The King Of Heroes

Disclaimer :

Naruto : Masashi Kishimoto

Fate/Stay Night : Datto Nishiwaki

High School Dxd : Ichiei Ishibumi

Rate : -?-

Pair : -?-

Genre : Action, Fantasi, Supranatural,?

Warning : Typo, HumanNaru!, OOC, Author Newbie, Isekai, and Etc.

Summary

Uzumaki Naruto! Seorang pahlawan perang yang mati karena menyegel Juubididalam tubuhnya, saat ia berpikir akan pergi ke alam kematian, dia malah bereinkarnasi menjadi anak dari Dewi sihir dan seorang Raja agung. Mungkinkah ini akan menjadi kehidupannya yang baru? Hmm... Mungkin tidak.

Chapter 2

Kehidupan Sang Raja yang penuh... masalah

Bertemu dengan Ea...

Start Story


Timeskip

5 Years later...

"Haa~ahh... Sepertinya aku memang harus mulai menerima 'kehidupan' baruku yang aneh ini." Gumam seorang bocah laki-laki berusia 5 tahun, berambut pirang lurus, bermata merah dan memiliki tatapan tajam, dan kulit putihnya yang tampak lebih halus daripada sutra, memandangi negerinya di malam hari dari balkon kerajaannya. Walaupun umurnya baru menginjak usia 5 tahun, tapi dapat dilihat dengan jelas bahwa ia sudah memiliki wajah yang amat rupawan.

'Walaupun sangatlah sulit untuk diterima akal sehatku sekalipun.' Tambahnya dalam hati.

Sriiinnggg!

"Huh?" Semua pemikirannya langsung hilang seketika saat tiba-tiba, ada sebuah bintang jatuh melintas.

"Ohh hanya bintang jatuh, tapi... ada yang aneh dengan bintang jatuh itu. Kenapa bintang jatuh itu berwarna merah?" Ucap sang bocah penasaran. Benar saja, semakin bintang jatuh itu mendekati tanah semakin terang sinarnya.

"E-eh?"

Blaarrr!

"... Ok, apapun benda itu. Aku sangat yakin bahwa itu bukanlah bintang jatuh... Lebih baik aku pergi dan menyelidiki benda apa itu." Ucap sang bocah sambil berlari kearah gerbang kerajaannya, saat ia hampir mencapai gerbang kerajaan, ia dihadang oleh dua prajurit penjaga.

"Pangeran? Apa yang anda lakukan malam-malam begini? Bukankah Anda seharusnya beristirahat?" Tanya salah satu penjaga. Dua penjaga ini membawa senjata yang berbeda yang satu membawa kapak dan pedang biasa, sedangkan di yang satunya lagi membawa tombak dan pedang pendek serta tiga pisau belati berwarna perak yang tersemat di pinggangnya.

"Ah, aku hanya ingin jalan-jalan saja, lagi pula hari belum terlalu malam, jadi tak masalah bukan?" Jawab sang bocah dengan senyum tipis. Kedua penjaga itu saling memandang satu sama lain untuk beberapa saat, sampai prajurit yang memakai kapak menjawabnya.

"Tentu saja, pangeran. Tapi, apa tidak sebaiknya salah satu dari kami menemani anda?" Tanya prajurit itu dengan kepala sedikit menunduk.

"Hmm... Kurasa itu tak perlu. Lagi pula mana ada musuh dari kerajaan lain yang akan menyerang diriku, terlebih didalam wilayah kerajaan ku sendiri, jadi lebih baik kalian disini saja, menjaga keamanan istana, apa kalian mengerti?" Jelas sang pangeran dengan wajah serius. "Lagipula... Haha~ aku bosan di dalam istana saja, sekali-kali aku ingin jalan-jalan tanpa harus di jaga oleh penjaga." Lanjutnya sambil tersenyum lebar.

"Ah~! Baiklah kami mengerti pangeran, silahkan anda boleh pergi. Tapi ingat, anda harus selalu waspada." Kata sang prajurit menasehati sambil tersenyum kecil melihat tingkah pangeran muda mereka.

"Ya, ya aku mengerti, kalau begitu aku pergi dulu, dah~!" Sang pangeran langsung melanjutkan perjalanannya. Meninggalkan dua prajurit yang masih berdiri dan melihat kepergiannya dengan senyum diwajahnya keduanya.

"Hei, menurutmu apa yang akan terjadi jika pangeranGilgameshmengambil alih kekuasaan nantinya?" Tanya prajurit yang membawa tombak kepada rekannya.

"... Yang pastinya, kerajaanBabyloniaakan semakin jaya dan mahsyur, aku yakin itu." Jawab prajurit kapak dengan bangganya.

"Dan jika, pangeran Gilgamesh menjadi raja suatu hari nanti, aku akan berusaha menjadi tangan kanannya nanti." Lanjutnya dengan senyuman mengejek pada temannya.

"Wah... Kalau begitu aku tak boleh kalah dari mu, baiklah suatu hari aku akan menjadi tangan kirinya nanti, aku bersumpah akan hal itu." Balas prajurit tombak tak kalah semangat.

"Hahaha... Senang mendengar hal itu dari mu temanku."

"Aku juga."

At Naruto

"Kemana jatuhnya benda tadi? Padahal aku sangat yakin kalau benda itu tadi jatuh disekitar sini." Ucap sang pangeran muda, ia sudah mencari 'benda' yang jatuh tadi sudah cukup lama, tapi sama sekali tidak menemukannya.

"Apa karena aku mencarinya pada malam hari ya? Ah~ Bodohnya aku..." Saat Sang pangeran membalikkan tubuhnya dan ingin pergi, tiba-tiba muncul sinar merah terang yang terasa familiar olehnya dibalik beberapa pohon besar yang menghadang penglihatannya.

'Ini kan... Bukankah ini sinar dari benda itu? Lebih baik ku ikuti sinarnya sebelumnya sinarnya padam.' Pikirnya.

Sang pangeran lalu berlari secepat mungkin kearah sinar tersebut, saat sudah hampir sampai, ia sudah bisa melihat bentuk dari benda jatuh itu.

'Pedang? Jadi itu benda itu tadi yang jatuh dari langit? Bagaimana bisa?' Tanyanya pada dirinya sendiri.

Setelah sampai di tempat benda itu, yang menancap pada batu yang ukurannya cukup besar, tanah sekitarnya langsung kering dan tandus, kini ia sudah bisa melihat bentuknya dengan jelas, benda itu memiliki bentuk silindris dengan garis-garis merah di sekelilingnya, pada ujung lancipnya benda itu mempunyai emas padat yang dibentuk menjadi kerucut yang sangat tajam, pada ujung lainnya, terdapat palindung tangan yang terbuat dari emas murni yang memiliki tiga lapisan dengan ukiran-ukiran indah terukir padanya, dan memiliki gagang yang juga terbuat dari emas.

"... Apapun benda ini, aku sangat yakin kalau ini bukanlah pedang, tapi tombak. Bentuknya saja sudah bisa menjelaskannya." Gerutu sang pangeran muda dengan wajahnya yang sedikit mengerut. Sang pangeran pun mencoba mendekatinya, semakin didekatinya semakin terang dan menyala sinarnya.

Grepp

Tak terjadi apa-apa, kecuali benda itu tak mengeluarkan sinarnya lagi.

"...Itu saja?" Tanyanya sambil mengangkat satu alis matanya. Ingin mencoba sesuatu, sang pangeran pun mencoba untuk mengangkat bend-, peda-, tomb-... Apapun benda itu ia tak peduli, yang ia ingin ketahui adalah kenapa bisa benda ini jatuh di sini.

"Seharusnya dengan ukuran yang jauh lebih besar dari tubuh ku, pastinya akan sangat susah untuk ku mengang- tidak, bahkan menggesernya dari tempatnya pastinya akan sangat mustahil bagi anak seusiaku." Ucap Pangeran kebingungan.

"Hmm... Garis-garis merah di tombak ini sepertinya sebuah kata atau kalimat, peletakannya mirip gaya penulisan bahasa Babilonia, tapi apa?" ia memeriksa benda tersebut dan benar saja, garis-garis merah di sekeliling benda itu membentuk sebuah kata.

"E-e..n-nu...m-m-ma.. Enuma, ok aku sudah dapat satu kata. E-l-l... I-ish. Enuma Elish?" tak lama setelah mengucapkan dua kata tersebut, benda itu kembali bersinar, tidak seterang tadi, tapi tatap bersinar.

"hmm... Begitu ya? Baiklah, kini saatnya untuk mencari tahu apa benda ini berbahaya atau tidak." Sang pangeran menutup matanya sejenak, lalu mempersiapkan badannya dalam posisi yang siap menusuk dengan tombak aneh tadi di genggaman tangan kanannya.

"Enuma Elish!" Ucapnya lantang sambil menusukkan 'tombak'-nya pada udara kosong, jika sang pangeran lebih teliti lagi, pasti ia akan melihat jika ada sebuah cahaya merah kecil yang berukuran lebih kecil dari kelereng, terbang dan meluncur dari benda itu.

...

Belum ada apa-apa

...

Masih belum

...

...

...

Krik~ krik~ krik~

Bahkan saking heningnya, suara jangkrik bahkan terdengar sangat keras. Melihat senjata di tangannya, sang pangeran facepalm.

"... Baik, kurasa aku terlalu berharap banyak atau terlalu paranoid tenta-"

Booommm!

Belum selesai dirinya berbicara, sebuah suara yang keras dan memekakkan telinga terdengar tak jauh dari tempatnya berdiri. "Apa it- Astaga..."

Tentu saja ia kaget. Sebuah gunung yang menjulang tinggi ke langit kini hanya tersisa setengahnya. Tak hanya itu setelah ledakan tadi, tercipta sebuah 'jalur' yang lebarnya sekitar 50 meter dengan panjang yang bahkan menembus hutan, bebatuan, dan gunung tadi masih sangat panjang. Sampai sejauh matanya memandang hanya ada kehancurannya yang menyapa matanya.

"I-ini... S-senjata ini terlalu berbahaya... U-untung saja aku tidak mengarahkannya ke arah kerajaan ku, aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika aku melakukannya. Dan... Arah yang ku pakai tadi sepertinya arah kerajaan tetangga..." Kata-kata yang ingin keluar dari mulutnya harus terhenti

"..." 'Gilgamesh' lalu berjalan kembali menuju kearah dimana ia mencabut senjata tadi, lalu menancapkannya kembali pada batu.

"..." Masih terdiam, tiba-tiba dengan spontan, sang pangeran membalikkan tubuhnya lalu dengan berlari dengan kencang

"Sial! Sial ! Sial! Kenapa hidupku harus selalu sial?!" Teriak pangeran muda frustasi sambil berlari menuju istananya.

Timeskip

"hah... Hah...hah.. huftt, kuharap esok hari tak ada yang menanyakan tentang kehancuran gunung dan kerajaan tetangga. Bisa bahaya jika ayah tahu..." Ucap pangeran sambil menahan badannya dengan kedua tangannya yang menumpu pada lututnya. "H~aah... Lebih baik sekarang aku istirahat dan semoga saja mimpi ku tidak tentang benda mengerikan tadi." 'Gilgamesh' pun membuka pintu kamarnya, dan sesuatu yang tak ingin dilihatnya lagi mulai dari hari ini, muncul dan tergeletak manis di tempat tidurnya.

Brukkh!

Dan dapat dipastikan kalau para pembantu di istana itu akan langsung heboh dan panik, saat melihat pangeran muda mereka tergeletak di depan pintu kamarnya. Sama sekali tidak sadar bahwa ada benda asing tergeletak di dekat kasur pangeran mereka.

At morning

"Uggghh... K-kepalaku... Kenapa sakit sekali..." Lenguh seorang bocah pirang yang sedang tergeletak di atas tempat tidurnya, matanya sesekali mengerjai pelan sambil berusaha mengusir rasa pusingnya, pandangannya masih sedikit memburam.

"A-ah... Pangeran Gilgamesh... Syukurlah, anda sudah sadar rupanya, kami sempat panik karena tadi kami menemukan anda pingsan di depan pintu kamar anda." Sebuah suara wanita mengalihkan perhatiannya, 'Gilgamesh' pun mengedarkan pandangannya kearah wanita tersebut yang sedang membawa sebuah mangkok sedang berisi air dengan sebuah handuk kecil di pundaknya.

"Ah... Bibi... Ternyata itu kau... Aku... Sudah pingsan berapa lama?" Tanya Sang pangeran pelan dengan mata yang setengah tertutup.

"Ah... Baru semalam saja, pangeran... Dan... Pangeran Gilgamesh?" Panggil wanita itu sambil mendekati sang pangeran.

"Ya bibi... Ada apa?" Tanya sang pangeran saat merasa terpanggil, sambil menatap wajah sang wanita dengan penasaran.

"Apa... Anda punya senjata baru lagi?" Tanya sang wanita lagi, kali ini sambil mencelupkan lalu sedikit meremas handuk yang telah basah, lalu dengan lembut membaringkan kembali tubuh sang pangeran dan meletakkan handuk tersebut di keningnya.

"... Sepertinya tidak, bibi... Memangnya kenapa?"

"Er... Itu... Tadi pagi salah satu pembantu menemukan sebuah senjata yang tergeletak di dekat kasur anda, jadi... Kami kira itu milik anda..." Jawab sang wanita sambil terus mengulang perkerjaannya, sang pangeran muda yang merasa ada yang janggal, menanyakan kembali kepada sang wanita

"Ano... Bibi... Bentuknya seperti apa?" Tanya sang pangeran yang entah kenapa merasa was-was, berharap jika jawaban yang ia terima bukankah seperti yang di pikirannya.

"Hmmm... Bentuknya panjang, berwarna hitam dengan garis-garis merah di sekelilingnya, lalu dengan gagang emas... Memangnya ada apa, pangeran?" Tanya sang wanita dengan penasaran, berbeda dengan sang pangeran yang menunjukkan wajah terkejut.

'Itu! Itu! Tak mungkin!' Teriak sang pangeran dalam hati, dengan cepat ia bangkit dari tempat tidurnya, dan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, pandangannya langsung terkunci pada sebuah benda besar berwarna hitam yang menjadi mimpi buruknya.

"... Ahhhhh!..." Sebuah teriakan membahana langsung terdengar dari ruangan tersebut, sang pangeran langsung pingsan seketika, tubuhnya putih pucat, dengan tubuh yang bergetar dengan mulut yang mengeluarkan gumpalan busa.

"Ah! Pangeran! A-anda kenapa!?" Sang wanita berteriak histeris karena panik, ia berlari kencang kearah tubuh kecil sang pangeran muda yang tak sadarkan diri.

"Tolong!"

...

...

...

Timeskip(again...)

Pertemuan dua sahabat...

"Wahai engkau... Raja Uruk yang gagah perkasa dan agung, Gilgamesh. Apa alasanmu tidak lagi mengikuti kode etik dan peraturan yang sudah para dewa berikan padamu?" Tanya seorang pria yang memiliki rambut hijau panjang serta tubuh dan parasnya yang lebih ke arah feminim, memakai pakaian putih panjang, dengan sebilah pedang perak berserta sarung pedang tersebut berada di genggamannya.

"Aku tak perduli dengan hal itu! Kau! Para dewa mu itu! Dan juga peraturan bodoh yang kalian! Para dewa ciptakan! Telah merenggut nyawa dari ibundaku tercinta, Dewi Rimat-Ninsun. Dengan kejadian itu sudah memberikanku sebuah alasan agar tidak! Pernah! Menundukkan kepalaku pada siapapun! Tak peduli siapapun dirimu! Raja, Dewa, bahkan Tuhan sekalipun aku tak peduli!" Ucap dari seorang pemuda yang menggunakan zirah emas, dan menggenggam pedang silindris yang kini ia beri nama Ea. Tampak raut wajah menggeras dan menahan sebuah amarah yang tak dapat dibendung lagi.

"... Kau, memang keras kepala dan sangat sombong seperti yang dibicarakan, jika begitu jalan yang tersisa untuk menyadarkanmu kembali hanya dengan jalan kekerasan." Ucap sang pria hijau sambil mengeluarkan pedangnya dari sarungnya.

"Datanglah padaku, hei! Engkau pesuruh dewa! Datang dan kalahkan diriku jika kau memang mampu melakukannya!" Teriak sang raja dengan murka. "Bangunlah! Ea!" seketika itu juga pedang yang berada di genggamannya bersinar merah menyala seakan-akan merespon perintah tuannya. Tanpa peringatan, sang raja berlari dengan cepat kearah pria di hadapannya.

"Baiklah jika itu pilihanmu. Wahai engkau, Raja Uruk. Kuterima tantangan darimu." Lalu sang pria hijau pun berlari dengan kencang kearah sang raja.

"Heaaa!"

"Haa!"

BOOOMMM!

Dan sebuah ledakan besar yang di akibatkan oleh kedua senjata yang saling bertabrakan, menandakan bahwa ada sebuah pertarungan dahsyat, yang bekas dari pertarungan itu akan selalu dikenang.

Timeskip

7 days later...

Ditengah sebuah padang gersang dan kering, tampak dua tubuh dari dua orang yang telah bertarung selama berhari-hari tanpa istirahat sedikit pun, dapat dilihat jika keduanya tak dapat lagi melanjutkan pertarungan mereka.

"Ha..ha..ha.. kau... Pesuruh dewa... Kau sangat hebat, hingga kau bisa memaksaku menggunakan seluruh senjata dan mengeluarkan hampir semua prana milikku. Baru pertama kalinya, dalam hidupku ada sebuah makhluk yang dapat mengimbangi diriku seperti itu. H-hahahahaha!... Hei pesuruh dewa! Katakan padaku siapa namamu?!" Ucap Sang raja dengan wajah senangnya, tidak memperdulikan keadaannya sekarang yang terlihat menyedihkan itu. Luka besar, kecil, dan lecet serta lebam tercetak jelas di seluruh tubuhnya, walaupun dilindungi oleh zirah sekalipun. Zirah sang raja pun terdapat goresan di seluruh bagian badannya.

Sang pria hijau pun tak jauh menyedihkan keadaannya. Dengan luka tusuk, gores, serta tebasan di sekujur tubuhnya. Pakaiannya yang tadinya putih bersih kini tampak kotor dan kusam. Melihat sang raja, pria hijau pun menjawab pertanyaannya.

"Aku tak memiliki nama, tapi kau bisa memanggilku Enkidu, nama dari sebuah gumpalan tanah yang digunakan oleh dewi Aruru, untuk menciptakan diriku. Dan aku merasa sangat tersanjung saat seorang Raja yang digadang-gadang menjadi Raja terkuat yang tak akan pernah terkalahkan, mengakui bahwa pertarungan ini seri. Dan aku juga tak menyangka bahwa kau bisa memaksaku untuk menggunakan semua lumpur yang berada di tubuh ku ini, dan hanya menyisakan 1/10 dari totalnya. Kau memang hebat, Raja Uruk." Ucap Pria hijau yang kini bernama Enkidu, dengan wajahnya yang menampakkan senyum tulusnya.

"Kha...hahahaha! Baiklah! Dengan ini, aku meminta mu. Enkidu! Untuk menjadi temanku!" Ucap sang raja yang berusaha bangkit walaupun seluruh tubuhnya merasakan sakit.

"Dengan senang hati kuterima tawaran mu itu, Raja Uruk, Gilgamesh." Jawab Enkidu sopan.

"Baguslah! Mari! Biarkan aku membantumu dan mengantarkan mu ke kerajaan milikku, lalu kita akan merayakan pertemanan kita dengan pesta yang meriah." Sambil mengulurkan tangannya, sang raja tetap berusaha agar tubuhnya tidak tumbang.

"Baiklah, temanku... Gilgamesh." Mereka berdua pun pergi dan meninggalkan tempat itu, tempat yang sejauh mata memandang kini hanya ada tanah tandus dan kering, serta kehancuran dimana-mana.

Timeskip

Pesta perayaan yang...

Di sebuah ruangan aula yang luas dan megah, terlihat kumpulan orang-orang yang berkumpul mulai dari tua, muda, laki-laki, perempuan, sampai anak-anak. Mereka berkumpul di depan sebuah singgasana yang terlihat begitu megah, mereka semua berkumpul bukan tanpa alasan, raja mereka mengumpulkan mereka semua disini untuk merayakan sesuatu.

"Rakyatku! Dengarkanlah! Setelah pertempuran hebat, aku telah menemukan seseorang yang pantas untuk menjadi temanku! Enkidu!" Ucap sang raja lantang sambil duduk di singgasananya yang tercipta dari emas, tak lama setelah menyelesaikan ucapannya, Enkidu muncul sambil memakai sebuah gaun yang terlihat lebih mirip seperti gaun pengantin. Enkidu terus menatap dan menggenggam erat pakaian yang dipakainya.

"W-wah... Cantik sekali..."

"Itu... Bukankah pakaian pengantin...?"

"Apa dia pengantin raja?"

"Entahlah... Tapi yang pasti ia cantik sekali..."

Para warga yang berkumpul di sana berbisik-bisik saat melihat wajah Enkidu, mereka semua terpesona akan kecantikannya.

Grepp

Srettt!

"!"

Tiba-tiba Enkidu langsung melepaskan seluruh pakaiannya, membuat semua orang yang berkumpul disana termasuk sang raja terkejut, para orang-orang yang berkumpul tersebut langsung menutup mata mereka, tetapi mereka tetap saja masih mengintip.

"E-eh... Bukan seorang wanita..."

"Tapi juga bukan lelaki..."

"J-jadi yang mana?"

Para orang-orang yang berkumpul itu langsung berbisik-bisik kembali saat melihat kejanggalan pada tubuh Enkidu. 'Gilgamesh' yang penasaran dengan tingkah Enkidu yang tiba-tiba melepaskan pakaiannya langsung bertanya.

"Enkidu... Kenapa kau melepaskan pakaian mu?" Tanya 'Gilgamesh' heran, matanya terus melihat Enkidu yang mengangkat pakaiannya tinggi-tinggi.

"... Ini... Terlalu... Lembut..." Jawab Enkidu yang menatap datar pakaian yang baru saja di pakainya. 'Gilgamesh' yang mendengar jawaban itu mengangkat sebelah alisnya.

"Apa?" Gumam 'Gilgamesh' tak yakin dengan apa yang barusan di dengarnya.

Orang-orang yang melihat Enkidu mulai berbisik kembali.

"Tapi... Jika 'dia' melakukannya..."

"Dia baru saja menolak benda yang diberikan raja kepadanya..."

"Dia akan di bunuh!"

'Gilgamesh' terus melihat Enkidu, perlahan-lahan sebuah senyum tipis muncul di bibirnya yang lama-kelamaan berubah menjadi senyuman lebar sebelum akhirnya sang raja tertawa keras.

"Fu...fuahahahahahaha! Jadi... Kau tak menyukainya, baiklah... Aku paham, kau tak menyukainya! Hahahaha!"

Orang-orang yang berkumpul itu tentu saja sedikit kaget dengan respon raja mereka yang tidak seperti yang mereka pikirkan.

"Eh... J-jadi Raja tak akan membunuhnya..."

"Walaupun 'Dia' baru saja menolak benda yang di berikan Raja, ia tak akan membunuhnya?"

Gumam mereka keheranan, mereka terus melihat raja yang terus berbicara dengan 'makhluk' di depannya.

"Yang ingin kulakukan hanyalah memberikan sesuatu yang indah untuk seseorang sepertimu, dan kukira kau akan menyukainya..." Ucap 'Gilgamesh' dengan sebuah senyum miring yang menghiasi wajahnya.

Enkidu hanya melihat wajah 'Gilgamesh' sebentar, lalu menjawabnya.

"Aku... Lebih suka pakaian yang sedikit kasar..." Ujarnya enteng dengan wajahnya yang tetap datar.

'Apa! Kalimat macam apa itu? Dan... 'Dia' baru saja menolaknya lagi!' Batin semua orang yang berkumpul disana, mereka sedikit berkeringat dingin saat membayangkan sebuah hal yang buruk yang mungkin saja akan terjadi.

"Baiklah... Aku mengerti... Dan... Terlebih lagi... Hanya dengan setengah hari dari pertarungan kita... Kau sudah pulih?" Tanya 'Gilgamesh' mengganti topik pembicaraan mereka.

"... Umm... Ya mau bagaimana lagi... Aku bukan manusia..." Jawab Enkidu sambil mengalihkan perhatiannya kepada 'Gilgamesh'.

"... Dua pertiga diriku juga bukanlah manusia... Enkidu..." Balas 'Gilgamesh' datar, kedua mata merahnya menatap Enkidu malas. Enkidu yang mendengar ucapan dari 'Gilgamesh' sedikit tersenyum.

"Ah~... Fufu... Jadi... Jika kita bertarung sekarang... Mungkin akulah yang akan menang..." Ucap Enkidu sambil menatap 'Gilgamesh'.

Twitch~

"Kheh!... Kau, orang yang tidak bisa menciptakan pakaian mu sendiri dan sekarang sedang telanjang. Hah! Lelucon konyol... Simpan omong kosong mu itu untuk dirimu sendiri." Ucap 'Gilgamesh' sambil berdiri dari singgasananya, kedua matanya sedikit tertutup oleh poni rambutnya, tatapan tajamnya terarah pada Enkidu.

Tep~

Mereka langsung berhadapan dan memandangi tajam satu sama lain.

Sringg!

Jrash! Jrash! Jrash!

Sebelum ada rantai-rantai yang besi, yang keluar dari tanah dan juga muncul lingkaran-lingkaran yang sama-sama mengeluarkan rantai-rantai yang terbuat dari emas.

"!"

Orang-orang yang melihat kejadian itu, melebarkan mata mereka. Tak lama, mereka semua langsung berlari kencang untuk keluar dari tempat itu.

'Pengantin cantik itu memang temannya Raja!'

'Tolong! Jangan bertarung di dalam aula!'

'Apa yang akan terjadi pada kami, mulai dari sekarang!?'

Batin para warga yang panik tentang keselamatan mereka, mengabaikan dua makhluk yang terus berseteru di dalam aula.

...

...

...

Timeskip

Awal mula sebuah masalah...

"Jadi... Apa kau menerima lamaranku?" Tanya seorang wanita berambut hitam panjang dengan wajah cantik dan putih mulusnya, bertanya kepada seorang raja yang sedang duduk tenang di singgasana emasnya sambil mengelus surai emas seekor singa jantan besar yang berada di pangkuannya, dengan ditemani oleh temannya yang selalu berdiri di sampingnya.

"... Kau tahu... Aku akan menerima lamaran mu... Tapi... Aku harus menolaknya karena kau itu seorang Dewi yang tidak bisa dipercaya, kejam, dan suka menipu para lelaki, Ishtar...Jadi lamaran darimu kutolak mentah-mentah!" Ucap sang raja dengan nada dingin, matanya menatap tajam sang Dewi yang berdiri tepat di hadapannya, sang Dewi yang mendengar jawaban itu terkejut, tak lama raut wajahnya berubah menjadi murka.

"Kau! Beraninya kau menghinaku seperti itu, raja Uruk! Gilgamesh! Hinaan mu ini tak akan pernah aku maafkan!" Ucap sang Dewi dengan marah, sang raja yang di bentak oleh Dewi tersebut hanya menyeringai dan membalasnya dengan angkuh.

"Lalu... Memangnya apa yang akan kau lakukan? Ishtar? Aku raja agung berdarah murni! Jadi aku tak butuh seorang pendamping yang derajatnya serendah dirimu yang hanya akan mengotorinya, pergilah... Kau tak dibutuhkan disini." Ujar sang raja dengan sedikit mengibaskan tangannya. Sang Dewi yang diperlakukan seperti itu, semakin merasa terhina.

"Hinaan mu ini tak akan pernah aku lupakan! Lihatlah, balasanku atas perlakuanmu ini akan segera datang!" sang Dewi langsung pergi dari tempat itu, meninggalkan sang raja dan temannya yang masih melihat arah perginya sang Dewi.

"Gilgamesh... Apa kau yakin ini pilihan yang tepat? Aku... Merasakan ada hal buruk yang akan terjadi." Ucap Enkidu halus kepada sahabatnya, 'Gilgamesh' yang mendengar ucapan Enkidu hanya sedikit mendengus lalu menjawabnya dengan santai.

"Kheh... Seorang raja sepertiku tak membutuhkan seorang pendamping seperti dirinya, Ishtar, dia itu Dewi rendahan. Lagipula... Apa yang kau khawatirkan? Didunia ini tak ada yang bisa mengalahkan kita berdua, walaupun itu para dewa sekalipun." Ujarnya angkuh, Enkidu yang mendapat jawaban itu hanya sedikit menundukkan kepalanya dan menghela nafas. Matanya lalu menatap lelah sang sahabat.

"Baiklah... Terserahmu saja, aku akan mengikuti apapun ucapanmu." Ucap Enkidu lelah, ia sudah tahu benar sifat dari sahabatnya ini, sangat sombong dan angkuh tapi sangat baik dan perhatian di saat yang bersamaan, sungguh Enkidu tak habis pikir dengan sifat dari sahabatnya ini yang sangat sulit untuk ditebak.

"Khahahahaha! Baguslah kalau begitu! Ayo, ini sudah saatnya untuk makan malam!" sang raja dengan cepat langsung turun dari singgasananya, dan berjalan menuju pintu keluar, meninggalkan Enkidu sendirian.

"... Hah... Mungkin... Seberapa lama pun aku berteman dengannya, kurasa aku tak akan pernah bisa untuk mengenalnya lebih dalam." Gumamnya sambil melihat sang sahabat yang melenggang pergi, perlahan sebuah senyuman tipis muncul di wajah feminimnya.

'Dan kurasa... Kau tak akan pernah berubah Gilgamesh... Tak akan pernah.' Lanjutnya dalam hati sambil melangkahkan kakinya mengikuti arah yang dituju oleh temannya.

Beberapa hari kemudian

Sudah beberapa hari sejak Ishtar mengajukan lamaran kepadanya, dan pada beberapa hari itu juga perasaannya mulai tak mengenakkan. 'Gilgamesh' yang kini duduk di atas singgasananya, terlihat sedang berfikir keras, Enkidu yang melihat tingkah sahabatnya yang berbeda dari biasanya, menanyakan keadaan sang raja.

"Gilgamesh... Kenapa beberapa hari ini engkau terlihat begitu tak bersemangat? Ada apa? Wahai temanku?" Tanya Enkidu halus.

Mendengar pertanyaan dari Enkidu, membuat lamunan sang raja hilang. 'Gilgamesh' lalu mengalihkan matanya kepada Enkidu, sebelum dengan lemas sang raja menjawabnya.

"Entahlah Enkidu... Beberapa hari ini... Aku merasakan sesuatu yang akan datang... Tapi sialnya, aku tak tahu apa itu..." Ucap sang raja sambil mengepalkan kedua tangannya, matanya lalu melihat kearah pemandangan diluar jendela istananya, pemandangan kerajaannya yang amat luas dan indah.

"Benarkah? Jika begitu kita har-" Enkidu belum sempat menyelesaikan ucapannya ketika seorang prajurit istana berlari dengan terburu-buru ke hadapan sang raja. Setelah sampai dihadapan sang raja, sang prajurit tersebut langsung berlutut dihadapannya.

"Raja! M-maafkan hamba... Hah... T-tapi ada... Hah... Hal penting yang harus saya laporkan...Hah... Kepada yang mulia!" Ucap sang prajurit dengan nafasnya yang memburu. Sekujur tubuh prajurit tersebut dibasahi oleh keringatnya sendiri, menandakan bahwa prajurit tersebut baru saja berlari dari tempat yang jauh.

"Ada apa, prajurit? Kenapa kau terburu-buru seperti itu? Bangkitlah, dan ceritakan padaku." Ucap 'Gilgamesh' dengan nada memerintah. Walaupun memerintah, ia tetap membiarkan prajuritnya mengambil nafasnya terlebih dahulu.

"K-kerajaan kita d-diserang, Yang mulia!" Ucap sang prajurit dengan gugup, prajurit tersebut takut jika sang raja murka dengan tingkahnya barusan yang sangat tak sopan.

Mendengar jawaban dari prajurit tersebut, tentu saja membuat 'Gilgamesh' dan Enkidu terperanjat kaget. Sang raja langsung bangkit dari tahtanya dan bertanya kepada sang prajurit dengan mata merahnya yang melebar.

"Apa?! Siapa!? Siapa yang berani menyerang kerajaan ku!? Siapa!?" Tanya sang raja dengan suaranya yang meninggi, membuat sang prajurit mengambil langkah mundur.

"G-gugalanna... Gugalanna tuanku! Gugalanna, sang banteng surga yang menyerang kerajaan kita!" Ucap sang prajurit dengan cepat, tubuhnya sedikit bergetar. 'Gilgamesh' yang mendengar jawaban dari sang prajurit menggeram, matanya langsung melihat kembali kearah jendela istananya. Ia menajamkan kembali matanya untuk melihat lebih jauh, seketika matanya membulat ketika melihat sebuah makhluk raksasa yang wujudnya mirip seekor banteng dengan tanduk dan kepala emas dan tubuh yang tercipta dari gumpalan awan pasir tengah mengamuk di wilayah kerajaannya.

'Ini pasti perbuatannya, Ishtar... Beraninya kau!... Awas saja kau!... Ishtar! Akan ku balas perbuatanmu ini!' Sang raja mengutuk didalam hatinya, ia sangat yakin jika ini adalah perbuatan dari Dewi 'kotor' yang datang ke hadapannya beberapa hari yang lalu. Matanya lalu menatap sang prajurit, membuat sang prajurit semakin ketakutan dengan tatapan tajamnya.

"Prajurit! Kuperintahkan kau untuk mengungsikan seluruh penduduk ketempat yang aman, sekarang!" Perintah sang raja dengan cepat dilaksanankan sang prajurit, prajurit tersebut langsung berlari dan meninggalkan tempat tersebut dan melaksanakan perintah.

'Gilgamesh' lalu mengalihkan pandangannya kepada sahabatnya, Enkidu yang paham arti dari tatapan 'Gilgamesh' menganggukkan kepalanya.

"Aku mengerti, Gilgamesh. Kalau begitu, mari kita hadapi makhluk itu." Ucap Enkidu dengan wajah seriusnya, tak lama kemudian muncul sebuah cahaya keemasan darinya, setelah cahaya tersebut redup, Enkidu memakai sebuah pelindung kepala emas dengan tanduk yang mencuat keatas, dan di genggaman tangannya kini terdapat sebuah tombak emas berbilah tajam dengan panjang yang bahkan melewati tinggi tubuhnya. 'Gilgamesh' pun mengubah pakaiannya menjadi pakaian tempur, kini tubuhnya tertutupi oleh zirah emasnya, tak lupa Ea yang kini telah berada di tangan kanannya.

"Kalau begitu... Ayo..." Ucap 'Gilgamesh' yang berlari kencang diikuti oleh Enkidu dibelakangnya, kearah makhluk berbentuk banteng yang tengah mengamuk tersebut. Saat sudah berada tepat dihadapan makhluk tersebut, mereka berdua melompat tinggi sehingga mereka berdua tepat di wajah makhluk tersebut.

"Hah!/Heah!" Teriak mereka berdua sambil mengayunkan senjata mereka secara bersamaan ke wajah banteng tersebut.

Bllaarrr!

Dan sekali lagi, sebuah pertarungan yang amat dahsyat terjadi lagi, ditandai dengan adanya sebuah ledakan besar yang tercipta setelah senjata milik 'Gilgamesh' dan Enkidu bersentuhan dengan makhluk tersebut.

7 tahun kemudian...

Di sebuah lapangan yang sangat luas tapi sangat gersang dan tandus, terlihat dua tubuh dari dua orang yang sedang terbaring di atas tanah tandus, mereka terlihat tak bisa bangkit kembali karena kelelahan.

"Hah... Hah... Hah... A-akhirnya... Akhirnya makhluk itu mati juga..." Ucap 'Gilgamesh' yang saat ini tengah berbaring di tanah tandus sambil mengambil nafasnya, keadaanya sungguh memperihatinkan. Zirah emas yang selalu dikenakannya ketika maju kemedan perang, kini hanya menyisakan bagian zirah bagian bawah tubuhnya yang hanya melindungi pinggang dan kakinya saja, selendang merah yang tersemat di bagian pinggangnya kini robek di sana-sini, serta warnanya yang mengusam, tubuhnya yang atletis dan dihiasi oleh tatoo berbentuk garis-garis merah kini di penuhi luka yang menyelimuti seluruh tubuh bagian atasnya, Ea tergeletak begitu saja di samping tangan kanannya yang masih tertutupi oleh sarung tangan emas miliknya.

'Gilgamesh' mengalihkan pandangannya kesamping kirinya, melihat keadaan temannya yang keadaan tak jauh berbeda dengan dirinya sendiri, pakaian putih yang selalu di pakai oleh sahabatnya itu kini telah kotor dan kusam karena bercak darah dan juga pertarungan sengit mereka, tombak emas yang di gunakan oleh Enkidu kini tak memiliki ujung tajamnya lagi, dan pelindung kepala yang dikenakannya telah rusak dan hanya menyisakan satu tanduknya saja, itupun sudah retak dan hampir hancur.

"E-enkidu..." Panggil 'Gilgamesh' dengan pelan, nafasnya masih terengah-engah, Enkidu yang dipanggil pun menggeser kepalanya kesamping agar bisa melihat 'Gilgamesh' yang memanggilnya.

"Y-ya? Gilgamesh? A-ada apa?" Tanya Enkidu terbata-bata, ia berusaha untuk bangkit, tapi tenaganya sudah tak ada lagi. 'Gilgamesh' yang mendengar pertanyaan dari Enkidu, menjawab dengan suaranya yang masih pelan.

"Kita mengalahkannya... Akhirnya banteng itu mati... Enkidu..." Ucap 'Gilgamesh' dengan nada senang walaupun kata-kata terpotong-potong. Enkidu yang melihat temannya senang, juga menyunggingkan senyumannya.

"Ya... Gilgamesh... Aku tahu, tapi... Apa yang akan kau lakukan pada sisa-sisa dari Gugalanna?" Tanya Enkidu sambil melihat kearah sisa-sisa tubuh dari Gugalanna. 'Gilgamesh' mengikuti arah yang dilihat oleh Enkidu, matanya langsung melihat sebuah kepala banteng raksasa tanpa tubuh yang seluruhnya terbuat dari emas murni. 'Gilgamesh' terdiam sejenak, ia memikirkan akan ia apakan sisa makhluk tersebut.

"... Kurasa... Aku akan menyimpannya di tempat penyimpanan harta milikku... Aku akan menciptakannya kembali... Mungkin, memilikinya akan berguna untukku suatu hari nanti..." Ucap 'Gilgamesh' santai.

Sringg!

Sringg!

Sringg!

Sringg!

Tak lama setelah 'Gilgamesh' menyelesaikan ucapannya, muncul empat gerbang emas berukuran besar dari udara kosong, masing-masing dari gerbang tersebut keluar puluhan rantai emas yang mengikat sisa-sisa dari Gugalanna dan menariknya untuk masuk ke gerbang-gerbang emas tersebut.

Setelah yakin seluruh bagian dari kepala Gugalanna sudah masuk, ia bangkit dari tempat berbaringnya, tubuhnya bergetar ketika rasa sakit menyebar ke seluruh tubuhnya.

"K-kuh! S-sakit sekali... Sial, walaupun darah dewaku sudah berusaha untuk menyembuhkan diriku, tapi tetap saja rasa sakitnya masih ada..." Geram sang raja pada dirinya sendiri, matanya lalu melihat Enkidu yang masih terbaring di atas tanah tandus, tak memperdulikan keadaan sekitar, bahkan 'Gilgamesh' samar-samar dapat mendengar sebuah dengkuran halus yang berasal dari teman baiknya itu.

"ZzzzZ...Zzzz...Zzzz..."

...

...

...

'Dia... Malah tidur...' Batin sang raja dengan wajah datar, ia menghela nafas lelah, ia melihat kearah Ea tergeletak, dengan perintah batinnya, Ea perlahan-lahan mulai menghilang dan berubah menjadi butiran emas.

...

"... Mungkin... Lebih baik aku tidur saja... " Ucap 'Gilgamesh' pelan sambil mendekati sang sahabatnya yang sedang tertidur pulas, ia pun membaringkan tubuhnya kembali di samping tubuh Enkidu.

Tak lama kemudian, terdengar dua buah dengkuran dari dua orang yang sedang tertidur lelap di atas tanah kering, tak memperdulikan sama sekali jika tanah tersebut kasar dan berpasir.

"ZzZzzZzzZ..."

Timeskip

Sang Raja yang kehilangan harta kesayangannya...

"Enkidu! Apa yang terjadi pada dirimu, wahai temanku? Dan mengapa hal ini terjadi padamu?" Tanya sang raja panik, sambil merengkuh tubuh lemah temannya di pangkuannya.

"Wahai temanku... Gilgamesh, ini... U-urkkh!... A-adalah kehendak para dewa, dan kau tahu bahwasanya, aku diciptakan dari kehendak dewa tak bisa menolaknya." Balas Enkidu sambil menahan rasa sakit yang menggerogoti tubuhnya selama selama 12 hari, kini tampak tubuhnya yang sedikit demi sedikit mulai berubah menjadi tanah dan lumpur.

"T-tidak, aku tak akan pernah mengizinkan mu meninggalkanku sendirian. Tak akan pernah! Jadi bertahanlah Enkidu! Aku akan menemukan sebuah cara untuk menyembuhkanmu." Sang raja berkata lantang dengan air mata yang perlahan-lahan mulai mengalir di kedua pipinya.

"Sungguh... Diriku juga ingin terus bersamamu, wahai temanku. Tapi... A-arrgh... M-maafkan aku. T-tapi kali ini... S-sepertinya aku tak bisa memenuhi permintaan dari mu." Ucap pelan Enkidu yang setengah tubuhnya yang kini sudah berubah menjadi tanah dan lumpur.

"Maafkan aku, Gilgamesh. M-maaf..." Dengan itu, satu-satunya temannya di dunia menghembuskan nafas terakhirnya.

"Tidakkk! Enkidu! Kenapa?! Kenapa?! Kenapa bukan diriku saja yang menerima hukuman ini?! Kenapa?!" Teriak Sang Raja kepada langit yang tadinya cerah kini berubah menjadi mendung, sambil memeluk sebuah gumpalan tanah liat dingin yang sebelumnya adalah tubuh sahabatnya, sang raja pun membuat sebuah sumpah yang akan ia penuhi suatu hari nanti.

"Enkidu! Dengarkanlah sumpahku ini! Aku bersumpah aku akan membawa mu kembali hidup, apapun caranya! Dan kalian! Para dewa! Dengarkan sumpahku! Suatu hari nanti akan kuhancurkan kalian semua berserta kerajaan langit kalian itu! Dengarkan itu!"

Bllaarrr!

Langit pun bergemuruh, seakan-akan setuju dengan pernyataan yang baru saja ia lontarkan tadi. Dan rintik demi rintik hujan pun mulai turun, membasahi tubuh sang raja yang masih terduduk sambil memeluk gumpalan tanah yang kini mulai terhapuskan oleh air hujan.

Timeskip(again, again, and~ again...)

Pencarian yang sia-sia...

"Akhirnya aku menemukan semua bahan-bahan ramuan keabadian, dengan ini aku dapat membalaskan kematian Enkidu, dan membangkitkannya lagi." Tampak seorang pemuda yang sedang berada di hutan, menggenggam sebuah tanaman yang entah apa jenisnya.

"Tapi... U~uh... Hari ini panas sekali tak seperti biasanya, lebih baik aku mencari dan melihat-lihat apa ada sungai di sekitar sini, aku ingin mendinginkan tubuhku dengan berendam." Katanya pada dirinya sendiri.

Setelah berjalan lumayan lama, akhirnya ia menemukan sebuah sungai yang airnya tampak sangat jernih. "Akhirnya... Ada juga sungai disini, sekarang lebih baik aku segera berendam saja. Tapi... Dimana harus ku letakkan bahan-bahan ini?" Tanyanya sambil melihat bungkusan kecil seukuran tiga jari yang berada di genggamannya.

"Hmm... Lebih baik ku letakkan saja disini, lagi pula tidak ada seorangpun yang akan mencurinya disini." Tanpa pikir panjang, pemuda itupun langsung menanggalkan pakaiannya satu demi satu, setelah selesai menanggalkan pakaiannya, ia langsung menceburkan dirinya kesungai.

"Puah~! Ahh... Segarnya!" Teriaknya girang.

Tapi ia tidak melihat jika ada seekor ular yang tidak jauh dari posisinya yang sedang berendam, ular itu merayap kearah bungkusan tadi, dan seperti yang diketahui. Semua makhluk hidup tahu apa yang namanya 'Lapar', jadi tanpa berfikir benda apa itu, ular itu langsung melahap bungkusan itu bulat-bulat dengan sekali lahap.

Ketika melihat bungkusan ramuan keabadian miliknya, dimakan oleh mahkluk melata itu. Pemuda langsung keluar dari sungai dan mencoba mengejar ular tersebut, tapi usahanya gagal ketika ular itu hilang di balik semak-semak yang lebat.

Melihat hal itu, sang pemuda bukannya marah, sedih, atau kecewa, ia malah mentertawakan hal itu, lebih tepatnya mentertawakan kecerobohannya.

"Hahahahaha... Ya ampun... Aku ceroboh sekali. Khe-hehehehe...Jika sudah begini lebih baik aku kembali ke kerajaan ku saja." Pemuda itu lalu memakai kembali seluruh pakaiannya, lalu meninggalkan tempat itu seakan-akan tak ada yang terjadi di sana, selama perjalanannya, ia terus mentertawakan keteledorannya.

Timeskip

Sang Raja yang... Selalu sial.

"Akhirnya! Aku mendapatkan mu*Sephiroth Grall. Dengan ini aku bisa memenuhi sumpahku!" Ucapan lantang itu berasal dari seorang pemuda yang memakai sebuah zirah emas, yang mengeluarkan aura suci. Digenggamnya terdapat sebuah pial-, gela-, apapun itu, benda itu terbuat dari emas murni dengan dihiasi oleh batu intan dan permata dari segala macam jenis, dengan bentuknya yang menyerupai piala atau pun gelas. Tangkai benda itu berada di antara jari tengah dan jari manisnya.

"Sekarang, aku hanya harus membuat sebuah permohonan." Entah karena terlalu senang atau terlalu fokus pada apa yang ingin ia mohon, pemuda itu tidak melihat ada sebuah siluet hitam yang bergerak cepat ke kiri dan ke kanan.

"Sephiroth Graal! Aku memintamu untuk mengembalikan tem-"

Jlebb!

"Uhukk?!" Ucapannya terpotong ketika sebuah pedang panjang dan tajam menembus tubuhnya.

'S-siapa?' Tanyanya dalam hati.

"Maaf, Raja para pahlawan, tapi sepertinya kau harus gugur disini. Dan kurasa benda yang kucari-cari kini berada di genggaman tangan mu." Ucap sebuah suara di belakangnya.

'A-assasin?! B-bagaimana bisa!? Aku tak merasakan siapapun dibelakangku tadi. Jika memang ada*Sha Nagba Imuruseharusnya sudah memperingatkan ku dari tadi.' Batin sang Raja sambil menahan sakit yang diterimanya, tapi bagaimana pun ia mencoba untuk menutup luka yang dialaminya, usahanya selalu gagal karena luka tersebut tak ingin menutup.

'P-pedang terkutuk!?' Batin sang raja itu terkejut.

"Hmm... Sepertinya kau masih bisa bertahan ya? Baiklah sepertinya aku harus mengakhiri 'pertemuan' kita ini." Sang raja merasakan bahwa pedang yang menusuknya dicabut dengan paksa dari tubuhnya. Dengan mata yang mulai memburam, sang raja berusaha melihat wajah penyerangnya, dan hasil yang ia dapatkan adalah gambaran buram seorang pemuda yang jauh lebih muda darinya, memakai topeng dan pelindung tangan serta kaki, membawa sebuah pedang hitam panjang nan tajam yang amat sangat dikenalnya, sebuah katana.

'I-inikah akhir hidupku? Ha...hahaha menyedihkan sekali, bahkan aku belum sempat memenuhi sumpahku dahulu.' Batinnya miris. Melihat sekali lagi orang yang menyerangnya, yang sudah bersiap-siap untuk menghabisinya.

'Mungkin ini lebih baik, a-ah... E-enkidu... Maaf, sepertinya aku tak bisa memenuhi sumpahku padamu.' Dengan itu, sang raja menerima nasib yang diberikan kepadanya.

Splatth~

Dan dengan suara itu, kepala sang raja lepas dari tubuhnya.

.

.

.

Ini Void

Di suatu tempat antah berantah yang hanya memiliki warna hitam sejauh mata memandang, terdapat sebuah sosok transparan yang melayang-layang, dan terombang-ambing, tampak bahwa sosok itu adalah sebuah tubuh yang terlihat masih hidup jika dilihat dari pergerakan dari dadanya yang terus naik-turun.

"U-urrghh... K-kepalaku..." Sosok itu akhirnya sadar, setelah membuka matanya, ia harus bingung karena di sekelilingnya hanya ada warna hitam.

"I-ini... Perasaan familiar apa ini?" Gumamnya. Mengingat kembali perasaan apa yang sangat mirip dengan keadaanya saat ini.

'I-ini kan... Perasaan waktu itu! T-tapi... Kenapa tak ada rasa hangat yang kurasakan waktu itu... Berarti aku tidak jadi Bayi lagi! Horeeee!' Bibirnya pun langsung tersenyum lebar. Melihat sekelilingnya sekali lagi, membuat dirinya harus menghentikan perasaan senangnya.

'Tapi ini dimana!? Bagaimana bisa aku ada disini?! Bukankah seharusnya aku berada diThrones of Heroessaat aku mati? Lalu ini dimanaaa!?' Teriaknya dalam batin. Karena merasa panik, ia tidak menyadari ada sesuatu bersinar terang di belakangnya.

"H-huh? Apa itu?" Melihat keasal cahaya, ia mendapati sebuah lubang yang berukuran lebih besar dari tubuhnya, bergerak mendekat kearahnya. Merasakan ada sesuatu yang tidak beres, ia mencoba menggerakkan tubuhnya untuk minggir dari jalur lubang yang ingin menyedot dirinya, tapi entah kenapa ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya, seperti ada sesuatu yang menahannya agar untuk tetap diam ditempatnya.

Membelalakkan matanya, sosok tersebut mulai mengutuk saat lubang tersebut tinggal berjarak kurang dari satu meter di belakangnya.

"F, B*. Sh, T-tolong!" Ucap/Teriaknya pada tempat hampa itu saat tubuhnya mulai tersedot kedalam lubang 'asing' itu, saat setengah tubuhnya masuk kedalam lubang tersebut, ia mendengar sayup-sayup suara seseorang yang seperti sedang melafalkan sebuah mantra.

"Wahai pahlawan perang, dengarkanlah panggilanku, aku membutuhkan kehadiranmu disini. Wahai pahlawan perang, dengarkanlah permintaanku, datang dan bantulah kami disini. Hai, engkau sang pahlawan."

Kira-kira seperti itulah, suara yang didengarnya, sebelum cahaya terang yang menelannya membutakan pengelihatannya.

Sriiinngg~!

Sebuah cahaya yang amat terang, menyinari tempat kosong itu untuk sementara, setelah itu tempat itu kembali gelap, sunyi dan dingin kembali, bagaikan tak pernah ada yang terjadi padanya.

Meanwhile

At Heaven

7 menit yang lalu...

Di sebuah kuil yang terbuat dari bebatuan berwarna putih, terdapat tiga figure yang berada kuil tersebut, dua figure yang dapat diketahui sebagai seorang wanita muda dan seorang pria muda yang sama-sama melihat sebuah sosok yang hanya berwarna putih mengeluarkan aura suci disekelilingnya. Di kepala mereka terdapat sebuah lingkaran berwarna putih yang melayang-layang. Sedangkan sosok yang mereka lihat, sedang berlutut didepan lingkaran yang terdiri dari garis-garis dan simbol-simbol kecil yang membentuk sebuah lingkaran besar, sosok tersebut menggumamkan sesuatu yang sangat sulit untuk didengar karena sangat pelannya cara pengucapannya.

"Umm... Ayah... Kurasa ayah gagal memanggilnya." Sebuah suara merdu yang berasal dari seorang wanita berambut pirang panjang, bermata biru dan berwajah amat sangat cantik. Disampingnya ada seorang pria muda yang hampir mirip dengannya, hanya saja lebih tinggi. Hanya menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan dari wanita disampingnya.

"Ha~ah... Aku tahu Gabriel, aku tahu. Sepertinya roh para pahlawan tak ada yang meresponnya." Seorang sosok putih yang dipanggilnya 'Ayah' oleh wanita tadi menjawab. "Atau kurasa, mereka menolaknya. Entahlah aku tak tahu."

"Hmm... Ayah lebih baik kita berhenti hari ini, bukankah kita bisa mencobanya esok hari?" Kini Pria muda itu mulai berbicara, mengutarakan maksudnya dengan halus kepada 'Ayah'-nya.

"... Baiklah, kalau begitu kalian boleh kembali keruangan kalian." Ucap sosok bercahaya itu dengan aura bijaknya yang menguar dari tubuhnya.

"Lalu, bagaimana dengan mu, Ayah?" Wanita pirang tadi mengangkat suaranya kembali.

"Tak apa-apa, aku akan disini sebentar untuk mencoba mantra pemanggilan sekali lagi. Michael, antar adikmu pulang." Perintahnya pada pria muda di hadapannya yang kini bernama Michael.

"Baik Ayah, Gabriel... Mari, kita pergi."

"U-umm baik..." Michael dan Gabriel, pergi dari tempat itu. Meninggalkan 'Ayah' mereka sendirian di kuil itu.

"Ha~ah... Sepertinya aku harus mencobanya sekali lagi." Ucap sosok putih itu. Saat hendak membalikkan badannya, sebuah sinar terang menyapa matanya.

Sriingg~

Saat sinar itu padam, ada sebuah tubuh dari seorang manusia tergeletak di tengah lingkaran tadi, dan tidak sadarkan diri.

"Ah... Ternyata berkerja." Ucap sosok putih tadi facepalm.

Beberapa menit kemudian...

"A-akkhh... K-kepalaku." Orang yang tak sadarkan diri tadi mulai bangkit dan memegangi kepalanya, "Kepala ku tambah berdenyut karena sinar aneh tadi... Ugghhh." Tambahnya lagi.

"Halo... Jika aku boleh tahu... Siapa dirimu?" Merasa dirinya dipanggil, Pemuda itu langsung berusaha mencari asal suara itu. Saat melihat kebelakang, ia melihat sebuah sosok putih yang memiliki bentuk.

'H-hantu?' tanyanya dalam hati, wah... Ternyata walaupun sudah terlahir di dunia lain, ketakutannya dengan hantu tak pernah hilang.

"Ah... Hahahaha maaf, tapi aku bukan seperti yang kau pikirkan." Sosok putih itu kembali berkata, seakan tahu jalan pikirannya.

'Pembaca pikiran?' Tentu saja dirinya bingung, walaupun di dunianya dahulu banyak lawan-lawannya yang dapat membaca pikirannya. Dan ia sangat yakin kalau sekarang ini bukan dunia asalnya lagi.

"Err... Bisa dibilang seperti itu... Tapi, bisakah kau menjawab pertanyaan ku tadi?" Tanya sosok putih itu lagi, sambil berjalan mendekatinya. Semakin dekat maka semakin ia bisa merasakan kalau mahkluk didepannya ini bukan makhluk biasa, mengingat kembali apa yang di tanyakan oleh sosok didepannya ini. Pemuda itu langsung menunjuk dirinya, menanyakan apakah dirinya yang ditanya.

"Benar... Aku bertanya padamu, jadi... Bisakah kau menjawabnya?"

Menganggukkan kepalanya sedikit, pemuda tadi lalu memperkenalkan dirinya. "Perkenalkan, Aku Gilgamesh, Raja para pahlawan serta Raja Ke lima Dinasti Uruk, Babilonia. Tapi kau juga bisa memanggilku Naruto. Salam kenal." 'dan ya... Aku masih menyukai nama lamaku, terima kasih banyak.' Pikirnya hati-hati agar sosok di hadapannya ini tidak membaca pikirannya tanpa seizinnya.

"Gilgamesh? Raja para pahlawan? Raja Uruk? Kerajaan Babilonia?... Aku tahu dua julukan terakhir... tapi maaf sepertinya aku tak pernah mendengar dua julukan pertama yang kau sebutkan itu..." Ucap Sosok itu sedikit bingung, penasaran tentang pahlawan yang dipanggilnya.

'Benar kan... Aku berada di dunia lain... K-kenapa... Kenapa hidupku tak bisa normal untuk sekali saja...' Batin Naruto miris, ketika mengingat kembali kehidupannya yang penuh masalah dan hal-hal aneh.

"Lalu... Siapa kau? Jika kalau aku boleh bertanya." Tanya Naruto pada sosok didepannya.

"Ah? Aku? Kau bisa memanggilkuKami-samaatau Tuhan dunia ini. Salam kenal." Ucap 'Kami-sama' kepadanya.

"..." Naruto tampak diam dengan wajahnya yang tetap datar, tapi didalam hatinya ia berteriak-teriak tidak jelas.

'K-kami-sama? Kami-sama?!' Teriaknya membahana di dalam hatinya

Chapter 2

End

Author note :

... Kali ini tidak banyak yang ingin saya jelaskan, tapi yang pasti patahan-patahan cerita di atas tadi adalah penjelasan tentang kehidupan sementara Naruto sebagai raja Babilonia.

Kedua, bagaimana dia ke dunia Dxd?... Hmmm... Sepertinya cerita di atas sudah menjelaskannya bukan?

Sephiroth Grall, atau yang lebih di kenal dengan Holy Grail. Kalau yang menonton semua series Fatepasti tahu apa itu.

Sekali lagi saya katakan, untuk chapter-chapter awal itu bukan milik saya, kalian dapat menyadarinya dari gaya penulisan yang berbeda.

Sha Nagba Imuru, salah satu Noble Phantasams milik Gilgamesh, bertipe selalu aktif. Dengan fungsinya untuk mengetahui segala kelebihan serta kekurangan, bahkan masa lalu dari lawannya hanya denganSatukali melihatnya. Yah... Ini Noble Phantasams Ketiga Overpower milik Gilgamesh yang saya tahu setelah Ea dan Enkidu.