Sona POV

Sekarang hari minggu dan seperti yang sudah kurencanakan aku akan kerumah Naruto-kun untuk mengerjakan tugas sekolah, sebelum menuju kesana aku terlebih dahulu menuju minimarket untuk membeli beberapa ramen cup untuk Naruto-kun.

"NARUTO-KUN!" aku berteriak terkejut saat melihat Naruto-kun yang tergeletak didepan rumahnya dengan kondisi tubuh yang dipenuhi darah.

" Naruto-kun, apa yang terjadi padamu" kataku sambil kulihat kondisinya yang bisa dibilang tidak baik, kulihat tubuhnya mendapat beberapa luka memar dibeberapa bagian tubuhnya dan yang lebih parah luka dikepalanya yang mengeluarkan banyak darah yang sudah mengering, itu berarti Naruto-kun sudah tergeletak disini cukup lama.

Tak ingin membuang waktu aku langsung membawa Naruto-kun masuk, untung saja rumahnya tidak dikunci sehingga aku bisa segera masuk.

Aku langsung menidurkan Naruto-kun dikamarnya, setelah itu aku langsung mengambil apa yang kubutuhkan untuk mengobati lukanya, untung saja dirumahnya sudah tersedia semua, mungkin karena Naruto-kun sering mengobati lukanya sendiri.

Sebelum mengobatinya, aku membersihkan semua tubuhnya dari darah yang menyelimuti tubuhnya dan mengganti pakaiannya.

Saat mengganti pakaiannya aku kembali dikejutkan saat melihat ditubuhnya banyak sekali bekas luka dan dengan hati-hati aku mengganti pakainnya karena aku tak ingin menyentuh bagian yang seharusnya tak tersentuh.

Setelah beberapa saat aku selesai mengganti pakaiannya, sekarang tinggal mengobati luka dikepalanya, untung saja aku dulu pernah tergabung dalam salah satu organisasi kesehatan sehingga aku tau apa yang harus kulakuan untuk mengobati lukanya.

Tak butuh waktu lama aku selesai mengobati lukanya dan langsung memerbannya, untung saja luka dikepalanya tidak begitu serius, tapi meski begitu sebaiknya aku membawanya kedokter setelah ia sadar.

Sambil menunggu sadar aku memutuskan untuk membuat makanan untuk Naruto-kun saat ia sadar nanti.

Tapi baru saja aku akan beranjak tiba-tiba akan mendengar suara lenguhan Naruto-kun.

"Ugh,, dimana aku"

Kulihat Naruto-kun yang baru saja bangun dari pingsannya.

"Naruto-kun syukurlah kau sudah sadar" kataku melihat Naruto-kun yang sedang mendudukkan dirinya sambil memegangi kepalanya yang sepertinya masih sakit.

"Sona, kenapa kau disini?" tanya Naruto-kun, sepertinya ia bingung kenapa aku bisa ada disini dan aku langsung menjelaskannya mulai dari aku melihatnya pingsan didepan rumah.

"Begitu ya" kata Naruto-kun sambil mengingat-ingat kejadian yang terjadi sebelumnya.

"Terima kasih Sona, kau sudah mengobatiku" kata Naruto-kun.

"Sama-sama Naruto-kun "

"Jadi kau juga yang mengganti pakainnku?" tanya Naruto-kun melihat ia tidak memakai pakaian yang sama seperti yang ia pakai sebelumnya.

"Ya begitulah, karena melihat pakaianmu penuh darah jadi aku memutuskan untuk menggantinya" kataku dengan wajah memerah mengingat saat aku mengganti pakaian Naruto-kun tadi.

"Oh ya Naruto-kun lebih baik kita segera kedokter untuk memeriksa keaadanmu karena kulihat tadi luka dikepalamu cukup parah" kataku.

"Tak perlu, lagipula aku tidak merasakan sakit"

"Tapi untuk memastikannya kita harus kedok-" kataku tapi langsung dipotong oleh perkataan Naruto-kun.

"Sudah kubilang tak perlu" kata Naruto-kun memotong perkataanku.

"Baiklah kalau begitu"

"Sona kenapa kau sangat peduli padaku"

"Karena kita adalah teman" kataku yang membuat Naruto-kun terdiam beberapa saat.

"Aku bukanlah orang yang cocok berteman dengamu"

"Apa maksudmu?" kataku tak mengerti apa yang dimaksud Naruto-kun.

"Aku bukanlah orang baik-baik, yang bisa kulakukan hanya menyakiti orang"

"Naruto-kun jangan pernah bilang bahwa kau bukan orang yang baik"

"Tapi kau lihat sendirikan apa yang terjadi padaku"

"Tapi aku yakin kau bisa berubah Naruto-kun" kataku.

"Aku tidak akan berubah"

"Aku akan merubahmu" kataku yang membuat Naruto-kun kembali terdiam beberapa saat.

"Terserah kau saja, aku tak peduli" kata Naruto-kun sambil beranjak dari tidurnya dan meninggalkanku.

"Kau mau kemana Naruto-kun "

"Bukan urusanmu" kata Naruto-kun sambil berjalan pergi.

"Tapi keadaanmu belum pulih" kataku tapi Naruto-kun hanya diam saja seakan tak memperdulikanku, tapi aku memilih mengikutinya takut jika ia akan berkelahi lagi.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Naruto-kun tunggu" kataku sambil menyusul Naruto-kun yang sudah pergi keluar rumah.

"Mau apa kau, jangan ikuti aku" kata Naruto-kun saat aku berhasil menyusulnya.

"Kamu mau kemana Naruto-kun, tubuhmu masih belum pulih" kataku sambil menghadangnya.

"Memangnya apa pedulimu"

"Aku tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu" kataku tapi Naruto-kun hanya diam saja.

"Memangnya kamu mau kemana?" tanyaku lagi.

"Aku lapar, aku mau cari makanan" jawab Naruto-kun.

"Kalau begitu aku ikut"

"Terserah kau" kata Naruto-kun dan aku langsung mengikutinya, sebenarnya alasanku mengikutinya hanya untuk memastikn bahwa ia tak berkelahi lagi dengan kondisinya saat ini yang tidak begitu baik, aku takut jika ia terluka seperti tadi.

Setelah berjalan sekitar 10 menit aku dan Naruto-kun sampai disebuah kedai ramen yang tidak terlalu besar, aku dan Naruto-kun langsung masuk kedai tersebut kondisi disana cukup sepi hanya beberapa orang yang sepertinya sudah akan pergi.

"Bibi aku pesan ramen seperti biasa" kata Naruto-kun pada pemilik kedai sementara pemilik kedai terlihat tersenyum ramah saat melihat Naruto-kun, sepertinya Naruto-kun sudah sering makan disini.

"Oh Naru-chan, sudah lama kau tidak kemari" kata pemilik kadai tersebut, aku sedikit tersenyum mendangar pemilik kedai tersebut memanggil Naruto-kun, entah kenapa panggilan 'Naru-chan' terdengar sangat imut bagiku.

"Naru-chan, tumben kau tidak datang sendiri, apa dia pacarmu atau kalian sedang berkencan" kata pemilik kedai tersebut sambil menyiapkan pesanan.

"Tentu saja tidak" kata Naruto-kun sementara aku hanya tersenyum menanggapi candaan pemilik kedai tersebut.

"Sona pesan saja apa yang kau mau" kata Naruto-kun, lalu aku mulai memesan ramen karena saat ini aku sedang lapar jadi aku memesan ramen porsi besar.

Tak lama kemudian pesananpun datang dan kami langsung memakan pesanan kami.

Sona POV End

.

.

.

.

.

.

Sementara itu disebuah gedung kosong terlihat pria berambut hitam yang sedang menyaksisan perkelahian didepannya ditemani sebuah manga ditangannya yang sesekali ia baca.

Didepannya terlihat beberapa pria yang sedang beradu pukulan, total ada 8 pria yang sedang berkelahi, 3 diantara mereka adalah teman dari pria yang hanya duduk menyaksikan pertarungan dan lainnya adalah lawannya.

"Jika lawannya seperti mereka, sepertinya aku tak perlu turun tangan" gumam pria berambut hitam tadi sambil mengalihkan pandangannya kearah manga yang sedang ia pegang, sepertinya ia sudah yakin jika teman-temannya akan berhasil menyelesaikn perkelahian tanpa bantuannya.

"Sasuke, kami sudah selesai" kata salah satu teman Sasuke setelah berhasil menghabisi lawan mereka.

"Begitu ya, kalau begitu kita ketempat selanjutnya" kata Sasuke sambil menutup manga yang sedang ia baca.

"Oh ya Sasuke, ngomong-ngomong dimana Naruto, seharian ini aku belum melihatnya sama sekali" tanya salah satu teman Sasuke.

"Entahlah, mungkin ia sedang berkelahi ditempat lain, sebaiknya kita segera pergi, mungkin nanti dia akan menyusul" kata Sasuke sementara ketiga temannya hanya menggangguk mengerti.

.

.

.

.

.

.

"Tak kusangka ramen disana enak sekali" kata Sona sambil mengelus perutnya yang kekenyangan.

Saat ini Sona dan Naruto sedang dalam perjalanan pulang setelah mereka memakan ramen.

"Oh ya Naruto-kun sepertinya kamu akrab sekali dengan pemilik kedai ramen tadi, bahkan ia memberikan ramen gratis pada kita" kata Sona.

"Mungkin karena aku pernah menyelamatkannya" kata Naruto-kun.

"Menyelamatkannya?"

"Dulu kedai ramen itu sering jadi sasaran preman yang memintai uang, bahkan kedai itu hampir bangkrut karenanya, tapi sejak aku menghajar para preman itu mereka tak berani lagi datang kesana" jelas Naruto-kun.

"Sudah kubilang kamu adalah pria yang baik Naruto-kun " kata Sona sambil tersenyum setelah mendengar cerita Naruto-kun.

"Itu hanya kebetulan saja" kata Naruto-kun membantah apa yang Jurina katakan.

"Tapi tetap saja kamu sudah menyelamatkannya" kata Sona.

"Terserah apa yang kau katakan" kata Naruto pasrah dengan apa yang Sona katakan.

"Oh ya Sona, dari mana kau tau rumahku, setauku aku tak pernah memberitahumu" kata Naruto karena memang setiap Sona bertanya dimana rumahnya ia tidak pernah menjawabnya.

"Eh,, itu,," kata Sona bingung harus menjawab apa karena tak mungkin ia bilang karena ia pernah mengikuti Naruto saat pulang sekolah hanya untuk mengetahui rumahnya.

"Sebenarnya dulu saat aku sedang jalan-jalan aku melihatmu masuk kerumah itu jadi kupikir itu rumahmu" kata Sona berharap Naruto akan percaya dengan apa yang ia katakan.

"Apa benar begitu" kata Naruto menaruh curiga.

"Ya begitulah" kata Sona mencoba meyakinkan.

"Lalu mau apa kau kerumahku?" tanya Naruto yang seketika membuat Sona ingat sesuatu.

"Oh ya kita belum menyelesaikan tugas sekolah" kata Sona setelah ingat bahwa tujuan awalnya kerumah Naruto untuk mengerjakan tugas kelompok.

"Ayo Naruto-kun, kita harus segera mengerjakannya" kata Sona sambil menarik tangan Naruto dan berlari menuju rumah.

"Oi jangan menarikku seenaknya" kata Naruto yang terpaksa mengikuti laju Sona.

TBC

Sebelumnya terimakasih sudah membaca fic ku ini dan sudah mereview sama mengkoreksi fic

Untuk reader aulshi terimakasih koreksinya,fic ini sebenarnya cerita yang sudah ku publish di web sebelah dan aku buat versi naruto x dxd nya, untuk nama-nama asing yang muncul dific ini akan kuusahakan tak ada lagi di chapter berikutnya.

Untuk Pembaca Anda juga terima kasih review dan koreksinya, kalau dibilang pemula sebenarnya enggak juga sih karena aku mulai menulis sekitar 7 tahun lalu tapi aku berhenti nulis sekitar 3 tahun laul dan mulai nulis lagi baru-baru ini, karena itu aku jadi belajar nulis dari awal lagi, meski sebenarnya dari awal tulisanku memang tak terlalu baik, tapi kuusahakan kedepannya akan lebih baik lagi

Dan untuk reader Munding, character Rena itu adalah character dari ffn ini yang kelewatan belum diganti dan untuk Saduki itu hanya efek keyboard hp yang auto correct, setiap nulis Sasuke langsung berubah jadi itu, tapi selanjutnya dipastikan taka da lagi kesalahan seprti itu.