Halilintar membeku di ambang pintu, perasaan bersalah seketika merasuki diri tanpa diminta. Matanya mengikuti bagaimana gulungan putih di atas kasur bangkit, menatapnya dengan mata nyaris terpejam. Jangan lupakan kantung mata yang jelas gelapnya berkat temaram lampu tidur di atas nakas; lebih parah dari hari-hari sebelumnya.
"Kau ... aku baru tidur."
Aih. Dia lupa kalau si bungsu sensitif terhadap suara.
a BoBoiBoy Fanfiction :
"Late Night Snack"
BBB sepenuhnya hak milik Animonsta, saya hanya pinjam karakter.
Lolongan anjing di samping rumah bising terdengar, memecah malam sunyi yang biasanya diisi oleh suara ribut televisi ruang keluarga yang kini kosong. Sudah tengah malam, satu-satunya pria dewasa di rumah itu pasti sudah ikut berlayar ke pulau kapuk, mengikuti anak-anaknya yang sudah curi start sedari tadi.
Atau setidaknya itulah yang si ayah pikirkan.
"Mana, sih? Ah." Halilintar mengusak helaian coklatnya dengan kasar, tidak lupa helaan napas pelan lolos begitu saja dari belah bibirnya. Muka yang kusut seolah menggambarkan betapa kesalnya ia sekarang.
Seperti saudara-saudaranya yang lain, sebenarnya si sulung dari tujuh bersaudara juga sudah menikmati empuknya spring bed sejak jam 11 tadi. Gawai sudah mati, begitu juga dengan dua adiknya yang berbagi kamar dengan Halilintar—Taufan dan Gempa. Temaram lampu tidur di dekat pintu kamar juga sudah menggantikan penerangan utama mereka, tanda ketiganya sudah sepakat untuk menghentikan segala aktifitas dan tidur.
Halilintar sudah menikmati satu jam pertamanya di atas kasur dengan enak dan tenteram, sebelum kemudian dirinya terbangun tanpa alasan jelas hanya untuk mengingat satu pekerjaan rumah yang belum rampung ia kerjakan. Halilintar berterima kasih pada alam bawah sadarnya yang kadang-kadang berguna juga, bisa habis dirinya besok kalau tugas fisika dari Pak Kaizo kosong nilainya.
Guru muda itu seram kalau marah.
Dan di sinilah Halilintar sekarang, membongkar meja belajar beserta tas sekolahnya hanya untuk mencari buku yang dimaksud. Entah sudah berapa menit dihabiskan untuk mencari buku bersampul putih itu di tengah pencahayaan yang minim begini, kepalanya sampai pusing saat ia dipaksa menajamkan penglihatan hanya untuk membaca judul tiap buku yang ditarik dari tumpukannya.
Tidak, Halilintar tidak bisa menyalakan lampu utama. Bisa-bisa Gempa terbangun nanti, mengingat betapa sensitifnya mata adiknya yang satu itu.
Dan tidak, ternyata bukunya tidak ada di sana.
Halilintar berdecak. "Perasaan tadi di sini."
"Apa sih, Hali? Ganggu orang tidur aja."
Terperanjat, Halilintar mendapati Taufan dengan mata terpejam dan alis nyaris menyatu berbalik ke arahnya. Entah anak itu benar-benar terbangun karena suaranya atau sedang mengigau, Halilintar tidak tahu.
"Lagi ngapain?" Oh, ternyata dia terbangun.
"Sori, aku lagi nyari buku paket fisika. Kau lihat?" tanya Halilintar dengan suara yang dibuat lebih lembut kali ini, tidak ingin membangunkan Gempa yang masih lelap tertidur.
Respon pertama yang diberi Taufan akan pertanyaan dari abangnya hanyalah dengungan tidak jelas. Ia sedang mencoba mengingat; ke mana buku bersampul putih itu ditenteng salah satu saudaranya tadi saat mereka sedang menghabiskan sore di ruang tamu.
Taufan yakin tadi ada salah satu saudaranya yang dengan bangga memainkan buku fisika milik Halilintar saat si sulung pergi berbelanja atas suruhan Bapak Negara, tapi dirinya lupa siapa.
Lagipun, siapa juga yang mau menjadikan buku seperti itu sebagai bacaan sore, sih?
"Oh." Taufan seketika membuka mata, menatap lurus ke arah Halilintar yang menunggu jawaban darinya dengan sabar.
"Thorn, bukumu tadi dimainin sama Thorn. Katanya Solar yang minta," bisiknya kemudian setelah berhasil membersihkan muka blur si adik serba hijau yang berlarian di dalam kepala.
Mendengar itu Halilintar lantas mengernyit. Seharusnya ia tahu, ini kali keempat saudaranya yang identik dengan warna putih-perak-emas itu bermain dengan buku pelajarannya. Apa materi pembelajarannya semembosankan itu? Atau Solar hanya kelewat suka belajar?
Keduanya, sih.
"Kebiasaan," dengus Halilintar, dengan langkah pelan ia berjalan keluar dari kamarnya. Berniat mampir ke kamar milik dua adiknya yang tadi disebut Taufan.
"Jangan sampai Solar bangun, Hali. Anak itu kurang tidur belakangan."
Halilintar hanya mengiyakan pesan Taufan sambil berlalu. Segampang apa si bungsu terbangun sampai Taufan memperingatinya begitu? Dan bukan berarti Halilintar tidak sadar, ia tahu betul bagaimana kantung mata yang senantiasa berlindung di balik kacamata visor itu semakin menghitam dari hari ke hari.
Halilintar mengira adiknya itu hanya membaca buku atau apapun sampai larut malam, jadi ia tidak terlalu memusingkannya. Toh tidak ada yang berbeda dari Solar, kecuali kantung mata serupa panda lucu di bed cover milik Ice, si nomor lima.
Namun, tepat setelah pintu kamar si bungsu dan kembarannya ia buka, saat itu juga erangan kesal dari dalam kamar terdengar.
Halilintar membeku di ambang pintu, perasaan bersalah seketika merasuki diri tanpa diminta. Matanya mengikuti bagaimana gulungan putih di atas kasur bangkit, menatapnya dengan mata nyaris terpejam. Jangan lupakan kantung mata yang jelas gelapnya berkat temaram lampu tidur di atas nakas; lebih parah dari hari-hari sebelumnya.
"Kau ... aku baru tidur."
Aih. Dia lupa kalau si bungsu sensitif terhadap suara.
Derit pintu saja dapat membangunkannya, berbeda dengan kawan sekamar yang sampai rumah kebakaran pun pasti masih setia bergelung di dalam selimut.
Halilintar perlahan melangkah masuk, mendekati meja belajar yang ia yakini milik Solar di sudut kamar si bungsu.
"Buku fisikaku mana?" tanyanya, tidak tergerak hati untuk mengucap kata 'maaf' sedikitpun. Solar hanya menghela nafas, memilih untuk membenamkan wajah pada bantal kembali. Tidak mau ambil pusing dengan tingkah abangnya yang terkesan seenak jidat.
"Di dalam tasku. Maaf latihan di halaman 66 aku kerjain tadi, waktu udah kelar aku baru sadar kalau itu PR-mu," Solar membalas dengan suara parau, yang hanya ditanggapi singkat oleh Halilintar. Tidak mengerti mengapa si bungsu meminta maaf, padahal yang ia lakukan adalah mempermudah pekerjaan Halilintar.
Tidak, Solar menyelesaikannya, malah. Halilintar tinggal kembali ke kamar dan menghempaskan diri ke kasur lagi sehabis ini.
Halilintar mendekati tas milik Solar yang tergantung di samping meja belajar, bersanding dengan seragam sekolahnya yang rapi tergantung di dinding. Selagi tangannya asik mencari buku bersampul putih yang menjadi sumber masalahnya tengah malam begini, netra ruby Halilintar secara tidak sengaja terarah pada sudut meja belajar Solar. Di sana, ada selembar pil obat dekat susunan buku pelajaran sang adik, berwarna hijau terang dengan tulisan berwarna putih yang susah dibaca(*).
Baru saja mulut Halilintar terbuka, hendak melontar tanya, niatnya untuk bersuara hilang kemudian saat satu suara familiar terdengar di tengah heningnya kamar itu.
Kruyuuk~
Baik Halilintar maupun Solar tidak ada yang bersuara setelahnya, lebih-lebih Solar. Anak itu bergeming, benar-benar diam di posisinya dengan wajah yang masih setia menghadap bantal. Halilintar hanya bisa menggeleng kecil melihatnya.
Jika saja yang di kamar ini sekarang adalah Gempa dan bukan dirinya, Halilintar yakin, Solar pasti akan bangun dari kasur dan meminta Gempa untuk membawakannya makanan.
"Makan malam di bawah tudung nasi belum kau sentuh?"
Tidak ada jawaban apapun dari lawan bicara. Halilintar berdecak pelan, sedangkan Solar yang masih setia bergulung dengan selimut, memaksa diri untuk memejamkan mata.
Dirinya memang lapar, belum ada satu makanan pun yang ia sentuh sedari sore kecuali popsicle yang Amato bawakan untuknya. Solar lapar, sangat. Namun jika ia mengakuinya sekarang, Solar takut harga dirinya tercoreng dengan nyinyiran Halilintar nantinya.
'Makanya, kau itu disuruh makan ya makan.'
'Sok kuat, maagh nanti baru tau rasa.'
Entah mengapa dua kalimat itu dengan suara Halilintar bisa terbayang di kepala Solar.
Namun Halilintar, alih-alih beranjak pergi karena tidak juga mendapat respon dari Solar, malah menarik paksa selimut yang tengah adiknya itu gunakan. Sukses membuat Solar terbelalak dan bersitabrak tatap dengan ruby di atasnya.
"Mau makan, ga? Kalau iya, ayo turun. Biar kuhangatin bagianmu," ajak Halilintar, dihadiahi kerjapan pelan oleh Solar.
Sejak kapan abangnya bisa peduli begini?
Walau Solar tahu Halilintar sejatinya memang peduli pada saudara-saudaranya, namun Solar sendiri belum pernah merasakan perhatiannya secara langsung.
Rasanya? Aneh.
Tapi tidak lama perutnya berbunyi lagi, seolah mengiyakan ajakan Halilintar. Solar mau tidak mau menurut. Si bungsu meringsut turun dari kasurnya kemudian, menyeret langkah keluar dari kamarnya diikuti Halilintar yang hanya melihati punggung Solar di depannya.
Sesampainya mereka di dapur, Halilintar langsung menyalakan lampu, meletakkan buku fisikanya di atas meja makan yang kosong. Solar yang tidak melihat apa-apa di atas meja berbentuk pergesi panjang selain deretan gelas bersih, baik itu tudung nasi yang dikatan Halilintar tadi atau makanan apapun, seketika mengernyitkan dahi.
"Mana makanannya?" tanya Solar heran, masih berdiri sambil melihati Halilintar yang kini sibuk dengan beberapa bahan mentah dan semangkuk nasi yang baru saja ia ambil.
"Duduk dulu, ini mau diangetin makanannya," balasnya santai, tidak mempedulikan decakan pelan yang terdengar dari arah belakang disertai dengan derit kursi yang ditarik. Halilintar mau tidak mau tersenyum dibuatnya. "Lapar banget, ya?"
Solar tidak menjawab, membiarkan pertanyaan dari abangnya berlalu ditiup angin malam. Si bungsu lebih memilih untuk menyandarkan pipi ke sandaran kursi dan duduk menyamping, melihati Halilintar yang cekatan berkutat dengan masakannya.
Lagi, rasanya aneh melihat abangnya yang satu ini bekerja di dapur. Karena biasanya orang yang Solar dapati menyenandungkan lagu Melayu sambil menggoyang wok di dapur kalau bukan Amato, ya Gempa. Sejak kapan Halilintar lihai begini?
Ada banyak sekali pertanyaan seputar Halilintar di kepala Solar saat ini. Begitu banyak, sampai dirinya menarik satu kesimpulan dari berbagai pertanyaan yang berkecamuk di kepala:
Solar tidak pernah menghabiskan waktu dengan Halilintar.
Bahkan sampai sepiring nasi goreng dan dua kroket kentang tersaji tepat di depannya, Solar tidak juga melepas tatapan dari koki dadakannya malam itu, yang mana sukses menarik perhatian Halilintar.
Yang lebih tua mengernyitkan dahi. "Kenapa bengong? makanlah."
Halilintar kembali mendekati kulkas saat Solar meraih sendok, membiarkan yang lebih muda menikmati makanannya.
Dan Solar sangat menikmatinya. Tidak pernah menyangka masakan dari seorang keluarga yang baginya 'asing' bisa seenak ini. Bahkan kroket kentangnya tidak kalah enak.
"Kroketnya Gempa yang bikin?" tanya Solar di sela kunyahan, tidak bisa berpaling dari sedapnya kroket yang sekarang hanya tersisa satu di piring kecil itu.
"Kenapa kau mikirnya Gempa?" Halilintar balik bertanya, kali ini meletakkan segelas susu coklat hangat di dekat hidangan yang tengah Solar nikmati. Si sulung duduk di hadapan adiknya kemudian, menarik buku fisika yang sempat terabaikan lalu mulai membaca PR-nya.
"Habis enak banget," jawaban lurus dari Solar seketika membuat Halilintar terhenyak. Pipinya memanas.
Dipuji oleh seorang adik yang jarang berinteraksi denganmu, walau secara tidak langsung sekalipun, ternyata rasanya bisa sehangat ini.
"Sayang sekali, yang bikin aku." Halilintar bersumpah ia tidak tersinggung sama sekali melihat wajah tidak percaya, nyaris menghina, dari sosok di depannya. Serius.
"Enak. Walau aku ga terlalu percaya, tapi enak. Kau jago masak ternyata," puji Solar kemudian, menghabiskan satu-satunya makanan yang tersisa di depannya—kroket kentang terakhir. Sengaja disimpan sebagai penutup saking enaknya.
Mendapat pujian yang terkesan setengah hati itu membuat Halilintar memutar mata, entah terbang ke mana rasa senangnya tadi.
Halilintar menutup buku di tangan kembali, kali ini ia bersandar sepenuhnya pada sandaran kursi; melihati dengan seksama bagaimana Solar memandang ragu pada segelas susu hangat yang sekarang berada di tangannya sendiri.
"Aku lihat obat di meja belajarmu tadi." Halilintar tidak melewati bagaimana air muka Solar tiba-tiba menegang, seolah ketahuan melakukan hal buruk. "Aku pernah lihat itu di meja Fang, dan itu obat tidur abangnya."
Solar menghela napas.
"Hali, aku—"
"Kukira kau cuma kebanyakan baca buku sampai larut malam, makanya kantung matamu hitam begitu. Siapa sangka kau amnesia."
"Insomnia, Hali."
"Nah, itulah maksudnya."
Halilintar menatap lurus Solar yang kini memainkan gelas di tangan, tampak tidak memiliki niatan untuk meminum cairan coklat di dalamnya sama sekali. Yang lebih tua lantas mendengus.
"Kau ada masalah akhir-akhir ini?" pertanyaan yang sedari tadi tersimpan di ujung lidah akhirnya dikeluarkan. Halilintar mencondongkan badan ke depan, memberi gestur bahwa ia siap mendengarkan semua cerita Solar malam ini.
Solar yang melihat bagaimana si abang pasang telinga untuknya hanya menatap heran. "Maksudnya?"
"Ya, kau 'kan susah tidur akhir-akhir ini," Halilintar membalas.
"Lantas?"
Wow. Ini efek kekenyangan atau efek ngantuk? Langka sekali rasanya bisa melihat seorang Solar bisa lola begini.
Halilintar hanya mendengus, kali ini menopang dagu malas dengan tangannya. "Kau sebelumnya ga pernah begini. Sekalinya susah tidur, pasti ada alasannya. Jadi, apa yang ada di otak besarmu itu?"
Ada kiranya satu menit berlalu sejak Halilintar melontarkan hipotesisnya. Dirinya sabar berdiam diri, menunggu jawaban atau apapun yang akan keluar dari mulut yang lebih muda—yang kini tengah menyesap habis segelas susu di tangan.
Tidak ada satupun dari mereka yang bersuara, sampai kemudian Solar tertawa renyah. Seolah berhasil memikirkan satu jawaban bagus untuk pertanyaan Halilintar setelah sekian lama.
"Aku pun ga tahu," lirih Solar berkata dengan mata terpejam.
"Yang kutahu cuma aku itu mau tidur, tapi ga bisa. Beberapa hari ini aku nyoba tidur dari sore, hasilnya sama aja. Aku baru bisa tidur waktu masuk adzan subuh," jelas Solar kemudian, menggeser peralatan makannya ke samping hanya agar ia bisa menyandarkan kening ke meja makan setelahnya.
"Karena itu kau beli obat tidur?" pertanyaan retoris dari Halilintar dihadiahi anggukan kecil.
"Tapi ga ampuh. Aku ga bisa tidur."
Kalau boleh jujur, sebenarnya Halilintar tidak pernah mengerti dengan penyakit yang seperti ini. Bagaimana cara seseorang bisa tidak bisa tidur saat mereka sangat menginginkannya? Pasalnya, Halilintar asal sudah di atas kasur dan mata terpejam, dapat dipastikan dirinya akan langsung jatuh terlelap. Sekuat apapun keinginannya untuk bangun.
Bahkan Blaze yang paling berisik dan hidup di antara mereka tujuh bersaudara pun begitu. Lantas mengapa?
Amato sama dengan Solar, insomnia juga dulunya. Tidak sekali dua kali Halilintar yang terbangun tengah malam hendak ke kamar mandi akan mendapati ayahnya sedang berbaring di sofa ruang tengah dengan mata terbuka nyalang. Susah tidur, katanya.
Halilintar sangsi, jangan-jangan itu penyakit orang pintar?
Asik bergemul dengan pikirannya, Halilintar tersadar saat sebuah dengkuran halus terdengar dari depannya. Tepatnya dari sosok sang adik yang kepalanya menghadap ke meja, dengan pundak yang bergerak naik turun teratur.
Halilintar, yang menyaksikan pemandangan langka lainnya di depan mata, sukses terdiam.
Dengusan geli lolos tanpa diminta.
"Masakanku lebih ampuh dari obat tidur, eh."
* Riklona 2
Hai, irasshai irasshai!
Haha, seharusnya saya bilang begini di atas tadi, tapi yasudah.
Terimakasih sudah mampir di fanfic BBB pertama saya, saya paling suka hubungan kakak adik HaliSolar. Ga tau kenapa, kerasa aja gitu persaudaraannya/uhuk. Semoga suka ya!
Akhir kata, adios~
Omake
Thorn perlahan membuka mata, panggilan alam tiba-tiba membangunkannya. Beruntung sekali ia dapat menahan diri untuk tidak mampir ke satu kamar kecil di dalam mimpi tadi.
Remaja serba hijau itu melihati sekeliling kamar sejenak sambil meregangkan badan, hanya untuk dibuat serangan jantung saat melihat satu sosok serba hitam yang tengah memakaikan selimut pada Solar yang terlelap di atas kasurnya.
Thorn baru saja akan berteriak kalau dirinya tidak segera menyadari siapa sosok itu, yang kini menyuruhnya untuk diam dengan menaruh telunjuk di depan bibir dengan muka garangnya.
Uh, oh.
Hali, toh.
