MONSTER

by

Achan Jeevas

.

.

.

.

.

.

.

.

Chapter 8

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sekembalinya Minhyun ke Atlantis ia langsung disambut oleh tangis haru Ibu dan Kakaknya serta sahabat sehidup sematinya, Ren –dan Daniel. Puluhan bahkan ratusan pertanyaan menyerangnya namun inti dari pertanyaan itu sama. Kemana saja ia selama enam bulan ini dan menghilang tanpa jejak. Minhyun tidak menjawab sama sekali semua pertanyaan itu.

Membutuhkan waktu dua minggu hingga akhirnya tidak ada lagi yang berani bertanya macam-macam padanya dan hari-hari di Atlantis kembali seperti biasa setelah itu, hingga dengan tiba-tiba Minhyun memutuskan untuk mundur dari jabatannya sebagai Ketua Asrama Siang.

Keputusannya itu mengejutkan hampir seisi Pulau Atlantis pasalnya selama Atlantis Academy didirikan ratusan tahun yang lalu, tidak ada ketua asrama yang mengundurkan diri dan Minhyun adalah yang pertamakali melakukannya.

Kenapa ia melakukan itu? Agar ia tidak melihat JR lagi, sudah muak ia melihat wajah Alpha muda itu jika berada didalam kelas yang sama.

Yah, Hubungan JR dan Minhyun sejak kembali dari Paris memang berubah 360 derajat. Tidak ada lagi serentetan sumpah serapah dan bertengkaran mereka, yang ada hanyalah aura dingin dan mencoba untuk tidak mempedulikan kehadiran masing-masing.

Keduanya tetap seperti itu hingga kelulusan mereka di Atlantis Academy bahkan hingga usia mereka 20th dimana mereka sudah di ijinkan untuk keluar dari Pulau Atlantis.

Tepat diusianya yang ke-20, JR berangkat ke Korea Selatan untuk menemui kakaknya yang sudah ada disana sejak satu tahun yang lalu sedangkan Minhyun memilih tetap di Atlantis, Dunia manusia memberikan kenangan buruk untuknya.

Di Korea Selatan, JR bertemu dengan anak kecil berusia 3 tahun yang memiliki paras rupawan dengan dua mata yang berbeda warna. Anak itu bernama Killian.

.

"Jadi kau sudah mengerti kan tugasmu disini, kan?" Kai menatap adiknya yang baru satu minggu berada di Korea. Ia menyuruh adiknya datang ke dunia manusia untuk menggantikannya sebagai pelatih dance di SM Ent –Salah satu agency hiburan Korea yang terkenal. Sedangkan Kai sendiri ia harus pulang ke Atlantis karena Ayah mereka membutuhkannya.

Apa kalian bingung kenapa Kai ada di dunia manusia? Well, aku ceritakan sedikit. Jadi satu tahun yang lalu saat Kai berusia 20th ia ingin mengelilingi dunia manusia dan mengencani gadis-gadis cantik diseluruh penjuru dunia manusia.

Negara pertama yang ada dipikirannya saat itu Korea jadi Kai datang ke Korea namun siapa yang menyangka tiba-tiba saja ia ditawari sebagai trainee di SM Ent, Kai langsung menolak, ia bilang bahwa ia tidak mau membuang-buang waktunya menjadi trainee.

Selang beberapa minggu setelah itu Lee Sooman –CEO SM Ent tiba-tiba saja menemuinya dan meminta Kai menjadi Pelatih dance di agencynya. Kai langsung menerima tawaran itu karena menurutnya menyenangkan sekali melatih trainee perempuan yang memakai baju sexy dan berkeringat. Benar-benar bajingan memang putra sulung Kim Suho dan Lay ini.

Selama ia berada di Korea, Suho sering memintanya untuk pulang ke Atlantis karena Kai adalah putra sulungnya dan penerus Pack FLAME namun Kai tidak mau dan mengatakan ia sibuk lalu ketika JR berusia 20th dan sudah diperbolehkan untuk keluar dari pulau Atlantis Kai meminta JR untuk menggantikannya menjadi Pelatih dance di SM Ent.

"Iya. Sekarang sana kembali ke Atlantis sebelum Mother melupakanmu sebagai putra sulungnya."

Mendengar ucapan adiknya tanpa segan-segan Kai langsung memukul belakang kepala JR.

"Aduh!"

"Rasakan itu."

.

.

Tepat seminggu setelah JR menggantikan Kai sebagai pelatih dance di SM Ent, ia dan JHope –rekan sesama pelatih dance di SM Ent meminta tolong padanya untuk mengantarkannya ke panti asuhan milik kakak JHope, Jung Jessica.

"Maafkan aku, JR. Aku menyita waktu luangmu dengan merepotkanmu." Ujar JHope ketika keduanya sudah ada di dalam mobil JR menuju Panti Asuhan milik orangtua JHope yang kini sudah berpindah tangan menjadi milik kakaknya yang cantik.

"Tidak perlu meminta maaf, Hyung. Lagipula aku tidak merasa di repotkan sama sekali."

.

JR menghentikan mobilnya ketika JHope menyuruhnya berhenti. Keduanya lalu turun dari mobil JR.

"Ini tempatnya, Hyung?" tanya JR sambil melepaskan kacamata hitam yang ia pakai dan menatap intens Gereja didepannya. Entah kenapa ia merasakan akan ada sesuatu yang ia temui di gereja ini.

JHope mengangguk. "Panti asuhannya ada dibelakang gereja tersebut."

Kedua pemuda tampan yang merupakan pelatih termuda di SM Ent itu melangkahkan kaki mereka menuju panti asuhan yang ada di belakang gereja besar itu dengan tangan keduanya yang membawa kotak makanan untuk anak-anak disana.

"JHope-ah, akhirnya kau datang juga." Ucap sosok cantik yang merupakan kakak JHope ketika melihat adiknya datang.

"Maaf aku datang terlambat, Noona." Setelah meletakan puluhan kotak makanan diatas meja JHope langsung mendekati kakaknya dan memeluknya.

"Tidak apa-apa." Jessica lalu menatap bingung pemuda lain yang datang bersama adiknya itu. "Siapa dia?"

"Namanya Kim JR, Noona. Adiknya Kai. Dia menggantikan Kai di SM Ent. JR perkenalkan ini kakakku, Jung Jessica."

JR mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. "JR."

"Jessica." Jessica membalas uluran tangan JR. Pipi Jessica memerah ketika JR tersenyum padanya.

"Noona, anak-anak dan pengasuh yang lain mana?"

"Mereka sedang berdoa bersama di Gereja. Sebentar lagi pasti akan kembali."

JHope mengangguk mengerti dan membereskan kotak-kotak makanan yang ia bawa dibantu oleh JR dan Jessica. Jessica sendiri sering mencuri-curi pandang pada JR dan JR tentu tahu itu namun ia tidak mempedulikannya, mungkin jika ia sedang suntuk ia akan meminta nomor Jessica dari JHope dan melakukan one night stand.

"JR, apa kau mau melihat-lihat panti asuhan ini?" tawar Jessica sambil tersenyum manis.

"Itu tawaran yang tidak bisa aku tolak, Noona."

Keduanya lalu berkeliling panti asuhan meninggalkan JHope seorang diri.

JR dan Jessica berjalan beriringan mengelilingi panti asuhan yang usianya sudah puluhan tahun itu. Jessica bahkan sengaja mendekatkan tubuhnya pada tubuh JR.

"Kita memiliki 5 pengasuh disini dan tiga dari mereka adalah biarawati dari gereja depan."

"Apa tidak terlalu sedikit?"

Jessica menggeleng. "Tidak, disini hanya ada 20 anak. Yang paling besar berusia 14th dan yang paling kecil berusia 1 tahun, sebulan yang lalu banyak sekali yang datang untuk mengadopsi anak-anak dari sini."

Alpha muda itu mengangguk mengerti, ia tiba-tiba saja menghentikan langkah kakinya dan menatap foto yang ada di dinding.

"Foto ini diambil seminggu yang lalu. Setiap tahun kita akan selalu melakukan foto bersama." Jelas Jessica, ia tersenyum manis melihat foto yang berisi seluruh anak-anak panti dan para pengasuh.

Mata sang Alpha muda yang berwarna grey itu hanya terfokus pada satu anak diantara dua puluh anak dalam foto itu.

Satu anak yang tampak berbeda dengan anak-anak lainnya. Usianya mungkin sekitar tiga tahun, dalam foto itu anak kecil itu berdiri paling kiri dan hanya dari foto saja JR merasa aura anak itu begitu berbeda karena mata anak kecil itu berbeda warna dan tatapan mata itu begitu kosong dan hampa.

"Noona, siapa nama anak yang bermata heterochromia itu?"

"Ah, dia. Namanya Killian. Awalnya kami memanggilnya Karry tapi ketika dia sudah bisa berbicara dia mengatakan bahwa namanya adalah Killian padahal dia sudah ada di panti asuhan ini sejak bayi."

"Killian? Siapa orangtua yang menamai anaknya seperti itu. Nama Killian mengingatkanku dengan kata Kill."

Jessica mengangkat bahunya. "Kami juga berpikir demikian namun dia tetap ingin dipanggil Killian jadi kami menyetujuinya. Aku menemukannya tiga tahun yang lalu di sebuah rumah kecil di China karena aku dulu berkuliah disana. Aku mendengar tangis bayi pada dini hari dan terkejut bukan main melihat dia yang saat itu tampaknya baru lahir dengan tubuh polos penuh darah. Sepertinya dia tidak diinginkan orangtuanya."

Mendengar kalimat Jessica entah kenapa jantung JR terasa diremas dengan kencang, ia tiba-tiba merasa bersalah pada bocah yang bahkan tidak pernah ia temui itu dan rasa bersalah itu tiba-tiba berubah menjadi kesal. Entah pada siapa dia kesal.

"Kau tahu, saat melihat wajahmu entah kenapa aku langsung memikirkan Killian. Mata kanannya yang berwarna grey mirip dengan matamu."

"Aku juga berpikir demikian." Gumam JR, matanya masih menatap foto Killian.

Jessica membalikan badannya ketika mendengar suara gaduh di ruang utama, sepertinya anak-anak dan para pengasuh sudah kembali dari gereja.

"Aku tinggal sebentar." Ucap Jessica dengan nada dibuat-buat manis sambil menyentuh lengan JR yang dibalas dengan senyum oleh JR juga.

JR kembali menatap foto didepannya setelah Jessica sudah tidak ada dalam pandangannya. "Killian, heh?"

"Itu namaku."

Sosok tampan yang pernah memimpin Asrama Malam itu dengan segera membalikkan badannya ketika mendengar suara datar itu dan nafasnya langsung tercekat melihat bocah yang ada di foto kini berdiri didepannya dan menatapnya dengan mata heterochromia-nya.

Saat melihat bocah kecil didepannya entah kenapa JR merasa ia sedang bercermin, mata kanan Killian yang berwarna grey, wajah tampan bocah didepannya dan garis muka yang sama. Semuanya seperti miliknya.

JR merasakan nafasnya memendek ketika merasakan aura milik Killian, aura itu persis seperti miliknya. Aura yang memancarkan kemurnian dan berbahaya.

"Kau…" JR berlutut didepan Killian. Tangannya terulur untuk menyentuh pipi Killian. "…Putraku."

JR yakin, ia sangat yakin jika bocah kecil didepannya adalah darah dagingnya, darah dagingnya dengan Minhyun Blackthorn.

Ia adalah seorang manusia serigala –bukan sembarang manusia serigala tapi seorang Alpha dan manusia serigala akan langsung mengetahui jika sosok yang mereka temui adalah keluarga mereka atau bukan. Apalagi darah daging mereka sendiri, biasanya dalam sekali tatap akan langsung menyadarinya.

Dan bagaimana JR yakin jika Killian adalah putranya dengan Minhyun. Itu karena mata kiri Killian yang berwarna sea blue dan sedikitnya ia sadar bahwa Killian juga memiliki aura seperti Minhyun –aura clan penyihir.

.

JR mengelus kepala Killian yang kini berada dalam pelukannya. Keduanya tengah berbaring diranjang king size JR. Baru sepuluh jam yang lalu keduanya bertatap muka untuk pertamakalinya dan JR langsung meminta Jessica untuk membiarkannya mengadopsi Killian –yang mana adalah putra kandungnya sendiri namun ia tidak mengatakan hal tersebut pada Jessica bahkan JHope pun terkejut bukan main.

Anak-anak lain menangis ketika mereka tahu jika Killian akan dibawa pergi oleh JR, kata Jessica kalau Killian itu walaupun dingin namun ia sangat disayangi oleh anak-anak panti dan para pengasuh karena tingkahnya yang selalu dewasa untuk anak seusianya.

"Daddy." Killian memanggil sang ayah. Dia begitu mudah langsung memanggil JR dengan sebutan Daddy karena ia juga sadar bahwa sosok tampan itu memang benar Ayah kandungnya. Keduanya memiliki ikatan yang begitu erat.

"Ya?" tangan JR tidak berhenti mengelus kepala putranya, sedikit demi sedikit ia juga menyalurkan beberapa pikiran serta kekuatanya pada Killian. Ia berikan sedikit demi sedikit dasar-dasar tentang manusia serigala dan Atlantis pada pikiran Killian.

"Siapa nama sosok yang melahirkanku itu?"

"Namanya Minhyun Blackthorn." Ujarnya sambil menahan amarahnya ketika ia ingat ucapan Jessica bahwa Killian ditemukan di rumah kecil yang pintunya terbuka. Sepertinya Minhyun menginginkan Killian untuk mati dan itu memang Minhyun sekali. Jika ia bertemu dengan pemuda manis itu JR akan menamparnya.

"Kenapa dia membuangku, Dad? Apa aku melakukan kesalahan besar padanya."

"Tidak, Killian. Semua ini salah Daddy." Pikiran JR melayang pada malam panas yang ia lakukan dengan Minhyun di Paris bertahun-tahun silam. "Maafkan Daddy."

.

.

Kini sudah berbulan-bulan JR dan Killian tinggal bersama di dunia manusia, JR masih tetap menjadi pelatih dance di SM Ent dan Killian sudah masuk TK. Letak TK Killian dan gedung SM Ent hanya sepuluh menit jika jalan kaki dan TK yang Killian masuki itu salah satu TK yang elite di kota Seoul.

"Killian."

Bocah tampan itu langsung mendongak dan senyum manisnya langsung terukir dibibirnya. "Daddy."

JR lalu membawa Killian dalam gendongannya dan mengacak rambut putranya dengan sayang. "Sudah menunggu lama?"

Killian menggeleng, ia mengalungkan kedua tangannya dileher JR. "Tidak, Dad."

JR lalu membawa putranya masuk kedalam mobil.

"Killian."

"Ya, Dad?" tanya Killian setelah memakai seatbeltnya.

"Besok kita ke Atlantis."

Mata Killian melebar mendengarnya. "Atlantis?"

"Ya."

"Besok?"

"Iyah. Sudah saatnya kau bertemu dengan Kakek, Nenek serta Pamanmu."

.

Esok hari datang begitu cepat, kini JR dan Killian sudah berada di rumah besar yang sudah JR tinggalkan selama satu tahun ini.

Dalam ruang tamu kini ada Suho, Lay dan Kai yang menatap JR dan Killian bergantian. Ketiganya sadar bahwa bocah kecil yang baru pertama mereka lihat adalah putra JR.

"Namanya Killian, Kim Killian. Dia putraku, aku yakin kalian sudah menyadari itu, bukan?"

Suho memijat kepalanya yang tiba-tiba pening sedangkan istrinya aka Kim Lay langsung berhambur memeluk Killian dan Kai, ia hanya menatap adiknya dengan tatapan penuh makna.

"Kau sangat tampan Killian." Lay mencubit gemas pipi Killian. "Mimpi apa aku beberapa hari ini hingga tidak sampai dua puluh empat jam mendapatkan kabar gembira berupa kedua putraku sudah memiliki anak."

"Apa?" JR menatap tidak mengerti Ibunya. "Apa maksudmu, Mother?"

"Kakakmu itu, semalam dia mengatakan pada kami jika Sehun Blackthorn tengah hamil anaknya."

"Apa!" JR menatap horror kakaknya. "Kau dan Albino itu? Bagaimana bisa dia takluk padamu, Kak!"

Kai memutar matanya. "Kau menyebutnya Albino ketika Ibu dari anakmu itu adalah Rubah. Ibu dari Killian itu Minhyun bukan?"

Percuma JR mengelak jadi dia hanya mengangguk. Sudah dikatakan jika Kaum Serigala itu langsung mengenal seseorang hanya dari auranya saja apalagi mereka adalah pack serigala paling hebat di Atlantis.

"Iyah, memang dia. Dan kau belum menjawab pertanyaanku, kak. Bagaimana bisa Sehun takluk padamu bahkan kau sudah membuatnya hamil?"

"Keduanya tanpa sengaja melakukan sex puluhan kali hingga membuat Sehun Blackthorn hamil dan tanpa banyak kata keduanya sepakat untuk menikah, minggu depan upacara pernikahannya dilaksanakan mangkanya aku menyuruhmu untuk pulang kemarin." Jelas Suho masih sambil memijat keningnya.

Dan hari-hari setelahnya berjalan begitu cepat. Di hari upacara pernikahan Kai dan Sehun yang tertutup –hanya ada kedua keluarga inti serta beberapa pemimpin Atlantis yang datang.

Killian duduk disamping sang Ayah sambil memperhatikan ucapara pernikahan Kai dan Sehun. Mata heterochromianya menatap perut Sehun dengan intens.

"Kau harus berteman baik dengan calon bayi yang ada di perut itu, mengerti?" bisik JR pada putranya yang langsung dibalas anggukan Killian.

Mata JR tanpa sengaja bertubrukan dengan Kris Blackthorn yang menatap tepat kearahnya. JR sudah mengatakan bahwa Killian adalah putranya dengan Minhyun pada Kris, Luhan dan Sehun. Mereka terkejut bukan main ketika pertama mendengarnya pasalnya Minhyun menyembunyikan hal tersebut dari mereka selama bertahun-tahun.

Dan berbicara tentang Minhyun, sosok manis itu tidak ada karena sedang ada di Berlin –Kris memberi tugas pada putra bungsunya itu dan walaupun Minhyun tidak mau ke dunia manusia ia tetap tidak bisa menolak tugas dari Ayahnya itu. JR sedikitnya bernafas lega mengetahui itu karena untuk sekarang ini ia tidak ingin mempertemukan Killian dengan Minhyun. Belum waktunya mereka bertemu.

Kata Lay, Minhyun mengamuk ketika mendengar Kai dan Sehun akan menikah. Jangankan Minhyun, Kris dan Luhan saja hampir membunuh Kai –serta Sehun karena keduanya begitu membenci manusia serigala terutama Kris namun setelah berbicara empat mata dengan Suho –yang juga sebenarnya tidak setuju putranya menikah dengan clan penyihir akhirnya keduanya sepakat untuk berdamai.

Seminggu setelah upacara pernikahan Kai dan Sehun berlangsung, Sehun melahirkan bayi perempuan yang begitu cantik. Sehun memang sudah hamil besar ketika upacara pernikahan berlangsung. Saat awal kehamilannya, Kris dan Luhan selalu bertanya siapa Ayah dari bayi itu namun Sehun selalu bungkam, ia bahkan merapalkan mantra pelindung pada perutnya agar Kris dan Luhan tidak merasakan aura janinnya.

"Jadi, kau mau menamainya siapa?" tanya Luhan sambil menatap gemas bayi manis dalam pelukan putra sulungnya.

"Kiella." Ucap Kai dan Sehun secara bersamaan.

"Kiella? Kenapa terdengar mirip dengan Killian?" tanya Lay sambil menatap Killian yang menatap bayi perempuan didepan matanya.

Sehun tersenyum sambil menatap Killian. "Karena itu memang tujuanku, Mother. Killian dan Kiella adalah satu."

Kenangan Killian diusia empat hingga lima tahunnya hanya diisi kebahagiaan. Kedua kakek dan neneknya begitu hangat padanya walaupun Kris dan Suho tidak selalu ada karena keduanya sibuk, keduanya Pamannya –Kai dan Sehun yang juga menyayanginya serta sepupu kecilnya yang lucu dan Ayahnya –sosok yang paling ia sayangi yang selalu ada disampingnya mengajarinya banyak hal.

Sore itu JR dan Killian tengah berlatih di halaman belakang rumah besar Clan Kim ketika Sehun memanggil JR.

"Minhyun akan kembali malam ini." ujar Sehun dengan pelan pada JR. Hubungan keduanya sudah membaik dan tidak seburuk ketika mereka di sekolah dulu, mungkin efek Sehun sekarang sudah menjadi seorang Ibu.

JR langsung menghela nafas kasar mendengarnya. Ia lalu menatap Killian. "Mandilah."

.

Tangan kiri Killian menarik-narik ujung bajunya sedangkan tangan kanannya digandeng oleh sang Ayah. Jantung Killian berdebar kencang karena gugup, ia akan melihat wajah Ibunya untuk pertamakalinya. Killian bahkan mandi lebih lama dan berpakaian lebih rapih untuk bertemu Ibunya.

"Killian."

"Ya, Dad?"

JR menatap putranya. "Jangan berharap tinggi padanya."

Killian tidak mengerti akan ucapan ayahnya, ia ingin bertanya apa maksudnya namun tangan sang ayah sudah lebih dulu membuka pintu rumah besar clan Blackthorn dan disana berdirilah Minhyun Blackthorn yang terkejut bukan main melihat JR.

Killian terpana melihat wajah manis sosok tersebut. 'Jadi, diakah yang telah melahirkan aku?'

Tanpa memikirkan apapun Killian langsung melepaskan tangannya dari sang Ayah dan berlari memeluk Minhyun.

Tubuh Minhyun kaku begitu ada anak kecil yang baru pertama ia lihat memeluknya. Ia tidak melihat wajah anak kecil itu karena ia terlalu terkejut melihat JR.

Killian menghirup tubuh wangi Minhyun, senyum tercetak jelas pada bibirnya.

"Siapa kau?" tanya Minhyun.

Killian sedikit melonggarkan pelukannya pada pinggang Ibunya dan mendongak untuk menatap wajah Ibunya. "Mommy."

Nafas Minhyun tercekat melihat wajah serta mata heterochromia Killian. Mata beda warna serta wajah didepannya ini adalah mata dan wajah yang sama dengan bayi yang ia tinggalkan di rumah kecil lima tahun yang lalu. Bayi yang ia sebut Monster.

'Tidak mungkin, dia harusnya sudah mati. Monster penghancur hidupku ini harusnya sudah musnah sejak lima tahun yang lalu menjadi seenggok daging tak bernyawa bukan malah ada di Atlantis dan didepan mataku.'

Rasa benci, marah dan jijik langsung menyelimuti Minhyun dan dengan gerakan cepat ia langsung mendorong Killian dengan keras hingga bocah tampan itu terdorong kebelakang dan jatuh diatas meja yang terbuat dari kaca.

Prang.

Puluhan pecahan kaca itu langsung menusuk kulit Killian, rasa sakit langsung mendera tubuh dan hatinya hingga kegelapan menyelimutinya.

Melihat kejadian didepan matanya itu JR langsung melesat dan menolong putranya itu dan kemarahan langsung menyelimutinya ketika Killian sudah tak sadarkan diri dengan tubuh penuh darah bahkan pecahan kaca itu menusuk kepala Killian.

"Killian!" Sehun –yang baru datang langsung mendekati JR dan Killian.

"Obati dia." Ucap JR dengan dingin.

Sehun mengangguk dan dengan segera menggendong Killian dengan hati-hati. Bibirnya merapalkan mantra penyembuh untuk keponakannya itu, tangan Sehunpun tidak tinggal diam. Ia menarik pecahan kaca dari tubuh Killian dengan amat pelan dan berhati-hati.

JR berdiri dan menatap dingin Minhyun yang juga menatapnya dengan matanya yang sudah berubah warna menjadi sea blue.

"Dia adalah harta karun dalam hidupku."

"Dan dia adalah Monster yang hadir dalam hidupku."

Dengan segera bungsu Clan Kim itu merubah wujudnya menjadi serigala dan menyerang Minhyun yang juga membuang mantra padanya.

Perkelahian mereka tidak sama dengan perkelahian mereka ketika di sekolah dulu. Keduanya sekarang sama-sama lebih kuat.

Sehun sendiri yang melihat itu ingin menghentikan aksi keduanya namun luka ditubuh Killian belum sepenuhnya tertutup.

Tubuh Serigala JR kini sudah berada diatas tubuh Minhyun, tangan Minhyun bergerak-gerak liar dan mencakar-cakar tubuh serigala JR, bukan hanya cakaran biasa tapi tangannya itu juga memiliki mantra hingga membuat tubuh serigala JR berdarah walaupun tidak dalam.

JR kini merubah dirinya menjadi manusia dan mencengkeram kedua tangan Minhyun dengan erat namun tangan Minhyun mengeluarkan api sihir. JR dengan segera melepaskan cengkeramannya, ketika tangannya sudah bebas Minhyun langsung meloloskan diri dari kukungan tubuh JR.

Tangan Minhyun mengeluarkan percikan berwarna merah dan siap melemparkannya pada JR namun matanya menatap Killian yang masih berada dipelukan kakaknya dan tanpa pikir panjang Minhyun langsung melemparkan sihir itu pada tubuh Killian yang masih tak sadarkan diri.

"Ohk Ohk." Dalam ketidak sadarannya Killian terbatuk-batuk dengan kencang hingga mulutnya mengeluarkan darah.

"Minhyun!" Sehun berteriak penuh amarah pada adiknya ia menatap tidak percaya apa yang adiknya lakukan pada darah dagingnya sendiri itu. Sehun dengan segera merapalkan mantra dengan ekstra namun Killian terus saja batuk darah.

Melihat apa yang terjadi pada putranya dengan gerakan cepat JR memukul wajah Minhyun dengan keras.

Bugh!

Minhyun langsung terhuyung kebelakang dan belum sempat ia membalas JR sudah lebih dulu mencengkeram kepala Minhyun dan memukulkan kepala Minhyun ke tembok dengan keras.

"JR! Minhyun!"

Minhyun samar-samar melihat Ayahnya, Suho dan Kai menahan tubuh JR agar tidak menyerangnya lagi dan ia melihat Ibunya menatapnya panic setelah itu kegelapan menyelimuti dunianya.

.

.

TBC

07 April 2018