Normal POV
Gaara Sabaku mendongak, menatap semesta yang mulai menggelap.
Orochimaru-sensei terlihat serius dalam berbicara, menjelaskan perbedaan organ yang dimiliki oleh hewan reptil dan mamalia. Gaara membenci semua pelajaran, kecuali pengetahuan alam yang memberikan ilmu tentang struktur tanah atau pergerakan cuaca. Dia terlihat bosan, menatap teman-temannya yang sibuk dengan berbagai keadaan.
Iris hijau mengarah ke depan, menatap kepala pirang yang kini menenggelamkan diri ke buku yang terbuka.
Naruto Uzumaki tampak kelelahan. Dia meletakkan kepala di atas meja sambil menoleh ke arah kanan. Lelaki itu terlihat sama, lelah akan segala kehidupan, terutama penjelasan Orochimaru-sensei yang terlalu rumit dan menyebalkan. Dia tampak fokus ke satu titik di arah berlawanan; meja kiri bagian depan, nomor absen sembilan, Ino Yamanaka.
Gaara melebarkan mata, seketika paham sekaligus tidak percaya.
Selama ini, Naruto selalu digosipkan berpacaran dengan gadis dari Keluarga Hyuuga. Aku memang tidak mengerti bagaimana bisa rumor seperti itu muncul ke permukaan, tetapi … maksudku, seandainya … kalau memang semua hanyalah kebohongan, bukankah tatapan yang ia berikan pada Yamanaka—
Gaara merasa jemari miliknya sedikit lemas. Oleh sebab itu, pena yang ia genggam telah jatuh ke bawah dan berguling ke depan. Pelan-pelan, tremor terlihat. Di sana, Naruto sedang tersenyum kala melihat Ino Yamanaka membuat pergerakan.
"Kurasa ini milik Gaara."
Ino terlihat fokus mencatat, disibukkan dengan bagan tubuh mamalia yang harus digambar menggunakan pensil tajam. Namun, ia tiba-tiba dikejutkan oleh pena yang bergerak dan terkena kakinya. Gadis itu menaikkan alis, menoleh ke belakang; tidak paham saat melihat ekspresi Gaara Sabaku—yang selalu cuek dan pendiam—kini terlihat kaget tak tercela.
Ino mengerjapkan kedua mata, tidak terganggu akan reaksi aneh yang Gaara berikan. Dia menggenggam pena, kemudian meletakkan benda itu ke meja Tenten Mitarashi yang duduk di belakangnya. Iris biru bergulir pelan, memberi isyarat pada si cepol dua.
"Ini punya Gaara."
"Oke."
Mereka bersuara, pelan seperti mengendap-endap.
Ino seketika sadar akan satu hal. Dia langsung memandangi mulut Tenten yang samar-samar mengunyah. Mata cokelat seperti elang itu menyipit, tersenyum senang. "Permen karet. Mau?"
Ino tidak menjawab, kembali menghadap depan. Tenten cemberut, tetapi tetap menurut. Dia menoleh ke belakang, melirik Gaara Sabaku yang terpaku. Pena bergulir pelan, berhenti pada buku Gaara yang terbuka.
Setelah itu, Tenten tidak berhenti untuk terus mengunyah. Dia malah melirik Gaara, mengagumi garis wajah yang tegas dan indah untuk dipandang. Dia menatap begitu erat; rambut merah, tato misterius yang membuat penasaran, mata tajam layaknya serigala, paras sempurna seperti seorang raja.
Tenten tersenyum. Gaara tahu, ia mampu membaca pikiran perempuan itu—
"Kau tampan."
Kemudian, Tenten kembali menghadap depan. Orochimaru-sensei tidak sadar akan percakapan bodoh yang terjadi barusan. Gaara memasang wajah datar, terlalu datar sampai semua orang tahu apa yang ia pikirkan.
Gaara tahu bahwa ia tampan. Dia selalu terlihat sempurna di depan wanita. Sasuke Uchiha pun menganggap dirinya sebagai saingan dalam mendapatkan Sakura Haruno, si gadis cantik berambut merah muda. Gaara tidak suka pada Sakura, melainkan Sakura yang terobsesi sampai rela mengikutinya ke mana saja.
Gaara menopang dagu menggunakan telapak tangan, menatap punggung Ino Yamanaka. Kemudian ia melirik Naruto Uzumaki, yang masih memandang tanpa berkedip ke arah gadis pirang.
Jika Sakura Haruno adalah gadis pemberani yang memesona, Hinata Hyuuga adalah gadis pemalu dengan keanggunan tanpa batas, maka Ino Yamanaka adalah definisi dari gadis impian; percaya diri, cerdas, dan memiliki tubuh sempurna. Tidak kecil seperti Sakura. Tidak terlalu besar seperti Hinata Hyuuga.
Gaara mengerutkan alis saat sadar apa yang ia pikirkan.
B-Bukan itu yang ia maksud...
Gaara memutuskan untuk tidak mengacuhkan apa yang Naruto lakukan. Meski ia terlihat begitu bahagia, menatap penuh cinta seperti dunia hanya milik berdua, tersenyum lebar kala memandangi Ino yang fokus membaca—
"…."
Naruto tersenyum saat melihat Ino.
— kalimat yang terdengar janggal, tetapi fakta mengatakan demikian.
Sejak kapan mereka begitu dekat?
Meski memiliki sikap yang berbeda, Naruto cukup mengenal Gaara. Mereka satu asrama, memiliki beberapa jadwal yang sama, selalu makan siang bersama, bahkan sesekali bertemu di toilet secara bersamaan. Naruto tidak pernah dekat dengan gadis mana pun. Dia hanya pernah mengobrol sesekali dengan Sakura.
Gadis sialan itu selalu bertanya-tanya pada Naruto tentang bagaimana cara mengajak Gaara berkencan, tipe wanita yang disukai Gaara, menu makan siang yang menjadi favorit Gaara, apakah Gaara memiliki teman kencan, apa warna celana dalam Gaara, dan—
Gaara bergidik saat memikirkannya.
Itu terdengar mengerikan…
Gaara menghela napas, memutuskan untuk tidak peduli tentang hubungan yang terjadi antara Naruto dan Ino Yamanaka. Lelaki itu mengalihkan diri ke bacaan tentang klasifikasi reptil yang terbagi atas empat bagian. Gaara melirik papan tulis, mencoba untuk paham akan apa yang dibicarakan oleh Orochimaru-sensei tentang ordo squamata.
Namun, semua terpecah kala ia tidak sengaja melihat satu hal.
Ino diam-diam melirik ke meja Naruto berada…
Gaara melebarkan mata, sedikit tidak percaya.
Ino memandangi wajah Naruto yang kini tertidur lelap, tersenyum lembut kepadanya.
.
.
.
LET THERE BE LOVE
Naruto by Masashi Kishimoto
Let There Be Love by stillewolfie
Naruto U. & Ino Y. & Gaara S. & Sakura H.
OOC, alternate universe, typos, multipair, etc.
(warning: overly dramatic, cringe)
.
.
Dedicated for Yamanaka Ino's Birthday (September 23rd) on 2021
.
.
Bel telah berbunyi sekitar dua jam yang lalu.
Setelah makan malam, Gaara memutuskan untuk tidak langsung kembali ke asrama. Dia harus mendiskusikan hal yang diperlukan untuk ujian minggu depan. Kaki itu melangkah begitu cepat, melewati beberapa murid yang pergi menuju Aula Makan. Pemuda itu berbelok ke kanan, menemukan Sasori Akasuna yang membereskan buku-bukunya di loker utama.
"Sendirian?" Sasori menyapa, menutup pintu loker. "Naruto tidak bersamamu?"
"Justru itu yang ingin kutanyakan," Gaara membalas. "Di mana dia?"
Sasori mengendikkan bahu, mengindikasikan tidak tahu. "Aku belum bertemu dengannya sejak pagi. Kau ingin pulang ke asrama?"
Gaara memutuskan untuk tidak bertanya lagi. "Tidak."
"Mau pergi bersama?"
Gaara melirik Sasori, tajam. "Aku ada urusan."
Sasori menyeringai, menatap Gaara terlalu intens. "Aku bisa menemanimu."
"Tidak perlu."
Gaara melangkah cepat, meninggalkan Sasori yang masih tersenyum-senyum tidak jelas. Pemuda itu melirik ke kiri dan ke kanan, mengutuk Naruto Uzumaki yang mendadak hilang. Di lorong bagian barat, Gaara tiba-tiba bertemu dengan Sasuke Uchiha. Dia sedang berkumpul bersama teman-temannya di samping balkon yang menghadap lapangan olahraga.
"Kau melihat Naruto?"
Sasuke menegapkan badan, melepas pegangan pada balkon lantai empat. "Tidak."
Gaara tidak bertanya lebih. Dia beranjak pergi, melewati Kiba yang kebingungan. Sasuke berdecih, memutuskan untuk pergi dari sana. Langkahnya diikuti oleh Suigetsu, Juugo, dan Deidara. Ketika ingin naik ke lantai lima, pundak ditepuk pelan. Gaara menoleh ke belakang, menemukan Kiba Inuzuka yang memasang wajah heran.
"Aku melihatnya," Kiba berujar ringan, bertingkah sok akrab meski terlihat kaku dan menggelikan. "Saat aku ingin menyapa, ia terlihat buru-buru."
"Di mana?"
Kiba tersenyum.
"Naruto pergi ke gedung selatan."
Gaara tertegun seketika.
.
.
let there be love –
.
.
Godaikoku Gakuen memiliki fasilitas dua asrama, laboratorium untuk meneliti pengetahuan manusia, satu ruang musikal, lima gedung utama, tiga gedung olahraga, dan satu pulau khusus untuk merayakan hari natal.
Ino terdiam di tengah lorong yang menjadi salah satu arah untuk menuju asrama. Gadis itu tertegun sambil menatap cahaya bulan, menghitung bintang-bintang. Dia memegang dua buku tebal dengan sampul hitam. Ilmu Pengetahuan Alam dan Filosofi Negara adalah mata pelajaran yang ia pelajari hari itu. Meski bertingkah biasa dan seperti tidak terjadi apa-apa, tapi percayalah, jantungnya kini berdetak-detak hingga siap meledak.
Gadis itu melirik buku-buku yang ia peluk dengan kedua tangan. Di antara dua buku tersebut, ada surat yang menyempil berwarna ungu. Diam-diam, ia merasa ragu. Setelah beberapa saat, ia kembali tersipu. Gadis itu melirik ke segala arah, meyakini diri bahwa ia memang sendirian di sana.
Ino membuka penutup surat, membaca isinya.
Hai, Ino Yamanaka.
Gadis yang selalu kukagumi bagaimana pun dirimu. Cukup hanya kau tahu, bahwa aku sangat mencintaimu.
Hanya dua kalimat. Dua kalimat ini saja.
Ino menutup kedua mata, menahan rasa panas yang menjalar ke seluruh wajah.
"Aku akan membuat puluhan surat kalau hal ini bisa membuatmu sebahagia itu."
Naruto Uzumaki telah berada di sampingnya, tanpa bersuara. Ino melebarkan mata, menegapkan badan. Gadis itu sedikit menjauh, tetapi ia ditarik mendekat. Naruto memeluk Ino, meresapi aroma mawar yang begitu menggoda. Ino tidak siap saat dipeluk erat, tangan melemas sampai dua buku miliknya terjatuh dan menciptakan debukan.
Lorong selatan terlihat begitu hening. Di antara mereka, hanya cahaya bulan yang menemani.
Ino menutup mata, menikmati kehangatan yang menjalar. Gadis itu tampak lebih diam, mencoba untuk tidak merusak momen ini dengan amarah sesaat. Naruto meletakkan kepala pada leher Ino yang jenjang, menghirup dengan penuh cinta.
"Kau terlambat."
Naruto mengangguk, mengelus rambut Ino. "Maafkan aku."
"Ada apa?"
"Jiraiya-sensei memintaku untuk mengurus sesuatu," Naruto berujar, memeluk tubuh Ino semakin erat. "—tentang apa yang akan terjadi setelah kelulusan kita."
"…kau tetap ingin menjadi prajurit?"
Naruto terdiam. Namun, ia menganggukkan kepala.
Ino menarik napas dalam-dalam. Kembali, ia mencoba untuk paham.
"Aku akan mendukung segala keputusanmu," Ino bersuara, memelan. "Tapi dengan menjadi prajurit … aku akan semakin jauh darimu—"
"Kau tidak pernah jauh dariku," Naruto langsung berujar, tidak ingin mendengar hal bodoh semacam itu.
Pelukan mereka terlepas. Naruto menatap wajah Ino, terlihat serius dan sangat dekat. Ino terpana, tidak sanggup menahan rona. Napas mereka berbenturan, hampir berciuman.
"Ino tidak akan ke mana-mana. Ino ada di sini—" Ino terlonjak saat telapak tangannya diarahkan ke dada Naruto. Ia dapat merasakan kencangnya jantung yang berdetak, terasa hebat dan membakar.
"A-Aku mengerti…"
Naruto tersenyum lebar, sangat lebar. Dia mengecup pipi Ino berkali-kali. Yang dicium hanya bisa pasrah, melenguh pelan. Mereka berpelukan begitu lama.
Naruto terlalu sibuk melakukan segala hal yang membuat Ino mengerang dan terlalu malu untuk membuka mata. Dia mencium puncak kepalanya, turun ke jidat, lalu ke kelopak mata, kedua pipinya, sampai mengarah ke bibir merah yang mengundang.
Itu bukan ciuman, melainkan kecupan; tidak ada nafsu, melainkan rindu. Bibir Ino adalah candu, maka Naruto berusaha tenggelam dalam perasaan itu. Dua minggu telah berlalu, bersikap sebagai kenalan tentu membuat mereka terjerat dalam pilu.
Naruto memberi satu ciuman panjang pada kening. Ino menutup kedua mata, menghayati.
"Selamat ulang tahun…"
Lagi, Ino hanya mampu tersenyum.
"Aku ingin cepat-cepat mengenalkanmu pada Ayah."
Ino mendongak, terkejut sejenak. "Benarkah?"
"Iya," Naruto tersenyum lebar. "Minggu lalu, aku mengunjungi Ayah dan bertaruh. Kalau tahun depan aku lulus dan resmi menjadi prajurit, aku bisa melakukan apa pun yang aku mau. Termasuk menikahimu."
Ino membulatkan mata, tidak menyangka. Pelukan mereka terlepas. Gadis itu menatap punggung Naruto yang perlahan menjauh, mendekati balkon dan menatap bulan.
"Aku tidak mengerti mengapa Ayah ingin sekali bergabung dengan Keluarga Hyuuga. Maksudku, aku mengerti mereka adalah keluarga terpandang. Tapi bagaimana bisa aku menikahi wanita yang tidak kukenal?"
Malam tampak semakin gelap. Pepohonan yang melindungi gedung pun bergerak kencang. Kelompok burung gagak terlihat bertengger di salah satu batang. Mereka menatap sejoli itu dengan rasa penasaran. Ino tidak membalas, terdiam dengan pandangan tak terbaca.
Keluarga Namikaze juga dikenal sebagai keluarga terpandang. Minato Namikaze adalah sosok yang berjasa di perang besar sepuluh tahun silam. Pria itu termasuk sosok yang berpengaruh dalam menyatukan Lima Negara Besar. Oleh sebab itu, Kementerian Negara memberikan predikat sempurna dan menyatakan sumpah; Keluarga Namikaze akan selalu diberi berkat sampai ke keturunannya.
Namun, Naruto tidak bangga akan semua itu. Ketika usia telah menginjak dua belas tahun, ia memutuskan untuk pergi dari bayang-bayang Namikaze dan mengikuti prinsip keluarga sang ibu, Uzumaki. Sampai saat ini, masih menjadi misteri mengapa Naruto tidak pernah menggunakan nama Namikaze atau mendeklarasikan bahwa ia adalah putra tunggal dari Minato Namikaze. Ino pun tidak berani untuk bertanya. Ia menganggap bahwa hal itu terlalu tabu apabila diketahui oleh banyak orang.
"Hinata … adalah gadis yang baik," Setelah beberapa saat, Ino mulai berbicara. Gadis itu mencoba untuk menghadapi Naruto dengan kepala dingin. "Kami bertemu saat pengenalan dewan siswa. Dia punya sikap yang ramah, lemah lembut. Kurasa, Ayahmu hanya ingin memberi yang terbaik—"
"Dia hanya memikirkan dirinya sendiri," Naruto langsung berucap, membalikkan badan. Ino terkesiap saat tubuhnya kembali ditarik, dipeluk secara protektif. "Aku tidak menginginkan siapa pun selain Ino. Bagiku, hanya Ino yang terbaik."
Ino lagi-lagi dibuat diam, ia hanya bisa menepuk-nepuk punggung Naruto yang lebar. Gadis itu tampak memikirkan banyak hal, termasuk masa depan yang buram karena satu masalah. Iris biru itu meredup, termenung tanpa sebab. Naruto yang memeluk pun lantas tahu, bahwa Ino terlihat memikirkan segala sesuatu.
"Naruto, aku—"
"Apa pun yang kau pikirkan, aku tidak setuju."
Ino semakin menenggelamkan diri ke dalam pelukan. "…maaf."
Naruto tersenyum lembut. "Kalau sampai kau meninggalkanku, aku akan mati."
Dalam pelukan, ada keterkejutan. Namun Ino tahu, hal semacam ini hanyalah candaan.
"Kau berlebihan."
Naruto terkekeh. "Aku serius."
Naruto melepaskan pelukan mereka. Iris biru miliknya berkilat seiring di tengah cahaya bulan. Ino mengerjap, menatap kagum pada warna lautan yang begitu luas. Mereka bertatapan dengan penuh damba, saling mengagumi keindahan. Terkadang, iri itu ada. Ino merasa iri dengan para bangsawan yang bisa menemukan cinta dengan mudah. Meski Naruto sudah menolak keras, ia tetap termasuk golongan mereka.
Ino memang cantik dan cerdas, tetapi hal itu tidak berguna jika ia tidak dilahirkan sebagai sosok putri dari keluarga kaya dan terpandang.
Ino perlahan menyentuh pipi sang kekasih, mengelusnya penuh cinta kasih. Naruto memberikan cengir, menikmati telapak lembut yang selalu terlihat cantik.
"Kau tahu tanggal berapa sekarang? Tanggal 23 September, hari di mana seorang putri paling cantik telah lahir di dunia. Kini ia ada di sini, bersamaku, bersama lelaki tampan yang bersumpah untuk bersamanya, melindunginya, dan membuatnya bahagia sampai selama-lamanya."
Ino segera tersenyum lebar, pipi merona hebat. "Jika aku boleh berpendapat, kau tidak tampan seperti Sasuke-kun dan Gaara."
Seketika, Naruto memucat. Dia mengerutkan alis, tidak terima. "Dari segi mana pun, aku lebih baik dari mereka."
"Mereka lebih cerdas dari pada kau, ingat?"
"Tapi kalau soal bertempur, aku jauh lebih hebat."
"Kau hanya mengandalkan ototmu. Kalau begitu terus, kau tidak akan bertahan di medan perang."
"Setidaknya aku bisa menggunakan senjata! Sasuke terlalu pengecut untuk menembak seseorang!"
"Sasuke-kun bukanlah pengecut. Dia hanya memikirkan risiko ke depan, apakah menembak seseorang bisa menjadi solusi atau tidak."
Naruto mengerang, ia terlalu malas untuk berdebat di hari yang indah. Dia memilih untuk mengalah, menyembunyikan wajah ke ceruk leher milik kekasihnya. "Kau membelanya—"
"Aku tidak membelanya," Ino menyela. "Aku hanya berharap kau berhenti meremehkan hal yang akan terjadi. Persaingan semakin ketat. Sekolah kita selalu menghasilkan prajurit terbaik jika dibandingkan dengan negara lain. Kalau ingin lulus, kau harus membuat taktik baru untuk melawan mereka semua."
"…."
"Kau ingin membuktikannya pada Ayah, 'kan?"
Naruto mengeratkan pelukan.
"Kau ingat apa yang tadi kau katakan?"
Naruto masih diam, tidak menyela.
"Menikah … apa itu hanya kebohongan?"
Naruto langsung tersentak, seperti tersengat listrik secara tiba-tiba. Dia langsung menegapkan badan, menusuk mata Ino dengan keseriusan. "Tidak!"
Lagi, Ino terpana. Gadis itu bisa melihat bahwa semua bukanlah kebohongan. Dia perlahan kembali tersenyum, mengangguk. "Kalau begitu, ayo berusaha."
Naruto ikut mengangguk. "Aku akan berusaha."
"Janji?"
"Janji!"
"Janji tidak membolos lagi?"
"Iya!"
"Janji tidak terlambat?"
"Hm!"
"Janji tidak tidur di dalam kelas?"
Naruto mengerjapkan kedua mata, ingin menjawab tapi tertahan. Namun, ia mengangguk cepat-cepat. "Aku janji!"
Ino menahan tawa, kemudian mengecup pipi Naruto sebagai balasan. "Terima kasih."
Jika Naruto harus bekerja keras agar bisa masuk ke Militer Nasional, maka Ino bertekat akan mengambil posisi sebagai Menteri Kemanusiaan.
Ino akan ikut berusaha. Dia tidak akan menyerah dengan takdir bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa. Saat lulus nanti, ia akan merebut satu kursi di Kementerian Negara. Gadis itu akan membuktikan bahwa non-bangsawan juga bisa dipandang hebat. Minato akan merestui hubungan mereka. Meski kiamat tiba-tiba datang, ia akan tetap membuat mulut pak tua itu diam dan tidak lagi memandang rendah.
Dia tidak akan kalah. Dia tidak akan mengalah. Dia akan melawan Minato Namikaze menggunakan berbagai tindakan. Dia tidak akan membuat Naruto kembali berurusan dengan manusia sinting seperti Ayahnya. Dia tidak akan membiarkan Naruto direbut oleh perempuan lain, termasuk Hinata Hyuuga.
Ino bersumpah.
"Hubungi aku kalau kau butuh bantuan."
Naruto mengangguk. "Ino juga bisa datang padaku. Aku akan membantumu."
Ino terkekeh. "Seharusnya kau yang paling mengkhawatirkan di sini."
Naruto terdiam sesaat, tidak rela saat pelukannya harus terlepas. Ino tersenyum tenang, berusaha untuk bersikap dewasa. Mereka harus bertahan sampai kelulusan tiba. Mereka sudah berjanji untuk tidak mengumbar hubungan. Mereka harus bertingkah seolah-olah tidak saling mengenal. Akan lebih baik jika Minato Namikaze tidak mengetahui hubungan ini sampai waktu yang ditentukan.
— satu tahun, hanya perlu menunggu satu tahun.
"Besok—" Naruto tahu, Ino hendak mengakhiri pertemuan mereka. "Apa yang akan kau lakukan?"
Ino mengerjap. "Hm … aku akan pergi ke Hutan Oto untuk mencari tanaman obat."
"Dengan siapa?"
"Sasuke-kun."
"Huh?"
Ino menarik napas. "Pasangan ditentukan oleh Shizune-sensei. Aku tidak boleh protes."
Ekspresi Naruto seketika suram. Pemuda itu tampak tidak rela. "Kau bisa mencarinya bersamaku…"
"Kau tidak akan mengerti. Jadi untuk apa aku membawamu ke sana?"
"Aku bisa menemanimu, 'kan?"
"Tidak boleh."
"Boleh."
"Tidak."
Naruto cemberut. "Aku kesal dengan semua lelaki yang mendekatimu."
"Aku tidak dekat dengan siapa pun selain kau," Ino berujar. "Kami hanya satu kelompok. Setelah praktikum selesai, tidak ada alasan untuk Sasuke-kun mendekatiku. Semua orang tahu kalau dia menyukai Sakura."
"Tapi semua orang juga tahu kalau Sai suka padamu."
"Aku sudah menolaknya dua bulan yang lalu."
"Gaara terkadang melihatmu diam-diam."
"Kami tidak pernah mengobrol secara langsung."
"Kau juga sangat dekat dengan Shikamaru."
"Dia sahabatku dari kecil. Apa yang kau harapkan?"
"Kau suka membeli makanan untuk Chouji."
Ino mulai terlihat lelah. "Itu karena dia selalu lapar setiap saat…"
"Lalu kenapa kau—"
Set.
Naruto terdiam, menatap jari Ino yang sudah mengunci bibirnya.
"Kau terlalu memikirkan hal yang seharusnya tidak kau pikirkan." Ino berucap, terkesan mutlak.
Naruto terperangah, tidak sanggup berkata-kata. Dia terlalu candu akan menatap warna langit yang ada di mata sang tercinta.
"Aku hanya suka lelaki bodoh berambut pirang, si pemalas yang suka tertidur saat proses pembelajaran. Aku hanya suka lelaki yang mengedepankan semua orang dibanding dirinya. Aku hanya suka lelaki yang rela memberontak demi mengejar impiannya. Aku hanya suka lelaki yang mencintaiku dengan jiwa dan raga. Aku hanya suka lelaki yang ada di sini, bersamaku, yang berjanji akan membuatku bahagia sampai selama-lamanya. Kau mengerti?"
Naruto belum menjawab, masih kaget dengan ucapan panjang yang terlontar. Ino melepaskan sentuhan. Gadis itu menatap wajah bodoh kekasihnya dengan pasrah. "Chiyo-sama akan melakukan patroli. Sebaiknya kau cepat-cepat pergi dari sini."
Naruto seperti sedang dibawa ke awan-awan, mendengar ucapan Ino tentu membuat dirinya melayang. Namun, ia tahu bahwa semua ada batas. Pemuda itu segera tersenyum tenang, mencium kening Ino dengan penuh penghayatan. "Sampai jumpa besok pagi. Aku mencintaimu."
Ino merasa bahwa pipinya kembali memanas. Inilah salah satu hal yang ia suka, Naruto bisa romantis dan menggemaskan di saat bersamaan.
Mereka pelan-pelan berpisah. Naruto masih memegang tangan Ino, tetapi kakinya menjauh. Kemudian, sentuhan mereka terlepas. Ino tetap diam di tengah lorong asrama, Naruto membalikkan badan dan bersiap pergi ke gedung utara. Malam semakin gelap. Bulan semakin bercahaya. Bintang semakin bersinar. Kembali, rutinitas palsu akan keduanya lakukan saat matahari naik ke angkasa.
Naruto sudah tak terlihat di sana. Ino masih tetap diam, tidak melakukan apa-apa. Kemudian, ia mengambil buku-buku miliknya yang sempat terlupakan. Gadis itu menatap surat—hadiah ulang tahun—yang Naruto berikan.
"Aku harap kau juga tahu, kalau aku lebih mencintaimu…"
Ino mencium sisi penutup surat.
Dia yakin bahwa semuanya pasti baik-baik saja.
.
.
.
ended
.
.
.
.
.
omake
.
.
.
Ketika mendengar informasi dari Kiba, Gaara tahu ada satu hal yang mengganjal.
Gaara segera pergi ke arah selatan, tidak peduli dengan murid-murid perempuan yang heran mengapa pemuda itu ada di sana. Mereka menatap Gaara seperti seekor mangsa. Namun, ia memilih untuk diam dan tidak mengacuhkan. Dia mencari ke beberapa lorong utama, tetapi Naruto tidak ditemukan.
Malam perlahan semakin nyata. Gaara semakin menjauh dari keramaian. Kaki membawanya ke sebuah lorong terbuka yang jarang dilalui murid-murid lain. Kemudian, langkahnya terhenti.
Naruto ada di sana, bersama Ino Yamanaka.
Mereka terlihat berbicara banyak hal, berpelukan, dan berciuman. Mereka tidak canggung satu sama lain, melainkan tampak akrab seperti sepasang kekasih. Naruto bergerak lebih agresif, memeluk Ino seperti wanita itu adalah sebuah barang antik. Tanpa berpikir lagi, ia bisa menyimpulkan bahwa keduanya memang memiliki hubungan privasi.
Gaara memutuskan untuk tidak mengganggu lebih lama.
"Apa kita bisa sama seperti mereka, Gaara?"
Sakura Haruno telah ada di sana, ikut mengintip dibalik punggung sang pemuda. Gaara menoleh dengan tatapan datar. "Tidak."
"Padahal Naruto tipe yang tidak peka. Aku tidak menyangka lelaki bodoh sepertinya bisa membuat Ino jatuh cinta."
"Naruto tidak bodoh."
Sakura menyeringai, senang mendapat perhatian. "Lalu?"
"Dia hanya lambat berpikir."
"Bukankah sama saja?"
Gaara tidak menjawab, memutuskan untuk menjauh secepat yang ia bisa. Dia tidak sadar bahwa semenjak bertemu dengan Kiba, Sakura diam-diam mengikutinya dengan rasa penasaran yang luar biasa. Iris hijau bagai dedaunan di musim semi itu berkilat, masih mengejar sang pujaan.
"Gaara mau ke mana?"
"Pulang."
"Aku ikut!"
Gaara berhenti, menoleh cepat. "Tidak. Kembalilah ke asrama. Ini sudah malam."
Sakura malah salah tanggap, menatap Gaara dengan wajah berbinar. "Kau mencemaskanku?"
Gaara sangat berharap bahwa di detik itu, Sakura langsung menjelma menjadi seorang pria. Karena jika demikian, ia bisa memukuli perempuan ini sesuka hatinya. Namun, lagi-lagi ia harus mengalah. "Akan lebih baik kalau kau mengikuti Uchiha."
"Aku tidak suka padanya."
Gaara mengerjap. "Jangan menyukaiku."
"Kenapa?"
"Aku tidak suka padamu."
Mereka telah sampai ke jembatan yang menghubungkan asrama dan gedung utama. Gaara menyeberanginya, diikuti oleh Sakura yang masih penasaran. "Kalau begitu, Gaara suka siapa?"
Gaara terlalu malas untuk menjawab.
"Ino ya?"
Gaara langsung berhenti di tengah jembatan. Sakura tetap berjalan, melewatinya. Kemudian, ia menghadap Gaara dengan senyuman. Mereka berhadapan dengan ekspresi yang berbeda.
"Meski Ino itu pintar, terkadang ia juga bodoh. Bayangkan, Ino bukan bangsawan seperti kita. Aku memang mendengar kalau Naruto melepaskan ikatan dengan keluarganya, tapi apakah bisa semudah itu?" Sakura nyengir. "Menurutmu, apa yang dilakukan Namikaze-sama kalau mendengar putranya berkencan dengan putri dari klan rendahan?"
Gaara menghela napas. "Jangan ikut campur masalah yang bukan masalahmu, Haruno."
Sakura tersenyum lebar, tuli mendadak. "Aku pikir rasanya menyenangkan. Bagaimana kalau kita mengamati hubungan mereka?"
"Itu bukan urusanku."
Saat bersama Gaara, Sakura terlihat lebih bahagia. Gadis itu malah semakin mendekat, mempersempit jarak.
"Tebakanku benar, Gaara menyukai Ino. Di mataku, Ino malah terlihat semakin bodoh. Dia memilih Naruto, si anak buangan, dari pada Gaara Sabaku yang sangat sempurna!" Sakura berkata dengan semangat berapi-api. Namun ekspresi itu langsung berubah, ia pura-pura memelas. "Ne, Gaara … bukankah lebih baik kau menyerah saja?"
Gaara menyipitkan mata. "Aku tidak bilang kalau aku menyukainya."
"Aku menyukaimu selama dua tahun. Kau pikir aku tidak bisa membaca gerak-gerikmu?" Sakura terkekeh pelan. "Gaara memang cuek dan dingin. Tapi bagiku, Gaara hanyalah lelaki yang pintar menyembunyikan diri."
Tidak ada jawaban.
Gaara lebih memilih untuk diam, ekspresi benar-benar tidak terbaca. Sakura tersenyum renyah, membiarkan lelaki itu kembali meninggalkannya. Mereka harus berpisah karena sebentar lagi kegiatan patroli akan dilakukan. Sakura menatap punggung Gaara yang menjauh perlahan. Dia memandang begitu lama, berbinar-binar. Lalu entah bagaimana bisa, ide bodoh tiba-tiba terlintas.
Sakura pun berteriak.
"Gaara, aku siap jadi belahan jiwamu selanjutnya! Aku akan memberimu banyak cintaaaa—!"
Sementara itu, ada empat bintang jatuh yang menghiasi angkasa; siap mengabulkan permintaan setiap manusia.
.
.
let there be love, fin
.
.
A/N: semoga pembaca selalu diberikan kesehatan, di mana pun kalian berada.
saya benar-benar sibuk, banyak jadwal yang harus disusun ulang karena pandemi. tapi untunglah sekarang sudah agak longgar, jadi saya masih bisa menyisihkan waktu untuk menulis meski ala kadarnya.
saya datang dengan membawa hadiah kecil-kecilan untuk tante kesayangan kita, ino yamanaka. saya benar-benar bekerja keras, karena mood menulis saya sangat turun akhir-akhir ini. semoga ino yang membaca ini (emang bisa?) dan semua penggemar ino yamanaka suka ya.
kalau masih ada yang bingung dengan setting di cerita ini, anggap aja seperti Hogwarts (Harry Potter) ya, tapi enggak-hogwarts-banget-kok. di sini hanya menonjolkan kalau sistem sekolahnya ada asrama dan di bayangan saya, sekolah mereka emang kayak hogwarts (ada lorong terbuka, gedung tersendiri, dll) dan profesi mereka dibuat mirip (naruto pengen jadi prajurit (auror) atau ino yang pengen kerja di kementerian). di sini juga diterapkan sistem kasta, meski saya nggak bisa menjelaskannya lebih dalam karena keterbatasan waktu.
akhir kata, selamat ulang tahun untuk karakter kesayangan kita, ino yamanaka.
terima kasih karena sudah membaca, sampai jumpa di karya selanjutnya!
mind to review?
