MONSTER
by
Achan Jeevas
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Chapter 2
.
.
.
.
.
Suara riuh memenuhi lapangan depan Atlantis Academy yang dipenuhi oleh kelas 2 yang siap pergi ke Dunia manusia, lebih tepatnya ke satu Negara yang ada di Eropa, Prancis. Tentu saja semuanya riuh karena mereka sangat antusias dengan kunjungan mereka ke dunia manusia.
"Sekarang masuk ke Bus dengan teratur jika tidak maka akan ada pengurangan point untuk Asrama kalian." Perintah Prof Max Changmin, dia memang salah satu Prof yang tegas dan sangat di segani oleh murid-murid.
Para murid kelas 2 Atlantis Academy segera memasuki bus yang sudah disiapkan oleh sekolah mereka. Terdapat bus dua tingkat untuk membawa seluruh murid kelas 2 dan sepuluh guru untuk menjadi pengawas. Walaupun hanya satu bus namun seluruh murid bisa masuk karena bus itu sudah di sihir sedemikian rupa.
Minhyun menghela nafas dan menceklis nama murid yang sudah masuk ke bus, sebagai seorang ketua asrama ini adalah tugasnya.
Seongwoo berdiri didepan Minhyun. "Minhyun, kau cantik dan tapi aku belum mencintaimu. Tapi tunggu saja pulang dari Prancis mungkin kau sudah hamil anakku."
Kepala Minhyun langsung panas mendengar ucapan tidak tahu diri dari Alpha didepannya. Ia lalu menatap Seongwoo tajam dengan matanya yang sudah berubah warna menjadi sea blue. "Kau mau mati sebelum berangkat ke Prancis yah, Ong?"
"A-aku hanya bercanda kok, hehehhe. Jangan dibawa serius." Ucap Seongwoo dan langsung masuk ke dalam bus secepatnya.
Sungguh walaupun mata sea blue Minhyun sangat indah ketika sedang dalam mode penyihir namun tatapan tadi menjanjikan sebuah badai untuknya dan Seongwoo masih belum mau mati muda, dia belum mengajak Daniel menikah dan memiliki banyak anak dengan pemuda bergigi kelinci itu.
Setelah dirasa penganggu sudah tidak ada Minhyun kembali merubah matanya menjadi warna hitam seperti biasanya dan kembali melakukan aktivitasnya yang sayangnya banyak para laki-laki dominant yang menggodanya seperti Seongwoo tadi.
.
.
Minhyun mendudukan dirinya di bangku bus paling belakang setelah menyelesaikan tugasnya, ketika Minhyun berniat memejamkan matanya ia merasakan seseorang duduk disampingnya dan tanpa menolehpun dia sudah tahu jika JR lah yang duduk disampingnya. Sebagai ketua asrama keduanya memang harus duduk bersama di kursi paling belakang untuk mengawasi murid lainnya sedangkan para guru ada di kursi depan.
Prof Siwon berdiri didepan kursi murid-murid kelas 2. "Ingat peraturannya, anak-anak. Tidak boleh menggunakan sihir, berubah wujud atau memperlihatkan kekuatan kalian didepan manusia jika kalian tidak ingin mendekam di Atlantis Prison semala dua bulan. Tidak boleh membuat manusia tahu siapa diri kita dan Tidak boleh mengganggu manusia. Mengerti?"
"Mengerti, Professor." Ucap semuanya bersamaan.
"Bagus."
"Tidak seru sama sekali, tidak boleh mengganggu manusia, memangnya manusia sebegitu istimewanya kah? Mereka hanya makhluk lemah yang cepat mati." Gumam JR setalah salah satu guru tampan di sekolahnya itu selesai berbicara.
"Setidaknya manusia selalu bahagia di umur mereka yang singkat itu. Tidak seperti kaum kita yang selalu haus kekuatan dan peperangan." Ucap Minhyun tanpa memandang JR sama sekali.
"Kau membicarakan ras kita berdua? Manusia Serigala dan Penyihir?"
"Menurutmu siapa lagi ras yang saling membenci sampai mendarah daging di Atlantis?"
JR memandang Minhyun. "Dan memangnya kau ingin apa? Seperti yang kau katakan ras kita saling membenci hingga mendarah daging."
Minhyun tersenyum mengerikan. "Aku ingin seluruh Ras Manusia Serigala mati di atas muka Bumi ini."
JR langsung berdiri dari duduknya dan langsung mencekik leher Minhyun dengan tangan kirinya. Matanya berwarna grey penuh amarah. "Sebelum itu terjadi Kaum Penyihir sudah lebih dulu binasa ditanganku."
"Ohk…"
"JR!" teriak Siwon, Changmin dan Jaejoong secara bersamaan melihat JR yang mencekik leher Minhyun sedangkan para murid perempuan berteriak ketakutan.
Siwon langsung menarik tubuh JR menjauh dari Minhyun yang tampak kehabisan nafas akibat cekikan yang kuat itu. Siwon sendiri harus menggunakan kekuatannya untuk menjauhkan tubuh JR pada Minhyun, Alpha muda itu benar-benar memiliki kekuatan seperti Alpha dewasa. Pack FLAME memang memiliki kekuatan yang luar biasa.
"Minus 20 point untuk Asrama Malam." Ucap Jaejoong. "Siwon bawa dia kedepan, biar aku yang duduk dibelakang."
Mendengar point Asrama Malam dikurangi membuat Minhyun tersenyum puas dan JR yang melihat itu akhirnya sadar jika ini memang rencana penyihir licik itu dari awal.
"Kau…" JR menggeram berbahaya membuat para Omega dan Beta disana ketakutan mendengarnya.
"JR, kau menakuti teman-temanmu. Tenangkan dirimu sebelum aku kurangi lagi point dari Asramamu."
Siwon dan Changmin langsung membawa JR ke kursi paling depan sedangkan Jaejoong langsung duduk disamping Minhyun.
"Kau tidak apa-apa, Minhyun?"
Minhyun memegang lehernya yang ia yakin memerah bekas cekikan JR. "Tidak apa-ap, Professor Hero."
"Biar aku sembuhkan." Ucap Jaejoong lalu merapalkan mantra penyembuh pada leher Minhyun. "Kalian berdua begitu mirip dengan kakak kalian, tahun lalu pun kami membuat Kai dan Sehun duduk bersampingan namun berakhir dengan kakakmu memukul wajah Kai."
.
.
.
Seluruh murid tingkat dua Atlantis Academy turun dari bus ketika mereka telah sampai di Ibu kota Prancis, Paris.
Minhyun turun yang paling terakhir dan sudah ada beberapa dominant yang menunggunya didepan bus sambil mengulurkan tangan mereka untuk membantu Minhyun turun namun Minhyun tidak mempedulikan uluran tangan mereka.
"Jadi ini dunia manusia?" cemooh Ren. "Atlantis seribu kali lebih baik dari ini."
"Sepertinya kita berada di masa lalu. Ini benar-benar kuno." Komen Daniel sambil memandangi sekelilingnya.
Jaejoong tersenyum kecil mendengar ucapan murid-muridnya. "Inilah istimewanya dunia manusia. Tidak seperti di Atlantis yang dipenuhi sihir dan keindahannya, manusia membuat kesederhanaan ini dengan tangan mereka sendiri yang tanpa sihir."
"Terdengar menyusahkan untukku." Ucap Baekho yang langsung diangguki oleh teman-temannya.
"Ya, memang menyusahkan kedengarannya tapi manusia selalu bahagia bila kerja keras yang mereka lakukan membuahkan hasil yang memuaskan untuk mereka. Dan selama tiga hari ini kita akan menjadi manusia. Tanpa sihir, tanpa kekuatan dan tanpa perubahan wujud."
Dan pada siang hari itu seluruh murid tingkat 2 Atlantis Academy memulai tour mereka di kota Paris sebelum keesokan harinya mereka mulai melakukan penelitian dan pada hari terakhir mereka akan diberi misi oleh guru-guru mereka.
Para manusia yang mereka lewati memandang gerombolan tersebut dengan terkagum-kagum terutama pada sang bungsu Clan Kim, JR. Ketampanannya benar-benar memikat siapa saja yang ia lewati.
.
.
.
Pada hari kedua seluruh murid menulis essay tentang Prancis terutama kota Paris dan hal-hal bersejarah lainnya untuk mata pelajaran sejarah mereka. Sebagian besar murid tampak kewalahan melakukan itu karena pada hari pertama mereka tidak mendengarkan sama sekali ucapan Professor Hero Jaejoong.
Minhyun menulis essay tentang kota Paris dengan santai karena dia memiliki otak yang jenius dan jangan lupakan ia juga membaur pada manusia disekitarnya dan bertanya-tanya pada mereka.
Orang Paris sendiri menganggap mereka adalah turis dan mereka dengan ramah menjawab pertanyaan Minhyun, lagi pula mereka juga senang pada Minhyun karean pemuda itu begitu cantik dan manis.
Apa aku belum mengatakan jika Minhyun bisa berbahasa Prancis? Yah Minhyun bisa berbahasa Prancis, ia mempelajarinya kemarin dan langsung menguasai bahasa Prancis dengan baik. Otak jeniusnya ia dapatkan dari Ayah dan Ibunya.
.
.
.
Dan seperti yang sudah dijelaskan diatas pada hari ketiga –hari terakhir kunjungan mereka di Paris para Guru memberikan mereka misi yang mana dalam satu team di isi dua orang murid.
"Ambil nomor didalam kotak ini. Dua murid yang memiliki nomor yang sama akan berada dalam satu Team dan dalam satu Team berisi satu murid dari Asrama Malam dan Asrama Siang."
Suara protesan dari beberapa murid langsung memenuhi rumah besar yang menjadi tempat peristirahatan mereka di Paris.
"Prof mengapa tidak dari satu asrama saja?" ucap Minhyun. Dia tidak apa-apa dengan murid Asrama Malam asalkan mereka adalah Vampire tapi bagaimana jika teman satu teamnya adalah Serigala dan yang lebih parah bila JR-lah teman satu teamnya.
"Oh, sepertinya ada yang takut dengan Serigala." Ejek JR dan ucapan JR sukses memicu tawa dari teman-temannya yang sesama manusia serigala.
Minhyun langsung memandang JR dengan tatapan penuh kebencian, kalau saja mereka berada di Atlantis sudah pasti mata hitam Minhyun sudah berubah warna menjadi sea blue.
"Hentikan kalian berdua." Lerai Changmin. "JR, Minhyun sebagai Ketua Asrama kalian yang pertama mengambil nomor."
Dan tanpa banyak kata kedua Ketua Asrama itu melangkah kedepan dan mengambil nomor didalam kotak. Minhyun mengambil nomor di kotak yang berwarna putih –Asrama Siang dan JR mengambil di kotak berwarna gelap –Asrama Malam.
Setelah keduanya mengambil nomor, murid lain pun maju kedepan dan mengambil nomor mereka dengan tertib hingga pada murid terakhir.
"Sekarang buka kertas kalian dan nomornya yang Saya panggil harap maju kedepan untuk mengambil kertas yang berisi misi kalian."
Minhyun membuka kertasnya dan terdapat angka 95 disana. Ia benar-benar berharap jangan sampai ia bersama dengan ras Serigala.
Minhyun mendudukan dirinya disamping Ren dan menunggu angkanya disebutkan. Ketika Professor Siwon menyebutkan angka dan satu murid dari Asrama Siang dan serta murid dari Asrama Malam maju –karena nomor mereka yang sama dan otomatis menjadikan mereka satu team, ada saja dua murid dari dua asrama itu yang tidak mengenal satu sama lain hingga membuat mereka tampak canggung atau bahkan ada yang sudah mengenal dekat.
"95."
Minhyun langsung berdiri dari duduknya dan melangkah kedepan untuk mengambil kertas yang berupa misi tanpa memandang siapa teman satu teamnya yang dari Asrama Malam. Ketika ia mau mengambil kertas dari tangan Prof Max, ia mendengar gurunya itu menggumam.
"Bagaimana bisa ini terjadi lagi."
Minhyun langsung mendongak dan menatap gurunya bingung.
"Apa maksud anda, Prof?" tanyanya namun ia langsung tersadar akan kesunyian yang ada disekitarnya. Murid-murid yang tadi gaduh membicarakan misi mereka terdiam semuanya bahkan para guru pun ikut terdiam.
"Kesialan macam apa ini." ucap sebuah suara berat disamping Minhyun.
Dan ketika Minhyun menatap kesampingnya barulah ia mengerti mengapa teman-temannya bahkan guru-gurunya terdiam.
"KAU."
Jaejoong menghela nafas melihat keduanya. "Selamat Kim JR & Minhyun Blackthorn, kalian satu Team. Tolong jangan saling membunuh satu sama lain di misi kalian ini."
.
.
JR merebut kertas berisi misi mereka ditangan Minhyun dengan paksa dan membaca isi kertas tersebut.
'Temukan Imortal Rose yang ada di Paris'
Setelah membaca isi tulisan tersebut ia memandang Minhyun yang juga tengah menatapnya dengan penuh kebencian.
"Aku tahu kau membenci dan demi Tuhan aku juga membencimu, sangat. Tapi kita harus segera menemukan mawar ini secepatnya agar kita segera menyelesaikan misi ini. Mengerti?"
Mereka hanya diberikan waktu sampai matahari terbenam untuk menyelesaikan misi mereka karena tepat pada matahari terbenam bus akan kembali ke Atlantis dan Team yang paling cepat menyelesaikan misi akan mendapatkan hadiah.
"Itu yang aku inginkan tapi memangnya kau tahu dimana Imortal Rose itu berada?"
"Tentu saja aku tahu, Ayahku dulu pernah memberikan Ibuku Imortal Rose yang ia dapatkan di Paris. Ayo ikut aku." JR menarik tangan Minhyun untuk masuk kedalam bus umum.
Ingat mereka tidak diperbolehkan melakukan sihir dan sebagainya jadi mereka menggunakan kendaraan umum manusia yang ada di Paris.
.
.
Keduanya turun dari bus yang mereka tumpangi. JR langsung melangkah lebih dulu dari Minhyun yang memegangi perutnya.
"Aku lapar." Gumam Minhyun sambil merapatkan jaket hitamnya yang kebesaran.
JR tidak merespon sama sekali dan tetap melangkah.
"Hey bajingan, Aku lapar!" teriak Minhyun dan sukses menghentikan langkah kaki JR.
Orang-orang yang berjalan disekitar mereka memandangnya dengan gemas pasalnya Minhyun begitu manis ketika merajuk seperti itu.
"Kau apa?"
"Aku lapar dan kenapa juga tempatnya sangat jauh."
JR mendekati Minhyun. "Imortal Rose memang ada di Hutan pinggir kota Paris dan aku tidak peduli jika kau lapar atau kau mati sekalipun."
Minhyun menatap JR dengan kebencian yang membara, oh dia ingin sekali memukul wajah tampan didepannya namun perutnya terus meronta minta diisi, salahkan cuaca yang dingin ini hingga membuat Minhyun ingin makan roti dan minum segelas kopi.
"Apa! Mau menangis?"
Bungsu Clan Blackthorn itu tidak membalas ucapan JR, dia hanya melangkah melewati JR bahkan sengaja menabrakkan bahu mereka –Minhyun menyesal karena sekarang bahunya merasa sakit.
JR pikir Minhyun akan berjalan lurus tapi ternyata adik dari Sehun itu malah masuk kedalam tokoh roti.
.
.
Minhyun masuk kedalam tokoh roti yang penuh pengunjung itu, matanya melebar melihat banyak roti yang beraneka bentuk dan rasa. "Wahhhh."
"Adik manis apa kau ingin roti?" seorang pria dewasa tiba-tiba saja menarik tangan Minhyun dan meletakan satu roti ditelapak tangan Minhyun. "Ini paman berikan untukmu."
Mata Minhyun melebar karena terkejut namun ketika melihat roti ditangannya ia langsung tersenyum manis. "Terimakasih, Paman." Ucapnya dengan bahasa Prancis.
Pria itu terpana akan senyum manis Minhyun. "Sama-sama, adik manis. Apa kau mau ikut Paman kerumah? Disana juga banyak makanan yang enak."
Minhyun memandang tangan pria asing didepannya yang menjinjing banyak roti. "Aku ingin semua roti itu, Paman."
"Ini, ini. Silahkan ambil semuanya." Pria itu segera memberikan keranjangnya yang berisi banyak roti pada Minhyun. "Sekarang ayo ikut Paman kerumah."
Mata Minhyun berbinar melihat keranjang penuh roti yang masih mengepul ditangannya. "Paman, Aku juga ingin kopi, hari ini benar-benar dingin."
"Paman akan belikan, paman akan belikan. Tunggu disini, Paman akan pesankan untukmu, Manis." Pria itu segera berlalu dari hadapan Minhyun untuk memesan kopi untuk pemuda manis yang baru ia temui itu.
Minhyun mengangguk mendengar ucapan pria tersebut dan langsung memakan roti ditangannya, ketika ia tengah asyik makan roti sebuah tangan menariknya keluar dari tokoh roti tersebut.
"Yak, Apa-apaan kau, Kim." Teriak Minhyun penuh amarah namun amarahnya langsung hilang ketika JR memberikan kopi padanya.
"Itu kopimu." Ucap JR, ia sendiri tengah meminum kopi miliknya sendiri. "Sekarang ayo lanjutkan misi kita."
Minhyun menatap kopi ditangannya dan punggung JR yang sudah melangkah kedepan.
JR tengah asyik menatap kedepan ketika sebuah roti masuk kedalam mulutnya dengan paksa. Pelakunya tentu saja Minhyun Blackthorn.
"Itu untuk menutup mulut kotormu." Ucap Minhyun lalu berjalan dengan melompat-lompat kecil, tangannya sendiri masih membawa keranjang penuh roti yang ia dapatkan dari Pria Prancis tadi dan kopi dari JR.
.
.
"Ini tempatnya." Ucap JR ketika mereka sudah ada di Hutan.
"Baguslah kita sudah sampai." Minhyun lalu mendudukan dirinya di pohon yang sudah tumbang.
JR memicingkan mata berwarna grey miliknya. "Kenapa kau duduk?"
"Aku mau memakan semua roti ini dulu. Ayo bantu aku menghabiskannya."
Ok, JR harusnya memukul Minhyun karena sikap seenaknya ketua Asrama Siang didepannya namun apa daya ia juga lapar jadi ia duduk disamping Minhyun dan ikut memakan roti gratis tersebut.
.
.
Minhyun menatap kosong roti ditangannya yang tinggal setengah. "Aku kenyang."
"Habiskan." Perintah JR. "Kau yang tadi ingin roti."
Minhyun terdiam lalu ia menatap JR dan menyodorkan roti yang tinggal setengah itu. "Kau saja yang habiskan."
JR menghela nafas lalu mengambil roti yang sudah di gigit oleh Minhyun itu dan memakannya dalam sekali gigit. Sosok tampan itu lalu mengibaskan tangannya akan remah-remah roti lalu tanpa banyak kata langsung menarik tangan Minhyun. "Ayo."
.
.
Minhyun menatap berbagai tumbuhan mawar di Hutan tersebut. "Inikah Imortal Rose itu?"
"Cari yang paling tampak awet muda." Ucap JR sekenanya, ia sendiri tengah mencari bunga Imortal Rose tersebut.
"Hanya itu?"
"Ya."
"Dasar bodoh. Bagaimana bisa hanya seperti itu? Lebih spesifik, Kim." Omel Minhyun sambil memukul kepala JR.
JR mengelus kepalanya yang mendapatkan pukulan Minhyun. "Aku tidak tahu bentuknya, Ayahku yang pernah mencari Mawar itu bukan aku."
Minhyun tidak menghiraukan ucapan JR, ia langsung mencari sendiri mawar yang dimaksud dalam misinya.
.
.
Dua jam mereka terus mencari namun tetap tidak menghasilkan apa-apa sampai Minhyun berteriak.
"Akhhh!"
"Kenapa kau? Jika ada ulat tinggal bunuh saja." ucap JR tidak peduli akan teriakan Minhyun.
"Sepertinya aku menemukannya."
JR langsung mendekati Minhyun yang tengah berjongkok sambil memandangi sesuatu dan JR dibuat terpana akan mawar yang Minhyun tunjuk. Mawar itu tampak berbeda dengan mawar lainnya, dari kelopak hingga tangkainya mawar itu benar-benar memancarkan keindahan yang lain.
"Dia sangat indah, pantas saja dia bersembunyi diantara ribuan mawar lainnya." Gumam Minhyun.
"Kau benar."
"Aku jadi tidak tega untuk memetiknya."
"Tapi kita harus melakukannya."
Minhyun menghela nafas dan mengangguk. "Kau benar." Tangannya terulur untuk memetik mawar tersebut namun JR langsung menangkap tangannya.
"Apa kau, bodoh? Lihat durinya sangat tajam." Ujar JR dan barulah Minhyun sadar ketika ia melihat duri-duri pada mawar itu.
"Biar aku saja yang memetiknya." JR lalu menambil sesuatu disaku celannya yang adalah cutter dan memotongnya, ia tidak mempedulikan jari-jarinya yang tertusuk duri mawar tersebut. Ingat, JR adalah Manusia Serigala dan mereka bisa menyembuhkan luka dengan mudah.
JR langsung memasukan mawar tersebut kedalam keranjang roti yang sudah kosong. "Selesai, ayo kita kembali."
Minhyun menatap jari-jari JR yang berdarah. Ok, walaupun dia ingin JR dan seluruh ras Manusia Serigala binasa namun ia merasa tidak enak melihat jari itu meneteskan darah.
Minhyun menggelengkan kepalanya dan mencoba untuk tidak peduli pada JR, Ia kembali memandang mawar didalam ranjang tersebut. Mawar itu sungguh indah.
"Ini untukmu." Ucap JR sambil melemparkan mawar pada Minhyun yang langsung ditangkap Minhyun dengan mudah. "Kita berada di Prancis dan Mawar Prancis sangat terkenal di Bumi."
Minhyun hanya mengangguk dan mencium aroma mawar yang JR berikan padanya. Mawar itu berwarna soft pink yang berarti ungkapan rasa kagum sang pemberi dan yah JR kagum pada Minhyun karena sosok itu menemukan mawar tersebut dan menyelesaikan misi mereka.
Dan ketika keduanya keluar dari area Hutan itu hujan turun dengan deras beserta angin kencang.
"Shit." Umpat JR lalu menarik tangan Minhyun untuk mencari tempat berteduh.
.
.
"Menurut kalian apa JR dan Minhyun akan mengulang kesalahan yang sama seperti Kai dan Sehun?" tanya Jaejoong sambil meminum tehnya.
"Maksudmu sebagai Team yang menyelesaikan misi paling akhir? Aku pikir juga begitu. Mereka pasti berkelahi selama berjam-jam dulu baru memulai misi mereka, persis seperti kakak mereka." Changmin angkat suara.
"Saat melihat mereka maju ketika aku menyebut angka 95 membuatku langsung teringat Kai dan Sehun yang sama-sama mendapatkan angka 94." Ucap Siwon.
.
.
Minhyun menatap datar hujan badai dari jendela rumah kecil yang menjadi tempat berteduh mereka berdua. Rumah kecil ini begitu dekat dengan Hutan yang mereka datangi tadi dan ketika masuk ternyata rumah ini kosong dan tak berpenghuni.
Rumah kecil ini hanya berisikan satu kursi tua, satu meja kecil –dimana Minhyun meletakan keranjang berisi mawar yang menjadi misi mereka serta perapian yang sudah mereka nyalakan.
JR sendiri duduk didepan perapian –walaupun ia tidak merasa dingin sama sekali wajah tampannya menatap jari-jarinya yang tertusuk duri tajam mawar. "Kenapa kau tidak menggunakan sihirmu untuk menghentikan badai ini."
"Kau ingin aku di penjara selama dua bulan di Atlantis Prison karena merapalkan mantra di dunia manusia?"
"Well, itulah doaku setiap malam."
Minhyun membalikan badannya dan menatap JR tajam. "Kenapa kau tidak pergi saja dan meninggalkanku disini. Kau Serigala, kau berdarah panas."
"Dan berakhir dengan aku di ceramahi oleh Professor Hero karena tidak membawamu dan point asramaku di kurangi lagi? Tidak, Terimakasih."
Minhyun mendengus kasar mendengar jawaban JR. Ia kembali menatap cuaca luar.
"Kemarilah, kau kedinginan."
"Tidak."
"Aku ingin kau mati ditanganku bukan mati bodoh karena duduk dijendela memandangi hujan badai."
Dan Minhyun langsung mendudukan dirinya disamping JR dengan jarak yang jauh tentunya, lagipula dia memang kedinginan dan jaketnya tidak membantu sama sekali. Minhyun melirik JR yang hanya memakai kaos putih dengan celana jeans, Alpha muda disampingnya ini tidak kedinginan sama sekali dan hanya mengelus jari-jarinya.
"Kenapa jari-jarimu?" tanya Minhyun.
"Bukan urusanmu."
Namun Minhyun langsung mendekat dan menarik telapak tangan JR dan ia membelalakan matanya melihat jari-jari itu berwarna keunguan dan tampak luka seperti sayatan karena duri mawar yang tajam.
"I-ini karena duri-duri itu?"
"Begitulah."
Minhyun memandang JR. "Aku pikir duri mawar tidak beracun."
"Memang tidak jika itu mawar biasa dan yang kita bawa ini bukan mawar biasa tapi Imortal Rose dan ini bukan racun tapi sesuatu yang lain."
"Sesuatu yang lain apa?"
JR menatap Minhyun dengan intens, tatapan itu bahkan sampai menusuk di ulu hati Minhyun. "Aphrodisiac."
Minhyun merasa dunianya berhenti saat itu juga. Ia tentu tahu apa itu Aphrodisiac, Aphrodisiac tak lain dan tak bukan adalah zat yang membangkitkan atau meningkatkan gairah sexual dan Aphrodisiac bisa berasal dari tumbuhan, wangi-wangian atau bahkan makanan.
Minhyun menengok kearah keranjang berisi sang Imortal Rose, keranjang itu terbuka dan dari jarak seperti ini dia bisa mencium aroma dari mawar tersebut, Minhyun ingat bahwa dia mencium aroma bunga itu ketika pertamakali melihatnya.
Aphrodisiac tidak hanya berpengaruh ketika kau meminumnya tapi ketika kau mencium aromanyapun Aphrodisiac itu merasuk pada tubuhmu
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
February 16, 2018
.
.
.
.
A/N :
-Warna mata (di chapter kamarin achan lupa nulis)
Suho : Grey
Lay : Brown
Kai : Grey
JR : Grey
Keluarga penyihir matanya berwarna hitam namun jika mode bertarung atau merapalkan mantra mata mereka akan berbeda warna.
Kris : Sea Blue
Luhan : Hazel
Sehun : Hazel
Minhyun : Sea Blue
