Disclaimer: I don't own Detective Conan, Frankenstein, and Winter Woods. Detective Conan belongs to Gosho Aoyama, Frankestein belongs to Mary Shelley, dan Winter Woods belongs to COSMOS/Van Ji.
Warning: This is an Alternate Universe. Nama tempat dan plot hanya beberapa yang berkorelasi. Tidak ada kisah detektif dan ilmuwan yang mengecil. Mungkin OOC. Benar-benar cerita fiksi, jadi kalau ada yang tidak masuk akal, jangan terlalu dipikirkan, namanya juga cerita fiksi :p mungkin banyak typo juga.
l' espérance
i
New Life, New Hope
Alkisah, hiduplah seorang Profesor yang terkenal dengan kegilaannya dalam menciptakan peralatan berteknologi canggih.
Tidak ada orang yang berani mendekat padanya karena mereka menganggap Profesor itu gila.
Ia hidup sendiri tanpa memiliki keluarga.
Ia pernah jatuh cinta pada seorang gadis berambut pirang, namun sayang, gadis tersebut pergi sebelum ia sempat menyatakan perasaannya.
Profesor itu terus menyibukkan diri dengan temuannya, hingga akhirnya ia memilih mengasingkan diri di sebuah laboratorium tua miliknya yang ada di tengah hutan.
Hari demi hari ia lewati dalam kesendirian dan akhirnya ia menyadari bahwa ia membutuhkan seseorang untuk menemaninya.
Saat ia larut dalam kegundahan, ia memutuskan untuk melakukan sesuatu.
"ITU DIA! AKU AKAN MENCIPTAKAN KELUARGA UNTUKKU!"
Suatu malam, saat tiada orang, ia pergi ke sebuah pemakaman.
Diambilnya beberapa mayat dari liang kubur yang masih baru.
Ia mulai mencoba menyambung-nyambungkan bagian tubuh mayat-mayat itu untuk membuat seorang manusia.
NAMUN SETEIAP KALI MELAKUKANNYA, IA SELALU MENEMUI KEGAGALAN!
Berkali-kali ia menemui kegagalan.
Bagian tubuh mayat-mayat tidak dapat menyatu hingga membusuk.
Dan Profesor itu berkali-kali berusaha menyambungkan bagian tubuh mayat-mayat lain hingga menjadi satu kesatuan tubuh yang utuh.
Meski sempat berkecil hati, ia tak menyerah.
Demi menciptakan keluarga untuknya sendiri.
Saat Profesor itu sudah berhasil menyambungkan bagian-bagian tubuh tersebut, tibalah saatnya sang Profesor memberikan jantung pada tubuh itu.
Ia membelah dada ciptaannya.
Mengaktifkan kontraksi otot jantung lewat aliran listrik.
Tidak ada reaksi.
Membelah dada ciptaannya lagi.
Memasukkan jantung baru pada tubuh ciptaannya lagi.
Dan terus-menerus memberikan arus listrik pada jantung ciptaannya.
Berulang-ulang kali.
Tiap kali ia melakukannya, jumlah luka di tubuh manusia buatan itu bertambah.
Ia menghabiskan begitu banyak waktu dengan ciptaannya yang gagal.
Sampai akhirnya ia menjadi seorang kakek tua.
Ia tetap tak menyerah.
Demi memberikan kehidupan pada "Manusia Buatan" itu
Setelah menyelesaikan percobaannya yang ke-1000, ia berpikir.
"AH, BETAPA SULITNYA MEMBERI KEHIDUPAN PADA JANTUNG SESEORANG…"
Ia pun memutuskan menjadikan percobaannya yang ke-1001sebagai upayanya yang terakhir.
Ia melihat ciptaannya yang terbaring di meja operasi.
"KALAU SAJA KAU BERHASIL HIDUP, DENGAN SENANG HATI AKU AKAN MENGANGKATMU SEBAGAI ANAK PEREMPUANKU."
"AKU INGIN MEMBUAT SEBUAH KELUARGA UNTUK BERBAGI SUKA DAN DUKA, NAMUN KAU… KAU BAHKAN HANYA SEONGGOK TUBUH TAK BERNYAWA. JANTUNGMU BAHKAN TAK BERDETAK."
"Manusia buatan" yang ada dihadapannya tak bergeming, tak ada kehidupan di dalam tubuhnya.
Lalu percobaan ke-1001 sang Profesor pun dimulai.
Badai salju lebat yang seakan mampu menenggelamkan dunia akhirnya berhenti.
Dan waktu nan panjang pun berlalu.
Jantung sang "Manusia Buatan" itu mulai berdetak.
Berawal dari denyutan lemah, namun lama-kelamaan semakin kuat dengan ritme yang pasti.
Sang Profesor terduduk lemas saat menyaksikan percobaan ke-1001 nya berhasil.
Hari berganti hari, sang Profesor memastikan "Manusia Buatan" itu memang hidup dan tetap hidup.
Hingga tiba akhirnya "Manusia Buatan" itu akhirnya membuka matanya.
Sang Profesor terpana menatap mata pirus seorang gadis dihadapannya.
Sang "Manusia Buatan" balas menatap mata sang Profesor tua itu.
"MULAI SEKARANG PANGGIL AKU AYAH. KAU ADALAH ANAK PEREMPUANKU. NAMAMU HAIBARA AI."
"Manusia Buatan" itu berusaha membuka mulutnya yang masih terasa kaku demi menirukan perkataan sang Profesor untuk memanggilnya Ayah.
"A… A… A…"
"TIDAK APA-APA, PELAN-PELAN SAJA. AKU AKAN MENGAJARIMU SEMUANYA DARI AWAL."
Sang Profesor tersenyum bahagia, dengan ini ia berhasil menciptakan sebuah keluarga untuknya.
Markas MPD, 09.00 A.M
"Bagaimana, Satou-san? Apakah sudah ada titik terang mengenai kasus pembongkaran makam dan pencurian organ-organ tubuh ini? Aku sudah mengerjakan kasus ini selama hampir 22 tahun, tapi kenapa sulit sekali menemukan petunjuk? Aku melimpahkan kasus ini kepadamu agar kau dan tim mu bisa menyelesaikannya. Sepertinya aku sudah terlalu tua hingga tidak dapat berpikir dengan benar."
Inspektur Megure membuka percakapan untuk rapat hari ini.
"Saya juga meminta maaf pada Inspektur, karena saya dan tim juga belum menemukan petunjuk mengenai kasus ini. Pelaku sangat pintar menyembunyikan jejaknya. Tidak ada bukti apapun yang tertinggal di TKP, dilihat dari pola kejadian, sepertinya pelakunya adalah orang yang sama," Satou Miwako menjawab pertanyaan Inspektur Megure.
"Selamat Pagi, Inspektur Megure! Mohon maaf saya terlambat menghadiri rapat pagi ini!"
Suara khas bariton dari seorang pria muda berambut hitam, bertubuh tegap, dan berpakaian seragam polisi lengkap dengan atributnya memenuhi ruang rapat, tidak lupa dengan gerakan hormat yang ia tujukan pada Inspektur Megure. Semua perhatian mengarah padanya.
"Kenapa kau datang terlambat, Kudo-kun? Rapat ini memang baru saja dimulai, tapi bukan berarti kau boleh datang terlambat seperti ini."
"Mohon maaf, Inspektur. Saya baru saja menangani sebuah kasus di perjalanan saya menuju kesini."
"Ckckck… Kau selalu saja mengundang kasus dimanapun kau berada, Kudo-kun," Inspektur Megure berucap sembari facepalm. "Ehem… Satou-san, kau pasti sudah mengenal Kudo-kun . Mulai saat ini dia akan bergabung dalam tim mu. Bimbing dia dengan baik. Semoga kasus ini juga bisa terselesaikan dengan bantuan analisis dari Kudo-kun."
Miwako mengangguk.
"Kalau saya boleh tahu, kasus apakah ini, Inspektur?" tanya Shinichi.
"Sebenarnya kasus ini sudah terjadi hampir 22 tahun yang lalu. Kami tidak membuka ini ke publik karena dikhawatirkan akan menimbulkan kepanikan, jadi hanya tim internal khusus saja yang mengetahui dan menyelidikinya. Ini adalah kasus pembongkaran makam dan beberapa fotongan tubuh serta organ-organ tubuh yang menghilang setelahnya. Tapi makam yang dibongkar adalah makam yang masih baru, pelaku juga hanya mengincar makam perempuan muda berusia 17 hingga 30 tahun dan makam tersebut adalah makam tanpa nama, tidak ada identitas apapun, tidak pula memiliki anggota keluarga."
"Jadi selama 22 tahun terus terjadi kasus pembongkaran makam dan tindakan mutilasi hingga saat ini?" Shinichi cukup terkejut mendengarnya.
"Tidak sampai saat ini," kali ini Miwako yang menjawab. "Tidak ada kasus pembongkaran makam hampir tiga bulan terakhir ini, tapi kita tetap harus mencari pelakunya."
"Apakah sama sekali tidak ada petunjuk yang tertinggal di TKP?" tanya Shinichi lagi.
"Kau bisa datang ke TKP untuk melihatnya langsung, Kudo. Takagi, kau antar Kudo ke TKP nanti! Selidiki lagi apapun, sekecil apapun, carilah lagi petunjuk mengenai pelaku!" perintah Miwako kepada Takagi.
"Siap, laksanakan!" jawab Takagi.
"Jadi, selamat bergabung, Kudo-kun! Kukira kau akan menetap bersama orang tuamu di Amerika selamanya," ucap Takagi saat dia dan Shinichi dalam perjalanan menuju TKP.
"Aku kira juga begitu, tapi ternyata sepertinya aku sangat mencintai Jepang. Hahaha…" jawab Shinichi.
"Aku harap kau bisa membantu menyelesaikan kasus ini. Media mulai mencurigai kasus ini beberapa tahun lalu, tapi Inspektur Megure dan tim berhasil menutupinya, jika masih tidak dapat terselesaikan, aku yakin tidak lama lagi pihak media akan mengetahui semuanya dan mempublikasikannya. Ini akan sangat menghebohkan Jepang."
"Apakah benar-benar tidak ada petunjuk mengenai ini? 22 tahun bukan waktu yang sebentar dan cukup mengejutkan jika kasus ini terus terjadi tanpa kalian bisa menemukan pelakunya."
"Kami tahu itu, Kudo. Ayahmu pun bahkan pernah membantu Inspektur Megure untuk mencari tahu pelakunya, tapi sepertinya Ayahmu juga kesulitan untuk menemukan petunjuk tentang kasus ini dan memilih berhenti di tengah penyelidikan. Inspektur Megure tidak berhasil membujuk Ayahmu untuk kembali dan sebenarnya Ayahmu pun punya hak untuk berhenti kapanpun, karena dia bukan tim resmi MPD. Jadi, aku berharap kau bisa membantu kami dan kau tidak bisa seenaknya berhenti, karena kau adalah bagian dari tim kami. Haha…"
Shinichi mengernyitkan alisnya, dia tidak menyangka jika ayahnya, Kudo Yusaku, pernah menyelidiki kasus ini, karena ayahnya tidak pernah sekalipun membicarakan mengenai kasus ini dan kalau sampai ayahnya memilih berhenti di tengah penyelidikan, apakah berarti kasus ini sangat sulit hingga ayahnya pun gagal untuk menyelidikinya? Tapi, bukan Shinichi namanya jika dia menyerah, justru dia merasa tertantang untuk menyelidiki kasus ini dan merasakan euphoria kemenangan melawan kehebatan analisis ayahnya jika dia berhasil mengungkap kasus ini.
Mobil yang dikendarai Takagi memasuki sebuah area pemakaman, Takagi segera memarkirkan mobilnya dan mereka berdua menuju ke dalam area pemakaman.
"Pelaku biasanya tidak melakukan pembongkaran di area pemakaman yang sama, aku memilih tempat ini sebagai tempat pertama untuk kita selidiki, karena disini terakhir kalinya pelaku membongkar makam, jadi mungkin kau masih bisa menemukan sebuah petunjuk dari tempat ini," Takagi menjelaskan kepada Shinichi.
"Jadi, apa saja yang pelaku ambil dari tempat ini?" tanya Shinichi sambil melihat sekitar.
"Jantung. Di tempat ini hanya ada 1 makam yang ia bongkar lalu ia ambil jantungnya. Cukup aneh, karena tidak seperti biasanya, pelaku hanya membongkar 1 makam," jawab Takagi.
"Aneh? Jadi biasanya ada berapa makam yang dia bongkar? Dan benar-benar hanya jantung saja yang dia ambil?" tanya Shinichi lagi sambil mengangkat kedua alisnya.
"Iya, aneh. Biasanya dalam 1 area pemakaman, pelaku bisa membongkar 2 sampai 3 makam, bahkan saat awal terjadinya kasus, pelaku bisa membongkar hingga 5 sampai 7 makam, tapi yang lebih aneh lagi, selama hampir 10 tahun belakangan ini, pelaku hanya mengambil jantung saja, tidak mengambil organ tubuh lain, tubuh para mayat masih utuh, hanya bagian jantungnya saja yang hilang," jawab Takagi panjang lebar.
"Aneh sekali, jika pelaku merupakan sindikat penjual organ tubuh, maka tentu ia tidak hanya akan mengambil jantung saja, organ tubuh lain pun bernilai cukup besar di pasar gelap. Apakah mayat yang dicuri memiliki penyakit di organ tubuh lainnya hingga hanya jantungnya saja yang 'aman' untuk diambil?" Shinichi menekankan kata aman dipertanyaannya.
"Hasil otopsi pada mayat rata-rata tidak menunjukkan kerusakan di organ tubuh lain, kecuali karena kecelakaan atau bunuh diri dan pelaku pun sepertinya tahu banyak tentang kondisi mayat yang dia ambil."
"Hmmm… Sepertinya pelakunya bukan orang sembarangan, kurasa dia adalah orang yang memahami ilmu medis," ucap Shinichi sambil menekan dagunya pada jarinya, ciri khas dia ketika sedang berpikir mengenai sebuah kasus.
"Ya, kami juga mencurigai hal itu," ucap Takagi lalu berhenti di depan sebuah makam. "Ini makamnya. Kau bisa mulai menyelidikinya."
Shinichi mulai mengamati dan mengelilingi makam, mencari jejak atau bukti yang mencurigakan, tapi benar seperti yang dikatakan Takagi, pelakunya sangat pandai menutupi jejak, selama hampir 15 menit, Shinichi belum menemukan satu bukti pun disana.
"Takagi-san, apakah aku boleh melihat lagi hasil otopsi dari mayat yang terakhir?" pinta Shinichi.
Takagi lalu menyerahkan beberapa lembar berkas hasil otopsi kepada Shinichi.
Shinichi melihat lagi secara detail hasil otopsi tersebut, memperhatikan dengan seksama pada setiap foto, mencerna setiap tulisan dari tim forensik, semuanya, secara detail.
"Hmmm… Apakah bekas sayatan ini sama pada setiap mayat yang diambil organ jantungnya?"
Shinichi menunjuk sebuah foto.
"Iya, aku kira begitu, apakah kau menemukan sesuatu yang aneh?"
"Panjang sayatan untuk rata-rata operasi jantung adalah 8 sampai 10 inci atau hanya sampai costal ke-7, tapi kau lihat kan Takagi-san, luka sayatannya sampai menembus ke bagian perut bahkan hampir mendekati pusar," ucap Shinichi.
Takagi masih tidak paham mengenai maksud perkataan Shinichi.
"Kau sepertinya kebingungan ya, Takagi-san? Maksudku adalah, orang ini memang paham mengenai ilmu medis, tapi dia bukan ahli bedah terbaik. Kau lihat garis sayatannya memiliki panjang yang tidak konsisten, tapi selalu lebih dari 10 inci, dan semakin lama semakin tidak rapi, jika kita lihat perbandingan pada foto-foto mayat yang lain, sepertinya dia memiliki sedikit tremor pada tangannya. Entah karena penyakit atau karena termakan usia. Aku belum bisa menyimpulkannya untuk saat ini."
Takagi sedikit takjub dengan penjelasan Shinichi.
"Aku akan menganalisis foto-foto ini lagi nanti, mungkin aku bisa menemukan kejanggalan lainnya. Bisakah kita pergi ke tempat selanjutnya? Aku belum menemukan apapun disini," ujar Shinichi.
Takagi mengangguk, mereka berdua bergegas pergi dari pemakaman itu.
Shinichi masih dalam pose berpikirnya dengan pandangan mengarah ke bawah, kemudian dia menemukan sesuatu yang aneh. Ada bercak putih kemerahan di tanah. Shinichi lantas berjongkok untuk melihatnya lebih dekat.
'Kotoran burung?' pikir Shinichi.
Takagi yang melihat Shinichi tiba-tiba berjongkok langsung menghentikan langkahnya.
"Ada apa, Kudo-kun?"
"Ah, tidak ada apa-apa, Takagi-san," Shinichi lantas kembali berdiri dan mengajak Takagi pergi.
"Kasus pembongkaran makam disini terjadi sekitar 5 bulan lalu, ada 2 makam yang dibongkar disini dan seperti yang kubilang, jantung para mayat itu menghilang," ucap Takagi saat mereka memasuki area pemakaman yang kedua.
Shinichi sekali lagi berkeliling untuk mencari petunjuk sambil memegang berkas hasil otopsi. Dia kembali menemukan bercak putih kemerahan yang sudah ditumbuhi jamur di tanah di sekitar makam itu.
'Hmmm… Kotoran burung ini lagi?' tanya Shinichi dalam hati.
Ia lalu memakai sarung tangan dan menjumput kotoran itu kemudian mengamati lalu mencium baunya.
"Apa yang kau temukan, Kudo-kun?" tanya Takagi heran melihat Shinichi mengamati sesuatu ditangannya.
"Kotoran burung ini, aku tadi juga melihatnya di tempat sebelumnya," jawab Shinichi sambil menunjukkannya pada Takagi.
Takagi semakin heran, "lalu, apa hubungannya dengan kasus ini? Kurasa wajar jika ada kotoran burung di area pemakaman, mungkin saja habitat mereka ada disini atau kebetulan saja mereka buang kotoran saat sedang terbang. Itu hal yang biasa terjadi, bukan?"
"Tapi kurasa kotoran burung ini bukan berasal dari burung yang ada disini. Kau lihat warna dan konsentrasi zatnya? Sedikit unik dan baunya pun berbeda dengan kotoran burung lain," jawab Shinichi lagi. "Dilihat dari warnanya, sepertinya burung ini pemakan hascup berry, ada bercak kemerahan pada kotorannya."
Takagi menaikkan alisnya, ikut mengamati dengan seksama.
"Aku akan membawa sampel kotoran burung ini untuk diteliti oleh tim forensik," ucap Shinichi sambil memasukkan kotoran tersebut ke dalam plastic ziplock.
"Aku masih tidak mengerti, kenapa kotoran burung ini begitu penting hingga harus diteliti oleh tim forensik?"
"Apakah menurutmu tidak aneh jika ada kotoran burung yang habitatnya bukan berasal dari tempat ini? Bahkan kotoran yang sama ada di dua tempat yang berbeda. Aku belum melihat foto di TKP lain, tapi mungkin saja aku akan menemukan kotoran itu lagi. Kalau dugaanku benar, kotoran burung ini akan menunjukkan tempat dimana pelaku tinggal. Bukankah ini bisa menjadi petunjuk yang sangat penting?"
Lagi-lagi Takagi dibuat takjub dengan analisa Shinichi. Bahkan hanya dari kotoran burung saja dia bisa mendapatkan petunjuk? Benar-benar hebat!
"Lalu, apa ada hal lain lagi yang kau temukan disini?" tanya Takagi.
"Belum ada," jawab Shinichi setelah mengamati hampir selama 30 menit pada kedua makam.
"Kau mau lanjut ke TKP ketiga? Tapi lokasinya cukup jauh dari sini, kira-kira membutuhkan waktu hampir 55 menit, kurasa sebaiknya kita beristirahat dulu karena sudah hampir masuk jam makan siang."
"Ide yang bagus, Takagi-san!"
"Nee, Takagi-san, aku melihat dari beberapa foto, ada titik hitam di beberapa bagian tulang sternum, kau melihatnya kan, Takagi-san?" tanya Shinichi sambil menunjuk titik hitam yang dimaksud di foto.
Mereka sedang berada di parkiran sebuah restaurant cepat saji setelah memesan drive thru. Mereka memutuskan untuk makan di dalam mobil saja karena banyak berkas yang masih ingin diselidiki dan cukup riskan jika mereka memeriksanya di tempat umum.
Takagi melihat foto yang ditunjukkan oleh Shinichi, "bukankah disana tertulis karena penggunaan sternal saw? Jadi, apa masalahnya?" tanya Takagi sambil mengerutkan alisnya.
"Sternal saw tidak akan menimbulkan bekas kehitaman di tulang, jika diamati baik-baik, ini seperti bekas gosong karena terbakar," jawab Shinichi.
"Mungkin saja pelaku menggunakan sternal saw jenis terbaru, kau tahu kan, seperti pemotongan dengan laser," ucap Takagi sambil mengangkat bahu.
"Bahkan dengan teknologi terbaru seperti itu pun seharusnya tetap tidak akan meninggalkan bekas kehitaman seperti ini," Shinichi meragukan ucapan Takagi.
"Jadi menurutmu itu apa?" tanya Takagi
"Aku belum bisa memastikannya, tapi kurasa ini bukan dari peralatan medis," Shinichi menarik nafas dalam-dalam, "benar-benar kasus yang rumit. Siapapun dia, dia benar-benar orang jenius yang gila!"
.
.
.
To be continued…
.
.
.
AUTHOR's NOTE: Tiba-tiba kepikiran ingin buat cerita baru tentang Manusia Buatan semacam Frankenstein gitu, trus kepikiran cerita Winter Woods juga, tapi tokoh utamanya tetap OTP andalanku ShinichiXShiho. And Voilaaa… jadilah fanfic ini!
Jadi intronya sebagian diambil dari kalimat di webtoon Winter Woods (KALIAN HARUS BACA ITU WEBTOON BAGUS BANGETTTT!), aku modif sedikit untuk penyesuaian cerita.
Kalau ceritanya dirasa gak masuk akal ya sekali lagi, harap maklum! Ini kan fiksi. Kalau dipikir-pikir mana ada sih manusia yang sudah mati bisa hidup kembali? Apalagi ini ngegabungin beberapa bagian tubuh buat jadi 1, kan gak masuk akal! Ya sama kayak cerita detektif yang minum obat trus tubuhnya bisa mengecil. Semuanya di luar nalar, tapi genre fiksi mah bebasss! Imajinasi authornya luasss, jadi segalanya dibuat mungkin disini.
Untuk warna kotoran burung HAHAHAHAHA aku sendiri ngarang bebas (sekali lagi karena ini fiksi, jadinya yaa mohon maaf), aku sudah coba cari-cari di gugel, tapi gak nemu T.T jadi akhirnya ngarang bebas saja lah warnanya.
Pokoknya kalau ngerasa gak masuk akal, jangan overthinking, nikmati saja yaa.
Btw, next chapter HEART bentar lagi selesai, jadi mungkin gak lama setelah upload cerita ini, cerita HEART akan lanjut lagi. Terima kasih ya yang sudah mau menunggu 333
Semoga cerita baru ini bisa diterima pembaca. Hehehe.
Please read and review ya Terima kasih.
