Nonsense Future

Disclaimer: DMM.

Warning: OOC, typo, enggak jelas, dll.

Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini. Semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi, dan untuk event bulanan di FFA dengan tema "bosan hidup"


Mereka sendiri belum pernah memperlakukan atap sekolah sebagai tempat tongkrongan. Namun, dari semilir angin yang bisik-bisiknya lembut, dan warna biru yang terbuka yang seolah-olah menyambut apa pun, Dazai Osamu pikir ini tidaklah buruk. Terlebih ia bersama Akutagawa Ryuunosuke yang seperti biasanya, lekat dengan rokok serta tatapan mata yang selalu jauh.

Satu tahun lalu, Akutagawa adalah kakak kelasnya. Sekarang ini tentu ia sudah lulus, melanjutkan jalan kehidupan sebagai mahasiswa, lalu tahu-tahu lulus lagi yang entahlah, Akutagawa bekerja apa nantinya. Di mata Dazai sendiri, Akutagawa tidak banyak berubah. Ia masihlah Akutagawa Ryuunosuke yang murah senyum, dan yang diam-diam paling mencolok dari sosoknya tersebut adalah, perasaan di mana Akutagawa percaya tubuhnya ini merupakan kurungan.

Tubuhnya itu adalah kurungan. Yang membuat Akutagawa tidak bisa sesuka hati mengatur rasa lapar, haus, kapan ia sedih atau putus asa, sehingga Akutagawa merasa setiap harinya ia "diperkosa" oleh duka; hidup yang meresahkan. Duka yang akan abadi sebab ia terus menggagahi Akutagawa.

Raga ini pun merupakan sangkar yang mana Akutagawa dimasukkan ke dalam sana, lantas ia turut merasa diperlakukan semena-mena. Manusia memang adalah sedu sedan paling mendalam. Kesempurnaannya yang digambarkan dengan dua mata, satu hidung, satu mulut, dan dua telinga, justru membuat ia terkekang oleh harapan maupun tuntutan dari orang tua, serta masyarakat. Sementara apabila seseorang kehilangan salah satunya (cacat), ia juga dihina-hina dipergunjingkan yang karenanya-lah, tingkat kesedihan tertinggi ialah wujud manusia.

"Omong-omong bagaimana kabarmu, Akutagawa-san?" Pertama-tama Dazai berbasa-basi. Asap rokok sekali lagi Akutagawa embuskan, sebelum ia menjawab Dazai.

"Baik, kok. Dazai-kun sendiri bagaimana?"

"Kalau di hadapanku Akutagawa-san tidak perlu pakai hafalan, kali."

"Sudah hafal, ya. Memang benar kabarku tidak baik-baik saja, walau orang tuaku menyayangiku, dan aku masih mendapatkan makan serta barang yang kuinginkan. Jadi Dazai-kun sendiri bagaimana? Sebentar lagi kamu kuliah, bukan?"

"Begitulah~"

"Masuk sastra prancis, kan?"

"Sayangnya enggak boleh. Setelah berdebat panjang dengan ayah, aku dipaksa masuk akuntansi seperti Akutagawa-san. Atau kalau tidak manajemen. Pokoknya jangan seni atau sastra. Nanti makan kentut doang. Saking miskinnya tak bisa juga makan tahi sendiri entar."

Kata "kentut" sampai "tahi" yang mereka dengar, membuat Dazai dan Akutagawa tertawa kecil berbarengan. Keduanya memang selalu kekurangan pekerjaan, jika sudah bersama-sama seperti sekarang. Apa pun bisa diobrolkan, pasti seru, di mana bagian yang paling Dazai favoritkan adalah pembahasan mengenai kematian. Hanya dengan Akutagawa ia dapat bebas membicarakannya. Entah secara mendalam ataupun yang dangkal seperti Dazai berkata ia ingin mati, lalu Akutagawa mengiyakan Dazai.

"Mau tak mau kamu setuju, ya."

"Sama seperti Akutagawa-san, memang. Mau bagaimana lagi, karena ayahku-lah yang membiayai kuliahku. Saat aku berkata ingin bekerja selama setahun buat menabung, dia menolaknya." Mula-mula Akutagawa itu ingin mandiri di sastra inggris. Namun, apalah daya saat keinginannya ditolak. Ia sendiri tak seberani Dazai yang sekiranya bisa berdebat, walau ujung-ujungnya harus kalah.

"Kamu pintar, kok. Seharusnya bisa survive asalkan pintar."

"Duh. Aku sendiri tidak merasa begitu. Menurutku Akutagawa-san lebih pintar daripada aku, dan hal tersebut memang nyata."

"Tetapi pintar dan bisa melakukan apa pun, sebenarnya juga berarti apa, ya? Padahal yang kita inginkan adalah melakukan yang kita mau. Dapat melakukan apa pun, berarti tak dapat melakukan yang diharapkan. Sejak awal keinginan kita sendiri bukanlah apa pun, sebenarnya, melainkan semata-mata dinilai sebagai keegoisan. Melenceng dari masyarakat."

Tawa yang miris lolos dari bibir Dazai. Tentu saja dia, juga Akutagawa, tergolong pada keinginan yang dianggap tidak dapat menjadi apa pun, atau lebih tepatnya bahkan tidak pantas (hanya karena pilihan itu bernama sastra). Semuanya pun menjadi salah Akutagawa dan Dazai. Kenapa pula sejak awal, keduanya tiada memiliki harapan yang bisa menjelma apa pun macam ekonomi atau teknik? Sungguh pemalas, ogah berusaha, sampah sekali, makanya mereka mempunyai keinginan yang justru melawan.

Dasar menyeleweng, memang! Apa yang mereka pikirkan sampai-sampai cacat begini; menolak mengikuti masyarakat, merasa tak bisa atau cocok, padahal di sanalah keduanya akan bernaung.

Merekalah yang tolol.

Padahal sudah jelas, seni atau sastra itu keinginan yang sesat. Masyarakat justru begitu baik, dan mengharapkan mereka sejahtera, sehingga anak-anak muda selalu diingatkan agar memilih ekonomi, komunikasi atau teknik. Bahkan diharuskan begitu yang mana, secara tak langsung ini merupakan upaya mengurangi kehidupan yang sulit. Sesuatu yang lebih luar biasa, mulia, sekaligus agung, dibandingkan program (kopong) pemerintah.

"Salah melulu, sih. Capek sumpah. Mengikuti kemauan mereka pun kalau kita salah dalam melakukannya, kita tetap saja salah."

"Dari lahir sebenarnya kita sudah salah jurusan malah," balas Akutagawa enteng. Lagi-lagi Dazai tertawa kecil penuh ironi.

"Harusnya jurusan kematian, ya. Bukan kehidupan. Memang salah masuk dari lahir." Tangan Dazai tersodor ke arah Akutagawa. Memahami maksudnya, Akutagawa langsung memberikan rokok yang tersisa, beserta pemantik. Dazai pun mengikuti jejak Akutagawa yang sepertinya, ia kecanduan nikotin sejak mengenal Akutagawa juga.

"Kita tidak cocok dengan kehidupan padahal, tetapi masuk jurusan kehidupan. Orang-orang benar kita ini sangat bodoh."

Siapa-siapa saja yang hidup itu memang seharusnya kuat, atau memiliki kekuatan untuk kuat. Seandainya dunia mempunyai mulut, pasti mulutnya adalah mulut yang menyuarakan lelah, bukan? Sebab dari hari ke hari manusia lebih jatuh cinta kepada maut. Mereka mengeluhkan sambil menangisi masyarakat, masa depan, tujuan, makna kehidupan, arti perjuangan ... terulang-ulang yang pastinya terkesan membosankan.

Oleh karena itu, dengan mereka yang hidup karena mereka kuat, dan memiliki kekuatan untuk kuat, manusia-manusia yang tidak cocok dengan kehidupan sekiranya dapat menghilang saja; mengurangi populasi dari kesia-siaan; berhenti menampung ketidakbergunaan. Dunia pasti lebih senang, jika yang bernapas adalah yang menggenggam bara api. Bukan yang terseok-seok, letih, hancur berkali-kali pun tak bisa bermanfaat atau menemukan cahayanya, karena yang demikian mana pernah enak dilihat.

Sebab yang stres begitu sekadar dipuji sebagai berharga, sebenarnya agar berhenti merusak pemandangan menggunakan keputusasaan, 'kan?

(Kebaikan manusia benar-benar tidak menarik lagi bagi Akutagawa, sesungguhnya.)

"Jurusan paling berat memang. Mau pindah bakalan dicerca habis-habisan. Sudah sulit, bikin menderita, disuruh berjuang melulu, ujung-ujungnya malah merasa tidak ada gunanya. Jadi, untunglah aku bertemu Akutagawa-san."

Walaupun pertemuan mereka itu, hanya berdasarkan ketidaksengajaan. Saat ia kelas sepuluh, Dazai pernah ke atap sekolah untuk bunuh diri. Uwabaki-nya telah ia lepaskan yang tiba-tiba saja, Akutagawa muncul. Namun, bukannya menghentikan kegilaan Dazai, kakak kelasnya tersebut malah mengajak Dazai lompat bersama. Entahlah kenapa pula keduanya berhenti, lalu hidup hingga kini yang makin krisis eksistensi padahal.

"Kenapa? Aku bahkan bukan orang yang berguna. Hobiku adalah menulis, ketika orang tuaku maunya aku membangun usaha sejak dini."

"Buatku menulis juga keren, kok. Aku sendiri bersyukur, karena Akutagawa-san bisa mengerti. Bahwa walaupun kita ini hidup, kita lebih mirip dengan kematian itu sendiri."

Kematian tidak memiliki apa-apa selain gelap dan hitam, seperti mereka. Bagi kematian juga, masa lalu, kini, ataupun depan, tiada artinya, di mana Akutagawa serta Dazai turut menganggapnya demikian. Di dalam kematian sesuatu takkan pernah terjadi, dan inilah yang diincar itu. Seharusnya benar-benar merupakan dunia yang tenang, pun bebas, saat seseorang tak perlu mendengar kehidupannya disalahkan, hanya karena ia memilih pulang pada keputusan yang berbeda, atau terus-terusan melihat yang tidak sedikit pun memahami dirinya selain menyalahkan dia.

Kematian yang buta akan apa pun adalah mereka. Bahwa mereka juga seperti itu, di mana masa kini saja telah sedemikian samar, jadilah hari tahu-tahu berlalu. Kesia-siaan merupakan napas yang sesungguhnya yang kembali diulangi.

Akutagawa tentu memahaminya. Selain seperti mereka, kematian pun begitu enak dengan tidak perlu melangkah. Hanya hitam, gelap, tetapi semuanya dapat dikatakan selesai. Tiada yang perlu diperbuat juga untuk membuatnya selesai.

"Benar juga. Setidaknya aku bisa menghargai itu untuk sekarang ini. Rokokku belum habis juga."

"Sama, Akutagawa-san. Kelihatannya juga rokokmu masih banyak, deh. Berarti masih ada yang dapat kita obrolkan, bukan?"

"Seperti orang-orang yang bertanya kenapa kita ingin mati, hanya karena masalah jurusan kuliah?"

"Menarik, sih. Tetapi mau dijelaskan kayak bagaimanapun juga, mustahil mereka mengerti kurasa. Mereka mungkin tidak pernah dipaksa sampai ditekan. Sedari pertama keinginannya sudah mengikuti hal-hal biasa di masyarakat." Sebetulnya menjengkelkan, tetapi di satu sisi Dazai ogah marah-marah. Apa yang salah dari melenceng? Malahan Dazai takut tanpa seniman, pujangga ataupun penulis, manusia menjauh dari manusia dan menjadi AI itu sendiri.

"Beban antara mereka yang sejak awal keinginannya sesuai masyarakat, dan mereka yang dipaksa mengikuti entah oleh orang tua atau yang lain, memang sangat berbeda, ya. Satu hal itu saja rasanya berat. Belum lagi ada faktor-faktor lainnya seperti takut terhadap masa depan …"

Sejenak Akutagawa terdiam. Mungkin ia memang berlebihan dalam membayangkannya, tetapi bukankah masa depan itu memang mengerikan, selalu nyata adanya? Bagaimana jika Akutagawa menganggur? Apakah pula Akutagawa bisa lulus? Ia dapat melakukan apa sebenarnya? Kenapa semua yang ia pikir harus ia perbuat, justru semakin mendekatkannya kepada keputusasaan sekaligus kesia-siaan?

Keputusan dari dirinya sendiri tidak membahagiakan Akutagawa. Lebih-lebih yang datang dari orang tuanya, lalu sekitar.

Kenapa dia masih tahu caranya bernapas, apabila segala di hidupnya hanyalah tentang mempertanyakan? Padahal Akutagawa juga paham tak semua jawaban bisa diperoleh, tetapi ia tidak bisa berhenti. Rasa-rasanya jika tak memikirkannya, Akutagawa mustahil melakukan sesuatu. Namun, di satu sisi berkutat dengan hal-hal tersebut juga menyebabkannya berhenti.

"Hah … nanti aku jadi apa, ya? Aku ingat impianku adalah menjadi penulis, tetapi di satu sisi aku merasa lupa juga. Atau mungkin seolah-olah itu tidak berada di mana pun."

"Jadi kehampaan memang enak kayaknya. Aku takut enggak bisa memenuhi tuntutan orang tuaku, karena sejak awal aku inginnya masuk sastra.

"Sama, Dazai-kun. Aku juga takut seperti kakakku yang tidak kunjung menemukan pekerjaan, lalu tambah putus asa."

Langit tidak pernah jernih lagi semenjak mereka memikirkan dunia. Akutagawa lantas menghela napas begitu pun Dazai, ketika seperti biasanya obrolan ini tidak mencapai apa pun, selain berputar-putar di satu titik.


Tamat.


A/N: Semua yang kutulis ini nonsense sih alias omong kosong. cuma pengen aja karena ya ... di sebuah grup WA sedang membahas ini sejak kemarin2 hingga detik ini. aku cuma nulis yang kurasain aja soal masa depan, dan diriku yang juga gak sesuai kemauan masyarakat (ekonomi, teknik). makanya fic ini gak menyediakan jawaban atas apa yang selalu kita pertanyakan itu. yang ada cuma kebuntuan karena aku sendiri ngerasa buntu, clueless. emang pengennya mati aja dan baiknya mungkin mati aja. biar dunia gak perlu menampung kesia-siaan kayak saya ini.