Rise of the Guardians is from Dreamworks and William Joyce
Warning : mungkin agak garing dan less conversation alias gak terlalu banyak percakapan
Hari itu sang surya kian beranjak dari tahta emasnya. Jubah emas kian lama kian meredup hingga berwarna biru gelap, dan akhirnya menghilang dari cakrawala. Memberikan sinarnya untuk menyinari belahan bumi yang lain.
Sesosok peri imut berwujud mirip burung kolibri tengah terbang mengitari berbagai jendela rumah, mengintip dari satu rumah ke rumah lain, untuk memastikan anak-anak dari divisi yang diperintahkannya untuk menjalankan tugasnya sebagai peri gigi menaruh giginya yang copot ke bawah bantal mereka.
Kemudian si peri melihat seseorang yang tak asing lagi baginya tengah menaruh gigi di bawah bantal. Sophie! Akhirnya gadis yang pernah ditemuinya di Warren tampak lebih besar sekarang, dengan surai pirang yang ia ikat satu. Setelah menaruh gigi di bawah bantal, si gadis pun mencium ibunya sebelum sang ibu meninggalkan kamarnya.
Tetapi butuh waktu lebih lama bagi si peri mungil untuk memastikan si gadis benar-benar tertidur agar ia bisa mengambil giginya. Karena saat ini Sophie sedang asyik bermain dengan bonekanya.
Tiba-tiba sesuatu menghantam jendela kamar Sopie. Tampaknya seperti salju, dengan kerak es yang terbentuk setelahnya. Diikuti pula oleh angin dingin yang berhembus.
Si gadis yang terkaget seketika menjerit lalu bergelung di bawah selimutnya.
Baby Tooth yang jelas mengetahui siapa yang membuat salju itu, berniat mengejar. Tetapi sebelumnya ia memperhatikan si gadis yang tak bergeming, kemudian menyelinap ke sisi ranjangnya untuk mengambil gigi yang diletakkan di sana dan menukarnya dengan koin.
Setelah dengan cepat mengerjakan tugasnya sebagai peri gigi, Baby Tooth tak lekas kembali ke Tooth Palace. Alih-alih demikian, si mungil itu bersembunyi di balik cerobong perapian rumah memandang sosok guardian yang berada tak jauh darinya. Meskipun ia tahu sosok imutnya tak akan terlalu jelas membuat orang menyadari kehadirannya, mereka akan masih bisa mengenali kehadirannya melalui kepakan sayap atau suara cicitannya.
Guardian itu ada di sana. Dengan semangat yang sama seperti biasanya, ia menciptakan salju dimana-mana untuk mengajak orang bersenang-senang bersamanya. Kali ini ia menggoda beberapa orang dewasa muda yang tampaknya baru pulang dari sebuah acara. Guardian itu pun membuat bola-bola salju untuk orang-orang itu saling melempar.
Namun tak lama kemudian beberapa dari mereka menyudahi itu dan berjalan pulang. Diikuti oleh sisanya yang lain.
Jack mengeluh. "Hei, kawan... Ayolah. Itu tadi seru! Aku hampir tak pernah bersenang-senang dengan orang dewasa sebelumnya-"
Perkataannya terputus tatkala salah satu dari orang tersebut berjalan melewati Jack, dan menembus tubuhnya.
Rupanya orang-orang itu tak bisa melihatnya.
Jack terlihat terkejut sesaat, namun kemudian mengehela napas dan berlalu ke atap rumah.
Baby Tooth terus memperhatikannya, mengagumi sosok Guardian tampan yang kini berjalan tak tentu arah di atas atap rumah orang-orang sambil melamun. Sesekali mengayunkan tongkatnya membuat kerak es di sembarang tempat, lalu akhirnya merebahkan diri sambil menatap bulan.
Ia terlentang di atap rumah dengan salah satu kakinya terangkat menyilang kaki lain, dan kedua tangan terlipat di belakang kepalanya. Pandangannya melamun. Surai peraknya melambai pelan terhembus angin.
Si peri mungil sangat terkagum dengan sosoknya itu. Dan akan terus terpana. Ia ingat bagaimana kawan-kawan guardiannya yang lain pada suatu saat kecewa dengan Jack, tetapi Baby Tooth tidak. Dan harus ia akui pula, rasa kagumnya pada si Guardian mengalahkan kekecewaannya pada waktu itu.
Awal ia melihatnya secara langsung adalah ketika Jack dibawa ke markas North. Ia bersama beberapa Baby Tooth lain menemani Tooth Fairy--yang terus saja mengoceh ini itu--setelah menerima sinyal aurora dari North. Saat Jack datang Baby tak bisa menahan gejolak kekagumannya, ia dan peri-peri lain berteriak histeris--walaupun hanya terdengar seperti cicitan burung oleh telinga makhluk lain.
Tetapi awal ia menjadi akrab dengan Jack adalah pada saat Tooth Palace diserbu oleh pasukan kuda dari pasir mimpi buruk Pitch. Saat itu ia panik dengan serangan tiba-tiba itu yang dengan cepat menculik para peri, Baby dengan cepat menghindar.
Untungnya Jack dengan cepat menangkapnya, dan dengan nada khawatir menanyakannya apakah ia baik-baik saja. Ia pun berulangkali berterima kasih dengan tubuh bergetar ketakutan, yang lagi-lagi hanya terdengar seperti mencicit.
Kemudian pada saat Jack memulangkan Sophie yang tersesat di Warren. Melihat Jack yang akan pergi sendirian, Baby pun meminta izin Tooth untuk mengikutinya.
Namun sebuah masalah muncul. Jack tiba-tiba mendengar panggilan misterius dari kejauhan, entah dari mana. Baby juga mendengarnya, namun ia merasa bahwa itu bukanlah pertanda bagus. Ditarik-tariknya hoodie Jack, melarangnya menghampiri suara itu dan bergegas kembali menuju Guardian lain.
Jack bersikukuh menghampirinya. Bahkan menenangkan dirinya bahwa mereka masih punya banyak waktu. Baby Tooth pun memutar bola matanya.
Tapi tak bisa dipungkiri juga, kalau Jack tidak menuju ke asal panggilan misterius itu, mungkin Baby Tooth tak akan tahu di mana Pitch menyembunyikan peri-peri yang lain.
Dan saat itu pula Jack menjadi gelap mata, alih-alih menyelamatkan para peri, ia tergoda untuk mencari tabung giginya, salah satu tabung dari lautan tabung-tabung lain.
Rupanya itu hanyalah pancingan Pitch. Pitch pun melemparkan tabung milik Jack dan mengusirnya. Meninggalkan dirinya di markas Pitch.
Ia tak tahu apa yang terjadi pada Jack setelahnya. Yang ia tahu ia ketahuan oleh Pitch bahwa ia satu-satunya peri yang tak tertangkap, kemudian mengejarnya. Sayap Baby Tooth yang semakin melemah tak cukup membuatnya mampu melepaskan diri dari genggaman Pitch. Ia digenggam kuat hingga pingsan.
Saat ia bangun, hawa yang teramat dingin menerpanya. Rupanya ia dibawa Pitch ke Antartika, ia dijadikan pancingan oleh Pitch terhadap Jack.
Dan ketika ia digenggam kuat oleh Pitch dan akan diserahkannya kepada Jack jika Jack menyerahkan tongkatnya, Baby menggeleng kuat-kuat. Ia hanyalah seonggok peri kecil yang bekerja pada Tooth Fairy. Ia hanya satu dari sekian banyak peri yang dimilikinya. Bahkan jika Pitch mengkhianati ucapannya yang mengatakan tak akan menyakitinya, ia juga hanya bisa pasrah. Karena Baby Tooth memang tak memiliki kekuatan apa-apa.
Ternyata dugaannya benar, Pitch berbohong. Maka Baby memberanikan diri untuk membela dirinya sendiri, ia menusuk tangan Pitch dengan ujung hidung runcingnya. Pitch yang terkaget melemparkannya menabrak dinding es dan jatuh ke jurang. Ia pun pingsan lagi.
Yang ia tahu, Jack benar-benar sangat perhatian terhadapnya. Jack berusaha melindungi makhluk kecil yang lemah sepertinya, meskipun karena itu tongkat Jack jadi rusak untuk melindunginya. Ia bahkan meraih tubuhnya dan menyelimutinya dengan tangan, walupun hanya rasa dingin yang dirasakannya.
Baby tak bisa menahan bersinnya. Terlalu lama dalam suhu dingin membuatnya sakit. Seketika itu pula ia melihat ada guratan penyesalan dalam raut wajah Jack. Baby Tooth entah kenapa jadi memperhatikan bahwa ada kantung di baju Jack, ia pun menghangatkan diri di kantong itu.
Ternyata di dalam kantung itu ada juga tabung gigi Jack. Maka ia pun mengerahkan kekuatannya untuk 'menyalakan' tabung itu. Tabung gigi bersinar dan Jack mengambilnya.
Si peri mungil tak dapat mengucapkan apa-apa sebagai rasa terima kasihnya, maka ia pun membimbing Jack untuk membuka kenangan masa lalunya melalui tabung gigi ini.
Jack akhirnya menekan bagian tengah tabung.
Baby Tooth memperhatikan dengan seksama bagaimana Jack sedang terlamun dengan ilusi masa lalunya. Kilatan-kilatan memori silih berganti terefleksi di bola matanya, tetapi Baby tak terlalu jelas melihatnya dari posisinya sekarang. Terlebih lagi, Baby hanya ingin melihat Jack, dan mengaguminya selagi ia bisa berduaan dengannya seperti ini.
Tak bisa Baby pungkiri juga, ada rasa di dalam hatinya yang menginginkannya lebih lama bersama Jack, walaupun di belahan Antartika yang dingin.
Namun ia harus tahu situasi, anak-anak lebih penting sekarang untuk keselamatan kawan-kawan guardiannya yang lain.
Selagi ia bisa bersama dengan Jack, ia akan menikmatinya. Ia tak akan bosan memandang wajah rupawan Jack yang tegas dan tampan itu. Guardian itu selalu bisa membuatnya menjerit kagum, bahkan banyak sekali rekan-rekan gigi peri menjadi penggemar baru Jack.
Entah sudah berapa lama Baby Tooth memperhatikan Jack dari kejauhan, sampai rekan peri yang lain menyadarkannya dari lamunan.
Rekan-rekan itu mengisyaratkan untuk segera kembali, tetapi Baby menolaknya. Baby ingin sebentar lagi saja mengagumi sosok Jack. Kemudian dia pun kembali berpaling pada sang Guardian yang masih berbaring terpejam di atas atap rumah orang.
Perlahan, Baby terbang mendekati Jack. Berusaha sepelan mungkin agar kepakan sayapnya tak terlalu keras untuk ketahuan. Semakin dekat... hingga akhirnya dia hinggap di cerobong asap. Baby pun duduk dengan tangan memangku wajah.
Angin malam berhembus lembut. Membuat surai peraknya bergoyang halus, menjadikan wajah rupawan bak manekin itu terlihat semakin menawan. Jack memang boneka hidup.
Namun rupanya, semakin lama angin semakin kencang berhembus. Baby yang mungil hampir saja terbawa hembusan angin, kalau saja dia tidak segera mengepakkan sayapnya melawan arus angin. Tapi naas, meskipun begitu sayap si peri tetap saja tersangkut pinggiran cerobong asap.
Baby yang panik segera menarik-narik sayapnya, mengakibatkan tanpa sadar ia mengeluarkan suara kicau mirip burung. Hal itu juga yang menyebabkan Jack membuka mata.
"Peri gigi?" Jack melompat bangun dan mencari sumber suara kicau yang didengarnya.
"Baby Tooth!" Sang Guardian pun menemukannya, si peri gigi imut yang tersangkut baut besi pada susunan bata cerobong asap. Jack dengan cepat dan hati-hati membantunya melepaskan diri.
Baby semakin histeris berkicau tatkala sayapnya berhasil lepas, pertanda berterimakasih. Jack yang melihatnya bergerak-gerak riang pun ikut tersenyum geli.
Benar, kan? Lagi-lagi Jack menyelamatkannya untuk kesekian kali.
Baby terus berkicau, meskipun ia tahu Jack takkan mengerti apa yang ia katakan. Tetapi Jack tetap menyimaknya dengan serius, dan itu sudah lebih dari cukup bagi si peri.
Merasa lelah berkicau, Baby pun mencoba untuk terbang ke dada Jack dan memeluknya. Barangkali dengan cara ini Jack jadi mengetahui kalau Baby berterima kasih padanya.
"Oh, kau berterima kasih padaku?"
Akhirnya!
Si peri berkicau senang lagi.
"Hahaha... oke, oke. Tak perlu berterima kasih." Jack membawa Baby ke atas telapak tangannya lagi, lalu pindah duduk di atas ranting pohon. "Hei, kau tahu... aku juga seharusnya berterima kasih padamu. Kau yang mengerti keadaanku... dan tak pernah memusuhiku seperti teman-teman yang lain."
Nada bicara Jack terdengar serius. Baby jadi penasaran sama arah pembicaraannya, jadi si mungil itu menyimak dengan diam.
Jack tertawa canggung. "Hahah... tidak ada apa-apa, aku hanya ingin berterima kasih juga. Tapi, hei... bagaimana caranya?" tanyanya seraya memandang kesana-kemari, seperti mencari sesuatu. Kemudian, dia pun menjentikkan jarinya.
"Aha! Aku tahu." Jack tersenyum lebar. "Pejamkan matamu."
Baby terkesiap. Mukanya memucat dan terlihat bingung. Namun ketika Jack mengangguk meyakinkan, maka Baby mengikuti permintaanya.
Awalnya Baby memejamkan mata dengan ragu, ada sedikit celah untuknya mengintip. Namun karena sepertinya Jack benar-benar menunggunya, Baby akhirnya menutup mata dengan rapat.
Angin semilir malam berhembus lembut menerpa tubuhnya yang bertengger di atas telapak tangan Jack yang begitu nyaman, dengan hati berdebar hebat. Siapa pula yang tak berdebar bila ada di posisinya saat ini? Berada di dalam rengkuhan lembut seorang Guardian rupawan, hanya berdua dengannya pada malam hari yang cerah di bawah bulan purnama. Dan sungguh prestasi bagi Baby yang tidak pingsan berada selama ini berduaan saja dengan Jack.
Cukup lama Baby menunggu, hingga akhirnya...
Cup.
Sesuatu menyentuh pipinya--hampir seluruh wajah sebenarnya, mengingat sosoknya yang kecil mungil--yang ia rasa adalah... bibir?
Baby membuka matanya.
Benar saja... Jack mencium pipinya.
Cukup lama dan sangat lembut, dan dia meringis canggung setelah melepaskannya.
"Mungkin hanya itu yang bisa kuberikan untukmu... eh, kalau kau tak suka-"
Perkataan Jack terputus saat mendapati Baby pingsan. Akhirnya pertahanan si peri mungil itu roboh!
Tinggallah kini Sang Guardian sendiri yang panik dan berusaha membangunkan si peri yang pingsan kebaperan, dan lebih kebingungan lagi bagaimana mengatakannya pada Tooth saat Jack mengembalikan salah satu perinya nanti...
"Hei, Jack! Kau lihat salah satu periku?"
"Aku, eh... ini, aku bisa jelaskan-"
"Hah?! Oh, my godness... kau apakah periku, Jack?!"
"Tunggu, tunggu-"
"Kau apakan?!"
"Aku... aku... cium."
Pikiran Jack blank sampai sini. Sungguh malang nasib Sang Guardian tersebut.
salam kenal ya. aku author baru, tapi sebelumnya udah buannyakkk bangettt baca2 fic berbagai fandom. dan yahhh... setelah sekian lama cuma jadi silent reader, sekarang aku coba menulis fic mumpung ada ide hehe
terima kasih telah membaca :D
