All characters belong to sensei Masashi Kishimoto.

Rate: T

just for fun.

warning: gaje, Abal, typo bertebaran dimana-mana dan kalau ada lagi bisa di komen ya guys...

Zeiii


Galery

.

.

.

.


Seorang guru cantik yang tengah berjalan di lorong sekolah besar yang cukup elit, yang tentunya juga di tempati oleh kalangan elit. Tapi nama nya sekolah pasti ada kelas-kelas tertentu. Hanya, guru muda ini seperti nya kurang beruntung, karena kali ini dirinya harus menggantikan guru Biologi yang sedang ada perjalanan Diklat ke Dinas, di tambah dengan kelas yang akan di tanganinya merupakan kelas ter-ter- terlalu berisik, mengganggu yang pastinya isinya adalah siswa siswi yang berandalan.

Tapi wajah cantik nya mengatakan hal lain. Sepertinya cukup optimis untuk memulai hal baru?

Ya... nama guru cantik itu Ino Yamanaka- nama itu tertera pada name tag nya.

Kaki nya sampai menuntun nya ke kelas XIIf IPA. Setidaknya di kata terakhir kelas itu tetap menjadi IPA bukan?

"huhh" Ino membuang napas dan mempersiapkan diri beserta kesabaran nya untuk memulai diri sebagai pengajar.

Kaki nya membawa dirinya ke dalam kelas yang cukup bising, selain itu ternyata banyak juga terlihat olehnya ketidak pedulian atas kelas dan lingkungan nya. "ekhem..." Ino berdeham memancing atensi mereka semua.

Benar saja semua menoleh dan menatap nya, yang jalan-jalan kembali ke bangkunya, yang memegang hp menyimpan hp nya, dan yang bernyany-inyanyi mengunci mulutnya.

Setelah cukup tenang Ino mengamati sebentar mereka semua nya. Aneh saja melihat pandangan mereka seperti baru melihat alien di bumi?

"ohayoo Minna" Sapa Ino dengan senyum tipis yang cukup ramah.

Tapi sayangnya siswanya tidak ada yang merespon, dan wajah mereka tidak berubah dari awalnya.

"Saya sensei pengganti sementara, di sebabkan sensei kalian sedang Diklat ke Dinas" Ino menjelaskan dengan suara tenang lalu memandang ke seluruh kelas. Lalu mendapati pemuda berambut raven dengan tatanan emo sibuk dengan ponselnya. "um... kamu" Ino menunjuk pemuda itu, yang seolah tidak ada yang terjadi.

Pemuda itu menatap tangan Ino yang terarah pada nya. Dirinya tidak merespon Ino.

"tolong simpan dulu ponselnya" ucap Ino dengan senyum manis di wajah nya. Siapa yang tahu, ternyata senyuman itu membuat penghuni kelas blushing tapi minus perempuan.

"oke saya lanjut. Nama saya Ino Yamanaka. Saya mahasiswa yang baru lulus Kuliah S2, pada jurusan biologi. Dan kebetulan saya diminta menjadi guru pengganti untuk kelas ini. Jadi mohon kerjasama nya ya." ucap Ino kembali tersenyum.

Entah Ino menyadari atau tidak, pemuda yang tadi itu kembali memainkan ponsel nya. Karena tidak ketahuan artinya Ino tidak memperhatikan.

"sensei boleh saya bertanya?" siswa dengan alis tebal dan rambut hitam legam tapi seperti bentuk mangkok terbalik mengangkat tangan nya supaya Ino melihat itu.

"iya. kamu?" Ino mengiyakan pemuda bernama Lee itu.

"sensei, sebaiknya kita tidak usah belajar. Bagaimana kalau kita berkenalan dengan sensei saja?" Lee memberikan usul dari kepala nya.

"bagaimana kalau kita berkenalan sambil belajar?" ujar Ino memberi penjelasan pada Lee.

"seperti apa itu sensei?" kali ini Kiba yang berbicara.

"kuis" Ino menjawab dengan senyum manis. "jadi sensei akan memberikan pertanyaan pada kalian, siapa yang bisa menjawab pertanyaan yang sensei ajukan, ia bebas menanyakan sesuatu pada sensei. Hanya saja tidak boleh yang terlalu bersifat pribadi. Mengerti?" Ino menjelaskan pada siswa/i yang ada di kelas itu.

"ha'i. Sensei" ujar para penghuni kelas dengan semangat.

"baiklah. Pertanyaan pertama, virus yang pertama kali adalah virus apa?" tanya Ino, sambil memandang awak kelas yang terlihat terdiam. Padahal itu pertanyaan kelas X sedangkan mereka sudah kelas XII. Nyaris saja Ino meremehkan mereka, tapi tidak jadi. Ada siswa yang mengangkat tangan nya.

"iya. Silahkan" ujar Ino menunjuk pada pemuda itu. Setelah itu ada lagi yang mengangkat tangan nya. Seorang siswi yang memiliki rambut pink. "tunggu, biar dia duluan, ya" ucap Ino lembut.

"oke. Jawabannya...?" Ino mengangkat alis nya menunggu jawaban pemuda raven itu.

"Tobacco Mozaik Virus (TMV)" ucap pemuda itu datar.

Ino tersenyum, mengakui pemuda itu yang sedari tadi sibuk memegang ponsel ternyata punya ingatan yang bagus.

"yah... Padahal aku tadi mau bilang itu" ucap gadis gulali itu cemberut.

"tenang masih banyak pertanyaan lagi kan? jadi semangat" Ino menyemangati anggota kelas itu.

"siapa nama mu tampan?" ucap Ino, tapi tidak terkesan menggoda. Justru terlihat serius menatap pemuda tampan itu.

Kalau Ino mengucapkan seperti itu dengan santai, maka pemuda itu menerima nya dengan berdebar, dan ada rona tipis di wajah nya. Namun wajah nya yang datar tidak memperlihatkan secara kontras. "uciha Sasuke" jawab pemuda yang diketahui bernama Sasuke.

"baiklah. Apa pertanyaan mu Sasuke-kun?" ujar Ino sambil menorehkan sesuatu pada sebuah buku kecil.

Semua menjadi penasaran akan apa yang akan di ucapkan pemuda cuek itu.

"berapa umurmu sensei" ujar Sasuke cuek, seolah tidak berniat bertanya.

"23 tahun. Oke pertanyaan berikutnya, ciri-ciri virus?" kembali pertanyaan Ino berasal dari soal kelas X.

Masih sama belum ada yang mengangkat tangan. Sampai 10 detik kemudian, Sasuke kembali mengangkat tangan nya. Sekarang juga ada yang mengangkat tangan setelah Sasuke, seorang gadis bercepol dua dengan rambut warna coklat.

"Sasuke duluan, kalian kalah cepat minna" ucap Ino diakhiri senyuman ramah. " jawabannya Sasuke-kun?" Ino bertanya tapi kembali menorehkan sesuatu lagi pada bukunya.

"pertama virus tidak dapat mati, kedua virus berkembang biak dengan membelah diri dengan dua cara yaitu litik dan lisogenik, ketiga virus jauh lebih kecil daripada bakteri, keempat virus hanya memiliki satu materi genetik antara DNA maupun RNA" Sasuke menyudahi perkataan nya, lalu mengamati reaksi sang guru.

"bagus, Sasuke" ujar Ino tersenyum senang mendapati murid nya punya otak yang cerdas.

"apa pertanyaan mu Sasuke-kun?" kembali Ino berucap seperti awal tadi.

Semua penasaran akan sebuah pertanyaan yang akan di tanyakan oleh Sasuke.

"pst... Sasuke, tanya apa sensei sudah punya kekasih atau belum" ujar sahabat pirang nya yang duduk di belakang Sasuke. Tentu saja itu adalah Naruto. Namun sayangnya uciha Sasuke tidak menggubrisnya.

"boleh ku berikan kesempatan itu untuk yang lain?" bukan nya menjawab Sasuke malah bertanya pada Ino.

"boleh saja" ucap Ino kalem.

"pada Naruto" belum sempat anggota kelas berharap sudah langsung di gagalkan oleh pernyataan Sasuke.

"eeeh?" Naruto sedikit terkejut, namun senang juga mendapat kesempatan. "apa sensei sudah punya kekasih?" Naruto ternyata benar-benar menyuarakan pikiran nya tadi.

"hei Naruto, ganti pertanyaan aneh mu itu" ucap gadis gulali dengan menatap tajam Naruto.

"oh... tidak apa Haruno" Ino menghentikan pertengkaran ringan mereka. "saya belum punya kekasih, Naruto" ucap Ino.

Setelah di jawab lonceng istirahat berbunyi di penjuru sekolah. Ino menyimpan buku nya dan berucap. " baiklah kita istirahat dulu. Nanti kita akan melanjutkan pelajaran nya, oke Minna? jaa" ujar Ino berlalu pergi.

Semua berhambur keluar kelas. Sedangkan Sasuke sibuk pada ponselnya, lalu mulai keluar dari kelas karena keberisikan Naruto yang dari tadi mengajak nya keluar.

"Sensei" suara seorang gadis membuat Ino menolehkan kepalanya. Aquamarine nya menangkap dua orang gadis sedang mengikuti nya.

"iya?" jawab Ino tenang.

"bolehkah kami menemani istirahat sensei?" gadis bercepol dua itu bertanya dengan semangat.

"oh... Baiklah" Ino menjawab dengan di akhiri senyum ramah untuk dua siswi yang bersedia menemani waktu istirahat nya.

Sasuke dan Naruto ternyata ada di belakang mereka. Jujur saja Sasuke penasaran akan sensei nya itu.

"oi... Sasuke. Kau mau kemana?" ujar Naruto yang berhasil menyambangi langkah sahabat raven nya itu.

"kemana saja" ujarnya ketus.

"hei... Teme, kau tau Sakura menyampaikan sesuatu padaku untuk mu" ujar Naruto sambil nyengir lebar.

Sayangnya Sasuke hanya sibuk mendengar apa yang di bicarakan sensei baru itu dengan dua gadis satu kelas nya.

"Sakura-chan menyukai mu... Ia meminta mu menjadi kekasih nya" ujar Naruto sambil mengamati reaksi Sasuke.

Ino mendengar hal itu. Ya. Jujur saja, dirinya sedikit iri mendengar masa SMA yang penuh warna, yang di hiasi oleh perasaan menyukai dan di sukai. Tentu saja Ia iri, karena dirinya hanya merasakan di sukai daripada menyukai. Terutama Touchan nya selalu menyuruh nya menjadi yang terbaik. Bukan hal yang bagi Ino menyenangkan untuk menjalani kehidupan masa sekolah seperti itu bukan? Tapi mungkin itu sudah nasib nya. Yang penting dirinya sekarang bisa jadi pengamat. Matanya kini menatap Sakura yang merona menunggu jawaban Sasuke.

"aku tidak menyukai nya" jawab Sasuke cuek. Membuat yang di tolak pun sedih. Tapi mau bagaimana lagi, merebut hati sang uciha itu sulit jadi tidak perlu terlalu di pikirkan bukan?

Ino melirik dari ekor matanya kearah Sasuke. Dirinya mengakui Sasuke sepertinya punya kepribadian yang hampir sama. Kalau dilihat-lihat Sasuke memiliki wajah yang tampan, pintar dan sepertinya berbakat. Ya... Ino hanya kagum saja, belum cukup untuk mengatakan menyukai nya.

"Ino!" panggil seseorang yang hanya berjarak 7 meter dari tempat nya berjalan bersama dua siswi itu.

Aquamarine nya kini menatap ke depan, dan iris nya menangkap sosok yang ia rindukan. Mata nya terkejut dan senang, jadi Ino berlari kecil ke arah orang itu. Sepertinya kerinduan nya, membuat nya tidak perduli dengan pandangan beberapa murid di koridor itu.

greph...

"Dei-nii" ujar Ino langsung memeluk orang yang di panggil Dei-nii itu. Suaranya cukup pelan akibat kepala nya yang ia tenggelamkan pada dada niisan nya.

"aku merindukan mu" Ino menarik diri dan memandang wajah niisan nya itu.

Deidara malah bersidekap dada. "Rindu? Kenapa kau tidak menemui ku kalau kau benar-benar merindukan ku?" Deidara memandang imouto nya itu menyelidik.

"maaf" jawab Ino pelan.

Sasuke, Naruto, Sakura dan Tenten ternyata memperhatikan sensei mereka itu dengan senyap, agar tidak di ketahui pastinya.

"hei... Dengar Ino, kalau kau tidak mau menemui mereka, jangan kau juga tidak mau menemui ku dong" Deidara memandang aquamarine Ino yang terlihat lelah. "apalagi, kau akan pergi kan dalam satu minggu ini. Apa kau ingin aku selalu merindukan mu hm?" Deidara memegang pundak Ino sambil memasang wajah bertanya.

"biarkan saja" ujar Ino bercanda.

"nah ini baru Ino yang ku kenal. Ngomong-ngomong, apa kau ada waktu? Aku akan menjemputmu nanti?" Deidara menarik tangan nya dan menatap wajah Ino yang juga tengah menatapnya.

"boleh aku sendiri dulu?" Ino bertanya penuh harap pada pria pirang itu.

"ya. Baiklah, tapi berjanji lah untuk menemui ku" ujar Deidara menguasai kepala Ino.

"ck. kau pikir aku anak kecil? Sana kembali pada pekerjaan mu! Aku tahu kau kabur kan?" Ino menuding Deidara dan memicingkan matanya.

"yayaya. Kau sendiri lanjutkan istirahat mu" ujar Deidara memberikan senyum jengkel di awal perkataan nya.

Ino berbalik hendak meninggalkan Deidara. Belum genap dua langkah, "Ino" suara Deidara membuat dirinya berbalik.

cup...

Ya. Deidara mengecup singkat pipi Ino. "jaa... Barbie" ucap Deidara tanpa merasa bersalah.

Kening Ino berkedut dan membentuk perempatan imejiner. Tapi ia kembali pada sikap mengalah dan melanjutkan langkahnya ke kantor.

.

.

.

.

"hei itu kekasih Ino sensei ya?" Tenten bergumam.

"ah. Ku kira sensei berar-benar belum punya kekasih" ujar Naruto frustasi.

"ya. Aku sih berpikir yang tadi itu adalah saudara Ino sensei" Sakura memperhatikan dua orang pirang yang saling menjauh itu.

Sasuke tidak memberi tanggapan sama sekali. Ia memilih kembali ke kelas nya lagi.

kring...

Bel pertanda istirahat berakhir bergema memenuhi seluruh penjuru sekolah.

Sasuke yang sudah ada di dalam kelas, tetap menunggu guru pengganti itu masuk dan mengajar lagi. Jujur saja isi pikiran nya kali ini dipenuhi pertanyaan akan sensei nya dan pria pirang yang seenak jidatnya mencium pipi Ino tadi. Sasuke hanya memberikan pandangan tidak suka melihat hal itu. Tapi kenapa dia bisa berpikir seperti itu?

"ohayoo Minna" suara ramah nan lembut mengalun menyapa seluruh murid di kelas itu. Membuat semuanya menjawab bersamaan "ohayoo sensei".

"baiklah karena tinggal dua les lagi, sensei akan memberikan soal untuk kalian" ujar Ino serius dengan mengeluarkan buku tulis nya.

Tapi belum Ino menuliskan soalnya beberapa murid sudah mengeluh. Ino menatap tajam mereka. Tentu saja mereka terkejut akan hal itu.

Ino yang menyadari dirinya akan berbuat kasar pada mereka hanya menghela nafas panjang. "siapa yang sudah siap boleh pulang, tapi tidak boleh asal-asalan" Ino berucap dengan tersenyum seperti tadi pertama ia masuk. Ramah.

Sasuke bukan nya menyalin soal yang ada di papan tulis, dirinya malah sibuk dengan ponselnya.

Soal ke 10 selesai di tulis oleh Ino. Tepat saat itu matanya menangkap Sasuke yang asik dengan ponselnya.

Ino berjalan mendekat dan...

saaaaap... ponsel Sasuke telah pindah tangan kepada sensei nya.

"hp mu ku tahan uciha. Kalau kau mau mengambil nya lagi kau harus ikut aku kekantor" ucap Ino tajam.

Bagi Sasuke itu bukanlah hal besar. Hanya saja ia tidak tenang kali ini. Ponsel nya memang sempat di buat mode tidur, tapi ia belum keluar dari halaman yang sedari tadi menjadi objek nya di dalam ponsel nya. Di tambah lagi Sasuke tidak pernah memasang sandi pada ponselnya. "sial!" Sasuke mengumpat sambil menyalin soal setelah sensei nya kembali ke meja guru.

"Lee, pinjam pulpen mu?" Kiba memutar kepala nya dan menatap Lee yang tidak menggubris Kiba.

"oi... Pinjam pulpen mu" kembali Kiba bersuara mulai kesal.

"beli sana" ujar Lee, sambil tertawa mengejek.

"ekhem. Lee, Kiba... Apa kalian ingin ku keluarkan?" tanya Ino dengan aura membunuh.

"tidak sensei" mereka berdua menjawab dengan cepat.

Hening. Kelas itu menjadi hening dan hanya sesekali terdengar ada suara berbisik, ya... Sepertinya tidak cukup mengganggu konsentrasi.

criet... Bangku berderit menjadi perhatian sementara. Karena itu hanya Kiba yang menggeser bangkunya untuk mencapai sesuatu di bawah meja nya.

"Kiba... Kembalikan pada ku" seru si rambut mangkok terbalik itu kesal pada Kiba.

"Aku yang mengambilkan nya, artinya aku boleh pinjam" Kiba berujar senang mendapat barang yang sedari tadi ia butuhkan.

"Rock Lee, Kiba- Keluar" Ino ternyata memperhatikan mereka berdua. Membuat nya marah adalah hal yang tidaklah bagus.

Kiba dan Rock lee terkejut, tapi tetap saja berjalan keluar. Hanya, kali ini mereka seperti menyesal. Tapi bagi Ino, peraturan tetap peraturan. Bukan kah itu benar?

Kembali hening. Penghuni kelas menjadi diam, karena mereka baru tau sang sensei yang ternyata cukup killer.

Lonceng berbunyi, menandakan satu les pelajaran telah usai. Tapi melihat seluruh penghuni kelas masih belum ada yang mengantarkan jawaban nya, Ino tetap menunggu.

Sampai pada akhirnya Sasuke mengantar tugas nya kepada Ino.

Selang beberapa menit kemudian, yang lainnya mulai mengantarkan jawaban nya pada Ino.

Ino tersenyum senang, karena murid kelas nya itu ternyata punya otak yang cerdas.

"Sakura. Pulang" Seru Ino sambil menaruh buku gadis pink itu.

"arigatou sensei" ujar Sakura sambil berlalu.

"Tenten, Choji, Shikamaru. Pulang" kembali Ino menyerukan nama-nama yang boleh pulang duluan.

Saat dirinya melihat buku Sasuke ia terdiam sesaat. "Sasuke kau baru boleh pulang setelah berbicara dengan ku di ruangan ku" ujarnya tegas.

Sasuke sedikit kesal menghadapi guru cantik itu.

Sudah tiga perempat murid yang pulang. Dan terus berkurang sampai suara Ino menyuruh Lee dan Kiba masuk. "Kalian berdua masuk" ujar Ino.

"ha'i. Sensei" ujar keduanya.

"mana pekerjaan kalian?"

"ini Sensei" mereka berdua menyerahkan tugas nya.

Ino memeriksa dengan cepat dan tepat pastinya. "baiklah kalian boleh pulang" Ino berucap tepat saat bel berbunyi nyaring pertanda pulang sekolah. Murid yang tinggal bersorak pelan. "oke. Sampai di sini pertemuan kali ini. Kalian boleh pulang" ujar Ino mengakhiri acara belajar mereka.

Dengan cepat penghuni kelas berhambur keluar dengan semangat. Sampai menyisakan Sasuke.

"ayo. Sasuke" Ino berjalan keluar dengan membawa buku Sasuke dan ponsel Sasuke di tangan kanan nya.

Sasuke hanya mengumpat pelan dan bersungut-sungut. Ino melirik Sasuke yang terlihat imut dan manis di balik sifat nya yang cuek dan dingin. Membuat Ino tersenyum tipis.

Saat di ruangan itu, Ino menaruh tasnya di atas meja yang terlihat beberapa kertas dan dokumen-dokumen siswa sepertinya.

"jadi bisa jelaskan apa yang kau lakukan dengan ponsel mu saat aku mengajar tadi?" Ino berucap dengan tenang sambil memegang ponsel Sasuke.

Sasuke tidak mau mengakui nya. Membuat ia hanya berdiam diri saja. "kembalikan ponsel ku" Sasuke tidak tahu apa yang harus di ucapkan nya. Jadi ia meminta dengan nada ketus dan kesal.

"kau tidak sopan. Sasuke-kun" ujar Ino serius, sambil menegakkan tubuh nya. "boleh aku melihat isinya?" Ino bertanya sambil mengangkat ponsel Sasuke dan menggoyangkan nya.

"tidak ada apa-apa di sana sensei" pemuda raven itu berucap dengan tenang dan seolah menyatakan kebenaran.

Tapi sayangnya, sensei nya itu tidak terlalu perduli akan hal itu. "maaf tapi aku harus tau" ujar Ino. Ia menghidupkan ponsel Sasuke dan menggeser layar nya ke atas. "ternyata tidak ada sandi ya" Ino bergumam pelan.

Sasuke sudah menegang dan pucat pasi. Memang nya ada apa di ponselnya?

Ino menatap layar ponsel itu dan hal yang pertama muncul adalah Galeri. Ya... Karena memang sudah di dalam aplikasi galeri foto itu, Ino hanya menunggu 2 detik kemudian dan masuk pada gambar-gambar...

Dirinya?

Ino cukup terkejut dengan isi galeri foto Sasuke. Karena hanya ada 20 foto, dan itu semua foto dirinya- mulai dari awal Ia mengajar tadi sampai Sasuke kedapatan bermain ponsel. Satu hal lagi yang paling menyita perhatian Ino, yaitu potret dirinya saat berusia 19 tahun dengan baju terusan biru Dongker dengan rambut pirang yang di gerai. Darimana Sasuke mendapatkan foto yang satu itu?

Sasuke sudah tau kalau Ino akan terkejut, dan Ia hanya memalingkan wajahnya ke kanan tak mau melihat sensei nya itu.

Ino menatap Sasuke dan bersikap kembali tenang. "Sasuke kau tidak seharusnya memotret guru mu, itu tidak sopan. Dan bisakah kau memberitahu ku kenapa kau memotret ku?" tanya dan jelas Ino pada Sasuke.

Tapi Sasuke hanya menjawab "kembalikan ponsel ku" permintaan Sasuke kesal dengan wajah memerah, entah malu atau marah atau semacamnya.

"aku akan tunggu jawaban mu sampai ku selesai merapikan meja ini"

Sasuke makin bingung akan hal apa yang akan di lakukan nya. Ia hanya memandangi sensei nya itu merapikan meja nya sampai selesai.

"jadi... Sasuke-kun?" kembali Ino menatap Sasuke. "kalau kau tak mau mengatakan nya aku akan serahkan ponsel mu pada kepala yayasan" Ino mengancam Sasuke. Terutama Ia tau Sasuke adalah anak kepala yayasan sekolah itu.

Kali ini Sasuke benar-benar tidak tau harus apa. Ia tidak mau mengatakan alasan rasional dan Ia juga tidak mau menghadapi hukuman dari touchan nya nanti.

"oke. Terserah padamu" Ino hanya berucap santai. Sambil mengambil tas nya. Sepertinya Ia akan pulang.

Disaat Ino berbalik Sasuke berucap. "karena aku menyukai mu sensei" ujarnya dengan wajah memerah.

Ino menolehkan badan nya dan menatap Sasuke. "aku sudah menduga hal itu. Ini ponsel mu Sasuke-kun, sekali lagi jangan di ulangi ya...Sasuke" ucap Ino dengan senyum manis dan berjalan pergi.

Belum genap satu langkah, Ino sudah berhenti oleh suara Sasuke lagi. "jadilah kekasihku sensei" ungkap Sasuke berbalik menatap punggung Ino.

Ino berbalik dan melihat Sasuke dengan mata mengamati sebentar reaksi dari perkataan Sasuke, mungkin secara singkat dapat di katakan mencari kebohongan Sasuke.

Tapi tak ada kebohongan pada reaksi Sasuke.

Ino yang memakai sepatu flat membuat nya sejajar dengan Sasuke. Ia menatap Sasuke lalu tersenyum hangat. Sasuke yang melihat itu merona tipis. "kau tau Sasuke, Minggu depan aku tak akan ada di Jepang lagi. Apa kau mau melakukan hubungan jarak jauh dengan ku? Dan kita baru bertemu Sasuke. Mungkin sebaiknya mencari orang lain saja ya" Ino berucap dengan tenang, walau jujur Ia baru pertama kali merasakan kejujuran dalam masalah pernyataan cinta. Setahu Ino semua hanya sekedar obsesi.

Di tambah lagi dengan touchan nya yang melarang nya menjalin hubungan kekasih. Jadi bagi Ino semua nya tidak lah benar. Perasaan, cinta, kasih sayang, tidak ada dalam pengalaman nya. Atau lebih tepatnya belum ada.

Sekarang ada. Apa Ia harus menerima nya?

"aku tak masalah. Akan ku lakukan apapun untuk mu sensei" Sasuke dengan tampang datar nya berucap serius.

Ya. Ino merasakan sesuatu dari setiap perkataan Sasuke. Sasuke tidak terobsesi dengan nya dan Ia tulus mengatakan perasaannya.

Ino hanya dia beberapa saat membiarkan Sasuke menerka dalam pikiran nya, apa yang akan di ucapkan Ino.

chups~

Sasuke membolakan mata nya saat merasakan pipinya di cium oleh Ino? Benarkah? Sasuke yang memang sudah melamun lupa akan Ino yang sudah berjalan duluan meninggalkan Sasuke dengan pikiran nya.

"sensei apa itu iya?" ucap Sasuke sambil mengikuti langkah cepat Ino.

"panggil namaku saja. Sasuke-kun" ucap Ino menyahuti tanpa menoleh kepada Sasuke.

Sasuke tau itu jawaban nya 'iya' benar kan? Ia berlari mengejar Ino yang berjalan di lorong sekolah yang sudah sepi dan...

greph...

"arigatou Ino hime" Sasuke berucap di telinga Ino sambil memeluk kekasihnya.

Tidak apa kan kali ini Ia memilih mendengar kan kata hatinya? Tidak ada salahnya kan memulai hal baru?

ya... Tentu saja...

END...


O... Minna Zei kembali dengan fict baru nan gaje dan meninggalkan fict yang lama.

(Zei lari karena reader baru inget dan berniat melempar Zei dengan batu) oke... Semoga ini cerita gak terkesan buruk ya Minna.

see you... in next story...


OMAKE...

"niisan... jawab dulu pertanyaan ini" ucap Sasuke usia SMP pada Itachi yang notabene nya sebagai Kakak dari Sasuke.

"tunggu" ucap Itachi sibuk pada ponselnya.

Sasuke kesal dengan perempat imejiner di kepalanya cukup untuk memberitahu semua orang bahwa Ia tengah kesal.

Sayangnya Itachi tidak memperdulikan Sasuke.

Sasuke merampas ponsel Itachi. "apa kau mendengar ku?" ucap Sasuke ketus.

"iya. Kembali kan ponsel ku"

"tidak memang nya apa yang kau lihat?" tanya Sasuke menatap ponsel Itachi yang memperlihatkan gambar gadis pirang dengan baju terusan biru Dongker dan rambut yang tergerai. Pandangan Sasuke beralih pada Itachi.

"Ia cantik kan? Sayangnya aku tak tau nama nya. Si pirang bodoh itu tak mau memberikan segalanya dengan lengkap" ungkap Itachi kesal pada temannya mungkin?

"tidak" Sasuke membalas datar.

"kheh...selain cantik dia itu cerdas otouto" Itachi menyangkal tatapan aneh Sasuke.

"akan ku kirim foto nya pada mu. Dan kujamin kau pasti akan jatuh cinta pada nya Sasuke. Liat saja nanti" Itachi mengirimkan foto itu dan berucap seolah sedang mengutuk Sasuke.

Sepertinya kutukan itu terjadi...


jaa... Minna...(. ᴗ .)