ROTG by Dreamworks
Warning : Adult!Jamie - BL! - Shounen Ai!
Rating : Berusaha kutekan jadi cuma T (uwu) (w)
Jamie yang sudah besar kini semakin menampakkan pahatan atletis pada dada bidangnya. Tak hanya itu, banyak dari dirinya berubah pula sekarang. Suaranya yang kian memberat, garis rahangnya yang kian tegas dengan beberapa helai jenggot tipis yang mulai tumbuh meskipun saat ini statusnya adalah siswa sekolah menengah atas. Ditambah lagi dengan kulitnya yang semakin eksotis berkat liburan musim panas yang seru beberapa tahun belakangan... pastilah bakal jadi idola baru bagi kaum hawa.
Tapi, ada satu hal yang tak berubah darinya. Yaitu kebiasaan suka bermain lempar salju pada musim dingin... terlebih lagi sejak kehadiran sosok Guardian berisik yang sangat mengganggu itu... yeah. Dia sangat mengganggu. Dia membuat kekacauan di mana-mana. Di jendela rumah orang, di halaman rumahnya, pada orang-orang yang sedang beraktivitas, dan juga pada... hati Jamie.
Benar, 'kan? Jack tak akan berhenti mengganggu sebelum Jamie menggubris godaannya untuk membalas permainannya.
Seperti saat ini... Jack terlihat lengah darinya karena sibuk melempar salju pada teman-teman sekolah Jamie.
Dan...
Bughh!
Sebuah bola salju pun mengenai tengkuk Jack yang sedang membelakangi Jamie, mengakibatkan Guardian itu terjerembab ke tumpukan salju.
"Ouch!" pekik Jack tertahan karena wajahnya mencium timbunan salju. Jamie tertawa penuh kemenangan.
"Hahahaha! Rasakan itu, Pipsqueak!" ejek Jamie sampai terduduk di atas salju. Namun ketika ia melihat ke belakang...
Teman-temannya hanya memandang dengan diam. Beberapa dari mereka terlihat bingung.
"Dengan siapa kau berbicara, Jamie?" tanya salah satu dari mereka.
Susah payah Jamie menghentikan tawa sebelum menyadari hal itu. "Kalian... kalian tak bisa melihatnya? Hei, ini Jack! Jack Frost! Guardian kita pada musim dingin," Jamie beranjak dan mengangkat Jack untuk ia tunjukkan pada teman-temannya yang rupanya tak bisa melihat Jack.
"Jack Frost? Aku pernah mendengarnya sebelumnya."
"Kukira dia cuma dongeng anak-anak."
"Benarkah? Apakah dia monster yang menyeramkan?"
Jamie yang cengo, memutar bola matanya.
"Ayolah, teman-teman. Percaya saja, dan kalian akan bisa melihatnya."
Namun reaksi para teman malah saling berpandangan satu sama lain.
"Pasti menyenangkan ya, punya teman khayalan."
"Wow... masa kecilmu pastilah indah."
"Sampai jumpa, Jamie."
Dan mereka segera berbalik pulang setelah berkata begitu. Jamie mencoba menahan mereka tapi sia-sia.
Cowok remaja itu pun menghela napas hangat yang berembun.
"Hei...," panggil Jack pelan.
Jamie tak menjawab dan terlihat hendak pulang, maka Jack mencoba memancingnya lagi. Sebuah bola salju menghantam punggung Jamie.
"Lupakan, Jack. Aku ingin beristirahat saja. Semakin dingin di sini." Kepalanya mendongak ke atas langit dan menyaksikan awan semakin gelap menghujani permukaan bumi dengan salju yang kian deras, kemudian memasukkan kedua tangannya ke saku mantel sebelum melangkah.
Jack semakin frustasi melihatnya. Ia terbang mengelilingi Jamie yang terus berjalan, yang hanya melirik-lirik sekilas tanpa menggubris apa-apa.
"Kalau kau tak ingin bermain lagi, setidaknya jawab aku, Jamie!"
Jamie tersadar. Entah sudah berapa lama dia terlamun sambil berjalan, bahkan ia baru sadar kalau ia terlamun. Maka Jamie pun mendongak lagi menatap Jack yang masih asik terbang mengitarinya.
"Setelah ini kau mau ke mana?"
"Tidur, mungkin." Jamie mengedikkan bahu. "Atau mengerjakan tugas sains terakhir sebelum liburan musim dingin."
Jamie naik ke kamarnya dan hendak menutup pintu setelah ditahan oleh Jack. membuatnya menghela napas.
"Aku mau ganti baju. Mau lihat?"
Jack yang terkejut segera melepaskan genggamannnya pada gagang pintu. Kesal, sang Guardian pun memutuskan untuk terbang keluar lagi, dan berputar-putar di luar jendela kamar Jamie.
Kemudian dia iseng mengintip sedikit, hanya untuk mendapati Jamie tengah bertelanjang menampilkan tubuh atletisnya, membuatnya terlonjak lagi dengan wajah memanas.
Benarkah itu Jamie? Bocah kecil yang dulu bergigi ompong dan mata sayu kurang tidur hanya untuk menemaninya melawan Pitch Black sepanjang malam? Kenapa sekarang-
Ah, Jack tidak mau menyebutkan kata itu!
Dia berusaha mengenyahkan pemandangan tubuh dewasa Jamie dengan cara terbang ke sana-sini, sebelum akhirnya jendela itu terbuka lagi. Jamie sekarang sedang bersiap untuk tidur, mengingat langit di atas sana kian gelap.
Jack bertengger di jendela. Memandang Jamie yang sepertinya benar-benar tak menggubrisnya lagi, kemudian memutuskan untuk pergi dengan lesu.
Dan saat itu pula, Jamie malah menyadari kalau ia sudah terlalu lama tak mengacuhkan Jack. Jamie pun bangun dari kasurnya dan berjalan ke jendela.
"Hei, hei. Aku tidak tidur dulu," kata Jamie sambil membuka jendela kamar. Hawa dingin segera menyeruak masuk namun ia tidak peduli.
Jack menoleh dengan ogah-ogahan, wajahnya ditekuk cemberut yang entah kenapa sekarang malah terlihat imut bagi Jamie. Ia pun terkekeh kecil melihatnya.
"Lagi dong cemberutnya, lucu tahu..." Jamie kini giliran menggoda, meringis sambil bertopang dagu pada kusen jendela.
"Apa sih!"
Sedetik kemudian Jack sadar dengan kata-katanya barusan. Kenapa dia malah terkesan merajuk?
Dan benar saja, tawa Jamie semakin keras.
"Sini."
Suara baritonnya seakan menghipnotis Jack. Membuatnya langsung menuruti si pemilik suara dan duduk di atas kusen luar jendela kamar meskipun melempar pandangan ke luar karena masih kesal dengan Jamie.
"Hei." Jamie mencoba meraih wajah Jack dengan lembut, lalu membuatnya memandang wajahnya.
Mereka berpandangan sekarang. Jamie yang melemparkan pandangan lembut dan hangat, sedangkan Jack merasa wajahnya memanas dan terhipnotis oleh tatapan Jamie.
"Gimana sih rasanya terbang?"
"Bukankah kau pernah merasakannya?"
"Secara teknis... tidak. Aku kan hanya meluncur di atas papan dan berselancar pada rel salju."
"Bagaimana dengan aku yang mengangkatmu terbang saat kau menjemput teman-temanmu?"
"Ah... kurasa, sedikit."
"Hah?" Jack mengerling sewot karena jawaban Jamie tidak nyambung.
"Aku ingin terbang..." Jamie bergerak memeluk sebelah lengan Jack dengan gestur manja, ia bahkan memejamkan matanya, seolah-olah tidur di lengan Jack.
"Mampus kau! Kasihan, tidak bisa terbang, ya..." Jack yang terperanjat dengan gerakan Jamie yang tiba-tiba itu, berusaha menenangkan dirinya sendiri dengan mengejek Jamie lagi. Meskipun tak urung, hatinya berdebar hebat sekarang.
Tetapi kata-katanya hanya dibalas dengan kuapan dari Jamie, menandakan bahwa dia memang mengantuk sekarang. Dan dengan tiba-tiba lagi, Jamie menarik Jack dengan sekali tarikan untuk masuk ke kamarnya, dan dengan cepat menutup jendela.
"Hei!! what the-"
Belum selesai sampai di situ, Jamie menambahkan dengan menggendong Jack dan membaringkannya ke ranjang dengan sedikit tidak pelan--hampir seperti membanting.
"Ouch! Jamie! Apa-apaan, sih?"
"Berani mengejekku lagi, hm?"
Jack kini telah dihimpit oleh Jamie di atasnya. Lampu tidur yang temaram membuat sosok Jamie terlihat seperti siluet, menjadikan bentuk tubuhnya yang padat atletis di balik kaus tipisnya lebih menonjol daripada warna wajahnya.
Jack meneguk ludah. Kenapa ia selemah ini sekarang? Bahkan saat menyadari hal itu pun dia cuma bisa merutuki diri sendiri. Ia benci tubuhnya sendiri yang semakin seperti boneka belaka bagi Jamie. Namun... mengapa ia menikmatinya?
"Iyaaa, iyaaa.. dah. Tidur. Tidur!" Jack sekuat tenaga mendorong Jamie ke samping, yang kali ini tak membalas. Kemudian Jack langsung menyelimutinya dengan bed cover langsung, agar situasi canggung ini tak berlangsung lebih lama lagi.
"Hmm... enak banget diselimutin Guardian-ku...," gumam Jamie yang tersenyum sebelum tenggelam dalam tidur.
"Huh, terserah!" Jack memutar bola mata, lalu menyadari bahwa ia juga bosan... mungkin tak ada lagi anak-anak atau orang-orang yang bisa diajaknya bermain saat ini, dan untuk pertama kalinya, ia merasa jenuh. Dan malas.
Malas untuk terbang ke belahan bumi yang lain...
Entahlah. Melihat Jamie yang tertidur pulas, ia jadi penasaran... gimana sih rasanya tidur?
Sudah berapa abad ia tak merasakan rasanya tidur sejak jadi Guardian... dan kini Jack mencoba merebahkan diri ke atas ranjang di samping Jamie, dan mencoba memejamkan mata.
Malam itu Jamie bermimpi... Dia dan Jack ada di atas awan. Lebih tepatnya, ada di atas puncak gunung yang menembus awan... dengan Jack yang terbang mengitarinya dengan pelan.
Entah siapa yang berbicara, mungkin Jack. Kata-kata yang ada di mimpinya sangatlah jelas sekali, paling jelas di antara bunga tidurnya yang lain.
Kata-kata yang diucapkan itu berbunyi...
Yang harus kau lakukan hanyalah bermimpi
Bermimpilah dan panggil namaku, Jack
Namaku, pahatlah di dalam hatimu sedalam-dalamnya
Jangan lupa, aku adalah guardianmu
Yang harus kau lakukan hanyalah berkata-kata cinta padaku
Kau kehilangan hatimu padaku
Kau tak bisa menahannya
Lupakan saja orang lain
Semua yang kau inginkan akan jadi kenyataan
Kau akan tahu rasanya terbang ke atas awan
Banyak hal akan terjadi hingga kau tak bisa membayangkannya
Aku bisa jadi fantasimu
Aku akan tunjukkan segala hal yang kau inginkan
Fantasi
Akan kukabulkan semua keinginanmu
Mimpi menjadi nyata...
Mimpi menjadi nyata...
Mimpi menjadi nyata...
Matanya membuka bangun dengan cepat. Napasnya sedikit terengah, membuatnya terdengar seperti mengerang pelan.
Yang tak disangkanya adalah, Jack ternyata tidur di sampingnya!
Terduduk, Jamie mengucek mata memastikan pengelihatannya. Benar saja, Jack benar-benar tidur dengan pulas. Jamie mengernyit. Jadi Guardian juga bisa tidur, ya?
Kemudian ketika ia hendak beranjak untuk ke kamar mandi sebentar, ia merasakan basah pada sprei di balik selimutnya.
ASTAGANAGABONARJADIDUA!
Dia... mimpi basah...
"Woahh!!" Jamie refleks memekik.
Tunggu, tunggu. Apakah ini tentang Jack? Benarkah dia mimpi basah tentang Jack?
Kapan terakhir kali dia mimpi basah? Bukankah dia pernah mengalaminya sebelumnya?
Naas, pekikannya tersebut membangunkan Jack. Terlihat Jack mengerang pelan sebelum menggerakkan tubuhnya bangun.
"Ngghh... eh, ma... maaf aku ketiduran- eh! Apa itu?"
Rupanya Jamie menyingkap selimut jadi Jack bisa melihat suatu bercak aneh pada tempat tidur Jamie.
"Apaan?" Jamie giliran sewot sambil menutupinya lagi.
"Hmm, sebentar... aku pernah tahu ini sebelumnya. Aha! Kau... kau mimpi basah, ya..."
Jack segera berkelit terbang ke langit-langit kamar Jamie sebelum Jamie yang geram mencoba menangkapnya.
"Hahahayyy... cieee... yang udah dewasa..." Jack terus mengejek dan naasnya ia lengah, maka Jamie pun menangkapnya.
Jack dibanting lagi ke atas kasur, dengan Jamie yang dengan sigap langsung naik ke atas tubuhnya. Kali ini Jamie tak membiarkan Jack terlepas barang sebentar saja. Ia dengan kuat mengurung Jack yang meronta tertahan karena kedua lengannya juga dikunci oleh kedua lengan Jamie.
"Hei, Jack...," panggil Jamie dengan suara sangat berbisik. Nada baritonnya membuat Jack merinding lagi.
"Hei, hei, maaf...," balas Jack yang kini tak bisa bergerak lagi.
"Tidak bisa. Kau harus membayarnya. Tapi... enak kok."
"Hah?"
"Begini. Kau kan sudah pernah mengajakku terbang. Nah, sekarang... giliran aku yang mengajakmu 'terbang'. Mau?"
"Maksudnya?"
Jamie mendekatkan wajah mereka, dan mencium bibir Jack sekilas. "Udah... nikmati saja. Aku juga bisa membawamu 'terbang' ke langit ketujuh, loh... Jack. Sini kuajarin."
Fin.
Lanjutin aja sendiri yah uwu
Iyaa author tahu kok mungkin telat yah buat ikut meramaikan fandom ROTG Indonesia, tapi mau gimana lagi... emang tahu film itu dari tahun 2017 sih *hiks *hiks
dan tahu ada fandomnya di ffn juga baru 2018an kalau nggak salah ya
tapi nggak apa-apa, deh. senang bisa nyumbang :D
(BTW, fic ini terinspirasi oleh lagu kpop 'AOA-Fantasy').
