Flowers

Disclaimer: Saint Seiya bukan milik saya. Ditulis demi pelampiasan badmood dalam rangka meramaikan #nulisrandom2021 saya posting juga di facebook /ehe

[Friendship DMAphro dengan bumbu MiloMus]

[SS SoG alternate ending di mana bukannya ilang jadi butiran debu, Gold Saint hidup bahagia di Asgard, DMAphro bantu-bantu di toko bunga Helena karena kenyataan bisa jadi apapun yang saya inginkan HAHAHA]

Warning: Bahasa bunga di sini cuma modal gugel dan ngeyel saja.

.

.

.

Begitu Scorpio Milo muncul dari balik pintu, gagang sapu dalam genggamanku refleks melayang menuju kepalanya. Dan seperti yang sudah kuduga, ia dapat mengelak dengan mudah.

Bukan berarti dia menerima keramahtamahanku dengan perasaan yang sama.

"Deathmask, serius?" Ia mendekap erat apapun itu dalam pelukannya, rambut birunya meruncing tajam serupa kucing yang sedang marah (huh, aku tak tahu dia bisa melakukannya). Kuduga, manuver mengelak tadi juga adalah sebuah refleks. "Begitukah caramu menyambut teman?"

Teman? Dirinya? Yang benar saja. "Aku tidak pernah menganggapmu demikian."

Dia balas menatap dengan wajah teramat dongkol seolah ucapanku tadi benar-benar menyakiti hatinya. Sensitif sekali.

Lalu aku mendadak tersungkur. Pipi kiriku perih seolah tersengat, lidahku dapat mengecap asin darah pada jaringan dinding mulut yang robek terbuka. Butuh setengah menit bagiku (ya, aku sudah mulai karatan) untuk mengerti bahwa aku baru saja ditonjok.

Aphrodite, pelaku pemukulan, mengacungkan telunjuk bermanikur sempurna tepat di wajahku, "Sopankah begitu?" lalu semudah mengganti topeng, ekspresi marahnya lenyap seketika digantikan senyum sangat manis dan postur tubuh sempurna laksana pramugara, menghadap tamu tak diundang kami, "Selamat datang di toko bunga sederhana kami—"

Begitu mengetahui identitas si tamu, Aphrodite menanggalkan lagak sopan santunnya segera. Lidahnya berdecak sebal, "Tsk, kamu, toh. Ngapain ke sini?"

"'Tsk'?" Milo, entah bagaimana aku juga heran, merasa berhak untuk tersinggung. "Jangan tsk-kan aku! Aku ini pelanggan."

Aku dan Aphrodite seketika itu saling pandang, sebelah alis terangkat tinggi. Kami mengerti pemikiran satu sama lain bahkan tanpa perlu membuka suara. Pelanggan? Dirinya? Yang benar saja.

"Aku punya uang."

Serta merta kami berdua berlutut, sebelah tangan tersampir di dada kemudian kompak berkata, "Apa yang dapat hamba persembahkan untuk Anda, Tuan?"

"Laknat." Kini giliran Milo yang mendecakkan lidah, tetapi ia tak membantah. Ia menarik bangku kemudian duduk di hadapan kami yang masih bersimpuh. "Aku butuh informasi."

Sesuatu beraroma harum ia sodorkan pada kami, aku menyadarinya sebagai benda yang tadi ia dekap. Sebuket bunga warna-warni.

"Apa yang kalian tahu tentang bahasa bunga?"

"Kamu datang pada ahlinya," jawab Aphrodite, lalu dia menyeringai. "Dari siapa?"

Milo tersenyum miring; sombong dan angkuh, tetapi rona di masing-masing pipi mengkhianatinya, "Tebak."

Aku menonton wajah Aphrodite berubah bingung, tak menentu, terkesiap dan cerah berbinar-binar dalam waktu kurang dari satu menit, "Tidak mungkin." Ia menuntut, "Camus?"

Senyum congkak Milo makin merekah.

"Dalam rangka?" Aphrodite berdecak kagum. "Ulang tahunmu masih lama."

"Memangnya harus tunggu ulang tahun dulu baru boleh dapat hadiah?" Milo berucap sebal, tetapi masih belum cukup untuk menodai suasana hatinya sekarang. "Aku ingat kamu pernah bilang bunga punya bahasa mereka sendiri. Jadi, barangkali—hanya barangkali—ada sebuah pesan terselubung di dalamnya."

"Hoho," Aphrodite tertawa penuh konspirasi. "Aku paham maksudmu."

Aku tidak, tetapi uang adalah uang. Kuraih buket bunga tersebut, "Jadi kita cuma harus menerjemahkan saja, begitu?"

"Tepat."

Secara garis besar, buket ini dibentuk oleh tiga rangkaian bunga utama, Aphrodite tengah menginspeksi rangkaian pertama.

"Anyelir," ia mengusap ujung kelopaknya yang bersudut-sudut runcing. "Petal-petal harum meledak dalam pola kacau balau seolah Kaos sendiri yang mengukirnya. Putih melambangkan 'manis dan cantik', tetapi salah memadukan warna dapat pula bermakna penghinaan dan penolakan pahit 'aku tak bisa terus bersamamu'—"

"Tapi warnanya merah muda," celetukku.

Jika tatapan dapat membunuh, aku pasti sudah jadi jenazah.

"Jangan. Potong. Solilokuiku." Setelah puas melihatku terjengkang kaget, Aphrodite melanjutkan soliloi-apalah-itu-nya, "Merah muda, akan tetapi, berucap dalam kalimat merdu 'aku tak akan melupakanmu'."

Wajah Scorpio Milo kini semerah muda anyelir dalam buket bunga, "L-lanjutkan."

Perhatian Aphrodite jatuh pada rangkaian bunga kedua, kamelia putih, "Tersusun bertumpuk-tumpuk dalam petal putih bersih yang tak satu pun simetris. Merekah dalam proteksi penuh kebanggaan akan putik yang tegak penuh kegagahan. Lambang afeksi dan kekaguman mendalam. Kamelia, 'aku sangat menyayangimu'."

Milo mengangkat sebelah tangan, meminta Aphrodite untuk berhenti sejenak. Bukan ia yang berpidato panjang lebar, tetapi napasnya mulai tak keruan. "Dan yang terakhir?"

Jemari Aphrodite menyusuri rangkaian bunga ketiga dan yang paling megah, "Mawar adalah kasus spesial. Beragam warna, beragam varietas, beragam seruan perasaan berbeda. Lambang dan simbol bersorak-sorai dalam anak-anak petal bahu membahu melahirkan wujud merekah terpadu. Namun, warna adalah bahasa, dan bunga ini cerah laksana sinar matahari. Kuning, yang melambangkan kelembutan sebuah persahabatan—"

"Tunggu sebentar," aku mengambil risiko untuk menyela. "Jadi kalau digabung, buket bunganya berarti ..."

Aku tak akan melupakanmu.

Aku sangat menyayangimu.

Sebagai teman.

Untuk lima menit penuh, kami berkontemplasi akan pesan terselubung rangkaian bunga tersebut.

Kemudian aku berdiri, menepuk bahu Milo penuh simpati, "Ayo, kutraktir minum."

.

.

.

A/N:

Plot twist: Camus pilih bunganya random aja.

Terima kasih telah berkunjung. Maafkeun atas ketidakakuratan bahasa bunganya ya.

Saya juga ingin berterima kasih pada teman-teman yang masih fav, follow, komen dan berikan apresiasi pada fanfik-fanfik lama saya meski sudah bertahun-tahun tidak update, huhu. Serius, kalian moodbuster sekali. Terima kasih banyak. Kalian luar biasa!

Jaga kesehatan dan jaga senyum semua!