MONSTER
by
Achan Jeevas
.
.
.
.
.
Chapter 5
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Halo, Namaku Kiella. Orang-orang selalu menyangkut pautkan namaku dengan kata Kill. Mereka menyebutku Monster karena Ayahku adalah Manusia Serigala dan Ibuku Penyihir."
Ucapan Kiella itu sukses membuat semua orang terdiam mendengarnya terutama murid yang dari ras Manusia Serigala dan Penyihir.
"Hah!"
"Jangan bercanda, gadis kecil."
Kiella memutar matanya mendengar ucapan Baekho. Ia sudah siap membuka mulutnya namun ia merasakan aura milik sepupunya berada dekat dengannya.
"Mundur!" teriaknya pada semua orang yang ada disana ketika lemari dibelakangnya bergerak dengan liar.
Para siswi sudah ada yang berteriak ketakutan melihat hal tersebut bahkan beberapa sudah ada yang keluar kelas.
Brakkkk.
Seekor serigala keluar dari lemari tersebut. Serigala itu usianya mungkin masih belasan karena tubuhnya serigalanya yang tidak terlalu besar.
Semua orang menahan nafas mereka ketika merasakan aura yang dibawa oleh sang serigala bermata heterochromia itu. Mereka baru pertamakali melihat serigala yang memiliki dua warna mata yang berbeda, mata kanan serigala tersebut berwarna grey dan mata kirinya berwarna sea blue.
Nafas Minhyun tercekat ketika serigala tersebut menatap tepat pada matanya.
Kiella tersenyum manis melihat serigala didepannya yang menatap liar sekeliling mereka. Tangan Kiella terbuka lebar untuk memeluk serigala tersebut. "Killian."
Bugggg.
Serigala tersebut langsung menindih tubuh Kiella yang langsung terjatuh dilantai. Ia memperlihatkan gigi-gigi serigalanya, matanya memancarkan kemurkaan yang luar biasa pada Kiella.
"Grrr…."
"Aku sendiri tidak tahu kenapa kita bisa ada disini, Killian." Ucap Kiella dengan tenang, ia bahkan mengelus leher serigala Killian.
"Grrr….."
"Apa-apaan ini!" teriak sebuah suara dari arah pintu ruang kelas.
Kiella dan Killian langsung memandang keasal suara tersebut dan senyum Kiella semakin lebar ketika melihat Ayah dan Ibunya ada disana.
"Siapa kalian?" tanya Kai. Ia dan Sehun datang bersama para guru lain ketika salah satu murid yang keluar dari kelas memberitahu kejadian di kelas ramalan.
Sosok serigala Killian langsung menjauhkan tubuhnya pada Kiella ketika matanya tanpa sengaja memandang wajah itu. wajah sosok yang begitu ia rindukan.
Killian langsung merubah wujudnya ke wujud sejatinya dan semua orang menahan nafas mereka melihat wajah tampannya serta matanya yang berbeda warna juga aura yang ia keluarkan. Aura yang Killian pancarkan begitu murni dan berbahaya.
Tidak mempedulikan semua orang yang ada, mata Killian hanya memandang dua objek didepannya, satu objek yang begitu ia benci dan satu objek yang begitu ia cintai.
Killian terus melangkah kedepan menuju sosok yang begitu ia rindukan seumur hidupnya, sebelum mendakati sosok tersebut Killian dengan sengaja menatap penuh benci pada Minhyun.
Mendapatkan tatapan seperti itu dari Killian entah kenapa Minhyun reflek mengelus perutnya.
Ketika sudah berada didepan sosok yang ia rindukan, Killian langsung berlutut didepannya.
"Dad." Ucapnya penuh hormat dan kesedihan.
"Ehhhhhhh!"
Adalah reaksi semua orang yang ada disana ketika melihat bocah tampan yang masih berusia belasan tahun itu berlutut didepan sang Ketua Asrama Malam, JR.
JR sendiri mematung mendengar satu kata yang bocah didepannya katakan padanya. Dad?
Ok, pertama melihat Killian dalam bentuk serigalanya memang mengingatkannya pada dirinya ketika kecil dulu serta mata Killian yang berbeda warna membuatnya memicingkan matanya karena tidak pernah ada sejarah kaum serigala yang memiliki dua warna mata berbeda.
"JR, Wanita atau subbmisive mana yang kau tiduri!" teriak Kai pada adiknya.
"Aku meniduri banyak orang, Kak. Tapi dia terlalu tua untuk menjadi anakku." Ucap JR namun matanya masih terfokus pada bocah didepannya. "Dan kau, Nak. Aku bahkan tidak tahu siapa namamu."
"Namaku Killian, Dad." Ucap Killian masih dengan posisi berlutut.
"Berdirilah."
Killian menuruti ucapan Ayahnya itu.
Melihat wajah bocah tampan didepannya entah mengapa JR seperti bercermin karena wajah itu sedikitnya mirip dengannya namun ada beberapa bagian wajah yang mengingatkannya pada seseorang. "Killian? Sama seperti little princess itu? Namamu dari kata Kill?"
Killian menunduk. Ah, menyangkut namanya itu sebenarnya orang itulah yang memberikannya nama. Kill karena ia pembunuh kebahagiaan orang tersebut serta orang tersebut selalu berharap Killian itu mati. Sungguh Ibu yang luar biasa bukan? Itulah Ibu Killian.
"Lebih tepatnya aku yang mengikutinya, Uncle JR. Nama Killian lah yang dari kata Kill, aku hanya suka mengikutinya. Ngomong-ngomong senang akhirnya aku bisa bertemu denganmu Uncle." Ujar Kiella.
"Uncle?"
Kiella sudah siap membuka mulutnya namun Killian langsung menatap tajam sepupunya itu.
Semua orang yang ada disana tercekat melihat aura mengerikan yang Killian keluarkan. "Jangan berani mengatakan apapun, Kiella."
"Kenapa?" tanya Kiella, ia tidak takut sama sekali dengan aura Killian. Bahkan ia membalas tatapan Killian dengan tatapan tajamnya.
"Kita harus kembali ke masa kita yang sebenarnya."
"Aku tidak tahu caranya. Aku bahkan tidak tahu jika kita akan berada di masa ketika kau baru tumbuh didalam perut Ibumu."
Killian langsung melangkah mendekati sepupunya dengan auranya yang semakin memancarkan kengerian yang berbahaya. Aura yang ia miliki selalu memancarkan kebencian dan kegelapan.
"Killian, auramu menakuti mereka semua!" teriak Kiella pada sepupunya.
Menyadari hal tersebut Killian menetralkan aura yang ia pancarakan dan setelahnya sebagian murid Atlantis Academy jatuh terduduk dengan wajah pucat pasi.
Hanya para guru, JR, Minhyun, Kai serta Sehun yang masih berdiri dan menatap Killian dan Kiella.
"Siapa kalian sebenarnya?" tanya Minhyun menatap tepat pada mata Killian.
"Seperti yang sudah aku katakan dari awal, Uncle Minyun. Ayah kami adalah Serigala dan Ibu kami Penyihir. Kami keturunan pertama dari Ras Serigala dan Penyihir."
.
.
.
.
Setelah kejadian di kelas ramalan itu sang kepala sekolah akhirnya sepakat untuk membawa Kai, JR, Sehun, Minhyun serta Kiella dan Killian untuk menghadap diruangannya. Kenapa Kai, JR, Sehun dan Minhyun? karena kedua bocah dari masa depan itu tadi mengatakan bahwa mereka keturunan Ras Serigala dan Penyihir.
Melihat aura bangsawan murni yang melekat pada dua bocah itu membuat U-Know yakin bahwa kedua pasti dari Clan tertinggi dua ras itu dan Clan tertinggi Kaum Serigala adalah Clan Kim sedangkan Kaum Penyihir adalah Clan Blackthorn.
Selain mereka, U-Know juga memanggil Kris, Luhan, Suho dan Lay untuk datang ke Atlantis Academy.
.
.
Minhyun terus melirik kearah bocah tampan yang tengah duduk disamping JR.
Killian.
Bukankah ketika di cermin itu Killian adalah putranya tapi kenapa bocah itu memanggil JR dengan sebutan Dad. Tunggu bukankah saat di cermin juga Killian mengatakan bahwa ia mudah sembuh karena ia manusia serigala seperti Ayahnya dan Jika JR adala Ayah Killian berarti ia dan JR bersama di masa depan?
Bagaimana bisa ia bersama dengan JR ketika ia sendiri begitu membenci sosok itu dengan segenap jiwa dan raganya.
Tapi saat di cermin itu dirinya begitu membenci Killian.
Minhyun melirik perutnya yang masih rata.
"Aku tidak tahu caranya. Aku bahkan tidak tahu jika kita akan berada di masa ketika kau baru tumbuh didalam perut Ibumu."
Ucapan Kiella tadi. Berarti dugaannya beberapa hari yang lalu bahwa ia tengah hamil memang benar dan janin yang ada diperutnya ini apakah Killian?
Minhyun kembali melirik Killian yang seakan tidak menganggap keberadaannya, bocah tampan itu apa benar adalah putranya? Kenapa dari awal Killian tidak menyebut namanya. Dan aura yang dimiliki Killian tadi benar-benar diselimuti oleh kebencian.
Ia kah yang membuat Killian seperti itu?
Minhyun langsung berdiri dan segera masuk ke toilet ketika rasa mual kembali menyerangnya.
"Minhyun!" Sehun langsung berdiri dan mengejar adiknya.
JR memicingkan matanya melihat itu sedangkan Killian wajahnya langsung mengeras.
"Hoekkkk Hoekkkkk."
"Minhyun kau kenapa?" Sehun menepuk-nepuk bahu adiknya.
"Aku tidak apa-apa, Kak. Maaf sudah membuatmu khawatir." Ucap Minhyun sambil membersihkan mulutnya.
"Kau yakin?"
Minhyun mengangguk. "Kita harus kembali, mungkin Ayah dan Ibu sudah datang."
.
.
Kris, Luhan serta Suho dan Lay memasuki ruang kepala sekolah Atlantis Academy.
"Kenapa kau memanggil kami, U-Know?" tanya Kris dengan dingin sedangkan Luhan –istrinya langsung memeluk kedua putra mereka. "Aku sibuk."
U-Know –sang kepala sekolah menghela nafas dengan sikap Kris. "Bukan aku yang menginginkan kalian datang kemari tapi dua bocah inilah. Mereka mengancam jika aku tidak bisa membawa kalian berempat maka mereka tidak akan berbicara apapun."
Kris dan Suho langsung menatap Kiella dan Killian yang langsung berdiri dari duduk mereka.
"Selamat siang, Kakek dan Nenek." Ucap Kiella dengan senyum manisnya sedangkan Killian hanya mengangguk saja dan tidak mengatakan apapun.
"Ehhh!" ucap Luhan dan Lay.
"Silahkan duduk dulu Kek, Nek." Ucap Killian. Keempatnya mengangguk dan duduk. Clan Kim duduk sofa kanan sedangkan Clan Blackthorn duduk disamping kiri dan U-Know duduk di kursi kepala sekolahnya.
"Karena kalian semua sudah berkumpul maka akan lebih muda untuk menjelaskan semuanya." Ucap Kiella.
"Pertama-tama kami akan memperkenalkan diri kami dulu. Namaku adalah Kiella, usiaku baru sepuluh tahun, Aku dalah putri masa depan Kim Kai dan Sehun Blackthorn."
"Apa!" teriak Sehun.
"Little princess, apa yang kau ucapkan tidak lucu sama sekali." Ucap Kai. Yah, dari awal dia memanggil Kiella dengan panggilan Little Princess.
"Aku tidak sedang melucu, Dad." Ucap Kiella dengan serius. "Lihat mata hazelku ini. Aku mendapatkannya dari Mommy. Tapi sifatku ini lebih menurun darimu."
Kai dan Sehun langsung berpandangan.
"Disampingku ini adalah Sepupuku yang bernama Killian, dia putra dari Kim JR dan Minhyun Blackthorn. Dia akan lahir dalam delapan bulan kedepan."
"Ini gila!" Sehun langsung berdiri dan menatap putri masa depannya itu. "Apa maksud dari ucapanmu itu, Nona Muda."
"Ahh, ternyata benar apa yang dikatakan Daddy jika Mommy saat masih muda begitu mudah marah." Gumam Kiella pada Ibunya sendiri.
"Apa kau bilang?"
Kiella langsung menggeleng dan tersenyum manis. "Tidak apa-apa, Mom. Jika kalian masih tidak percaya, aku memiliki benda yang hanya ada satu didunia."
Gadis kecil yang baru menginjak usia 10th itu melepaskan kalung yang ia kenakan dan memperlihatkan pada semua orang yang ada disana. "Kalung ini kau berikan padaku ketika aku masih bayi, Mom."
Seluruh Clan Blackthorn terkejut melihat kalung tersebut pasalnya kalung itu turun temurun diberikan oleh anak sulung Clan Blackthorn.
Sehun langsung menyentuh kalung yang ada dilehernya dan melepaskannya.
"Kalung ini hanya ada satu di dunia dan beberapa tahun dari sekarang kau akan memberikannya padaku."
"Kecuali jika kau mati sekarang maka kalung itu akan jatuh pada adikmu dan kau little princess tidak pernah lahir didunia."
Kiella langsung menatap Ayahnya dengan tajam. "Kenapa kau berbicara seperti itu pada Mommy, Dad?"
"Karena aku membencinya, Little Princess."
"Sayangnya rasa benci kalian akan berubah menjadi cinta." Kiella mengatakannya bukan untuk Ayah dan Ibunya saja tapi untuk sepupunya juga. "Killian, giliranmu."
"Apa?"
"Mereka masih belum mempercayai kita jika kita dari masa depan. Keluarkan cincin itu maka mereka akan langsung percaya."
"Aku tidak peduli jika mereka percaya atau tidak. Pikirkan saja bagaimana caranya kita kembali ke masa kita yang sebenarnya, Kiella. Ini semua karenamu." Setelah mengatakannya Killian langsung keluar dari ruangan tersebut.
"Killian!" teriak Kiella memanggil sepupunya. Ia tidak langsung mengejar Killian. "Yang paling jelas aku memiliki mata dari Mommy dan Killian memiliki mata dari Uncle JR dan Uncle Minhyun. Tidakkah itu cukup untuk meyakinkan kalian kalau apa yang aku ucapkan itu benar?"
Setelah mengatakan itu Kiella langsung berlari mencari sepupunya.
Minhyun ingin mengikuti keduanya namun ia urungkan ketika Leeteuk masuk keruangan.
"Aku mendapat penglihatan di bola crystalku."
Semua yang ada disana terdiam mendengar ucapan guru ramalan tersebut. Mereka menunggu kalimat selanjutnya Leeteuk.
"Mereka berdua memang dari masa depan." Leeteuk menatap Minhyun. "Benarkan, Minhyun?"
Minhyun menundukan kepalanya lalu mengangguk pelan. "Aku melihat mereka di cermin itu."
Hening menyelimuti ruangan tersebut.
U-Know menghela nafas lalu memandang sang ketua Clan Serigala dan Penyihir. "Kris, Suho. Kalian tentu ingat dengan ramalan ketika kalian masih bersekolah disini kan? Mungkin ini saat yang tepat untuk mengatakannya didepan anak-anak kalian."
"Ramalan?" Sehun memandang bingung Ayah dan Ibunya.
"Dulu saat aku dan Kris masih bersekolah disini kami mendapatkan hukuman karena berkelahi dan tanpa sengaja kami memecahkan bola crystal ramalan yang didalamnya terdapat Roh Oracle, Oracle itu mengatakan jika Ras kita akan bersatu dalam satu ikatan." Jelas Suho.
"Namun keturunan kita yang memiliki dua darah berbeda itu, apa akan membawa kebahagiaan atau malapetaka untuk Ras kita dan itu semua tergantung pada satu orang." Kris menatap tepat pada mata putra bungsunya. "Kau, Minhyun. Katakan pada Ayah, Minhyun. Sejak kapan kau sadar kau tengah mengandung?"
JR dan Sehun langsung melotot kaget mendengarnya.
Minhyun menundukan kepalanya. "Beberapa hari yang lalu."
Buggg!
Sehun dengan segera merapalkan mantra dan melemparkannya pada JR. "Kau! Pasti ini semua karena kau, Bajingan!"
"Sehunie." Luhan langsung menarik lengan putra sulungnya. "Semua ini sudah dituliskan oleh takdir."
Lay dengan segera membantu JR. "Kau tidak apa-apa, Sayang?"
"Aku tidak apa-apa, Mom." Ucapnya. Ia sekilas menatap Minhyun yang juga menatapnya.
.
.
Kiella berjalan menyusuri lorong mencari sepupunya itu, ketika ia berjalan banyak para murid –terutama yang di kelas ramalan tadi berbisik-bisik sambil menunjuknya. Semua orang tidak menyukai kehadiran keduanya serta menganggap mereka Monster karena mereka adalah anak dari ras penyihir dan serigala.
Dalam hati Kiella menghela nafas, tidak dimasanya yang sesungguhnya dan tidak disini ternyata orang-orang tidak berubah sama sekali. Ia dan Killian masih saja dibenci.
.
.
"Killian." Kiella memanggil sepupunya yang duduk di pohon besar yang berada di belakang Academy.
Killian tidak memandang wajah Kiella sama sekali, mata berbeda warnanya asyik menatap langit sore. "Aku tahu kau akan membawa kita ke masa lalu, Kiella. Apa kau pikir aku bodoh dan tidak bisa membaca tulisan Yunani Kuno? Walaupun aku tidak se-ahli kau dalam sihir tapi aku tahu arti simbol-simbol dan tulisan itu."
Jantung Kiella terasa berhenti selama beberapa detik mendengar kalimat sepupu tampannya itu. "Kau tahu tapi kenapa kau diam saja?"
"Aku diam saja karena aku juga ingin ke masa lalu untuk membunuhnya."
"Killian!" teriak Kiella.
Killian menatap sepupunya dengan tajam. "Jangan halangi aku, Kiella. Lagi pula dia pantas mati."
"Dia Ibumu, Killian."
"Ibu mana yang menyebut anaknya sendiri dengan sebutan Monster selama tiga belas tahun! Dia memanggilku Monster dan aku akan menjadi Monster yang merenggut nyawanya."
.
.
.
.
.
.
.
TBC
16 March 2018
