Disclaimer: Boboiboy Animonsta Studio

.

saya nggak ambil keuntungan apa pun dari menulis fanfiksi ini

.

AU, kid!Blaze, Elemental Siblings


"Berisik!"

Alarm di ponselnya terus berdering. Salahkan dia yang sengaja mengunci ponselnya di dalam

nakas di samping kasur. Mode getar yang juga tidak dimatikan membuat paginya semakin gaduh saja.

Halilintar akhirnya bangun. Mencari kunci yang semalam sengaja ia lempar begitu saja ke bawah ranjang. Ide mengunci ponsel yang telah menyetel alarm ternyata tidak cukup baik. Dia harus bangun karena kesal. Suasana hatinya pun buruk.

Tapi, harus bagaimana lagi?

Tidak ada seorang pun yang bisa diandalkan untuk membangunkannya di pagi hari. Halilintar

harus bisa bangun sendiri, atau Taufan akan membuat keributan di kamarnya.

Sudahlah.

Jam dinding sedikit lagi menunjuk angka 5. Hanya kurang beberapa menit saja sebelum Taufan masuk dan membuat paginya lebih kacau.

.


.

Taufan gemas sendiri setelah Halilintar memanggilnya ke kedai. Dia pikir, kakaknya itu akan menghukumnya segera. Namun, pemuda berwajah serupa dengannya hanya diam menatapnya dengan kedua tangan bersedekap. Mereka hanya berdiri berhadapan. Matanya kemudian menemukan sepiring cabai merah di meja kasir.

"Apa? Kamu mau masakin makanan pedas buat aku? Mau jejalin cabai ke mulut aku? Oke!"

Taufan tidak tahan lagi dengan suasana beku yang Halilintar ciptakan.

"Nggak." Halilintar akhirnya bersuara.

"Terus apa? Mau gulat sama aku? Ayo!" Taufan sungguh-sungguh ingin segera lepas dari tatapan datar Halilintar. Ia frustrasi sendiri. Tapi ini memang salahnya.

"Kamu menantangku?" Sebelah alis Halilintar terangkat.

"A—itu..." Taufan gelagapan mendengar pertanyaan balik—atau ledekan dari kakaknya.

Halilintar maju selangkah. Tetap dengan mata yang menatap datar.

"It—itu..." Taufan mendadak terintimidasi. Ia menutup matanya. "Ayo cepat selesaikan hukuman ini!" serunya cepat.

"Hukuman?" ulang Halilintar dengan nada bertanya. "Kamu menawarkan diri?"

Taufan mengerjap. "Memangnya untuk apa aku dipanggil?"

"Aku mau minta tolong antarkan pesanan." Halilintar berbalik mengambil beberapa lembar memo, lalu menyerahkannya kepada Taufan.

Taufan menganga lebar. Jika bisa, mungkin rahangnya sudah jatuh ke bawah sekarang.

'Kalau cuma mau minta tolong, kenapa harus ada drama diam-diaman segala, sih?!' jerit Taufan dalam hati.

Taufan merebut memo yang pasti berisi alamat pelanggan dari tangan Halilintar kemudian bergegas pergi. Saat melewati meja pelanggan, ia menemukan Blaze sedang terlelap dengan kepala bertumpu pada meja

"Hati-hati Blaze jatuh!" pesannya kepada Halilintar. Karena mungkin Blaze akan kembali menangis kalau Taufan menyentuhnya.


Halilintar bahkan malah melupakan pesanan adiknya sendiri karena _ mengguncang sedikit bahu Blaze.

"Ng?"

Hali mengernyit. Ada yang salah. Blaze tidak akan menyahut selemas itu meski baru bangun tidur. Saat itulah kedua matanya melihat keringat yang sangat banyak di pelipis Blaze. Ia mulai cemas.

"Blaze, ada yang sakit?"

Biasanya memang begitu. Blaze tidak akan diam begitu saja saat menunggu pesanannya dibuatkan. Blaze tidak akan tidur siang secepat ini. Dan Blaze tidak pernah terlihat selemas ini. Hanya ada satu kemungkinan.

"Pelut ...," jawab Blaze dengan suara pecah menahan tangis. Dan saat akhirnya mau mengangkat kepala, Halilintar menemukan wajah adiknya yang pucat pasi.

Benar, 'kan

Pagi tadi pasti Blaze belum sarapan. Tapi sudah memakan cabai bulat-bulat. Dan lagi, ia sendiri yang malah menawarkan es untuk menenangkan adiknya. Lalu, buah dari kelalaian itu Blaze sakit.

Memang kakak tidak berguna.


"Nah, uangnya. Ada lagi yang bisa kubantu?"

Halilintar menerimanya tanpa bicara. Wajahnya terlihat kelelahan. Jadi, Taufan tidak sampai hati meninggalkan kakaknya sendiri di kedai.

Di taman, hanya tinggal dua orang pelanggan yang belum pulang. Meja-meja lain yang telah kosong sudah rapi dan bersih. Sampah-sampah sudah dikumpulkan, pun dengan gelas dan piring-piring kotor. Semua sudah selesai Halilintar urus sendiri. Dan sekarang, Taufan tidak tahu harus melakukan apa.

"Bawa Blaze pulang." Halilintar menunjuk Blaze yang tertidur di atas meja kasir dengan jaket Halilintar sebagai bantalnya. Tumben sekali anak itu tidak bermain bola.

"Kenapa?"

Taufan heran karena biasanya Hali selalu betah berlama-lama dengan Blaze meski hanya harus menungguinya tidur. Kakaknya tidak melihat sedikit pun ke arahnya. Dia terus mengelap meja counter.

"Diare."

"Apa?"

Yang ditakutkannya terjadi. Dan lagi, kedua orangtua mereka sedang tidak ada. Dan mungkin tidak akan kembali dalam waktu dekat. Apa seperti ini rasanya menyesal? "Hali, aku minta maaf—"

"Pulang dan rawat Blaze sampai aku tutup kedai," potong Hali cepat. Kakaknya kini mulai sibuk menghitung penghasilan kedai hari ini. Tampak tidak ingin mendengarkan Taufan sebentar saja.

Taufan ingin membantu, tapi ia tidak tahu apa pun soal kedai. Menyesal lagi karena tidak pernah mencoba belajar hal satu ini. Tiba-tiba, Taufan merasa jadi makhluk tidak berguna.

"Mama sama Papa kapan pulang?" Taufan memberanikan diri bersuara lagi.

"Dua hari lagi."


"Blaze udah makan sama minum obat. Biar tidurnya nggak keganggu."

Hali ada benarnya juga. Istirahat di kedai bukan ide yang bagus. Taufan saja kalau sakit maunya di kamar ditemani Mama. Apalagi Blaze kecil. Pasti butuh perhatian lebih. Taufan mengusap-usap punggung mungil Blaze dalam gendongannya.

"Mau di kamar Kak Hali," protes Blaze saat Taufan akan memasuki kamar adiknya itu.

"Eh? Kamar kamu kenapa emang?"

"Mau di kamar Kak Hali ...," rengek Blaze tidak sabar dan sedikit meninju-ninju lemah bahu Taufan.

"Oke, oke. Kita ke kamar Kak Hali."

Kalau dia ada di kamar Hali bersama Blaze, meski nanti berantakan pun Hali tidak akan marah, 'kan? Taufan yakin dia tak perlu lagi bertanya.

Dengan hati-hati, Taufan menurunkan Blaze dari gendongannya ke atas kasur Halilintar. Blaze langsung berguling lalu memeluk satu bantal yang tidak dipakai.

"Nah, sekarang kamu tidur dulu, ya. Nanti bangun pasti udah sembuh lagi."

Blaze menyembunyikan setengah wajahnya di balik bantal. Mata bulatnya menatap sayu. "Kak Upan nggak bohong lagi?"

Taufan meringis. Benar kata orang dewasa. Kepercayaan itu ibarat kaca. Setelah tergores atau pecah, tentu tidak akan kembali seperti semula.

"Nggak dong," jawabnya mantap. Ia berjanji takkan lagi-lagi menjahili siapa pun berlebihan. "Kamu 'kan udah jadi anak baik, udah makan, mau minum obat juga. Nanti sakitnya ketakutan lihat kamu. Nah, sembuh, deh!"

"Kapan sakitnya pelgi?"

"Sekarang tidur dulu sambil kamu nunggu sakitnya pergi, ya." Sungguh, Taufan ingin mengubur diri karena membuat cerita tak bermutu yang malah dipercayai adiknya. "Nah. Blaze mau dibacain cerita atau apa?" tawarnya segera. Ia ingin Blaze tidur sebelum Halilintar pulang.

"Adek mau ee'." Adiknya itu memegangi bokongnya sendiri seolah ada yang akan segera jatuh dari sana. Wajah pucatnya terlihat panik.

Ya ampun. Taufan hanya menyiapkan diri jika Blaze ingin dibacakan cerita sebelum tidur, atau meminta diusap-usap kepalanya—atau meminta diayun-ayun sekalian sampai tangan dan bahunya pegal. Mengantar Blaze buang air tidak ada dalam daftar kemungkinan yang ia sanggupi. Bagaimana cara membersihkannya? Taufan sudah mual duluan membayangkannya.

"Apa aku panggil Hali aja, ya?" katanya kepada dirinya sendiri.

Tidak.

Taufan menggeleng kuat mengingat wajah lelah saudaranya tadi. Dia tidak sampai hati menambah lagi pekerjaannya. Lagipula, ini salahnya sendiri.

"Hiks! Kak Upan! Udah kelual ...!" Blaze memperlihatkan bagian belakang celananya yang mulai basah.

"Ya ampun. Ayo ke kamar mandi. Kak Upan anterin." Bocah itu sudah menangis. Tidak berani bergerak karena takut akan membuat sampah cair dari dalam tubuhnya mengotori kasur Hali.

"Kakak gendong, ya."

"Jangan ... jatuh, Kak Upan—hiks!"

"Nggak apa-apa. Nanti Kak Upan bersihin."

"Kak Hali–hiks! nanti malah."


Semuanya sudah selesai. Halilintar sengaja menutup kedai lebih cepat. Ia tidak yakin Taufan melakukan tugasnya dengan benar.

Baru saja Halilintar mengunci pintu kedai, ponselnya dalam saku berdering. Ternyata ada panggilan dari ibunya.

"Hali, maaf ya baru sempat hubungi kamu. Hari ini ternyata pekerjaan Mama sama Papa banyak. Tapi sekarang udah selesai, kok." Halilintar mengangguk saja. "Ah iya. Mama ada punya obat diare anak di kotak obat. Sekarang kamu kasih itu dulu, ya."

"Udah."

"Buat makan nanti kamu beli aja, nggak usah masak. Biar Mama pesankan. Kamu mau makan apa?"

Kadang Halilintar heran sendiri, apa ibunya tidak lelah selalu berbicara panjang lebar setiap waktu.

"Udah masak."

Ya. Tadi pagi Halilintar juga mendapat memo di dalam kulkas ada bahan makanan dan juga buku resep yang ada di samping kompor. Jangan tanya kenapa di sana. Ibunya yang serba detail bahkan menaruh angka urutan tahapan mencuci baju di mesin cuci.

"Aduh, kalian pasti repot ya, ngerawat Blaze? Apa Mama pulang sekarang?"

Hali menggeleng langsung. "Nggak. Kerjain aja sampai selesai. Aku sama Taufan baik-baik aja. Pokoknya Mama harus pulang dengan kabar baik." tolaknya cepat. Ia takkan membiarkan ibunya pergi dari pekerjaan menyangkut mimpi besarnya.

"Kamu ini. Tapi ingat ya, jangan maksain diri. Minta bantuan Taufan juga biar lebih ringan. Menjadi kakak yang baik bukan berarti harus melakukan segalanya sendiri.

"Hm," gumamnya mengerti. Tanpa sadar, ia telah sampai di halaman rumahnya. Ia berniat akan mengakhiri obrolan agar ibunya bisa segera fokus kembali bekerja.

"Hali," panggil ibunya. Niatnya berhenti sebelum diucapkan.

"Hm," sahutnya dengan gumaman.

"I love you."

Tut!

Pipinya bersemu merah.


Halilintar panik saat tidak menemukan Blaze dan Taufan di kamar adik kecilnya. Dia 'kan sudah berpesan kepada Taufan untuk menemani Blaze istirahat. Tapi apa? Sekarang tidak ia temukan dua adiknya di tempat yang seharusnya.

Halilintar lalu tergerak membuka pintu kamar Taufan, kemudian menuju ke kamarnya sendiri saat melihat kamar Taufan yang berantakan itu kosong.

Saat itu juga hatinya lega. Kedua orang yang dia cari ada di kamarnya sendiri. Taufan tidur dalam posisi tengkurap dan Blaze yang juga tertidur di atas punggung Taufan. Di depan mereka ada buku dongeng bergambar yang disandarkan masih dalam kondisi terbuka.

"Huh ..."

Akhirnya Halilintar bisa bernapas lega hari ini. Kedai tutup, makanan siap sejak pagi, dan rumah sudah bersih.

"Kak Hali ...," panggil suara parau sedetik setelah ia menyentuh gagang pintu untuk menutupnya.

"Ya, Blaze?" sahutnya.

"Ikut."


Taufan terbangun sendirian. Ia tidak begitu kaget menyadari Blaze tidak ada di sana.

Biasanya juga begitu, pikirnya.

Sudah tidak terhitung lagi jika ia bermain dengan Blaze dan berakhir tertidur karena kelelahan, anak itu pasti bangun lebih dulu dan pergi.

Oh iya, Taufan harus memperingatkan kakaknya untuk tidak tidur di sisi kanan kasur karena masih basah. Ia lekas bangun lalu mengambil spidol dan selembar kertas dari meja belajar Halilintar.

'Jangan ditidurin. BASAH!'


"Kak Upan nyuci."

Halilintar yang tengah mengerjakan tugas sekolah segera menoleh. Seingatnya, tidak ada satu pun baju yang terlewat ia cuci kemarin malam. Apa mungkin ia masih kurang teliti dan meninggalkan baju kotor milik Taufan?

"Kapan?" tanyanya. "Nyuci apa?"

"Kasul Kak Hali."

Halilintar gemas karena Blaze tidak melanjutkan kalimatnya dan malah kembali fokus menonton televisi.

"Kenapa kasur Kakak?"

"Adek ee' di sana."

Lampu tidak menyala dan keadaan di luar kamar sangat gelap.

"Udah malam, ya? Hali ke mana juga nggak keliatan."

Taufan mencari sakelar lalu segera menekannya begitu tersentuh. Samar-samar telinganya menangkap suara seperti ketika ibunya sedang menggoreng telur. Nyaris tidak terdengar sih, tapi ada aroma yang keluar, dan ia yakin ini telur.

"Hali!"

Taufan menuruni lantai dua terburu-buru karena tanpa disadarinya juga perutnya keroncongan.

"Cuci muka," titah Halilintar tanpa menoleh. Padahal niatnya ingin mengagetkan kakaknya. Tapi, sudahlah.

"Blaze mana?" tanyanya saat menyadari tidak ada adik bungsunya di dapur.

"Kak Hali, udah!" Suara cempreng itu menggema tanda bahwa sumbernya berada di kamar mandi.

"Ya," sahut Halilintar. Saudara kembarnya lekas mengangkat telur dan meniriskannya, lalu berjalan ke toilet.

Yah, begitu menyadari adik terkecilnya ada di sana dengan keadaan pintu toilet terbuka, keluarlah bau tidak enak yang hampir membuatnya pingsan tadi siang.

Kalau diingat lagi, tadi siang itu sangat memalukan. Taufan memuntahkan isi perutnya sesaat setelah membersihkan tubuh Blaze dan kasur Halilintar. Sekarang, harus memasang wajah seperti apa saat bertemu Blaze? Apa adiknya menceritakan kejadian memalukan itu kepada Halilintar?

Taufan menggelengkan kepalanya. Ia berinisiatif menyiapkan peralatan makan ke atas meja. Dua piring dan dua sendok, satu piring dengan tiga telur mata sapi, nasi, gelas dan air minum.

"Kak Upan udah sembuh?"

Eh?

"Kak Upan udah nggak sakit lagi?"

Blaze bertanya sementara dirinya sedang dipakaikan popok oleh Halilintar. Kedua tangannya berpegangan pada bahu kakaknya. Wajah bulat yang pucat itu menatapnya polos.

Duh, rasa bersalah Taufan semakin besar saja.

Kakak sulungnya yang mendengar itu langsung menatap ke arahnya.

"Aku nggak kenapa-kenapa, kok. Masalah dikit aja," kilah Taufan dengan senyum aneh sambil menggaruk kepala.

"Kak Upan muntah. Banyak!"

Nah, 'kan?!


A/N-

Yash! Hallo, semua~!

Wah, lama nggak balik tau-tau udah banyak teman baru, ya. Selamat datang, kalian~

Salam kenal, saya Lio.

Kalau ada yang bingung Dek Blaze kenapa, jawabannya ada di fic yang judulnya Stroberi.

Dah ya, padahal tadinya ini cuma nulis random aja. Tapi, begitu tertuang beberapa paragraf, kelanjutannya malah berkaitan sama fic sebelumnya. Jadi ya, ya udah.wkwkw.

Maaf sama tulisannya yang mungkin kurang enak dibaca. Saya bakal terus belajar.

Udah kepanjangan ini. Sampai ketemu di cerita selanjutnya ya~