"Shikamaru?"
Seorang pria yang rambutnya dikuncir bak nanas menoleh saat mendengar namanya dipanggil. Obsidiannya membulat sempurna, terkejut dengan sosok yang memanggil namanya tadi. Perempuan itu sama sekali tidak berubah. Rambut pirang platinanya masih indah, manik aquamarine-nya masih mempesona, dan wajahnya masih cantik—sangat cantik.
Sebenarnya perempuan itu sama kagetnya dengan Shikamaru, tapi tak lama kemudian ia tertawa. "Udah berapa lama sejak kita terakhir kali ketemu?" tanyanya.
"Sepuluh tahun, Ino," balas Shikamaru sambil tersenyum.
Satu hal lainnya yang tidak berubah dari Ino—nama perempuan itu—adalah suara tawanya. Hal itu pula yang disyukuri Shikamaru saat ini. Ia lega bisa mendengar tawa Ino lagi setelah sekian lama.
.
.
.
OLD STORY
.
Naruto (c) Masashi Kishimoto
Tidak ada materi dalam bentuk apapun yang saya dapatkan lewat fanfiksi ini
Story by Yola-ShikaIno
.
.
.
Didedikasikan untuk semua Guardians a.k.a ShikaIno Shipper untuk merayakan SHIKAINO FANDAYS 2021!
Semoga fanfiksi ini bisa mengobati rindu kalian ke ShikaIno ya!
Longlive ShikaIno!
.
.
Warnings Inside
[OOC, typo(s), dll]
.
Happy Reading!
.
.
Setelah pertemuan tak terduga yang terjadi, Shikamaru dan Ino memutuskan untuk mampir ke salah satu kafe yang tidak jauh dari tempat bertemunya mereka. Mereka memesan minuman terlebih dahulu sebelum duduk di pojok kafe, jauh dari pintu keluar agar tidak terganggu dengan pengunjung yang lalu-lalang. Ino duduk membelakangi pintu keluar, sementara Shikamaru duduk di hadapannya.
"Kirain udah lupa sama Konoha," sindir Ino pada Shikamaru. Ia berniat untuk membuka percakapan lebih dahulu, tapi sindiran halus itu yang keluar dari mulutnya. Lagi pula, bertanya mengenai kabar terdengar terlalu basa-basi bagi Ino.
"Kebetulan lagi ada kerjaan di sini," jawab Shikamaru. Ia menyandarkan punggungnya, kemudian kembali bersuara. "Aku heran kenapa bukan pertanyaan basa-basi yang kau gunakan untuk memulai percakapan denganku," kata Shikamaru. Padahal Shikamaru sudah menyiapkan beberapa jawaban basa-basi untuk merespons pertanyaan Ino. Tapi, Ino terkadang sulit ditebak dan membuat rencana Shikamaru hanya sekadar sebuah "rencana" saja.
Ino terkekeh. "Ah, ngapain basa-basi sama mantan," jawab Ino.
"Takut nanti naksir lagi ya?" goda Shikamaru.
"Wow ... buaya lepas dari mana nih?" canda Ino.
Suara tawa Ino yang khas kembali ditangkap oleh indra pendengaran Shikamaru. Bertahun-tahun tidak bertemu tidak membuat Shikamaru melupakan suara tawa Ino. Sebab tawa Ino adalah salah satu hal yang membuat Shikamaru jatuh hati pada perempuan ini. "Kamu gak banyak berubah ya," ucap Shikamaru.
"Perubahan apa yang kamu harapkan dari perempuan yang sampai sekarang marganya aja gak berubah?" tanya Ino.
Penuturan Ino membuat perubahan pada ekspresi wajah Shikamaru. Tercetak jelas kalau Shikamaru kaget dan bingung atas jawaban yang diterimanya. Sepuluh tahun tidak bertemu dan Shikamaru benar-benar tidak punya informasi apapun mengenai mantan pacarnya.
"Kalau kau berpikir aku belum menikah, aku siap memukul kepala nanasmu," ucap Ino seolah-olah membaca isi pikiran Shikamaru. "Sai, hmm ... maksudku suamiku, dia mengambil nama 'Yamanaka' makanya namaku tidak berubah dari dulu," tutur Ino.
Shikamaru mengangguk.
Sebelum obrolan mereka kembali berlanjut, seorang pelayan datang dan mengantarkan dua minuman ke meja Shikamaru dan Ino. Secangkir americano untuk Shikamaru dan secangkir matcha latte untuk Ino. Dua minuman yang bertolak belakang soal rasa, persis seperti kepribadian Shikamaru dan Ino yang bertolak belakang.
Ino menyesap minumannya lebih dulu. "Kalau kamu pikir aku belum move on, kamu salah besar," kata Ino. "Mana ada orang di dunia ini yang terus-menerus terpuruk karena ditinggal gitu aja sama pacarnya." Terdengar nada sindiran di balik pernyataan Ino barusan dan Shikamaru jelas tahu kalau hal itu memang ditujukan padanya.
"Maaf, aku—"
"Stop!" potong Ino sambil mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Shikamaru. "Kita di sini bukan untuk menyesali semua hal yang terjadi di masa lalu, oke? Lalu, mendengarmu minta maaf membuatku seolah-olah sangat menyedihkan," sambung Ino sedikit merengut.
"Berapa lama kamu mengurung diri dan mogok makan?" tanya Shikamaru yang teringat kebiasaan Ino ketika sedang ada masalah, terutama ketika perempuan ini bermasalah dengan kisah percintaannya.
"Satu bulan aku hanya hidup di kamar saja, untungnya aku masih mau makan dua-tiga suap untuk mengisi perut—TUNGGU, KENAPA AKU MALAH MENCERITAKAN MASA MENYEDIHKAN ITU?" protes Ino yang baru menyadari maksud dari pertanyaan Shikamaru.
Shikamaru tertawa pelan, tidak mempedulikan beberapa pasang mata yang menatap ke arah mereka karena teriakan Ino barusan. "Lebih cepat dari perkiraanku," kata Shikamaru.
"Hei, apa aku se-menyedihkan itu?" balas Ino tidak terima. Ia kembali meminum minumannya dan meletakkan cangkir itu sedikit kasar, membuat suara tabrakan antara bagian bawah cangkir dengan pisinnya. "Tapi, kau cukup mengerti aku ya, Shikamaru," ucap Ino setengah memuji pria di hadapannya.
"Kita berteman sudah lebih dari sepuluh tahun dan bahkan berpacaran selama tujuh tahun. Apa kau masih meragukan kemampuanku untuk memahami perempuan paling merepotkan sepertimu?"
Ino bersedekap. Matanya memandang langit-langit di atasnya seperti mencari jawaban dari pertanyaan Shikamaru. Ino seperti berpikir keras, ekspresinya sama miripnya ketika sedang menghadapi soal kimia sewaktu SMA.
"Bingung," jawab Ino menyudahi pose berpikirnya. "Kalau kamu memahami aku, harusnya kamu tahu kalau aku tidak bisa ditinggal begitu saja oleh pacarku, 'kan?"
Lagi-lagi pertanyaan yang penuh dengan sindiran dilayangkan Ino pada Shikamaru. Entahlah, mungkin alam bawah sadar Ino secara tidak langsung ingin membalas dendam pada pria berkepala nanas di hadapannya ini.
Beruntung Shikamaru tidak lagi menyesap minumannya, bisa-bisa ia tersedak karena terus-menerus mendengar sindiran halus sang mantan kekasih. "Terkadang hanya 'tahu' saja tidak cukup kuat untuk bisa bereaksi," balas Shikamaru.
"Alasan yang masuk akal meskipun tetap menyebalkan," balas Ino.
"Ya ... salah satu keuntungan jadi genius itu pintar mencari alasan," ucap Shikamaru sedikit menyombongkan diri.
Ino berdecak. "Ke mana perginya Shikamaru yang low profile?"
Keduanya tertawa bersama.
Shikamaru maupun Ino tidak menyangka pertemuan pertama mereka setelah sepuluh tahun menghilang akan sehangat ini. Tidak ada kecanggungan di antara keduanya. Mereka berbincang dengan santai, sama seperti dulu ketika keduanya masih sering bersama. Gurauan dan sindiran saling terlontar, lalu disusul suara tawa dari keduanya. Semuanya berlangsung baik saat ini, meskipun keduanya tau perpisahan mereka sepuluh tahun lalu tidak baik-baik saja.
"Jadi, setelah pindah apa yang kau lakukan?" tanya Ino sebelum meminum kembali matcha latte-nya.
"Beradaptasi, naik pangkat, lalu menikah di tahun kedua dengan anak pemilik perusahaan," jawab Shikamaru.
"Ohh ... menikah dengan Temari? Kau benar-benar menikah dengannya?"
Shikamaru mengangguk. "Rupanya kau masih ingat dengannya," balas Shikamaru sedikit memuji ingatan Ino.
"Memangnya berapa kali kita dulu bertengkar karena mempermasalahkan nama itu?" jawab Ino sedikit bernostalgia. "Setiap kali ada pertemuan bisnis berkedok pesta, aku harus menahan diri agar tidak marah-marah tiap mendengar perjodohan antara Shikamaru dengan putri sulung keluarga Sabaku."
"Pada akhirnya kau tidak menahan diri dan malah melampiaskan semuanya padaku," ucap Shikamaru sambil tersenyum.
Senyuman yang Shikamaru berikan terlihat mengejek di mata Ino. "Masih untung aku melampiaskan semuanya padamu ya, Shikamaru. Kalau aku tidak tahan, aku mungkin sudah membalas orang-orang yang menggosipkan itu dan bilang kalau Nara Shikamaru adalah pacarku," jawab Ino.
Saling mengenal satu sama lain sejak kecil tidak membuat hubungan berpacaran Ino dan Shikamaru bebas dari konflik. Mereka masih suka bertengkar, entah pertengkaran karena hal sepele atau hal besar lainnya yang di luar kendali mereka berdua.
"Kalau kau benar-benar mengatakannya, mungkin perjodohanku akan dipercepat," komentar Shikamaru.
"Pada akhirnya akan sama saja, bukan? Kita berpisah dan dipaksa menjalani tradisi yang memetakan takdir kita."
Sebuah anggukan ditunjukkan oleh Shikamaru sebagai respons perkataan Ino. Ia kemudian menyesap minumannya, menyisakan americano-nya hingga setengah cangkir.
Shikamaru dan Ino sama-sama tahu kalau perkenalan keluarga mereka—dan keluarga Akimichi, salah satu teman dekat mereka—tidak terjadi secara tiba-tiba. Keluarga mereka terhubung karena adanya tradisi yang sudah dibangun sejak lama. Tradisi yang mengikat mereka sebagai keluarga meskipun tanpa ikatan darah. Tradisi itu pula yang secara tidak langsung menyatakan kalau ketiga keluarga itu tidak bisa menikah satu dengan yang lain, sebab tidak mungkin menikahi keluarga sendiri.
"Padahal tradisi itu sudah terlalu kuno dan seharusnya hanya dipertahankan sampai era ninja saja," komentar Ino.
Shikamaru tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tertawa mendengar penuturan Ino. Komentar yang sebenarnya berisi protes itu masih sama seperti dulu. Shikamaru merasa seperti ditarik kembali ke masa lalu dan mendengarkan pernyataan yang sama untuk kesekian kalinya.
Tawa Shikamaru membuat Ino ikut terkekeh. "Oke-oke, komentarku memang terdengar bodoh. Tapi, aku ingatkan kalau kau tidak perlu mengatakan 'memangnya kau mau melawan nenek moyang?' lagi. Aku sudah bosan mendengar template jawabanmu," ujar Ino.
"Aku tidak perlu mengatakannya karena kau sudah mengatakannya sendiri, Ino," balas Shikamaru masih terkekeh.
"Oh ya ampun! Aku benar-benar seperti orang bodoh tiap kali berbincang dengan orang genius sepertimu," seru Ino.
Pada dasarnya, Shikamaru jarang berekspresi macam-macam. Wajahnya seperti sudah terprogram untuk menampilkan wajah malas dan tidak bergairah. Tapi, sejak dulu Ino selalu bisa mengotak-atik program ekspresi wajah Shikamaru. Perempuan itu bisa membuat Shikamaru tertawa, tersenyum, marah, dan bahkan cemburu. Shikamaru juga tidak mengerti dengan kekuatan ajaib yang dimiliki Ino ini.
Tiba-tiba saja Ino berdiri dan cukup mengejutkan Shikamaru. "Aku mau pesan makanan. Kamu mau sesuatu juga?" tanya Ino.
Shikamaru berpikir sejenak. "Apa yang enak?" balas Shikamaru balik bertanya.
"Di sini sebenarnya paling enak cookies and cream waffle, tapi kau tidak begitu suka manis," jawab Ino. Ia berpikir sejenak, mengingat menu makanan di kafe ini untuk ditawarkan pada Shikamaru. "Onion ring aja gi mana?" tanya Ino.
"Boleh," jawab Shikamaru menyanggupi.
Sementara Ino pergi untuk memesan makanan terlebih dahulu, Shikamaru membuka handphone-nya. Sudah lebih dari 30 menit mereka berdua berbincang di kafe ini. Waktu yang sudah berlalu terasa begitu cepat.
Tidak lama kemudian, Ino sudah kembali sambil membawa nomor meja sebagai penanda pemilik pesanannya. Ia meletakkan nomor itu di atas meja, tepat di antara cangkir minuman Shikamaru dan Ino.
"Oh iya, tadi kamu bilang kalau akhirnya kamu menikah di tahun kedua. Kenapa begitu pindah gak langsung menikah? Aku kira kamu pergi itu karena mau menikah," tanya Ino penasaran.
"Rencananya emang gitu," jawab Shikamaru kembali mengingat keputusannya sepuluh tahun lalu. Keputusan yang mengubah hidupnya dan secara tidak langsung ikut memengaruhi kehidupan perempuan di hadapannya. "Tapi, menikah dengan orang yang tidak dicintai itu menyakitkan. Selain itu, menikahi seseorang yang tahu kalau dirinya belum dicintai oleh pasangannya bukan keputusan yang bijaksana," sambung Shikamaru.
Tidak ada komentar yang keluar dari mulut Ino. Ia mendengarkan cerita Shikamaru dengan penuh perhatian. Ino juga tidak bisa memungkiri bahwa ada rasa penasaran dalam dirinya mengenai kehidupan Shikamaru selepas perpisahan mereka. Kali ini Ino diberikan kesempatan untuk tahu dan Ino tidak mau menyia-nyiakannya.
"Semakin lama kita menjalin hubungan, kita semakin dekat dengan jalan buntu. Seperti yang kau bilang, pada akhirnya perpisahan jadi satu-satunya jalan yang memungkinkan untuk dilalui."
Sudah berkali-kali Ino dan Shikamaru membahas hal yang sama sejak mereka memutuskan untuk berpacaran. Kenyataan yang harus dihadapi dan keinginan keduanya untuk menjalin cinta terus bertentangan. Kisah cinta ala remaja yang mereka miliki terus berkembang dan semakin besar, tapi tidak cukup kuat untuk mendobrak tradisi yang ada.
Akhirnya Shikamaru menyerah lebih dulu. Ia meninggalkan Ino dengan tanda tanya dan keraguan yang besar. Shikamaru pergi tanpa memberikan penjelasan maupun permintaan maaf. Sepuluh tahun yang lalu, Shikamaru memilih untuk mengikuti keegoisannya dengan menghilang dari kehidupan Ino.
"Aku datang ke Suna bukan untuk menyanggupi perjodohan, tapi untuk membantuku menghadapi kenyataan kalau kau tidak bisa bersamaku," tutur Shikamaru. Ini hanyalah cerita lama, tapi Shikamaru masih bisa merasakan emosi yang menyertainya saat kejadian itu.
"Astaga!" seru Ino membuat Shikamaru terperanjat. "Sudah kuduga kalau gosip yang beredar itu tidak benar," sambung Ino sangat antusias. Rasanya seperti menggenggam kemenangan yang sudah lama didambakan.
"Gosip? Gosip apa?" tanya Shikamaru penasaran.
"Kau harus tahu kalau aku berusaha mati-matian mencari informasi tentang kepergianmu. Aku bertanya pada semua orang. Se-mu-a o-rang," jawab Ino dan sengaja menegaskan akhir kalimatnya.
Shikamaru mengangguk-angguk, memberikan jawaban pada Ino bahwa pria itu mengerti dengan maksud Ino menegaskan akhir kalimatnya. Meskipun bagi Shikamaru, Ino terlalu berlebihan dengan bertanya pada semua orang. Shikamaru yakin seratus persen kalau Ino hanya bertanya pada teman dan rekan kerja Shikamaru saja. Tidak mungkin Ino sampai bertanya pada seluruh warga Konoha.
"Mereka bilang kalau kau terpaksa pergi karena kau sudah menghamili perempuan lain. Jika perempuan itu tidak hamil, mungkin kau masih di Konoha saat itu."
Shikamaru terkekeh. "Ya ampun, kau percaya dengan gosip itu?" tanyanya.
"Pertanyaan tega macam apa itu?" balas Ino balik bertanya, sedikit tersinggung dengan pertanyaan yang ditujukan padanya. "Memangnya bagaimana aku harus menanggapi gosip itu ketika aku sendiri tidak punya petunjuk sama sekali atas kepergianmu, Nara Shikamaru yang terhormat," jawabnya sambil bersedekap dan membuang muka.
Jelas sekali kalau Ino sedikit kesal pada Shikamaru. Cara Ino menunjukkan kekesalannya tidak pernah berubah sejak dulu. Itu tandanya, Shikamaru juga punya cara tersendiri untuk merespons tingkah laku perempuan di hadapannya ini.
Shikamaru mengangkat cangkir minumannya, lalu meneguk americano-nya sampai habis. Ia terlihat cukup santai atau bahkan tidak peduli dengan Ino yang masih merajuk.
Aquamarine Ino menatap gerak-gerik Shikamaru. Sedikit kesal karena merasa tidak diacuhkan. "Kenapa kau diam saja?"
"Memangnya kau mau aku berkomentar apa?"
Respons Shikamaru membuat Ino sedikit kesal, tapi di sisi lain juga bingung karena tidak bisa menjawab pertanyaan Shikamaru. Pada akhirnya, Ino mengikuti Shikamaru dengan meneguk habis minumannya.
"Meskipun aku tahu itu hanyalah gosip, tapi aku tidak punya alasan untuk tidak percaya. Aku tidak punya petunjuk dan kau tidak memberiku penjelasan," tutur Ino. Ia menyandarkan punggungnya sambil menatap pria di hadapannya. "Jadi, aku membenarkan gosip itu selama beberapa tahun sampai lama-kelamaan aku melupakanmu dan juga gosip itu."
"Keputusanku untuk pergi tiba-tiba memang tidak bisa dibenarkan. Tadinya aku mau minta maaf atas hal ini, tapi permintaan maafku sepertinya tidak diterima," balas Shikamaru mengingat kembali awal-awal obrolannya dengan Ino di kafe ini.
Bibir Ino mengerucut. Ia merasa terjebak dengan omongannya sendiri. Padahal kalau kali ini bisa mendengar permintaan maaf dari Shikamaru, Ino mungkin saja akan merasa menang.
"Pada akhirnya keputusan yang aku buat juga membuatku menderita," ucap Shikamaru pelan. "Aku menjadi perokok berat dan sulit untuk tidur. Itu terjadi berbulan-bulan dan membuatku frustrasi. Tapi, semakin frustrasi maka semakin banyak rokok yang aku hisap dan semakin sulit juga untuk tidur."
Ino terdiam. Ia tidak pernah membayangkan kalau Shikamaru melalui hal yang sama beratnya dengan yang Ino rasakan selama ini. Mereka sama-sama hampir gila karena alasan yang sama, namun mereka melampiaskannya dengan cara yang berbeda.
Perubahan mimik wajah dan tingkah laku Ino disadari oleh Shikamaru. "Apa kau sedang memikirkan kalimat yang baik untuk meminta maaf padaku?" goda Shikamaru.
Ino yang nyaris saja berkaca-kaca karena cerita Shikamaru kembali menampilkan wajah kesalnya. "Nyesel sempet respect tiga detik," balas Ino dan mengundang Shikamaru untuk tertawa.
Seorang pelayan kemudian datang mengantarkan makanan yang dipesan Ino beberapa saat yang lalu. Setelah pelayan itu meletakkan kedua piring di atas meja, ia mengambil nomor meja dan kembali melanjutkan pekerjaannya yang lain.
Selama beberapa saat, Ino dan Shikamaru sibuk dengan makanannya masing-masing. Shikamaru dengan onion ring-nya dan Ino dengan waffle-nya. Keduanya sudah berbincang sepanjang waktu dan mungkin saja baru menyadari kalau perut mereka perlu diisi sedikit sebelum jam makan siang.
"Setidaknya kita sudah sama-sama bahagia sekarang, iya 'kan?" tanya Ino sedikit ragu.
Shikamaru yang baru mau melahap onion ring-nya mengangguk. "Makanya aku senang karena kau bisa tertawa seperti dulu, sebelum kita terus-menerus diberikan pertanyaan tentang kelanjutan hubungan kita," jawab Shikamaru kembali meneruskannya makannya.
Ino mengangguk-angguk, sangat setuju dengan penuturan Shikamaru. "Ketika setiap hari hubungan percintaanku menjadi topik pertikaian keluarga besar Yamanaka, dari situ aku sadar kalau aku sudah menjadi orang dewasa."
Shikamaru terkekeh. "Capek ya jadi orang dewasa," jawab Shikamaru.
Dua tahun terakhir hubungan percintaan Shikamaru dan Ino memang jadi tahun terberat mereka. Hubungan pacaran mereka diketahui dan mulai ditentang. Pihak keluarga mulai mendesak keduanya untuk berpisah. Seluruh keluarga besar Yamanaka dan Nara mulai gusar, memperkeruh keadaan keluarga kecil Ino maupun Shikamaru. Rasanya Ino dan Shikamaru jadi trauma berurusan dengan keluarga besar mereka masing-masing.
"Iya, capek dituntut sana-sini. Kerjaan harus bagus, percintaan harus mulus, koneksi harus di mana-mana. Padahal usia baru aja kepala dua udah disuruh ini-itu," keluh Ino mengingat perjuangnya di awal usia 20-an dulu.
"Kalau salah satu aspek gak terpenuhi, langsung merasa jadi manusia paling gagal," tambah Shikamaru ikut berkomentar.
"Bener!" seru Ino sambil memakan es krim vanila yang ada di atas waffle-nya. "Apalagi patah hati di awal karier bisa bikin kacau di semua aspek."
Kalimat yang dilayangkan Ino tadi lagi-lagi menyindir Shikamaru secara tidak langsung. Hal itu semakin diperjelas dengan lirikan mata Ino pada Shikamaru, seolah-olah ingin tahu reaksi Shikamaru setelah mendengar sindiran yang ditujukan padanya.
"Mendokusai," ucap Shikamaru.
Ino tertawa ketika mendengar trademark Shikamaru lagi setelah sekian lama. "Astaga kata keramat itu masih ada ternyata!" kekeh Ino yang mengundang Shikamaru untuk tertawa juga.
Entah sudah berapa lama Shikamaru tanpa sadar mengurangi penggunaan trademark-nya itu. Ia sendiri cukup terkejut karena bisa melontarkan kata itu lagi di hadapan Ino. Shikamaru pikir kebiasaannya ini mulai menghilang semenjak dia stres berat karena berpisah dengan Ino.
"Untung aja masih inget ada biaya hidup yang harus dipenuhi, jadinya masih lanjut kerja meskipun hati lagi gak baik-baik aja," kata Ino sambil mengenang masa lalunya saat mengerjakan laporan ditemani air mata yang terus menetes. Oh, jangan lupakan playlist lagu galau yang terus berkumandang menemani Ino sepanjang hari.
"Gak dimarahin atasan?" tanya Shikamaru.
Ino menggeleng. "Asal kerjaan kelar, atasan gak akan marah. Untungnya beliau juga gak protes kalau anak buahnya kerja dari rumah."
"Paling Paman Chouza tahu anak buahnya lagi patah hati makanya dibiarin aja."
"Heh, tapi aku 'kan bisa menunjukkan sikap profesionalku meskipun kerja di perusahaan Akimichi," protes Ino. Ia tidak terima merasa diremehkan oleh sang mantan pacar.
"Oh iya, gi mana kabar Chouji?" tanya Shikamaru begitu teringat dengan teman lamanya itu.
"Baik kok, dia lagi sibuk ngurus anak. Anaknya perempuan, lucu banget!" kata Ino bersemangat. "Kamu benar-benar lost contact dari semua teman-teman kita di Konoha ya?"
Shikamaru mengangguk. "Biar semakin susah dicari," jawab Shikamaru.
"Totalitas banget ngilang-nya."
Shikamaru kembali tertawa renyah mendengar perkataan Ino.
Obrolan mereka berlangsung tanpa jeda. Selalu ada topik obrolan di antara mereka. Shikamaru dan Ino sama-sama memanfaatkan waktu ini untuk kembali membangun pertemanan mereka yang sempat terputus. Entah putus karena mereka menjadi sepasang kekasih, maupun terputus karena perpisahan mereka selama sepuluh tahun ini.
Handphone milik Ino tiba-tiba saja mengeluarkan nada dering. Ino meminta izin kepada Shikamaru untuk mengangkat panggilan teleponnya. Tentu saja Shikamaru memperbolehkan.
Selama Ino menerima panggilan telepon, Shikamaru fokus menghabiskan onion ring-nya. Rasanya gurih dan memang enak. Rekomendasi makanan dari Ino memang tidak pernah salah.
Panggilan telepon Ino hanya berlangsung sebentar, setelah itu Ino memasukkan kembali handphone-nya ke dalam tas. "Maaf ya, tadi Sai nelpon mau ngasih tau kalau dia jemput Inojin di TK," ucap Ino.
Sebenarnya Shikamaru tidak terlalu penasaran dengan siapa Ino berbincang di telepon. Apalagi dua nama orang yang disebutkan Ino terdengar asing di telinga Shikamaru. Ah, kecuali nama "Sai" yang sempat disebutkan Ino di awal obrolan mereka.
"Yamanaka Inojin, anakku," kata Ino. Untuk sesaat Ino lupa kalau Shikamaru belum mengenal anggota keluarga kecilnya. "Kalau kau melihat Inojin, kau pasti langsung tahu kalau dia itu anakku," ucap Ino bangga.
"Rambut pirang? Mata aquamarine?" tanya Shikamaru.
Ino mengangguk penuh semangat. "Dia benar-benar seperti replikaku versi laki-laki. Sai hanya mewariskan kulit pucatnya pada Inojin," jelas Ino.
Dari deskripsi yang diberikan Ino, Shikamaru berusaha membayangkan seperti apa rupanya. Entah sosok Inojin yang di benaknya itu sama atau tidak dengan yang asli, tapi setidaknya Shikamaru bisa sedikit tahu.
"Inojin benar-benar mewujudkan mimpimu ya, Ino," ucap Shikamaru. Ia teringat dengan keinginan Ino beberapa tahun lalu saat keduanya masih berpacaran. Ino ingin mewarisi rambut pirang dan manik aquamarine pada keturunannya kelak.
"Iya!"
"Mungkin kalau kita jadi menikah, mimpimu justru tidak akan terwujud," kekeh Shikamaru.
Ino tertawa. "Sepertinya iya," jawab Ino. "Tiap kali aku mengatakan keinginanku itu kau selalu bilang 'mana mungkin keturunan Nara rambutnya pirang, mendokusai' sampai aku bosan mendengarnya."
"Berapa usia Inojin sekarang?" tanya Shikamaru.
"Lima tahun, Desember nanti baru enam tahun," jawab Ino.
"Oh, rupanya sepantar dengan Shikadai," balas Shikamaru sambil menyebutkan nama anak semata wayangnya. "Shikadai juga mirip denganku. Ia hanya mewarisi sepasang mata hijau dari Temari," sambung Shikamaru bergantian mendeskripsikan anaknya.
"Wah, benarkah? Mereka bisa jadi teman baik," ucap Ino senang. "Kapan ulang tahunnya?"
"Hmm ... besok."
"Ohh—EEEH!? BESOK?" tanya Ino dengan suara keras, membuat beberapa pengunjung kafe kaget. Untuk sepersekian detik, meja Ino dan Shikamaru jadi pusat perhatian orang-orang di kafe ini. "Tunggu ... tunggu ... astaga berarti hari ini ulang tahunmu, Shikamaru! Kenapa kau tidak mengatakannya?" protes Ino.
Sebelum membiarkan Shikamaru menjawab, Ino sudah lebih dahulu bangkit berdiri. Ia bergegas ke meja kasir, meminta beberapa barang. Shikamaru hanya memperhatikan gerak-gerik Ino, tidak tahu apa yang mau dilakukan perempuan itu sekarang.
Kemudian, Ino datang dengan satu lilin dan korek api. Ia duduk di tempatnya, lalu mulai menyalakan lilin itu. "Berhubung ini ulang tahun ke-35 gak perlu ada kue ya? Takut diabetes," ucap Ino.
Walaupun tingkah Ino suka ajaib, untungnya Shikamaru sudah sedikit terbiasa. Tanpa perlu bertanya, Shikamaru mengerti bahwa lilin menyala di hadapannya ini minta ditiup olehnya sebagai perayaan ulang tahun Shikamaru. Shikamaru bahkan lupa kalau hari ini ulang tahunnya. Jika Ino tidak bertanya ulang tahun Shikadai, Shikamaru mungkin tidak akan mengingat tanggal hari ini.
Shikamaru kemudian meniup lilin ulang tahun dadakannya itu, membuat Ino tersenyum cerah ke arahnya.
"Selamat ulang tahun, Shikamaru," ucap Ino. Ucapan ulang tahun pertama yang didapatkan Shikamaru dari Ino setelah absen sepuluh tahun.
"Terima kasih," balas Shikamaru.
Lilin yang tadinya berada di tangan Ino kini berpindah di tangan Shikamaru. Shikamaru juga merebut korek api yang dipinjam Ino dari pegawai kafe. Lilin itu dinyalakan kembali oleh Shikamaru.
"Besok ulang tahunmu, tapi tiup lilinnya sekarang aja karena besok aku sudah kembali ke Suna," kata Shikamaru.
Ino tersenyum dan memejamkan matanya. Tidak seperti Shikamaru yang langsung meniup lilin itu, Ino memilih untuk membuat permohonan lebih dulu. Setelah berdoa selama beberapa detik, Ino membuka mata dan meniup lilin di depannya.
"Selamat ulang tahun, Ino," ucap Shikamaru.
"Terima kasih banyak, Shikamaru," balas Ino. "Besok ucapkan 'selamat ulang tahun' dariku untuk Shikadai juga ya!" pinta Ino.
Shikamaru terkekeh. "Iya," jawabnya.
"Kalau bukan karena membahas ulang tahun Shikadai, aku pasti lupa ulang tahunmu juga," kata Ino.
"Faktor usia."
"Kurang ajar ya, Shikamaru. Kamu lebih tua satu hari kalau kamu lupa," balas Ino.
Keduanya tertawa bersamaan setelah acara tiup lilin dadakan yang diadakan keduanya.
"Aku kira kita tidak akan merayakan ulang tahun bersama lagi setelah kamu pergi," ucap Ino.
"Aku juga."
"Shikamaru ..." panggil Ino. Ia seperti sengaja menggantungkan kalimatnya. Ino berpikir sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya, padahal Shikamaru sudah memusatkan perhatiannya pada Ino.
"Ada apa?"
"Apa kita tidak bisa melakukan tradisi ulang tahun yang biasa kita lakukan?" tanya Ino ragu-ragu. "Tapi, kalau kau merasa tidak nyaman lebih baik tidak usah," sambung Ino cepat.
Shikamaru tersenyum tipis. "Kenapa tidak? Mumpung kita berdua masih bisa merayakan ulang tahun bersama lagi," ucap Shikamaru menyanggupi permintaan Ino.
Shikamaru menegakkan posisi duduknya. Ia kemudian menggenggam kedua tangannya, mengambil posisi berdoa seperti yang biasa dia lakukan. Ino tersenyum melihat reaksi yang ditunjukkan Shikamaru. Ino kemudian meletakkan kedua tangannya di atas genggaman tangan Shikamaru. Ino dan Shikamaru kemudian menutup mata masing-masing.
"Tuhan, terima kasih atas bertambahnya usia yang boleh Shikamaru terima. Terima kasih sudah menjawab doa-doaku setiap tahun agar Shikamaru bisa bahagia, meskipun semesta mengabulkan doaku dengan sedikit revisi. Aku mohon berikan Shikamaru lebih banyak kebahagiaan dalam hidupnya, meskipun aku tidak turut di dalamnya. Semoga sabar-Mu masih banyak menghadapi Shikamaru yang merusak paru-parunya karena merokok. Sesekali Shikamaru memang harus ditegur langsung. Aku mohon berikan kesehatan dan umur yang panjang untuk Shikamaru. Amin."
Setelah selesai berdoa, Shikamaru dan Ino sama-sama membuka mata. Aquamarine Ino tampak berkaca-kaca. Ia berusaha menahan isak tangisnya saat memanjatkan doa. Seulas senyum terlukis dari wajah Ino, mengisyaratkan bahwa dirinya baik-baik saja meskipun dengan mata berkaca-kaca.
Kini giliran Shikamaru mendoakan Ino. Posisi tangan keduanya berubah. Kedua tangan Shikamaru kini berada di atas genggaman tangan Ino. Mereka mengulangi cara yang sama, namun dengan doa yang berbeda.
"Tuhan, terima kasih atas segala hal yang sudah Engkau berikan pada Ino di sepanjang hidupnya. Terima kasih tidak menghilangkan tawanya yang khas, maupun senyumnya yang manis. Marah, kesal, dan sindirannya masih merepotkan tapi itu yang menjadikan dirinya seorang Ino. Aku mohon berikanlah segala yang baik untuk Ino dan kehidupannya. Amin."
Seusai berdoa, keduanya sama-sama tersenyum dan melepaskan kembali sentuhan tangan mereka. Ino mengusap kedua matanya agar tidak ada air mata yang menetes lagi.
"Tahun ini gak ada tukar kado ya?" tanya Shikamaru.
Ino terkekeh. "Kita aja nyaris lupa ulang tahun masing-masing. Terus, ini pertemuan super dadakan kita setelah sepuluh tahun tanpa kabar."
"Dari tadi juga kebanyakan cerita," ujar Shikamaru.
"Wajar dong kalau cerita terus. Dari dulu kita udah sering cerita ini-itu, begitu sepuluh tahun gak ketemu otomatis ada banyak utang cerita," komentar Ino.
Shikamaru dan Ino melanjutkan obrolan mereka yang sempat tertunda. Cerita tentang kegiatan yang mereka lakukan selama sepuluh tahun terakhir jadi topik utama. Keduanya saling berbagi cerita sebagai sepasang sahabat.
Tawa dan senyum menghiasi obrolan Shikamaru dan Ino. Tidak ada lagi kesedihan maupun amarah yang menghiasi raut wajah mereka seperti tahun-tahun terakhir mereka sebagai sepasang kekasih. Semuanya berjalan baik, meskipun dulu keduanya sempat terjatuh dan kesulitan untuk bangkit.
.
.
.
TAMAT
.
.
.
A/N:
Halo, sudah lama tidak menampakkan diri lagi setelah sekian lama. Bagaimana kabar teman-teman yang masih mampir baca fanfic di sini? :D Semoga fanfiksi ini bisa sedikit menghibur temen-temen yang lagi kangen ShikaIno ya!
Sebelumnya, aku mohon maaf kalau fanfiksi ini banyak kekurangan karena aku udah lama gak nulis dan fanfiksi ini bener-bener hasil ngebut. Tadinya gak bakal publish fanfiksi pas ShikaIno Fandays karena emang gak keburu gitu. Tapi, tengah malem pas tanggal 22 September itu kepikiran satu ide dan langsung dieksekusi aja deh. Sebenernya ngejar tanggal 23 September biar pas publish masih ada vibes ulang tahun Ino, tapi sepertinya jamnya gak cocok hehehehe. Semoga fanfiksi ini masih bisa dinikmati dan gak bikin temen-temen pusing bacanya ya!
Terima kasih buat temen-temen yang sudah meluangkan waktu untuk membaca fanfiksi ini. Jika berkenan, jangan lupa tinggalkan jejak ya! Tetap jaga kesehatan dan bahagia selalu!
Love,
Yola-ShikaIno
.
.
.
.
.
.
OMAKE
Dua belas tahun yang lalu.
Shikamaru mengeratkan jaket yang dia kenakan. Pandangan matanya tidak lepas dari sosok perempuan berambut pirang yang berjalan di depannya. Malam ini sangat dingin, tapi kekasihnya itu seperti kebal dengan hawa dingin yang menusuk ini. 'Bisa-bisanya Ino masih tetap bersemangat di jam 23.50 ini,' batin Shikamaru.
Ino berbalik, memastikan kekasihnya masih ikut mendaki bukit kecil bersama dengannya. Pemuda berambut nanas itu sesekali mengeluh, namun tidak ditanggapi oleh Ino. Ino tahu mau mengeluh sesering apa, Shikamaru pada akhirnya akan tetap menyelesaikan tugasnya.
Setelah keduanya sampai di tempat yang dimaksud Ino, Shikamaru dan Ino mengambil napas sejenak. Pendakian malam mereka memang singkat, tapi tetap saja menguras tenaga keduanya.
Pandangan mata Ino dan Shikamaru tidak lepas dari pemandangan di depan mereka. Di hadapan mereka ada lampu-lampu kota yang menyala di tengah malam, membuatnya seperti jutaan bintang di langit.
Ino memeluk lengan kiri Shikamaru, mencari sedikit kehangatan tambahan dari jaket yang dikenakan sang kekasih. Sementara Shikamaru memiringkan kepalanya ke sebelah kiri, menyerahkan berat kepalanya untuk ditanggung puncak kepala Ino.
Alarm dari handphone Ino berbunyi. Ino segera mematikan alarm itu setelah memastikan bahwa sekarang sudah pukul 23.59, satu menit sebelum ulang tahunnya.
"Ayo berdoa!" ajak Ino.
Shikamaru kemudian menggenggam kedua tangannya, kemudian kedua tangan Ino menyusul di atas genggaman tangan Shikamaru. Kedua mata mereka terpejam.
"Tuhan, terima kasih atas bertambahnya usia yang boleh Shikamaru terima. Aku punya banyak harapan untuknya, tapi yang terpenting aku mohon berikan Shikamaru kebahagiaan tak terhingga bersamaku. Semoga kami berdua punya banyak waktu untuk bahagia bersama tanpa gangguan dari orang lain, terutama keluarga besar kami. Lancarkan segala rencana yang Shikamaru susun, sebab sudah banyak waktu yang Shikamaru habiskan hanya untuk berpikir dengan otak geniusnya. Aku mohon berikan Shikamaru kesehatan, terutama kesehatan pada paru-parunya karena akhir-akhir ini Shikamaru mulai merokok. Amin."
Shikamaru dan Ino membuka mata mereka. Ino terkekeh begitu dirinya selesai mendoakan Shikamaru, membuat Shikamaru merasa gemas dengan kekasihnya.
Tangan Shikamaru mengacak-acak puncak kepala Ino. "Kenapa setiap tahun doanya jadi makin panjang?" tanya Shikamaru.
"Soalnya umurnya makin banyak, jadi harapanku tambah banyak," jawab Ino riang. "Selamat ulang tahun, Shikamaru!"
Shikamaru membungkukan sedikit badannya, lalu mengecup kening Ino. "Terima kasih, Ino," ucapnya sambil tersenyum.
Ino membalas ucapan dan senyum Shikamaru dengan senyum yang tak kalah lebar.
Shikamaru melihat jam tangannya. Saat ini sudah menunjukkan pukul 00.00, kini giliran Shikamaru yang mendoakan Ino di hari ulang tahunnya.
Seolah-olah tahu, Ino langsung menggenggam kedua tangannya seperti yang sudah Shikamaru lakukan. Kedua tangan Shikamaru menyentuh genggaman tangan Ino. Untuk kedua kalinya, mereka memejamkan mata untuk mulai berdoa.
"Tuhan, terima kasih untuk semua hal yang sudah Ino dapatkan selama hidupnya. Aku bersyukur atas segala senyum dan tawa yang Ino dapatkan selama ini. Semoga Engkau berkenan mempertahankan tawa dan senyumnya yang selalu membuatku jatuh hati padanya. Aku mohon berikan Ino sedikit kesabaran agar tidak semakin merepotkan hidupku. Semoga aku bisa menjadi salah satu hal baik yang Ino dapatkan dan begitu pula Ino dalam hidupku. Amin."
Seusai berdoa, keduanya membuka mata. Akan tetapi mereka masih mempertahankan posisi tangan mereka, tidak ada yang mau melepaskannya.
"Selamat ulang tahun, Ino," ucap Shikamaru.
"Terima kasih, Shikamaru," jawab Ino.
Ino melepaskan genggamannya secara tiba-tiba dan melingkarkan tangannya di leher Shikamaru. Ia berjinjit dan mencium bibir Shikamaru dengan lembut.
"Doa kita bakal terkabul gak ya?" tanya Ino begitu selesai mencium bibir sang kekasih.
"Terkabul," jawab Shikamaru tegas.
"Kalau enggak?"
"Kita yang bikin doanya terkabul."
Jawaban Shikamaru membuat Ino kembali tersenyum cerah malam ini. Ino bahagia bersama Shikamaru dan Shikamaru pun begitu.
Malam yang dingin ini pun ditutup dengan acara tukar kado di antara keduanya sebelum mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.
.
.
