The King Of Heroes
Disclaimer :
Naruto : Masashi Kishimoto
Fate/Stay Night : Kinoko Nasu
High School Dxd : Ichiei Ishibumi
Rate : -?-
Pair : -?-
Genre : Action, Fantasi, Supranatural,?
Warning : Typo, HumanNaru!, OOC, Author Newbie, Isekai, and Etc.
Start Story
Tanpa disadari oleh siapa pun, Naruto sedari tadi telah duduk di atas pohon sembari mendengarkan percakapan para iblis dan dua pengusir setan di sana yang terlihat semakin memanas semenjak seorang pemuda pirang itu datang. Karena suatu alasan, tampaknya si pemuda memiliki dendam kesumat pada Excalibur yang dibawa oleh 2 pengusir setan itu.
Kepalanya serasa berdenyut karena informasi dari si pemuda masuk ke kepalanya. Ia sekarang tahu siapa dia, Yuuto Kiba, satu-satunya subjek eksperimen yang selamat dari penelitian untuk menggunakan pedang suci. Setiap harinya, mereka dipaksa untuk menjalani eksperimen tak manusiawi agar bisa memegang Excalibur yang mana itu sangat mustahil, sehingga satu-persatu anak-anak itu mati.
"Dasar dungu, tidak semua orang bisa memegang harta yang sangat mulia ini. Dan sekarang kalian berencana agar siapa pun dapat memegangnya? Sepertinya kalian benar-benar ingin dihancurkan, sampai membuat rendah nilai Excalibur," ujar Naruto
Satu-satunya yang membuat Kiba DKK tetap ingin bertahan adalah doktrin tentang apa yang mereka lakukan ini demi kebaikan manusia. Namun, sayangnya ketika pihak gereja sudah mulai mengendus penelitian ilegal ini, semua subjek eksperimen langsung 'dibuang' tanpa sisa agar menutupi jejak tapi sepertinya hanya ada satu yang selamat dan berubah menjadi iblis.
Tapi yang membuatnya lebih jijik adalah, Valper, yang menjadi dalang dari penelitian ini hanya diasingkan dari gereja sebagai hukumannya. Bahkan, setelah mengatakan kalau eksperimen yang dilakukannya ada sesuatu yang tak termaafkan, pihak gereja malah memakai hasilnya untuk menciptakan 7 pemegang Excalibur. Ia sedikit merasa kasihan pada Kiba, tapi dia tak peduli pada masa lalu dan masalah pemuda itu ... Yang seperti itu bukan urusannya.
Ia hanya jijik sekaligus marah pada Valper yang melakukan penelitian tak manusiawi pada anak-anak dan gereja yang menurutnya tidak memiliki ketegasan dalam menghukumi. Dua pihak inilah yang menurutnya mengambil peran dalam membuat Excalibur menjadi ternoda.
Naruto mendongakkan kepalanya ke atas dan memandang langit, "Sejauh apa moral kalian telah jatuh, para malaikat? Sampai-sampai mengabaikan perbuatan tercela untuk membuat kekuatan Heaven tetap bertahan," ujarnya entah pada siapa.
"Master, kenapa kita masih diam saja di sini? Sebaiknya kita ambil kembali Excalibur sekarang juga," ujar Mordred sembari mematahkan jari-jarinya. Tampaknya dia sudah tak sabar untuk menghajar mereka.
Namun, Naruto dengan tenangnya mengangkat satu tangannya sebagai isyarat dan mengatakan, "Tenanglah, aku merasa harus mendengar omongan mereka."
Berbeda dengan Mordred, Okita sedari tadi hanya diam sembari memejamkan matanya karena alasan tertentu, sedangkan Nobunaga lebih memilih untuk tidur-tiduran di atas batang pohon karena merasa bosan menunggu perintah dari masternya. Bahkan, seragam sekolahnya sudah berganti menjadi pakaian militer.
"Hmm, sepertinya akan dimulai," ujar Nobunaga mengintip dari topinya tatkala melihat kedua pihak itu telah mengeluarkan senjatanya masing-masing.
Naruto sedikit tertarik ketika melihat Kiba telah mengeluarkan berbagai macam pedang dari dalam tanah. Namun, ia juga merasa kecewa karena semua pedang itu sangat rapuh. Pedang-pedang itu hanya senjata yang tercipta dari imajinasinya saja, "Rasanya tiruan buatan EMIYA masih jauh lebih baik dari pada itu," ujarnya.
Kini perhatiannya beralih pada Hyoudou Issei, pemuda berambut cokelat yang sekelas dengan dirinya. Dia telah lebih dulu memulai pertarungan dengan gadis berambut Twin Tail. Ya, harus dia akui itu ... SANGAT MENGECEWAKAN! Yang benar saja! Di saat pertarungan pun dia sangat mesum bahkan sampai menciptakan teknik yang menjijikkan seperti Dress Break. Ok, dia akui kalau Jiraiya itu sangat mesum. Namun, semesum apa pun orang tua itu dia tetap serius pada pertarungan, tapi orang ini malah ... Ah sudahlah.
Sementara itu di sisi yang lain, Kiba menatap penuh benci pada pecahan Excalibur yang dipegang oleh gadis berambut biru itu. Bertahun-tahun ia berlatih, bertahun-tahun pula ia menunggu datangnya hari ini, hari di mana dia akan membalaskan dendam pada benda yang menyebabkan kematian teman-teman.
Tanpa menunggu lagi, Kiba mencabut dua pedang di tanah dan langsung melesat ke arah gadis Exorcist itu. Si gadis langsung mengangkat pedangnya tinggi-tinggi Ke langit lalu menghantamnya ke bumi, Kiba sontak mundur ke belakang ketika instingnya mengatakan kalau dia akan mati jika terus maju. Benar saja, sebuah kawah berdiameter cukup lebar telah tercipta di bawah gadis ini. Jelas sekali kalau itu adalah hasil dari ayunan pedang tadi.
"Cih, hanya satu saja sudah sudah sekuat ini. Sepertinya menghancurkan 7 pecahan itu akan sangat sulit," decih Kiba. Namun, hal itu tak membuat amarahnya padam, malahan semakin berkobar. Dengan kecepatannya, ia kembali melesat ke arah gadis itu dengan dua pedangnya.
Trank!
Trank!
Trank!
Kilatan api muncul dari jual beli serangan antara keduanya, tapi jelas sekali terlihat kalau si pengusir setan itu sangat unggul dengan pedang suci yang ia miliki, belum lagi kekuatan penghancur yang memaksa Kiba kembali terpental dengan pedangnya yang hancur. Dia memang memiliki kelincahan yang tinggi, tapi sayangnya karena amarah yang begitu besar membuat kemampuan berpikirnya menjadi berkurang.
"Oh, ada apa ini? Beberapa saat yang lalu kau membual akan menghancurkan Excalibur," si pengusir setan memprovokasi Kiba.
Kiba yang dikuasai oleh amarah kembali membuat sebuah pedang, kali ini dengan ukuran yang sangat besar. Yah, sebuah kesalahan yang besar mengingat keadaannya saat ini. Jelas sekali kalau pedang besar itu hanya akan membuat kecepatannya berkurang. Namun, tiba-tiba sebelum Kiba kembali maju, sebuah siluet cahaya emas bergerak cepat ke arahnya, dan yang ia sadari selanjutnya adalah pedangnya telah hancur beserta luka goresan di pipinya. Sontak hal itu membuat para iblis dan Exorcist di sana menghentikan urusan mereka dan fokus pada arah datangnya serangan barusan.
"Siapa di sana!? Keluarlah!" seru Exorcist berambut biru dengan Excalibur yang diacungkan. Ia bisa merasakan perasaan yang tidak mengenakkan di tubuhnya.
Clang!
Clang!
Clang!
Secara ajaib, di sekitar mereka muncul beberapa portal beriak emas yang mengeluarkan rantai yang dalam sekejap langsung melilit Kiba dan Si Exorcist, "Arrgh!" mungkin bagi Exorcist yang notabenenya adalah seorang manusia bukanlah sesuatu yang terlalu masalah, tapi lain hal lagi dengan Kiba yang merupakan seekor iblis. Tampaknya rantai-rantai itu memiliki energi suci, buktinya saja kaki dan tangannya yang saat ini dililit mulai terbakar walaupun tak membahayakan jiwanya. Namun, rasanya sangat menyiksa.
Issei yang melihat rekannya dalam bahaya segera saja berniat mengabaikan musuhnya, dan langsung berlari ke Kiba. Namun, dalam kedipan berikutnya ia baru sadar tubuhnya sudah berada di bawah tanah dengan beberapa tulangnya yang sepertinya remuk. Rasanya seperti mimpi ketika lehernya serasa dicengkeram oleh tangan yang sangat kuat lalu dibanting, "(Cough) ... (Cough) ... (Cough) ... A-apa?" ia dapat melihat dengan jelas siapa yang baru saja membantingnya. Kalau tak salah, gadis pirang ini yang tadi datang ke kelasnya.
Ia segera menoleh ke gadis Exorcist yang menjadi lawannya sekaligus teman masa kecilnya, Shidou Irina yang juga sekarang tak bisa bergerak karena seseorang telah berdiri di belakangnya dan mengalungkan sebilah pedang di leher gadis itu. Tampaknya, orang itu tak akan segan untuk menggorok leher Irina kapan saja. Ia kembali melihat pada pelaku pembantingannya, mencoba untuk bangkit dan melawan. Namun, Mordred telah lebih dulu mengangkat kakinya tinggi-tinggi ... Dan langsung dihantamkan dengan segenap tenaga menuju kepala Issei.
Duakh!
Duakh!
Duakh!
Jelas tendangannya sangat kuat. Hanya beberapa tendangan saja, kepala Issei hampir sepenuhnya terbenam di dalam tanah dan suara retakan tulang yang patah jelas menggambarkan seperti apa rasa dari tendangannya itu, "Kau baik-baik saja, muka cabul? Mukamu benar-benar mengingatkanku pada beberapa orang di Geng saat datang ke bar," ujar Mordred yang sedikit sarkas. Bahkan, dia tertawa dan mengingat wajah Gawain, Lancelot, dan Tristan saat mengatakan itu.
Rias Gremory, sang bangsawan iblis yang melihat Peerage nya diperlakukan seperti itu langsung membuatnya marah dan berniat bergerak maju bersama sisa Peerage nya yang masih bisa bertarung, Toujou Koneko dan Queen-nya. Namun, niatannya itu harus diurungkan tatkala ia merasakan sesuatu menyentuh kepalanya diiringi dengan niat membunuh yang intens, "Yo ...(Crunch) ... Maju selangkah kau akan benaran mati, Lo," ujar suara seorang gadis di belakangnya.
Ia dan 3 Peerage sedang ditodong menggunakan sebuah senapan antik oleh orang tidak dia kenal. Itu jelas Nobunaga yang melakukan itu, tangan kirinya terus mengarahkan senapan di kepala Rias, satu tangannya lagi sibuk digunakan untuk makan sebuah paha ayam, sedangkan sisa senapan yang menodong Asia, Akeno dan Koneko itu melayang dengan sendirinya.
Rias dengan ekor matanya dapat melihat bagaimana wajah orang itu, begitu pula dengan Asia yang tampak terkejut kalau 3 gadis yang tadi datang ke kelasnya adalah pelaku dari penyerangan ini, "T-tunggu! Bukankah kau adalah temannya Gil-San?" tanya Asia. Tampaknya ia sedikit ketakutan.
"Aku tak tahu siapa kau dan bagaimana kau mengenal Peerage ku, tapi menodongkan senjata pada seorang bangsawan iblis yang menguasai kota ini, itu artinya kau akan berada dalam masalah," ujar Rias berusaha mengancam. Ia tak bisa mengambil tindakan gegabah yang bisa membahayakan Peerage nya yang lain. Dia berharap kalau gadis ini akan gentar dan mundur, mengingat dirinya yang merupakan seorang yang cukup dekat dengan Maou. Namun, apa yang harapkan tampaknya tidak terwujud, malahan Nobunaga membuat seringai keji di wajahnya.
Sriing!
Sebuah senapan kembali muncul dari ketiadaan dan mengarahkan moncongnya ke bawah dan ... Dor! Sontak tembakan itu membuat Rias jatuh berlutut, "Rias!" seru Akeno yang khawatir pada keselamatan rajanya itu.
Namun, sesaat kemudian tak merasakan ada yang terjadi padanya, tak ada luka maupun rasa sakit, tapi di sebelah lututnya ada lubang bekas tembakan. Ya, dia tak jatuh karena terkena tembakan tapi hanya refleks mendengar suara dari senjata api yang ia pikir akan menembak kakinya, "Uahahaha, baru mendengar bunyi tembakan saja sudah seperti itu. Ada apa? Bukankah tadi kau membual tentang menguasai kota di negaraku?" Rias menggeram karena diperlakukan seperti ini, rasanya dia dipermainkan oleh seorang manusia. Koneko dan Akeno pun hanya bisa mendecih karena tak berdaya sekarang.
"Sudah cukup!" suara baru menginterupsi mereka. Dari balik pepohonan, muncul seorang pirang yang bagi beberapa orang di sana sangat asing, kecuali Asia dan Issei yang sekarang tepar. Matanya yang merah seperti Ruby seakan memberikan intimidasi dari seorang predator pada mangsanya. Jelas sekali kalau ini Naruto.
"Gil-San!!" kali ini, Asia tak bisa lebih terkejut lagi ketika melihat orang yang baru masuk di kelasnya tiba-tiba saja ada di sini. Apa-apaan ini?
"Oh, Asia rupanya," responsnya seakan tak peduli. Ia lebih fokus pada Excalibur yang dipegang oleh si pengusir setan di sebelahnya. Dengan jentikkan jarinya, rantai-rantai yang melilit Kiba melepaskan belitannya dan kembali masuk ke dalam portal emas itu. Kiba ingin bergerak tapi rasanya tubuhnya tak bisa mengikuti perintah otak, bahkan rasanya staminanya juga habis. Sepertinya rantai itu juga menyedot banyak energinya.
"Siapa kau sebenarnya!?" tanya si pengusir setan. Ia meraung dan marah pada Naruto. Namun, apa yang dia dapat selanjutnya adalah tarikan kuat yang memaksa wajahnya untuk mencium tanah. Kaki Naruto diletakkan di atas kepalanya. Walaupun dia tak menekan kakinya, tapi hal seperti ini saja sudah cukup untuk membuat seseorang merasa terhina.
"Xenovia!" seru Irina yang khawatir pada rekannya itu.
"Siapa yang mengizinkanmu untuk melihat mataku? Ya, tapi sudahlah. Kali ini aku akan memaafkan anjing kampung sepertimu," ujar Naruto sembari memutar-mutar tumit sepatunya di atas Kepala Xenovia yang hanya bisa menggeram saja karena keadaan.
Naruto mengangkat satu tangannya. Sesaat kemudian, dua pecahan Excalibur itu dengan sendirinya melayang dan datang padanya. Ia melihat pada kedua Excalibur itu cukup lama, sebelum akhirnya langsung menyimpan ke dalam Gate of Babylon, "Kalian semua, kita kembali!" perintah Naruto.
Okita langsung merespon dengan memukul tengkuk Irina yang menjadi sanderanya, sehingga membuat gadis itu pingsan seketika, lalu berjalan dengan santainya ke belaka Masternya. Begitu juga dengan Nobunaga yang menghilangkan seluruh senapannya dan meninggalkan keempat gadis begitu saja. Ia sama sekali tak takut Rias akan menyerangnya dari belakang.
Namun, berbeda dengan Mordred. Ia tak langsung kembali seperti perintah Masternya, tapi malah mengangkat kakinya lagi, hanya saja kali ini kami yang akan dia gunakan untuk menginjak wajah Issei telah diselimuti oleh petir berwarna merah beserta Armor yang yang hanya menutupi kakinya.
Duakh!
Saking kuatnya tendangan itu, di bawah tubuh Issei langsung tercipta sebuah kawah yang cukup lebar. Pemuda berambut coklat itu tak bisa apa-apa. Beberapa giginya patah dan wajahnya sangat bonyok. Sepertinya dengan kekuatan naga pun penyembuhannya masih lambay. Mordred kembali pada Naruto dengan perasaan dan senyum karena dua alasan. Yang pertama, Masternya sudah mengambil Excalibur yang tak layak berada di orang-orang ini. Dan kedua, yah, sudah lama dia tak menghajar orang yang memiliki wajah brengsek.
Rias yang marah karena dirinya dan para budaknya diperlakukan seperti ini berniat untuk membalas perlakuan mereka dengan menembakkan Power of Destrucion miliknya setelah melihat kalau Naruto dan 3 gadis itu lengah, walaupun sebenarnya mereka sama sekali tidak. Namun, sebelum dia sempat melakukan itu tubuhnya tiba-tiba saja dikurung dalam sebuah peti es yang hanya menyisakan kepalanya saja.
"Kalau kau berniat melukai Master, aku tak akan mengampunimu," ujar seorang gadis dengan suara lembut yang terkesan dingin.
Naruto tentu saja dapat mengetahui siapa yang melakukan itu. Yah, jelas sekali kalau dia adalah salah satu Caster yang ia panggil hari ini, tapi alasan kenapa Anastasia bisa ada di sini ia tak habis pikir, apalagi dengan pakaian seperti itu. Bahkan sembari membawa Jack dalam gendongannya, "Hai Papa, Jack dan Mama dari tadi mencarimu, loh," ujar Jack. Naruto hanya mengangkat satu alisnya. Ia penasaran, sejak kapan putri kecilnya itu memanggil wanita lain dengan sebutan 'Mama'? Seingatnya tak pernah. Bahkan, beberapa wanita di rumah seperti Nero, Semiramis, Arthoria, dan bahkan anehnya Schatach yang secara sembunyi-sembunyi membujuknya untuk memanggil seperti itu saja tak pernah berhasil.
"Aku tak mengharapkan kau akan datang kemari, Anastasia. Ada apa?" ujar Naruto membuat si gadis berambut putih itu hanya bisa menundukkan wajahnya, sepertinya ia berpikir kalau Masternya marah pada dirinya. Melihat hal ini, Jack segera turun dari gendongan 'Mamanya' dan memeluk kaki Naruto dengan wajah memelas.
"Papa, Kumohon jangan marah pada Mama. Jack hanya ingin bertemu dengan papa saja," ujar gadis kecil itu. Ok, ia penasaran ikatan seperti apa yang terjalin antara Jack dan Anastasia saat dirinya pergi ke sekolah pagi ini. Tak hanya memanggilnya Mama, tapi juga sudah berbohong untuk membelanya.
Naruto berlutut untuk menyesuaikan tingginya dengan Jack kecil. Ia tersenyum sembari mencubit lembut hidung mungilnya, "Jack, sejak kapan kamu mulai berbohong?" ujar Naruto sembari mengangkat gadis kecil itu dalam gendongannya dan pergi dari sana, "Sebagai hukuman, aku akan memotong jatah permenmu untuk sehari,"
"Tunggu, Papa! Itu sangat tidak adli. Kumohon~" protes Jack. Ia sengaja membuat wajah memelas agar membuat papanya tersentuh hatinya.
"Tidak. Lagian kau sudah terlalu banyak memakannya belakangan ini," jawab Naruto membuat gadis kecil itu menjadi cemberut. Namun, Naruto kembali tersenyum, "Sebagai gantinya, aku akan membelikan es krim sepulang nanti," sontak hal itu membuat Jack kembali bersemangat.
"Yaeah!"
Naruto langsung berbalik dan berjalan pergi dari sana tanpa mempedulikan keadaan orang-orang di sana yang sebagian sudah tumbang dan pingsan. Namun, baru beberapa langkah dia berjalan, sebuah Sambaran petir dengan intensitas tinggi ditembakkan ke arahnya. Tapi, walaupun mengetahui serangan ini diarahkan kepada dirinya, ia sama sekali tak bergeming dari sana.
"Jangan pikir kau bisa pergi semudah itu!"
Beberapa portal emas terbuka di belakangnya dan mengeluarkan beberapa perisai yang menangkis petir itu, sehingga tak melukai mereka. Naruto berbalik dan menyeringai pada Akeno yang menjadi dalang serangan barusan, "Petir dengan energi suci, kah? Ah, rasanya aku pernah bertemu orang yang memiliki kemampuan seperti ini," ujarnya membuat Akeno terkejut. Yah, walau itu memang benar dia merasakan ini saat Great War dulu. Naruto sengaja membuat wajahnya seolah-olah sedang berusaha mengingat, "Oh ya, Malaikat jatuh itu. Jadi kau adalah anaknya atau semacamnya?" sontak, perkataan Naruto membuat ekspresi Akeno berubah menjadi penuh amarah. Sepertinya dia marah karena dikatakan anak dari ayahnya.
Akeno mengangkat tangannya berniat menembakkan petirnya lagi. Namun, sebelum itu terjadi Okita telah menggunakan teknik Shukuchi miliknya untuk memangkas jarak antara dirinya dan Akeno. Si Queen yang terkejut dengan pergerakan Okita pun tak bisa melakukan apa-apa saat perutnya dihantam dengan gagang pedang, sehingga membuatnya jatuh ke tanah.
Koneko yang berniat menolong senior dengan melancarkan sebuah pukulan pun tak bisa berbuat apa karena Okita telah lebih dulu melumpuhkannya dengan pedangan, "Tuanku, jika anda memerintahkan, saya akan menghabisi mereka sekarang juga," ujar Okita dengan dinginnya. Tampak jelas kalau dia serius mengatakan hal itu. Ia juga tak perlu khawatir, karena Asia yang di sana hanya bisa gemetaran.
"Tidak perlu, kita kembali sekarang," jawab Naruto. Okita hanya mematuhi perintahnya dan kembali menyarungkan pedangnya kembali.
"Kau tak hanya menyerang bangsawan iblis, tapi juga utusan gereja. Apa kau pikir akan lolos dengan mudah setelah ini?" ujar Rias dengan senyuman licik di wajahnya. Namun, Naruto hanya membalasnya dengan tawa yang lebar seolah ancaman itu hanyalah bualan semata. Toh, dirinya sendiri tak takut untuk berurusan dengan pihak Mekai apalagi Heaven.
"Silahkan saja jika ingin mencoba, Gremory," ujar Naruto sembari pergi dari sana bersama semua Servant nya. Namun, sebelum itu dia menyuruh Anastasia untuk membebaskan putri Gremory itu dari penjara peti es yang mengurungnya, "Jika kau tak mengobati mereka, mungkin saja orang-orang ini akan mati," ujarnya membuat Asia tersadar dan segera menggunakan kemampuannya untuk menyembuhkan rekan-rekannya dan para utusan Gereja itu.
Sampai Naruto benar-benar pergi dari sana, Rias terus menatapnya dengan penuh amarah. Dia memiliki niat untuk melaporkan hal ini pada kakaknya. Namun, sebuah senyuman licik kembali muncul di wajahnya ketika melihat kemampuan Naruto barusan. Sepertinya dia memiliki rencana lain untuknya nanti. Yah, mau dikata apa dia tetaplah seorang iblis berdarah murni, dan sudah menjadi sifat iblis untuk memiliki pemikiran-pemikiran licik.
Home
Hari sekarang ini telah senja, dan kini Naruto tengah bersantai memandangi surya yang perlahan tenggelam sembari menikmati segelas anggurnya. Kejadian hari ini benar-benar membuat emosinya tersulut. Ia sudah cukup berbaik hati untuk tidak membunuh mereka, "Master," panggil seorang di sebelahnya dengan suara lembut.
"Arthoria?"
Rupanya Arthoria telah berdiri di sampingnya dengan menggunakan pakaian kasual. Tanpa disuruh, ia langsung duduk di kursi yang berhadapan dengan Naruto, "Aku sudah mendengar semuanya dari Mordred," ujarnya membuat Naruto menghela nafasnya. Tak apa, sih, lagian dia berencana untuk mengumpulkan semuanya karena hal ini.
"Lalu, bagaimana menurutmu? Karena kejadian tadi, kita akan berkemungkinan memiliki konflik dengan kubu Underworld dan Heaven," tanya Naruto. Jangan salah paham, ini bukan berarti dia takut pada mereka atau semacamnya, hanya saja sebagai seorang raja dan pemimpin keluarga ini ia harus mendiskusikannya bersama dengan yang lain.
Mendengar pertanyaan Masternya, Arthoria hanya bisa menyunggingkan seulas senyum geli, "Untuk apa kau bertanya? Bukankah kami selalu bersamamu? Silahkan saja jika mereka ingin menjadikan kita musuh," jawab Arthoria dengan mantap. Sesaat kemudian, ekspresinya berubah menjadi serius, "Lalu, bagaimana denganmu? Kau akan dianggap sebagai pencuri oleh mereka, loh,"
Arthoria tahu kalau para Exorcist itu datang untuk mencari pecahan lain yang dicuri oleh Mahluk supranatural, dan Masternya tiba-tiba datang untuk merebut pedang itu dari mereka sehingga tak ayal jika para Exorcist itu menganggapnya sebagai dalang.
Naruto menyeringai dan menjawab, "Mengambil sesuatu yang dari awal bukan milik mereka itu tidak disebut mencuri. Sebagai raja, aku berhak mengambil sesuatu yang menjadi milikku," Arthoria hanya menghela nafasnya. Terkadang ia bingung dengan raja yang satu ini, dirinya bertanya-tanya dengan jalan pikir seperti itu bagaimana Naruto berhasil membuat bangsanya menjadi peradaban termaju di masanya.
"Kalau begitu aku akan meminta salah satu Kesatriaku. Tidak! Aku sendiri yang akan mencari dan mengambil sisa pecahan yang ada di kota ini," ucap Arthoria. Namun, Naruto langsung mengangkat telapak tangannya sebagai suatu isyarat yang menandakan ketidak setujuannya.
Naruto kemudian menghabiskan sisa anggur di gelasnya dan bangkit berdiri untuk masuk ke dalam rumah, "Dengar, Seorang raja tidak perlu bersusah payah mengambil apa yang menjadi miliknya tapi rakyatlah yang harus membawanya sebagai persembahan pada rajanya," ujarnya seringai licik. Ia tahu, cepat atau lambat orang yang mencuri Excalibur itu akan datang padanya. Ada alasan tersendiri mengapa dia tidak membunuh para Exorcist itu.
Naruto terus berjalan di lorong rumahnya bersama dengan Arthoria di sampingnya, sampai akhirnya kedua raja itu memasuki sebuah ruangan yang mana di dalam situ sebagian Servantnya telah berkumpul seperti Nero, Schatach, EMIYA, Kagetora, Medea, serta Musashi yang saling membantu untuk menghidangkan makanan di meja. Cukup aneh melihat EMIYA di sana karena hanya dia seorang yang laki-laki di sana.
"Oh kerja bagus untuk kalian semua," puji Naruto membuat mereka tersenyum. Ia duduk di kursi miliknya diikuti oleh yang lain, tak ada satu pun yang menyentuh makanan di depan mereka, sepertinya sudah menjadi tradisi agar menunggu yang lain untuk makan bersama.
"Ngomong-ngomong, apa kalian sudah menemukan sesuatu untuk dilakukan saat ini?" tanya Naruto pada Servant barunya yang hadir di sana.
Medea mengangkat tangannya dan menjawab, "Mungkin untuk sementara ini aku akan ikut klub menjahit di kota," sepertinya saat menemani Da Vinci tadi ia menemukan sesuatu yang menarik minatnya. Sedangkan Musashi yang berada di sebelahnya hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Sepertinya aku belum menemukan apa pun," jawabnya. Naruto hanya mengangguk maklum karena wajar saja ini belum 24 jam sejak mereka terpanggil. Tatapannya kemudian beralih ke EMIYA yang sedang sibuk membaca korannya.
Merasa diperhatikan, EMIYA segera menyimpan koran dan menoleh, "Faker, aku punya tugas untukmu besok. Detailnya akan aku katakan nanti, jadi kuharap kau mampu," ujarnya dengan senyum meremehkan sehingga membuat mantan Guardian itu menghela nafasnya tapi tidak punya pilihan lain selain menerima. Toh, ia juga bosan mengurus pekerjaan rumah terus.
Sesaat kemudian, pintu ruangan itu terbuka menunjukkan para Servantnya yang masuk secara beramai dan duduk di kursi pilihan masing-masing. Naruto memperhatikan wajah semua, ada wajah yang sejak 30 tahun lalu telah menemaninya, dan ada banyak pula wajah baru yang mulai malam ini akan membuat makan malam mereka meriah. 30 orang itu bukanlah jumlah yang sedikit, apalagi keseluruhan itu ada para pahlawan yang telah mencatatkan nama mereka dalam sejarah umat manusia.
Naruto berdiri sembari mengangkat segelas Wine, membuat semua memperhatikannya, "Mungkin agak telat mengatakan hal ini. Namun, selamat datang di keluarga," ujarnya membuat beberapa orang tersenyum, bahkan ada juga yang menyeringai seperti Nobunaga dan Mordred. EMIYA pun walau tak terlihat tapi secara samar sudut bibirnya naik sekarang ini, "Beberapa dari kita pernah berpartisipasi dalam perang cawan dan tahu betapa buruknya itu, tapi sekarang aku ingin kalian melupakan kenangan yang tak bagus itu dan sekali lagi menjalani kehidupan dengan santai kali ini. Lakukanlah apa yang kalian inginkan ... Apa pun itu," Mordred langsung berdiri dengan semangat.
"Oh yeah, tanpa kau suruh pun akan kami laksanakan!" ujarnya sembari meneguk bir di tangannya yang langsung habis, Sehingga membuat Arthoria menghela nafasnya dan yang lain tertawa. Sesaat kemudian, ekspresi puas tercetak di wajahnya, rasanya ia belum pernah minum yang sebagus ini. Sebenarnya beberapa orang di Kesatria meja bundar ingin mengikuti cara Mordred minum, hanya saja Arthoria sudah lebih dulu menatap mereka.
Beberapa Servant regional Jepang yang secara kebetulan duduk dalam satu barisan memutuskan untuk saling berbagi dan menuangkan Sake, bahkan Nobunaga dan Kagetora yang dulunya memiliki permusuhan sekalipun juga ikut. Hanya saja, Kagetora agak terganggu dengan cangkir Daimyo Owari yang terbuat dari tengkorak manusia.
"Untuk Shinsengumi, Hijikata-Dono," ujar Okita mengangkat cangkirnya
"Ya, untuk Shinsengumi," kedua anggota Shinsengumi itu saling bersulang untuk mengingat perjuangan dan rekan-rekan mereka dulu, sekaligus ingin menikmati kehidupan yang kedua ini.
Di sebelah kedua anggota Shinsengumi, Miyamoto Musashi dan rivalnya, Sasaki Kojiro sedang asyik membicarakan masa lalu. Musashi hanya bisa tertawa saat Kojiro yang sudah mulai mabuk terus mengoceh soal catatan sejarah tentang dirinya yang begitu membuatnya seperti pecundang, padahal catatan itu baru ditulis 150 tahun setelah duel mereka.
"Sudahlah, Kojiro, aku juga tahu bagaimana rasanya," agar adil, Musashi juga mengalami hal yang sama buruknya dengan penemu teknik Tsubame Gaeshi itu. Bayangkan, Dari seorang wanita cantik dia lebih dikenal sebagai pria berjenggot. Bukankah itu itu diskriminasi gender? Ia tak tahu bagaimana dengan Musashi dunia ini, tapi rasanya ini benar-benar buruk.
Di seberang meja yang lain, beberapa wanita terus memperhatikan Jack yang berada di pangkuan Anastasia. Terutama Nero, pasalnya gadis itu sudah sangat lama berusaha membuat si pembunuh kecil memanggilnya dengan sebutan Mama, tapi sayangnya seorang pendatang baru malah merebut apa yang dia perjuangkan selama ini, apalagi 'pencuri' itu duduk di sebelah Master tercintanya bersama Jack layaknya sebuah pasangan orang tua dan anak.
Hal yang sama juga dirasakan oleh Arthoria, Schatach, serta Semiramis, karena mereka juga sudah lama bersaing dalam hal ini. Sekarang, para wanita ini hanya bisa gigit jari karena merasa dilampaui satu langkah. Jelas, ada alasan mengapa mereka bersusah payah merebut hati Jack untuk lebih dekat dengan mereka, tentunya itu ada hubungannya dengan Naruto. Tanpa diketahui oleh para wanita yang bersangkutan, beberapa pria telah sejak lama menjadikan ini sebagai bahan taruhan mereka.
"Wow, Lihat itu, sepertinya penantang baru cukup menjanjikan," ujar Chu yang sibuk minum birnya, "Mungkin aku harus beralih taruhan ke ke gadis ini,"
Lancelot mendengus di sebelahnya dengan ekspresi yakin di wajahnya dan mengatakan, "Sebagai seorang Kesatria, aku akan tetap yakin pada rajaku. Taruhanku tak akan berubah," mungkin jika kegiatan pertaruhan ini terbongkar ke para wanita itu, sudah pasti mereka akan mendapati masalah. Namun, tak bisa dipungkiri beberapa kaum pria di sana termasuk Astolfo dan Iskandar juga ikut menantikan hasil dari perang dingin yang berlangsung lama ini.
Naruto memperhatikan semua keributan yang ada di ruangan ini dengan senyumnya. Walau berisik, tapi suasana seperti inilah yang dia sukai. Namun, sayangnya ego diri sebagai seorang raja terkadang membuatnya tak menunjukkan semua itu di depan keluarganya. Tapi entah dirinya sadar atau tidak, mereka semua tahu tentang sifat 'Tsundere' orang yang menjadi Master itu, hanya saja memutuskan untuk pura-pura tidak tahu.
Bersambung.
Preview:
Kiba terkejut ketika dua buah Blades terbang melewati dirinya dan langsung mengarah ke arah Freed. Namun, serangan seperti itu saja dapat ditangkis dengan mudah oleh pendeta gila itu.
Tapi, ia lebih terkejut dengan seseorang yang muncul di belakangnya. Orang asing berambut putih dan kulit gelap, serta berzirah hitam. Pria itu tampaknya sangat bosan melihat apa yang ada di depannya.
"Cerita yang cukup menyedihkan. Hanya saja, sayang sekali kau membuang kemanusiaanmu agar bisa balas dendam," pria itu maju beberapa langkah sebelum akhirnya berdiri di depan Kiba. Di tangannya, tiba-tiba muncul kilatan petir dengan intensitas tinggi. Kiba pun dapat merasakan seberapa kuat pancaran energi yanng dikeluarkan orang ini, "Sekarang, akan aku tunjukkan kekuatan dan potensi seperti apa yang telah kau buang untuk balas dendammu!"
"I am the bone of my sword..."
Author Note:
Oke semuanya, rencana awal saya berniat untuk membuat ini lebih panjang, hanya saja saya kehabisan ide. Yah karena dari pada tidak up sama sekali, lebih baik saya update dulu apa yang ada.
Saya ingatkan sekali lagi, wujud Naruto di sini adalah Gilgamesh. Untuk sifat sendiri mungkin campur antara Caster dan Archer. Jika bersama keluarganya ia akan menonjolkan sisi sifat Caster nya. Khusus Jack, dia akan sangat lembut dan penyayang. Sedangkan di depan musuh, Naruto adalah Archer yang sangat kejam.
Yah setelah ini saya akan fokus dulu pada The Admiral.
