Gundam Seed (c) Sunrise
.
.
Kakinya yang melangkah seketika terhenti kala telinganya mendengar suara piano.
Suara piano, yang dimainkan dengan lembut. Suara piano yang amat dia kenali.
Pemuda berhelaian sewarna langit malam itu terdiam, mata emeraldnya menatap pada satu pintu yang tidak tertutup-pintu di mana suara tersebut berasal.
.
"Nicol."
Athrun Zala berujar, membuat Nicol Amalfi-kawan, teman seperjuangannya-yang tengah memainkan Chopin-Preludes, Op.28 : No.15 "Raindrop" (jika Athrun tidak salah ingat) berhenti.
Pemuda yang lebih muda, Nicol, mengalihkan perhatiannya dari piano dihadapannya, pada sosok Athrun yang ada di dekat pintu.
"Halo, Athrun," sapanya. Senyum mengembang di wajah sang Amalfi muda.
.
"Canon in D!" Nicol berseru, ditengah-tengah pembicaraan mereka mengenai hari-hari pertama di ZAFT (yang diisi dengan latihan, latihan, dan latihan).
Jari-jemarinya dengan lihai mulai menekan kembali tuts piano, membuat Athrun termenung-bingung, karena tidak mengerti.
Nicol tertawa kecil. Dia menertawakan Athrun yang tidak mengerti.
"Athrun," panggil Nicol. Tangannya masih memainkan piano, memainkan lagu yang dia hapal di luar kepala. "Saat kau menikah nanti, aku akan mainkan Canon in D dipernikahanmu."
Athrun mengedipkan matanya. Pemuda berusia 15 tahun itu lalu tersenyum tipis, "Tentu."
Tentu, Athrun akan menunggu hari itu.
Hari di mana perang usai, dan Nicol memainkan piano dipernikahannya.
.
-Namun, perang tersebut, merebut nyawanya.
Perang, membuat Nicol Amalfi tewas terbunuh.
.
Pesta pernikahan mereka hanya dihadiri oleh beberapa orang penting dan yang terdekat; beberapa petinggi negara, serta mereka yang berjuang bersama dalam dua Bloody Valentine.
Ia dikelilingin teman-temannya. Ucapan selamat berdatangan; dari Kira (yang juga mengancamnya kalau Athrun membuat Cagalli menangis, pria itu akan menghajarnya habis-habisan), Lacus, kru Archangel, Kisaka, bahkan Yzak.
Dia tertawa. Tersenyum dan mengucapkan terimakasih, lalu,
-suara tuts piano yang ditekan terdengar. Alunan lagu yang familiar ditelinganya membuat Athrun mengalihkan pandangannya pada piano yang ada di ruangan tersebut.
Tidak ada orang di sana, tapi Athrun yakin, telinganya mendengar alunan piano; Canon in D, terdengar di telinga Athrun dengan sangat jelas.
"Athrun?" Cagalli memanggilnya. Membuatnya mengedipkan mata-tersadar dari lamunan, ia mengalihkan perhatiannya kepada perempuan yang ada disampingnya.
Mata emeraldnya dapat melihat ekspresi khawatir diwajah sang perempuan. Tersenyum, dia membuka mulutnya, "Aku baik-baik saja," ujarnya, "Cagalli, mau berdansa denganku?"
Mengenggam tangan Cagalli, Athrun mulai berdansa.
-terima kasih, Nicol.
.
.
*tarik napas*
NICOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOLLLLLLLLL SOBS
jadijadi gegara temen, saya jadi nonton ulang gs/gsd selama libur kuliah-terakhir nonton pas sd gasp www. trus tiba2 kepikiran soal, nicol. huhu ngebayangin nicol main piano kalau athrun niccah, tapi sayangnya ;w;
btw ini yg awal pas mereka baru masuk ZAFT, trus yg akhir timeskip pas udah damai gitu-maafkan juga aku ga begitu ngerti musik klasik jadiiii :"
trus kalau ada yg mau ngomongin gs/gsd (atau asucaga), bisa pspsp twtku shwsawase (AKU BUTUH TEMAN)
terima kasih sudah membaca fic ini,
Kapten Pelangi
