HALOOOOO! Lama tak bersua! Bahkan lebih lama dari HEART! Hehehe. Mohon maaf karena cerita ini updatenya lamban. Semoga masih ada yang mau baca! Love you ALL!

Disclaimer: I don't own Detective Conan, Frankenstein, and Winter Woods. Detective Conan belongs to Gosho Aoyama, Frankestein belongs to Mary Shelley, dan Winter Woods belongs to COSMOS/Van Ji.

Warning: This is an Alternate Universe. Nama tempat dan plot hanya beberapa yang berkorelasi. Tidak ada kisah detektif dan ilmuwan yang mengecil. Mungkin OOC. Benar-benar cerita fiksi, jadi kalau ada yang tidak masuk akal, jangan terlalu dipikirkan, namanya juga cerita fiksi :p


l' espérance

ii

Just Smile


TL: 6 bulan setelah Haibara Ai kembali hidup dan 3 bulan setelah Shinichi bergabung di MPD.

08:00 A.M.

"Selamat pagi, Ai-kun," sapa Profesor dengan senyum khasnya.

"Pagi, Ayah," balas Ai dingin tanpa ekspresi.

"Sudah kukatakan berkali-kali, kau harus membalas sapaanku dengan senyum, apa otot wajahmu masih terlalu kaku?"

"Aku masih tidak mengerti, Ayah. Kau bilang orang-orang tersenyum karena mereka bahagia, tapi kenapa aku tidak merasakan apapun? Perasaan bahagia itu sebenarnya seperti apa, Ayah? Kau juga bilang orang-orang menangis karena mereka sedih, lalu kesedihan itu sebenarnya seperti apa, Ayah?"

'Ah, sudah enam bulan dia hidup kembali, tapi dia masih belum bisa merasakan emosi seperti manusia normal lainnya,' pikir Profesor.

"Melihatmu hidup dan menyapamu setiap pagi adalah kebahagiaan untukku, Ai-kun," Profesor tua itu menjelaskan lagi untuk kesekian kalinya setiap hari dengan sabar.

"Ketika kau tidak ada, ketika aku harus hidup sendirian, itu adalah kesedihan untuk diriku," lanjutnya.

"Sudah tidak apa-apa, anakku. Kita masih punya banyak waktu untuk mempelajarinya lagi. Sekarang bagaimana kondisimu?" tanya Profesor.

"Kau lihat, Ayah, tulisanku sudah lebih rapi dibandingkan kemarin," jawab Ai datar.

"Bagus sekali! Perkembangan motorikmu sangat bagus, Ai-kun!" ucap Profesor itu antusias.

"Terima kasih, Ayah."

"Bagaimana dengan kakimu?" tanyanya lagi, lalu ia melihat sebuah luka dengan darah yang sudah mongering di lutut Ai. "Astaga! Kenapa dengan kakimu?" Profesor itu panik.

"Tadi aku terjatuh saat sedang melihat matahari terbit dan lututku terbentur bebatuan, tapi aku tidak apa-apa, Ayah."

Memang benar Haibara Ai tidak mampu merasakan sakit dan Profesor tahu akan hal itu, berkali-kali Haibara Ai terluka saat mempelajari kembali "kehidupan baru" nya dan dia selalu mengatakan dia tidak apa-apa, dia tidak merasakan apapun, dia baik-baik saja, tapi Profesor tetap saja selalu khawatir saat anak perempuan "ciptaannya" ini terluka. Sepertinya saraf sensorik pada tubuhnya belum berfungsi dengan baik. Profesor memahami konsekuensi itu dan dia dengan sangat hati-hati menjaga anak semata wayangnya walau kadang ia sendiri terlambat menyadari ketika Haibara Ai sudah mendapat luka baru.

"Kau seharusnya membangunkan aku jika ingin melihat matahari terbit, Ai. Sebentar, aku akan bersihkan lukamu terlebih dahulu."

Profesor kemudian mengambil kotak P3K dan menyuruh Ai duduk, ia lalu dengan telaten membersihkan serta mengobati luka di lutut Ai.

"Hari ini aku harus pergi ke kota untuk membeli beberapa bahan makanan dan pakaian baru untukmu, kau ingat kan apa yang harus kau lakukan?" tanya Profesor itu saat ia sudah selesai mengobati luka Ai.

Setiap 2 minggu sekali, Profesor itu pergi ke Kota untuk membeli bahan makanan, membeli keperluan dirinya dan Ai, kembali ke rumahnya untuk mengambil beberapa barang untuk penelitiannya dan menyelidiki sesuatu yang penting. Ai belum mengetahui itu karena Profesor tidak pernah memberitahukannya. Perjalanan ke Kota membutuhkan waktu sekitar 3 hingga 4 jam, terkadang ia baru kembali ke "laboratorium" yang juga difungsikan sebagai tempat tinggalnya saat ini saat matahari telah terbenam, maka dari itu ia membuat 1 peraturan khusus untuk anak perempuannya.

"Iya, Ayah. Aku tidak boleh keluar dari rumah sampai kau pulang."

Keberadaan Ai masih menjadi rahasia dan sejauh ini hanya ada 1 orang selain Profesor yang mengetahuinya. Ai bagai sebuah Kotak Pandora yang harus tetap tertutup rapat. Sekali kotak itu terbuka, maka akan banyak menimbulkan masalah yang rumit dan sulit untuk diselesaikan. Profesor tua itu yang menciptakan Haibara Ai, ia yang menciptakan Kotak Pandora itu. Demi menghindari terjadinya masalah yang tidak terduga, maka Profesor menyembunyikan sang Kotak Pandora itu dari dunia. Biarlah Ai hidup dalam persembunyian, asal ia tetap aman bersama penciptanya.

"Bagus! Sekarang tunggulah disini, aku akan membuatkanmu sarapan."

Profesor itu beranjak dari duduknya menuju ke dapur untuk membuat sarapan sederhana. Haibara Ai tidak pernah merasa lapar ataupun haus, tapi Profesor tetap memperlakukannya selayaknya manusia normal. Makan atau minum bukanlah kebutuhan untuk Haibara Ai tapi sebuah kebiasaan. Sarapan jam 8 pagi, makan siang jam 1 siang, lalu makan malam jam 7 malam. Setiap hari selama hampir 6 bulan. Menu makanan yang disajikan Profesor juga menu seadanya, tergantung bahan apa yang ada disana. Lagipula, Ai masih beradaptasi dengan segala aneka rasa makanan, sehingga dia masih tidak memiliki satu menu makanan spesifik yang dia sukai (atau mungkin Profesor yang belum mengetahuinya).


09:10 A.M.

Profesor sedang bersiap untuk berangkat dan berpamitan pada Ai, tidak lupa sekali lagi ia mengingatkan Ai dengan peraturan yang ia buat. Biasanya ia akan mengunci pintu dari luar agar Ai tidak bisa membukanya dari dalam, tapi kali ini ia lupa untuk menguncinya dan meninggalkan pintu dalam keadaan tidak terkunci. Faktor usia.

Saat ditinggal sendirian seperti ini, Ai akan membaca buku yang ada di perpustakaan mini milik Profesor. Jangan dibayangkan Ai membaca sebuah buku cerita anak-anak yang berisi gambar warna-warni penuh keceriaan, bagaimanapun, ia hidup bersama seorang Profesor, seorang penemu peralatan canggih, jadi buku-buku di perpustakaan mininya adalah buku tentang saintek. Ai pun tidak memiliki masalah dengan itu, entah mengapa rasanya sains tidak asing dengannya. Buku dengan bahasa yang rumit, penuh dengan rumus-rumus fisika, atau kalimat-kalimat yang belum tentu dimengerti orang awam justru menjadi sebuah candu untuk Ai. Profesor cukup takjub dengan hal itu. Secara motorik, Ai masih seperti anak balita yang membutuhkan eksplorasi lingkungan agar saraf dan ototnya berfungsi dengan baik, namun secara kognitif, Ai tidak dapat diremehkan. Ia bahkan mampu mengingat sistem kerja alat buatan Profesor yang rumit. Hanya emosinya saja yang belum berkembang. Ia mengerti definisi bahagia, sedih, marah, dan lainnya. Tapi ia tidak bisa merasakannya. Ai laksana sebuah robot yang memiliki kecerdasan intelektual tinggi, namun tak memiliki emosi.

Profesor menganalisa kemampuan kognitif Ai yang mungkin berhubungan dengan kehidupannya terdahulu. Ia memang "memutilasi" bagian kepala hingga leher Ai untuk disambungkan dengan tubuh lainnya. Ia tak pernah tahu asal-usul mayat yang dia ambil dan ia juga tak peduli, asalkan sesuai dengan kriteria yang ia butuhkan, maka ia akan memutilasinya sesuai dengan bagian tubuh yang dia butuhkan. Tapi Haibara Ai berbeda. Ai memiliki aura misterius yang tidak dapat didefinisikan dengan kata-kata. Sorot matanya dingin dan tajam walau tanpa emosi. Ai bukan orang sembarangan jika ditilik dari intelektualitasnya dalam mempelajari hal baru. Kematiannya pun tidak biasa karena tubuhnya diberondong beberapa selongsong peluru dan yang paling fatal tepat berada di jantungnya. Profesor pun mencurigai orang-orang yang secara diam-diam memakamkan tubuh Haibara Ai. Mereka tampak seperti kumpulan anggota organisasi misterius dengan pakaian serba hitamnya dan Profesor merasakan aura kengerian saat diam-diam mengawasi proses pemakaman itu dari kejauhan.

Biasanya setelah membongkar makam, lalu mencuri jenazah dan memutilasinya. Profesor akan mengembalikan jenazah itu ke makamnya semula, toh dia sudah mendapatkan apa yang dia butuhkan. Tapi tidak untuk tubuh Haibara Ai. Mungkin karena kematiannya yang tragis dan mencurigakan, tidak ada satupun berita kriminal yang menceritakan kasus kematian wanita muda berusia 18 tahun secara mengenaskan dengan 7 luka tembakan di tubuhnya. Jika Haibara Ai hanya seorang gelandangan atau seorang remaja biasa, kenapa ia sampai diberondong dengan peluru untuk menemui ajalnya? Korban penculikan? Korban perampokan? Tidak. Jika dilihat dari orang-orang yang memakamkannya, Haibara Ai bukan remaja biasa. Selama 12 tahun Profesor mencuri mayat, penyebab kematian paling mengenaskan yang ia temui dari mayat-mayat yang ia curi adalah tewas karena kecelakaan dan sebagian besar anggota tubuhnya hancur. Belum pernah ia mendapati penyebab kematian karena tertembak. Oleh sebab itu, Profesor memutuskan untuk memeriksa sidik jari dan DNA Haibara Ai, lalu mengkremasinya. Abu jenazah tubuh Haibara Ai beserta 7 butir peluru yang membunuh Ai tersimpan rapi di rumah Profesor di Kota. Anggaplah sebagai penghormatan terakhir dari Profesor untuk tubuh remaja 18 tahun itu karena Profesor "mengambil" bagian penting dari tubuh Haibara Ai dan memberinya kehidupan baru.

Profesor mengatakan pada Ai bahwa Ai adalah manusia pertama ciptaannya, yang dibentuk dari beberapa potongan tubuh orang lain, tapi Profesor tidak pernah menceritakan asal-usul potongan tubuh tersebut. Ai hanya menyimak perkataan Profesor dengan wajah datar tanpa ekspresi. Hidup bersama Profesor dan menjadi bagian dari keluarga Profesor sudah cukup untuk Ai.


11:15 A.M.

Ai telah selesai membaca buku tebal berisikan 600 halaman tentang fisika kuantum dan tanpa terasa 2 jam telah berlalu sejak kepergian Profesor ke Kota. Ai menuju ke dapur untuk membuat kopi. Pergerakannya masih kaku, tapi Ai telah terbiasa membuat kopi sendiri. Ia tidak merasa butuh minum, namun entah kenapa ia menyukai rasa pahit dari kopi yang ia buat. Mungkinkah kopi adalah minuman kesukaan Ai di kehidupan sebelumnya?

Saat sedang menghirup aroma kopi buatannya, Ai mendengar sebuah suara dari luar laboratorium Profesor. Ai mengintip dari jendela dan melihat seekor anjing yang entah darimana masuk ke halaman laboratorium itu. Ai hanya pernah melihat anjing dari gambar dan belum pernah melihatnya secara langsung, ia penasaran ingin menyentuhnya, tapi ia mengingat aturan yang dibuat Profesor dan ia tidak bisa keluar karena Profesor pasti mengunci pintu laboratoriumnya. Berbekal rasa penasaran untuk menyentuh anjing itu secara langsung, Ai mencoba peruntungannya dengan membuka pintu depan laboratorium dan voila… Profesor yang lupa untuk mengunci pintunya, membuat Ai berhasil membuka pintu tersebut. Perlahan Ai berjalan keluar dan mendekati anjing itu, tapi anjing itu menunjukkan perilaku defensif.

"Woofff… Woofff… Woofff… Grrroowwwlll…."

Gonggongan anjing itu memekakan telinga, tapi Ai tidak peduli. Mungkin manusia normal lain akan waspada ataupun takut mendengarnya, namun Ai yang belum pernah merasakan emosi tidak menunjukkan reaksi apapun dan masih berjalan mendekatinya.

"GRRROOOWWWWLLLL….."

Anjing itu bersiap menyerang Ai, lalu tiba-tiba suara seorang pria menghentikan geraman anjing tersebut.

"STOP IT, DOYLE!"

Ai menatap tanpa ekspresi pada sosok suara tersebut.

Anjing yang bernama Doyle berlari mendekati sosok pria itu, kemudian menggoyangkan ekornya, lalu memutari tubuh sang pria.

"Bad boy! Kau berlari terlalu jauh, Doyle!"

"Ah, maafkan kelakuan anjingku ini, Nona. Tidak biasanya ia menggeram kepada orang lain."

Ai masih diam dan menatap sang pria.

"Maaf, kau pasti sangat terkejut. Perkenalkan namaku Kudo Shinichi."

Shinichi mengulurkan tangannya untuk mengajak Ai berjabat tangan, namun Ai tak membalasnya.

Awkward.

Shinichi menurunkan tangannya karena tak mendapat balasan. Ia menatap Ai dengan hati-hati, lalu mengamati bangunan yang ada di belakang Ai.

"Apakah kau tinggal disini, Nona?"

Hening.

Ai tetap tidak merespon pertanyaan Shinichi.

'Kenapa dia diam saja? Tidak bisa bicara? Sebaiknya aku segera pergi dari sini!' pikir Shinichi.

"Hmm… Baiklah, aku permisi. Sekali lagi aku minta maaf atas kelakuan Doyle padamu."

Shinichi mengaitkan tali pada Doyle dan melangkah menjauhi Ai.

"Haibara. Namaku Haibara Ai."

Shinichi menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Ai setelah mendengar ia menyebutkan namanya.

"Salam kenal, Haibara-san," balas Shinichi mencoba bersikap ramah dengan menampilkan senyum terbaiknya.

"Kau harus membalas sapaanku dengan senyuman, Ai-kun," Ai teringat perkataan Profesor yang terus mengingatkannya untuk tersenyum setiap harinya.

"Salam kenal, Kudo-san," ucap Ai mencoba tersenyum namun lebih terlihat seperti sebuah seringaian.

Shinichi mengangkat kedua alisnya, bingung dengan ekspresi yang ditampakkan oleh Ai, namun dia segera tersenyum kembali.

"Apakah kau tinggal disini, Haibara-san?" Shinichi mengulangi pertanyaannya tadi.

"Iya," jawab Ai singkat dan kembali tanpa ekspresi.

"Sendirian?" tanyanya lagi.

Ai menatap manik biru milik Shinichi, menurut Ai warna manik Shinichi seperti warna biru laut, laut yang hanya ia bisa lihat melalui foto yang ditunjukkan oleh Profesor kepadanya. Ai merasakan perasaan aneh di dalam jantung buatannya.

"Ah, maaf jika aku terlalu banyak bertanya. Mungkin sebaiknya aku pergi karena sudah hampir jam makan siang dan anjingku sepertinya sudah kelaparan. Aku meninggalkan makanannya di mobil. Aku permisi dulu, Haibara-san. Senang bertemu denganmu dan sekali lagi aku minta maaf atas kelakuan Doyle padamu tadi, tidak biasanya ia bertingkah seperti itu di hadapan orang lain, mungkin karena dia berada di tempat yang asing. Sekali lagi aku minta maaf, Haibara-san," ucap Shinichi sambil membungkuk sopan, lalu berbalik meninggalkan Ai.


"Tunggu, Kudo-san," ucap Ai yang tiba-tiba sudah berada di belakang Shinichi. Ai mengikuti Shinichi yang posisinya sudah cukup jauh dari laboratorium dan hampir keluar dari hutan.

"Haibara-san? Kau mengikutiku?" Shinichi terkejut dengan kehadiran Ai.

"Bolehkah aku menyentuh anjingmu?"

Shinichi lagi-lagi dibuat bingung oleh Ai, namun ia kemudian mengiyakan permintaan Ai.

Ai lalu berjongkok dan mencoba menyentuh Doyle. Doyle kembali menggeram pada Ai, namun kemudian ia terdiam setelah Ai menyentuhnya.

'Jadi seperti ini rasanya menyentuh anjing secara langsung? Lembut sekali' ucap Ai dalam hati dan tanpa sadar ia tersenyum, bukan seringaian kaku seperti yang tadi ia tampakkan pada Shinichi, tapi sebuah senyuman tulus yang diinginkan Profesor pada Ai.

Doyle menggoyang-goyangkan ekornya, tanda ia juga senang dengan sentuhan Ai padanya. Doyle lalu mengendus wajah Ai dan kemudian menjilat wajah Ai. Shinichi melihat ekspresi Ai yang semula tersenyum namun berubah menjadi kebingungan sambil menyentuh bekas jilatan Doyle di pipinya, langsung menarik Doyle dan segera meminta maaf lagi pada Ai.

'Sudah tiga kali aku minta maaf kepadanya! Doyle, anjing nakal! Malam ini tidak ada daging untukmu!' omel Shinichi dalam hati.

"Aku punya beberapa makanan di rumahku jika kau kelaparan, tapi ijinkan aku untuk menyentuh Doyle lebih lama, OK?"

Netra pirus itu kembali menatap netra biru laut milik Shinichi dan bagai terhipnotis, Shinichi mengiyakan permintaan Ai.

"Bisakah kau tunggu disini sebentar? Aku harus mengambil makanan Doyle dulu di mobil. Mobilku terparkir tidak terlalu jauh dari sini. Sebentar saja," ucap Shinichi lalu beranjak menuju mobilnya setelah Ai mengangguk setuju.


"Kau belum menjawab pertanyaanku tadi, Haibara-san. Apa kau tinggal sendirian di tengah hutan seperti ini?" tanya Shinichi saat ia, Ai, dan Doyle kembali memasuki hutan untuk menuju laboratorium tua sekaligus tempat tinggal Ai.

"Aku tinggal bersama ayahku."

"Apakah ayahmu ada di rumah?"

"Ayahku sedang ke kota untuk membeli beberapa keperluan di rumah."

"Apa tidak masalah kau mengajak orang asing ke rumahmu di saat ayahmu sedang tidak ada?"

"Sebenarnya ayahku melarangku keluar rumah hingga ia kembali, tapi aku penasaran dengan Doyle. Ini kali pertamaku melihat anjing secara langsung."

Shinichi mengernyitkan alisnya setelah mendengar jawaban Ai. Pikirannya dipenuhi beberapa pertanyaan mengenai gadis misterius di sampingnya saat ini, terutama bekas luka jahitan di beberapa bagian tubuhnya. Bukan Shinichi namanya jika ia tidak jeli memperhatikan adanya bekas luka tersebut walau tertutup pakaian. Tapi ia urungkan niat untuk bertanya karena ia merasa akan melanggar privacy Ai.


Mereka sudah tiba di depan laboratorium itu. Ai masuk ke dalam, sedangkan Shinichi masih berdiri di luar.

"Kau menunggu apa?" tanya Ai dingin.

"Ah, i-itu. A-apa benar tidak apa-apa jika aku masuk ke rumahmu?" Shinichi nampak ragu-ragu.

"Ada masalah?" tanya Ai lagi.

"T-tidak. Baiklah, aku masuk."

Shinichi masuk ke laboratorium itu dan duduk di kursi di mana Ai menyuruhnya duduk.

"Aku akan membuat kari, kau bisa menunggu sebentar?"

"I-iya, tidak masalah. Terima kasih, Haibara-san."

Ai mengeluarkan beberapa bahan makanan dari kulkas, kemampuan motoriknya memang belum terlalu bagus, tapi ia pernah beberapa kali berlatih memasak bersama Profesor. Memotong bahan, mengangkat panci, mengaduk makanan, memang belum sempurna, terkadang ia tertusuk pisau atau makanannya tumpah karena tiba-tiba tangannya melepas pegangan panci, atau bahkan terkena percikan api. Profesor sudah melarang Ai untuk membantunya di dapur, tapi Ai bersikeras karena ingin kemampuan motoriknya berkembang pesat.

Shinichi yang memiliki rasa penasaran yang tinggi, berkeliling laboratorium itu untuk sekadar melihat-lihat. Ia menemukan beberapa buku saintek di perpustakaan mini milik Profesor. Ia juga menemukan beberapa barang hasil temuan Profesor, namun ada satu alat yang ukurannya cukup besar dan tertutup kain putih. Shinichi hendak menyingkap alat itu, namun suara Ai mengagetkannya.

"Menemukan apa yang kau cari?"

"Eh, a-anu. M-maaf jika aku lancang. Aku hanya penasaran dengan rumahmu ini. Apa ayahmu adalah seorang ilmuwan?"

"Ku rasa begitu."

Shinichi mengangguk dan kembali duduk di kursi, sepertinya ia harus menahan rasa penasarannya untuk mengelilingi rumah ini. Ia mengalihkan perhatiannya pada Ai yang sedang memasak, pergerakan Ai menurutnya cukup aneh, sangat kaku, tidak beraturan, seperti seorang robot. Beberapa kali ia melihat Ai menjatuhkan bahan makanan, mangkok, pisau, terlihat sangat clumsy dan tetap tanpa ekspresi.

"Astaga, kau tidak apa-apa, Haibara-san?" tanya Shinichi sedikit panik setelah melihat Ai tidak sengaja mengiris tangannya.

"Tidak apa-apa," jawab Ai tanpa memperlihatkan ekspresi apapun, tidak tampak kesakitan sama sekali.

"Tidak bisa dibiarkan begitu saja, jarimu bisa infeksi nanti. Apakah di sini ada kotak P3K?"

"Ayahku menyimpannya di sebelah rak buku itu."

"Baiklah, sebaiknya kau mencuci lukamu dulu."

Shinichi bergegas mencari kotak P3K itu kemudian menghampiri Shiho.

"Lukanya cukup dalam ternyata. Aku akan memberikan antiseptic pada lukamu, mungkin akan sedikit perih, kau bisa menahannya sebentar kan, Haibara-san?"

Ai mengangguk. Lagipula ia memang tidak merasakan apapun. Hal itu membuat Shinichi cukup takjub, karena biasanya seseorang akan merasakan sakit jika lukanya dioleskan antiseptic, tapi wanita di hadapannya ini tetap tak bergeming. Dan ada hal lain juga yang menarik perhatian Shinichi, tangan wanita di hadapannya ini dingin sekali, tidak seperti suhu normal tubuh manusia lainnya. Apakah ia sedang sakit? Jika dilihat-lihat memang kulit Ai lebih pucat dibandingkan warna kulit pada umumnya.

"Aku akan membantumu, Haibara-san. Aku memang tidak bisa memasak, tapi kau bisa mengajariku kan?" tawar Shinichi setelah selesai membalut luka Ai dengan plester.

"Kau bisa memotong kentang dan wortel, Kudo-san."

Ai lagi-lagi menjatuhkan sesuatu saat sedang memegangnya, kali ini panci berisi air hingga membasahi pakaian Ai.

'Orang ini aneh sekali,' ucap Shinichi dalam hati setelah melihat kelakuan clumsy Ai.

"Kau yakin kau tidak apa-apa? Lebih baik kau ganti bajumu dulu, biar aku membereskan ini."

Ai langsung meninggalkan Shinichi tanpa merespon omongannya.

"Padahal aku hanya ingin makan siang dengan tenang," keluh Shinichi sambil menghembuskan nafas panjang.

Tak lama Ai muncul setelah berganti pakaian dan melanjutkan memasak makan siang untuk Shinichi.

"Tidak perlu, Haibara-san. Biar aku saja yang memasak. Kau di sana saja dan memberitahuku apa yang harus aku lakukan," Shinichi memilih "berkorban" daripada nantinya wanita muda di depannya ini malah membakar seluruh rumah karena kecerobohannya.

"Ya," balas Ai singkat. Ia berdiri di meja seberang Shinichi. Mulai menginstruksikan apa saja yang harus Shinichi lakukan.

Walau sedikit "chaos" tapi akhirnya Shinichi berhasil membuat kari pertamanya yang menurut ia sendiri rasanya masih bisa ditoleransi.

"Ternyata memasak itu melelahkan juga ya, Haibara-san? Tapi tidak terlalu buruk. Mungkin aku akan mencobanya di rumah nanti. Selama ini Ran yang selalu memasak untukku," ucap Shinichi saat mereka berdua menikmati kari buatannya.

"Ran?"

"Iya, Ran, temanku dari kecil. Kalau aku tidak memesan makanan dari luar, biasanya dia akan mengirimkan makanan ke rumah."

"Teman?"

"Iya, teman."

"Teman itu apa?"

"Hah?" Shinichi bingung menanggapinya. Bagaimana bisa wanita muda dihadapannya ini tidak paham arti teman? Apa ia berasal dari planet lain? Ckckck… Tidak mungkin! Jangan berpikiran bodoh, Shinichi!

"T-teman itu… hmmm… bagaimana menjelaskannya ya? Orang yang dekat denganmu, yang mengetahui sisi terlemahmu, dan mau menerimamu apa adanya," jelas Shinichi.

"Seperti ayahku?"

"Hah? M-mirip seperti itu," Shinichi ber-sweatdrop mendengar pertanyaan "ajaib" Ai.

"Ah, tadi aku sempat melihat-lihat buku-buku di sana. Apakah ayahmu seorang ilmuwan di bidang fisika?" Shinichi mencoba mengalihkan topik pembicaraan.

"Aku rasa begitu. Aku sering melihat ayahku membuat alat-alat aneh."

"Kau sendiri? Apa kau juga seorang ilmuwan seperti ayahmu?"

"Aku tidak tahu," jawab Ai singkat.

Ok, sepertinya Shinichi harus berhenti menanyakan hal-hal pribadi pada Ai.

"Kau? Apa kau juga ilmuwan?" kali ini Ai yang bertanya.

"Oh, bukan. Aku bukan seorang ilmuwan. Aku detektif."

"Detektif? Seperti Sherlock Holmes?"

"Kau tahu Sherlock Holmes? Kau membaca novelnya juga?" Shinichi antusias sekali jika sudah membahas tentang Sherlock Holmes.

"Aku hanya membaca A Study in Scarlet karena ayahku hanya punya itu di sini."

"Benarkah? Itu adalah novel favoritku! Pertemuan pertama Sherlock dengan Watson!"

"Aku lebih tertarik dengan Watson daripada Sherlock," ucap Ai membuat suasana menjadi sedikit canggung. "Dia seorang dokter kan?" lanjutnya lagi.

"Iya, dia seorang dokter. Apa kau tertarik dengan ilmu kedokteran?"

"Entahlah, aku belum pernah membaca buku-buku kedokteran."

"Bagaimana jika aku meminjamkan beberapa buku tentang itu dan beberapa novel Sherlock Holmes?" tanya Shinichi masih antusias.

Pertanyaan Shinichi membuat Ai menatap wajahnya. "Kau akan ke sini lagi?"

"Eh? Apa kau keberatan dengan kehadiranku?"

"Tidak," Ai sedang berpikir apa ayahnya akan marah jika mengetahui ia bertemu orang asing. Bahkan Ai sendiri belum memahami kemarahan itu seperti apa. "Dua minggu lagi."

"Hah?"

"Kau bisa kesini dua minggu lagi, Kudo-san."

"Baiklah!"


Setelah makan siang, Ai bermain dengan Doyle dan Shinichi mengamati mereka. Jika dipikir-pikir, pergerakan Ai yang clumsy memang seperti robot yang baru saja terprogram, butuh banyak input agar output nya sempurna, tapi kemampuan berpikir Ai tidak dapat diremehkan, walau kadang ia melontarkan pertanyaan-pertanyaan "ajaib", bukan berarti ia bodoh. Ia bahkan dengan lancar menjelaskan alat-alat aneh temuan ayahnya, lengkap dengan sistem kerjanya. Terkadang Shinichi mencoba melontarkan candaan untuk mencairkan suasana, tapi respon Ai tetap tidak ada, ekspresinya tetap datar, lebih seperti bicara pada tembok daripada manusia, dan Shinichi mulai memakluminya. Tapi bicara dengan Ai cukup mengasyikkan walau responnya singkat, Ai adalah pendengar sekaligus pembicara yang baik jika Shinichi bertanya sesuatu padanya.

"Kau suka sekali menyentuh Doyle ya? Tadi kau bilang kau baru pertama kali melihat anjing, bahkan kau bilang ayahmu melarangmu keluar rumah, jadi kau belum pernah keluar dari hutan ini sama sekali?" tanya Shinichi penasaran.

"Aku hanya melihat hewan dari buku. Kecuali beberapa spesies burung atau kupu-kupu atau terkadang kelinci, selain itu aku tidak pernah melihatnya secara langsung. Ayahku melarangku keluar rumah sendirian karena aku sering terjatuh dan ayahku sangat khawatir jika melihatku pulang dengan tubuh penuh luka."

Jawaban dari Ai menutup sebagian rasa penasaran Shinichi padanya. Pantas saja di tubuhnya banyak bekas jahitan, mungkin akibat dari luka yang Ai dapatkan karena kecerobohannya. Sedikit masuk akal, jika melihat pergerakan Ai yang clumsy membuat ayahnya melarangnya untuk keluar rumah sendirian.

"Apakah ada hewan tertentu yang kau sukai, Haibara-san?"

"Aku tidak tahu, Kudo-san. Bagiku mereka semua sama saja," jawab Ai masih membelai bulu lembut Doyle, sebenarnya Ai sendiri belum paham hal lain yang ia sukai kecuali membaca dan menyesap aroma kopi. Apakah menyentuh anjing akan masuk ke dalam daftar hal-hal yang ia sukai?

"Tentu saja berbeda, Haibara-san! Sebentar, akan aku perlihatkan beberapa video dokumentasi tentang hewan padamu," Shinichi mengeluarkan ponsel dari kantung celananya. "Ternyata tidak ada sinyal di sini."

"Benda apa yang sedang kau pegang itu, Kudo-san?"

"Ini? Ini namanya ponsel, Haibara-san. Kau bisa berkomunikasi jarak jauh dengan benda ini, kau bahkan bisa mengambil foto atau video dengan benda ini."

"Seperti kamera ayahku?"

"Kurang lebih seperti itu, tapi bentuknya lebih kecil dan lebih mudah untuk dibawa, lagipula kamera tidak bisa digunakan untuk menelepon seseorang. Sayang sekali aku tidak bisa menunjukkannya padamu karena tidak ada sinyal di sini. Dua minggu lagi aku akan menunjukkan padamu videonya."

Ai kembali bermain dengan Doyle dan kali ini Shinichi ikut bermain bersama mereka, mungkin lebih tepatnya mengawasi Ai karena beberapa kali ia terjatuh dan Shinichi harus melindungi Ai dari bebatuan agar tidak terdapat luka lagi di tubuhnya.

'Aku seperti sedang mengasuh anak kecil,' keluh Shinichi tapi ia merasa cukup menikmati hal itu, mungkin perilaku Ai sedikit menghiburnya karena tekanan pekerjaannya di MPD, apalagi kasus misterius yang terjadi selama 22 tahun ini belum menemui titik terang sama sekali.


03:06 P.M.

"Sudah hampir sore, sepertinya aku harus pulang, Haibara-san," Shinichi melihat jam di tangannya, sudah pukul 3 sore. Perjalanan dari tempat ini ke rumahnya memakan waktu 3 jam, jadi ia harus kembali sekarang.

Ai tidak mengatakan apapun dan hanya menatap Shinichi. Sulit bagi Shinichi mengartikan tatapan pirus itu, bahkan menjadi Sherlockian tidak serta merta membuat Shinichi memahami Haibara Ai, padahal biasanya ia sangat pandai membaca ekspresi dan gestur seseorang sebagai bagian dari pekerjaannya. Ia bisa mengetahui jika seseorang sedang berpura-pura di hadapannya, tapi Haibara Ai? Tidak ada kepura-puraan dalam dirinya, dalam pergerakannya, dalam tatapannya. Semuanya real, hanya saja Shinichi belum mampu mengartikan itu.

"Aku akan menemuimu dua minggu lagi, Haibara-san. Sampai jumpa!"

Shinichi mengaitkan tali di kalung leher Doyle dan mereka berdua meninggalkan Ai yang masih tak bergeming di sana.

"Kudo-san," Ai menghampiri Shinichi yang baru beberapa langkah meninggalkan rumahnya, membuat Shinichi menghentikan langkahnya sebentar.

"Ada apa, Haibara-san?"

"Maukah kau menjadi temanku?"

Pertanyaan tiba-tiba dari Ai disertai tawaran jabat tangannya membuat Shinichi sedikit terkejut. Belum pernah ada yang memintanya menjadi teman. Biasanya ia berteman dengan cara yang biasa, seperti teman sekelas, teman seprofesi, teman sepermainan, semuanya mengalir begitu saja, bukan dengan cara seperti ini. Hari ini beberapa kali ia dikejutkan dengan hal baru yang ia temui dari Haibara Ai. Hari ini, untuk pertama kalinya, ada seseorang yang meminta ia menjadi temannya.

"Tentu saja, Haibara-san. Mari kita berteman."

Hari ini, dengan menyambut jabatan tangan Haibara Ai, Shinichi memiliki teman baru dengan kepribadian unik yang tidak akan bisa Shinichi lupakan sebagai kesan pertama saat ia melihatnya.

"Terima kasih, Kudo-san."

Dan hari ini, setelah melihat senyuman tulus yang terpatri dari wanita di hadapannya, membuat rona wajah Shinichi memerah, membuat debaran jantung Shinichi meningkat lebih cepat dari biasanya, dan membuat bagian perutnya seperti ingin meledak bagai ratusan kupu-kupu terbang memenuhinya.

Shinichi menyukai senyuman itu dan ia ingin terus melihat senyuman itu dari wajah seorang Haibara Ai.

.

.

.

To Be Continued.