The Forgotten Promise
By KitsuneSan99
Saat ini Naruto sudah sampai di depan rumah Alice, dengan Alice yang masih setia berada dibelakangnya, lebih tepatnya berada digendongannya.
'Sial! Aku tidak bisa mengetuk pintu ini dengan kedua tanganku yang masih menahan Alice agar tidak jatuh. Tenang Naruto, pikirkan dengan kepala dingin dan kau akan menemukan solusinya.'
Naruto kemudian berinisiatif untuk memencet belnya dengan memanfaatkan hidungnya, sebisa mungkin menjaga badannya tetap stabil agar perempuan di gendongannya itu tidak jatuh.
Namun, setelah lima kali bel rumah itu berbunyi Naruto tidak mendapatkan respon apapun dari pemilik rumah, dia mulai memikirkan cara lain untuk bisa masuk.
Naruto mengangkat sedikit lututnya hingga dapat menjangkau gagang pintu di depannya saat ini, kemudian dengan gerakan pelan tapi pasti mulai menurunkan lututnya pelan agar dapat membuka pintu itu.
Setelah beberapa saat berusaha, akhirnya Naruto bisa membuka pintu itu dan langsung masuk ke dalam tanpa permisi dan berjalan ke ruang tamu. Terkesan tidak sopan memang, namun hanya itu saja pilihan yang Naruto miliki untuk saat ini.
Naruto menurunkan tubuh Alice yang masih dalam keadaan tertidur di sebuah sofa panjang di ruang tamu.
'Akhirnya selesai juga dengan Alice, sekarang dimana aku bisa menemukan selimut untuk menyelimuti tubuh Alice ini.' Pikir Naruto, dia kemudian berjalan menuju lantai atas, tepatnya berjalan menuju kamar Alice.
Tidak sulit bagi Naruto untuk menemukan kamar Alice, karena dirinya sudah beberapa kali masuk ke kamar Alice, setelah masuk dan menemukan apa yang dirinya cari, Naruto ingin segera pergi keluar, namun sebuah benda yang cukup besar di atas kasur menahannya.
'I-ini boneka rubah yang pernah aku berikan padanya tepat sebelum dia berpisah denganku saat itu, tak kusangka jika Alice masih menyimpannya sampai sekarang.' Batin Naruto terharu.
Dia kemudian meremas salah satu ekor yang dimiliki oleh boneka rubah itu, dan sesuatu yang keras dapat Naruto rasakan di dalam salah satu ekornya.
"Hee... ternyata dia belum melihat surat yang aku berikan dulu, tapi biarlah kurasa hal ini tidak perlu diberi tahukan kepada Alice saat ini."
"Apa yang tidak ingin kamu beri tahukan kepadaku Naru?" Tanya Alice yang tiba-tiba datang dari depan pintu kamarnya.
"A-Alice?" Kejut Naruto, bahkan dia baru saja melemparkan boneka rubah itu entah ke mana karena begitu terkejut.
"Iya, aku Alice, dan apa yang kamu sembunyikan di dalam ekor boneka rubahku? Dan kenapa kamu tidak ingin memberitahukannya padaku?" Tanya Alice dengan nada sedikit meninggi.
"T-tidak ada Alice, dan sejak kapan kamu bangun?" Naruto menjawabnya dengan tenang.
"Apakah kamu berbohong padaku Naru? Apakah aku sudah tidak bisa dipercaya lagi olehmu?" Lirih Alice dengan nada sedihnya.
"B-bukan begitu Alice, aku tidak bermaksud seperti itu." Naruto bingung ketika melihat Alice sedih seperti ini, apalagi kini penyebab kesedihannya adalah dirinya.
"L-lalu k-kenapa k-kamu berbohong padaku saat ini, aku sudah cukup lama mengenalmu Naru, tidak ada alasan bagiku untuk tidak mengetahuinya." Masih dengan nada sedihnya Alice berkata.
Naruto tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat ini, karena merasa tidak mendapatkan ide apapun, Naruto berjalan mendekat ke Alice dan memeluknya.
"Maafkan aku Alice, bukan maksudku berbohong dan tidak mempercayaimu, tapi sungguh apa yang aku sembunyikan itu bukan hal yang penting, jadi kumohon jangan sedih seperti ini." Ucap Naruto dengan nada lembut dan tenang, mampu membuat Alice sedikit tenang.
"Jadi Naru, apakah kamu benar menyembunyikan sesuatu di boneka rubah itu?" Tanya Alice dengan posisinya yang belum berubah, masih memeluk Naruto.
"Kalau kamu ingin tahu apa itu, kamu bisa membukanya jika itu maumu dan seharusnya boneka itu datang dengan sebuah surat Alice, tapi aku tidak tau dimana itu." Ucap Naruto panjang lebar.
Alice yang mendengarnya mulai membuka kembali memorinya tentang boneka dan surat itu, dia tahu jika yang memberikan boneka itu adalah Naruto tetapi Alice tidak mengingat untuk apa boneka itu diberikan.
Lelah dengan pikirannya sendiri karena tidak mendapati hasil yang memuaskan, Alice memutuskan untuk bertanya pada Naruto.
"Naru, aku ingin menanyakan sesuatu."
"Apa itu Alice?"
"Apakah surat yang kamu bicarakan itu surat dengan pita warna merah melilitinya?"
"Yah itu benar Alice, apakah kamu mulai mengingatnya?"
Alice menggeleng pelan menandakan bahwa dia benar-benar tidak mengingat isi surat itu karena dia merasa belum pernah membacanya, tapi Alice sedikit mengingat dimana surat itu tersimpan.
"Tunggu sebentar Naru, biarkan aku mencarinya, karena seingatku surat itu ada di dalam lemariku." Ucap Alice.
Sedangkan Naruto yang mendengar hal itu hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, dia senang saat tau Alice masih menyimpan surat itu.
Namun, Naruto sebenarnya malu jika surat itu berhasil ditemukan dan dibaca oleh Alice, karena surat itu berisi tentang janji yang mereka ucapkan dulu.
Naruto berharap agar Alice bisa menemukan itu dan membalasnya, Naruto juga takut jika Alice akan menolaknya setelah membaca surat itu.
"Nah, ketemu!" Seru Alice setelah berhasil menemukan surat itu.
Alice yang penasaran dengan isinya mulai membaca surat itu dengan teliti dan mencoba untuk memahami setiap kalimat dari setiap paragraf yang ada di dalam surat itu.
Naruto yang saat ini masih berkutat dengan pikirannya hanya bisa berharap dan menyiapkan segala kemungkinan yang akan dia terima nanti, apapun itu.
Surat itu sudah diletakkan kembali oleh Alice setelah selesai dibacanya, malam yang dingin itu kembali terasa sunyi hanya suara rintik hujan yang mulai terdengar di kamar itu.
Naruto diam tidak tau harus berkata apa, begitu juga dengan Alice yang masih mematung di tempat yang sama dengan posisi kepala tertunduk dalam.
"Naru" Panggil Alice.
"Apakah semua yang tertulis di sini sebuah kebenaran? Dan apakah kamu masih menyimpan perasaan itu sampai sekarang?" Tanya beruntun Alice, dia ingin mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Naruto.
"Iya Alice, semua yang tertulis di situ merupakan suatu kebenaran dan aku masih menyimpan perasaan yang sama itu selama ini, Alice." Naruto menundukkan kepalanya tidak berani menatap langsung ke wajah Alice sekarang ini, Naruto sebenarnya ragu untuk mengatakan hal tadi.
Tapi Naruto mencoba memberanikan diri, dia sudah siap menerima apapun jawaban yang akan diberikan oleh Alice saat ini, apapun itu.
Alice sudah mendapatkan beberapa kejutan besar hari ini, mulai dari surat dan sekarang pernyataan Naruto. Alice tanpa berkata apapun langsung berlari kearah Naruto dan menerjangnya dengan sebuah pelukan.
"A-aku tidak bisa menjawabnya sekarang Naru, maafkan aku." Ucap Alice yang masih berada dalam pelukan Naruto saat ini.
"Aku masih belum mengerti dengan perasaanku untukmu, jadi aku tidak tahu harus menjawabnya seperti apa." Lanjut Alice.
Sedangkan Naruto yang mendengar kata-kata yang Alice ucapkan itu, ingin rasanya pergi dari situ dan meluapkan seluruh emosinya.
Naruto tidak membalas pelukan yang diberikan Alice, bahkan untuk sekedar mengucapkan kata saja, bibirnya seperti terkunci rapat, Naruto hanya diam dan menutup matanya rapat-rapat.
"Huh..."
Terdengar sebuah helaan nafas dari pria pirang di depan Alice, kemudian Naruto melepaskan pelukan Alice tersebut dengan perlahan.
Alice yang merasakan badannya terdorong kebelakang, dengan cepat melepaskan pelukannya dan menatap wajah Naruto yang menampilkan berbagai macam ekspresi itu.
"Tidak apa Alice, kamu bisa menjawabnya saat kamu benar-benar yakin nanti, dan aku juga tidak ingin terlalu berharap akan mendapat jawaban yang memuaskan darimu."
Naruto mengatakannya dengan senyum yang dibuat paksa olehnya, dia tidak ingin jika Alice mengetahui ekspresi lain terlihat di wajahnya selain senyumannya itu.
"Maaf Naru, Maafkan aku, a-aku tidak tahu harus menjawabnya seperti apa, karena selama ini aku hanya memandangmu sebagai seorang teman dekat yang selalu menemaniku setiap harinya." Ucap Alice panjang lebar dengan nada lirih.
"D-dan aku juga tidak terlalu mengingat tentang kebersamaan kita di masa lalu, seperti yang kamu tuliskan di surat itu." Lanjut Alice.
"T-tidak apa Alice, kamu tidak perlu meminta maaf seperti itu, dan untuk surat yang aku berikan itu, kamu bisa menjawabnya kapan pun kamu siap dan yakin dengan keputusanmu, aku akan menerima jawaban apapun yang akan kamu berikan nanti."
Jelas Naru panjang lebar dan mulai melangkah keluar dari kamar Alice, meninggalkan Alice yang masih diam mematung di tempat yang sama.
Naruto melangkah pergi dengan cepat dari kamar itu, air matanya dia tahan di kelopak matanya agar tidak terlihat seperti pria yang cengeng.
Saat Naruto menuruni tangga dan ingin membuka pintu, pintu depan itu terbuka terlebih dahulu dan menampakkan sesosok wanita tua yang masih terlihat awet muda.
"Naru? Apa yang terjadi? Ada apa denganmu?" Tanya Ibu Alice beruntun, dia jarang sekali melihat Naruto sedih seperti ini.
"Ah tidak apa-apa kok bibi, aku harus segera pulang, sampai bertemu lagi." Naruto berusaha tersenyum untuk menyembunyikan kesedihannya, meskipun dia tau itu tidak akan berhasil di hadapan Ibu Alice.
"Apanya yang tidak apa-apa, sudah jelas kamu memasang ekspresi seperti itu di hadapanku, apakah kamu ada masalah dengan putri bibi?" Ibu Alice menahan pergelangan tangan Naruto untuk mencegahnya pergi menjauh.
"Sungguh bibi, meskipun benar ada sebuah masalah tapi itu tidak terlalu besar, jadi tolong lepaskan tangan bibi, aku ingin segera pulang dan mengemasi barangku." Pinta Naruto dengan suara lemah.
"Apa maksudmu dengan mengemasi barang? Apakah kamu akan pergi dari sini?" Tanya kembali Ibu Alice.
"Sebenarnya, aku sudah dimintai tolong oleh nenek di Kyoto untuk segera pulang ke sana dan membantu usahanya, meskipun aku nanti akan mencari pekerjaan lain di sana." Jelas Naruto.
"Dan juga aku seharusnya sudah pergi sejak beberapa minggu yang lalu tetapi aku menundanya, karena aku merasa tinggal lebih lama di sini tidak buruk juga, namun ternyata itu salah." Timpal Naruto.
"Lalu bagaimana dengan perkuliahan mu itu? Apakah kamu akan meninggalkannya begitu saja?" Ibu Alice terus bertanya.
"Untuk masalah itu, mungkin akan aku urus secepatnya, jadi tolong lepaskan genggaman bibi ini." Ucap Naruto dengan nada memohon.
"Kurasa bibi memang tidak bisa menahanmu, dan kamu juga jangan lupa untuk lebih sering mengirim kabar kepada bibi." Ucap Ibu Alice disertai senyum manisnya.
"Bibi tenang saja, aku akan lebih sering berkirim kabar dengan bibi." Ucap Naruto dengan senyum yang masih dibuat paksa olehnya.
Setelah berbicara cukup lama, akhirnya Ibu Alice melepaskan genggamannya di lengan Naruto, dan memberikan lambaian tangan saat Naruto mulai menjauh dari pandangannya.
Keesokan Harinya
Naruto saat ini sedang menunggu keretanya yang akan mengantarkan dirinya pulang ke kampung halamannya di Kyoto, Naruto sudah menyelesaikan masalah perkuliahannya kemarin dan berpamitan kepada Kakashi.
Perhatian, para penumpang kereta dengan tujuan stasiun Kyoto, dipersilahkan untuk naik ke kereta di jalur satu
Mendengar pemberitahuan itu, Naruto segera pergi menuju keretanya, kemudian masuk dan mencari tempat duduk.
'Etto... sepertinya di sini tempat duduknya.'
Naruto mendapat tempat duduk tepat di samping jendela kereta yang menampilkan pemandangan luarnya, dia duduk di situ dan mengamati pemandangan di luar jendela.
"Sampai bertemu lagi, Alice." Lirih Naruto terakhir kalinya, sebelum akhirnya keretanya melaju menuju Kyoto.
Rumah Alice
Saat ini terlihat perempuan dengan surai putih sedang duduk di tepi kasurnya untuk mengurangi rasa kantuk yang dia alami.
"Semalam berlalu begitu cepat."
Di hari liburnya ini Alice berencana untuk menghabiskan waktunya di rumah, karena entah kenapa dia begitu malas hanya untuk sekedar pergi bermain.
Biasanya, Alice selalu diajak bermain keluar oleh Naruto saat hari libur seperti ini, meskipun hanya untuk sekedar bermain ke taman atau bermain game di rumahnya.
"Huh..."
"Aku tidak tau apa yang membuatku bisa mengatakan hal seperti itu kepada Naruto semalam." Ucap Alice tanpa menyadari ibunya yang saat ini berada tepat di belakangnya mendengarkan ucapannya.
"Hoo... jadi benar kata Naruto semalam, jika kalian berdua terlibat suatu masalah." Ucap Ibu Alice berhasil membuat Alice terkejut.
"I-ibu? Sejak kapan ibu di situ?" Tanya Alice.
"Itu tidak penting, sekarang bisakah Ibu tau masalah apa yang kalian berdua alami hingga Naruto menyesalinya." Ibu Alice berkata dengan nada ingin tahunya.
"Sebelum itu, apa yang Ibu maksud dengan Naruto yang menyesalinya?" Tanya balik Alice kepada Ibunya.
"Kamu akan mengetahuinya cepat atau lambat, sekarang katakan pada Ibu masalah kalian berdua." Ibu Alice mencoba bertanya kembali tentang masalah mereka.
Alice kemudian menceritakan tentang kejadian semalam mulai dari surat yang Naruto tulis saat masih kecil dulu, kemudian berlanjut ke pernyataan Naruto dan jawaban yang Alice berikan.
Alice menceritakan semua itu kepada ibunya dengan nada sedih, karena sampai sekarang Alice masih belum tau apa yang harus dirinya lakukan, bahkan dia belum berbicara lagi dengan Naruto sejak malam itu.
Ibu Alice yang sudah mendengar keseluruhan cerita putrinya itu hanya tersenyum kecil dan berkata.
"Apakah kamu tahu kenapa Naruto memberikan surat itu kepadamu Alice?"
"Tidak..." Alice menjawabnya dengan lirih.
"Dan apakah Naruto pernah menyinggung tentang boneka rubahmu yang di kamar itu?" Ibu Alice kembali bertanya.
"Naruto menyinggungnya semalam dan itu juga tertulis dalam suratnya." Alice berkata apa adanya.
Benar, Alice lupa untuk melihatnya, sebenarnya apa yang ada di dalam boneka rubahnya itu, dia kemudian meninggalkan Ibunya di bawah dan pergi ke kamarnya untuk mencari boneka rubah itu.
Boneka rubah itu masih tergeletak di pojok kamarnya, masih dalam keadaan yang sama seperti semalam, Alice memungutnya dan pergi untuk menemui Ibunya di bawah.
Alice memberikan boneka itu ke Ibunya, kemudian dirinya mencari sesuatu yang dapat digunakannya untuk merobek ekor boneka rubahnya itu.
Ibunya yang melihat boneka rubah yang diberikan Alice itu hanya bisa tersenyum sedih melihat perjuangan Naruto selama ini yang berusaha membuat putrinya jatuh cinta.
Alice kembali dengan membawa sebuah gunting ditangannya, sebelum benar-benar merobek ekor boneka itu, Alice terlebih dahulu memeriksa tempat dimana benda itu berada.
"Sepertinya di sini tempat di mana benda itu di sembunyikan." Ucap Alice sambil menekan salah satu dari ekor boneka rubah itu.
Sreek!
Alice menemukan sebuah liontin yang terbuat dari koin 5 Yen, dengan tali berwarna hitam yang membuatnya bisa dipakai sebagai sebuah kalung, Alice merasa tersanjung akan pemberian sederhana ini.
Tidak hanya itu, Alice juga menemukan secarik kertas yang terlihat sudah sangat lama berada disitu, kertas itu dibungkus dengan sebuah plastik untuk menjaga keutuhannya.
"Huh? Kertas apa ini?" Ucap Alice, dan dia membaca kertas itu.
'Hai Alice, jika kamu sudah membaca kertas ini berarti kamu cukup pintar untuk menemukan sebuah kejutan di balik boneka rubah ini,
Singkat saja aku ingin kita segera melakukan apa yang sudah kita berdua janjikan dulu Alice, oh apakah kamu suka dengan liontin itu? Yah meskipun harganya hanya 50 Yen saja, kuharap kamu senang.
Dan apakah kamu ingin mendengarkan beberapa permintaanku? Kuharap kamu dapat mengabulkannya.
Pertama, Aku ingin kamu terus memakai liontin yang aku berikan itu, karena aku sudah membuatkannya khusus untukmu.
Terakhir, aku akan datang menemuimu di masa depan untuk mendengar jawabanmu atas pernyataan yang aku kirimkan dengan bentuk surat bersama dengan boneka ini, aku harap kamu masih memiliki jawaban yang sama seperti dulu.
Aku Mencintaimu, Alice'
Tulisan di kertas tersebut diakhiri dengan kalimat singkat itu, Alice masih memegang kertas itu di tangannya meskipun dia sudah tau jika surat itu sudah habis dan selesai dibacanya.
Tiba-tiba saja kepingan memorinya kembali menyatu, membuatnya dapat mengingat kembali tentang sesuatu yang pernah dia lupakan di masa lalu.
Flashback
"Nee Naru."
"Iya Alice? Ada apa?"
"Saat sudah dewasa nanti, maukah Naru menikah dengan Alice?"
"Tentu saja Naru mau Alice, siapa yang tidak mau menikah dengan gadis imut sepertimu."
"Baiklah kita akan membuat janji, pada umurku yang ke-24 Naru harus menikahiku, apapun yang terjadi." Ucap Alice kecil dengan antusias.
"Aku janji Alice, aku akan membuatkanmu sesuatu agar kamu bisa selalu mengingatku, dan juga janji yang kamu buat ini." Ucap Naruto diakhiri dengan senyumannya.
"Benarkah itu? Wah Naru memang mau membuatkanku apa?"
"Mungkin sebuah liontin."
"Yeay, terima kasih Naru." Ucap Alice kecil sembari memberikan pelukan kepada Naruto.
Flashback End
Air mata Alice mulai turun, isakan halus mulai terdengar dari mulutnya, bahkan bahunya sedari tadi tidak bisa berhenti bergetar.
Ibunya yang melihat Alice mulai terisak langsung membawanya ke dalam pelukan hangat, untuk sekedar menenangkan putrinya itu.
Pagi itu diisi oleh suara tangisan Alice yang meskipun tidak cukup keras, namun bisa membuat siapa saja yang mendengarnya dapat merasakan kesedihannya.
"I-ibu" Ucap Alice dengan nada lirihnya yang penuh akan kesedihan dan penyesalan.
"A-aku a-apa yang harus aku l-lakukan s-sekarang?" Alice berbicara sedikit tidak jelas karena isakannya.
"I-ibu sarankan kamu menjemput Naruto dalam beberapa minggu lagi."
"K-kenapa aku harus menunggu selama itu, bukankah aku bisa saja pergi ke apartemennya sekarang?" Alice menghapus air matanya dan bertekad untuk bertemu dengan Naruto.
"Naruto sudah tidak tinggal di apartemen itu lagi, dia bahkan sudah tidak berada di Tokyo saat ini, Naruto sudah memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya kemarin."
Alice yang mendengar itu hanya dapat memasang raut wajah terkejut dan sedih secara bersamaan, dia mulai berpikir bahwa ini semua salahnya.
Salahnya ketika menolak pernyataan Naruto malam itu, salahnya ketika dia tidak membalas perasaan Naruto dengan baik malam itu.
"Hiks... Hiks... A-apa yang sudah aku lakukan kepada Naru, kenapa aku begitu jahat kepadanya." Alice kembali menangis.
"Kamu tidak jahat Alice, kamu hanya belum mengerti dengan perasaanmu saja." Ucap Ibu Alice.
"Dan satu hal lagi, kamu harus benar-benar membuat keputusan serius kali ini Alice, Ibu tidak ingin kamu menerimanya hanya karena rasa kasihan dan rasa bersalahmu itu." Lanjut Ibu Alice.
Alice yang sudah sedikit tenang, memikirkan kembali perkataan ibunya tadi, dia harus segera menetapkan pilihannya dan mengikuti suara hati kecilnya.
Beberapa Minggu Kemudian
"Huh..." Terdengar helaan napas dari seorang wanita bersurai putih, dengan kacamata hitam membingkai wajahnya.
"Akhirnya tugas terakhirku sebagai seorang mahasiswa telah selesai, sekarang hanya tinggal menunggu waktu kelulusan."
Perempuan putih itu, bersandar pada kursi yang di dudukinya, dan mulai memeriksa ponselnya, ada 13 pesan masuk di ponselnya itu.
"Untuk apa Ibu memberikanku pesan sebanyak ini? Lebih baik aku telepon saja dia." Ucap perempuan itu.
"Iya, ada apa Ibu? Bukankah tadi aku sudah bilang jika hari ini aku akan menyelesaikan tugas terakhirku di Universitas."
"ALICE! APAKAH KAMU LUPA?" Suara teriakan seorang wanita terdengar dari seberang.
"Aduh Ibu, bisa tidak kalau tidak usah berteriak seperti itu."
"Maaf Alice, tapi apakah kamu tidak melihat jam? Jam berapa sekarang?" Masih dengan suara seorang wanita namun dengan nada biasanya.
Alice mendadak bingung dengan perkataan ibunya itu, saat dia melirik jam dinding yang tertempel di depan ruangan itu Alice berteriak.
"Waah! ini sudah jam 11 siang, bagaimana ini bu..."
"Huh..." Ibu Alice hanya bisa menghela napas melihat kelakuan putrinya ini.
"Alice, pulang sekarang, kemudian kamu segera berangkat ke stasiun." Lanjut Ibu Alice.
"Baik bu, Alice akan segera pulang." Alice mematikan sambungan teleponnya, kemudian mengemasi barangnya, dan menaiki mobilnya untuk pulang.
Di Rumah Alice
Sesampainya Alice di rumah, Ibunya sudah menunggu Alice dengan semua barang yang akan dibawanya.
"Ayo cepat bu, kita segera pergi ke stasiun." Ucap Alice
"Tenang Alice, apakah kamu sudah tidak sabar bertemu dengannya, hm?"
Wajah Alice kembali merona ketika ibunya berbicara seperti itu, Alice memang sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya, meskipun dia tidak tahu apa yang akan dia lakukan saat bertemu dengannya nanti.
Alice sempat berpikiran jika Naruto sudah melupakannya dan bersanding dengan perempuan lain, sungguh Alice tidak akan menerima itu. Jika hal itu benar terjadi, Alice tidak tau lagi apa yang akan dia lakukan ke depannya. Mungkin dia akan merebut kembali Naruto dari pasangannya.
Intinya, Naruto hanya boleh bersanding dengannya, tidak dengan wanita lain, hanya dirinya.
Namun, Alice juga tidak dapat menyingkirkan pikiran negatifnya, tentang Naruto yang sudah mendapatkan pasangan hidupnya dan melupakan dirinya.
"I-ibu bagaimana jika nanti Naru sudah memiliki pasangan hidupnya, Alice tidak mau hal itu terjadi." Ucap Alice kepada Ibunya.
"Tenang Alice, jika itu benar-benar terjadi maka carilah pria lain untukmu." Ibunya sangat yakin jika Alice akan menolak perkataannya ini, dia tahu Alice pasti akan melakukan hal gila.
"Tidak! Alice akan merebut kembali Naru dari wanitanya, Naru hanya untuk Alice, begitupun sebaliknya Alice hanya untuk Naru." Alice mengatakannya dengan sedikit berteriak.
Ibunya yang melihat itu hanya bisa tersenyum kecil dan menyemangati putrinya itu.
"Kamu benar Alice, Ibu juga tidak ingin mendapat menantu lain selain Naruto, wajahnya yang tampan dan mata birunya yang indah, pasti akan dapat memberikan cucu-cucu yang cantik dan tampan untuk Ibu." Ucap Ibu Alice.
Alice yang mendengar ucapan ibunya tentang cucu, wajahnya mulai memerah membayangkan anak-anaknya yang tampan dan imut, anaknya dengan Naruto.
'Kyaaa! Apa yang kamu pikirkan Alice, berhentilah memikirkan sesuatu seperti itu.' Alice berteriak di dalam hatinya.
"Sudah Alice, keretamu akan berangkat setengah jam dari sekarang, jadi cepatlah dan sampaikan salam dari Ibu untuk Naruto." Ibu Alice berkata sembari melambaikan tangannya kepada Alice yang sudah berada di dalam mobilnya.
"Baik bu, Alice akan sampaikan salam Ibu ke Naruto nanti, selamat tinggal." Alice melambaikan tangannya kepada Ibunya.
Dalam perjalanannya Alice terus memegang liontin yang pernah diberikan padanya oleh Naruto
'Tunggu aku Naru, kali ini aku pastikan untuk memberikanmu jawabannya, langsung dari hatiku.' Batin Alice.
"Nii-san berapa harga permen ini?" Tanya seorang anak kecil.
"Sebentar, Nii-san lihat dulu harganya, Nii-san baru saja berjaga hari ini, jadi maafkan Nii-san."
"Tidak apa Nii-san."
"Baiklah mari kita lihat, untuk permen itu harganya 10 Yen saja." Ucap seorang pemuda bersurai pirang.
"Ini uangnya Nii-san, terima kasih." Anak itu pergi keluar dari toko dagashi itu.
"Tidak buruk juga." Ucap pemuda itu senang.
'Sekarang, apa yang akan kamu lakukan, Naruto.' Batin pemuda pirang tadi, yang diketahui bernama Naruto.
Naruto berjalan keluar tokonya untuk sekedar melihat pemandangan di depannya, sebuah sungai dan tak jauh dari sungai itu terdapat sebuah lembah dan bukit.
'Sudah lama aku tidak bermain ke bukit itu, biar kuingat, kurasa terakhir kali saat aku masih berusia 5 tahun, dan itu bersama Alice.' Batin Naruto
Memikirkan tentang Alice membuatnya sedikit termenung, membayangkan jika Alice sudah hidup bahagia dengan pasangannya saja sudah bisa membuatnya sedih.
"Alice, sudah lama aku tidak mendengar kabar darinya, mungkin dia sudah memiliki pasangan hidupnya sendiri, dan mungkin aku akan menjenguknya beberapa bulan lagi." Naruto memandang lurus ke bukit itu, tepatnya pada sebuah pohon besar di sana.
Tidak dapat dibohongi lagi, Naruto masih menyimpan perasaan cintanya untuk Alice hingga saat ini, perasaan yang telah coba dirinya kubur dalam-dalam.
Namun, sialnya perasaan itu terus tumbuh semakin besar, semakin keras usaha Naruto mencoba melupakannya, semakin besar pula perasaan itu tumbuh.
"Sialan."
Naruto berbalik hendak masuk ke tokonya, namun saat Naruto melihat ke sekitarnya, dia sekilas melihat sosok yang selama ini dirinya rindukan, Naruto menggelengkan kepalanya dan masuk kembali ke tokonya.
'Naruto bodoh, hentikan pemikiranmu tentang dia.' Batin Naruto mengumpati dirinya sendiri.
Sementara di sisi Alice, dia sangat senang karena bisa menemukan Naruto di alamat yang telah Ibunya berikan beberapa saat lalu.
Di ujung jalan itu, Alice melihat seseorang dengan rambut pirangnya, dia benar-benar yakin jika sosok pirang di ujung jalan itu merupakan Naruto.
"Naru..." Alice sangat ingin berteriak memanggil nama Naruto, tetapi dia urungkan niatnya itu karena Naruto kembali masuk ke dalam tokonya.
Tanpa pikir panjang lagi, Alice mengikuti Naruto masuk ke dalam toko itu.
Kring!
"Selamat datang, selamat berbelanja di toko camilan ini." Ucap ramah Naruto kepada pelanggannya. Naruto tersenyum menyambut kedatangan pelanggannya itu.
Mata Alice sedikit berkaca-kaca, dia sangat merindukan Naruto. Mata birunya yang teduh dan senyumannya yang hangat, Alice merindukan semuanya.
"Naru..." Ucap lirih Alice, namun masih dapat di dengar oleh Naruto yang berdiri tepat di sampingnya.
"Maaf apakah anda mengatakan sesuatu tentang namaku?" Tanya Naruto memastikan pendengarannya. Naruto yakin wanita di sampingnya memanggil namanya, dan kenapa dia merasa tidak asing mendengar suaranya.
Alice datang ke toko itu dengan masker dan kacamata hitam terpasang menutupi wajahnya, wajar bagi Naruto tidak dapat mengenalinya langsung.
Alice mulai membuka masker dan melepas kacamata hitamnya, Naruto masih mengambilkan camilan yang wanita di sampingnya tadi minta, belum menyadari jika wanita di sampingnya adalah Alice.
"Silahkan Nyonya, ini camilan yang anda minta tad-" Naruto tidak sempat menyelesaikan perkataannya ketika matanya mulai melihat ke arah wanita tadi.
"Alice..." Masih dalam keterkejutannya, tiba-tiba Alice memeluk Naruto dengan kencang dan mulai menangis di dadanya.
Otak Naruto masih mencerna situasinya saat ini, dia bahkan belum membalas pelukan Alice. Setelah berhasil mencerna situasinya saat ini, Naruto balas memeluk Alice dengan pelukan hangat.
"Naru hiks... a-aku hiks... m-merindukanmu hiks..." Alice masih terisak di pelukan itu.
Naruto bahkan tidak jauh berbeda saat ini, terlihat matanya sudah mulai berkaca-kaca, sebisa mungkin menahan laju air matanya yang ingin turun.
"A-alice a-apa yang kamu lakukan di sini." Naruto berkata setelah dia sadar Alice sudah sedikit lebih tenang.
Alice menatap langsung pada kedua iris biru Naruto, dia masih ingin melepas rindunya saat ini. Sadar dengan ucapan Naruto, dia mulai melonggarkan pelukannya namun dengan tangan yang masih melingkari perut Naruto.
"A-aku ingin menepati janji kita dulu." Ucap Alice, dia ragu Naruto akan menjawabnya sama seperti saat Alice menolaknya dulu. Sungguh Alice menyesali keputusannya malam itu.
Naruto senang, tidak, bahkan dirinya sangat senang dan selalu menantikan momen ini, momen di mana Alice akan menagih janjinya dulu, dan menepatinya. Naruto berpikir untuk mengerjai Alice saat ini, dia sudah lama tidak melakukannya.
"Janji? Janji apa yang kamu maksudkan Alice? Aku tidak mengingatnya, dan kenapa aku harus menepatinya? Janji apa yang pernah aku ucapkan?" Tanya Naruto bertubi-tubi dengan memasang ekspresi seolah benar-benar tidak mengetahuinya.
Mata Alice sudah mulai berkaca kembali, siap mengeluarkan sejumlah butir air matanya.
"J-janji untuk menikah saat kita s-sudah dewasa kelak. A-apakah kamu lupa akan itu, Naru?" Jelas Alice, dengan bahu sedikit bergetar menahan isakan halus yang mulai terdengar.
Alice takut, dia sangat takut sekarang, dia takut jika Naruto benar-benar melupakan janjinya itu. Alice bahkan tidak sanggup menerimanya jika hal itu benar terjadi. Sampai kapan pun, dia tidak akan menerimanya.
"Aku merasa tidak pernah mengatakan hal itu beberapa tahun silam, bahkan aku tidak ingat pernah bertemu denganmu dulu, Alice." Ucap Naruto masih dengan senyum jahilnya.
"A-apa yang kamu katakan, Naru? Apa maksud dari perkataanmu barusan?" Tanya Alice dengan nada sedikit meninggi.
"Seperti yang kamu dengar, kurasa aku sudah melupakannya, maafkan aku. Oh dan belanjaanmu ini seharga 100 Yen." Ucap Naruto sembari memberikan kantung plastik berukuran sedang ke Alice.
Alice masih tidak bergeming dari tempatnya, saat dia melihat ke arah tangan Naruto yang memegang kantung plastik itu. Alice bisa melihat semua pemikiran buruknya di situ.
Di tangan Naruto, tepatnya di jari manis pemuda itu tersemat sebuah cincin perak yang sangat indah, seperti sebuah cincin pernikahan.
"N-Naru... a-apakah i-itu c-cincin pernikahanmu?" Alice berkata dengan susah payah. Sedangkan Naruto yang mendengar itu mulai berpikir.
'Secara teknis, ini memang cincin pernikahanku yang seharusnya aku berikan ke Alice beberapa bulan lalu.' Pikir Naruto.
"Iya, ini memang benar sebuah cincin pernikahan." Naruto tidak merasa bersalah mengatakan itu, karena itu bukan sebuah kebohongan, dan siapa pun yang melihatnya pasti akan langsung tau jika itu cincin pernikahan, jadi untuk apa Naruto menutupinya.
"Hiks..." Alice kembali terisak.
Naruto tidak tega melihat Alice menangis seperti itu, tetapi dia membiarkannya. Dia ingin tahu bagaimana tanggapan Alice saat ini.
"K-KAU JAHAT!, NARU JAHAT!, DENGAN MUDAHNYA KAU MENIKAHI WANITA LAIN!, PADAHAL KAU MASIH MEMPUNYAI SEBUAH JANJI UNTUK MENIKAH DENGANKU!, AKU MEMBENCIMU!!" Teriak Alice kepada Naruto, Alice bahkan tidak tau jika dia bisa berteriak dengan lancar tanpa dibarengi dengan isakannya tadi.
"Hiks... aku ingin membencimu, hiks... tapi aku tidak hiks... bisa melakukannya, a-aku sudah terlanjur hiks... mencintaimu, a-aku tidak hiks... bisa membencimu." Isak Alice.
Naruto yang mendengar isakan itu semakin tidak tega kepadanya, dia juga terkejut saat Alice bilang mencintainya, akhirnya Naruto berjalan mendekat ke Alice, dan memeluknya.
Alice sedikit memberontak awalnya, namun akhirnya Alice membalas pelukan itu.
"Kau yang terburuk, meskipun kau sudah mempunyai seorang istri, namun kau masih memeluk wanita lain." Ucap Alice lirih.
"Alice, maafkan aku."
Alice tidak ingin mendengar kelanjutan kalimat itu, sungguh Alice ingin meminta Naruto berhenti berbicara sekarang.
'Aku mohon hentikan.' Mohon Alice di dalam hatinya.
"A-aku tidak bermaksud membuatmu menangis lagi, tapi aku minta kamu dengarkan perkataanku dulu." Ucap Naruto tenang, berusaha membuat Alice mendengarkannya.
'Cukup Naru, aku tidak ingin mendengar apa pun lagi darimu.' Batin Alice.
"Sebenarnya cincin ini akan aku berikan kepadamu saat malam itu, malam di mana kamu akhirnya menolakku, aku membelinya beberapa bulan sebelumnya." Naruto melepaskan cincin di jarinya itu.
Alice mendengar ucapan Naruto tadi, tapi otaknya masih belum bisa mencerna ucapan Naruto tadi. Sampai Naruto melepaskan pelukannya dan mengangkat tangannya. Alice semakin bingung, karena sekarang ini Alice melihat Naruto berlutut di hadapannya.
"K-kamu mau apa Naru?" Alice bertanya dengan sedikit terbata.
Naruto tidak menjawab melainkan dia menyematkan cincin yang tadi dipakainya ke jari manis Alice, dan berkata...
"Maaf sudah membuatmu menangis sebelumnya, aku hanya ingin mengetahui tentang perasaanmu yang sebenarnya." Ucap Naruto
"Alice, maukah kamu menikah denganku? Aku benar-benar tidak tau apa yang akan aku lakukan nantinya jika kamu berkata 'tidak' saat ini. Jadi, maukah kamu membantuku dan berkata 'mau' untuk sekarang?" Lanjut Naruto sembari memutar cincin di jari manis Alice hingga terlihat sebuah kata tertulis di atas cincin itu.
Naruto's
Alice sangat terkejut mendengar kalimat itu langsung dari mulut Naruto. Dia kembali menangis, Alice sangat bahagia saat ini, dan dengan sedikit senyum di wajahnya dia berkata.
"A-aku mau Naru."
Naruto merasakan bola matanya memanas, dia hampir saja menangis karena terlalu bahagia. Namun, itu tidak Naruto lakukan karena dia tidak ingin menangis di hadapan Alice.
"Terima kasih Alice, aku sangat bahagia saat ini, terima kasih." Naruto hampir menangis bahagia saat ini, betapa beruntungnya dia saat ini, ketika mengetahui seseorang yang selama ini dia cintai kembali mencintainya
Masih dengan posisi berpelukan, Naruto sedikit melonggarkan pelukannya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Alice, sesaat kemudian Naruto mencium bibir Alice dengan lembut dan penuh akan kasih sayang .
Alice hanya diam membalasnya, setelah cukup lama dalam posisi seperti itu, Naruto mengambil jarak. Namun belum sempat dia menjauh, Alice kembali menciumnya. Ciuman kedua berlangsung lebih lama dari sebelumnya.
"Yang terakhir itu untuk mengobati rasa rinduku padamu, Naru." Ucap Alice diakhiri dengan senyum lembutnya.
Mereka kembali berpelukan di siang hari itu, dengan latar toko camilan dan bukit di depannya menambah keindahan bagi siapa pun yang melihatnya.
"Aku mencintaimu, Naru."
"Aku juga mencintaimu, Alice."
Finish~
Stories By KitsuneSan99
Original Twoshoot
About Story :
Pair : Naruto Uzumaki X Alice Nakiri
Title : The Forgotten Promise
Anime :
- Naruto Belongs To Masashi Kishimoto
- Shokugeki no Soma Belongs To Yūto Tsukuda and Shun Saeki
Words : 4,791 Words (Last Chapter)
Yo semuanya, bagaimana mini series kali ini, apakah menarik?
Saya senang mengetahui respon baik kalian terhadap cerita ini, dan berterima kasih kepada para pembaca yang sudah membaca cerita saya ini.
Oh ya, saya minta maaf jika terdapat kata yang salah maupun bahasa yang kurang tepat.
Dan selalu berikan kritik dan sarannya dengan baik terhadap cerita yang akan aku buat selanjutnya, terima kasih sekali lagi. Stay Tune~
Mark : Kitsune~
