Wo De Zui Ai
*
[ KOOKV SHO-AI SLICE OF LIFE SLOW BURN FANTASY SCHOOL LIFE REBIRTH JOSEON-MODERN ]
by: Odeee_
*
Chapter 2
Langit semakin gelap dan semakin gelap. Sepotong bulan dan beberapa bintang bisa dilihat di latar belakang biru laut.Setelah menghabiskan waktu satu jam sejak saat dia keluar dari hotel tempatnya menginap, dia menemukan sebuah toserba.
"Selamat datang, selamat berbelanja."
Sapa ramah penjaga toserba yang saat ini sedang berada diantara rak untuk merapikan beberapa barang, begitu mendengar suara pintu terbuka.
Penjaga toserba itu dengan cepat berlari ke arah kasir, membuat pandangan Taehyung jatuh ke arahnya.
Dia menatap penjaga kasir itu dengan membisu, seolah-olah dia tiba-tiba lupa bagaimana berbicara.Jantungnya berdebar sangat kencang hingga terasa menyakitkan.
Dia berjalan perlahan ke kasir, bunga api menari-nari di matanya tetapi tidak ada kata-kata yang keluar. Hatinya diselimuti oleh kegembiraan dan kesedihan pada saat bersamaan.
"Mama." Gumamnya.
Suaranya sangat lembut hingga nyaris tidak terdengar.
"Maaf?" Wanita paruh baya penjaga kasir itu menatap Taehyung dengan bingung.
"Ah!" Dia tiba-tiba mengambil langkah mundur, yang membuat penjaga kasir itu mengernyit.
Dengan gugup Taehyung berkata, "Itu ... aku, aku sedang mencari susu untuk mamaku."
"Ah!" Wanita paruh baya itu mengangguk dengan semangat, dia mengambil langkah keluar dari tempat kasir. "Kemari, aku akan menunjukkan tempatnya."
Dalam keadaan setengah sadar Taehyung mengikutinya dibelakang, wanita itu menunjukkan dan menjelaskan berbagai macam susu untuk orang lanjut usia.
Wanita ini adalah mamanya di kehidupan sebelumnya. Orang yang begitu menyayanginya dan tidak pernah bisa dia benci.
Mamanya yang akan selalu berlari meninggalkan semuanya saat dia membutuhkannya. Namun dikehidupannya saat ini mamanya telah melupakannya. Dia memilih untuk tidak membawa ingatannya dikehidupan sebelumnya saat dia terlahir kembali.
"Jadi apakah mamamu..." Perkataannya terpotong saat dia berbalik dan menemukan anak muda dibelakangnya sedang menangis dalam diam. "Nak, ada apa? kenapa kau menangis?"
"Ah!"
Taehyung tersentak dan dengan cepat mengusap air matanya, dia tidak tau sejak kapan air matanya jatuh. Dia bahkan tidak dapat merasakannya.
Wanita itu menatapnya dengan sedih, dia meraih bahu Taehyung dan menuntunnya ke tempat duduk yang tersedia di dalam toserba.
"Tunggu disini, bibi akan mengambilkan sir untukmu."
Bibi?
Wanita itu dengan cepat ke arah lemari tempat dimana air tertata rapi, dan mengambil satu untuk segera dibuka dan diulurkan ke arah Taehyung.
"Minumlah dan tenangkan dirimu." Dia mengambil posisi duduk disebelah Taehyung, sementara Taehyung meminum air yang diberikannya.
"Terimakasih." Ucap Taehyung setelah selesai.
Wanita itu melambaikan tangannya dengan cepat, "Ah! Bukan masalah."
Senyuman lembut wanita didepannya membuat hati Taehyung benar-benar tenang dalam sekejap. Kelembutan di matanya tidak bisa disembunyikan, tiba-tiba muncul ke luar.
"Anak muda boleh bibi tau siapa namamu?"
"Kim Taehyung."
"Ah, sungguh nama yang indah." Pujinya, lalu menunjuk dirinya dan memperkenalkan dirinya, "Panggil saja aku bibi Lee."
Taehyung tidak bisa menyembunyikan kelembutan dimatanya, dia mengangguk dan dengan ragu-ragu bertanya, "Apakah.. apakah bibi sudah memiliki anak?"
Bibi Lee tersentak untuk beberapa saat, lalu dengan murung menggelengkan kepalanya. Perasaan menyakitkan yang tak terkatakan merambat ke dalam dadanya saat dia menyaksikan wajah murung mamanya, lagi.
"Ah, maafkan aku."
"Tidak, tidak, Kau tidak harus meminta maaf." Bibi Lee berkata dengan panik melihat penyesalan diwajah Taehyung.
Setelah terdiam beberapa saat bibi Lee menjelaskan, "Bibi hanya tidak ingin menikah, terutama memiliki anak."
"...Kenapa?"
"Bibi merasa tidak pantas menjadi seorang ibu." Bibi Lee tersenyum dengan masam. "Ketika bibi membayangkan untuk memiliki seorang anak, bibi merasakan sesuatu yang bibi sendiri tidak paham. Itu.. yah, sangat menyesakkan."
Taehyung mendengarkannya tanpa berniat menyela sedikitpun. Bibi Lee meremas kedua tangannya saat dia berkata, "Seseorang mengatakan pada bibi, mungkin ini adalah rasa bersalah bibi pada kehidupan sebelumnya."
Dia tersenyum dan mencoba untuk tetap mempertahankan ketenangannya saat mengatakan semua itu.
Saat Taehyung ingin mengatakan sesuatu, pintu toserba terbuka menandakan ada seseorang datang.
Ekspresi kesedihan menyelemuti di wajah Taehyung sejak saat dia meninggalkan toserba itu. Dia tidak tau kemana kakinya membawanya pergi, dalam kegelapan yang pekat dia menelusuri jalan yang masih asing baginya.
Memang benar kepindahannya kemari adalah untuk menemui mamanya, namun dia tidak menyangka akan secepat ini dan bahkan tidak bisa berbuat apa-apa ketika sosok yang dia rindukan berada tepat didepannya.
Didalam gang yang begitu gelap dan sepi dia merasakan kepalanya tertimpa benda keras kecil yang membuat langkahnya terhenti.
Dia mengusap-usap topi yang menutupi kepalanya, matanya mengelilingi tempat ini untuk menemukan darimana datangnya benda itu.
Selanjutnya, dari arah kanannya sebuah suara yang tidak asing ditelinganya terdengar disertai hembusan angin, "Maaf, aku tidak sengaja."
Suara itu tidak rendah dan tidak kencang, itu bersenandung mengikuti hembusan angin melewati telinganya.
Seseorang tengah duduk didepan salah satu rumah, dia duduk di dalam kegelapan sehingga Taehyung tidak dapat melihatnya dengan jelas.
Merasa sedikit penasaran dengan pemilik suara yang menurutnya tidak asing itu, Taehyung mengambil langkah mendekat ke arahnya. Hingga dia berdiri tepat di depan orang itu, melalui pantulan sedikit cahaya dia melihat orang itu menyeringai.
"Itu kau kan, orang yang mengejekku saat aku menawarkan semangka."
Taehyung membulatkan matanya tersentak untuk beberapa saat, jadi disitulah suara tidak asing ini berasal.
"Aku tidak mengejekmu." Katanya dengan datar.
"Lalu? Menertawakanku?"
Taehyung menatapnya dengan datar, tanpa mengatakan apa-apa dia berbalik untuk meninggalkan pria itu. Tiba-tiba merasa menyesal telah menghampirinya.
"Hey, apa kau tau seberapa berbahayanya gang ini pada malam hari?"
Teguran orang itu menghentikan langkahnya.
Tanpa membalikkan badannya Taehyung tau bahwa orang dibelakangnya saat ini telah berdiri dan mendekat ke arahnya.
"Sangat berbahaya disini, ada banyak pemabuk dan preman berkeliaran." Orang itu berkata tepat disebelahnya. "Terutama jika mereka melihat mangsa sepertimu, yang menggunakan barang-barang mahal dari ujung kaki sampai ujung kepala."
Taehyung terdiam beberapa saat untuk memikirkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi. Pertama, dia tidak mengetahui situasi daerah ini. Kedua, apa yang dikatakan oleh orang itu kemungkinan besar adalah kebenaran mengingat bagaimana gelap dan sepinya gang ini. Dan yang paling penting dia kehabisan daya handphone dan tidak tau ke arah mana hotel tempatnya menginap.
Tidak mendapat respon apapun dari Taehyung, orang itu kembali berkata, "Hey, kau orang baru bukan?"
Taehyung mengangguk bahkan tanpa meliriknya.
"Yah, aku tau itu dari aromamu, tidak ada yang memiliki aroma sepertimu di daerah ini." Katanya dengan riang.
Omong kosong, pikir Taehyung.
Bagaimanapun orang ini telah menipu pelanggannya dengan mengatakan omong kosong seperti menyiram pohon semangkanya dengan madu.
"Kau sedang tersesat bukan?"
Dia sontak menoleh ke arah pria itu. Namun sebelum dia menanyakan bagaimana dia bisa tau, orang itu berkata lebih dulu, "Dimana kau tinggal?"
Untuk beberapa saat ragu-ragu, Taehyung akhirnya mengatakan alamat hotelnya.
"Tidak jauh dari sini, aku bisa mengantarkanmu."
Dengan tidak percaya Taehyung menatap orang disebelahnya, masih begitu gelap untuk melihat dengan jelas bagaimana wajah orang ini.
"Namaku Jungkook, Jeon Jungkook. Kau bisa melaporkan nama itu ke polisi nanti jika aku merampokmu."
Merasa pikirannya terbaca, Taehyung mengalihkan pandangan, "Aku tidak mengatakan apapun."
Orang bernama Jungkook itu terkekeh, lalu mendorong bahu Taehyung dengan tidak sabar, "Ayo, ayo cepat jalan."
Dalam perjalanan mereka tidak banyak bicara, Jungkook sesekali berbicara namun karena hanya mendapat anggukan dan gelengan dari Taehyung dia berhenti berbicara.
Setelah keheningan yang pekat, Taehyung mulai merasa sedikit sesak. Dia menurunkan maskernya hingga dagu dan menghela napas dengan lega.
Disebelahnya Jungkook terkekeh mendengarnya, "Aku pikir kau akan menggunakan masker itu sepanjang hidupmu."
Ketika mereka sampai di depan hotel tempat Taehyung menginap, secara bersamaan keduanya menoleh untuk menatap satu sama lain. Dengan penerangan yang cukup akhirnya keduanya melihat wajah mereka masing-masing.
Mereka berdua tersentak pada saat yang bersamaan dan bergetar dari ujung kepala sampai ujung kaki.
