MONSTER
by
Achan Jeevas
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Chapter 11
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Aku ingin ikut." Kiella berteriak pada kedua orangtuanya serta sepupunya yang sudah ada di atas Yacht yang begitu mewah.
Sehun mendesah melihat putrinya yang cantik itu. "Kiella sudah kami katakan kau tidak boleh ikut. Tunggu saja disini."
"Aku tidak mau! Bagaimana bisa Killian ikut sedangkan aku tidak? Lagipula bagaimana caranya kalian keluar dari pulau Atlantis yang memiliki mantra pelindung ini? Dengan menyogok Penjaga Perbatasan?"
"Kita memiliki Sehun Blackthorn disini. Dia pasti tahu sihir hitam untuk membuka segel pelindung Atlantis." Ujar Kai sambil menunjuk Sehun.
Sehun menatap tajam Kai namun kembali menatap putrinya yang berada dibawah.
"Itu membutuhkan kekuatan yang besar." Leeteuk serta Jaejoong tiba-tiba saja sudah ada disamping Kiella. "Kami bisa membantu kalian keluar dari Pulau ini."
"Professor, bagaimana kalian–" Kai dan Sehun memandang kedua guru mereka dengan bingung.
"Little Princess yang memberitahu kita." Kini muncul Seongwoo, Daniel dan Ren.
"Kalian."
"Biarkan kami ikut kalian ke Pulau itu."
Mantan ketua asrama siang dan malam saling berpandangan sebentar, kalaupun mereka menolak juga tidak mungkin karena bagaimanapun mereka tahu mereka membutuhkan bala bantuan.
"Baiklah, kalian boleh ikut. Kau juga Kiella. Professor mohon bantuan anda berdua." Setelah Sehun mengatakan itu Seongwoo, Daniel, Ren dan Kiella naik ke yacht yang mewah tersebut sedangkan Leeteuk merapalkan mantra pembuka segel pulau Atlantis.
"Berikan kami tanda jika kalian sudah kembali, mengerti?"
"Pasti, Professor. Terimakasih atas bantuan anda berdua."
Maka berlayarlah yacht tersebut menuju pulau para Roh yang letaknya ada di Segitiga Bermuda.
.
.
Kiella memeluk tubuh Killian dari belakang ketika merasakan aura sepupunya itu begitu murung.
"Killian."
"Ini semua salahku, Kiella."
"Tidak, Killian. Tolong jangan salahkan dirimu."
"Aku menyesal, Kiella." Killian memutar tubuhnya hingga ia berhadap-hadapan dengan sepupu cantiknya. "Berjanjilah kau akan tetap disampingku, Kiella?"
Kiella tersenyum manis. "Itulah mengapa aku hidup, Killian. Aku hidup karena aku akan terus berada disampingmu."
.
.
Sehun menatap keempat sosok didepannya. "Hyunbin adalah salah satu vampire terkuat yang pernah aku temui. Apalagi sekarang kita akan ke pulaunya yang mana membuat kekuatannya jauh diatas kita. Jadi kita harus memiliki rencana yang matang untuk menyelamatkan Minhyun."
Saat ini mereka berlima sedang mendiskusikan bagimana caranya menyelamatkan Minhyun.
"Kita usahakan untuk kesana ketika malam hari dan sebisa mungkin tidak memancing keributan."
Kai memutar matanya. "Tidak seru sekali. Mengapa kita tidak menyerang saja."
Sehun menatap tajam putra bungsu Suho itu. "Pulau ini adalah tempat para roh laut berada, apa kau masih tidak mengerti juga dengan kalimat itu, Alpha Kai? Roh laut yang mana laut adalah sumber kekuatan mereka dan kita disekelilingi oleh Laut."
Kai sudah membuka mulutnya untuk membalas ucapan Sehun namun Seongwoo segera menyelanya.
"Bisa kalian hentikan pertengkaran tidak bermutu kalian itu, Dua Senior yang Terhormat. Jangan buang-buang waktu kita yang sedikit ini dengan pertengkaran kalian."
Kai dan Sehun langsung membuang muka satu sama lain.
"Aku memiliki rencana dan lebih baik masing-masing dari kita juga memiliki rencana."
"Dan apa rencanamu, Seongwoo?" tanya Ren. Walaupun ia membenci ras serigala namun sahabatnya lebih penting dari rasa bencinya pada manusia serigala.
"Daniel adalah vampire dan dia dulu berteman dekat dengan Hyunbin jadi biarkan dia mengalihkan perhatian Hyunbin selagi kita menyelamatkan Minhyun tapi Ren, aku ingin kau tetap ada di sini bersama dengan anak-anak."
Semua orang mengangguk mengerti mendengar rencana Seongwoo. Seongwoo memang terkadang suka bersikap menyeleneh namun bila sedang mode serius maka semua orang akan mendengarkan rencananya.
Dan hubungan Seongwoo dengen Minhyun itu sebenarnya Seongwoo tidak pernah memiliki perasaan lebih pada Minhyun. Untuk apa ia memiliki perasaan berlebih pada Minhyun kalau ia sendiri sudah memiliki Daniel sebagai matenya
Namun bukan hanya rencana Seongwoo saja, masing-masing dari mereka mengutarakan rencana mereka sendiri, mereka tentu harus memiliki banyak rencana untuk menyelamatkan bungsu Clan Blackthorn itu.
.
.
Sehun yang tengah memandangi bintang-bintang yang ada di langit kini menengok ke kanan ketika merasakan aura yang ia kenal betul milik siapa.
"Ada apa, Alpha Kai?"
Kai memposisikan dirinya berdiri disamping Sehun bahkan jarak berdiri mereka begitu dekat namun anehnya Sehun tidak mempermasalahkannya. "Aku tahu kau mengkhawatirkan adikmu."
"Seorang kakak mana yang tidak khawatir ketika adiknya diculik dalam kondisi lemah?"
Putra sulung Suho itu mengedikan bahunya. "Well, jika JR yang diculik dalam kondisi lemah aku tidak khawatir sama sekali karena orang bodoh mana yang mau menculik Alpha kuat seperti adikku itu."
.
.
"Hyunbin, kau sinting! Lepaskan aku!" Minhyun mencoba melepaskan tali-tali yang membelenggu kedua tangan dan kakinya. Ia menatap penuh benci pada sosok yang lebih muda darinya itu.
Bukannya takut Hyunbin malah tertawa bahagia. Tangannya terulur untuk mengelus rambut Minhyun. "Ah, aku selalu suka dengan mata sea bluemu itu, Minhyun."
Minhyun menjauhkan kepalanya dari tangan Hyunbin dan mencoba untuk menjauh dari Hyunbin namun sayangnya tubuhnya benar-benar terbelenggu. "Hyunbin sudah ku katakan aku tidak pernah memiliki perasaan lebih padamu selain seorang kakak pada adiknya."
"Dan aku sudah mengatakan padamu sejak dulu kalau suatu hari nanti kau akan menjadi milikku dan inilah saatnya."
Hyunbin lalu melepaskan bajunya dengan kasar dan siap untuk menyentuh Minhyun, sayangnya salah satu prajuritnya menghentikan aksinya tersebut.
"Tuan Kwon, Ada Tuan Daniel di luar. Dia bilang ingin membicarakan tentang Ibu anda."
"Daniel, Kang Daniel maksudmu?"
"Iya, Tuan."
Hyunbin kesal ketika aksinya untuk menyentuh Minhyun terhenti namun ia mengangguk dan keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Minhyun yang bergetar ketakutan sambil memeluk tubuhnya sendiri.
"JR, Selamatkan aku. JR." Gumam Minhyun.
.
.
"Daniel-hyung?"
Daniel tersenyum lebar melihat Hyunbin dan tanpa kata langsung memeluk sosok tampan tersebut. "Hyunbin, aku merindukanmu. Kau sekarang sudah sangat tinggi yah."
Wajah Hyunbin sedikit bersemu melihat senyum manis Daniel namun ia dengan segera menkonsentrasikan pikirannya. "Bagaimana Hyung bisa ada disini? Harusnya Hyung tidak bisa keluar dari Atlantis."
Vampire dengan gigi kelinci itu menghembuskan nafas. "Aku keluar dari Atlantis. Disana membosankan dan aku ingat kau memiliki Pulau di Segitiga Bermuda jadi aku kemari. Bolehkah aku tinggal disini untuk sementara waktu, Hyunbin?"
"Tentu saja boleh, Hyung. Hyung kan sudah aku anggap sebagai Kakak sendiri." Karena memang sebelum Hyunbin tinggal di Pulau ini dia dulu tinggal di Atlantis dan berteman dekat dengan Daniel. "Tapi kata salah satu prajuritku, Hyung tadi ingin membicarakan tentang Ibu?"
"Oh, iya. Aku juga kesini karena ingin bertemu dengan Bibi, bagaimana kabar Bibi?"
Dan yah percakapan mereka terus mengalir begitu saja.
.
.
Seongwoo menjatuhkan salah satu penjaga pintu ruang dimana Minhyun disekap dan tanpa banyak kata ia, Kai dan Sehun membuka pintu.
Sehun dengan segara berlari mendekati adiknya yang terbelenggu tali sihir. "Minhyun."
"Kakak."
"Aku disini, Minhyun. Kau sudah aman." Sehun mencium dahi Minhyun yang penuh keringat karena tidak ada jendela sama sekali dalam ruangan tersebut. Sehun berdiri dan siap merapalkan mantra penghancur tali tersebut –Minhyun tidak bisa melakukannya karena tangannya terikat dan penyihir membutuhkan tangan mereka untuk merapalkan sihir.
Brakk!
Kai, Sehun, Seongwoo dan Baekho langsung membalikan badan mereka ketika pintu terbuka dengan begitu kencang, bukan pintu sebenarnya tapi tembok. Sehingga membuat tembok itu hancur dan mata mereka melotot dengan kaget melihat Hyunbin yang menatap mereka dengan senyum licik.
Bukan Hyunbin yang menjadi fokus utama mereka melainkan Daniel, Ren, Kiella dan Killian yang disekap oleh prajurit-prajurit Hyunbin.
"Well well well, kalian pikir aku begitu bodoh hingga tidak mengetahui rencana sampah kalian?" Hyunbin menatap rendah sosok-sosok didepannya. "Aku sudah tahu dari awal jika kalian akan datang untuk menyelamatkan Minhyun."
"Bajingan kau!" Sehun berteriak penuh amarah apalagi melihat sudut bibir putrinya terluka.
"Bunuh mereka semua." Perintah Hyunbin pada puluhan prajuritnya dan dengan segera terjadilah pertempuran diantara mereka.
Killian menginjak kaki prajurit yang menahannya dan dengan segera ikut dalam pertempuran begitu juga dengan Daniel, Ren dan Kiella.
Ketika melawan para prajurit Hyunbin entah kenapa Killian begitu senang, ia sudah lama tidak bertarung lagi –terakhir sebelum Ayahnya koma.
Awalnya ia begitu marah ketika Sehun mengatakan bahwa ia dan Kiella harus tetap berada di yacht bersama Ren namun ketika setengah jam Sehun dan yang lainnya turun para prajurit Hyunbin menyerang yacht mereka dan membawa mereka ke Mansion utama pulau tersebut.
Dengan bringas ia menusukan pedang miliknya yang ia dapatkan dari para Sirens di Laut Merah dan bisa kalian bayangkan musuh-musuh yang ia tusuk dengan pedang tersebut berteriak histeris seakan melihat sesuatu yang paling mengerikan.
Pedang milik Killian memang tidak untuk membunuh tapi untuk memberikan orang yang tertusuk atau terkena bilanya mengalami halusinasi penuh kegilaan.
"Sialan, kenapa mereka sangat sulit dibunuh!" umpat Ren.
"Kekuatan mereka adalah Laut dan kita disekelilingi oleh Laut." Ujar Sehun namun masih melemparkan mantra pada para prajurit tersebut.
"Untuk kali ini kau salah, Sehun. Kita harus membunuh Hyunbin. Jika Hyunbin mati maka pulau ini beserta isinya akan hancur!"
"Bagaimana kau tahu, Kai?"
"Semalam Daniel mengatakannya padaku." Kata Kai.
"Daniel jelaskan lebih lengkap!" perintah Sehun.
"Disaat seperti ini?" tanya Daniel sambil menendang prajurit didepannya.
"Jelaskan, Sekarang!"
"Ok! Tidak usah berteriak!"
"Kau juga berteriak bodoh."
"Hey, jangan mengatai pacarku bodoh. Cukup aku saja!"
Daniel menatap tidak percaya ucapan kekasihnya. "Bajingan kau, Ong Seongwoo! Tidak ada pelukan dan ciuman untukmu selama seminggu ini!"
"APA!"
"DANIEL!" Teriak Sehun tanpa mempedulikan Seongwoo sama sekali.
"Ok, Akan aku jelaskan! Ayah Hyunbin adalah Raja Roh Laut dan Pulau ini adalah tempat para roh laut berada. Sebagai anaknya maka roh Ayah Hyunbin masuk kedalam tubuh Hyunbin. Jadi jika kalian membunuh Hyunbin maka kalian juga membunuh Ayahnya dan bila sang Raja mati maka pulau ini juga akan mati." Jelas Daniel dengan nafas terengah-engah karena ia sendiri juga melawan para prajurit tersebut.
"Tidak akan mudah untuk membunuhnya karena kekuatan roh laut itu berasal dari laut dan kita sekarang disekelilingi laut. Dia terlalu kuat untuk kita." Ujar Kiella sambil melemparkan beberapa mantra kutukan pada prajurit-prajurit tersebut.
Hyunbin yang memang masih ada di sana hanya menatap rendah sosok-sosok tersebut dan tanpa mempedulikan mereka, ia berjalan mendekati tubuh Minhyun yang masih mencoba melepaskan tali yang membelenggu tubuhnya.
"Hyunbin, kumohon jangan sakiti mereka." Minhyun memohon pada sosok yang lebih muda darinya itu.
Tangan Hyunbin terulur untuk menyentuh Minhyun –tanpa mempedulikan kekacauan yang ada di sekelilingnya, ia akan membawa Minhyun keluar dari sini dan menjadikan Minhyun sebagai miliknya. Hanya miliknya.
Namun sebelum tangannya bisa menyentuh Minhyun ada sebuah tangan lain yang mecengkeramnya.
Hyunbin langsung menengok ke pemilik tangan yang menghalanginya itu dan betapa terkejutnya ia melihat bungsu Clan Kim ada didepan matanya.
"Kau–"
"Dia milikku." Ujar JR dan dengan gerakan cepat ia memukul wajah Hyunbin dengan begitu keras.
Hyunbin tersungkur ke lantai mendapatkan serangan yang tidak ia duga sama sekali itu. Pukulan JR begitu keras hingga membuat beberapa giginya patah. Hyunbin meludah pada lantai dan siap memberikan serangan balasan pada JR.
Tahu jika Hyunbin akan memberikan serangan balasan, JR dengan segera mengunci pergerakan tubuh Hyunbin.
"Pergilah ke Neraka." Kata sang Alpha dengan dingin bersama dengan tangannya yang menusuk jantung Hyunbin dengan sebuah belati.
Hanya membutuhkan beberapa detik setelah belati itu menusuk jantung Hyunbin dan membuatnya menghilang bersamaan dengan seluruh prajuritnya.
JR menatap Minhyun yang juga menatapnya dan tanpa mengucapkan apapun JR melepaskan ikatan Minhyun –Hyunbin telah mati sehingga sihir pada tali tersebut sudah tidak ada lagi- setelah ikatannya terlepas Minhyun dengan segera memeluk JR.
"JR JR JR."
Sang Alpha dengan segera membalas pelukan Minhyun, ia bahkan menciumi leher Minhyun. "Aku disini, Minhyun. Aku disini."
Killian yang melihat pemandangan didepannya tidak kuasa untuk membendung air matanya. Ia menangis, bukan tangisan kesedihan melainkan tangisan kebahagiaan.
JR mengentikan ciumannya pada leher Minhyun, ia lalu menatap putra sematawayangnya. Tangannya terulur, seakan menyuruh Killian untuk mendekat. Tahu akan maksud Ayahnya dengan segera Killian mendekat.
Minhyun melepaskan pelukannya pada JR ketika merasakan aura Killian. Minhyun dengan segera membawa Killian dalam pelukannya.
"Putraku, kau Putraku. Maafkan aku telah membuatmu menderita, Killian." Minhyun mencium dahi Killian cukup lama. "Aku berjanji tidak akan pernah melakukan seperti yang ada di masa depan yang kau miliki. Aku tidak akan seperti itu. Semuanya akan berubah."
Killian membalas pelukan Minhyun dengan sama eratnya. Tangisan Killian semakin kencang, ini adalah kali pertama ia memeluk sosok yang sudah melahirkannya.
"Terimakasih telah hadir di hidupku, Killian. Dan terimakasih Kiella." Minhyun memberikan senyum manisnya pada keponakan cantiknya.
Kiella yang juga sudah meneteskan air matanya, hanya mengangguk kecil. Sehun yang meliat putri masa depannya seperti itu langsung mengelus kepala Kiella dengan lembut. "Mommy bangga padamu."
Sayangnya moment kebahagiaan keluarga kecil itu terusik ketika pulau para roh itu berguncang.
"Pulau ini akan hancur, kita harus segera pergi dari sini."
.
"Jadi, kau kemari dengan Ace?" tanya Kai pada adiknya yang tengah memandangi Killian yang masih berada dalam pelukan Minhyun. Minhyun kini tidak mau melepaskan Killian barang sebentarpun dan bungsu keluarga Blackthorn itu selalu berucap maaf pada Killian yang mana Killian sendiri sudah memaafkan Minhyun.
"Begitulah. Ketika aku terbangun aku tahu ada sesuatu yang tidak beres, jadi aku langsung menemui Professor Leeteuk, dia bilang kalian sedang ada di Segitiga Bermuda jadi aku dengan segera memanggil Ace." Jelas JR.
Seongwoo mendekati kedua Alpha bersaudara itu.
"Tapi bagaimana bisa kau bangun, JR? Kata Kai-hyung bahkan beberapa hari yang lalu team Healer masih belum bisa menemukan air mata dan sisik Sirens untuk membangunkanmu." Seongwoo menatap bingung sang ketua asramanya.
JR tersenyum kecil dan memandang Minhyun yang juga ternyata tengah menatapnya. "Seseorang mendapatkan dua penawar itu dan memintaku untuk bangun agar mengubah masa depan bersama."
Kai dan Seongwoo saling berpandangan.
"Siapa dia?"
"Belahan jiwaku."
.
.
Tanpa terasa malam telah datang dan sosok-sosok rupawan yang ada di Yacht telah menyelesaikan makan malam mereka. Perjalanan ke Atlantis memang membutuhkan satu malam.
"Semuanya, aku pikir ini saatnya aku dan Killian kembali." Ucapan gadis kecil berusia sepuluh tahun sukses membuat semuanya menghentikan aktivitas mereka.
Minhyun yang memang berada disamping Killian kini langsung menggenggam tangan putranya.
"Little Princess, Tidakkah ini terlalu cepat?"
Kiella menggeleng dengan ucapan Ayahnya. "Saat di Atlantis Hospital aku sudah bersumpah, Dad. Aku akan memulangkan kita berdua bila Uncle JR sudah sadar. Aku harus menjalankan sumpah itu."
"Aku mengerti." Ucap Killian.
"Ti-tidakkah menunggu besok pagi? Atau minggu depan?" Minhyun menatap keponakannya penuh harap.
"Maafkan aku, Uncle. Tapi harus sekarang."
Killian menatap Minhyun. "Tidak apa-apa, Mom." Tangannya mengelus perut Minhyun. "Beberapa bulan lagi kau juga akan melihatku lagi."
Minhyun mengusap matanya yang sudah meneteskan air mata. "Maafkan atas sikapku selama ini, terimakasih telah datang pada masa ini dan memberikanku kesempatan kedua untuk mengubah semuanya."
JR mengacak rambut hitam Killian. Senyum bangga terukir pada bibirnya. "Daddy juga minta maaf karena tidak pernah ada disampingmu ketika kau mengalami hal yang sulit."
Killian memeluk kedua sosok didepannya. "Terimakasih telah menjadi orangtuaku."
"Kita yang harusnya berterimakasih telah di anugrahkan seorang putra yang begitu rupawan dan tangguh sepertimu, Killian."
Killian dan Kiella memeluk satu persatu sosok-sosok didepan mereka, sebenarnya mereka juga ingin lebih lama berada disini namun sebuah sumpah yang dilanggar akan menimbulkan malapetaka yang besar.
"Terimakasih, Semuanya."
Dan dengan itu Kiella merapalkan mantra hingga sebuah cahaya menyinari keduanya dan menghilang.
"Jadi, Sehun."
"Apa?" Sehun menjawab dengan setengah hati.
Kai mendekatkan tubuhnya lalu berbisik ditelinga si pemuda berkulit putih itu. "Kapan kita mau membuat Kiella?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
THE END
26 April 18
