Naruto belongs to Masashi Kishimoto
.
Teratai putih
.
Mempersembahkan
.
Langit Senja
.
Pair: Namikaze Minato X Hinata Hyuuga
Genre: romance, hurt/comfort
Rate: M
Warning : tidak menjanjikan EYD, crackpair, typo(s), OOC
.
.
Langit Senja
.
.
Kecupan yang cepat mendarat di mahkota rambutnya. Hinata berbalik untuk menemukan Minato di belakangnya. Pria itu telah tersenyum hangat seperti biasa. Senyuman yang ingin dia miliki selamanya.
Dia mengedarkan matanya. Menjaga matanya untuk melihat apakah ada siswa atau orang lain yang bergerak di sekitar perpustakaan. Tidak terlalu banyak orang di sekitar mereka. Hanya beberapa orang siswa yang duduk cukup jauh dari mereka dan seorang penjaga perpustakaan yang tampak mengantuk.
Mereka cukup aman. Mengingat lorong rak buku yang mereka tempati tersembunyi dan jauh dari pandangan mata manusia lain.
Hinata mengembalikan pandangannya pada pria di depannya. Pria itu sedang membuka sebuah novel roman. Yang mana itu membuat Hinata tertawa kecil.
"Kenapa kau tertawa?" Tanya Minato.
Hinata menunjuk pada buku di tangan Minato. "Bukankah Sensei tidak suka buku semacam itu?"
Minato mengerutkan keningnya. Tampak tidak suka dengan hinaan Hinata padanya.
"Siapa yang bilang begitu?"
Hinata memusatkan mata pada sang guru yang juga menantang matanya balik. "Sensei selalu melempar novel-novelku saat kita bersama."
Minato menghela napas. Mengangkat bahunya seolah tak peduli. Hinata gemas. Gadis itu langsung mencubit pinggang Minato dengan candaan. Minato terperanjat kaget dan menarik tangan Hinata ke sisi tubuhnya.
"Kau seharusnya tidak menggodaku seperti itu." Ujar Minato memperingatkan.
Wajah Minato telah sangat dekat dengan wajahnya. Namun Hinata tidak mau menyerah begitu saja. Dia tahu, gurunya sedang mencoba menggodanya balik.
Jadi, dia tersenyum. Setelah menjatuhkan buku di tangannya, Hinata meraih wajah sang Guru. Menarik wajah itu semakin dekat dengannya. Minato jelas telah bersiap untuk menjatuhkan bibirnya ke atas Hinata. Namun, Hinata lebih paham.
Hinata langsung menjatuhkan tubuhnya untuk meraih buku yang tadi sempat ia jatuhkan. Membuat wajah Minato hampir menabrak rak di belakang Hinata.
"Ah, Hinata menjatuhkan buku perpustakaan." Ujarnya sambil melambaikan buku di tangannya.
Gadis itu berdiri dan keluar dan kungkungan lengan panjang Minato. Namun masih cukup dekat untuk batas antara guru dan murid.
Minato menarik pinggang Hinata. "Kau suka sekali menggodaku."
Wajah itu kembali mendekatinya. Namun, Hinata langsung menghalanginya dengan buku di tangan. Minato mendengus kesal. Mulai menjauhkan wajahnya dari Hinata.
"Apakah Sensei tidak pergi makan siang?" Tanya Hinata dengan polos.
Tangan sang guru tidak bergerak dari pinggang. "Aku tidak makan di kantin."
"Lalu?"
Minato tersenyum. "Sudah ada makanan tepat di depanku."
Hinata tersipu malu. Minato memulai lagi usahanya. Mendekatkan kembali wajahnya. Kali ini, Hinata tidak menghindar. Bibir mereka sudah akan bertemu. Itu sebelum, bel tanda masuk berbunyi dengan keras.
Minato memasang wajah kesal. Mendecak dengan sangat-sangat kesal. Hinata tertawa kecil melihat ekspresi itu. Gadis itu melepaskan lengan Minato.
"Hinata masuk kelas dulu, Namikaze-sensei." Hinata melakukan ojigi dengan sopan.
Dia sudah akan berbalik dan berjalan ke kelas. Sebelum lengannya ditarik. Minato menanamkan kecupan manis di bibirnya.
"Belajarlah dengan baik." Dengan itu, Minato melepaskan tangannya.
Hinata tersipu dengan keras. Dia menunduk dan mengangguk. Kemudian berjalan dengan pelan ke kelas.
.
.
Langit Senja
.
.
Flashback on...
Bel sekolah berbunyi empat kali. Menandakan jam pulang sekolah sudah datang. Umino-Sensei sudah keluar dari kelas mereka beberapa menit yang lalu. Hinata mulai merapikan peralatan sekolahnya. Memasukkan buku dan alat tulis ke dalam tas. Tidak memperhatikan bahwa nona ketua kelas sudah berdiri di depan kelas.
"Perhatian sebentar!" teriak Sakura menarik perhatian teman-teman sekelasnya. "Namikaze-Sensei tadi memanggilku. Karena Rabu depan ada praktikum biologi, dimohon untuk ketua kelompok untuk berkumpul di laboratorium besok sepulang kelas."
Sasuke mengangkat tangannya. "Apa hanya ketua kelompok?"
"Ya, karena akan ada pengarahan tugas agar ketika kelas dimulai, semua kelompok bisa langsung membagi tugas dan bekerja lebih cepat. Ada pertanyaan lagi?" Mata Sakura memindai kelas dengan tekun. Memperhatikan beberapa anggota kelasnya mengeluh tidak suka. "Jika tidak ada, pulanglah!"
Hinata terdiam. Besok sepulang sekolah, dia harus memberitahu ayahnya jika dia akan pulang terlambat karena pertemuan ini. Sebagai ketua kelompok yang baik, Hinata akan menemui gurunya di laboratorium. Astaga, dia sudah merasa bahagia. Meskipun dia tahu, Hinata akan bersama dengan teman-teman sekelasnya. Gagasan berjumpa dengan Minato sudah membuatnya bahagia.
Senyum kecil tersemat di wajahnya. Tangannya melanjutkan membereskan peralatan sekolahnya dengan lebih pelan. Menikmati pikirannya yang memikirkan Minato dalam angannya. Tidak terlalu sadar, dia mulai tertinggal di kelasnya sendiri.
"Hinata!" Lamunan Hinata hancur ketika suara Ino memanggil namanya. "Ayo pulang! Kita akan tertinggal bus."
Ah iya. Hinata tidak boleh tertinggal bus. Dia mulai bangkit dan menyusul Ino yang menunggunya di depan pintu kelas. Mereka berjalan beriringan menuju rak sepatu di dekat pintu sekolah. Hinata berdiri di depan raknya, melepas uwabakinya dan mengganti dengan sepatu pantofel hitam.
Saat dia mulai memasang sepatu pantofelnya, Hinata mendengar suara Minato dari lorong sekolah. Otomatis, kepalanya menoleh dan menemukan Minato sedang berbicara dengan Kakashi di antara ratusan murid yang lewat.
Mata mutiaranya terpaku pada sosok Minato, pria itu berjalan dengan tegap seperti biasa. Menunjukkan kepercayaan diri Minato yang tinggi. Senyum yang selalu membuat Hinata bahagia terpampang jelas di wajah tampan Minato. Minato telah mengenakan mantel, melindungi dirinya dari hawa dingin yang bisa menyerang kapan saja.
Lagi-lagi, Hinata tidak menyadari sekitarnya. Sampai Ino melambaikan tangannya di depan mata Hinata.
"Kau baik-baik saja, Hinata?" Tanya Ino khawatir.
Hinata berkedip bingung. "Ya, Hinata baik-baik saja. Kenapa memangnya?"
"Kau melamun dari tadi. Seperti melihat hantu saja." Ujar Ino lagi.
"Oh, benarkah?" Ino mengangguk. "Maaf, Hinata tidak sadar."
"Apa kau benar-benar melihat hantu?" Tanya Ino curiga. Hinata buru-buru menggelengkan kepala. "Atau..."
Hinata menunggu kalimat menggantung dari Ino. "Atau apa?"
"Atau hantu itu sangat tampan sampai kau lupa daratan?" Ino mengedipkan matanya.
"Eh?"
"Maksudku, apa kau melihat orang yang kau suka?" Ino memperjelas dengan nada gemas pada Hinata yang menurutnya terlalu polos.
Mata mutiara Hinata terbelalak terkejut. Agak bingung menanggapi kalimat Ino yang terang-terangan. Hinata menundukkan kepalanya, memegangi sepatunya dengan canggung. Mencoba menghindari tatapan menggoda Ino. Hal tersebut malah membuat Ino tertawa.
"Kau sangat menggemaskan, Hinata. Aku jadi penasaran." Ucap Ino lagi.
"Penasaran akan apa?" Mata Hinata masih merunduk. Memutuskan untuk meneruskan kegiatan memasang sepatu pantofel ke kaki mungilnya. Kaki Hinata mungil juga ya? Hinata mulai bertanya-tanya, apakah kaki Minato juga besar seperti tangannya? Berapa ukuran sepatunya? Apa seluruh aspek dari Minato itu besar dibandingkan Hinata?
"Siapa sih pria yang kau suka?" Tanya Ino usil.
Hinata hanya tersenyum mendengar pertanyaan Ino. Yah, dia baru tahu jika dia menyukai Minato hari ini. Dia jadi ingin tertawa dengan pertanyaan Ino. Apa bisa dia menyukai seseorang secepat ini? Uhm, tapi bukankah ada istilah, rasa suka datang tanpa kita ketahui dan datang secepat mata berkedip? Mungkin itu yang Hinata rasakan sekarang.
"Sudahlah, kau tidak perlu cerita sekarang. Mungkin kau masih malu." Ujar Ino tersenyum lagi.
Hinata memandang Ino setelah selesai dengan sepatunya. "Terima kasih, Ino-san."
"Ah, ngomong-ngomong, sudah kubilang berkali-kali, berhenti memanggilku –san. Kau membuatku merasa jauh darimu." Keluh Ino.
"Maaf, Ino-san. Kebiasaan sulit dihilangkan." Ujar Hinata canggung.
"Biasakan memanggilku Ino. Ino. I-N-O. Tanpa –san. Aku tidak nyaman, Hinata."
Hinata memandang Ino bingung. "Ino."
Wajah bahagia terpajang di wajah temannya. "Nah begitu, donk."
Senyum Ino menular padanya. Hinata ikut tersenyum dengan melihat temannya tersenyum bahagia memandangnya. Hinata mengalihkan pandangannya dari Ino ke pintu gedung sekolah. Dia kembali tertegun. Minato berdiri di depan pintu gedung sekolah. Memandanganya dengan pandangan tak terbaca. Pria itu tersenyum padanya.
.
.
Langit Senja
.
.
Hinata menggeser pintu laboratorium biologi dengan pelan. Kosong. Dia menghela napas kecewa. Setelah berpisah dengan Ino, Hinata terburu-buru menuju ruang laboratorium. Menghiraukan fakta bahwa ketua kelompok yang lain masih santai dan sibuk dengan hal lain.
Hinata hanya ingin segera bertemu dengan Minato. Tapi pria itu tidak ada di ruangan, membuatnya agak kecewa. Dia berpikir sang Sensei sudah ada di sana menunggu mereka. Yah...
Gadis itu menuju meja terdekat dengan meja guru. Mengeluarkan novel romantis Ino yang belakangan sering dia baca.
"Hiyori, apa yang sedang kau lakukan?'"tanya Kiun
"Tidak ada."
Kiun memandang meja tempat Hiyori membaca. Tampaknya Hiyori sedang membuat origami dengan buku yang terbuka. Kiun tersenyum. Hiyori dengan penuh konsentrasi mencoba melipat kertas berwarna.
"Sini aku ajari." Ujar Kiun.
Hiyori menggeser duduknya. Membiarkan Kiun duduk di sebelahnya. Kiun mulai mengajari Hiyori melipat kertas dengan seharusnya. Sesaat, burung bangau cantik telah ada di tangan Hiyori.
"Fyuhh, akhirnya..." Hiyori menyelipkan rambutnya ke belakang telinganya.
Kiun memandangnya.
"Apa yang sedang kau baca?"
Suara Minato menyela bacaan Hinata. Sontak, Hinata mengangkat kepalanya. Tidak tahu jika kepala Minato sangat dekat dengan wajahnya, membuat kepalanya menghantam dagu Minato dengan cukup keras. Minato langsung mundur sambil mengaduh dan memegangi rahangnya.
Panik. Hinata langsung berdiri. Memandang Minato yang masih merunduk.
"Maaf, Sensei. Maafkan Hinata." Hinata membungkuk secara otomatis. Terlalu keras hingga kepalanya menghantam meja di depannya. "Aduh." Kata Hinata memegangi dahinya.
Minato tertawa. Hinata mengangkat wajahnya. Menemukan wajah geli Minato yang sedang tertawa lepas. Oh, apakah jantung Hinata masih berdetak sekarang?
"Kau baik-baik saja, Hyuuga-san?" Tanya Minato kemudian.
Hinata berkedip.
"Ya, Sensei," Masih memegangi dahinya. Air mata menggenang di matanya. "Mungkin agak sakit. Bagaimana dengan Sensei?"
"Aku? Aku juga sama. Aku baik-baik saja."
Hinata mengangguk, menurunkan pandangannya. Tidak kuat dengan pandangan hangat yang Minato tujukan padanya. Mengalihkan perhatiannya dengan mengelus dahinya. Merenung. Tampaknya, dahinya agak benjol.
"Apa yang lain belum datang?" Tanya Minato akhirnya.
"Belum, Sensei. Mungkin masih dalam perjalanan."
Minato mengangguk. Berbalik menuju meja guru di depan ruangan. Hinata menurunkan tubuhnya. Duduk dengan masih memegangi kepalanya.
"Kau yakin baik-baik saja?" tanya Minato lagi.
"Ya, Sensei. Hinata baik-baik saja."
Tepat saat itu, pintu kelas terbuka. Menunjukkan Sasuke sedang berjalan dengan Neji.
"Aku tidak tahu kau sudah di sini, Hinata." Ujar Neji.
"Ah iya. Hinata tidak memiliki acara apapun, jadi Hinata langsung kemari." Kata Hinata pelan.
Neji mengangguk dan duduk di dekat sepupunya itu. "Kenapa dahimu?" Memperhatikan Hinata yang memegangi dahinya.
"Oh, tadi Hinata menghantam meja."
"Meja?" tampak agak janggal bagi Neji. Hinata mengangguk. "Bagaimana bisa?"
"Uhm, itu... itu...," Sepupunya masih menunggu jawabannya. "Kisah yang agak aneh?"
"Ya."
Hinata merunduk.
"Lain kali hati-hati," tangan Neji mengelus dahinya. Hinata meringis. "Tampaknya agak memar. Aku tidak bisa menemanimu pulang nanti. Basket," Neji merujuk pada kegiatan klubnya. "Nanti langsung pulang saja. Jika perlu, suruh jemput saja. Bilang pada Ko, kalau kepalamu terluka. Jangan diabaikan."
"Hinata masih bisa naik bus sendiri,"
"Kalau begitu, langsung pulang."
Hinata mengangguk pelan. Tak menyangka malah membuatnya agak pusing.
Setelah beberapa saat menunggu. Seluruh ketua kelompok berdatangan. Minato memulai instruksi untuk praktikum biologi besok.
.
.
Langit Senja
.
.
"Langsung pulang, Hinata." Kata Neji.
Mereka berdiri di luar gedung sekolah. Anak-anak lain sudah berjalan menjauh dari mereka. Lalu, Neji sudah mengingatkannya berkali-kali. Sampai Hinata agak bosan mendengarnya.
"Iya, Hinata paham. Jangan terlalu khawatir, Niisan."
Neji memandang Hinata skeptis. Masih tidak rela jika sepupunya naik bus sendirian. Namun, senyuman Hinata sangat menenangkannya. Memperlihatkan tekad yang gadis itu miliki.
Neji menghela napas untuk kesekian kalinya. Menyerah pada keinginan sang sepupu tercintanya. Neji mengelus kepala Hinata, sebelum berbalik menuju ruang klub basket.
"Apa dia pacarmu?" Tanya Minato.
Hinata agak berjengit kaget dengan kenyataan bahwa Minato ada di sampingnya.
"Bukan, Sensei. Neji-niisan adalah sepupu Hinata. Dia anak dari adik ayah Hinata."
"Oh, sepupu." Minato mengangguk.
Hinata memandang sang guru. Hinata merasa, Minato agak ... lega?
"Dia sangat sayang padamu." Ujar Minato lagi.
"Niisan selalu menyayangi kami."
"Kami?"
"Uhm itu... Hinata dan Hanabi. Adik Hinata."
Minato mengangguk menerima fakta terbaru dari anak didiknya. "Kau punya adik."
Mereka terdiam lama. Memperhatikan halaman sekolah dengan pandangan tidak fokus. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Sekolah sudah sepi. Apalagi di halaman depan sekolah. Meskipun masih ada kegiatan klub, kegiatan klub banyak di lakukan di bagian dalam sekolah atau di halaman belakang.
"Apa kau yakin bisa pulang sendiri?"
Hinata mendongak, menatap Minato di sebelahnya. Dia mengangguk perlahan.
"Kau tampak agak linglung. Jika kau suka, aku bisa mengantarmu." Tawar Minato.
Hinata memandang Minato. Tampak agak tidak percaya. Ini kesempatan. Berduaan dengan Minato. Ini kesempatan emas. Hinata hampir mengatakan iya, sebelum ingat kata-kata Ino. Jangan menjadi murahan.
Apa jika Hinata menerima tawaran Minato, dia akan jadi gadis murahan? Tapi, ini kesempatan.
"Uhm, tidak perlu, Sensei. Hinata bisa pulang sendiri." Jawabnya.
Hinata berusaha menjaga wajahnya tetap netral. Meskipun hatinya sudah menangis darah. Menolak kesempatan berduaan dengan pujaan hati sudah membuatnya sangat sedih.
"Sungguh?" Tanya Minato meyakinkan.
Ya ampun, kenapa Minato harus bertanya seperti itu? Hinata ingin berteriak jika dia mau diantar pulang. Ingin berduaan saja.
"Ya, Sensei." Jawabnya dengan tekad. Agak terlalu bersemangat untuk ukurannya. Membuat Minato agak tersentak. Hinata buru-buru menutup mulutnya.
"Hahaha, baiklah baiklah. Jika kau sungguh bertekad, kurasa aku akan percaya padamu." Ujar Minato.
Hinata menundukkan kepalanya. Malu dengan reaksi dan suaranya sendiri. Bukankah dia mempermalukan dirinya sendiri di depan Minato?
Pria di sampingnya terkekeh lagi. Hinata semakin menundukkan kepalanya. Wajahnya sudah merah semerah tomat. Tidak berani memandang Minato yang masih memperhatikannya. Kenapa Minato masih memandangnya? Hinata jadi tidak tahan ingin berlari pulang. Tidak tahan dengan malu yang dia rasakan. Tidak tahan dengan pandangan Minato yang semakin membuatnya berdebar-debar tidak tentu.
Sebuah tangan besar mendarat di kepala Hinata. Menepuk pelan beberapa kali sebelum akhirnya agak mengacak rambut panjang Hinata dengan lembut. Mata Hinata melebar. Hinata tahu tangan siapa ini. Tidak ada orang lain selain dia dan Minato. Jadi jelas, ini tangan Minato.
Ya ampun. Apa Hinata masih bernapas? baik, dia masih bernapas. Apa jantung Hinata berhenti? Tidak, jantungnya malah semakin berdebar tidak karuan. Hinata bersyukur dia memiliki rambut yang panjang sehingga wajahnya dapat terkuburnya. Menutupi wajah memerah yang sudah sangat parah.
"Kau harus langsung pulang. Hati-hati di jalan." Ujar Minato dengan tangan masih di kepalanya.
Hinata mengangguk pelan. Untung dia masih memiliki kekuatan untuk mengangguk. Meskipun dia tidak memiliki kekuatan untuk mengangkat kepalanya dan melihat langsung wajah Minato.
Minato tersenyum dan menepuk kepala Hinata lagi.
Cukup. Cukup. Cukup. Cukup. CUKUP.
Hinata tidak tahan lagi.
"Hinata pulang dulu, Sensei."
Dia langsung berojigi dan langsung berlari meninggalkan Minato yang masih berdiri di depan sekolah. Jika dia di sana semakin lama, Hinata bisa pingsan. Jadi dia memutuskan kabur secepatnya. Berlari menuju halte bus di depan sekolah. Dia tahu Minato melihat punggungnya. Tapi Hinata tidak peduli. Dia tidak berani menoleh ke belakang. Terlalu memalukan baginya.
.
.
Langit Senja
.
.
Hinata memeluk buku lebih erat dari biasanya. Bukan apa, dia kebingungan apa dia harus masuk atau tidak. Di hadapannya, Ino sedang mencium Sai dengan ganas. Masih ada 30 menit sebelum Minato masuk ke kelas dan mulai mengabsen mereka. Teman sekelas mereka juga baru akan mulai berdatangan 15 menit lagi.
Gadis sulung Hyuuga hanya mampu memandang adegan di depannya dengan wajah memerah. Dia tidak memiliki keberanian untuk menyela kegiatan temannya dengan pacar tercintanya. Jadi, Hinata memutuskan berbalik, menjauh dari kelas. Dia berjalan, menuju salah satu bangku di lorong. Hinata tidak melakukannya apapun. Hanya duduk memandang anak-anak berjalan melewati halaman sekolah.
Pandangannya terhenti tepat saat kilat kuning melewati halaman sekolah. Namikaze Minato berjalan dengan santai bersama Hatake-sensei. Mungkin mereka memang bersahabat. Hinata tidak pernah memikirkannya. Tanpa sadar, senyum mengembang di wajah cantiknya. Minato tampak sangat bersinar di bawah sinar matahari pagi.
Matanya tetap mengikuti sosok Minato hingga sang guru menghilang dari jangkauan matanya. Dia menghela napas puas. Baru setelahnya dia melihat jam pada layar handphonenya. Ah, sudah waktunya kembali ke kelas. Mungkin Ino dan Sai sudah selesai. Mungkin juga Sai telah kembali ke kelasnya sendiri.
"Hinata, kenapa kau baru sampai?" Ino langsung menanyainya begitu dia duduk di kursinya
Hinata terdiam. Bingung harus menjawab apa. "Hinata sudah sampai dari tadi, hanya saja..."
"Hanya saja?" Tanya Ino lagi.
"Hanya saja..." Hinata mengangkat wajahnya memandang Ino. Gadis pirang itu memasang wajah menunggu. "Hinata... melihatmu... dengan... Sai." Ucapnya sembari merunduk mengeluarkan buku.
Mata Ino membesar. Sebelum tawa puas memenuhi indra pendengaran Hinata.
"Maafkan aku, Hinata. Tampaknya aku merusak otakmu yang polos." Ino menepuk kepala Hinata dengan sayang. Hinata hanya merunduk, pura-pura membaca buku biologinya.
"Selamat pagi, kalian yang berbahagia..."
Hinata langsung mendongak mengenali suara itu. Jelas itu suara Minato. Suara itu telah terpatri di memorinya. Hinata terlalu terpaku pada Minato hingga tak menyadari Ino telah berbalik ke kursinya kembali
"Aku ingin kalian langsung ke laboratorium sebenarnya, agar menghemat waktu. Tapi seperti yang kalian tahu, Orochimaru-sensei tidak pernah datang tepat waktu. Jadi, aku akan tetap mengabsen kalian di kelas, baru kita pergi ke laboratorium." Minato membuka buku absen. Suara Minato yang sedang mengabsen murid-murid kelasnya mengalun indah di telinga Hinata.
Mata Hinata tidak mampu berpaling dari sang guru. Bahkan Hinata tidak mengalihkan pandangan ketika teman-temannya telah beranjak dari kursi dan bersiap menuju ruang laboratorium. Hinata baru sadar dengan tepukan keras dari Ino. Hinata berkedip memandang Ino dengan linglung.
"Siapa hantumu, Hinata? Mengapa kau kehilangan konsentrasi?" Tanya Ino iseng. "Ayo segera mengejar yang lain, ketua."
Hinata tersenyum canggung. "Maaf, Ino. Hinata melamun."
Dia mengambil buku praktek dan peralatan praktikum. Ino datang membantunya setelah dia kesulitan membawa barang yang cukup banyak. Anggotanya yang lain telah pergi dahulu. Hinata sudah membagi peralatan apa yang akan dibawa.
"Dasar anak laki-laki. Kenapa mereka tidak mau membantu kita?" Ino merujuk pada si Jenius Shikamaru, si gendut Chouji dan si Merah Gaara. Hinata tertawa kecil dengan komentar Ino. "Kau seharusnya memarahi mereka, Ketua. Mereka berdua terlalu pemalas."
"Oh, teman kalian tidak mau membantu?"
Segera Hinata dan Ino berhenti. Berbalik dan menemukan Minato sedang berjalan ke arah mereka dengan senyum yang selalu membuat Hinata memerah malu. Minato baru berhenti begitu mencapai mereka berdua.
"Tidak, Sensei. Mereka membantu. Hanya saja, terkadang mereka melupakan sesuatu saja." Jawab Hinata membela ketiga rekannya yang lain.
"Siapa bilang? Biarkan Sensei tahu, Hinata."
Hinata memandang tajam pada Ino. Hinata tidak ingin menjatuhkan nama ketiga rekannya yang lain. Bukannya diam, Ino malah balik menatapnya. Memasang wajah tak bersalah dan bingung. Hinata tahu temannya sedang bersandiwara. Kontes memandang mereka berhenti begitu tangan besar Minato menepuk kepala mereka berdua.
"Sudahlah, anak laki-laki biasa seperti," Tangan Minato. "Maafkan aku karena menyatukan kalian dengan para pemalas."
"Tidak, Sensei. Mereka saja yang terlalu pemalas." Ino masih tidak mau kalah.
Minato tertawa dengan kalimat Ino. Mereka berjalan beriringan ke ruang laboratorium. Begitu mencapai ruangan, Hinata dan Ino langsung menuju kelompok mereka yang sudah datang duluan. Berkumpul di meja paling pojok yang membuat hati Hinata jatuh karena harus berjauhan dengan meja guru yang ada di depan.
Setelah Ino menaruh buku di atas meja, gadis itu langsung memukul kepala mereka bertiga. Mengomel kesal karena sudah ditinggalkan dengan barang bawaan yang tidak sedikit. Hinata tidak mempedulikan mereka, dia mulai menyiapkan setiap peralatan dan bahan praktikum.
Hinata duduk begitu semua sudah selesai. Memperhatikan keempat rekannya yang masih bertengkar. Ah bukan, lebih tepatnya, Ino yang sedang memarahi tiga yang lainnya. Hinata tertawa melihat mereka. Mereka baru berhenti begitu Minato mulai memberikan instruksi praktikum. Hinata langsug membagi tugas pada setiap anggota kelompoknya. Mereka yang berada satu kelompok dengannya tergolong siswa yang pintar, jadi Hinata tidak kesulitan melakukan praktikum dengan mereka semua.
Semua berjalan lancar. Hinata juga sudah mulai memotong perut kodok. Hinata bukan orang yang paling berani. Dia menutup matanya dengan sangat erat. Tidak tega dengan keadaan kodok yang telah pasrah. Mata peraknya mulai mengintip pada pisau dan kodok.
'Satu... dua...,' Hinata menghitung dalam hati. 'Ti...'
Belum sempat Hinata menyelesaikan hitungannya, tubuhnya terdorong dengan keras ke arah rak di belakangnya. Dia mendengar teriakan dan gaduh di sekitarnya. Hinata masih tidak sadar dengan apa yang terjadi. Namun, dia merasakan lengan kirinya panas dan perih. Dia terpaku memegang lengan kirinya dan meringis karena rasa panas dan perih. Dia menurut ketika sepasang lengan mengangkatnya dari lantai, membawanya ke wastafel. Langsung menyiram lengannya dengan air dingin yang mengalir.
"Kelas dihentikan, kalian kembalilah ke kelas. Aku akan membawa Hyuuga-san ke UKS," Ujar seseorang yang masih memegang lengannya dan menahannya agar tersiram air dengan baik. "Namikaze, Lee dan Inuzuka. Kalian akan menemuiku saat istirahat!"
"Baik, Sensei." Sahut seluruh kelas.
"Hyuuga-san, ayo ke UKS." Ujar Minato.
Hinata masih memegang lengannya. Lengannya masih terasa panas dan sakit. Dia menurut saja ketika Minato menuntunnya keluar dari kelas. Mereka disambut oleh pandangan bingung dari perawat sekolah.
"Apa yang terjadi?" Tanya Shizune.
Minato mendudukkan Hinata di salah satu ranjang yang kosong.
"Kau tangani dulu Hyuuga-san. Dia terkena Asam Klorida."
Shizune langsung bertindak. Dia mengambil asam sikrat dan salep butesin. Segera dia memeriksa tangan Hinata yang terbakar. Kulitnya sudah mengelupas dan melepuh di beberapa tempat.
"Inuzuka, Lee dan Namikaze tampaknya memperebutkan sesuatu. Mereka berebut hingga tak sengaja mendorong Hyuuga-san dan membuatnya jatuh menabrak rak. Dia tersiram Asam Klorida yang jatuh."
Hinata ikut mendengarkan penjelasan sang guru. Tidak benar-benar tahu apa yang telah terjadi padanya. Dia menahan kesakitan akibat dari Asam Klorida. Bukankah itu termasuk senyawa berbahaya? Apa tangannya akan berubah jadi tulang?
"Astaga bocah-bocah itu lagi. Anakmu sungguh masalah Minato."
Minato menggaruk belakang kepalanya dengan canggung. Hinata sesekali menatap sang guru. Pria itu tampak bersalah. Hinata jadi merasakan perasaan tidak enak padanya.
"Kalian tunggu di sini. Aku akan keluar sebentar. Perbannya habis, aku akan mengambilnya di tasku." Ujar Shizune.
Minato mengerutkan keningnya tak paham. "Bukankah kau seharusnya punya persediaan di sini."
"Nah itu, minggu lalu habis. Aku baru beli kemarin. Aku menaruhnya di tas dan lupa membawanya kemari." Shizune bangkit dari duduknya.
Minato mengangguk. "Ada yang bisa kubantu?" Tawarnya.
Shizune tampak berpikir. "Kau tidak akan tahu dimana letak perbannya. Aku juga tidak akan mengijinkanmu menyentuh tasku," Shizune tertawa. "Kau bisa memberikan salep ini pada lengan Hyuuga-san. Lakukan dengan perlahan." Shizune menyerahkan salep butesin pada Minato kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.
Suasana canggung menyelimuti ruangan. Minato berjalan menuju ranjang tempat Hinata dan duduk di sebelahnya. Pria itu mengambil lengan Hinata yang terluka dan mulai mengoleskan salep dengan perlahan. Sesuai instruksi dari Shizune. Hinata memperhatikan Minato yang sedang merunduk menuju lengannya.
Minato tampak sangat tampan jika sedang berkonsentrasi seperti. Kerutan di wajahnya menunjukkan fokus agar tidak menyakiti Hinata lebih jauh. Rasa panas dan perih yang dirasakannya langsung menguap begitu saja. Berapa lama Hinata menunggu waktu agar berduaan saja dengan Guru tercintanya seperti ini? Satu minggu? Tidak. 10 hari. Hinata menunggu 10 hari untuk menunggu saat-saat ini.
Sepanjang minggu hanya dihabiskannya dengan pelajaran yang biasa. Les yang tidak pernah ada habisnya. Beruntung dia masih memiliki waktu untuk berbicara dengan Ino tentang banyak hal. Gadis pirang itu mampu membuatnya keluar rumah. Anehnya, meskipun hari Hinata sangat sibuk, Hinata tidak pernah sekalipun tidak memikirkan Minato. Pria pirang itu selalu memenuhi kepalanya. Di tengah kesibukkannya, Hinata sering tertangkap melamun sendirian.
"Maafkan Naruto."
Hinata tersentak. Terkejut dengan pembukaan sapaan yang tiba-tiba dari Minato. Dia terlalu jatuh ke dalam lamunannya sendiri.
"Maaf?" Tanya Hinata.
Minato mengangkat wajahnya. Pria itu tersenyum lagi. "Ya. Maafkan Naruto. Bagaimanapun dia putraku. Terkadang dia memiliki terlalu banyak energi. Aku akan menasehati mereka nanti."
Maaf? Oh tidak. Naruto tidak memerlukan maafnya. Malah jika bisa, Hinata akan berlari dan memeluk Naruto karena telah memberinya ruang untuk berduaan dengan Ayahnya.
"Hinata baik-baik saja, Sensei. Jangan memarahi mereka terlalu keras. Lagipula mereka tidak sengaja menyakiti Hinata."
Minato memandangnya skeptis. Hampir tidak percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya.
"Tetap saja mereka salah. Mereka harus mendapat konsekuensinya."
Hinata melihat kekesalan muncul di wajah Minato. Pria itu tampak menggemaskan dengan kekesalan memenuhi wajahnya. Hinata ingin tertawa.
"Apa nanti kita jadi memulai pelajaran kita, Sensei?" Tanya Hinata. Mengalihkan pembicaraan.
Minato meletakkan salep yang sudah ditutup di meja sebelah ranjang. "Ya, jika kau ingin memulainya."
Hinata tersenyum cerah. "Tentu, Sensei. Hinata sangat menantikannya."
Entah perasaan Hinata saja, atau memang Minato memandangnya dengan pandangan bingung.
"Ada apa, Sensei? Apa Hinata mengatakan sesuatu yang salah?" Tanyanya takut. Wajahnya jatuh.
Minato tersenyum menenangkan. "Tidak. Aku hanya sedang berpikir."
Tangan besar sang guru jatuh ke atas kepalanya. Menepuk lembut kepalanya. Apa wajahnya sedang memerah?
"Maaf, telah meninggalkan kalian berdua dalam kekacauan."
Suara Shizune masuk ke dalam ruangan. Minato menurunkan tangannya. Hinata merasa kehilangan dan kosong. Jika bukan karena pengendalian diri yang baik, Hinata akan meraih tangan Minato dan menempatnya kembali ke kepalanya.
Minato tidak lagi memperhatikan Hinata. Namun mulai memperhatikan Shizune yang tengah memasang perban di lengan bawahnya.
"Nah, Hyuuga-san, aku ingin kau menjaga tanganmu tetap kering sampai lukamu sembuh. Kau bisa membeli perban dan resep ini di apotik saat pulang dan mengganti perbanmu sendiri di rumah. Ganti dua kali dalam sehari." Ujar Shizune sambil menyodorkan resep obat untuknya.
Hinata menganggukkan kepalanya. Mungkin dia akan meminta Ko atau Neji-niisan untuk membantunya nanti.
"Tidak perlu ke rumah sakit?" tanya Minato.
"Tidak. Lukanya tidak separah itu. Untunglah kau sigap memberikan pertolongan pertama, jika tidak Hyuuga-san akan dirujuk ke rumah sakit," Shizune beralih ke Hinata. "Mungkin akan terasa sakit dan kau akan kesulitan menggunakan tangan kiri. Karena aku ingin kau tidak menggunakan tangan kirimu terlalu banyak sebelum membaik. Kau paham?"
Hinata kembali mengangguk. Kemudian bangkit dari ranjangnya diikuti oleh Minato.
"Hinata pamit ke kelas dulu, Sensei."
"Kau yakin pergi sendiri?"
Hinata tersenyum. "Ya, Sensei."
"Hati-hati di jalan."
.
.
Langit Senja
.
.
Hinata agak kesulitan membuka pintu kelas. Mengingat lengan kirinya yang terluka membuat sedikit gerakan jadi menyakitkan. Yah, meskipun dia bukan seorang yang dominan menggunakan tangan kiri.
"Hinata!"
Hinata menoleh ke arah teman pirangnya. Ino menghampiri tempat duduknya. Kekhawatiran jelas terpancar di wajahnya.
"Bagaimana tanganmu?"
Hinata tersenyum dan mengangkat tangannya. Reflek, Ino mengambil tangannya Hinata. Berniat memeriksa sendiri keadaan tangan Hinata yang terperban dengan baik.
"Ah!" Pekik Hinata.
Ino melepaskan tangan Hinata. "Maaf, Hinata. Aku reflek."
Hinata tersenyum menanggapi. "Tidak apa-apa, Ino." Hinata meletakkan tangannya di atas meja dengan perlahan.
Ino duduk di depan meja Hinata. "Tadi Sakura memarahi mereka setelah Namikaze-Sensei membawamu ke UKS."
"Benarkah? Apa Haruno-san menghukum mereka?"
Ino mengangkat bahunya. Dia hanya mengarahkan pandangan pada para pelaku. Hinata tersenyum geli memandang wajah mereka yang sudah menjadi seputih kertas HVS 80 gram. Hinata tidak bisa menebak apa yang Sakura lakukan pada mereka. Sakura cenderung membuat orang-orang tidak disiplin menderita.
Ino tertawa kecil saat Naruto menjatuhkan kotak bento kosongnya dan langsung memandang ketakutan ke arah Sakura. Kelihatannya bocah Namikaze benar-benar ketakutan dan cenderung trauma pada Sakura.
"Uhm, Ino?" Panggil Hinata.
"Ya?" Ino masih melihat kekacauan yang dibuat Naruto, tertawa pelan dengan kegugupan yang dimiliki Naruto untuk Sakura.
Hinata ragu sesaat. Bingung bagaimana dia harus bertanya. Dia ingin bertanya tentang Minato dan pertemuannya dengan pria itu nanti.
"Begini... Hinata..."
"Hinata kenapa?" Tanyanya masih memperhatikan Naruto.
"Hinata ingin bertanya."
"Tanya saja!"
"Apa... apa yang harus Hinata lakukan jika Hinata akan bertemu orang yang Hinata suka nanti sore?"
Dalam sekejab, kepala Ino sudah menghadap padanya. Hinata berharap, leher Ino tidak patah. Gadis pirang itu langsung memusatkan perhatian penuh pada Hinata yang malang.
"Kau harus bersikap tenang. Meskipun begitu, usahakan kau memberi dia kode."
"Kode?" Kode apa lagi ini? Kenapa ada kode untuk urusan semacam ini?
"Iya, kode. Kode seperti..." Ino menaruh tangannya pada dagu. Tampak berpikir. "Ah, beri dia perhatian khusus." Hinata semakin bingung. Dia hanya memasang wajah kebingungan. "Apa ya? Seperti, jika dia haus beri dia minum, atau jika dia berkeringat, berikan sapu tangan. Hal-hal kecil seperti itu."
Hinata mengangguk. Tampaknya cukup memahami apa yang harus dia lakukan nantinya. Bicara dengan Ino memberikan ide yang segar di kepalanya. Dia tidak pandai melakukan banyak hal. Mungkin dia perlu membuat beberapa camilan buatannya sendiri untuk nanti.
Ino menyenggolnya. Senyum iseng terpancar di wajah cantiknya. Tidak bisa dipungkiri, Ino adalah gadis yang cantik.
"Memang orang ini seperti apa, sih?"
Hinata memasang wajah bingung. "Siapa?"
"Hantumu."
"Hantu? Ah..." Hinata memandang mejanya dengan rona merah di pipinya. "Dia baik dan ceria. Memiliki senyum yang tenang seperti matahari senja yang indah."
Ino meletakkan tangannya di dagunya. Merenungkan kata-kata Hinata dan mulai mencocokkan fakta-fakta itu di otaknya.
"Apa dia berambut pirang?"
Hinata mengangguk.
"Bermata biru?"
Hinata mengangguk lagi.
"Rambutnya berantakan?"
Hinata mengangguk lagi. Sebelum termenung. "Tunggu. Apa Ino berpikir jika Hinata menyukai Namikaze-san?" Ino mengangguk dengan semangat. Memang yang disukainya bernama Namikaze juga, tapi jelas Hinata tidak memanggilnya Namikaze-'san'."Kenapa?"
Ino memberikan tatapan tidak percaya. "Tentu saja karena semua deskripsimu mengarah pada Pirang di sana." Ujar Ino sambil menunjuk Naruto yang menghapus papan tulis dan berada di bawah pengawasan ketua kelas mereka.
Hinata menggelengkan kepalanya agak keras sehingga poninya bergerak searah dengan gerakan kepalanya. "Kau salah paham, Ino."
Ino menyandarkan tubuhnya ke meja di belakangnya. "Aku tidak yakin dengan pernyataanmu. Jelas-jelas itu Naruto."
"Bukan." Hinata melambaikan tangan.
"Kalau bukan, lalu siapa? Karena aku tahu itu bukan Deidara-Niisan." Ujar Ino.
Hinata mengerutkan keningnya. "Niisan? Kau punya Kakak?" Tanyanya terkejut.
"Ya, aku punya. Dia teman kakak Sasuke. Itachi-san. Jangan mengalihkan pembicaraan, Hinata!" Ino menggembungkan pipinya.
Hinata menatapnya bingung. Dia sama sekali tidak berniat untuk mengalihkan pembicaraan. Memang dia memiliki rasa penasaran yang tinggi dan akhirnya bertanya pada Ino.
"Maaf, Ino. Hinata tidak berniat mengalihkan pembicaraan. Hanya terkejut karena Ino memiliki seorang kakak. Hinata pikir, Ino anak tunggal." Hinata berkata pelan.
Ino menatapnya kesal. "Huh, Hinata. Tidak. Dan jawab pertanyaanku tadi. Apakah itu Naruto?"
Hinata menatap Ino cukup lama. Memandangnya dengan pandangan polos seperti biasa.
"Bukan. Hantuku bukan Namikaze-san. Dia seseorang yang lain." Jawab Hinata polos.
"Oh, lalu siapa?"
Hinata diam. Menaruh jarinya ke bibir sebagai tanda kebingungan. Apa akan menjadi masalah jika Hinata mengatakan bahwa hantunya adalah Namikaze-sensei?
"Ah, Hinata rasa, Hinata belum siap memberi tahu siapa Hantu Hinata, Ino."
Ino langsung memasang wajah cemberut. Menggembungkan pipinya seperti bakpao yang baru keluar dari kukusan. Hinata hanya tersenyum. Belum. Belum saatnya. Perasaannya masih baru. Hinata masih akan memahami perasaaannya. Karena ini hal yang baru baginya.
.
.
Langit Senja
.
.
Jadi, Hinata tidak menyukainya. Tangannya terasa sakit setiap kali digerakkan. Bahkan dia kesulitan untuk mengganti baju. Lalu bagaimana dia akan menghadapi Namikaze-senseinya. Pasti akan memalukan jika dia bahkan tidak bisa berkonsentrasi karena lengan kirinya terluka
Tapi Hinata tetap bangkit dan menuju lemari di kamarnya. Memilah-milah baju yang akan ia pakai hari ini untuk menyambut sang guru tercinta. Hinata terus memandang isi lemari. Tidak tahu apakah ada baju yang setidaknya cocok untuknya. Kenapa semua bajunya tampak sama di matanya. Tidak ada yang menarik.
Apa dia harus pergi untuk membeli baju baru?
Tidak dia tidak akan punya waktu. Namikaze-sensei akan datang dalam waktu kurang dari dua jam. Hinata harus puas dengan apa yang ada di lemarinya. Dia harus memilih apapun yang tersedia di depannya.
Dia akhirnya memilih gaun dengan warna biru langit yang cerah. Memiliki motif bunga crisan putih kecil yang tampak manis. Hinata memperhatikan bentuk baju di tubuhnya. Merasa puas dengan pilihannya, Hinata mengangguk senang.
Kemudian dia berjalan menuju meja belajarnya. Mengeluarkan cermin duduk. Ah dia tidak memiliki alat make-up yang lengkap. Dia mendesah kecewa. Jadi dia hanya membubuhkan bedak pada wajahnya. Memoleskan lipstik berwarna merah muda yang lembut.
Dia mengernyit di depan cermin. Dia harus meminta Ino mengajarinya berdandang dengan benar.
Setelah itu dia berlari menuju ruang tamu rumahnya. Duduk di roka dan memandang kolam di depannya. Dia berdebar. Menunggu gurunya datang. Menghindari debaran hatinya yang tidak berhenti, Hinata mencoba menghitung banyaknya semut yang sedang berjalan di antara bunga camelia.
Saat itulah, dentang bel rumah berbunyi. Dia langsung berdiri, menghentikan pelayan yang hendak membukakan pintu. Hinata berlari dengan semangat.
Berhenti di depan pintu dengan gugup. Menghirup napas dan keluarkan. Mengulanginya beberapa kali sebelum berani membuka pintu itu. Hinata perlahan menengok sosok yang ada di depan pintu rumahnya.
Gurunya berdiri dengan kemeja dan celana yang biasa ia gunakan di sekolah. Dasi yang biasa dia kenakan telah hilang. Namun Hinata masih terpikat pada sosoknya. Tidak mampu mengatakan apapun untuk membalas senyuman dan salam dari gurunya.
Flashback off...
.
.
To be Continued
.
.
a/n:
Maafkan saya yang telah merubah ini sampek 3 kali. Huhuhu
Jujur aja, susah banget nih cerita. Aku gak terbiasa untuk membuat cerita dengan tema semacam ini. Ini membuatku terus2an rombak. Kuharap setelah ini gak ada perombakan besar-besaran lagi. Dan membuat cerita dari sudut pandang pelakor itu susah, kan biasanya cerita itu dari sudut pandang korban.
Aku sampek dengerin lagu "Pada Malam yang Berbadai – JKT48" pas nulis sebagian chapter ini, mengingat lagu itu yang menginspirasi aku ngebuat cerita ini.
Oh iya, kalo ada saran buat cerita atau film tentang NTR dan cheating2an, boleh deh aku dikasih tau.
Yuk balas review bentar:
Naboo, Halo maaf ya udah bikin khawatir. Aku cuma sedang kena writer's block cerita T.T... oh iya, emang gaya penulisanku kenapa?
Indigo-chan, aduh sayangnya tidak. Aku gak maen wp. Adapun wp ku, kayaknya udah mati hahaha. Kalaupun ada akun lain itu di AO3, yang biasanya aku pake buat bahasa inggris.
HinataChuu, ah ini dilanjut. Bukan dianggurin, tapi gak tau harus nulis apa. Cerita ini berat banget menurutku jadi susah buat nulisnya. Maaf ya, kalau terkesan diabaikan. Dan maaf nanti kalo updatenya lama, karena idenya tersendat buat ini... #ojigi
Untuk semuanya, terima kasih untuk para pembaca, siapapun yang nantinya memberikan tombol favorite dan mengikuti. Kalian harus tahu, aku sayang kalian...
Arigatou, minna-san…
Sign,
Teratai putih
