Terima kasih sudah membaca dan review. Jangan lupa mampir di cerita saya yang lainnya. Mohon maaf jika cerita ini lama updatenya, fic ini hanya pelepas penat semata saat bosan mengerjakan fic utama (Golden Magic).
Chapter 3: New Friends
Naruto menyesap tehnya dengan tenang. Ia sedang berada di restoran tempat biasanya nongkrong sehabis hunting seharian. Sudah 1 bulan sejak kejadian yang menyebabkan takdirnya terikat dalam game ini. Selama itu pula banyak orang yang telah kehilangan nyawanya karena mati oleh monster atau bunuh diri karena tidak sanggup menanggung stress yang berlebihan.
Saat ini, levelnya sudah mencapai 24. Monster di lantai satu hanya mentok di level 20 dan elite monster yang ada di dungeon tempat boss floor berada hanya sampai 22. Setelah Naruto mencapai level 23 terjadi penurunan pendapatan exp dan col karena perbedaan levelnya dengan monster. Alhasil kini Naruto kesulitan menaikkan levelnya.
Sebagai seorang player, Naruto sudah mencapai batas level pada lantai pertama. Jika ia ingin menaikkan levelnya lagi dengan cepat maka mau tidak mau ia harus membuka lantai dua dan hunting di sana.
Naruto melihat tabel peringkat pemain dan ia menempati urutan ke tiga. Naruto cukup takjub dengan peringkat pertama yang sudah berada pada level 27. Kebanyakan player masih berada di level belasan.
Karena sudah satu bulan di dunia ini, daily benefit Naruto telah habis. Niat awalnya ia ingin pergi ke toko untuk memperpanjang daily benefit-nya, tetapi hal itu diurungkan karena mau pakai daily benefit manapun, level Naruto sulit untuk dinaikkan. Ia khawatir uangnya akan hambur sia-sia. Lebih baik membelinya nanti saat lantai kedua terbuka.
Naruto menatap langit-langit restoran dan bergumam, "Huh, begini ya rasanya jadi rakyat jelata. Mau membeli apa pun harus mikir berulang kali."
Sejujurnya, ini pertama kalinya Naruto berpikir dua kali saat ingin membeli barang. Sejak pertama kali lahir di dunia ini, Naruto berada dalam keluarga yang kaya raya. Segala kebutuhannya terpenuhi dan apa yang ia minta selalu dituruti. Ditambah ia dianugerahi dengan kecerdasaannya maka semakin sempurnalah kehidupan Naruto.
Tampan, cerdas, dan kaya raya. Semua wanita auto berbaris untuk mendaftarkan diri menjadi istrinya.
Naruto menatap keluar jendela. Langit mulai berubah warna menjadi kekuningan tanda malam hari semakin dekat. Dua hari yang lalu seseorang mengajak semua player untuk mendiskusikan tentang rencana menemukan dan mengalahkan boss floor. Dan pertemuan itu dijadwalkan besok di pusat kota.
"Mengalahkan boss …." Naruto sempat teringkat kalimat yang pernah ia baca di artikel SAO tentang item drop boss. Boss floor memiliki item drop limited yang tidak bisa didapat dari hunting atau membeli dengan cash.
Untungnya sejak awal bermain Naruto memutuskan untuk fokus meng-upgrade equipment tipe boss terlebih dahulu. Sekarang ia memiliki set lengkap dengan grade rata R. Equipment di SAO dibagi menjadi beberapa tingkatan grade mulai dari yang terkecil C, B, A, S, R, SR, UR, dan grade paling tinggi adalah LR.
Naruto melihat pedang dan zirah yang saat ini ia kenakan. Itu adalah full set tipe boss. Stat-nya pun sudah cukup untuk menahan beberapa gempuran dari serangan boss floor.
Setelah memesan beberapa makanan Naruto lalu pulang ke penginapannya untuk beristirahat. Besok akan menjadi hari yang melelahkan.
Siang hari menjelang. Ini adalah tempat panggung pertunjukan yang biasanya orang datang ke sini untuk melihat teater. Satu orang berada di panggung pertunjukan dan ia adalah orang yang mengajak semua player untuk berdiskusi bersama. Tempat ini telah banyak dikunjungi player, Naruto cukup kesulitan mencari tempat duduk kosong dan akhirnya ia menemukannya di pojok kanan atas.
Pria yang memiliki warna rambut biru itu kemudian menepukan tangannya untuk menarik atensi. Orang-orang yang tadinya saling berbisik kini perhatian mereka tertuju pada satu orang di depan.
"Baiklah, mari kita mulai pertemuannya," ucap pria itu dengan senyum tipis. "Pertama-tama, terima kasih karena sudah datang ke pertemuan ini. Namaku Diabel, aku memiliki class swordman."
Diabel, Naruto tahu nama itu. Dia berada di urutan ke 23 dengan level 18.
Seketika senyuman di wajah Diabel menghilang dan kini digantikan oleh wajah serius. "Seperti yang kalian tahu, keberadaan boss belum ditemukan. Tapi, akhirnya party-ku berhasil menemukan lokasi boss berada."
Mendengar hal itu, sontak semua player menatap kaget Diabel. Naruto juga sama, ia memandang takjub pria di depannya. Naruto juga pernah sekali mencari keberadaan boss saat sedang hunting di dungeon. Namun, ia tak berhasil menemukannya. Apakah harus memakai item khusus untuk menemukannya?
Diabel melanjutkan. "Kita semua harus bekerja sama untuk mengalahkan boss floor agar dapat membuka lantai 2 dan meyakinkan semua orang yang ada di lantai satu bahwa kita bisa menyelesaikan game ini." Diabel melihat satu per satu wajah orang yang hadir.
"Oleh sebab itu kita harus bekerja sama! Benar begitu, teman-teman?"
Mereka semua mengangguk. Ada juga yang ragu. Naruto hanya diam saja. Kemudian tepukan tangan terdengar dan lama kelamaan menjadi meriah. Ada juga yang bersiul.
"Oke, kita langsung membuat rencana. Boss fight hanya bisa dimasuki oleh dua raid team. Satu raid team berjumlah maksimal 25 orang. Itu artinya dalam satu tim akan ada 5 party.
Satu party hanya bisa diisi maksimal 5 orang. Jika 2 raid team yang bisa melawan boss maka total ada 50 player dengan 10 party berbeda.
Mengerti akan apa yang disampaikan Diabel, semua orang langsung berkemurum dan membuat party bersama. Naruto hanya bisa menghela napas karena selama ini ia tidak memiliki teman. Ia seorang solo player bahkan friend list-nya juga kosong. Apa artinya ia tidak bisa mengikuti raid boss?
"Ekhem."
Naruto mendengar deheman feminine di sebelahnya. Ia menoleh dan melihat seorang gadis remaja dengan rambut pirang panjang dan mata biru. Ia bertaruh gadis ini bukan asli Jepang atau half-Jepang seperti dirinya–ayah Naruto berasal dari Inggris.
"Ya?" ucap Naruto.
Gadis itu menatap mata biru Naruto. "Sepertinya kau belum bergabung ke party manapun."
Pemuda pirang itu mengangguk. "Iya. Aku tidak memiliki teman di dunia ini. Aku seorang solo player."
Gadis itu mengangguk tanda mengerti. Ia tersenyum tipis. "Kalau begitu mau bergabung ke party milikku? Kebetulan aku butuh satu orang lagi untuk kelengkapinya."
"Satu orang?"
Gadis itu mengangguk lagi. Kemudian beberapa orang menghampirinya dan semuanya adalah wanita. "Party kami bernama Eternity."
Naruto memandang mereka cukup lama. Bisa Naruto taksir kalau mereka masih duduk di bangku SMA. Labil. Tidak cocok dengan karakterstiknya, senyuman yang mereka perlihatkan terlihat jelas bahwa mereka bisa melalui rintangan apapun. Sungguh pikiran yang naïf.
Naruto menghela napas. Namun, tidak ada pilihan lain. Naruto mengincar item drop limited dari boss floor maka mau tidak mau ia harus masuk ke dalam party.
"Baiklah, aku setuju."
'Yeaaay' suara itulah yang ia dengar bersamaan dengan tepukan riang antara dua gadis remaja tersebut. Tanpa mereka sadari juga, di sudut lain telah terjadi hal yang kurang lebih sama seperti Naruto. Tidak punya teman se-party.
Gadis pirang itu lalu membuka menu utama dan mengklik beberapa icon sampai akhirnya Naruto melihat tabel yang bertuliskan seseorang mengundangnya ke dalam party. Naruto menyetujui itu lalu di pojok kiri atas pandangannya berjejer empat bar HP baru.
"Alice, Sinon, Yuuki, dan Yuna." Naruto membatin dalam hati.
Setelah beberapa saat berlalu, keempat gadis itu sadar siapa yang baru di-invite nya barusan. Mereka menatap terkejut pada Naruto dan mengucapkan satu kata yang sama. "Lucifer-san!"
Naruto menaikkan sebelah alis. "Ya, itu namaku. Kenapa sampai terkejut seperti itu?"
Yuuki yang pertama kali menatap kagum setelah keterkejutannya lalu menghampiri Naruto. "Siapa yang tidak terkejut kalau teman satu party-mu ternyata orang dengan peringkat atas di game ini."
Sinon lalu memandang equipment yang dipakai Naruto. "Seperti yang diharapkan dari player terkuat, equipment Lucifer-san memiliki grade tinggi."
Jika diperhatikan, equipment Alice dan teman-temannya masih berada di grade B. Ada juga yang sudah naik menjadi A tapi itu hanya satu equipment saja.
Naruto tersenyum kikuk, bingung mau menjawab apa. Ia tak biasa berinteraksi dengan gadis SMA. "Terima kasih." Hanya kata itu yang keluar dari mulutnya.
Jika dilihat lagi, Alice dan teman-temannya masih belum menyentuh level 20.
Alice, level 10.
Sinon, level 11.
Yuuki, level 15.
Yuna, level 8.
"Yooosh! Aku semakin bersemangan mengalahkan boss floor!" ucap Yuuki dengan mata berbentuk bintang yang mengeluarkan cahaya kekuningan. Mereka semua mengangguk.
"Mulai dari sini mohon bimbingannya, Lucifer-san," kata Alice dengan tubuh sedikit menunduk. Kemudian yang lainnya mengikuti gerakan gadis pirang itu.
"Aku akan berusaha dengan maksimal," kata Naruto.
Kemudian pertemuan itu berlanjut dengan rencana lebih rinci tentang penyerangan. Siapa yang menjadi party penyerang, bertahan, dan penyembuhan akan dibagi-bagi hari ini juga. Lusa adalah jadwal raid boss pertama di game ini.
Malam hari di kamar Naruto, ia terlihat sedang mengamati pedang yang akan digunakan untuk mengalahkan boss floor. Pedang itu memiliki rincian sebagai berikut.
Name: Dynasty Sword
Grade: R
Level: 30 (MAX)
Attribute: Boss. Tier 10 (MAX): Bonus damage ke monster tipe boss +112%
Level Enhance: +12
Bonus Stat: P. Attack menambah 1600, critical menambah 500
Naruto sebenarnya bisa saja meng-upgrade senjatanya ke SR. Tetapi setelah dipikir-pikir lebih baik ia menggunakan uangnya terlebih dahulu untuk membeli bahan untuk menambah tier attribute karena menurutnya hal itu lebih penting. Yang penting sekarang adalah peningkatan bonus damage ketimbang meng-upgrade senjata yang hanya meningkatkan P. Attack tidak terlalu banyak.
Jika dipikir-pikir lagi, Naruto sudah menghabiskan belasan ribu Yen hanya untuk menaikkan stat satu weapon-nya saja sampai ke stat seperti ini. Apakah ia harus berhemat? Mengingat ini baru lantai satu dan masih tersisia 99 lantai lagi.
Setelah menghela napas, pemuda itu kemudian membuka menu utama dan melihat kolom yang menampilkan jumlah uangnya. Sekarang ia memiliki 5 juta Col. Rencananya uang ini akan dipakai untuk membeli potion.
Naruto sudah membuat daftar potion apa saja yang akan ia beli besok. Sekalian ia juga akan mentraktir teman-temannya. Yah, itung-itung sebagai tanda pertemanan. Mereka juga telah janjian akan belanja potion bersama setelah hunting sebentar.
"Saatnya tidur."
Keesokan harinya, Naruto keluar dari penginapan dengan memakai equipment grade C. Hari ini ia hanya membantu Alice dan teman-temannya hunting di monster level 15. Maka dari itu perlengkapan grade C sudah cukup untuknya. Mereka bertemu dibalai kota. Setelah bersapa ria mereka lalu menuju tempat monster berkeliaran di luar kota. Dengan kehadiran Naruto di party ini membuat Alice, Sinon, Yuna, dan Yuuki naik level lebih cepat.
Setelah dirasa cukup akhirnya mereka berhenti dan pergi ke pasar untuk membeli beberapa jenis potion.
Di game ini, banyak sekali jenis potion yang ada. Tidak hanya digunakan untuk menambah HP dan MP, potion juga ada untuk menambah stat selama beberapa waktu.
Naruto membeli 500 HP dan MP potion yang satu bijinya diberi harga 500 Col. Masing-masing ia bagikan secara merata. Untuk awalan ia sudah keluar uang sebanyak 500.000 Col.
Untuk jaga-jaga juga ia membeli jenis Great HP Potion dan Great MP Potion. Perbedaan dengan yang normal adalah HP potion hanya menambah 30% dari total darah kita sedangkan Great HP Potion menambah 80% darah. Satu bijinya dihargai 3000 Col dan Naruto membagikan masing-masing 10 Great HP dan MP Potion. Total biaya yang keluar adalah 300.000 Col.
Ia juga tak lupa membeli Attack Potion, Speed Potion, Defend Potion dan lainnya.
"A-apa ini tidak terlalu banyak, Lucifer-san?" tanya Yuna sambil melihat menu storage-nya yang sudah diisi oleh berbagai macam jenis potion. Belum ditambah jumlah masing-masingnya yang membuat dirinya seakan menjadi sultan dadakan.
"Kalau hanya potion saja, tidak terlalu banyak untukku. Lagian jika kalian mati di game ini maka kalian juga akan mati di dunia nyata. Aku tak bisa selamanya melindungi kalian tapi aku bisa mensuplay potion yang berguna untuk mengurangi resiko kematian."
Yuna dan yang lainnya menatap kagum Naruto dengan rona merah di pipi mereka. Melindungi. Kata itu terus tergiangan di kepala mereka sampai tak sadar bahwa mereka telah terjun ke alam khayalan.
Naruto menghela napas. Ia tidak bodoh dalam urusan memahami perasaan wanita. Naruto tahu mereka sedang terkagum pada dirinya dan membayangkan hal-hal berbau romantis dengan dirinya sebagai pemeran utama. Sudah banyak wanita yang berusaha mendekati dirinya mulai dari wanita matre, anak dari partner kerja, atau lainnya. Dengan pengalaman itu juga Naruto belajar memahami isi hati wanita.
Ia tak mau salah pilih istri.
"Hei, jangan melamun seperti itu." Naruto menjentikkan jarinya tepat di muka mereka agar sadar.
"Eh? Ah, maaf aku melamun, Lucifer-san." Yuna menunduk meminta maaf.
"Ka-kami juga tanpa sadar melamun, maafkan kami." Kali ini Alice juga menunduk.
Naruto hanya tersenyum tipis. "Sudah jangan dipikirkan. Lebih baik kita buat rencana untuk penyerangan besok. Aku telah melihat skill kalian dan aku sudah memiliki beberapa ide. Kita akan mendiskusikannya di restoran sambil makan malam."
Mereka semua mengangguk. "Kalau begitu, ayo!"
Besok adalah hari yang tak bisa diprediksi olehnya.
Bersambung
AN: Setelah satu tahun tidak update fic ini akhirnya saya memutuskan untuk merilis chapter 3. Semoga kalian suka. Tidak banyak yang bisa saya katakan di AN kali ini.
#FFN2021BANGKIT!
[26/09/2021]
