini terdengar lebih baik daripada dengkuran kencang plus dekapan yang ia terima kini.
"Oi, bangun sialan."
Ia meronta minta dibebaskan oleh seorang lelaki yang sejak tadi malam telah menyanderanya, atau kurang lebih seperti itu (Baekhyun hanya ingin terdengar dramatis). Seorang lelaki yang menjengkelkan, arogan, dan bajingan kalau Baekhyun boleh menambahkan. Lelaki yang telah membuat masa perkuliahan Baekhyun menjadi jauh lebih berat karena tingkahnya yang diluar kata normal. Lelaki sinting yang selalu menjadi musuhnya, saingannya, dan beberapa hal negatif lain yang tidak bisa ia jabarkan dalam satu paragraf.
Dan, lelaki ini pula yang semalam namanya ia teriakkan keras-keras kala mencapai puncak kenikmatan.
I-r-o-n-i-c
Sungguh Baekhyun ingin sekali mengasihani dirinya sendiri. Terjebak dalam taruhan sial yang membawanya untuk bertekuk lutut dan mengulum kejantanan milik Chanyeol –ya, itu dia namanya. Bahkan dalam mimpi terliar sekalipun, ia tidak pernah membayangkan hal tersebut.
"Huh? Lima menit lagi."
Dekapan itu kian menguat. Chanyeol yang tubuhnya jauh lebih besar, jauh lebih kuat, memanfaatkan itu untuk menenggelamkan wajah Baekhyun ke dalam dadanya.
"Lepaskan tanganmu! Aku mau mandi!" Baekhyun kembali meronta.
"Buru-buru sekali, memangnya kau mau kemana?"
"Sudah kubilang 'kan semalam?" Ia mendorong wajah Chanyeol, masih mencoba melepaskan diri. "Aku ada kelas Profesor Yang jam sembilan nanti."
"Apa?"
Dekapan itu melemah. Baekhyun memanfaatkannya untuk melarikan diri sejauh mungkin dari ranjang dan pergi ke kamar mandi. Tidak peduli dengan rengekan si raksasa Park yang terus meminta untuknya kembali dan menghabiskan pagi mereka dengan bermalas-malasan.
Setelah mengunci pintu kamar mandi, Baekhyun dihadapkan dengan sebuah cermin besar. Ia lantas berdiri di depannya, mengecek setiap sudut tubuhnya guna menemukan bekas-bekas kemerahan yang telah Chanyeol hadiahkan padanya semalam.
"Akan kubuat sebanyak mungkin supaya kau bisa pamer." Begitu katanya.
"Bocah kurang ajar." Baekhyun meraba bagian lehernya yang terdapat tanda kemerahan, dan memutuskan bahwa hari ini ia akan mengenakan kemeja berkerah saja.
Butuh lima belas menit bagi Baekhyun untuk membersihkan badan. Biasanya ia butuh lebih banyak waktu daripada sekarang, tapi mau bagaimana lagi, dia masih perlu menyiapkan banyak hal sebelum kelas di mulai jam sembilan nanti.
Namun saat hendak melangkah keluar, ia baru menyadari sesuatu.
"Chanyeol, bawakan aku handuk." Ia terpaksa meminta tolong.
Sejauh ini tidak ada respon. Apa si raksasa itu sudah tertidur lagi? Kalau benar, Baekhyun akan menghajarnya nanti.
"Chanyeol, handuk!"
Masih tidak ada respon.
"PARK CHANYEOL! KUBILANG BAWAKAN AKU HANDUK, KAU TIDAK DENGAR?"
Sayangnya, masih belum juga ada respon.
Terpaksa, Baekhyun pun keluar dari kamar mandi dengan keadaan bertelanjang bulat. Saat ia hendak memarahi si Park sialan yang sudah mengacuhkannya, tiba-tiba ia mendengar suara jepretan dari seseorang yang telah mengambil foto lewat ponselnya.
Baekhyun mengerjap.
"Oh, lumayan juga."
Itu adalah Chanyeol. Yang kini tengah memandangi hasil bidikannya sambil tersenyum jahil. "Akan kuunggah di instagram dengan caption: 'Baekhyun si pemuda yang menyukai kebebasan'."
"Lakukan itu dan kupastikan hari ini akan menjadi hari terakhirmu melihat matahari."
"HAHAHAHAHA!"
Masih tanpa pakaian sehelaipun, Baekhyun kini berlari dan menerjang Chanyeol yang masih berbaring di ranjangnya disertai suara tawa yang kencang. Telinga Baekhyun dibuat berdenging. Tawa itu, demi Tuhan, Baekhyun ingin sekali melenyapkan tawa itu dari muka bumi ini.
"Berikan padaku!"
Baekhyun berhasil mengambil ponsel pintar milik Chanyeol dan menemukan fotonya –yang amat sangat telanjang. Meski terlihat seksi dan lumayan menurut dirinya sendiri, tapi untuk keselamatan, Baekhyun pikir ia perlu membuang foto itu dari galeri.
"Kau sangat tidak asyik." protes Chanyeol. Yang mana membuatnya dihadiahi sebuah pukulan sayang menggunakan bantal tercintanya.
"Kau sendiri sangat tidak waras." Ledek Baekhyun.
Chanyeol menahan pukulan Baekhyun kali ini, kedua tangannya memegang lengan di pemuda Byun dan matanya menatap lekat-lekat.
"Kau pikir siapa yang sudah menghilangkan kewarasanku, ha?"
Itu bukan pertanyaan yang akan Baekhyun jawab.
Pemuda itu terus diam seakan baru saja terkena sihir. Ia tidak memberontak. Tidak pula ia mengelak bahkan saat wajah Chanyeol kian mendekat. Ia membiarkan si jangkung itu bergerak maju, mengambil dagunya untuk diangkat, dan meraih bibirnya untuk dicium.
Ugh.
Dalam. Hangat. Memabukkan. Seperti itu rasanya seorang Park Chanyeol. Seakan-akan semua hal yang menjengkelkan dari dirinya lenyap begitu saja. Tergantikan oleh sebuah perasaan aneh tapi juga nyaman yang membuat perut Baekhyun terasa seperti tergelitik. Membuat otaknya memohon agar waktu bisa berhenti, sehingga mereka bisa melakukan ini lebih lama lagi.
Ahh, benar-benar sial.
Dan untuk kesekian kalinya, Baekhyun dibuat kalah.
.
.
.
.
.
Siang itu, Chanyeol tengah berjalan santai menuju kantin fakultas hukum ketika matanya secara tak sengaja menangkap sosok Baekhyun yang sedang duduk sendirian menikmati makanannya. Tidak heran, pukul dua belas siang memang waktu yang ideal untuk mengisi perut. Tapi tumben sekali anak itu duduk sendirian? Apa dia memang sedang menunggu seseorang? Seperti Chanyeol misalnya?
"Bro, aku tahu kau akan mengganggunya, tapi kasihani dia sedikit."
Kai, kawannya sejak dari SMA, menahan langkah Chanyeol sebelum pemuda itu bergerak mendekati Baekhyun. Seakan tahu bahwa si jangkung hanya akan datang untuk mengganggu, ia melakukan tindakan pencegahan sebelum peperangan dimulai.
Ya, Baekhyun dan Chanyeol, keduanya dikenal sebagai musuh bebuyutan satu sama lain. Tidak ada kedamaian saat kedua insan itu bertemu. Entah sejak kapan tepatnya bendera permusuhan itu berkibar, namun yang jelas, menempatkan keduanya dalam satu ruangan yang sama dapat mengundang sebuah badai besar.
"Kemarin dia baru saja kalah darimu di pemilihan Presiden mahasiswa. Beri dia waktu untuk sendiri." Kai melanjutkan sarannya.
Ah, tentang kekalahan itu, Chanyeol merasa dirinya tidak perlu bersimpati. Sebab kekalahan Baekhyun adalah hal yang amat sangat ia tunggu kedatangannya.
Bermula ketika anak itu sesumbar untuk mengajaknya taruhan tentang siapa yang akan terpilih menjadi Presiden Mahasiswa selanjutnya. Baekhyun saat itu sangat percaya diri, berkata bahwa jika ia kalah dari Chanyeol, maka ia rela melakukan apapun untuk membayarnya. Chanyeol tentu menyambut taruhan tersebut dengan tangan terbuka, mengingat hadiah-nya terdengar amat sangat menggiurkan.
Lalu hari itu pun terjadi. Tepatnya kemarin, Chanyeol mendeklarasikan kemenangannya setelah pemungutan suara usai. Dia sangat ingat wajah Baekhyun yang mendadak pucat kala ia merangkul pemuda itu untuk mengejeknya.
Dan hari itu pula, Chanyeol rela melewatkan pesta perayaannya dan memilih untuk bermain dengan Baekhyun di apartemennya.
Jujur, ia sempat berpikir bahwa Baekhyun akan menolak. Bahkan saat saling berhadapan di tempat tidur pun Chanyeol masih bersikap setengah hati.
"Tampar aku kalau kau tidak ingin melanjutkannya." Begitulah ia memberi pilihan.
Namun meski diiringi dengan sumpah serapah dan umpatan-umpatan lainnya, ternyata Baekhyun tidak kunjung menamparnya –yang mana dapat diartikan sebagai lampu hijau. Kekhawatiran dalam diri Chanyeol pun sirna seketika. Apalagi setelah mendengar Baekhyun mendesah sambil meneriakkan namanya. Chanyeol pikir, pada akhirnya mereka memang sama-sama berhasrat untuk melakukannya.
Dan itulah cerita bagaimana Baekhyun bisa berakhir di ranjangnya tadi pagi.
"Kudengar dia juga dibantai habis-habisan oleh Yangcrates tadi pagi." Kai kembali menginformasikan.
"Tahu dari mana?" nada suara Chanyeol sedikit meninggi. Agak terganggu dengan fakta bahwa kawannya lebih banyak tahu soal Baekhyun dibanding dirinya.
"Pacarku yang bilang." Ujar Kai santai.
Mereka berdua kini berdiri untuk mengantre membeli makanan. Kedua mata Chanyeol masih memperhatikan Baekhyun yang sibuk sendiri dengan makanannya. Berniat untuk memberitahukan keberadaannya, maka ia pun mengirimkan sebuah pesan singkat untuk si Byun.
Chanyeol: Kau terlihat jelek.
Tidak butuh waktu lama untuk Baekhyun menerima pesannya. Chanyeol tersenyum jahil saat melihat pemuda itu menengok kesana-kemari. Mencari eksistensi sesorang yang baru saja mengiriminya pesan. Dan begitu mata mereka bertemu, Chanyeol spontan menjulurkan lidahnya.
Tidak mau kalah, Baekhyun mengacungkan jari tengahnya.
Baekhyun: Berhenti mengikutiku. Dasar stalker!
Alis Chanyeol menukik saat menerima pesan balasan dari Baekhyun.
Chanyeol: Kau pikir di kampus ini hanya kau saja yang kelaparan?
Baekhyun: Terserah. Jangan ganggu aku.
Chanyeol lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket dan kembali mengantre dengan damai. Biarlah untuk kali ini saja, ia akan melepaskan Baekhyun dan membiarkannya sendirian.
"Ayo!"
Setelah selesai membayar makanannya, Chanyeol dan Kai lalu bergegas mencari tempat duduk. Saat melewati meja yang ditempati Baekhyun, Chanyeol meliriknya sesaat sebelum akhirnya ia kembali berjalan dengan santai.
Baekhyun tentu saja bingung. Terutama ketika sebuah susu kotak rasa stroberi tiba-tiba hadir di hadapannya secara ajaib. Setelahnya, ia mendapat sebuah pesan baru yang pada akhirnya menjawab kebingungan yang sempat lewat di benaknya.
Chanyeol: Minumlah supaya kau tumbuh tinggi sepertiku.
"BERENGSEK."
.
.
.
.
.
"Demi Tuhan, Park! Berhentilah menjadi seorang penguntit!"
Baekhyun kali ini bertemu dengan Chanyeol di toilet pria. Ketika ia sedang mencuci tangan setelah selesai dengan urusannya, ia tiba-tiba dikagetkan dengan wajah Chanyeol yang muncul di cermin.
"Apanya yang menguntit? Ini takdir, tahu." Chanyeol menolak dikatai seperti itu. Ya, pada dasarnya ini memang bukan sebuah kesengajaan. Ia hanya sedang berjalan keluar dari kelasnya dan melihat Baekhyun masuk ke dalam toilet. Tidak ingin kehilangan kesempatan, ia pun turut masuk dan syukurlah hanya ada mereka berdua di sana.
"Cih." Baekhyun menggosok tangannya lebih keras. Seakan-akan ia melampiasakan seluruh kekesalannya ke sana.
"Kau sudah minum susunya?" tanya Chanyeol.
"Sudah kubuang."
"Jangan bohong."
"Sudah kubuang ke dalam perutku."
"Benarkah? Padahal susunya sudah kedaluwarsa."
"APA?"
Tawa Chanyeol kemudian terdengar di seisi toilet. Baekhyun kian jengkel.
"Suatu hari nanti kau akan mati karena tawamu itu." ucapan Baekhyun terdengar seperti sebuah kutukan.
Namun Chanyeol tidak repot-repot memasukkannya ke dalam hati. Daripada lanjut berdebat, ia melakukan gencatan senjata kali ini. Tubuhnya yang sebelumnya berdiri di sisi Baekhyun, kini bersandar di wastafel. Kedua tangannya bersilang di depan dada, dan ia memutuskan untuk memandangi wajah Baekhyun untuk waktu yang lama.
"Apa?" yang ditatapi terlihat tidak nyaman.
Chanyeol tidak menjawabnya.
"Apa?" Baekhyun mengulang tanya. "Kau mau berkelahi?"
Si jangkung menaikkan pundaknya. "Kalau kau tidak keberatan, ayo lakukan di ranjang."
"Ap-Hey! Dasar mesum!"
Oh Tuhan, semburat merah itu, Chanyeol menyukainya. Ia menyukai bagaimana Baekhyun merona hanya karena digoda dengan kalimat-kalimat yang merujuk pada kegiatan orang dewasa.
"Tapi kau menyukainya, bukan?"
Dan tentu saja Chanyeol akan menggodanya lebih jauh. Melihat Baekhyun yang langsung menyembunyikan wajahnya ke arah lain, mengundang kepuasan tersendiri untuknya.
"Katakan, kau menyukainya 'kan?" desaknya lagi.
Baekhyun memutar keran air dengan cepat. Ia lalu berjalan ke dinding terdekat untuk mencabut beberapa tisu dan mengeringkan tangannya. Secepatnya, otaknya mengatakan bahwa secepatnya ia harus keluar dari toilet ini sebelum Chanyeol bertingkah semakin aneh.
Namun naas, saat ia hendak berbalik, Chanyeol sudah sangat siap untuk memojokkannya ke dinding. Kedua tangannya mengunci tubuh Baekhyun yang berdiri di tengah-tengah dengan wajah malu.
"As-ta-ga." Baekhyun mengutuki kesialannya. Park Chanyeol benar-benar merupakan sebuah teror berjalan.
"Byun Baekhyun, kau menyukainya bukan?"
Baekhyun tahu bahwa hari ini akan datang.
"YA!"
Well well well.
"YA! AKU MENYUKAINYA, DASAR SIAL!"
Baekhyun spontan menutupi wajahnya dengan kedua tangan setelah kalimat itu lolos dari bibirnya. Dia tidak berbohong supaya bisa keluar dari situasi ini, sungguh. Itu merupakan murni perasaannya tentang apa yang ia dan Chanyeol lakukan semalam.
Baekhyun menyukai itu. Ia menyukai sentuhan Chanyeol di tubuhnya. Ia menyukai setiap kecup, setiap desah, setiap keringat dan semua hal-hal kecil yang mewarnai malamnya dengan si lelaki tinggi.
Lelaki yang bahkan tidak pernah mampir ke mimpinya. Itu Chanyeol.
Di depannya, Chanyeol kemudian menyingkirkan kedua tangan Baekhyun yang digunakan sebagai tameng akan rasa malu. Kini, ia bisa melihat wajah itu dengan jelas dan ia tidak ingin menyia-nyiakannya dengan berdiri saja tanpa melakukan apapun.
"Park Chanh—mpppphhhhnn!"
Chanyeol memutuskan untuk menciumnya.
Ia tidak ingin mengatakan bahwa ini merupakan nafsu belaka. Namun baginya, mencumbu Baekhyun adalah cara terbaik untuk mengapresiasi keindahannya. Kalau bisa, ia ingin melakukannya sampai ribuan kali hanya supaya Baekhyun tahu bahwa ia memujanya sebanyak itu.
Selama ini, hubungan mereka memang terlalu rumit untuk dijelaskan. Keduanya sering mendeklarasikan kebencian masing-masing tanpa segan. Saling mengumpat namun juga saling menyimpan rasa. Chanyeol yang menggoda dan Baekhyun yang akan menyumpahinya, begitu saja.
Sampai kemudian pada akhirnya, mereka memutuskan untuk saling mengutarakan dengan tindakan.
"Enam satu kosong empat sembilan dua." Chanyeol berbisik di telinga Baekhyun saat ajang pertukaran saliva telah usai. "Password apartemenku. Ingat-ingat dengan baik."
Baekhyun menatap tak mengerti.
"Kudengar kelasmu selesai sore ini. Pergilah duluan, aku akan pulang jam tujuh." Lanjut Chanyeol seraya berjalan keluar dari toilet.
"Tunggu sebentar, aku masih punya banyak pertanyaan—"
"Sampai jumpa lagi di putaran kedua!"
"AKU BELUM SELESAI! HEY—KEMBALI!"
.
.
.
Fin
.
.
.
Special gak pake telor buat kak erie a.k.a Lcourage, dibuat semata-mata sebagai permintaan maaf, semoga terhibur hehehe /emot salam bapak-bapak/
Dah gitu aja. Sampai jumpa lagi di fanfict yang lain!
