LOVE AND WAR : SUMMERTIME SADNESS
by
ACHAN98
.
Hashirama Senju x Madara Uchiha
.
Orang bilang musim panas selalu membawa kecerian dan kenangan penuh kehangatan namun bagi Madara musim panas selalu membawa kenangan penuh luka dan kesedihan untuknya.
Musim panas yang ia alami sepuluh tahun yang lalu akan menjadi kenangan yang tidak akan pernah ia lupakan walaupun hatinya akan terluka setiap kali ia mengingatnya.
.
Madara terus menekuk wajahnya dalam perjalanan menuju Okinawa menggunakan mobil Izuna.
"Ayolah, Aniki. Jangan tekuk wajahmu seperti itu terus."
"Kau menyebalkan."
Izuna berdecih mendengar ucapan sang kakak. "Aniki, Apa kau tidak bosan menghabiskan liburanmu berbaring dan membaca buku saja? Selama belasan tahun dan setiap liburan kau selalu melakukan hal yang sama."
"Itu namanya mengistirahatkan diri dari segala stress akibat tugas sekolah." Protes Madara. Ia benci jika Izuna selalu mengejek aktivitas yang ia lakukan saat libur sekolah. Lagipula buku bacaan Madara itu mengenai bisnis dan politik bukan sesuatu yang tidak berguna seperti novel romansa milik teman-teman perempuannya.
"Kegiatan liburanmu itu membosankan, Aniki."
Madara menatap kesal Izuna. "Aku yang melakukannya kenapa kau yang protes."
Izuna menggelengkan kepalanya akan sikap Madara. "Sudahlah lagipula kita sudah setengah perjalanan sampai di Okinawa."
"Itu karena kau menyeretku secara paksa."
Izuna pura-pura tuli akan ucapan sang kakak. "Percaya padaku, aku akan membuat liburanmu ini menyenangkan dan kau akan mengingatnya seumur hidupmu, Aniki."
"Terserah." Ujar Madara sambil memejamkan matanya dan memilih tidur ketimbang berbicara dengan Izuna lagi.
.
Izuna menoel pipi Madara. "Aniki, Kita sudah sampai."
"Hm?"
"Bangun Aniki atau akan ku biarkan kau tidur di mobil semalaman." Ancam Izuna.
Dengan terpaksa Madara bangun dan keluar dari mobil mengikuti sang adik. Matanya mengerjap ketika melihat sebuah kabin dari kayu juga ia mendengar suara debur ombak.
"Kau sudah menyewa Kabin sebelum kemari?"
"Tentu saja. Aku sudah menyiapkan semuanya." Ucap Izuna sambil membuka pintu kabin dengan kunci yang ia dapatkan entah sejak kapan. "Aku sering kemari jika weekend maupun libur panjang."
Madara mengangguk mengerti. Ia dan Izuna memang kakak beradik dan mereka memiliki hubungan yang sangat erat. Keduanya sering melakukan apapun bersama-sama terkecuali hari libur karena seringnya Madara berada di rumah dan Izuna keluar rumah untuk bermain dengan teman-teman sebayanya.
"Aku mendengar suara ombak."
"Yup, lautnya tidak jauh dari sini. Kita bisa melihatnya nanti, sekarang kita beristirahat dulu, Aniki." Izuna membuka pintu kabin tersebut dan masuk. Madara tanpa banyak kata tentu saja ikut masuk.
"Lumayan." Komen Madara sambil melihat-lihat isi kabin lalu mendudukkan dirinya di kursi panjang yang ada di ruang tengah.
"Lumayan bagimu itu artinya bagus bagi orang lain." Balas Izuna lalu meletakan tas ranselnya di lantai dan masuk ke kamar mandi.
Madara menghela nafas lalu membaringkan dirinya di kursi panjang itu.
"Kau mau tidur lagi?" Izuna sedikit menganga melihat Madara memejamkan matanya.
"Diam kau."
"Dasar pemalas." Ucapan Izuna sukses membuat Madara melemparnya dengan topi yang ia kenakan.
.
Madara mengerjapkan matanya ketika merasakan tangan Izuna menepuk pipinya. Madara memandang bingung Izuna yang sudah berpenampilan rapih.
"Mau kemana kau?"
"Ada Club malam yang cukup terkenal disini. Bangun dan mandilah."
Madara mengerang malas.
"Ayolah, Aniki. Aku sudah berjanji untuk membuat liburanmu menyenangkan."
"Siapa yang memintamu berjanji seperti itu?"
Izuna tidak menjawab. Ia malah menepuk bahu Madara cukup keras. "Cepat mandi."
.
Izuna dan Madara sampai di club setengah jam kemudian.
"Izuna." Seorang lelaki tinggi berambut putih memanggil Izuna.
Senyum lebar tercetak di bibir Izuna. "Tobi."
Sosok tinggi nan tampan itu langsung membawa Izuna kedalam pelukannya. Ia mengabaikan pandangan bingung Madara.
"Ehem." Madara berdehem kepada dua sosok didepannya yang tampaknya tidak akan melepaskan pelukan mereka selama beberapa jam kedepan jika tidak dipisahkan.
Izuna melepaskan pelukannya dan menatap sang Kakak. "Aniki perkenalkan ini Tobirama. Tobirama, ini Kakak ku Madara."
"Tobirama." Tobirama mengulurkan tangannya yang tentu saja langsung disambut oleh Madara.
"Madara."
"Aniki, Tobirama ini pacarku."
Madara menatap terkejut akan ucapan Izuna. Ia tahu jika Izuna sudah tumbuh dewasa, bukan lagi adik kecilnya yang tidak tahu apa-apa tapi ia tetap terkejut karena Izuna tidak pernah mengatakan apapun tentang pacarnya ini dan dilihat dari interaksi mereka tadi sepertinya hubungan Tobirama dan Izuna sudah terjalin cukup lama.
"Sejak kapan?"
"Sekitar tujuh bulan yang lalu." Ekspresi Izuna kini terlihat menyesal.
"Dan kau tidak mengatakan apa-apa padaku?" Madara merasa dia tidak dianggap terlalu berarti untuk adiknya.
"Aku lupa memberitahumu, Aniki. Waktunya selalu saja tidak tepat dan kau selalu sibuk belajar bisnis dengan Ayah."
Madara mendengus kesal akan ucapan Izuna. "Sebagai permintaan maaf kau harus mentraktirku minum sepuasnya."
Izuna langsung memeluk lengan Madara. "Apapun untuk Aniki ku tersayang."
"Aku punya rekomendasi minuman yang cocok untuk kita." Celetuk Tobirama.
Madara mengangguk dan mengikuti langkah kaki kedua insan didepannya. Mata Madara menetap sekelilingnya dan club ini cukup menyegarkan pengunjung karena dekorasinya yang begitu serasi.
Bugh!
Madara meringis ketika tubuhnya menabrak seseorang yang memiliki badan lebih besar darinya. "Aww."
"Ah, Maafkan aku." Sosok yang menabraknya segera meminta maaf dan menatap Madara.
Madara yakin nafasnya tercekat ketika melihat wajah pria tampan didepannya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya pria itu khawatir.
"Ya, aku tidak apa-apa." Madara menatap pria didepannya tanpa berkedip sama sekali.
Madara yakin jika dia sering melihat pria tampan selama dia hidup tapi sosok didepannya ini begitu berbeda dengan pria-pria itu. Karisma pria didepannya ini sukses membuat Madara tidak bisa mengalihkan tatapannya kearah lain.
"Aniki!"
Madara tersentak mendengar teriakan Izuna. Ia lalu menatap pria didepannya yang ternyata tengah menatapnya juga.
"Maaf, aku harus pergi." Madara langsung berjalan kearah Tobirama dan Izuna meninggalkan pria tampan tadi.
.
Madara menggaruk lehernya yang tidak gatal ketika Tobirama dan Izuna meninggalkannya seorang diri di meja bartender dengan gelas berisi cocktails.
"Sepertinya aku akan pulang sendiri." Gumam sang sulung Uchiha itu dengan lesu.
"Aku bisa mengantarmu pulang." Ujar sebuah suara dibelakang Madara.
Madara terlonjak kaget dan segera memutar tubuhnya. "K-kau..."
Madara benar-benar tidak menyangka bahwa pria yang menabraknya secara tidak sengaja sepuluh menit yang lalu kini berada didepannya.
"Hai, Namaku Hashirama Senju."
"Madara Uchiha."
Hashirama tersenyum kecil dan tanpa mengatakan apapun dia langsung duduk disamping Madara. "Kau sendirian?"
"Aku bersama adikku tapi dia sedang bersama dengan pacarnya."
Hashirama mengangguk mengerti. Matanya yang tajam menatap Madara dari atas hingga kebawah. "Aku serius tadi."
"Heh?"
"Aku serius bisa mengantarkanmu pulang jika adikmu terlalu sibuk dengan pacarnya." Hashirama mengakhiri kalimatnya dengan senyum penuh arti.
Mendapatkan senyum seperti itu Madara memutar matanya. "Kau memang tipeku tapi maaf saja. Aku tidak seperti yang kau pikirkan."
"Aku senang mengetahui jika aku tipemu." Hashirama mengambil gelas cockails Madara dan meminumnya tanpa meminta dulu pada sang pemilik. "Dan menurutmu apa yang aku pikirkan tentangmu, Mada-chan?"
Madara mengangkat alisnya ketika mendengar pertanyaan Hashirama. "Pria tampan sepertimu pasti berpikir bisa mendapatkan apapun yang kalian inginkan dalam hal ini korban yang ingin kalian tiduri dan kalian tinggalkan keesokan harinya. Maaf saja, Senju-san. Tapi aku tidak tertarik dengan one night stand."
"Ok, Awalnya aku memang tertarik pada tubuhmu tapi bukan berarti aku ingin menidurimu." Hashirama mendekatkan wajahnya pada wajah Madara. "Pikiranmu terlalu jauh, Mada-chan."
Pipi Madara memerah karena malu akan tebakannya yang salah serta malu karena wajah tampan Hashirama hanya berjarak beberapa centi darinya.
"Oh."
Hashirama terkekeh akan reaksi Madara. "Kau lucu."
"Aku tidak lucu."
"Kau lucu."
"Bagaimana kau langsung mengatakan aku lucu padahal kau belum mengenalku lebih dekat." Kini giliran Madara yang mengeluarkan senyum penuh maknanya.
Jika kalian mengatakan Madara adalah pemuda tanpa pengalaman bercinta karena wajah seriusnya maka kalian salah besar. Madara tidak seperti yang kalian kira. Dia tahu bagaimana caranya bermain dengan laki-laki maupun perempuan.
"Jangan menggodaku, Mada-chan."
"Siapa yang menggoda anda, Senju-san?" Tangan Madara bergerak dan menyentuh bahu tegap Hashirama yang memakai jaket. "Anda terlalu percaya diri."
Hashirama menatap jari Madara yang menyentuh bahunya. "Lalu apa yang sedang kau lakukan padaku sekarang ini jika bukan menggodaku?"
"Aku hanya... ingin mengenalmu lebih dalam." Madara tersenyum rupawan. Dia tahu dari Izuna jika senyumnya itu rupawan dan Madara bersyukur akan itu. "Karena seperti yang aku katakan dari awal. Kau tipeku."
"Kau nakal."
Madara tersenyum mengejek. "Tadi kau bilang aku lucu sekarang aku nakal. Kau tidak memiliki pendirian yang teguh, Senju-san."
Tangan Hashirama terangkat dan mengelus pipi Madara. Lembut. "Aku memiliki satu pendirian teguh yaitu apapun yang aku inginkan harus aku dapatkan. Bagaimanapun caranya. Dan yang aku inginkan sekarang adalah mengenalmu lebih dalam."
"Lalu setelah kita saling mengenal lebih dalam. Apa lagi yang kau inginkan?"
"Menghabiskan musim panas indah ini denganmu."
Madara menyentuh tangan Hashirama yang masih mengelus pipinya. "Ini hari keberuntunganmu, Senju-san. Karena permintaanmu terkabul."
.
Putra sulung Tajima Uchiha mengerjapkan matanya ketika cahaya matahari menelasak masuk melalui gorden jendela kabin yang ia tempati.
"Arghh, kepalaku." Madara menyentuh kepalanya yang terasa pening. Selama lima menit ia tidak bergerak dari posisinya agar sakit kepala yang menderanya tidak semakin parah. "Berapa gelas alcohol yang aku minum semalam?"
"5 gelas cocktails plus 2 gelas vodka."
Tubuh Madara membeku mendengar suara tersebut. Ia mendongak dan melihat Hashirama tengah berdiri di depan pintu kamar yang ia tempati.
"Senju-san."
Hashirama mengernyit bingung mendengar panggilan Madara padanya. "Aku pikir semalam kita sepakat kau memanggilku dengan sebutan Hashirama."
"Heh?!"
"Sepertinya kau lupa kejadian semalam yah?"
Madara menggeleng. "Aku bahkan tidak ingat bagaimana caranya aku ada disini dan kau juga. Bagaimana bisa kau ada disini?"
"Aku ikut kemari dengan Tobirama dan Izuna."
"Bagaimana bisa?" Madara benar-benar bingung akan kondisinya sekarang.
Hashirama menyodorkan gelas berisi air yang ternyata sudah ia bawa sejak tadi dan memberikannya pada Madara. "Minumlah dulu setelah itu mandi."
"Terimakasih, Senju-san."
"Panggil aku, Hashirama."
"Hashirama."
Hashirama tersenyum kecil mendengarnya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku?"
"Tobirama dan Izuna melihat kita berdua asik mengobrol semalam dan saat kau mabuk aku meminta pada mereka untuk ikut."
"Oh."
"Hanya itu reaksimu?"
"Lalu aku harus bereaksi seperti apa?" Hashirama tertawa gemas dan mengacak rambut Madara. "Tobirama dan Izuna tadi keluar untuk kencan. Mau jalan-jalan denganku?"
Madara sedikit kesal mendengar Izuna meninggalkannya demi pacarnya namun rasa kesalnya langsung sirna saat menatap pria tampan didepannya. "Apa tidak merepotkanmu?"
"Tentu saja tidak."
Dan selama seharian Madara akhirnya bisa melihat keindahan yang ada di Okinawa ditemani oleh pria asing yang rupawan namun keduanya bersikap layaknya mereka sudah mengenal sejak lama.
"Aku tidak pernah senyaman ini dengan seseorang yang baru aku temui." Celetuk Hashirama sambil menatap Madara yang tengah minum.
"Begitu juga aku."
.
Bugh!
"Shit." Umpat Madara saat seorang anak kecil yang tidak sengaja menabraknya serta menumpahkan jus pada baju Madara.
"Ma-maaf." Anak kecil itu dengan segera mengambil sapu tangan dan memberikannya pada Madara. "Aku tidak sengaja."
Melihat raut wajah ketakutan bocah didepannya membuat Madara tidak kuasa untuk memarahinya. "Lihat sekitarmu jika kau jalan."
"Aku sedang buru-buru mengejar temanku, Tuan. Aku sangat menyesal."
Bocah itu sangat sopan hingga membuat kekesalan Madara menghilang seketika.
"Tidak apa-apa. Sudah sana kejar temanmu lagi tapi ingat lihat sekitarmu dan sapu tanganmu untukku sebagai pengganti kau menumpahkan minuman pada bajuku."
Anak itu membungkukan badannya dan terus bergumam meminta maaf lalu berjalan pergi.
"Hey, ada apa dengan bajumu?" tanya Hashirama yang baru datang dari kamar mandi.
"Tadi ada anak kecil yang tidak sengaja menabrakku dan menumpahkan minumannya." Jawab Madara masih sambil membersihkan bajunya.
"Penginapanku tidak jauh dari sini. Kau bisa memakai bajuku." Tawar Hashirama.
"Sepertinya bukan ide yang buruk."
.
Madara hampir berubah menjadi patung saat Hashirama membukakan pintu penginapannya.
"Ini penginapanmu?"
"Ya."
Madara menatap pria yang sudah menemaninya sejak pagi ah bukan sejak malam itu. "Penthouse ini penginapanmu?"
"Yup." Penginapan Hashirama Senju di Okinawa adalah Penthouse di salah satu gedung yang terkenal akan biayanya yang mahal.
Madara memang berasal dari keluarga kaya tapi kekayaan keluarganya jelas tidak akan bisa membuatnya menyewa Penthouse ini selama sisa liburan musim panas ini.
"Ayo, masuk."
Dan barulah Madara sadar jika ia masih berdiri di ambang pintu Penthouse Hashirama. Ia pun melangkah masuk dan barulah Madara sadar ia hanya memakai sepatu kets yang usianya sudah dua tahun, pantas saja saat di lobi banyak orang yang menatapnya aneh. Sakarang Madara merasa ia tidak cukup layak bahkan hanya untuk berdiri disamping Hashirama.
"Sepertinya baju ini pas untukmu."
Madara menatap tangan berkulit tan Hashirama. Pria itu memandangnya sambil tersenyum dan senyum itu begitu tampan.
"Terimakasih."
Hashirama mengernyit bingung tapi Madara hanya mengambil kaos tersebut dan berjalan ke kamar mandi yang ditunjuk Hashirama.
Madara mengganti bajunya dengan cepat lalu menatap pantulan dirinya di cermin, ia kini tengah memakai kaos Hashirama. Kaos sederhana namun Madara tahu harganya pasti mahal.
"Dia menawan, bukan?" Tanyanya pada dirinya sendiri. Madara lalu mengerang dan memukuli kepalanya. "Fuck senyum cerah diwajah tampan itu, fuck kulit tan-nya yang sexy dan fuck tubuh tinggi serta aura dominannya."
Tok tok tok
"Madara, kau sudah selesai belum?" Tanya Hashirama dari luar.
"Tunggu sebentar." Madara menatap pantulan dirinya untuk terakhir kali lalu berjalan keluar.
Hashirama memandang Madara dari atas kebawah beberapa kali lalu berhenti pada wajah tampan sosok yang baru dikenalnya semalam.
"Kau tidak melakukan touch up kan?"
"Sialan, kau pikir aku perempuan?!"
Hashirama tertawa lebar. Sejak semalam ia memiliki hobi baru yang sangat ia sukai yaitu menggoda sosok menawan didepannya.
"Malam ini ada Festival Kembang Api di Pusat Kota, mau kesana?"
Iris hitam Madara langsung cerah mendengarnya. Ia dan Izuna sangat suka kembang api sejak kecil dan selalu menghadiri Festival Kembang Api di Tokyo setiap tahunnya. Di Tokyo, Festival Kembang Api selalu dilaksanakan saat Musim Semi, di Okinawa ternyata dilaksanakan saat Musim Panas.
"Mau."
.
Suara dentuman terdengar sangat keras. Mata Madara terbelalak melihat keindahan cahaya berwarna-warni menghias langit Musim Panas kota Okinawa. Mereka berada di bibir pantai yang sepi -yang kata Hashirama adalah spot rahasianya bila ia ingin melihat Kembang Api.
Pemandangan didepannya begitu indah bukan hanya karena langit malam yang berhias kembang api namun juga pada laut yang memantulkan cahaya itu. Madara tidak pernah melihat pemandangan kembang api semenakjubkan ini.
Hashirama melirik pemuda disampingnya dan tidak bisa mengedipkan matanya sedikitpun, wajah Madara yang rupawan dengan mata jernih dan murni lebih indah dari kembang api yang sudah sering ia lihat.
Hashirama sangat yakin, Madara adalah berkah yang diberikan para Dewa untuknya. Tanpa sadar tangan Hashirama terangkat dan mengelus pipi putih didepannya.
Madara tersentak ketika merasakan sentuhan tangan hangat Hashirama pada pipinya. Madara tertegun ketika ia melihat tatapan Hashirama. Pipinya mengeluarkan semburat berwarna merah ketika wajah Hashirama mendekat padanya.
Dan Madara dibuat lupa akan dunia ketika merasakan sentuhan pertama bibir Hashirama pada bibirnya.
Dari luar, Madara terkesan dingin dan tidak berperasaan tapi bibir Uchiha sulung itu begitu lembut dan manis, bagaikan dango yang dulu disukai Hashirama. Ciuman itu singkat namun memiliki efek yang mendalam untuk keduanya terutama jantung mereka yang berdebar kencang.
"Aku tertarik untuk memilikimu, Madara."
"Memilikiku?"
"Ya."
Hashirama membawa tangan Madara didepan bibirnya lalu mengecup punggung tangan Madara dengan lembut.
"Sebut aku gila tapi aku jatuh cinta pada pandangan pertama padamu. Tidak rasional memang tapi inilah kenyataannya."
"Jika aku menyebutmu gila maka aku juga sama gilanya denganmu, Hashirama."
Malam itu mereka kembali ke Penthouse Hashirama dan melakukan ciuman kedua, ketiga, keempat dan seterusnya. Bibir Hashirama begitu ahli mengeskplor mulut Madara yang tidak melakukan perlawanan sama sekali dalam ciuman mereka. Madara membiarkan Hashirama mengeksplor dan mendominasi mulut serta tubuhnya.
Hashirama melepaskan pagutan bibir keduanya dan menatap intens Madara yang sudah sangat pasrah dibawah tubuhnya. "Kau yakin mau melakukannya?"
"Ya."
Hashirama hanya bersmirk dan kembali menjamah bibir dan tubuh Madara. Mereka melanjutkan ciumana mereka yang semula lembut dan manis menjadi ciuman intens yang hanya bisa dilakukan oleh dua orang dewasa.
.
Madara terbangun ketika cahaya fajar menelasak masuk melalui celah-celah jendela penthouse milik Hashirama. Senyum langsung mengembang dibibirnya yang membengkak akibat ciuman serta aktivitas panas mereka semalam.
Ia menggigit bibir bawahnya dan menatap wajah tampan Hashirama. Kekasihnya.
"Wake up." Madara berbisik.
"Hng."
"Bangun, Hashirama."
Mata Hashirama terbuka dengan perlahan dan iapun langsung tersenyum melihat keindahan didepannya.
"Selamat pagi, Mada-chan."
Pipi Madara merona mendengar panggilan tersebut, apalagi setelah resminya hubungan mereka membuat panggilan itu terkesan lebih istimewa.
"Aku mau mandi."
"Hm."
Hashirama mendekatkan wajahnya pada ceruk leher Madara dan mulai memberikan kecupan-kecupan disana. Madara terkikik geli namun tidak mendorong Hashirama sama sekali.
"Morning sex tampaknya bukan ide yang buruk."
Dan Madara hanya tertawa karena ia setuju dengan ucapan Hashirama.
.
Madara baru selesai mandi saat ponsel Hashirama yang ada diatas meja bergetar. Hashirama tampaknya sengaja membuat ponselnya dalam mode getar.
Madara mengambil ponsel pintar itu dan berniat memberikannya pada Hashirama yang masih terlelap namun gerakannya terhenti saat melihat nama yang tertera dilayar.
Fiancee is Calling...
Madara tanpa sadar menahan nafas dan merasakan rasa nyeri yang tak tertahankan mendera hatinya.
Hashirama sudah memiliki tunangan.
Dengan tangan bergetar Madara mengambil ponsel milik Hashirama dan mengangkatnya.
"Hashi-kun, kau sudah sampai mana? Biar aku menjemputmu di Bandara. Aku sudah menelponmu sejak kemarin tapi kau tidak mengangkatnya sama sekali. Jangan lupa jika pernikahan kita diadakan sebulan lagi dan Kaasan sendiri yang akan merancang baju pernikahan kita."
Rasa sakit di hati Madara semakin menjadi-jadi mendengarnya. Pernikahan dilakukan sebulan lagi? Berarti Hashirama sudah serius dengan wanita ini.
"Hashi-kun, kenapa kau diam sa-"
Ponsel yang semula ada ditangan Madara kini direbut secara paksa oleh seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah pemilik ponsel itu sendiri, Hashirama Senju.
"Mito-chan, aku akan menghubungimu lagi." Ucap Hashirama pada wanita diseberang telepon dan dengan segera mematikan ponselnya.
Hashirama memanggil wanita itu dengan sebutan Mito-chan. Seketika perasaan istimewa yang dirasakan Madara saat Hashirama memanggilnya Mada-chan tidak memiliki makna apapun lagi.
"Calon Istrimu?" Tanya Madara dengan suara bergetar.
"Ya."
"Sudah berapa lama kalian bertunangan?"
"Satu tahun."
Tangan Madara mengepal.
"Kenapa kau tidak memakai cincin tunangan?"
"Aku suka menghilangkan barang jadi aku menyimpannya."
Karena cincin itu istimewa dan Madara tidak keistimewa itu.
"Bangsat!" Umpat Madara dan dengan segera mengambil pakaiannya yang berserakatan dan memakainya dengan cepat. Ia tidak mempedulikan Hashirama yang memandanginya dengan nanar.
"Mada-chan."
"Berhenti memanggil seperti itu. Kau bahkan tidak layak memanggil namaku." Pipi Madara memerah akibat menahan amarahnya namun matanya yang bening kini hancur layaknya cermin pecah. "Harusnya aku sadar pria sepertimu pastinya sudah dimiliki oleh orang lain. Bodohnya aku."
"Aku tidak pernah mencintai Mito, kami menikah karena perjodohan."
"Tapi dia tetap calon istrimu. Sedangkan aku? Siapa aku bagimu, Tuan Hashirama Senju? Hanya pemuda bodoh yang jatuh kedalam perangkapmu yang bisa kau mainkan sesuka hatimu."
"Aku bisa membatalkan pernikahanku dengan Mito." Hashirama menahan tangan Madara yang hendak berbalik pergi.
Jika semula Madara menatapnya dengan perasaan kecewa dan patah hati, kini sang Uchiha menatap Hashirama seakan dia adalah makhluk paling hina di muka bumi.
"Tidak, Bedebah. Cukup hatiku saja yang kau sakiti. Jangan hati calon istrimu juga."
Setelahnya Madara langsung keluar dari kamar Penthouse milik Hashirama yang menjadi saksi percintaan mereka semalam dan akhir dari cinta itu.
.
Izuna membuka pintu Kabin ketika mendengar ketukan ringan di pintu. Sang Uchiha muda hampir berteriak melihat kondisi mengenaskan sang kakak.
"Aniki."
"Izuna, kata orang musim panas selalu membawa kebahagiaan." Air mata membasahi pipi Madara. "Tapi mengapa musim panasku dipenuhi dengan kesedihan?"
Terakhir kali Izuna melihat sang kakak meneteskan air mata yaitu saat Ibu mereka meninggal dan itu sudah lima tahun yang lalu.
Izuna dengan segera membawa tubuh sang Kakak yang lebih tinggi beberapa centi darinya dalam pelukannya. "Aniki, maafkan aku."
"Aku benci musim panas." Madara balas memeluk tubuh sang adik. "Dan aku membencinya karena membuatku mencintainya."
Izuna membawa Madara masuk kedalam Kabin yang ternyata sudah ada Tobirama. Setelah menenangkan diri dan dibujuk oleh Izuna, akhirnya Madara menceritakan semuanya.
Tobirama menundukkan kepalanya. "Dia memang bedebah."
"Kau mengenalnya?"
"Dia sepupu jauhku. Saat aku melihat kalian berdua berbicara, aku ingin memeringatimu tapi kau sudah mabuk, Lalu saat kami membawamu pulang, dia memaksa untuk ikut, Izuna juga sedikit mabuk jadi aku butuh tenaga ekstra dan membiarkannya untuk ikut kemari."
"Kau harusnya mengusirnya setelah itu." Izuna hampir murka pada kekasihnya.
"Iya, Izuna. Aku memang mengusirnya tapi dia tidak menjadi CEO seluruh perusahaan Senju jika dia tidak memiliki pendirian yang teguh."
.
"Aku tahu tatapanmu itu, pergilah sebelum ada yang terluka diantara kalian berdua. Terutama Madara." Tobirama menatap tajam sang sepupu.
"Kenapa kau peduli pada Madara?" Kini Hashirama juga ikut kesal, dia tidak suka betapa pedulinya sang sepupu pada Madara. Madara adalah miliknya. Hanya dia seorang yang harus peduli pada Madara. Orang lain tidak boleh.
"Dia calon Kakak Iparku. Izuna mengatakan bahwa lebih susah mendapat restu Madara ketimbang Ayah mereka. Jadi aku tidak ingin dia ikut membenciku jika kau melukai hatinya."
"Aku tidak akan melukai hatinya." Hashirama berkata serius.
"Kau akan melukai hatinya. Kau jelas tahu itu."
"Tobirama-"
"Sebentar lagi kau akan menikah, Hashirama. Ingat Mito, calon istrimu."
Hashirama terdiam beberapa saat, ia hampir melupakan nama wanita yang berstatus sebagai tunangannya selama satu tahun ini.
"Aku mengingatnya. Amat sangat mengingat Mito." Hashirama berbohong. "Tapi Madara, dia membuatku jantungku berdetak kencang, dia-"
"Tidak ada yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama." Tobirama memotong dengan tajam. "Kau hanya menyukai fisik Madara. Setelah kau mendapatnya kau akan meninggalkannya. Kau akan melukainya." Tobirama mengenal baik sang sepupu.
"Tobirama-"
"Aku berterimakasih atas bantuanmu malam ini tapi lebih baik kau pergi. Aku tahu kau di Okinawa karena urusan bisnis."
"Biarkan aku menginap disini."
"Tidak."
"Hari sudah malam, akan sangat berbahaya untukku kembali ke Penthouse sendirian."
Tobirama memutar matanya. "Kau pemegang sabuk hitam Taekwondo lima tahun berturut-turut. Tidak ada satupun Yakuza yg membuatmu takut. Mereka tunduk padamu."
"Mobilku masih ada di Club." Hashirama begitu gigih.
"Aku akan mengantarmu."
"Dan membiarkan kakak beradik rupawan yang tengah mabuk hanya berdua di Kabin kecil ini?"
Sebenarnya Kabin ini tidak sekecil ucapan Hashirama namun namanya Kabin, hampir semuanya terbuat dari kayu.
"Bagaimana jika ada orang yang menyelinap masuk saat kau mengantarku ke Club?"
Tobirama akhirnya menyerah namun Ia mengancam Hashirama untuk pergi pada pagi hari.
.
"Lalu kenapa dia ada disini tadi pagi? Kau tidak mengusirnya?" Tanya Madara saat Tobirama selesai menceritakan pembicaraannya dengan Hashirama kemarin malam.
"Aku mengusirnya dan dia memang pergi pagi itu. Izuna bangun lebuh dulu darimu dan kami keluar untuk membeli sarapan, saat kami kembali kau sudah tidak ada. Lalu kami memeriksa CCTV dan melihat Hashirama masuk dan mengajakmu keluar."
"Kami-sama." Madara mengingat kalimat Hashirama yang mengatakan apapun yang ia inginkan akan selalu ia dapatkan bagaimanapun caranya.
"Aku mencoba menghubungimu tapi kau meninggalkan ponselmu, Aniki. Seharian ini kami mencarimu bahkan mendatangi Penthouse Hashirama tapi kami selalu terlambat, kau dan dia sudah pergi."
Madara memeluk tubuhnya sendiri. Dia tidak pernah takut apapun seumur hidupnya tapi baru kali ini ia takut, takut pada seorang pria yang membuatnya jatuh cinta.
"Aku ingin kembali ke Tokyo."
"Aku akan mengemasi pakaian kita." Dengan itu Izuna masuk ke kamar untuk mengemasi barang-barang bawaan mereka yang untungnya hanya sedikit.
Tobirama mendudukkan dirinya disamping Madara. "Kau bisa menyuruhku untuk membunuhnya. Aku akan melakukannya."
"Aku bisa melakukannya sendiri, Tobirama."
"Kau bisa membunuhnya tapi biarkan aku dan Izuna memukulinya dulu."
"Jangan mengotori tanganmu dan jangan membuat tangan adikku kotor. Cukup aku saja yang kotor."
Tobirama menatap Madara. "Dia memperko-"
"Tidak. Aku membiarkannya menyentuhku."
Keheningan menyelimuti mereka berdua.
"Tobirama, aku tahu kau belum menyentuh Izuna." Madara membuka suara.
"Memang belum. Aku menghormatinya keputusannya untuk tidak melakukan sex sebelum menikah." Tobirama memang memiliki watak yang keras tapi bukan berarti dia tidak menghargai orang lain terutama sosok pemuda yang memiliki status sebagai kekasihnya.
"Izuna sudah memberitahu jika dia Male Pregnant?" Madara menyandarkan kepalanya pada bahu kursi, ia menatap kosong langit-langit Kabin.
"Ya. Jangan bilang-"
"Aku juga seorang Male Pregnant."
.
Sebulan kemudian Madara menyaksikan layar televisi yang dipenuhi akan berita pernikahan mewah Hashirama Senju dengan Mito Uzumaki. Madara meremas stik putih yang ia pegang saat kamera menyorot wajah tampan sang mempelai pria.
"Hashirama." Menyebut nama pria seakan menelan sepuluh liter bisa ular cobra bagi Madara.
Madara menundukkan kepalanya saat pasangan pengantin itu berciuman untuk menyegel ikatan pernikahan mereka. Iris hitamnya menatap stik putih kecil yang ia pegang sejak tadi.
"Maaf, Nak. Kau hanya memilikiku. Tapi aku berjanji. Aku akan memberikan segalanya untukmu kecuali Ayah kandungmu."
Selesai berkata demikian Madara mematahkan stik putih yang merupakan testpack dengan satu tangannya.
.
"Tousan!"
Teriakan Rei membawa Madara kembali ke realita. Ia memandang putra semata wayangnya yang tengah berlari mendekat.
"Jangan lari-lari atau kau akan terja-"
Bugh
"-tuh."
"Aduh."
Madara memutar matanya. Ia pun berjalan mendekati putranya yang terjatuh. Untungnya mereka berada di bibir Pantai jadi jatuhnya Rei tidak terlalu keras. Madara menarik tubuh Rei dan membantu membersihkan pasir yang menempel pada pakaian sang putra.
"Ada yang sakit?"
Rei menggeleng. Rambut hitam acak-acakannya membingkai wajah rupawannya. Ia adalah jiplakan sempurna Madara terkecuali gaya rambut dan ekspresi cerianya yang selalu menghangatkan orang-orang yang melihatnya.
"Bukannya kau sedang membuat Istana Pasir dengan Kagami? Kenapa lari-lari mendekati Tousan?" Melalui sudut matanya, Madara melihat Kagami masih asik membuat Istana Pasir. Kagami hanya berbeda dua tahun dari Rei.
"Karena aku khawatir pada Tousan."
Madara mengernyit bingung. "Kenapa menghawatirkan Tousan? Tousan baik-baik saja."
"Tousan tidak baik-baik saja." Rei menggenggam tangan sosok yang sudah melahirkannya. Madara memang Tousan-nya tapi Rei telah diberitahu sejak dulu jika Madara jugalah sosok yang melahirkannya. "Sejak kita sampai di Okinawa kemarin. Tousan sering melamun dan terlihat sedih."
Madara mengumpat dalam hati. Seperti ia mengenal putranya luar dalam, Rei juga mengenal dirinya luar dalam. Rei pasti merasakan gelagat tidak biasa dirinya sejak mereka tiba di Okinawa.
Madara tahu ia tidak bisa membohongi Rei. Ia mengajarkan anaknya untuk tidak pernah berbohong maka ia pun tidak boleh berbohong pada Rei.
"Tousan sedang memikirkan sesuatu, Rei."
"Memikirkan apa?"
"Masa lalu yang menyakitkan."
"Seseorang pernah menyakiti Tousan? Siapa? Akan Rei balas." Ekspresi kesal terlihat jelas pada wajah Rei. "Berani sekali dia menyakiti Tousan-ku yang paling berharga."
"Itu hanya masa lalu, Rei. Dia mungkin sudah lupa."
.
Faktanya Hashirama Senju tidak pernah melupakannya. Ia akan selalu mengingat betapa bahagia dan hancurnya Madara pada musim panas sepuluh tahun yang lalu dan dialah penyebabnya.
"Mito-chan, aku ingin kita cerai."
Sang wanita berambut merah terdiam selama beberapa detik sebelum tersenyum, senyum yang tidak sampai ke matanya.
"Aku sudah menunggu kalimat itu selama sepuluh tahun ini, Hashi-kun."
Hashirama ingin bertanya apakah Tobirama mengatakan sesuatu pada Mito karena hanya Tobirama yang tahu bahwa dia mencintai seseorang disaat dirinya telah memiliki tunangan.
Mito mengangkat tangannya, menghentikan penjelasan yang akan Hashirama berikan. "Sepuluh tahun yang lalu di Okinawa, kau bertemu seseorang bukan?"
"Bagaimana kau tahu?"
"Intuisi seorang wanita sangat kuat, Hashi-kun."
Hashirama mendudukkan dirinya didepan wanita yang sudah ia nikahi selama sepuluh tahun ini. "Maafkan aku, Mito-chan."
"Kau mencintainya?"
"Ya. Aku mencintainya Mito-chan walaupun aku hanya bertemu dengannya sekali tapi aku yakin sekali dia lah pemilih jiwa dan ragaku."
"Kalau begitu jangan minta maaf, Hashi-kun. Jangan pernah meminta maaf karena kau telah jatuh cinta. Harusnya akulah yang meminta maaf padamu. Maaf sudah membuatmu tidak bisa bersama dengan orang yang kau cintai. Maafkan aku, Hashi-kun."
"Mito-chan."
"Selama sepuluh tahun ini aku tahu kau tidak mencintaiku, kau telah jatuh cinta pada orang lain tapi aku dengan egois hanya diam saja dan berdoa setiap hari pada Kami-sama agar kau mencintaiku tapi hasilnya nihil. Cintamu tidak di takdirkan untukku."
Mito memegang tangan besar Hashirama.
"Pergilah, Hashi-kun. Dapatkan dia. Berikan cintamu padanya. Aku melepasmu dengan suka rela."
Sebulan kemudian Hashirama dan Mito resmi bercerai di mata hukum. Hak asuh anak jatuh pada Mito walaupun begitu Hashirama berjanji bahwa dia akan sering mengunjungi Tsunade karena bagaimanapun Tsunade adalah putri mereka berdua.
Selesai persidangan Hashirama bergegas kerumahnya dan memasukkan beberapa pakaiannya. Musim panas sebentar lagi akan berakhir tapi tidak masalah untuknya, ia tahu alamat rumah Madara.
Hashirama terlalu fokus akan kegiatannya hingga ia tidak menyadari kedatangan Tobirama yang entah sejak kapan sudah ada di kamarnya.
"Kau terlambat."
Hashirama menghentikkan aktivitasnya, ia memandang sepupunya tidak mengerti. "Maksudmu?"
Tobirama melemparkan koran padanya. Hashirama tentu saja semakin bingung namun ia membuka koran milik Tobirama dan jantungnya serasa ditusuk pedang saat membaca headline utama.
Ashura Otsutsuki resmi menikahi Madara Uchiha di Okinawa.
"Selamat menikmati karmamu, Hashirama." Adalah kalimat terakhir Tobirama sebelum berlalu pergi meninggalkan Hashirama yang mulai hari ini menikmati karmanya.
.
THE END of LOVE AND WAR : SUMMERTIME SADNESS
25 September 2021
