Disclaimer

Tokyo Revengers © Ken Wakui

Alternate Universe. OOC

Submission for TokRevBucinWeek

Day 3: Teman Masa Kecil


harimau galak

by haruchiwow


Bulan April dua belas tahun lalu, saat masih di bangku taman kanak-kanak, Rindou kecil duduk merengut di sudut ruang kelas dengan kedua tangan mengepal erat. Di luar sana ayah dan ibunya menempati kursi penonton di depan panggung bersama wali murid lainnya, menyaksikan pentas seni yang dibawakan anak-anak mereka dengan tawa dan suka cita.

Awalnya Rindou senang melihat kedua orang tuanya hadir di sana. Senyum terukir di bibir kecil Rindou, sesaat sebelum ia harus melakukan perannya sebagai harimau yang suka memangsa penghuni hutan. Ia memasang tampang garang, melakoni perannya dengan apik, membuat senyum penuh rasa bangga tak pudar dari wajah ayah dan ibunda.

Lalu Rindou kecil tersadar, kakaknya tidak ada di sana. Rasa kecewa melingkupi dada. Begitu pertunjukan selesai, Rindou berlari masuk ke dalam kelas, mendudukkan diri di pojok, menahan kesal lantaran sang kakak mengingkari janji yang dia buat beberapa waktu lalu.

"Tuan Harimau."

Rindou mendongak, melihat lawan mainnya di pentas tadi berdiri di hadapannya sambil memasang senyum lima jari. Matanya hilang membentuk bulan sabit. Rindou yakin kalau ia lari sekarang, pasti orang ini tidak akan tahu.

Tanpa permisi, anak berkostum kelinci itu mendudukkan diri tepat di samping Rindou, membuat yang ditempeli merasa tidak nyaman. Rindou tidak kenal, dan anak ini mengganggunya.

"Nama aku Haruchiyo, tapi suka dipanggil Chiyo. Nama Tuan Harimau siapa?" tanya si kelinci ceria. Ia menyodorkan tangan, berharap disambut baik oleh Rindou yang makin merengut wajahnya.

"Rindou," jawabnya ketus sambil mengalihkan pandangan, menjabat tangan kecil itu sekilas—lebih seperti menampik saking cepatnya.

Sadar lawan bicaranya sedang ngambek, Haruchiyo pun cemberut. Kedua tangannya terangkat mencubit masing-masing pipi Rindou. Yang dicubit matanya lansung membelalak, kaget dengan perlakuan tiba-tiba orang yang baru dikenalnya.

"Rinau, senyum! Jangan cemberut terus, nanti jelek!" ucap Haruchiyo diakhiri senyum.

"Kamu ini apaan, sih!" bentak Rindou kecil. Ia melepas sentuhan tangan Haruchiyo dari pipinya, lalu mendorong sebelah pundak anak itu. "Sana, yang jauh. Jangan dekat-dekat!" serunya marah.

Seorang guru yang sedari tadi memperhatikan mereka dari jendela pun masuk melihat dua anak didiknya ribut. Ia menghampiri tempat di mana Rindou dan Haruchiyo berada, menekuk kaki bertumpu pada lutut untuk menyamakan tingginya dengan dua anak TK yang saling lempar rengutan itu.

"Rindou sama Chiyo kenapa berantem?" tanya sang guru dengan lembut.

Haruchiyo masih merengut, pun Rindou yang menjawab dengan bibir mengerucut. "Dia nyubit aku, Bu!" adu Rindou sambil menunjuk Haruchiyo di muka.

"Kan biar Rinau senyum!"

"Rinau, Rinau. Nama aku Rindou, bukan Rinau!" protes Rindou, tidak terima namanya diubah begitu saja.

"Rinau itu Rindou Harimau, masa gitu aja gak tahu! Huu, dasar harimau galak!" seru Haruchiyo sambil meledek Rindou.

"Udah, udah, jangan ribut," tenang sang guru. Tangannya mengelus masing-masing bahu dua anak yang saling pandang dengan percikan emosi mengudara.

Riuh tepuk tangan terdengar. Mungkin pentas selanjutnya akan mulai. Rindou mengalihkan pandangan, berharap melihat keadaan di luar namun ternyata letak jendela terlalu tinggi, hingga yang ia dapati adalah tembok biru menyapa tepat di sisi kiri.

"Rindou kenapa cemberut dari tadi?"

Teringat alasan yang membuatnya kecewa, Rindou menunduk memainkan jarinya. "Kak Ran gak datang, padahal Kak Ran janji mau lihat Rin jadi harimau," rajuknya sebelum menatap sang guru dengan mata berkaca-kaca.

Mengerti orang yang Rindou maksud adalah kakaknya, sang guru mengelus kepala Rindou yang masih dilapisi kostum kepala harimau.

"Nanti kita foto, ya, biar Kak Ran bisa lihat Rindou jadi harimau," tenang sang guru diakhiri senyum teduh.

Air mata lolos dari kelopak Rindou. "Tapi Kak Ran gak datang …" Bibir kecilnya bergetar. Tangannya langsung mengelap air mata yang turun. Kata Kak Ran, laki-laki tidak boleh cengeng.

Haruchiyo ikut sedih. "Kak Omi juga gak datang, tapi Chiyo gak marah-marah …"

.

.

.

Rindou menggeleng geli menatap foto dua anak laki-laki berkostum harimau dan kelinci yang berdiri bersebelahan dengan hidung merah dan mata sembap. Rindou ingat jelas, setelah mengadu nasib—kakak mereka sama-sama tidak hadir menonton—Rindou kecil dan anak itu menangis di pelukan seorang guru. Mereka berakhir berfoto bersama dengan spanduk besar bertuliskan Pentas Seni TK Bonten sebagai latarnya.

Guru mereka dulu mengatakan foto ini bisa jadi kenang-kenangan, dan sekarang Rindou benar-benar terbawa ke masa lalu tiap kali dirinya memandang potret yang ia taruh di atas meja belajarnya itu. Rindou penasaran, bagaimana kabar si Chiyo-Chiyo itu sekarang.

Sedang asik melamun, sebuah ide melintas di kepala Rindou. Ia meraih ponsel, membuka fitur kamera dan membidik foto kecilnya. Senyum terulas di bibir, jemarinya menari di atas layar datar benda pipih di tangan.

.

.

.

Twitter, do your magic!

Namanya Chiyo, gue gatau lengkapnya apa. Dulu gue marah-marahin dia soalnya dia sokab banget padahal baru aja kenalan, sampe dia manggil gue harimau galak wkwk. Terus kita nangis bareng karena abang kita gak dateng nonton kita pentas sambil melukin satu guru yang sama.

Hai, Chiyo. Kalo lo liat ini, gue cuma mau nanya. Apa kabar?


[fin.]


terima kasih buat yang udah baca. fav/review akan sangat diapresiasi *emotlove*