Sakura berjalan cepat menuju deretan kios di seberang jalan. Matahari siang ini begitu terik, membuatnya mengernyitkan mata untuk melihat dengan jelas. Kedua tangannya yang penuh dengan buku membuat Sakura sedikit tergopoh. Suasana hatinya memburuk. Dosen yang seharusnya mengajar absen tanpa alasan, sudah bukan hal yang baru lagi bagi pak Hatake, hanya saja Sakura benar-benar ingin bertanya mengenai suatu hal... Sakura merasa salah jurusan dan ingin berkonsultasi dengan dosen wali pak Hatake. Ia sudah menunggu hingga jam makan siang hendak usai dan bapak beruban itu masih belum nampak. Karenanya, Sakura menyerah dan menuju kantin untuk mengisi perutnya yang kosong.

Ia melihat ke kiri dan kanan jalan sebelum menyeberang. Meskipun jalan area kampus bukan jalan yang besar, tetapi mahasiswa yang membawa kendaraan terkadang tidak peduli dengan manusia lain yang hanya memanfaatkan kedua kakinya untuk bergerak. Oleh karena itu Sakura selalu berhati-hati.

Ia melangkahkan kaki perlahan untuk melihat apakah masih ada bangku kosong. Walaupun jam istirahat siang sudah usai, masih terlihat banyak mahasiswa yang hanya duduk untuk mengobrol atau sekedar mengabiskan waktu menunggu jam kuliah selanjutnya. Sakura yang hanya sendiri berdiri kikuk ketika kantin yang biasa ia datangi untuk makan siang penuh sesak.

"Ibu, apa kabar?" Sakura menyempatkan diri menyapa ibu kantin yang tengah mencuci piring dan gelas. Untuk ukuran kantin kampus ternama, sakura akan berkata jujur jika tempat ini terlalu sempit. Belum lagi diisi dengan meja dan kursi, meski hanya terdapat 2 buah sudah memakan banyak tempat.


"Nak Sakura, tumben jam segini baru datang. Banyak sekali bukunya, sibuk ya nak?" ibu kantin yang telah selesai mencuci piring dan gelas menyapa kembali Sakura yang sudah mendudukkan dirinya di kursi panjang tepat menghadap jendela. Ia sering memilih tempat yang terdapat sandaran, seperti tembok, tapi untuk kali ini Sakura ingin melihat dengan jelas crush-nya Uchiha Sasuke yang sedang bermain musik untuk penilaian tengah semester. Meskipun tidak terlihat dimana Sasuke duduk, Sakura ingin memastikan dirinya bahwa ia mendukung Sasuke dari jauh.

"Tidak sibuk ibu, ini titipan dari teman. Dia lupa membawa pulang buku yang ia taruh di meja perpustakaan. Oh iya, aku pesan nasi goreng ya bu, seperti biasa tidak pakai cabai". Sakura memesan tanpa melihat menu di meja.

Sasuke... nama yang sudah terpatri dalam ingatan baik sadar dan bawah sadar di pikiran Sakura. Ia sosok yang pendiam, tetapi ketajaman lidah miliknya sebanding dengan pisau. Sakura sering tidak habis pikir dengan perasaannya pada lelaki berhati dingin itu. Mereka hanya pernah sekelas saat SMA dan itu pun tidak terlalu dekat. Masih dalam batasan pertemanan yang baik, namun Sakura tidak menutup kemungkinan bahwa Sasuke hanya mengganggap Naruto sebagai satu-satunya teman yang ia miliki. Ia hanya mengenal Sakura sebagai nama, bukan sebagai pribadi sendiri. Bukan berarti Sakura tidak pernah mengatakan pada dirinya untuk berhenti mencintai pria yang tidak ingin dicintai, tetapi ketika kesungguhan itu sudah tangguh tanpa terduga Sasuke mulai membuka diri. Ia menceritakan bagaimana keadaan keluarganya yang sedikit banyak membuat Sasuke membatasi diri. Ia mengungkapkan keinginannya untuk lebih baik dari sang kakak supaya ayahnya juga bangga memiliki Sasuke. Dari situ Sakura memahami apa yang Sasuke rasakan.

Sakura hanya ingin Sasuke bahagia.

"Ini nak"

"Terima kasih ibu" Sakura tersenyum lebar. Pagi ini ia belum sarapan karena mengejar kelas pagi dan ia tidur terlalu larut malam kemarin akibat dari mengerjakan tugas linguistik pak Hatake. Dan yang menyebalkan adalah ketidakhadiran dari dosen linguistik membuat tugas yang ia kerjakan dengan merelakan jam tidurnya sia-sia.

Setelah piring setengah kosong, Sakura merasakan orang lain duduk disebelahnya. Beberapa menit berselang, Sakura menengok untuk melihat siapa orang itu. Dan ia sedikit terkejut. "Sasuke" Sakura menghela napas pelan. Ia mengingatkan dirinya untuk menjaga ekspresi wajah normal.

Sasuke yang telah selesai meletakkan kembali biola ke tasnya melirik Sakura sebentar lalu menaruh tasnya pada jarak kosong antara ia dengan perempuan berambut pink itu. Ia masih terdiam meskipun Sakura dengan tidak tertutup menatapnya lama.

"Sasuke? Ada apa?" Sakura bertanya pelan. Ia menyingkirkan piringnya ke depan untuk menandakan bahwa sekarang ia berfokus pada lelaki yang hanya terdiam membisu. Gelas es teh yang masih belum ia minum ia sodorkan ke Sasuke yang tanpa diduga Sasuke menerimanya dan meminumnya.

"Bagaimana ujiannya?", Sakura membuka percakapan. Bukan hanya sekali atau dua kali ia seperti itu melainkan sudah seperti default di pengaturan sosial Sakura untuk bertanya hal yang umum guna membuka mulut Sasuke walau jawaban yang biasa diberikan hanya berupa gumaman.

"Baik".

"Syukurlah, aku mendengarkannya dari sini. Tidak terlihat sih, hanya saja aku tahu kamu melakukan yang terbaik". Mendengar itu Sasuke menatap Sakura, "Aku tidak bermain, ujiannya diundur minggu depan" jawabnya lalu berpaling untuk memesan minuman jus jeruk. Ahhh, itu menjelaskan mengapa terdengar pula bincang-bincang dan gurauan, batin Sakura. Sakura mengangguk-angguk paham.

"Aku hanya ingin bicara denganmu tentang sesuatu" Sasuke berkata sambil meminum jus jeruk di tangannya.

"Ada apa?".

"Semester depan aku akan pindah dan keluar dari universitas. Aku akan mengambil jurusan manajemen di Oto".


tbc