MONSTER

by

Achan Jeevas

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Chapter 4

.

.

.

.

.

.

.

.

.

[Masa Depan]

"Killian, Killian, kau dimana?" teriak gadis kecil berusia sepuluh tahun memanggil sepupunya. Ia menatap sekeliling hutan yang dipenuhi pohon-pohon besar. Sepupunya yang tampan itu memang selalu suka menyendiri di Hutan."Killian."

"Tidak usah berteriak, Kiella. Aku tidak tuli." Ucap suara dingin dari atas pohon.

Gadis kecil yang dipanggil Kiella hanya tersenyum melihat sepupunya yang tampan itu berada diatas pohon. Ia lalu memarkan sebuah buku tua yang ia peluk. "Coba tebak aku menemukan apa?"

"Buku."

Gadis cantik itu memajukan bibirnya beberapa centi. Tabiat sepupunya ini memang dingin sejak dulu. "Ini buku mantra kuno."

"Lalu?"

"Bisa kau turun. Leherku sakit terus mendongak." Omel Kiella.

Killian memutar matanya yang unik dan turun dari pohon lalu mendekati sepupunya yang berbeda tiga tahun darinya itu.

Brukk.

Killian kini berdiri tepat didepan Kiella. Killian tentunya lebih tinggi dari Kiella, Kiella sendiri tingginya hanya seleher Killian dan kini Kiella bisa melihat mata dua warna milik sepupunya yang begitu ia sukai. Heterochromia. Mata kanan Killian berwarna grey sedangkan mata kirinya berwarna sea blue.

"Nah itu baru bagus." Kiella lalu mendudukan dirinya ditanah lalu menarik tangan Killian untuk ikut duduk. "Aku menemukan sihir yang selama ini aku inginkan dalam buku ini."

Killian menatap buku ditangan putih Kiella ketika gadis kecil itu membuka buku yang penuh dengan debu itu.

"Sihir Teleport?" tanya Killian, ia kenal sepupunya sejak dulu dan Kiella sangat terobsesi untuk bisa melakukan sihir teleportasi atau berpindah tempat.

"Betul sekali. Akhirnya setelah bertahun-tahun aku akan bisa berteleportasi juga."

Killian memandang mata hazel Kiella dengan tajam. "Dan apa hubungannya denganku?"

"Kau ikut denganku untuk berteleportasi."

Bocah tampan itu langsung berdiri dari duduknya ketika mendengar jawaban gila sepupunya itu. "Aku tidak tertarik."

Namun Kiella langsung menarik tangan Killian sehingga membuat Killian langsung terduduk kembali didepannya. Ia memberikan puppy eyesnya pada Killian. "Kau tidak menyayangiku lagi?"

"Memangnya aku pernah bilang kalau aku menyayangimu?"

"Oh, Aku juga menyayangimu sepupu." Ucap Kiella tanpa mempedulikan kalimat Killian sebelumnya. "Sekarang mari kita coba mantranya."

Killian memutar matanya dan menatap halaman yang dibuka Kiella, ia sedikit mengernyit bingung melihat simbol-simbol dan kalimat mantra yang baru pertamakali ia lihat itu. "Kau yakin itu sihir teleport? Dari mana kau mendapatkan buku itu."

Gadis berusia sepuluh tahun itu menutup halaman didepannya dengan menggunakan tangannya yang tidak menggenggam tangan Killian. "Serahkan padaku, aku adalah penyihir, aku tahu apa yang akan aku lakukan. Dan mengenai dari mana aku mendapatkan buku ini, aku mendapatkannya dari gudang Grandpa Kris."

Killian memicingkan matanya mendengar ucapan sosok yang lebih muda tiga tahun darinya itu. Mereka berdua bukan asli Penyihir karena kedua orangtua mereka adalah Manusia Serigala dan Penyihir.

Tapi darah sihir dari pihak Ibu Kiella memang lebih mendominasi sehingga Kiella pandai melakukan sihir dan Kiella tidak bisa sama sekali berubah wujud menjadi manusia serigala tidak seperti dirinya yang bisa berubah wujud menjadi serigala namun ia juga bisa merapalkan beberapa mantra sihir walaupun memang tidak se-ahli Kiella.

"Kau lebih baik memejamkan matamu sepupu."

Sungguh sebenarnya Killian tidak mau mengikuti ide gila Kiella namun ia memejamkan matanya. "Bagaimana kalau gagal dan hanya setengah dari tubuh kita yang berpindah tempat?"

Melihat sepupunya sudah memejamkan matanya Kiella lalu menggenggam buku tebal ditangannya yang kirinya –tangan kanannya menggengam tangan Killian. "Sepertinya aku belum bilang padamu tapi sebelum kesini aku melakukan percobaan pada kelinci."

"Dan berhasil?"

"Tentu saja." ucap Kiella dengan sombong, sifat tersebut ia miliki dari Ibunya. Mata hazel Kiella menatap wajah tampan sepupunya dengan intens.

'Mari kita ke masa lalu dan mengubah semuanya, Killian.' ucapnya dalam hati. Iyah, Kiella memang berniat untuk kembali ke masa lalu dan bukan untuk melakukan teleportasi. Ia menjebak Killian.

Kiella menarik nafas sebentar lalu menatap halaman pada buku tua ditangannya dan mulai merapalkan mantra yang ada disana. Ketika ia mulai merapalkan mantra pada garis pertama seketika langit yang tadi cerah menjadi gelap, angin bertiup kencang dan asap tebal yang entah darimana datangnya serta suara burung gagak saling bersahutan.

Killian hampir membuka matanya ketika tangan kanannya diremas oleh Kiella tanda bahwa Killian tidak boleh membuka matanya.

Kiella sendiri nafasnya hampir terputus-putus karena entah mengapa jantungnya bedebar dengan sangat kencang dan ia merasakan ada sebuah bisikan-bisikan halus ditelinganya. Ia hampir saja membatalkan mantra tersebut karena rasa takut dan keraguan muncul –walau bagaimanapun dia tetaplah anak kecil berusia 10th namun dengan segera ia lenyapkan rasa takut dan ragu dalam dirinya ketika ia merasakan genggaman tangan Killian.

Dia tidak boleh ragu, sepupunya telah lama menderita dan diselimuti kebencian. Dia harus memberikan kebahagiaan pada Killian. Killian pantas mendapatkan kebahagiaan.

Seketika sebuah cahaya menyilaukan menyelimuti keduanya, cahaya itu benar-benar besar dan membuat Kiella melepaskan buku mantra kuno ditangannya dan terjatuh ketanah.

Ketika cahaya itu meredup dua sepupu itu sudah tidak ada disana dan hanya meninggalkan sebuah buku tebal yang sudah kuno yang terbuka pada halaman bertulis 'μαύρη μαγεία - πίσω στο παρελθόν .'

.

.

Prangg.

Sehun menjatuhkan gelas tehnya –yang baru ia buat ketika cuaca tiba-tiba saja menjadi dingin- saat ia melihat cahaya terang dari arah Hutan.

"KAI!" teriaknya memanggil sang manusia serigala. Perasaannya mengatakan ada sesuatu yang salah.

Kai segera keluar dari kamar dan mendekati Sehun ketika pemuda albino itu memanggil namanya.

"Apa? Kenapa kau berteriak?"

Sehun menatap Kai dengan matanya yang berwarna hazel tanda dia sedang dalam mode Penyihir. "Kita harus ke Hutan."

Dan tanpa mengatakan apapun lagi Kai langsung mengubah wujudnya menjadi Serigala dan Sehun langsung duduk diatas tubuh Kai. Setelah Sehun duduk diatas tubuhnya Kai langsung berlari menuju Hutan dengan kecepatan penuh.

.

"Berhenti." Sehun turun dari tubuh Serigala Kai dan betapa terkejutnya dia melihat buku tua milik Ayahnya tergeletak ditanah. Sehun langsung memungut buku tersebut.

"μαύρη μαγεία - πίσω στο παρελθόν ." baca Kai dari balik bahu Sehun. "Bukankah itu artinya Mantra gelap – Kembali ke masa lalu?"

"Ya. Sepertinya Kiella membawa Killian ke masa lalu."

Kai menatap Sehun. "Astaga, Putrimu itu bahkan baru berusia sepuluh tahun dan dia sudah mengusai mantra untuk pergi ke masa lalu."

Sehun menatap tajam Kai dan menjitak pria berkulit tan didepannya. "Putriku itu Putrimu juga, Bodoh."

"Aww." Kai memegang kepalanya yang mendapatkan jitakan penuh cinta dari sosok manis didepannya.

Sehun menghela nafas dan menatap halaman buku ditangannya. "Dia benar-benar putri kita."

Sang Alpha tampan itu menatap istrinya cukup lama dan tiba-tiba saja memeluk pinggang Sehun dari belakang. "Menurutmu apa mereka bisa mengubah masa suram ini?"

"Aku yakin mereka bisa. Killian pantas mendapatkan kebahagiaannya, tidak seharusnya Minhyun memperlakukan Killian seperti ini." Sehun menyenderkan punggunnya di dada Kai. Ia teringat adiknya yang selama bertahun-tahun ini tidak pernah memperlakukan Killian dengan baik.

"Aku harap begitu." Ucap Kai sambil mencium kepala Sehun. Kai juga mengingat kembali adiknya, JR. Yang sekarang berada di penjara karena Minhyun.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

[Masa Sekarang]

Ini sudah seminggu sejak JR dan Minhyun kembali dari Paris dan seluruh murid Atlantis Academy dibuat bingung akan tingkah keduanya. Biasanya jika keduanya bertemu maka akan selalu terdengar teriakan berupa umpatan dan dan hinaan kini sudah tidak ada lagi karena keduanya saling mendiamkan satu sama lain.

Keduanya seolah-olah tidak menganggap ada keberadaan satu sama lain. Keduanya saling membuang muka bila bertemu di koridor sekolah atau yang lebih parah salah satu dari keduanya akan memilih jalan lain agar tidak bertemu satu sama lain.

Sebagian guru merasa tenang akan hal itu karena sudah tidak ada lagi keributan dari keduanya –walaupun Kai dan Sehun tentunya masih sering melakukan keributan dan bertengkar hebat tapi sebagian besar guru juga bingung akan tingkah keduanya. Terutama pada Minhyun.

Sejak pulang dari Paris, Minhyun bagaikan mayat hidup dan tidak pernah tersenyum lagi bahkan salah satu murid terpintar di angkatannya itu sering kedapatan tertidur didalam kelas. Pemuda manis itu juga jarang terlihat berkumpul dengan teman-temannya yang lain dan bila kelas selesai Minhyun akan langsung ke kamar asramanya.

.

"Ok, Jika sudah jelas semuanya maka aku tutup rapat hari ini." ujar Minhyun lalu segera beranjak dari kursinya diikuti oleh beberapa panitia sekolah lainnya.

"Minhyun, apa kau mau ikut aku ke Kota akhir pekan ini? Ada yang ingin aku beli disana." Ajak Daniel sambil menatap Minhyun penuh harap.

Minhyun menggeleng. "Maaf Daniel, aku tidak bisa. Aku mau mengerjakan tuags-tugasku."

"Tapi–" Daniel tidak melanjutkan kalimatnya karena Minhyun sudah keluar dari ruangan rapat. Daniel menggembungkan pipinya dan menatap kekasihnya yang ada didepannya.

Seongwoo menghela nafas melihat adegan tadi dan memandang kesampingnya dimana sahabatnya hanya diam saja sejak tadi dan berbicara seperlunya saat disuruh mengeluarkan pendapat. Saat ini di ruangan tersebut hanya ada dirinya, kekasihnya dan JR.

"Ok, Aku menyerah." Ucap Seongwoo sambil mengacak rambutnya dan ia hampir berteriak. "Katakan padaku JR apa sesuatu terjadi antara kau dan Minhyun ketika kalian di Paris?"

JR melirik sahabatnya sebentar lalu menggeleng kecil dan beranjak pergi begitu saja.

.

.

"Hoekkkk."

Ren yang tengah membaca novel segera melemparkan novelnya dan berlari kearah kamar mandi ketika mendengar suara muntahan Minhyun.

"Minhyun, kau baik-baik saja?" tanya Ren khawatir, ia menatap isi muntahan Minhyun yang hanyalah cairan bening. "Ini sudah tiga hari kau mual-mual terus."

Minhyun mencuci mulutnya dan menggeleng lemas. "Aku tidak apa-apa, Ren. Hanya masuk angin biasa."

"Ayo keluar, aku akan membuatkanmu teh hangat." Ucap Ren sambil membantu Minhyun keluar dari kamar mandi.

.

"Minhyun, apa sebaiknya kau tidak ke ruang kesehatan? Ini sudah tiga hari kau mual-mual terus dan wajahmu semakin pucat."

Minhyun menggeleng dan meminum teh ditangannya dengan pelan. "Besok aku pasti sudah membaik, Ren. Dan ingat jangan bilang pada Kak Sehun. Dia pasti khawatir, aku tidak mau membuatnya khawatir."

Ren menghela nafas dan hanya mengangguk pada sahabatnya itu.

.

.

.

.

.

Dan beberapa hari kemudian mual-mual Minhyun tidak berhenti juga bahkan teh yang dibuatkan Ren tidak berefek lagi padanya karena ia malah semakin mual mencium aroma teh tersebut.

"Mau aku buatkan coklat panas?"

Minhyun menggeleng. "Sepertinya jus jeruk dengan keju mozarella sangat enak."

"Apa?" tanya Ren pasalnya Minhyun tadi bergumam pelan.

"Tidak apa-apa, aku mau ke dapur sekolah." Minhyun turun dari ranjangnya dan memakai jaket tebal untuk menutupi piyamanya yang tipis.

"Tapi ini sudah malam!" Teriak Ren namun Minhyun tidak menghiraukan ucapannya sama sekali.

.

Minhyun membuka pintu dapur sekolahnya dan dia langsung berlari kearah meja yang terdapat banyak buah diatasnya. Pemuda manis itu langsung mengambil apel berwarna merah dan memakannya.

"Minhyun?"

Minhyun langsung membalikan badannya dan melihat salah satu koki sekolahnya berada didepannya dan memandangnya bingung.

"Chef Victoria."

"Sedang apa kau malam-malam ada disini?"

"Aku lapar, Chef." Ujar Minhyun dengan polos.

Victoria mengangguk lalu menatap tangan Minhyun yang memegang buah apel. "Apel tidak akan mengenyangkanmu. Mau aku buatkan sesuatu?"

Dan Minhyun langsung mengangguk. "Mau!"

.

.

.

.

.

.

.

.

Leeteuk tersenyum melihat para murid-murid kelas 2 tampak kebingungan dengan sesuatu yang ada di belakang tubuhnya yang tertutup kain berwarna putih.

"Professor apa itu dibelakang anda?" tanya Ren.

Guru ramalan itu segera menarik kain putih yang menutupi benda yang tak lain adalah sebuah lemari tua yang memiliki cermin yang anehnya bukan memantulkan bayangan mereka melainkan sesuatu berwarna biru seperti langit. "Kalian tahu apa ini?"

"Lemari." Ucap Seongwoo sekenanya dan langsung mendapatkan gelak tawa dari teman-temannya.

"Ya, ini memang lemari, Seongwoo. Tapi jangan focus pada lemarinya tapi pada cerminnya."

"Apa fungsi lemari itu, Prof? Kami kira kami akan belajar tentang ramalan lagi."

"Tenang saja, Daniel. Cermin ini memiliki ikatan dengan kelas Ramalan karena Cermin ini bisa melihat sekilas masa depan kalian semua."

Setelah Leeteuk mengatakan itu seluruh murid langsung gaduh terutama para perempuan yang sangat exited akan hal itu.

"Bukankah masa depan tidak ada yang tahu, Professor?"

Leeteuk tersenyum mendengar pertanyaan Minhyun, Ketua Murid Asrama Siang itu memang pintar. "Ya, tidak ada yang tahu bagaimana persisnya masa depan karena masa depan akan selalu menjadi misteri untuk kita."

"Lalu maksud anda dengan cermin itu bisa melihat sekilas masa depan?" tanya JR.

"Cermin ini memang bisa melihat masa depan tapi kalian bisa mengubah masa depan yang kalian lihat itu. Contohnya kalian melihat diri kalian menjadi pemabuk tua yang tidak memiliki pekerjaan dan kalian memilih bunuh diri sekarang maka masa depan yang kalian lihat itu tidak akan terjadi."

Beberapa murid mengangguk mengerti sedangkan sebagian lagi tertawa akan contoh dari guru mereka itu.

"Baiklah, kita tidak memiliki banyak waktu. Ayo berbaris dengan rapih."

Dan seluruh murid berbondong-bondong untuk berbaris didepan sedangkan Minhyun ingin yang paling belakang namun Ren lebih dulu menariknya dan membawa Minhyun dibelakang tubuhnya.

"Jangan dibelakang, berbahaya. Nanti kau kelelahan karena menunggu." Omel Ren pada Minhyun. Pemuda cantik namun galak itu menatap sosok dibelakang tubuh Minhyun. "Dan kau, jangan berani mendorong sahabatku ini, mengerti?"

Vampire dari Asrama Malam –yang berbaris dibelakang Minhyun mengangguk ketakutan.

Minhyun sendiri tidak mempedulikan sekitarnya, ia terlalu sibuk memikirkan kepalanya yang pening dan perutnya yang sakit.

"Kau tidak apa-apa, Minhyun?" tanya Leeteuk ketika melihat wajah Minhyun yang pucat.

"Aku tidak apa-apa, Professor."

Leeteuk menjentikan jarinya dan muncullah piring kecil berisi kue coklat ditangannya. "Makan ini."

Minhyun menggeleng. "Tidak usah Prof."

"Kau mau aku mengurangi point asramamu?" ancam guru ramalan itu.

Dan Minhyun tidak memiliki pilihan lain selain menerimanya. "Terimakasih, Prof." ujarnya dan memakan kue tersebut, ia lalu mengulurkannya pada Ren. "Bantu aku menghabiskannya."

Ren mengangguk dan ikut makan kue coklat dari guru mereka itu tanpa Minhyun ketahui jika JR memandangnya dengan khawatir.

.

Beberapa saat kemudian sudah hampir 15 murid yang melihat masa depan mereka di cermin itu dan ada beberapa yang menangis, terkejut dan hanya terdiam setelah melihat bayangan masa depan mereka –yang belum pasti di cermin.

Murid lain yang melihat reaksi mereka ada yang cemas, gugup dan semakin penasaran. Mereka memang tidak bisa melihat bayangan masa depan murid yang tadi sudah maju karena hanya murid itu sendiri yang dapat melihatnya.

Kini giliran Minhyun yang bercermin, ia melirik sebentar Ren yang telah usai dan tampak tenang-tenang saja.

"Jangan menangis jika masa depanmu bukan denganku, Minhyun." ucap Seongwoo yang ada dibelakang barisan.

Minhyun hanya mendengus kesal dan ia tidak perlu membalikan badannya untuk melihat Seongwoo yang sudah ditampar oleh Daniel.

Minhyun kini memfokuskan dirinya pada cermin didepannya yang hanya terlihat warna biru bagaikan langit. Ia menarik nafas dan memejamkan matanya sebentar lalu membuka matanya dan seketika ia merasa masuk kedalam dimensi baru.

.

Minhyun kini berdiri disebuah ruang tamu yang tidak pernah ia lihat. Ia memandang sekelilingnya dan terkejut melihat sosok asing yang berdiri beberapa langkah didepannya. Minhyun tidak bisa melihat wajanya karena sosok itu yang sepertinya seorang bocah membelakanginya.

'Halo.' Ucap Minhyun namun bocah itu diam saja tidak. Karena tidak mendapatkan reaksi apapun Minhyun langsung mendekati bocah tersebut dan ia begitu terkejut melihat wajah bocah itu yang sangat tampan.

Bocah didepannya itu usianya mungkin baru sepuluh tahun namun aura yang bocah itu miliki sudah memancarkan aura lain yang begitu kuat dan Minhyun langsung sadar ketika melihat mata kanan bocah itu tertutup penutup mata sedangkan mata kirinya berwarna sea blue yang mirip dengan miliknya.

"Kau pikir dengan kau memakai penutup mata membuatku akan menganggapmu anakku? Tidak! Bahkan jika kau mencongkel bola mata kananmu itu kau tetaplah Monster penghancur hidupku." Ujar suara dibelakang Minhyun.

Minhyun langsung membalikan badannya dan disana ditengah anak tangga berdirilah dirinya yang tampak dewasa. Minhyun terbelalak kaget melihat dirinya yang dewasa yang tampak dingin dan ia kembali melihat bocah kecil didepannya yang menatap Minhyun dewasa dengan ekspresi seolah kata-kata kasar Minhyun dewasa sudah biasa ia dengar.

"Kau pembunuh. Kau pembunuh kebahagiaanku." Ucap Minhyun dewasa yang matanya berwarna sea blue dan ia merapalkan mantra dan melemparkannya pada bocah laki-laki itu yang membuat bocah itu terpental.

Minhyun mencoba menangkap bocah itu namun sayang tubuhnya tembus pandang dan ia tidak bisa melakukan apapun.

Minhyun dewasa turun dari tangga dan bukannya mendekati bocah itu Minhyun dewasa malah keluar dan meninggalkan bocah tampan itu.

Minhyun langsung mendudukan dirinya didepan bocah yang terduduk dilantai. Bocah itu memegangi perutnya dan tiba-tiba saja memuntahkan darah. Minhyun ingin merapalkan mantra penyembuh pada bocah itu namun tangannya tidak mengeluarkan apa-apa.

'Si-siapa kau?'

Bocah tampan didepannya tentunya tidak menjawab sama sekali karena Minhyun hanyalah roh tak terlihat. Bocah itu menghela nafas lalu membuka penutup mata kanannya dan nafas Minhyun tercetak melihat mata kanan bocah itu yang berwarna grey.

Minhyun memandang tidak mengerti akan situasi didepannya, kenapa dirinya yang dewasa tampak dingin dan membenci bocah tampan itu, siapa bocah tampan itu, apa dia adalah putranya lalu kenapa dirinya yang dewasa tampak begitu membencinya. Belum sempat Minhyun menetralkan rasa terkejutnya ia merasa tubuhnya ditarik kembali.

.

Minhyun kini tiba-tiba saja sudah ada didapur dan ia melihat dirinya yang dewasa dengan bocah yang sama tadi namun bocah itu lebih kecil dari yang tadi, mungkin sekarang Minhyun berada di beberapa tahun sebelum kejadian tadi karena bocah tampan itu disini tampak berusia tujuh tahun.

Ketika Minhyun mendekat dan melihat apa yang terjadi karena Minhyun dewasa dan bocah tampan itu hanya diam saja, ia lagi-lagi terkejut melihat tangan bocah tampan itu tampak melepuh dan Minhyun dewasa hanya menatap datar tangan bocah itu.

Bukannya segera menyembuhkan luka melepuh pada tangan kurus itu Minhyun dewasa malah menyiram tangan yang melepuh itu dengan air panas.

"Aakh!" bocah tampan itu begitu kepanasan.

"Itu hukuman karena kau memasuki kamarku seenaknya. Lagipula kau seperti bajingan itu, kau akan sembuh dengan mudah." Setelah mengatakan itu Minhyun dewasa kembali meninggalkan bocah itu.

Belum sempat Minhyun mendekati bocah itu, ia didahului oleh sosok yang lebih kecil dari bocah laki-laki itu dan sosok tersebut tak lain dan tak bukan adalah gadis kecil yang usianya tampak baru empat tahun.

"Biar aku sembuhkan lukamu, Killian." Ujar gadis kecil itu sambil menggenggam tangan bocah laki-laki yang ia sebut Killian.

"Tidak usah, Kiella. Dia benar, aku bisa sembuh dengan mudah kok. Aku kan Manusia Serigala seperti Daddy."

Kiella –gadis kecil itu menatap sedih Killian. "Kenapa Paman Minhyun begitu tidak suka pada Killian? Paman Minhyun kan yang melahirkan Killian."

Dan untuk kesekian kalinya Minhyun terkejut karena melihat mata Kiella yang berwarna hazel, persis seperti Ibu dan Kakaknya juga karena ucapan kedua bocah didepannya. Jadi benar jika Killian adalah putranya dan ia yang melahirkan Killian tapi Killian tadi mengatakan jika dia manusia serigala.

Minhyun terlalu sibuk memikirkan banyak hal hingga ia tidak sadar jika tubuhnya sedikit demi sedikit menghilang.

.

Minhyun tersentak ketika ia sudah kembali ke masa sekarang.

"Minhyun, kau sangat pucat. Setelah ini kita harus ke ruang kesehatan." Ucap Ren sambil mendekati sahabatnya itu. "Kau memang sudah tidak enak badan beberapa hari ini."

Mulut Minhyun terbuka untuk menjawab namun terhenti ketika melihat lemari tua itu bergerak. Murid-murid yang ada di dalam kelaspun terkejut akan hal itu.

"Professor, apa ada sesuatu didalam lemari itu?" tanya Daniel.

Leeteuk sendiri menatap terkejut lemari tua itu bergerak. "Tidak ada dan lemari itu tidak pernah terbuka sebelumnya."

Krieeet.

Seluruh murid menahana nafas mereka kecuali JR yang malah memicingkan matanya ketika lemari itu terbuka dari dalam dan keluarlah sosok gadis kecil dari dalamnya.

Gadis kecil yang baru keluar dari dalam lemari itu menutup lemari dibelakangnya dan maju beberapa langkah kedepan.

Seluruh orang yang ada disana terpana akan kecantikan bocah kecil didepan mereka. Rambutnya berwarna hitam panjang, matanya berwarna hazel, kulitnya putih, bibir dan hidungnya mungil. Gadis kecil didepan mereka bagaikan putri kecil yang lucu.

"Halo, Namaku Kiella. Orang-orang selalu menyangkut pautkan namaku dengan kata Kill. Mereka menyebutku Monster karena Ayahku adalah Manusia Serigala dan Ibuku Penyihir."

Dan ucapannya itu sukses membuat semua orang terdiam mendengarnya terutama murid yang dari ras Manusia Serigala dan Penyihir.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

28 February 2018

.

.

.

Bye Bye Bye

L.O.V.E Ya