MONSTER
by
Achan Jeevas
.
.
.
.
.
.
.
.
Chapter 7
.
.
.
.
.
.
.
.
"Bocah itu macam-macam saja menantang Minhyun."
"Dia akan mati ditangan Minhyun."
"Sok sekali bocah itu langsung menantang Minhyun Blackthorn."
Killian tidak mempedulikan omongan para murid didepannya. Matanya masih menatap sosok yang sudah melahirkannya di dunia.
Minhyun memejamkan matanya sebentar untuk mentralkan ekspresi wajahnya. Hatinya berdenyut nyeri ditantang oleh putranya sendiri.
Sang ketua asrama siang itu baru satu langkah untuk berjalan mendekat pada Killian –ia menerima tantangan bocah tampan itu ketika tangannya digenggam oleh Ren.
"Minhyun, jangan." Bisik Ren dengan pelan dan penuh kekhawatiran.
"Tidak apa-apa, Ren." Minhyun tersenyum simpul lalu melangkah ke tengah area pertandingan dimana Killian sudah berdiri menunggunya.
Kini Minhyun sudah berdiri berhadap-hadapan dengan Killian.
"Kau bisa menggunakan sihirmu sesukamu." Ucap Killian namun matanya tidak menatap mata Minhyun.
"Aku tidak mau melukai seorang bocah."
Mata Killian menyipit mendengarnya. 'Asal kau tahu saja sejak aku masih didalam perutmu kau sudah sering mencoba untuk membunuhku.'
"Kau tahu aku sering dipanggil Monster oleh Ibuku sendiri, ia bahkan menamaiku Killian dan itu berasal dari kata Kill. Menurutnya aku adalah seorang Monster pembunuh dan pantas untuk dimusnahkan."
Seongwoo langsung menatap JR. "Kemarin dia memanggilmu Dad, dia benar anakmu kan?"
"Memangnya kenapa?" JR menatap kedua sosok itu. Ia tidak tahu apa harus mengkhawatirkan putranya atau Minhyun.
"Lalu siapa Ibu Killian? Putramu baru saja berbicara jika ia sering dipanggil Monster oleh Ibunya sendiri. Kau menikah dengan siapa di masa depan, Sobat?"
"Aku tidak menikah dengan siapa-siapa."
"Hah!"
Kiella menggenggam tangan JR. "Uncle."
JR mengelus rambut Kiella. "Tenang saja, Kiella. Jika keduanya sudah terlalu jauh Uncle akan bertindak."
"Tapi Uncle–"
"Dia tidak akan membunuh Minhyun didepan banyak orang, Kiella."
"Kalian membicarakan apa?" Daniel menatap bingung JR dan Kiella.
"Bukan apa-apa, Uncle Daniel." Kiella tersenyum manis.
Seongwoo menepuk bahu JR. "Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu dariku, Alpha JR."
JR memutar matanya mendengar panggilan Seongwoo padanya. "Aku akan mengatakannya padamu nanti, Alpha Seongwoo."
.
"Kenapa kau masih belum mengubah matamu?"
Minhyun tersenyum kecut. "Kau serius ternyata."
"Menurutmu aku hanya bercanda begitu?" ujar Killian dengan dingin.
Minhyun tidak menjawab ia menutup matanya dan ketika membuka mata, matanya yang semula berwarna hitam berubah menjadi sea blue seperti mata kiri Killian.
Killian sudah siap mengubah wujudnya menjadi serigala ketika Minhyun melakukan sesuatu yang tidak pernah ia duga seumur hidupnya.
Minhyun Blackthorn berlutut didepannya.
"Mi-minhyun?"
"Kenapa dia berlutut."
Para murid berbisik-bisik melihat ketua asrama siang yang selalu ambisius dan tidak mau kalah itu berlutut didepan bocah yang baru mereka lihat itu. Jangankan mereka bahkan JR dan Kiella-pun bereaksi sama.
"Se-sedang apa kau." Killian menatap tidak mengerti sosok cantik didepannya.
"Kenapa Killian?" tanya Minhyun dengan nada begitu pelan dan menyayat hati. "Kenapa?"
Mengerti kearah mana pertanyaan Minhyun, Killian langsung menjawab, ekspresi wajahnya yang tadi terkejut kembali mendingin. "Kau sudah melihat dirimu yang ada di cermin itu bukan?"
"Ya."
"Lalu mengapa kau masih bertanya."
"Karena aku masih tidak mengerti dengan semuanya, Killian. Beritahu aku semuanya!" Minhyun meninggikan suaranya.
Ada sedikit rasa prihatin pada diri Killian ketika melihat Minhyun Blackthorn berlutut didepannya namun rasa benci itu masih lebih besar. Ia membenci Minhyun Blackthorn. Ia ingin sekali membunuh Minhyun namun Ayahnya melarangnya.
Jika Ayahnya melarangnya membunuh Minhyun tidak apa-apakan jika Killian menyakiti Minhyun hingga diambang batas kematian? Biar sosok itu tau rasa bagaimana menderitanya Killian sejak bayi.
Ia akan memberikan rasa sakit yang akan selalu di ingat Minhyun Blackthorn. Rasa sakit yang akan membuat Minhyun memohon agar ia membunuhnya. Tidak apa-apa bila Killian juga akan menghilang yang penting Ayahnya akan bahagia hidup tanpa sosok Minhyun Blackthorn.
Killian memutar cincin titanium berwarna merah yang ia kenakan dan seketika cincin itu berubah menjadi sebuah pedang dengan bilah berwarna merah layaknya darah.
Bocah tampan itu mengangkat pedangnya dan segera bergerak dengan cepat menuju Minhyun yang masih berlutut. Tidak, Killian tidak akan membunuh Minhyun. Ia hanya akan memberikan rasa sakit tiada tara pada Minhyun.
Minhyun sendiri langsung memejamkan matanya, siap menerima ajalnya ditangan putranya sendiri.
Namun sebelum pedang milik Killian menyentuh kulit mulus Minhyun, JR sudah lebih dulu berdiri didepan Minhyun dan menangkap ayunan pedang putranya.
"Kau tidak mengatakan bahwa kau memiliki pedang, Nak."
"J-JR." Minhyun menatap sosok tampan didepannya yang untuk kedua kalinya menghalangi dirinya terbunuh ditangan putra mereka.
Mata Killian melebar melihat Ayahnya ada didepan matanya dan menahan ayunan pedangnya. Ia menatap tangan Ayahnya yang berdarah karena tajamnya bilah pedang miliknya. "D-dad."
Killian dengan segera melepaskan tanganya dari pedangnya. Matanya menatap ngeri telapak tangan Ayahnya yang bercucuran darah.
"Tidak apa-apa, Kaum Serigala memiliki immune yang tinggi, lukanya akan menutup dengan sendirinya." Ucap JR namun ia merasakan ada sesuatu yang masuk kedalam pembuluh darahnya dan entah kenapa tangannya mati rasa.
"Tidak!" Kiella berteriak. Matanya yang berwarna hazel-pun memandang ngeri tangan Pamannya. "Pedang itu, Killian mendapatkannya dari para Siren di Laut Merah. Pedang itu beracun."
Setelah mendenger itu kegelapan langsung menyelimuti tubuh JR.
"Dad!"
"JR!"
"Uncle!"
.
.
Dua jam setelahnya JR masih koma dan tak sadarkan diri. Racun dari pedang Killian terlihat tidak berbahaya namun siapa yang tahu jika sebenarnya racun itu membawa halusinasi paling mengerikan bagi siapa saja yang menyentuhnya.
"Ia harus segera bangun. Jika tidak maka ia akan gila karena halusinasi yang ia alami." Ucap sang kepala Healer –Penyembuh pada Suho, Lay, Kai, Killian dan Kiella. "Tapi kita tidak memiliki penawarnya."
"Memang apa penawarnya?"
"Sisik emas dan air mata Siren." Ucap Killian dengan pelan namun semua orang mendengarnya dengan jelas.
"Ya. Bagaimana kau tahu, Nak?" tanya Healer tersebut pada Killian tapi Killian tidak menjawab apapun. Suho, Lay, Kai dan Kiella sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Dia banyak membaca buku jadi dia tahu banyak hal." Jawab Suho mencoba menutupi kejahatan cucunya.
Kepala Healer itu mengangguk.
"Apa tidak ada penawar lain selain itu?" Lay menatap Healer didepannya dengan air mata yang membasahi wajahnya. Sejak datang ke rumah sakit ia langsung menangis histeris mendengar putranya terkena racun Sirens. "Sirens adalah kaum licik dan cerdik. Mereka tidak akan mau memberikan sisik emas dan air mata mereka secara cuma-cuma."
"Kami akan mencoba mencari penawar lain yang bisa membangunkannya."
.
"Tidak ada penawar di bumi yang bisa membangunkan Daddy selain dua hal tersebut." ucap Killian, ia menundukan kepalanya.
Kai menghela nafas lalu duduk disamping keponakannya dan membawa Killian dalam pelukannya. "Besok Uncle akan mencoba kepulau Sirens dan mencoba bernegosiasi dengan mereka."
"Harus Sirens dari Laut Merah, Uncle. Karena pedang yang aku dapatkan itu dari Para Sirens sana." Killian memeluk erat Pamannya. Sejak Ayahnya di penjara hanya Kai yang berperan sebagai sosok Ayah untuknya. "Maafkan aku, Uncle. Hiks, Ini semua salahku. Grandpa, Grandma, Maafkan aku. Hiks."
Lay mengelus kepala Killian. "Tidak, ini bukan salahmu, Sayang. Ini hanya kecelakaan."
Kiella yang melihat pemandangan didepannya hanya diam dan menangis dalam hatinya. Ia hanya ingin mengubah masa lalu dan membuat hidup Killian bahagia namun ia sudah membuat sepupunya menangis dua kali.
Sepupunya yang ia sayangi itu tidak pernah meneteskan air mata seberapapun Minhyun menyakiti Killian namun sekarang, sepupunya yang selalu tegar dan dingin kini meneteskan air matanya.
"Kiella."
Kiella mendongak dan melihat Kakek dari pihak Ayahnya menatapnya dengan serius. "Ya, Grandpa?"
"Grandpa ingin berbicara denganmu."
Kiella mengangguk dan mengikuti Suho yang berjalan didepannya menuju tempat yang lebih sepi.
Tanpa mereka sadari Minhyun sejak tadi berada disana dan mendengarkan semuanya.
.
.
"Kiella." Suho membuka suaranya setelah mereka sudah berada di lorong yang sepi.
"Ya, Granpa?"
"Boleh Grandpa tahu mengapa Killian memiliki pedang itu?"
Kiella diam. Ia bingung apakah ia harus menceritakannya atau tidak. Di masanya, kedua Kakek dan Neneknya dari pihak Ayah dan Ibunya jarang ia temui karena keempatnya sibuk dengan pekerjaan mereka.
"Kiella." Suho berucap dengan begitu lembut. "Grandpa ingin tahu."
Bocah kecil yang baru berusia 10th itu menarik nafas lalu membuangnya perlahan. "Saat ulang tahun Killian yang ke-10, Uncle Minhyun mengatakan bahwa ia akan memberikan Killian hadiah, Killian sangat senang karena itu adalah kali pertama Uncle Minhyun memberikan sesuatu untuknya bahkan itu adalah kali pertama aku melihatnya tersenyum senang."
"Namun Uncle Minhyun mengatakan bahwa hadiahnya terjatuh di Laut Merah dan Killian harus mengambilnya sendiri jika masih menginginkan hadiah itu." Kiella menatap kakek dari pihak Ayahnya itu.
"Grandpa tahu sendirikan jika Laut Merah itu salah satu Laut yang paling berbahaya setelah Segitiga Bermuda?"
"Ya."
"Aku sudah melarangnya, Mommy dan Daddy sudah melarangnya namun Killian tetap kesana. Aku tidak tahu apa yang terjadi setelahnya karena ketika pulang Killian sudah membawa pedang itu dengan tubuhnya yang dipenuhi luka bekas sayatan dan cakaran. Killian tidak mengatakan apapun, ia hanya mengatakan bahwa para Sirens yang ia temui di Laut Merah memberinya pedang sebagai hadiah."
Suho mengusap wajahnya dengan kasar. "Apa Minhyun begitu membenci Killian?"
Kiella mengangguk pelan. "Yang aku tahu dari Mommy jika sejak awal Uncle Minhyun memang tidak menginginkan kehadiran Killian, mangka dari itu sudah tugasku untuk selalu ada disamping Killian."
"Itu alasan mengapa kau kemari?" tanya Suho. Kemari dari kalimatnya yaitu datang ke masa ini.
"Ya. Aku ingin mengubah semuanya. Apapun yang terjadi walaupun aku merasa gagal karena sudah membuat Killian mengeluarkan air mata."
.
.
Killian mendongak dan menatap Kiella yang baru kembali bersama sang kakek. Dengan segera bocah tampan itu menghampiri sepupunya. "Ayo Pulang."
Semua orang yang ada disana menatap bingung Killian.
"Pulang? Ke Asrama Malam?" tanya Kiella.
"Ke masa kita yang sebenarnya."
Nafas Kiella tercekat. Ia menggeleng. "Uncle JR sedang koma dan kau ingin kita kembali?"
"Ini semuanya karenaku. Karena aku Daddy terbaring disini." Killian menatap tepat pada mata hazel Kiella. "Ku mohon, Kiella. Aku mohon, kita harus pulang. Aku tidak mau melihat orang yang aku sayangi di jagat raya ini lebih menderita lagi."
Seumur hidupnya Kiella tidak pernah mendengar Killian memohon bahkan ketika Minhyun merapalkan beberapa mantra penyiksa pada Killian, Killian hanya diam saja. Ia tidak memohon pada Minhyun untuk menghentikannya. Killian hanya akan menunggu sampai Minhyun selesai menyiksanya.
"Maafkan aku, Killian. Tapi aku tidak tahu mantranya."
"Kiella."
"Aku berkata jujur, Killian. Aku tidak berbohong. Aku memang tidak tahu mantranya."
Killian mengambil sesuatu dari sakunya yang tak lain adala selembar kertas kusam. Ia memberikan kertas itu pada Kiella. "Aku mendapatkannya dari salah satu buku yang kita cari di perpustakaan."
Gadis kecil itu melebarkan matanya saat melihat tulisan tersebut. Ia membaca mantra tersebut dalam hati.
"Hanya yang merapalkan mantra –yang membawa kita kemari- yang bisa melakukannya dan itu adalah Kau. Sekarang, Baca yang keras, Kiella."
Kiella mendongak dan menatap Killian.
"Aku bilang baca yang keras!"
Kiella menggeleng dan dengan cepat ia membakar kertas dengan api sihirnya.
"Apa yang kau lakukan?!"
"Aku sudah mengingat mantra itu dan seperti yang kau katakan hanya akulah yang bisa merapalkan mantra itu karena aku yang membawa kita ke masa ini. Dan sayangnya aku tidak berniat membawa kita pulang dalam waktu dekat ini."
"Kiella!"
"Aku berjanji akan membawa pulang kita dari sini jika Uncle JR sudah sadar."
Hening menyelimuti dua bocah yang memiliki dua darah dalam pembuluh mereka itu.
"Kau berjanji?"
"Aku bersumpah."
.
.
Malam semakin larut lorong Atlantis Hospital begitu sunyi. Suho tidak bisa lebih lama berada disana karena Pack-nya membutuhkan Alpha mereka, Kai juga harus segera kembali ke Atlantis Academy karena ia sudah berada di tahun terakhirnya disekolah yang membuatnya harus belajar. Hanya ada Lay, Killian dan Kiella.
Lay dan Kiella, keduanya sedang keluar bersama untuk berbicara dengan para Healer penanggungjawab JR.
Killian sendiri selalu ada disamping JR dan tidak mau menjauh dari tubuh Ayahnya yang sedang koma. Tidak koma sebenarnya namun mati suri dengan halusinasi penyiksaan tiada akhir. Itulah yang terjadi pada JR saat ini.
Killian langsung menegakan badannya ketika mencium aroma tubuh sosok yang sangat tidak ingin ia temui apalagi sekarang. "Kenapa kau kemari?"
Minhyun menatap putranya itu sebenatar lalu matanya memandang wajah JR yang pucat. Dibelakang Minhyun ada Lay dan Kiella.
"Apa aku tidak boleh mendatangi suami masa depanku?"
Killian tersenyum meremehkan. "Dia tidak akan pernah menjadi suamimu. Kalian tidak pernah bersama."
Mata Minhyun melebar, ia kira jika ia dan JR menikah dimasa depan tapi ternyata perkiraannya salah total.
"Kau belum menjawab pertanyaanku tadi siang." Minhyun mengubah topic pembicaraan walaupun topiknya sama-sama tentang apa yang terjadi di masa depan hingga membuat Killian begitu membencinya.
"Kau ingin tahu?" Killian berdiri dan secara tiba-tiba ia sudah memegang sebuah bola Crystal.
"Killian, Jangan!" Kiella berteriak dan mencoba mencegah Killian memecahkan bola itu namun terlambat.
Prangggg.
Bola Crystal itu layaknya jurnal hidup Killian. Killian selalu menaruh seluruh ingatannya pada bola itu dan ketika bola crystal itu terpecah maka kalian akan melihat seluruh ingatan Killian.
.
.
Minhyun menatap jijik perutnya yang sudah terlihat membuncit. Sudah puluhan bahkan ratusan kali ia mencoba untuk membunuh makhluk yang ada didalam perutnya. Dari mulai memukul-mukul perutnya dengan keras, meminum ramuan penggugur kandungan, memakan-makanan yang tidak sehat, naik turun tangga selama ratusan kali dan berloncat-loncat namun makhluk tidak tahu diri itu masih saja bersarang disana.
Minhyun mencoba untuk memukul-mukul perutnya dengan keras –kebiasaan yang ia lakukan setiap hari selama tiga bulan ini berharap bahwa makhluk yang bersarang disana mati namun masih saja tidak berhasil.
"Minhyun mengapa kau lama sekali, kelas Professor Kyuhyun sebentar lagi dimulai."Ren berteriak didepan pintu kamar mandi.
"Iya, aku akan keluar."
.
Professor Kyuhyun itu mengajar di kelas ramuan dan kini seluruh murid diberi tugas untuk membuat ramuan yang mereka kuasai.
Minhyun tidak membuang-buang waktu, ia dengan segera memasukan bahan secara acak dalam wadahnya hingga membuat Daniel yang ada disampingnya menatapnya bingung.
"Ramuan apa yang mau kau buat, Minhyun?"
Ketua asrama siang itu tidak menjawab, akhir-akhir ini ia tidak mau berhubungan dengan Daniel karena sosok manis ini satu asrama dengan orang yang paling ia benci di muka bumi. Sosok yang telah membuat makhluk kecil bersarang pada perutnya. JR.
Ini sudah tiga bulan lebih sejak mereka pulang dari Paris dan dua minggu setelah kepulangan mereka –juga setelah malam panas yang mereka lakukan, Minhyun mulai mual-mual dan pingsan serta moodnya yang selalu naik dan turun secara drastis.
Tidak menunggu waktu lama sampai Minhyun sadar ada yang aneh dengan tubuhnya terutama perutnya yang terasa ada benjolan. Dan semua itu membuktikan bahwa dia positif hamil, hamil putra sang ketua asrama malam sekaligus musuh Minhyun, Kim JR.
Bungsu Clan Blackthorn itu menatap datar ramuan didepannya yang berwarna hitam dan tampak begitu mengerikan. Ia menatap sekelilingnya, murid lain sedang berkonsentrasi dengan ramuan mereka dan Prof Kyuhyun tengah berkeliling namun tidak memperhatikannya.
Minhyun mengambil ramuan tersebut dan dengan gerakan cepat langsung meneguknya.
"Minhyun!" Daniel menarik ramuan tersebut dari tangan Minhyun namun terlambat Minhyun sudah meneguk habis ramuan tersebut dan seketika Minhyun terjatuh tak sadarkan diri.
Prof Kyuhyun dengan segera membopong Minhyun dan membawanya keruang kesehatan sekolah. Tidak lupa ia membubarkan kelasnya yang sudah panic dan ngeri melihat ketua asrama siang yang selalu ambisius itu mencoba untuk bunuh diri atau membunuh sosok tak berdosa yang ada diperutnya.
.
"Ada apa denganmu, Minhyun?" Sehun mengelus kening adiknya yang akhirnya siuman setelah tak sadarkan diri selama dua hari. "Jangan berbohong padaku, aku tahu kau menyembunyikan sesuatu dariku."
Minhyun tidak mengucapkan sepatah dua patah katapun. Ia membalikan badannya untuk memunggungi Sehun.
"Aku kakakmu, Minhyun."
"Aku ingin tidur, tolong jangan ganggu aku."
.
Malam harinya Minhyun bangun dari ranjang rumah sakit, tubuhnya masih lemas efek ramuan beracun yang ia buat bahkan lidahnya masih merasakan rasa dari ramuan itu.
Malam itu Minhyun keluar dari rumah sakit secara diam-diam dan pergi menuju bibir pantai Atlantis dengan pakaian rumah sakit yang masih ia kenakan.
"Aku ingin keluar dari Atlantis." Ucapnya pada Penjaga perbatasan.
"Kau belum berusia 20th." Ujar penjaga itu.
Minhyun melepaskan gelang pemberian Luhan Blackthorn –Ibunya pada penjaga didepannya. "Aku pikir ini cukup untuk membawaku keluar dari sini dan untuk menutup mulutmu."
Ia pernah mendengar jika penjaga perbatasan itu mata duitan dan bisa membawa orang keluar dari Atlantis asalkan kau memiliki uang yang banyak atau benda yang mahal dan indah.
Mata penjaga itu berbinar melihat gelang indah milik Minhyun. "Ikut aku."
Minhyun langsung mengikuti penjaga itu namun seringkali ia membalikan badannya untuk memastikan tidak ada orang yang melihatnya.
"Mau ke Negara mana?" tanya penjaga itu ketika mereka sudah memasuki kepal pesiar.
"China."
.
Minhyun turun dari kapal pesiar yang membawanya ke Negara Tirai Bambu –sebutan lain dari China, itu yang Minhyun baca di buku pelajaran Manusia. "Terimakasih."
Penjaga itu menggeleng. "Tidak usah berterimakasih lagipula kau membayarku."
.
Minhyun memulai semuanya dari awal di China. Ia menyewa sebuah apartement kecil untuk dirinya sendiri. Minhyun masih mencoba untuk membunuh embrio dalam perutnya, ia bahkan pernah menuangkan minyak di kamar mandi dan dengan sengaja berjalan diatasnya hingga membuatnya terpeleset. Tapi bayi dalam perutnya tidak mati juga.
.
Kini usia kandungan Minhyun sudah delapan bulan –mendekati sembilan bulan. Minhyun sudah menyerah untuk membunuh bayi di perutnya itu. Tidak, bukan menyerah. Minhyun hanya lelah dan merasa membuang-buang tenaga untuk membunuh bayi diperutnya itu. Jadi Minhyun memiliki cara lain bahwa ia akan membunuh bayinya setelah ia melahirkannya.
.
Minhyun mengigit bibir bawahnya menahan erangan kesakitan ketika tangannya menyobek perutnya dengan cutter dan mencoba mengeluarkan makhluk kecil yang menyusahkan hidupnya selama beberapa bulan ini.
Membutuhkan banyak tenaga dan mantra agar makhluk menyusahkan itu akhirnya keluar dari perutnya. Minhyun sengaja tidak ke rumah sakit manusia dan melahirkan disana. Ia tidak butuh itu. Ia bisa melakukannya dengan tangannya sendiri.
Bungsu Clan Blackthorn itu meletakan bayi mungil yang tali pusatnya masih menyatu dengan miliknya itu. Minhyun dengan segera memotongnya dan menjauhkan bayi itu jauh dari tubuhnya.
Bayi berjenis kelamin laki-laki itu menangis meraung-raung, kulit putih seperti milik Ibunya masih dipenuhi darah.
Nafas Minhyun terputus-putus dan peluh membasahi dahinya. Ia menyandarkan badannya di kepala ranjang, tangannya langsung merapalkan mantra penyembuh dan sedikit demi sedikit perutnya yang tadi masih mengucurkan dari darah bekas sobekan menghilang.
Minhyun menatap kosong perutnya dan ranjangnya yang dipenuhi darah miliknya, ia bahkan tidak memandang bayi tampan yang masih menangis dan meraung-raung.
Tanpa menatap bayi itu Minhyun dengan segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri. Malam ini juga ia akan kembali ke Atlantis.
.
Membutuhkan waktu lima belas menit untuk Minhyun menyelesaikan mandinya, ia lalu berjalan mendekati ranjangnya dimana bayi mungil yang baru ia lahirkan masih disana dengan tubuh masih penuh darah dan tak tertutup apapun.
"Monster." Ujar Minhyun penuh kebencian pada bayi tak berdosa didepannya.
Anehnya ketika mendengar suara Minhyun, bayi itu berhenti menangis dan dengan perlahan matanya terbuka.
Minhyun terkejut bukan main melihat mata bayi itu, mata kanannya berwarna grey dan mata kirinya berwarna sea blue.
"Kau benar-benar anak dari Bajingan itu." ucap Minhyun dan kembali bayi yang telah ia lahirkan itu menangis kencang. "Killian, itulah namamu. Karena kau adalah monster pembunuh kebahagiaanku. Semoga kau cepat mati."
Setelah mengatakan itu Minhyun membalikan badannya dan membuka pintu rumah kecil yang sudah ia tinggali selama beberapa bulan itu. Ia keluar dari rumah itu dan tidak repot-repot untuk menutup pintunya. Ia sengaja melakukannya agar bayi itu mati karena dinginnya angin malam yang masuk.
Minhyun Blackthorn pergi dan tidak berpaling sama sekali. Meninggalkan bayi mungil diatas ranjang yang ia lahirkan, bayi mungil yang bahkan tidak ia selimut dan tidak ia mandikan sama sekali, bayi yang masih berlumuran darah dan menangis kencang seolah-olah memanggilnya untuk kembali.
Bayi yang ia namai Killian.
.
.
TBC
24 March 2018
.
.
.
.
.
.
Thank You
Bye Bye Bye
L.O.V.E Ya
