MONSTER

by

Achan Jeevas

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Chapter 10

.

.

.

.

.

.

.

.

Leeteuk menggenggam tangan kiri Minhyun dan memandangi garis tangan itu. Hari ini terhitung tiga hari setelah Minhyun melihat kehidupan Killian dan sudah tiga hari pula wajahnya begitu pucat, mengapa demikian? Karena pasangan hidupnya berada diambang hidup dan mati.

"Professor."

"Yah?"

"Apa aku dan JR adalah belahan jiwa?"

Guru yang mendapatkan julukan malaikat tanpa sayap itu memandang wajah Minhyun cukup lama. "Aku bukan Oracle yang ucapannya selalu benar, Minhyun."

"Professor." Nada suara Minhyun kini mendesak guru yang cukup dekat dengannya itu.

"Ya, Minhyun. Iyah. Kau dan JR adalah belahan jiwa, kalian diciptakan untuk satu sama lain."

Minhyun menundukkan kepalanya.

Leeteuk melepaskan genggaman tangannya pada tangan Minhyun, ia lalu membawa Minhyun dalam pelukannya. "Kau tahu jika manusia serigala terutama seorang Alpha dan Omega bisa mengetahui mate mereka ketika usia mereka sudah 17th."

"Ya, Aku tahu."

"Tapi kau tidak tahu jika sebenarnya JR sadar bahwa kau adalah matenya."

Minhyun membenamkan wajahnya pada pelukan Leeteuk lebih dalam. "Lalu, kenapa dia tidak mengatakannya padaku? Kenapa?"

"Dan berakhir dengan kau yang menolaknya secara terus terang." Leeteuk mengelus kepala Minhyun. "Kau tahu seorang Alpha itu memiliki kehormatan yang mereka junjung tinggi, jika mereka mendapatkan penolakan dari submissive maka hancur sudah martabat mereka sebagai seorang Alpha dan itu adalah mimpi buruk bagi para Alpha."

.

.

.

.

Killian mendongak ketika melihat siapa yang datang ke Atlantis Hospital.

"Apa yang bisa diberikan dendam padamu, Killian?" ucap Sehun sambil menatap mata keponakannya. Ia datang bersama putri masa depannya.

Tiga hari yang lalu setelah Minhyun melihat seluruh kehidupan Killian, Kiella langsung ikut Minhyun ke Asrama Siang dan menemui Sehun. Disana Kiella menceritakan semuanya pada Ibunya itu dan meminta bantuan pada Sehun agar mengubah sifat Minhyun, awalnya Sehun menolak. Ia masih tidak percaya pada Kiella namun dari lubuk hatinya yang terdalam, ia tidak mau masa depan yang putri ceritakan padanya menjadi kenyatan.

"Dendam memberiku kepuasan." Jawab Killian sambil membalas tatapan Sehun.

"Kepuasan menyiksa Minhyun dan dirimu sendiri, maksudmu?" tangan Sehun terulur untuk menepuk kepala Killian. "Berhentilah, Killian. Hentikan semua ini sebelum Dendam menghancurkan seluruh hidupmu."

.

.

.

.

.

.

.

"Minhyun, apa kau yakin?"

"Aku harus melakukan ini, Professor."

Leeteuk menghela nafas lalu mengangguk. Ia merapalkan mantra pembuka segel pelindung Atlantis. "Waktumu 12 Jam untuk kembali lagi ke Atlantis, mengerti?"

Minhyun mengangguk. "Terimakasih, Professor. Aku berhutang banyak pada anda."

Leeteuk menggeleng lalu mengelus pipi chuby Minhyun. "Cepatlah pergi agar kau bisa kembali dengan cepat."

Setelah berpamitan pada guru ramalannya, Minhyun dengan segera menaiki perahu kecil yang sudah ia siapkan untuk membawanya ke Pulau para Sirens di Laut Merah. Yah, Minhyun akan ke Laut Merah untuk meminta air mata dan sisik mereka karena hanya dua hal itulah yang bisa membangunkan JR.

.

.

.

.

.

.

.

"Semua ini salah Minhyun Blackthorn kan, Uncle Kai?" Walaupun berbicara dengan Pamannya namun mata Killian tidak lepas dari wajah Ayahnya yang masih tak sadarkan diri. "Harusnya dia yang berbaring di ranjang rumah sakit bukan Daddy."

Kai tidak mengatakan apa-apa, ia hanya menatap prihatin keponakannya.

Killian mengepalkan tangannya dengan kencang hingga bulu tangannya memutih. "Lihat sekarang, setelah dia melihat masa depan, dia tidak datang lagi kemari. Dia tidak akan berubah. Masa depan tidak akan berubah. Minhyun Blackthorn tetap akan menjadi Minhyun Blackthorn yang selalu menyiksaku dan memanggilku Monster. Maka biarkanlah aku menjadi Monster seperti yang ia inginkan."

"Aku pikir setelah berbicara dengan Sehun maka dendammu sudah menghilang, Killian. Tapi ternyata tidak yah."

"Unc–"

"Jangan membuang-buang waktumu untuk melakukan balas dendam, Killian. Biarkan Karma yang menghancurkannya."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Minhyun Blackthorn, aku menantikan saat dimana kita berjumpa."

Minhyun menatap kelima Sirens didepannya dengan ekspresi tenang. "Sepertinya kalian sudah tahu tentang Killian bukan?"

"Tentu saja, kami tahu semua hal didunia ini. Masa depan dan masa lalu adalah sahabat dekat kami." Kata Sirens yang sama dengan yang telah memberikan cincin pada Killian.

"Berarti kalian tahu tujuanku kemari?"

"Kami tahu, tapi kami ingin mendengarnya sendiri darimu." Kelima Sirens itu tersenyum licik pada Minhyun.

"Kim JR. Dia terbaring koma karena pedang Killian –yang ia dapatkan dari kalian dan itu semua karena aku, jadi aku mohon berikan aku air mata dan sisik kalian."

"Hanya karena itu saja, Minhyun Blackthorn?" Sirens dengan mata berwarna sea green.

Minhyun berlutut didepan para Sirens cantik didepannya. "Ini salahku, semuanya karenaku. Aku mohon bantu aku untuk menghapus kesalahan-kesalahan yang akan aku lakukan di masa depan."

"Untuk apa kami membantumu, Minhyun Blackthorn?"

"Karena aku ingin mengubah masa depan itu."

"Kenapa?"

"Karena mereka berdua adalah bagian dari hidupku. JR adalah belahan jiwaku dan Killian adalah putraku." Minhyun menatap penuh permohonan pada para Sirens.

"Apa yang bisa kau berikan pada kami?"

Minhyun sudah tahu jika kalimat tersebut akan terucap dari bibir para Sirens. "Kuberikan seluruh kekuatanku pada kalian."

Para Sirens itu saling berpandangan. Tidak pernah mereka mendengar kalimat tersebut keluar dari bibir seorang penyihir. Kekuatan adalah sumber kehidupan seorang penyihir, ketika seorang penyihir tidak memiliki kekuatan maka ia layaknya manusia biasa.

"Kami tidak menginginkan itu karena kekuatan kami sendiri sudah cukup. Yang kami inginkan hanyalah kau duduk dan dengarkan nyanyian kami hingga fajar tiba. Apa kau bersedia, Minhyun Blackthorn?"

"Aku bersedia." Dan biarkanlah Minhyun menggila karena suara nyanyian Sirens.

.

.

.

.

.

.

Killian membuka matanya ketika merasakan telinganya sakit dan jantungnya berdegup begitu kencang. Ia pernah merasakan perasaan ini tiga tahun yang lalu ketika usianya 10th, saat ia bertemu para Sirens dan mendengarkan nyanyian mereka.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Minhyun membuka matanya ketika nyanyian para Sirens berhenti, nyanyian yang indah sekaligus mengerikan.

[Coba dengerin lagu My Jolly Sailor Bold –Achan nggak berani denger lagu itu kalau malam coz horor banget rasanya.]

"Sekarang kami tahu dari mana ketangguhan Killian."

"Ia mendapatkannya dari Ayahnya." Kata Minhyun dengan suara yang amat pelan dan serak karena ia terus berteriak-teriak kesetanan hingga fajar menyingsing. "Aku mendengar banyak hal tentang pedang yang telah kalian berikan pada Killian, JR harusnya sudah mati dalam 24 Jam ketika halusinasi penuh kegilaan merasuk pikirannya namun hingga sekarang ia masih hidup walaupun tidak sadarkan diri."

"Yah, betul sekali. Ketangguhan Killian ia dapatkan dari JR dan kau juga Minhyun. Bahkan para Dewa-pun tidak ada yang berani mendengarkan nyanyian kita selama satu malam."

Minhyun tidak membalas ucapan Sirens tersebut. Ia masih mentralkan pikirannya yang menggila, ia sepertinya tidak akan tidur dengan nyanyak selama berbulan-bulan karena nyanyian Sirens itu seperti melekat pada gendang telinganya.

Ketika ia mendengar nyanyian para Sirens, segala memori mengerikan merasuki otaknya, memori tentang kehidupan Killian –putranya yang selalu ia siksa, malam panas yang ia dan JR lakukan di Paris, perkelahiannya dengan JR, semuanya bagaikan penyiksaan tiada henti namun ia tahu, semua ini masih belum seberapa dengan apa yang Killian dan JR rasakan.

"Mendekatlah, kami akan memberikan air mata dan sisik kami."

.

.

.

.

.

"Masa depan akan berubah, bukan?" tanya salah satu Sirens ketika melihat Minhyun sudah pergi dari pulau mereka.

"Sepertinya begitu."

"Berarti kita tidak akan bertemu Killian?"

"Mungkin."

.

.

.

.

.

.

.

.

Minhyun turun dari perahu dan berlari menuju guru ramalannya yang ternyata menunggunya.

"Astaga, Minhyun? Kau tidak apa-apa?" Leeteuk menatap penuh khawatir pada sang ketua asrama siang yang tampak begitu berantakan.

"Aku harus ke Atlantis Hospital segera, Professor."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Minhyun menatap wajah tampan JR yang masih tak sadarkan diri. Tangan Minhyun mengambil sisik Sirens yang bewarna emas dan meletakannya di dahi JR lalu botol kecil berisi air mata Sirens ia buka dan ia minumkan pada JR.

"Bangunlah dan mari kita ubah semuanya bersama."

Setelah itu Minhyun mendudukan dirinya disamping ranjang JR, ia sedikit bingung tidak menemukan Killian ataupun Lay yang biasanya ada disana. Ketua Asrama Siang itu menarik nafas dengan perlahan dan memejamkan matanya untuk mengistirahatkan jiwa dan raganya.

.

.

Sepuluh menit kemudian Minhyun membuka matanya yang sudah berwarna sea blue ketika ia merasakan ada sesuatu yang aneh pada dirinya.

Minhyun langsung berdiri dan menatap tubuh JR yang masih tak sadarkan diri dengan sisik Sirens masih bertengger di dahinya, sisik itu kini bercahaya, sepertinya membutuhkan waktu untuk membangunkan JR dari halusinasi tanpa batasnya.

Nafas Minhyun tiba-tiba saja memburu dan entah kenapa tubuhnya begitu sakit. "Kenapa dengan tubuhku? Apa ini efek dari kelelahan?"

Minhyun mencoba menyembuhkan rasa sakit yang ia rasakan namun rasa sakit itu malah kian menjadi-jadi dan tanpa pikir panjang ia dengan segera keluar dari rumah sakit, membiarkan kakinya menuntunnya entah kemana.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Bugh!

Tubuh Killian tersungkur ke lantai koridor Academy yang jarang di datangi oleh para murid. Ia menatap kosong jari-jari tangannya yang sudah terluka.

"Menjijikan."

"Mati saja kau."

"Bagaimana bisa ada anak sepertimu, keturunan Serigala dan Penyihir. Dunia benar-benar sudah gila."

Para murid dari clan penyihir mencemooh Killian dan kembali merapalkan mantra pada bocah tampan yang baru berusia 13th itu.

Killian sendiri hanya pasrah saja di serang oleh murid-murid didepannya. Dia sudah sering mengalaminya, ia dan Kiella di masa depan memang sering menjadi bahan bully-an anak-anak dan orangtua lain karena bagaimana bisa seorang Serigala dan Penyihir bersatu hingga menghasilkan keduanya.

Brakk!

"ARGH!" Murid-murid dari Clan Penyihir mengerang kesakitan ketika seseorang merapalkan mantra pada mereka.

"Apa-apaan kalian!" Minhyun menatap murka sosok-sosok didepannya. Ia dengan segera berjongkok menolong putranya. "Kau tidak apa-apa?"

Killian menepis tangan Minhyun. "Aku tidak butuh pertolonganmu."

Rasa nyeri menyerang dada Minhyun ketika putranya menolaknya namun ia hanya tersenyum kecut dan kembali berdiri untuk menghadap teman-teman satu asramanya.

"Kenapa kau melindunginya, Minhyun?"

"Dia dari ras serigala."

"Dia monster."

"Dia memiliki dua darah pada tubuhnya. Dia memalukan nama ras penyihir."

"Dia putraku!" Minhyun berteriak pada murid-murid didepannya yang terkejut bukan main. Jangankan mereka bahkan Killian sendiripun begitu terkejut.

Memang tidak ada yang tahu jika Minhyun adalah Ibu Killian karena saat Killian pertamakali muncul di kelas ramalan, ia hanya memanggil JR 'Dad' walaupun di awal Kiella mengatakan bahwa orang tuanya –orang tua mereka adalah Serigala dan Penyihir.

Namun keterkejutan para murid asrama siang hanya sebentar karena selanjutnya mereka merapalkan mantra pada Minhyun karena menganggap Minhyun adalah pengkhianat ras mereka yang mana ras mereka begitu membenci ras serigala.

Minhyun tentu saja melawan serangan mereka namun karena kondisinya yang masih begitu lemah membuatnya terluka parah.

Lalu Killian? Bocah tampan itu hanya diam dan menatap kosong adegan didepannya. Otaknya masih memutar ucapan Minhyun yang menyebutnya putranya. Apa Killian tengah bermimpi?

.

.

Membutuhkan satu jam hingga akhirnya para murid itu menghentikan aksi mereka menyerang Minhyun dan pergi meninggalkan Minhyun yang sudah babak belur di lantai dengan Killian.

"Kenapa?" Killian memandang Minhyun yang sudah babak belur.

Kenapa kau melindungiku? Kenapa kau tidak membiarkanku mati ditangan mereka? Kenapa, Minhyun Blackthorn?

Minhyun tersenyum lemah. Tangannya yang penuh luka menyentuh pipi Killian. "Karena kau adalah putraku."

Setelah itu Minhyun pingsan dan hati Killian berdebar kencang mendengarnya, tanpa ia sadari ia sudah meneteskan air mata.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Minhyun dibawa kerumah sakit dan Killian setiap malam datang dan hanya duduk disampingnya.

"Apa yang bisa diberikan dendam padamu, Killian?"

"Dendam memberiku kepuasan."

"Kepuasan menyiksa Minhyun dan dirimu sendiri, maksudmu?"

"Berhentilah, Killian. Hentikan semua ini sebelum Dendam menghancurkan seluruh hidupmu."

Dan ucapan Sehun memang benar, kini dendam menghancurkan hidupnya. Ia hancur melihat Ayahnya dan sekarang sosok yang sudah melahirkannya kini terbaring tak sadarkan diri.

"Semua ini salah Minhyun Blackthorn kan, Uncle Kai? Harusnya dia yang berbaring di ranjang rumah sakit bukan Daddy."

"Aku pikir setelah berbicara dengan Sehun maka dendammu sudah menghilang, Killian. Tapi ternyata tidak yah."

"Unc–"

"Jangan membuang-buang waktumu untuk melakukan balas dendam, Killian. Biarkan Karma yang menghancurkannya."

Ini memang karma untuk Minhyun namun apakah seperti ini yang Killian inginkan? Anehnya dari lubuk hati terdalam Killian, ia tidak menginginkannya. Ia benci melihat Minhyun Blackthorn dalam kondisi seperti ini.

"Kenapa?"

"Karena kau adalah putraku."

"Maafkan aku... Mom. Maaf."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Dua hari kemudian, JR dan Minhyun masih belum sadarkan diri juga. JR karena membutuhkan penyembuhan yang lama agar benar-benar terbangun dari tidurnya karena pedang milik Killian yang memang luar biasa berbahaya.

Berbeda kasus dengan Minhyun yang mana sosok manis itu benar-benar memiliki nol energy dalam tubuhnya, bayangkan saja bila jadi Minhyun, satu malam ia harus mendengarkan nyanyian Sirens yang mana membawa halusinasi kengerian pada dirinya lalu paginya ia mendayung perahunya agar kembali ke Atlantis, ia hanya tidur sepuluh menit dan langsung menyelamatkan putranya dari siksaan murid-murid asrama siang. Murid-murid tersebut sudah dikeluarkan dari Atlantis setelah Killian mengadukannya pada Sehun.

.

.

.

.

.

.

.

Killian membuka pintu kamar rumah sakit Minhyun setelah seharian berada dikamar inap Ayahnya. Kedua bola matanya yang berbeda warna melebar ketika melihat ranjang rumah sakit yang kosong dengan jendela terbuka lebar.

"UNCLE!"

Kai, Sehun dan Kiella langsung berlari ketika mendengar suara teriakan Killian.

"Killian, ada ap–" Kiella tidak melanjutkan ucapannya ketika melihat kekosongan kamar. Minhyun tidak ada di atas ranjangnya. "Uncle Minhyun kemana?"

Kai memejamkan matanya dan berkonsentrasi pada sekitarnya. "Aku mencium bau vampire tapi anehnya tidak seperti vampire biasa."

"Tidak salah lagi. Pasti ulah Kwon Hyunbin." Ujar Sehun.

"Kwon Hyunbin? Siapa dia, Mom?"

"Kwon Hyunbin adalah vampire namun Ayahnya adalah Roh laut. Sejak dulu dia memang menyukai Minhyun."

"Kita harus menemukan Minhyun segera."

"Tapi dimana?"

"Sebuah pulau di Segitiga Bermuda. Tempat para roh laut berada."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

21 April 18