LU HARUS JADI PACAR GUA!

.

Tokyo Revengers

Ken Wakui

.

.

.

"INUPII... GAMAU TAHU! POKOKNYA LU HARUS JADI PACAR GUA!"

Tolol. Iya, Koko sadar yang ia lakukan tadi tolol luar biasa. Tak luput mempermalukan nama baik keluarga. Dia teriak seolah emang harus diketahui seluruh dunia. Koko mana peduli dengan itu semua, tapi Tatapan ilfeel dari Inupi jauh lebih menyiksa daripada dicaci ribuan manusia. Koko bisa gila.

Apa kata Inupi tercinta jika yang ia lakukan tadi melukai harga dirinya. Haruskah Koko sembah sujud dihapus segala dosanya? Atau harus berjalan di atas bara api dan beling sembari memohon pemakluman padanya?

Dilihat dari manapun juga, Koko sudah salah langkah mendapat hati Inupi tercinta. Mungkinkah dia harus menyerah begitu saja? Haruskah ia?

Mana bisa! Koko udah cinta mati pada Inupi tercinta. Berdiri di tengah lapang sambil menggenjreng gitar bersenandung cinta luar biasa akan ia lakukan jika diminta.

Tapi Jika mintanya sesuatu seperti move on dari inupi tercinta, mungkin tidak bisa. Cintanya Koko kan Inupi tercinta. Kalau begitu saja dilupa, Koko mana bisa baik-baik saja. Yang ada dia makin gila.

"Ko? Lu yakin?" Itu suara Inupi tercinta.

Oh, tenggelam dalam lamunan semata sudah mengisolasi kesadarannya dari dunia. Koko buru-buru mengangguk semangat pada pertanyaan Inupi tercinta. Tersenyum lebar juga terlaksana. "Yakin banget, Sei."

"Hahaha" Tertawa.

Inupi tertawa. Apakah menertawakan Koko yang sedang dilanda kebingungan tiada guna? Atau memang ingin tertawa saja. Yang manapun itu biarkan saja. Yang pasti Inupi terlihat mempesona.

"Kok ketawa?"

Inupi susah-susah menahan tawa. Lantas menatap Koko penuh rasa. Tanpa aba-aba, tangannya mengelus kepala. Kepala Koko lebih tepatnya.

Koko berjingkat tidak menyangka, ingin kayang saja saking bahagianya. Apa ini tanda-tanda Inupi tercinta akan menerima perasaan cintanya? Semoga saja. Mari kita sama-sama mendo'akannya.

"Maaf ya, Ko. Kamu tahu sendiri kalau aku sudah sama Senju"

Koko terjatuh dengan asyiknya. Enggan percaya jika yang dikatakan Inupi itu fakta. Koko sudah mengira, lebih tepatnya sudah menduga, jika dirinya akan diterima menjadi pacarnya. Sekaligus istri—maksudnya, suami pendamping hidupnya. Oh, do'a kita masih belum di dengar oleh yang maha esa.

"Sei, sekarang gua tahu rasanya ditolak" Koko berupaya menahan kakinya untuk tidak jatuh kedua kalinya. Rasanya lemas tanpa tenaga setelah di tolak sang gebetan tercinta.

"Maaf, Ko. Gua beneran gabisa nerima lu"

Koko menggelengkan kepala. "Bukan salah lu, Sei. Tapi..." Ada jeda, sebelum isak tangis terdengar di telinga, "tetep aja... Ueee... Sakit banget lu tolak mentah-mentahh"

Tangisan Koko kian keras tiap detiknya, membuat Inupi di depannya merasa tidak berdaya. Dia tidak tahu apa yang harus di lakukan pada tangisan Koko yang makin nyaring bunyinya. Inupi mempersilahkan kalian menutup telinga jika tidak tahan dengan tangisannya—mirip mandrake, cempreng. Bisa saja mengakibatkan komplikasi telinga.

"Ko... Udahan ya? Jangan nangis! Gua anter pulang aja."

Inupi lantas menyeret Koko ke parkiran sepeda. Sekolah belum sampai pada jam pertama, dan Inupi harus mengantar Koko balik ke rumah. Inupi jadi membolos terpaksa, "Ko, Lu nyusahin banget sih"

"Huaaa!!!"

Ah, harusnya Inupi tidak terang-terangan mengatakan keluhannya. Tangisan Koko jadi makin kencang, Sakit telinga inupi dengernya.

"Iyaa... Aduh, Koo... Suara lu cempreng banget kalo nangis. Mending Lu diem deh"

"Hwaaa... Inupi jahat... Ueeee"

End