MONSTER
by
Achan Jeevas
.
.
.
.
.
.
Chapter 6
.
.
.
.
.
.
.
"Mulai sekarang ini adalah kamar kalian." JR membuka pintu kamar khusus ketua asrama Malam –masing-masing Ketua Asrama memang diberikan kamar khusus namun Minhyun memilih untuk tetap sekamar dengan Ren.
"Lalu Uncle akan tidur dimana?" tanya Kiella. Bocah berusia sepuluh tahun itu harusnya ada di Asrama Siang namun Kiella menolak karena ia tidak mau berpisah dari Killian.
JR mengangkat bahunya acuh. "Aku bisa tidur dikamarku yang dulu dengan Seongwoo."
"Kau tidak perlu melakukan itu, Dad. Kiella bisa menyihir tempat ini menjadi lebih besar."
"Sungguh?"
Kiella mengangguk, ia menjentikan jarinya dan seketika muncullah ranjang berukuran queen size, serta ruangan yang memang awalnya sudah besar menjadi lebih besar dan terdapat tirai-tirai berwarna putih untuk pembatas ranjang satu dengan ranjang yang lainnya.
"Walaupun tirainya tampak tipis tapi tirai itu terdapat mantra kedap suara, Uncle." Jelas Kiella pada Pamannya.
JR mengangguk mengerti. Ia lalu memandang kedua bocah didepannya. "Mata kalian itu –terutama matamu Kiella apa tidak bisa berubah? Tetap hazel?"
"Iya, Uncle. Mataku akan selalu berwarna Hazel walaupun aku tidak dalam mode menyihir."
.
.
.
.
.
Minhyun menatap perutnya yang masih rata. Sekarang ini ia sedang berada di bawah guyuran air shower. Minhyun membutuhkan ini untuk menenangkan pikirannya.
"Minhyun, kau sudah disana selama setengah jam. Keluarlah."
Sosok manis itu menghela nafas mendengar kalimat Ren dari luar. "Jangan ganggu aku, Ren."
"Minhyun Blackthorn! Mandi saat tengah malam itu tidak baik! Cepat keluar atau aku akan menyeretmu dari sana!" omel Ren.
.
"Apa yang terjadi di ruang kepala sekolah?" tanya Ren ketika Minhyun tengah memakai baju dan bersiap tidur.
"Tidak terjadi apa-apa."
"Jangan bohong, Minhyun. Pasti ada kaitannya dengan dua bocah dari masa depan itu bukan?"
"Ren, bisa kau diam."
Ren berdiri dan memeluk Minhyun dari belakang. "Kita sudah berteman sejak kecil, kenapa kau masih saja menyembunyikan banyak hal dariku. Aku ini sahabatmu, Minhyun."
Mendengar ucapan Ren membuat Minhyun tidak kuat lagi untuk menahan tangisannya. Sosok yang selalu bersikap dingin itu akhirnya terisak.
"Hiks, Hiks, Maafkan aku, Ren."
Ren menatap terkejut ketika sahabat cantiknya itu menangis. Ia dengan segera memutar tubuh Minhyun hingga sosok itu menghadap padanya. "Minhyun, kenapa kau menangis?"
Minhyun memeluk Ren. "Hiks, Aku hamil, Ren. Aku hamil."
"Apa!"
.
.
.
.
Minhyun melepaskan pelukannya pada tubuh Ren. Mereka memang tidur dengan posisi saling berpelukan setelah Minhyun menceritakan bahwa ia tengah mengandung anak JR dan Killian adalah putranya namun Minhyun tidak menceritakan lebih rinci penglihatannya yang ada di masa depan pada Ren.
Jam sudah menunjukan angka tiga dini hari namun rasa kantuk masih belum menyerang sang ketua asrama siang itu.
Minhyun turun dari ranjang dengan perlahan agar tidak membangunkan Ren, ia dengan segera mengambil jaketnya dan keluar dari kamar mereka.
.
.
.
.
.
"Jadi begitu yah." Adalah respon JR setelah putranya yang tampan itu menceritakan tentang kehidupannya di masa yang akan datang.
Killian mengangguk.
Saat ini Ayah dan Anak itu sedang duduk di bangku yang ada di halaman belakang Atlantis Academy. Walaupun jam sudah menunjukan angka tiga dini hari tapi keduanya belum mengantuk sama sekali.
JR membawa Killian dalam pelukannya. Rasa bersalah menggerogoti hatinya ketika mendengar cerita putranya itu. Memang baru tadi siang keduanya bertemu namun entah kenapa JR begitu yakin jika Killian memanglah putranya.
"Maafkan, Daddy. Ini semua salah Daddy hingga kau menderita selama hidupmu."
Killian memejamkan matanya dan menghirup aroma tubuh sang Ayah yang tidak berbuah sama sekali. Terakhir kali ia mencium aroma ini adalah delapan tahun yang lalu ketika Ayahnya di fonis penjara selama sepuluh tahun.
Killian pikir ia akan kembali menghirup aroma tubuh Ayahnya dan merasakan pelukan hangat ini dua tahun lagi namun ia salah karena sekarang ia tengah merasakannya kembali walaupun Ayahnya yang sekarang ini adalah masa lalu dan lebih muda.
"Daddy tidak perlu minta maaf, ini memang takdirku. Hidup penuh penderitaan dan rasa sakit."
JR memeluk Killian selama beberapa saat sampai ia merasakan aura beberapa murid kelas 1. "Tunggu disini, Daddy harus membereskan beberapa murid yang melanggar aturan dulu."
Killian mengangguk mengerti.
JR sebenarnya ingin tidak mempedulikan murid-murid itu namun ia tetaplah seorang Ketua Asrama dan membereskan beberapa murid tukang onar adalah tugasnya.
.
.
.
.
.
.
.
Minhyun mengeratkan jaket tebal yang ia kenakan ketika udara dingin menerpa tubuhnya. Sekarang ini ia tengah berjalan-jalan seorang diri dihalaman sekolahnya. Harusnya sosok manis itu tidur bukan malah berjalan seorang diri seperti ini namun entah kenapa Minhyun memang ingin berjalan-jalan pada dini hari.
Bibir merahnya menggumamkan beberapa nada-nada secara acak dan kaki jenjangnya tanpa lelah terus membawa tubuhnya entah kemana.
Sang ketua asrama siang itu menghentikan langkah kakinya ketika matanya melihat Killian yang juga tengah menatapnya.
"Killian."
Tidak ada ekspresi sama sekali pada wajah Killian namun tidak dengan hatinya, ada rasa aneh yang menggerogoti hatinya mendengar namanya disebutkan untuk pertamakalinya dari bibir Minhyun.
Bocah tampan itu menepis rasa tersebut dari dalam hatinya dan memandang dingin Ibunya.
"Aneh sekali kau memanggil namaku karena yang aku ingat kau selalu memanggilku dengan sebuatan Monster."
Minhyun ingat ketika ia melihat masa depannya dalam cermin itu ia memang tampak begitu membenci Killian.
Sosok cantik itu sudah siap membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu namun semuanya tampak begitu cepat untuk ia cerna. Killian tiba-tiba saja menerjang tubuhnya hingga ia terjatuh di tanah dan tangan Killian yang entah sejak kapan sudah memegang sebuah belati dan siap menusukan belati itu padanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Killian siap menusukan belati itu kearah jantung sang ibunda sebelum sebuah tangan menahan tangannya tersebut.
Killian dan Minhyun menatap sosok tersebut yang tak lain adalah JR.
"Lepaskan, Dad."
"Apa yang kau lakukan, Killian?" tanya JR dengan ekspresi datar pada putranya. Tangannya masih mencengkeram tangan putranya itu.
"Aku ingin membunuhnya. Dia pantas mati, Dad!"
Mendengar kalimat putranya JR langsung menarik tubuh Killian yang menindih tubuh Minhyun hingga putranya kini berdiri didepannya.
"Aku sudah menceritakan semuanya padamu, Dad. Dia harus mati, biarkan aku membunuhnya!" Killian berteriak histeris pada JR. Ia sudah siap menyerang Minhyun lagi namun cengkeraman tangan Ayahnya padanya semakin kencang.
"Masuk ke kamarmu sekarang juga." Ucap JR dengan nada tenang.
"Tidak sebelum aku membunuhnya!"
"Killian!"
Sosok tampan yang baru menginjak usia tiga belas tahun itu membatu mendengar sang Ayah meninggikan suaranya serta tatapan JR yang mengisyaratkan bahwa ucapannya tidak terbantahkan.
JR melepaskan cengkeramannya pada tangan Killian ketika aura putranya itu sudah lebih tenang. "Kembalilah ke Kiella."
Killian menundukan kepalanya dan mengangguk kecil lalu segera berjalan menuju Asrama Malam dengan cepat.
Dirasa Killian sudah pergi, JR langsung menatap Minhyun yang masih terduduk ditanah. Wajah manis sang ketua asrama siang itu begitu pucat dan ketakutan.
Tanpa banyak kata JR langsung menggendong Minhyun dengan gaya pengantin, ia pikir ia akan mendapatkan tonjokan dari sosok cantik itu namun Minhyun malah diam saja dan yang lebih aneh Minhyun malah menempelkan kepalanya pada dada JR.
.
.
.
.
.
.
JR menurunkan tubuh Minhyun dari gendongannya dengan perlahan ketika mereka sudah sampai didepan pintu Asrama Siang.
Minhyun menundukan kepalanya, ia tidak berani menatap wajah tampan JR.
"Masuklah." Ujar sang Alpha muda itu, ia sudah membalikkan badannya dan siap kembali ke asramanya sendiri sebelum ujung kemejanya ditarik oleh Minhyun.
"Bantu aku, JR."
JR kembali menatap Minhyun dan ia bingung sosok manis didepannya.
Bahu Minhyun bergetar dan ia terisak pelan. "Hiks, Tolong bantu aku. Hiks, bantu aku… apa yang harus aku lakukan, JR."
Tanpa mengatakan apapun JR langsung membawa Minhyun dalam pelukannya dan isakan bungsu Clan Blackthorn itu semakin keras. "Hiks, Hiks."
Tangan JR mengelus kepala Minhyun yang memeluknya dengan erat. Hampir setengah jam keduanya berada di posisi seperti itu.
Minhyun yang tengah membenamkan wajahnya pada JR tersadar akan sikapnya itu. Ia dengan segera melepaskan pelukannya dan mendorong Alpha muda didepannya.
"Kenapa kau memelukku, Sialan!" teriak Minhyun sambil menatap kesal JR yang mana membuatnya semakin imut karena matanya masih memerah dan terdapat bekas air mata disana.
"Harusnya aku yang mengatakan itu." ucap JR menatap jengah pemuda manis didepannya.
"Kau!"
JR memutar matanya mendengar teriakan Minhyun. "Ini sudah malam, sana masuk dan tidur."
Bukannya langsung menurut Minhyun malah menatap JR. Sosok didepannya tidak mengharapkan kehadirannya yah. Entah kenapa memikirkan hal tersebut membuat Minhyun sedih.
Tidak Killian bahkan JR-pun membencinya. Kenapa hidup Minhyun seperti ini sih dibenci oleh suami dan anak masa depannya sendiri. Well kalau JR sih memang dari awal membencinya tapi setidaknya setelah mengetahui Minhyun hamil membuat JR sedikit bersikap lembut padanya kek.
"Sana masuk, kau bisa sakit jika tidak tidur sama sekali." JR memandang perut Minhyun yang masih datar.
Hati Minhyun sedikit menghangat mendengar kalimat JR. Alpha tampan didepannya mengkhawatirkanya.
"Memang kenapa jika aku sakit? Bukan urusanmu!"
"Tentu saja urusanku, jika kau sakit seluruh tugas Ketua Asrama akan jatuh padaku semuanya dan itu merepotkan."
Minhyun langsung menginjak kaki JR dengan keras.
"AKU MEMBENCIMU, KIM!" ucapnya lalu masuk ke dalam asramanya sendiri.
"Akhh! Sialan kau, Blackthorn!"
.
.
.
.
.
.
Minhyun menjatuhkan dirinya disamping Ren yang masih tidur diatas ranjangnya, sepertinya sahabatnya ini tidak terbangun sama sekali ketika ia keluar tadi.
Sang ketua asrama siang itu menghela nafas ketika ia ingat jika Killian hampir menusuknya dengan belati. Jika JR tidak datang mungkin ia sudah mati ditangan putranya sendiri.
Air mata keluar dari mata indahnya, mengingat tatapan penuh kebencian Killian padanya ketika bocah tampan itu pertamakali melihatnya.
Minhyun bingung dengan dirinya sendiri. Ia tidak menyukai kehadiran janin yang ada di dalam perutnya karena mengingatkannya pada malam panas penuh gairah dengan JR, sosok yang ia benci. Walaupun ia tidak suka entah kenapa dia tidak mau memusnahkan janin ini. Bagaimana bisa ia memusnahkan sosok tidak berdosa yang bahkan tidak tahu apa-apa ini.
Tapi Minhyun jijik, ia jijik pada dirinya sendiri.
"Killian." Gumamnya dengan pelan. Sejak ia mengetahui jika ia sedang mengandung entah kenapa mood Minhyun suka naik turun dan ia bertingkah tidak seperti dirinya yang biasa.
.
.
.
.
.
.
"Kenapa Daddy menghalangiku?" tanya Killian ketika Ayahnya masuk ke kamar. Ia sengaja tidak langsung tidur dan menunggu Ayahnya datang.
"Kenapa kau belum tidur?"
"Aku menunggu Daddy."
JR mengelus kepala putranya dengan lembut. "Tidurlah, Killian."
"Kenapa, Dad?"
JR tidak langsung menjawab, tangannya masih mengelus kepala putranya. Putranya yang baru ketahui beberapa jam yang lalu.
"Jawab pertanyaanku, Dad. Kenapa?"
"Karena jika kau membunuhnya maka kau akan menghilang." Ujar JR dengan nada pelan.
Nafas Killian tercekat mendengarnya. Ia tidak memikirkan hal tersebut, yang ada dipikirannya hanya membunuh sosok yang telah melahirkannya di dunia itu namun jika memang ia menghilang maka tidak apa-apa karena yang penting ia sudah membunuh Ibunya.
"Aku memang baru mengetahuimu sejak tadi siang namun dari lubuk hatiku yang terdalam aku merasa bahwa aku sudah mencintaimu seumur hidupku."
"Hiks, Daddy." Killian terisak pelan.
JR membawa tubuh putranya dalam pelukannya. "Kau Putraku, Killian. Aku tidak bisa membayangkanmu menghilang dari hidupku."
"Hiks, Hiks."
"Kita hanya perlu membuat Ibumu berubah agar tidak seperti yang kau ceritakan di masa depan."
Killian menggeleng. "Aku tidak butuh dia. Aku hanya ingin Daddy."
Tanpa mereka sadari jika Kiella mendengar percakapan mereka. Putri tunggal Kai dan Sehun itu mencengkeram ujung baju yang ia kenakan.
Kiella hanya ingin mengubah masa lalu dan membuat Killian bahagia namun kenapa semuanya tampak mustahil.
Tidak, Kiella. Kau tidak boleh menyerah. Ini masih awal. Kau pasti bisa melakukannya. Ucap Kiella dalam hati.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
JR menatap kedua bocah didepannya. "Jadi, apa yang akan kalian lakukan hari ini?"
"Ke perpustakaan mencari buku mantra yang bisa membuat kita kembali." Jawab sang anak.
Gadis kecil berusia sepuluh tahun itu menggeleng kencang. Ia lalu memeluk lengan Killian. "Tidak ada mantranya Killian. Kita hanya harus menunggumu lahir. Sudah hukum alam jika tidak diperbolehkan ada dua jiwa yang sama dalam satu waktu. Kita bisa kembali jika Uncle Minhyun sudah melahirkanmu."
Bocah tampan itu menatap nyalang sepupunya. "Atau jika kita menemukan mantra untuk kembali ke masa kita yang sebenarnya. Orang tuamu pasti khawatir Kiella."
"Daddy dan Mommy tidak akan khawatir, tenang saja."
"Ok, Cukup kalian berdua. Lebih baik kita segera ke aula besar untuk sarapan." JR menengahi perkelahian kedua bocah didepannya.
"Tidak perlu, Uncle. Sepertinya banyak para murid yang tidak menyukai kehadiran kita jadi lebih baik kita makan di dapur sekolah saja." ucap Kiella dengan senyum dipaksakan.
.
.
.
.
.
JR mendudukan dirinya disamping Seongwoo. Saat ini ia berada di kelas Professor Jaejoong yang tengah mendongeng tentang berbagai sejarah di Atlantis. Sang ketua asrama malam itu tidak sadar bahwa mitra sesama ketua asramanya tidak datang andai saja Seongwoo tidak mencolek Ren dan menanyakan keberadaan Minhyun.
"Dimana Minhyun?" tanya Seongwoo pada sahabat sehidup sematinya Minhyun itu.
"Di kamar." Jawab Ren singkat.
"Kenapa tidak masuk ke kelas?" kini Daniel yang bertanya. Walaupun ia dan Minhyun berbeda asrama namun Daniel adalah salah satu orang yang dekat dengan Minhyun setelah Ren. Daniel memang dari Asrama Malam namun dia bukan Ras Serigala, Sosok bergigi kelinci itu Vampire.
"Aku menyuruhnya untuk tidak masuk kelas pagi karena ia sepertinya kurang tidur semalam." Ren menggunakan nada yang berbeda ketika ia berbicara dengan Seongwoo dan dengan Daniel. Ren itu Penyihir –walaupun bukan dari Clan Blackthirn jadi wajar jika ia membenci Ras Serigala. "Tapi dia akan masuk saat kelas berikutnya."
JR yang mendengar percakapan tersebut hanya diam namun pikirannya mengingat kembali kejadian semalam dimana putranya sendiri mau membunuh Minhyun.
.
.
.
.
.
Killian meletakan kembali buku tebal berisi mantra-mantra ketika tidak menemukan mantra yang ia cari. Sudah berjam-jam dia mencari –ia tidak yakin Kiella mencari dengan benar karena sepupunya itulah yang membawa mereka di masa sekarang ini, bocah tampan itu sudah mencari hampir seluruh rak mantra dari rak yang paling bawah, paling atas dan rak paling belakang yang jarang di datangi para murid ia cari namun hasilnya nihil.
"Killian lihat aku menemukan mantra transportasi yang sebenarnya!" Kiella berteriak penuh semangat pada Killian yang sedang berada diatas tangga –yang tersedia di perpustakaan untuk mengambil buku di rak yang paling atas.
Kiella bisa saja mengambil buku-buku tersebut dengan sihirnya namun ia tidak mau membawa mereka pulang ke masa mereka yang sebenarnya.
Killian menghela nafas kasar lalu turun dari tangga dan menatap kesal sepupu cantiknya itu. "Kau benar-benar tidak berniat mempulangkan kita, bukan?"
Kiella menggeleng. Percuma ia berbohong karena Killian selalu tahu dirinya luar dalam.
.
.
.
.
.
"Aku bosan." Kiella melemparkan buku yang ia baca dan menatap mata sepupunya yang berbeda warna itu. Mata Killian adalah yang paling ia sukai di jagat raya. Begitu indah namun penuh kehampaan.
Killian tidak menjawab apapun, matanya masih memandang jendela didepannya yang menampilkan para murid kelas dua sedang berlatih bertarung mengikuti instruksi dari Siwon.
"Kelas bertarung yah?"
"Sepertinya begitu." Jawab Killian tanpa memandang sepupunya sama sekali.
Kiella bangkit dari duduknya lalu menarik Killian keluar dari perpustakaan.
"Hey, Kiella. Kita mau kemana?"
"Ikut ke kelas bertarung."
"Apa!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
JR yang tengah bertarung melawan Seongwoo menghentikan aksinya ketika melihat dua bocah yang ia kenal betul mendekat menuju area pertarungan.
"Jadi benar jika bocah laki-laki itu adalah anakmu yang datang dari masa depan?" tanya Seongwoo.
"Ya."
"Aura yang dia milikki mengingatkanku padamu jika kau sedang marah. Dingin dan penuh kebencian serta menjanjikan penderitaan tiada akhir bagi siapa saja yang menentang."
JR tidak meladeni ucapan sahabatnya sama sekali. Matanya yang berwarna grey tidak sengaja memandang Minhyun yang tampak kaku melihat Killian.
Killian tersenyum kecil melihat Ayahnya.
"Kau tidak seharusnya ada disini." Ucap JR pada putranya yang tampan itu.
"Kiella kebosanan dan ia menyeretku kemari."
JR mengangguk mengerti. "Mau berlatih bertarung?"
Senyum Killian semakin lebar mendengarnya. Sudah sangat lama ia tidak dilatih oleh Ayahnya itu. Terakhir ia dilatih oleh sosok yang ia sayangi itu saat dirinya masih berusia 5th.
"Boleh."
Kini Ayah dan itu bertarung hand-to-hand. Killian memulai serangan dengan menggunakan kakinya, JR menghindar dengan cepat dan memukul titik lemah dibahu putranya namun sebelum ia melakukan itu tangan Killian mencengkeram lengannya dan mencoba memelintirnya tapi JR bergerak cepat dan menggunakan kakinya untuk menjatuhkan Killian.
Killian memang putranya namun bukan berarti JR akan bersikap lembut. Lagipula JR juga ingin melihat kemampuan putranya itu.
Killian terjatuh namun saat dia akan bangkit, dia menggunakan kakinya untuk menendang kaki Ayahnya hingga JR-pun terhuyung namun JR menyanggah tubuhnya dengan tangan dan JR menendang perut Killian –JR tidak menggunakan semua tenaganya.
Para murid yang ada disekeliling mereka menyoraki keduanya. Ada yang mendukung JR namun tidak sedikit pula yang mendukung Killian.
Selama lima belas menit JR dan Killian bertarung hingga akhirnya Siwon menghentikan keduanya karena membuat murid lain tidak berlatih sama sekali dan hanya menonton mereka.
"Gerakan yang bagus, Killian." Puji Seongwoo pada bocah didepannya. "Mau mencoba bertarung denganku?"
Killian menggeleng. "Tidak, Uncle." Mata Killian menatap satu objek yang dari tadi terdiam menatap pertarungannya dengan sang Ayah. "Aku ingin menantang Minhyun Blackthorn."
Keheningan langsung menyelimuti mereka ketika mendengar ucapan bocah tampan itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
20 March 2018.
