The Forgotten Promise

By KitsuneSan99


Terlihat dua anak kecil yang sedang berlarian di sebuah bukit, mereka berlari kesana kemari dengan senyuman yang senantiasa terbentuk di wajahnya, mereka tidak memperdulikan ucapan dari orang tua mereka yang melarangnya untuk tidak bermain di sekitaran bukit itu.

Setelah mereka merasakan senangnya bermain, kedua anak kecil tersebut beristirahat di bawah sebuah pohon yang cukup besar, hanya ada satu pohon besar di sekitar situ, pohon yang terletak tepat di atas bukit itu seakan memberitahu kepada mereka, jika pohon itu memiliki tempat spesial di situ.

"Tadi itu sangat menyenangkan, bisakah lain kali kita bermain bersama lagi?" Tanya gadis kecil itu.

Gadis kecil cantik dengan rambut putihnya yang indah, rambut putih dengan mata beriris merah memberinya kesan cantik dan imut.

"Boleh, lain kali kita akan bermain bersama." Jawab seorang bocah laki-laki berumur sekitar 5 tahun.

Bocah laki-laki dan gadis itu sering bermain bersama, lebih tepatnya selalu bermain bersama di bukit tersebut, bahkan mereka sudah menemukan tempat terbaik untuk hanya duduk dan bersantai di bukit itu.

Di pohon besar itu, pohon besar yang akan selalu memberikan kenangan manis bagi keduanya, kenangan saat dimana mereka bermain dan bersantai di pohon itu.

Bocah bersurai pirang itu sudah mengerti apa artinya menyukai seseorang, diumurnya yang masih sangat muda untuk dapat memahami artinya.

"Yeay! Apakah kita akan terus bermain bersama? Aku ingin selalu bermain bersama dengan Naru." Gadis putih bertanya kepada bocah laki-laki yang sekarang kita ketahui bernama Naru.

"Tentu saja, kita akan terus bermain bersama." Jawab Naru, Gadis di sampingnya yang mendengar jawaban itu tersenyum.

"Apakah setelah besar nanti Naru tidak malu bermain denganku?" Tanya gadis itu dengan penuh keraguan.

"Untuk apa Naru malu, Naru tidak akan malu meskipun saat sudah besar nanti Alice ingin bermain bersama Naru, karena Naru menyayangi Alice." Jawab Naru disertai dengan senyuman lebar.

Gadis itu menolehkan kepalanya ke samping setelah mendengar jawaban itu, dia sangat senang dan puas mendengar jawaban yang diberikan oleh Naru. Hingga tanpa sadar bibirnya mengulas sebuah senyum manis.

"Benarkah? Apakah Naru benar-benar menyayangi Alice?" Tanya kembali Gadis itu.

Naru yang mendengar pertanyaan itu hanya bisa tersenyum lembut kepada gadis di sampingnya itu, dia sangat menyayangi Alice, bahkan dia akan lebih mengutamakan kebahagiaan Alice daripada dirinya sendiri.

"Naru tidak berbohong, Naru sangat menyayangi Alice, dan akan terus seperti itu."

"Yeay! Kalau seperti itu Alice ingin terus bersama dengan Naru, Alice ingin menjadi istri Naru di masa depan." Putus Alice disertai senyuman manisnya yang ditujukan kepada Naru.

"Benarkah itu Alice? Naru akan sangat senang jika Alice yang menjadi istri Naru di masa depan." Jawab Naru dengan semangatnya, dia sangat senang saat mengetahui salah satu impiannya akan menjadi sebuah kenyataan.

Naru memeluk Alice untuk mengungkapkan rasa senangnya, dia bahkan sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk selalu melindungi dan mengutamakan kebahagiaan Alice, karena baginya kebahagiaan Alice adalah hal terpenting.

Sedangkan Alice yang mendapat perlakuan seperti itu hanya tersenyum dan membalas pelukan yang diberikan oleh Naru.

Naru berharap semoga dia bisa terus bersama Alice dan memberikan yang terbaik hanya untuk Alice-nya.

Kring! Kring! Kring!

Terdengar dering alarm di suatu ruangan, alarm yang terus berdering berusaha untuk membangukan surai pirang yang masih terlelap dalam tidurnya, mungkin pemuda itu sedang bermimpi tentang hal yang indah sehingga dering alarm pun tidak dapat membangunkannya.

Merasa tidurnya terganggu surai pirang menggerakkan salah satu lengannya untuk mencari sumber bunyi yang mengganggu tidurnya, meskipun dengan mata setengah terbuka dia masih dapat mengetahui lokasi alarm miliknya.

Setelah dering alarm berhenti, sosok pirang itu mulai membuka matanya disertai dengan lenguhan khas seseorang yang baru saja terbangun dari tidurnya, sosok pirang itu mendudukkan dirinya ditepi kasur untuk menghilangkan rasa kantuknya.

"Mimpi yang indah." Ucap sosok pirang itu kepada dirinya sendiri dengan suara lirih.

Tok! Tok!

Terdengar beberapa ketukan yang berasal dari luar kamarnya, si pirang yang mendengar hal itu berdiri dan melangkah menuju sumber ketukan yang berada di pintu kamarnya.

Setelah sampai tepat di depan pintu, surai pirang membuka pintu tersebut dan melihat seorang pria dewasa dengan rambut putihnya yang entah kenapa dapat terbentuk seperti itu, rambutnya berdiri melawan gravitasi.

Bahkan surai pirang pun tidak mengetahui kenapa rambutnya dapat terbentuk seperti itu, namun di samping gaya rambutnya yang aneh, pria itu memiliki hati yang baik karena dia mengizinkan dirinya untuk tinggal bersama di apartemennya itu.

Pria itu hanya tinggal berdua dengan surai pirang di apartemen ini, karena dia belum memiliki pendamping hidup diusianya yang sudah menginjak 29 tahun, mungkin itu bukanlah suatu masalah baginya.

"Selamat pagi Kakashi-sensei, bagaimana tidurmu semalam?" Sapa surai pirang kepada pria itu yang diketahui bernama Kakashi.

"Selamat pagi Naruto, bukankah sudah kubilang untuk berhenti memanggilku dengan sebutan sensei saat kita di luar sekolah, dan untuk tidurku semalam, tidak ada yang spesial." Jawab Kakashi.

"Maafkan aku Kakashi-nii, aku sudah terbiasa memanggilmu seperti itu semenjak kau menjadi guru di sekolahku dulu."

Kakashi sudah menganggap Naruto seperti adiknya sendiri, karena dia merupakan satu-satunya orang yang dipercaya oleh orang tua Naruto untuk menjaganya.

Semenjak kedua orang tua Naruto meninggal karena sebuah kecelakaan, Naruto diajak oleh Kakashi untuk tinggal bersamanya di apartemen miliknya itu.

"Tidak apa-apa, sekarang lebih baik kau cepat bersiap untuk berangkat sekolah, dan untuk sarapan aku sudah mempersiapkannya di bawah." Perintah Kakashi kepada Naruto, dia tidak ingin Naruto datang terlambat lagi dengan alasan yang tidak masuk akal

"Baiklah Kakashi-nii."


Naruto POV

Hai, mari kita perkenalan diri terlebih dahulu, Namaku Uzumaki Naruto aku sekarang masih menuntut ilmu di salah satu kampus ternama di Tokyo, aku sangat suka memakan ramen.

Hal yang paling kusukai di dunia ini adalah Ramen dan Alice-chan, karena dia adalah satu-satunya orang yang bisa membuatku merasakan cinta, untuk pertama dan terakhir kalinya, dan dia juga alasanku untuk melanjutkan pendidikanku ke jenjang yang lebih tinggi.

Bahkan aku bertekad untuk memasuki Universitas yang sama dengannya, dan usahaku membuahkan hasil aku berhasil masuk ke Universitas yang sama dengannya walaupun biaya perbulan di sana tergolong mahal dan hanya mereka yang mempunyai uang banyak saja yang dapat masuk ke sana.

Dan beruntungnya aku mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikanku di sini, baiklah cukup dengan perkenalanku, karena sekarang aku sedang berada di depan rumah Alice.

"Lama sekali Alice ini, aku sudah menunggunya hampir setengah jam di sini, dan kurasa akan turun hujan sebentar lagi melihat awan mulai menggelap di atas sana." Ucapku kepada diriku sendiri.

Saat ini aku sedang menunggu Alice di depan rumahnya, beruntungnya aku membawa payung, karena sepertinya hujan akan segera turun.

Aku selalu menghampiri Alice saat akan berangkat menuju kampus karena kita mengambil jurusan yang sama di bidang seni.

Sebenarnya aku memiliki alasan lain untuk berangkat bersama dengannya, aku hanya ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan Alice. Saat aku masih tenggelam dalam pikiranku tiba-tiba terdengar sebuah suara.

"Naruto-kun kalau kamu mau kamu bisa menunggu A-chan didalam, mari masuk sepertinya hujan akan segera turun." Ajak Ibu Alice.

"Baiklah bibi."

'kurasa menunggu di dalam lebih baik daripada harus kehujanan di luar sini.' Aku segera masuk ke dalam rumah Alice setelah mendapat ajakan dari ibunya tadi.

Aku sudah mengenal seluruh anggota keluarga Alice, dan mereka juga sangat baik terhadapku mengingat aku adalah teman masa kecil Alice, jadi aku cukup sering bermain ke rumahnya dulu.

Keluarga Alice pindah ke Tokyo sejak aku berusia 5 tahun karena ayahnya memiliki pekerjaan di Tokyo, dan aku baru bertemu kembali dengan Alice saat aku berusia 20 tahun tepatnya saat aku baru memasuki Universitas itu.

Tempat tinggal Alice berjarak sekitar satu blok dari apartemen yang aku tempati saat ini, karena jarak antar kedua rumah kami berdekatan aku selalu menghampiri Alice saat akan pergi ke Universitas.

Naruto POV End

"Selamat pagi Naru, maaf karena sudah membuatmu menunggu cukup lama." Ucap Alice, sesaat setelah dia melihat Naruto tengah menunggunya di lantai bawah.

"Tidak masalah Alice, jadi apakah kita akan berangkat sekarang?" Tanya Naruto.

"Mari kita berangkat sekarang." Jawab Alice langsung menarik Naruto keluar dari rumahnya.

"T-tunggu Alice, apakah kamu tidak mau meminta izin kepada orang tuamu?" Ucap Naruto setelah dia menghentikan lajunya.

"Baiklah Naru." Jawab Alice.

"Mama kami pergi berangkat dulu." Lanjut Alice meminta izin kepada orang tuanya.

"Baiklah hati-hati di jalan A-chan, dan Naruto-kun tolong jaga dan awasi anak bibi." Ucap Ibu Alice dari depan pintu.

"Aku pasti akan menjaganya bibi, tenang saja aku tidak akan membiarkan Alice lecet sedikitpun." Naruto menjawab disertai senyuman lebarnya.

"Mou~ Naru kau tidak perlu sampai seperti itu." Ucap Alice dengan menggembungkan pipinya.

Mereka berdua berjalan pergi meninggalkan pekarangan rumah keluarga Alice dengan Alice yang masih menggembungkan kedua pipinya, Naruto yang melihat itu hanya bisa tertawa pelan.

'Ibu harap kalian bisa segera bersama, Naruto-kun dan A-chan.' Batin Ibu Alice.

Ibu Alice tahu, jika Naruto menyukai anak perempuannya itu, hal itu didengarnya langsung dari mulut Naruto dan dirinya berharap jika suatu saat Alice akan membalas perasaan Naruto itu.

Di Jalan Menuju Universitas

"Naru"

"Iya Alice, ada apa?"

"Apakah menurutmu aku ini cantik?"

"Tentu saja, kamu adalah wanita tercantik di dunia ini." Jawab Naruto dengan senyuman di wajahnya.

"Kamu tidak perlu memujiku seperti itu Naru, itu terlalu berlebihan." Ucap Alice dengan wajahnya yang cemberut.

"Tidak, itu tidak berlebihan Alice, di mataku kamu adalah wanita tercantik dan terbaik yang pernah aku temui selama ini." Naruto mengatakan hal tersebut disertai dengan senyum lebarnya.

Sedangkan gadis di sampingnya saat ini hanya tertawa pelan, dia sudah tahu kalau Naruto akan memujinya seperti itu, karena setiap harinya Alice akan mendapatkan jawaban yang sama dari Naruto.

Namun, itu tidak masalah karena dia menganggap Naruto hanya sebagai sahabat dan teman masa kecilnya yang berharga, meskipun Alice tidak memiliki ingatan yang jelas tentang masa kecilnya tersebut.

"Alice apakah kamu merasa seperti melupakan sesuatu yang penting dari masa lalu?" Tanya Naruto dengan kepalanya yang ditundukkan memandang lurus ke jalan dibawahnya.

Alice yang mendapati pertanyaan seperti itu merasa bingung dan dia mencoba mengingat ingatnya kembali.

Naruto yang melihat reaksi Alice hanya bisa menunjukkan senyum kecil.

'Mungkin dia sudah melupakan janji itu Naruto, lagipula kejadiannya sudah berlangsung lama sekali, apa yang kau harapkan.' Monolog Naruto kepada dirinya sendiri

Naruto sebenarnya ingin melupakan perasaannya ini, perasaan cintanya kepada Alice yang sudah lama Naruto pendam, namun sepertinya takdir berkata lain, Naruto tidak dapat melupakan perasaannya ini begitu saja.

Hei ayolah! apakah menurutmu semudah itu untuk melupakan perasaan yang sudah tumbuh besar di hatimu saat ini, Tidak!

"Kau tak perlu kebingungan seperti itu Alice, lupakan saja lagipula itu sudah berlalu sangat lama." Ucap Naruto saat dia melihat Alice berpikir dengan begitu keras.

"Maaf Naru, aku tidak dapat mengingatnya, bahkan kenangan yang aku miliki saat masih kecil pun aku tidak dapat mengingatnya dengan jelas." Ucap sendu Alice.

Satu kenyataan pahit kembali menimpa Naruto saat dirinya tahu Alice bahkan sudah tidak mengingat masa lalunya.

'Baiklah Alice, jika kamu tidak bisa mengingatnya, maka aku yang sekarang akan membuatmu merasakan perasaan yang sama seperti yang aku rasakan saat ini.'

Tekad Naruto didalam hati, dia tidak akan semudah itu menyerah untuk mendapatkan cinta dari wanita di sampingnya ini. Kecuali jika Alice benar-benar menolak perasaannya ini.


Sekarang mereka berdua telah sampai di depan halaman kampus mereka, keadaan kampus saat ini tidak seramai seperti biasanya karena tidak banyak orang yang berangkat sepagi ini.

Namun, hal ini dinilai biasa oleh Naruto dan Alice, karena mereka terbiasa berangkat sepagi ini hanya untuk belajar bersama di sebuah perpustakaan di sana.

"Apakah kamu ingin menitip minuman Alice? Aku akan membeli minuman di mesin minuman sebelah sana." Tawar Naruto kepada Alice.

"Baiklah, aku titip minuman favoritku." Jawab Alice.

"Hanya itu saja Alice? Makanan?" Tawar kembali Naruto.

"Tidak, cukup minuman saja Naru."

"Baiklah, kamu akan menunggu dimana Alice?"

"Aku akan menunggumu di pohon itu, dekat dengan perpustakaan, agar kita tidak terlalu jauh nanti."

"Baiklah, tunggu sebentar ya, aku segera kembali."

"Iya Naru, jangan terlalu lama yah."

Naruto yang mendengar itu hanya menganggukkan kepalanya dan pergi untuk mencari minuman yang diminta oleh Alice itu.

Setelah sampai di depan mesin minuman itu, Naruto bingung karena minuman yang diminta Alice ternyata sudah habis dan hanya tersisa kopi hitam dan air mineral saja.

'Bagaimana ini, Alice pasti tidak akan suka dengan kopi hitam dan dia juga tidak terlalu sering minum air mineral, sedangkan yang aku punya di sini hanyalah matcha, apakah dia akan suka dengan ini?'

Naruto terlihat bingung saat ini, di mesin minuman ini hanya tersedia minuman itu saja, bahkan matcha yang tadi dibeli Naruto sudah habis.

'Akan aku berikan matcha ini untuk Alice, dan aku akan membeli apa yang tersedia di mesin itu.' Putus Naruto.

Naruto merasa dirinya terlalu lama disini, dan dia bergegas pergi ke tempat yang dibicarakan oleh Alice tadi, Namun setelah dia sampai di tempat itu dia dihadapkan dengan wajah marah Alice.

"Naru bukankah ada yang harus kamu katakan padaku." Ucap Alice dengan senyum manisnya, namun bukannya tersenyum sebagai balasannya Naruto justru memperlihatkan ekspresi takut di wajahnya.

'Mati aku...' Batin Naruto miris.

Naruto memikirkan beberapa rencana yang akan membantunya membujuk Alice, dan akhirnya kepala pintarnya menemukan sebuah rencana untuk menyelamatkannya.

"Maaf Alice, sudah membuatmu terlalu lama menunggu di sini, jadi mari kita minum bersama." Naruto mengatakannya dengan raut wajahnya yang dibuat seakan merasa bersalah.

"Hmph!" Alice mengalihkan wajah cemberutnya kesamping, Naruto yang melihatnya hanya memasang senyum kecil.

Ingin rasanya Naruto mencubit pipi itu dan menculik Alice saat ini juga, dia bahkan sudah berpikiran untuk membawanya pergi ke gudang kosong di samping apartemennya agar tidak ada seorang pun yang bisa melihat dan menemukannya.

"Alice aku ingin mengajakmu pergi ke sebuah restoran setelah kelas kita selesai hari ini, apakah kamu ingin ikut?" Tawar Naruto, hanya rencana ini yang dia punya sejauh ini, Naruto tidak bisa memikirkan rencana bagus lainnya.

Namun, Naruto tidak mendapati jawaban yang dia inginkan saat ini, karena Naruto tau kalau Alice tidak akan mendengarkannya ketika sedang cemberut seperti itu.

"Jadi, apakah kamu tidak mau? Kalau begitu tidak apa-apa nanti aku akan mengajak salah satu teman wanitaku untuk pergi bersama malam ini, lagipula aku sudah mendapatkan dua tiket untuk menonton setelahnya." Ucap Naruto, berharap dia dapat mengambil perhatian gadis di depannya.

"Huh..." Hela Naruto

Merasa tidak mendapat jawaban apapun dari gadis di depannya akhirnya Naruto melangkahkan kakinya menjauh dari tempat itu, namun baru beberapa langkah berjalan Naruto merasakan tarikan di ujung bajunya.

"J-jangan ajak siapapun, d-dan aku juga belum mengatakan tidak tadi." Ucap Alice dengan sedikit terbata di setiap kalimatnya, bahkan wajahnya sekarang ditundukkan ke bawah. Naruto yang melihat itu memasang ekspresi puas di wajahnya, karena rencananya berhasil dengan sempurna.

"Jadi, apakah kamu masih marah kepadaku?" Tanya Naruto.

"T-tentu saja, kamu sudah membuatku menunggu terlalu lama dan juga kamu tidak mendapatkan minuman favoritku."

"Aku minta maaf untuk minumannya, karena di mesin minuman tadi, hanya tersisa kopi dan air mineral." Ucap Naruto dengan menundukkan kepalanya sebagai tanda bahwa dirinya menyesal.

"Tidak apa-apa Naru, jadi tentang ajakanmu tadi apakah itu sebuah kebenaran atau itu cuma bualan semata." Alice kembali memasang senyum manisnya.

'Sepertinya uang jajanku hari ini akan habis.' Naruto memang menyesali perkataannya, namun sebagai lelaki sejati Naruto tidak akan menarik kembali perkataannya, karena itu prinsip yang dia terapkan selama ini.

"Itu bukan sebuah kebohongan, aku akan mengajakmu makan malam di restoran itu setelah kita selesai dengan pekerjaan kita masing-masing." Ucap Naruto dengan nada meyakinkan, Alice tersenyum senang mendengarnya.

"Baiklah Naru, tapi sebelum itu kurasa kita harus segera masuk ke kelas karena sebentar lagi kelas kita akan dimulai." Ajak Alice dengan menarik tangan Naruto untuk segera bergegas.

"T-tunggu Alice, kamu tidak perlu menarikku seperti ini, aku masih bisa berjalan sendiri." Ucap Naruto, namun bukannya berhenti, Alice semakin mempercepat lajunya dengan tangannya yang masih menarik Naruto.

"Tidak Naru, aku akan menarikmu sampai di depan kelas kita, dan kamu sebaiknya tidak menolak ataupun mencoba melepaskan tanganmu." Ucap Alice kembali dengan senyum manis kembali terpasang di wajahnya.

"B-baiklah Alice, tapi bisakah kita berjalan seperti biasa saja, tidak perlu sampai berlari seperti tadi."

"Tidak! Aku akan tetap menarikmu dengan kecepatan seperti tadi hingga sampai di kelas." Tolak Alice dengan genggamannya yang semakin mengerat di tangan Naruto

Naruto hanya bisa menghela napas mendengar perkataan Alice tadi, dan jika dia berusaha melepas genggaman Alice maka dapat dipastikan kalau gadis di depannya ini akan marah besar kepadanya.

Naruto tidak mempunyai pilihan lain selain menuruti apa yang Alice perintahkan pada dirinya.


Setelah selesai dengan kelasnya, Naruto menunggu Alice di depan gerbang kampus, sebelumnya Naruto sudah berjanji kepada Alice jika dia akan menunggunya di sini.

Naruto sudah menunggu kurang lebih setengah jam di situ, seingatnya jam selesai kelas Alice dengan kelasnya itu sama, jadi harusnya Alice sudah keluar setengah jam yang lalu.

'Lama sekali, mungkin sebaiknya aku mencari Alice saja, daripada harus menunggu di sini lebih lama lagi.' Putus Naruto di dalam hati.

Naruto pergi mencari Alice, tempat pertama yang Naruto tuju adalah kelas, karena bisa saja kelas yang Alice ikuti itu belum selesai.

Dan benar saja, sesampainya dia di depan kelas Alice, Naruto masih melihat Alice yang sedang mengikuti kelasnya, tapi itu aneh, seharusnya semua kelas yang mulai pada jam yang sama sudah selesai sejak setengah jam yang lalu.

Naruto mengintip melalui jendela kelas untuk melihat Alice, setelah berhasil melihat Alice di tempat duduknya, dia harus menutup mulutnya dan menahannya agar tidak tertawa.

Karena saat ini Naruto melihat ekspresi kesal yang ditunjukkan Alice, dirinya yakin jika saat ini Alice pasti sedang mengumpati dosennya itu.

'Aku berani bertaruh, Alice pasti sangat kesal dan kemungkinan besar dia sudah mengumpati dosennya, haha...' Tawa Naruto di dalam hatinya.

Setelah puas melihat wajah kesal Alice, Naruto pergi dari situ untuk membeli minuman kaleng, dia membeli dua macam minuman kaleng untuk dibaginya dengan Alice nanti.

Naruto memilih bersantai di sebuah taman di halaman kampus, sembari menunggu Alice selesai dengan kelasnya, Naruto memainkan ponselnya untuk mengurangi rasa bosannya.

27 Menit Setelahnya

Setelah cukup lama menunggu di taman, Naruto melihat Alice yang sedang berjalan menghampirinya, padahal dirinya sudah berencana untuk menjemputnya di kelas, jika Alice masih belum selesai.

"M-maaf Naru, pasti kamu sudah menungguku sangat lama, dosen sialan itu datang terlambat tadi, jadi dia meminta waktunya setelah bel pulang berbunyi." Alice mengatakannya dengan raut muka bersalah dengan kepalanya yang di tundukkan.

Naruto yang mengerti dengan situasi Alice saat ini, memberikan kaleng yang berisi minuman favorit Alice, dan menempelkannya ke pipi Alice.

"Kyaaa!" Kejut Alice ketika merasakan sesuatu yang dingin menempel di pipinya, Alice langsung melihat benda dingin apa yang menyentuh wajahnya tadi.

"Aku belikan yang baru untukmu, itu minuman favoritmu yang kamu minta pagi ini bukan?" Ucap Naruto seraya memberikan minuman itu untuk Alice.

Alice yang menerima minuman itu langsung tersenyum senang karena dia tahu Naruto tidak marah padanya saat ini, dan juga dia mendapatkan minuman favoritnya, bahkan Alice merasa sangat bahagia saat ini entah karena apa.

"Jadi, apakah kita berangkat sekarang? Aku baru saja memesan sebuah tempat baru di restoran itu untuk malam ini." Ucap Naruto.

"Tunggu apalagi, ayo cepat berangkat aku sudah sangat lapar dan ingin segera memakan sesuatu yang manis dari restoran itu." Ajak Alice tidak sabaran.

Naruto yang melihat itu mengulas sebuah senyuman kecil di wajahnya, dia suka saat melihat Alice antusias seperti ini, mengingatkannya dengan seorang gadis kecil yang selalu bersemangat dulu.

Naruto hanya bisa tersenyum kecil sekarang, gadis kecil imut yang dulu selalu bermain bersamanya kini menjelma menjadi seorang wanita dewasa yang cantik.

Di Sepanjang Jalan

"Nee... Naru bagaimana jika kita memainkan teka-teki untuk mengurangi rasa bosan?" Tanya Alice.

"Itu saran yang bagus Alice, aku tidak menyangka kalau orang sepertimu akan memberikan saran yang bagus seperti itu." Ucap Naruto diselingi candaan dalam perkataannya.

"Mou~ Naru, kamu kira aku wanita seperti apa? Aku juga bisa sesekali memberikan saran yang bagus." Jawab Alice dengan nada kesalnya.

"Maafkan aku, dan bukankah aku sudah pernah bilang kalau kamu adalah teman masa kecilku yang paling cantik dan imut, apakah kamu lupa?" Ucap Naruto dengan sedikit tertawa.

Naruto sangat suka membuat Alice kesal hanya untuk melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Alice, itu masuk dalam lima hal yang disukai oleh dirinya.

"Lalu teka-teki apa yang akan kita mainkan Alice?" Tanya Naruto.

"Aku juga tidak tau." Jawab Alice dengan santainya, berhasil membuat Naruto kesal.

'Apa apaan tadi itu, dia sendiri yang mengajak setelah ditanya malah bilang tidak tahu, dasar perempuan.' Kesal Naruto di dalam hati, tidak mungkin dia mengatakannya langsung di hadapan Alice.

"Baiklah aku yang akan bertanya terlebih dulu jika kamu tidak ada pertanyaan untuk saat ini." Putus Naruto

"Silahkan Naru."

"Pernahkah kamu melihat wujud nyata seorang bidadari kecil?"

"Aku tidak pernah melihatnya dan lagipula apakah itu nyata."

"Itu nyata, kamu ingin melihatnya? Aku mempunyai fotonya."

"Baiklah, aku ingin melihatnya."

Naruto mengeluarkan ponsel dari saku celananya, dan memperlihatkan sebuah foto kepada Alice

Alice yang melihat foto itu langsung memalingkan wajahnya kesamping, dia begitu malu untuk melihat foto itu lagi.

Sedangkan Naruto yang melihatnya hanya tertawa lebar, karena berhasil membuat wajah Alice sangat merah, dia kemudian menyimpan kembali ponselnya ke dalam sakunya.

"Jadi, apakah sekarang kamu percaya akan adanya bidadari kecil yang pernah turun ke dunia ini, Alice?" Naruto bertanya dengan senyum yang masih terpampang di wajahnya.

"A-apakah k-kamu menyimpan foto itu selama ini Naru?" Bukannya menjawab Alice malah balik menanyai Naruto.

"Aku menyimpannya Alice, foto inilah yang berhasil membuatku termotivasi untuk melakukan segala pekerjaan yang selama ini aku lakukan." Jawab Naruto diakhiri dengan senyum kecil.

"Naru berhenti mengatakan sesuatu yang berlebihan seperti itu, lagipula itu cuma foto biasa."

"Tidak sama sekali, bagiku ini merupakan foto paling bagus dan spesial yang pernah ada di ponselku."

Wajah Alice kembali bersemu ketika mendengar perkataan Naruto itu, dia memalingkan wajahnya lagi tidak berani menatap Naruto saat ini.

"B-baiklah, ayo cepat kita segera pergi ke restoran itu." Alice mempercepat lajunya untuk menetralkan kembali wajahnya yang memerah. Sedangkan Naruto hanya mengikutinya dari belakang.


Setelah cukup lama berjalan dan menaiki kereta, Naruto dan Alice sudah sampai di depan restoran itu tetapi...

"HAH!" Teriak Naruto dan Alice, tidak peduli dengan orang di sekitarnya yang memandang aneh kepada mereka berdua.

"A-apa yang sebenarnya terjadi di sini?" Naruto bingung, karena dia yakin jika tadi sudah sempat memesan sebuah tempat di restoran itu. Namun saat ini restoran itu sudah tutup.

Seharusnya restoran itu masih buka hingga jam 10 malam, bahkan ini baru jam 8 malam, Naruto mencoba bertanya kepada petugas yang berjaga di pos itu.

"Permisi pak, apakah ini benar restoran dengan nama Kitsune Family Resto? Karena setahu saya restoran ini masih buka hingga jam 10 nanti, tapi kenapa restoran ini sudah tutup?" Tanya beruntun Naruto kepada petugas itu.

"Maaf akan hal itu, tapi restoran ini ditutup lebih awal karena keluarga pemilik restoran ini baru saja terkena musibah." Jawab petugas itu dengan nada santai.

Naruto yang tidak menduga akan mendapat jawaban seperti itu dari sang petugas, hanya memakluminya, kemudian berterima kasih dan pergi untuk menemui Alice yang sedari tadi menunggunya.

"Alice?" Naruto melihat saat ini Alice bersandar dengan mata tertutup di sebuah bangku panjang di depan restoran yang seharusnya ditujukan bagi para pengunjung restoran.

"Bisa bisanya dia tidur di tempat seperti ini, aku tidak habis pikir dengannya." Ucap Naruto dengan nada heran, karena baru saja dia tinggal sebentar Alice sudah tertidur di sini.

Untung saja tidak ada orang yang mencurigakan di sini, jika ada mungkin Alice akan langsung dibawa pergi oleh mereka.

Naruto mengangkat tubuh kecil Alice dan membawanya di punggungnya sendiri, tubuh Alice yang ringan membuatnya semakin mudah diangkat oleh Naruto.

"Alice, meskipun kamu sudah bukan anak kecil lagi, namun kamu masih sering bersikap selayaknya anak kecil, dan mungkin itu dipandang aneh oleh orang lain, tetapi menurutku, itu adalah salah satu sifat yang kusukai darimu."

Naruto berbicara pelan kepada dirinya sendiri, dia sangat menyukai sifat dan perilaku Alice apapun itu, saat Alice bersifat seperti anak kecil pun Naruto tetap menyukainya.

Naruto menganggap semua kekurangan dari sifat yang Alice miliki merupakan hal yang lucu baginya, bahkan dia siap menerima semua kekurangan yang dimiliki Alice.

Naruto melanjutkan perjalanan pulangnya, tanpa dia tahu jika Alice mendengar seluruh perkataannya barusan namun dia lebih memilih diam dan tetap berlaku seperti seseorang yang tertidur.

'Naru...' Batin Alice lirih.

Cut~

Stories By KitsuneSan99

Original Twoshoot


About Story :

Pair : Naruto Uzumaki X Alice Nakiri

Title : The Forgotten Promise

Anime :

- Naruto Belongs To Masashi Kishimoto

- Shokugeki no Soma Belongs To Yūto Tsukuda and Shun Saeki

Word : 3,866 Words (Chapter 1)


Yo Minna, Sudah lama saya tidak membuat cerita lagi, sekarang saya ingin mencoba membuat mini series, semoga kalian suka.

Saya minta maaf jika ada kesalahan kata maupun bahasa yang saya gunakan.

Dan terima kasih kepada para readers yang sudah membaca Fic ini, dan juga memberikan kritik dan sarannya.

Hehe, bagi kalian yang penasaran tentang foto yang Naruto tunjukkan di atas, Naruto menunjukkan foto Alice saat masih berusia 5 Tahun.

Oh ya, jika kalian menikmati Fic yang saya buat ini, tolong beritahu saya lewat comment. Stay Tune~

Mark : Kitsune~